Actions

Work Header

Komorebi

Summary:

Sena, Sena, Sena

Semua orang kepo tentang dia yang karismatik, manis, dan baik. Jadi penonton dari kehidupan SMA nya aja cukup banget jadi vitamin komplit buat setiap orang, apalagi jadi bagian dari hari-harinya. Dan ketika namanya diucap, semua tanpa ragu membawa nama-nama orang di tongkrongannya. Kak Saka, Juno, Neva, Kak Hez, Kak Janardana, dan Kak Jovan yang basically, semua cowok ganteng seantero sekolah.

Dengan Sena, bak pusat tata surya.

Notes:

Name guide

Kim Sunoo : Sena Aurelienatha
Park Sunghoon : Saka Haran Prakoso
Lee heeseung : Hezriel Admaja Vian
Yang Jungwon : Juno Bagaskara Elvano Wiranata
Jay Jeongseong Park : Janardhana Aryasatya
Sim Jaeyun : Jovan Kalandra
Nishimura Riki : Nara Irsan Mahesa

Chapter 1: Mentari

Chapter Text

"Maaah, Sena mau berangkatt!" pekiknya dari daun pintu, setengah tubuhnya sudah siap ngacir keluar, namun Mamanya melupakan sesuatu. "Iyaa," seruan dari balik dinding dapur tak diikuti sosok yang Sena tunggu-tunggu. Mendengus kesal, "Mamah sibuk banget nyiapin bekal kakak, mentang-mentang baru masuk kuliah, ini Sena juga first day in high school loooh!" erangnya mengundang gelak tawa dari dalam rumah. Dalam detik, 3 kepala muncul menonton pose kikuknya yang dilema antara Mama dan mengejar waktu supaya tidak terlambat sampai sekolah. Tak perlu kode tambahan, kecupan Mama mendarat di puncak kepalanya, dan senyuman manis itu merekah lebar. "Berangkat dulu Mamah!"

"Loh? Papah sama kakak ga dimintain cium?" sosok yang sudah berlari membuka gerbang itu membalas dengan nyaring "Engga! Papa sama kakak jelek!" dan berlari demi mengejar bus dalam kota yang biasanya berhenti di luar perumahan. Masih jam 6.30 pagi, tapi langit cerah minim awan benar-benar ga membantu sesi lari Sena pagi itu, alias panas! "Pagi, Pak Toto!" teriaknya melewati pos jaga Pak Sumanto, satpam perumahan, tanpa melambatkan larinya, dia punya bus untuk dikejar. "Ehiya, pagi, Den!"

Namun nahas, belum juga sampai bus stop, dia dengan langkah melambat harus menghadapi sial pertamanya hari ini, menonton bus melaju meninggalkan perumahan. "Yah, Pak Bus, Sena belum naik loh." Kini dia harus menunggu sekitar 10 menit lagi untuk bus selanjutnya. Dan satu hal yang pasti, dia akan tiba 5 menit sebelum gerbang ditutup. Sena sebetulnya tidak suka datang terburu-terburu. Melangkah bersungut-sungut, ia menendang apapun yang ada di jalannya, baik kerikil, daun kering, kodok. Kodok? "AH!" ia melompat mundur terkejut ketika mobil dari belakangnya menekan klakson yang kembali menarik, "AAAH!" dari figurnya yang berbalik cepat untuk kembali melompat mundur. Sebuah mobil Mercadas Bend warna hitam melambat di sampingnya. Dan itu kesialan nomor 2 hari ini.

Melirik dengan sebal, tiba-tiba perasaan takut menggigitnya, apa iya ini adalah hari dimana dia akan diculik? Tapi sejujurnya, Sena tidak lagi membayangkan akan diculik setelah sesi tantrum kabur dari rumahnya cukup untuk membuat keluarganya sesenggukkan, dia kapok. 'Jangan hari ini, Tuhan. Masa' mobil mahal-mahal dipake buat nyulik orang. Sial 3'. Pemikiran itu dipatahkan ketika kaca mobil turun menampakkan laki-laki yang memakai seragam sekolahnya, dan Sunoo mengenalinya sebagai orang tajir yang tinggal di rumah bernuansa jawa, 2 blok dari rumahnya, dengan luas hampir 7 kali rumah bawaan perumahan. "Anak Arkananta juga?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan kecil. 

Anak holkay ini wajahnya sangat tegas dengan bibir tipis dan rahang tajam, "Ikut gue aja, biar ga telat." Sena menatapnya agak was-was, dan disaat itulah sebuah kepala muncul dari kursi belakang, menegakkan diri dari posisi tidurannya. Dari segi seragam, terlihat ia menggunakan atribut yang menandakan label siswa kelas 10, sama seperti Sena. "Siswa baru ya? Aku Juno, siswa baru, ini Kak Janar dari kelas 12," lantas tersenyum hingga muncul lesung pipinya. "Ayo ikut kita aja, pake mobil lebih cepet."

Barulah ia yakin untuk ikut dengan mereka. Namun ketika hendak memutari mobil untuk duduk di kursi depan, Juno dengan cepat memindahkan diri ke kursi depan, melangkahi tangan Kak Janar yang masih bersinggah di center console mobilnya. Setelah settle  di kursi depan, ia kembali melempar senyum lesung pipi, menyadarkan Sena yang agak shock untuk segera masuk ke kursi belakang. "Makasih ya Kak Janar, Juno." Berangkatlah mereka ke Arkananta International High School.

***

Di Arkananta, semua siswa digiring memasuki auditorium yang luar biasa besar setelah mengikuti upacara hari pertama yang panasnya menyengat kulit. Sena berulang kali berterimakasih dalam hati kepada Papanya yang cukup kaya untuk menyekolahkannya di Arkananta begitu dinginnya AC menyapu bersih keringatnya, membuat janji akan membiarkan Papa mencium kepalanya selama seminggu. Sedari tiba, ia sudah seolah sepaket dengan Juno, lebih-lebih ketika mengetahui mereka di kelas yang sama. "Na, situ aja Na," ulas Juno yang tanpa babibu menarik Sena menuju kursi paling pinggir kanan dari semua deretan kursi yang diperuntukkan untuk kelas 10. "Pinggir banget. Kenapa disituu?"

Tidak dijawab, Juno terlihat sangat fokus dan mempercepat jalannya menarik Sena yang tersandung-sandung, lomba lari entah dengan siapa. Untungnya Juno memilih kursi paling pinggir, kemudian celingak celinguk ke arah siswa lain yang duduk di sekumpulan kursi paling kanan, yang terpisah dari tempat mereka duduk oleh jalan dengan lebar sekitar 1 meter. Ketika mendapati apa yang ia cari, Juno mengangkat tangannya tinggi dan melambai, Sena yang dibuat agak bete serta merta mengikuti arah pandangnya. Janar mendekat setelah menurunkan tangan yang membalas lambaian Juno, "Kelas 11 duduk di samping kita, biar deket Kak Janar," tukasnya. Sena hanya menyipitkan mata bulan sabitnya ke arah Juno, sementara si empu lesung pipi sumringah-sumringah saja.

Kak Janar tidak datang sendirian, di ekornya, 2 kakak tingkat lain turut mendekat. "Ini Juno ya?" tanya salah satunya, disambut anggukan Juno, "Salken, Kak, Juno. Tetangganya Kak Janar." mereka berjabat tangan, "Gue Jovan, sekelas mulu nih sama si Janar. Hepi banget dia anjir, waktu lo keterima disini." Juno memasang wajah jenaka dengan senyum tak lepas, mengarahkan pandangan ke Janar. Janar bahkan tak menoleh ke Juno yang secara terang-terangan menatapnya, hanya berujar, "Language," sebelum duduk tepat di seberang Juno. Saat memperhatikan usainya interaksi mereka, Sena menoleh ke arah teman Janar yang lain demi mendapati kakak tingkat satu ini sedang memperhatikannya. Kepergok dengan tidak elitnya, ia cepat-cepat mengalihkan pandangnya untuk kemudian berhenti memperhatikan Jovan dan Juno yang masih berbincang.

Kalau kata Sena, top tier visual. Teman Janar yang kedua itu sangat tampan dengan porsi fitur wajah yang pas sekali, tinggi, dan terlihat atletik. Di tengah keheranannya, sebuah tangan mendarat di depan wajahnya. "Gue Jovan," tawarnya. Mengulas senyum tipis, "Aku Sena, Kak," ia membalas. Tibalah giliran kakak sedari tadi berada di jarak aman. Namun kakak ini malah melengos duduk setelah berujar, "Gue Saka," dengan simpelnya.

Memanyunkan bibir menyayangkan sesi perkenalan yang sangat tidak impresif, gemuruh auditorium diputus suara MC yang mengarahkan mulainya acara. Sambutan pagi itu dimulai dengan kepala sekolah, kemudian diambil alih oleh anak OSIS. Sang ketua OSIS muncul dengan baju tersetrika rapi, "Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Hezriel Majavian, bisa dipanggil Kak Hez. Saya ketua OSIS periode 20XX, yang akan mengawasi langsung kegiatan MPLS untuk siswa baru 20XX-20XX." Pidato sang ketua OSIS karismatik yang ringkas dan to the point, menyerap perhatian semua siswa, dihadiahi tepuk tangan meriah dari seluruh penjuru auditorium. Terutama, dari trio kelas 11 di samping mereka. 

"Itu Kak Hez, dia punya komunitas khusus yang ga banyak orang tau, warisan kakel. Kalau Juno mau ikut, kakak bisa bilang ke Kak Hez. Juno juga tertarik OSIS kan? Nanti ada magang, Juno ikut aja gapapa," ujar Janar, mencondongkan tubuhnya ke kursi Juno yang memasang wajah extra atentif. Informasi ini turut ditangkap oleh Sena, "Kak, mau ikutan juga doong," serunya. Janar memberi ibu jari kepadanya, sembari berangsur duduk dengan benar karena MC mengumumkan memasuki kegiatan materi untuk MPLS, siswa kelas 11 dan 12 akan dipersilakan kembali ke kelas masing-masing. 

***

Lagi-lagi Sena bersyukur banyak-banyak atas uang Papa, berkatnya, Sena bisa ngerasain MPLS se-seru MPLS Arkananta. Saat ini sedang istirahat, tapi mereka dibekali game treasure hunt. Ketika kembali ke auditorium setelah 1 jam beristirahat, semua siswa baru wajib membawa hal yang sudah tertulis di secarik kertas yang dibagikan secara acak. Kebanyakan diminta membawa tanda tangan atau foto dengan salah satu kakak tingkat panitia atau OSIS, yang mana cukup mudah karena sudah diperkenalkan waktu materi, tapi yang ada di kertas Sena adalah "Penanda waktu, ruang OSIS." 

Dan disinilah ia menceritakan kerumitan tugas treasure huntnya, bersama dengan trio kelas 11 tadi di kantin. "Kak, bimbang banget! Ini aku, siswa baru, harus masuk ruang OSIS kah demi ambil jam dinding? RIP reputasi," sementara setengah tubuhnya sudah berebah di atas meja, Juno, Janar, Jovan, bahkan Saka tertawa renyah. "Aman lah, paling digodain," sambut Jovan. "Iiiih?!" di tengah itu, Saka meletakkan air mineral dingin di samping Sena, yang kemudian memberikan tatapan apresiatif ke Saka.

Penjuru kantin riuh oleh gerombolan siswa baru yang innocent dan manis serta kakak kelas yang tebar pesona. Namun pusat sosial seolah berada di meja mereka. Tak hanya karena akrab walau beda kelas, kelima kepala itu jelas terlihat superior dalam hal visual. Bening dengan ciri khasnya masing-masing dan tinggi-tinggi.

"Enggak, aman kok. Kak Hez baik, hey," tukas Janar menenangkan Sena yang bersungut-sungut, "Atau mau ditemenin kita sekarang?" memperhatikan 3 porsi makanan milik Jovan, Juno, dan Janar yang masih bersisa, Sena menjawab, "Gausah deh, rame amat, kayak boyong penganten. Kak Saka aja yang nemenin. Mau kan, Kak?" sembari memberikan pandangan seribu bintang berharap Saka mengiyakan permintaannya. Saka hanya berdehem dan mengangguk, keputusan pun diterima semua orang dengan Sena dan Saka yang pamit duluan.

Perjalanan sepanjang lorong Arkananta sangat amat luar biasa canggung. Sena sudah tahu Saka adalah seorang introvert, tapi nihil percakapan membuat si extrovert kelabakan juga. Bukan tanpa alasan kesempatan ini ia syukuri, dilihat dari bagaimana jelas populernya seorang Saka, ditambah dengan sifat cool dan wajah bak pangerannya, Sena juga ingin berteman. Agak iri rasanya melihat Saka bisa bercanda normal dengan Janar dan Jovan, bahkan Juno! "Kakak deket sama Kak Janar Kak Jovan?"

"Oh, iya."

"Dari maba ya?"

"Iya."

Terdiam sejenak ditimpali dua potong iya tanpa satupun disertai pandangan ke arah wajahnya, Sena kembali membuka, "Kakak lebih deket sama Kak Janar atau Kak Jovan?" melempar pandangan atentif penuh selidik.

"Jovan."

"Kenapa tuh?"

"Jovan lucu."

Membelalak agak kaget juga, Sena berjenaka, "Kayaknya aku lebih lucu!" kemudian mengambil beberapa langkah lebih cepat dengan gaya berjalannya yang seperti penguin. Dari depan, Sena jelas mendengar Saka tertawa pendek. Melambat untuk kembali berjalan sejajar dengan Saka, "Maaf ya kak, kepedean. Aku pengen deh kenal deket sama kakak."

Dan baru itulah, Saka menoleh menatap Sena, "Oh iya? Kenapa?" Sena tersenyum bulan sabit, "Kakak ganteng!"

***

Sesampainya di ruang OSIS, tak terkira ternyata sedang kosong. "Tau gitu Sena ga usah ditemenin, Kak," tukasnya. Lain fokus, Saka merespon, "Sena?" merujuk cara Sena menyebut namanya sebagai kata ganti 'aku'. "Ih! Kak Saka!" Sena hanya memelototi Saka yang teratawa puas, sekuat yang wajah ramahnya bisa. Sena tahu kebiasaannya ini sangat tidak biasa untuk remaja terutama laki-laki seumurannya, dengan sengaja memenggokkan kebiasaannya apabila sedang di luar. "Udaaaah. Aku masuk deh, tungguin ya, Kak." Saka yang masih tertawa geli hanya mengangguk-angguk. 

Saat ini, Sena merasa seperti maling siang bolong! Celingukan melihat sekitar ruang OSIS yang luas dan rapih, ia tidak menemukan satupun jam dinding. "Duit elit, jam dinding sulit," tukasnya. Di ruang OSIS yang luas itu, matanya tertuju pada satu ruangan di pojok lain dan bergegas untuk mengeceknya, siapa tahu jam dinding yang ia cari ada di sana. Ruangan itu khas ruang kerja ketika saat Sena buka pintunya, "Ada yang bisa saya bantu?" suara itu mengejutkan Sena, untuk ketiga kalinya hari ini. Menolehkan kepala cukup cepat itu merasa sakit di lehernya, ia mendapati ada kakak kelas yang ternyata berdiri di belakang pintu ketika Sena membuka ruangannya. Sang kakak ketua OSIS. Tak menjawab, Sena menekuk dan menundukkan wajahnya melipat malu, melirik ke atas sesekali untuk melihat wajah Hez yang adem ayem saja melihat kelakuannya.

Hez tersenyum simpul, penuh maklum, "Kamu siapa namanya?" Sena akhirnya mengangkat wajah untuk menjawab, "Sena. Sena Aurelienatha, Kak." Hez meletakkan buku yang sedari tadi di tangannya. "Santai aja, treasure hunt ya? Tadi juga ada kok yang ke sini, go on, cari apa yang kamu butuhin," Sena mengangguk gemas mendapatkan ijin langsung, "Oke, Kak." Namun kepalanya yang kembali mengitari ruang tak juga menemukan keberadaan jam dinding di antara foto demi foto pengurus dari tahun ke tahun, "Gaada," gumamnya.

"Hm? Gaada?" disadarkan dari usahanya mencari jam dinding ruang OSIS, "Iya kak, aku disuruh nyari jam dinding di ruang OSIS," jawabnya. "Coba, kakak mau lihat kertasnya," Hez mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas treasure hunt Sena. "Ooh, ga harus jam dinding loh. Yang penting penanda waktu di ruang OSIS." Sena mengerjap pelan menatap Hez, memproses ucapan kakelnya itu, kepalanya mendarat ke jendela di ruang OSIS yang benderang ditimpa cahaya matahari.

"Terus aku bawa matahari, Kak?" 

Hez tergelak menatap Sena yang tersenyum kikuk, sembari jarinya bergerak melepaskan arloji yang terdiam di lengannya. Arloji itu dijuntaikan di depan wajah Sena, "Punya kakak, dijaga ya," lalu diletakkannya pada kedua tangan Sena yang terbuka. Binar di matanya, "Siap, Kak! Terimakasih ya kakak, Sena duluan baliknya," Sena mengucap, setelah mendapat anggukan dari Hez yang masih tersenyum ramah menatapnya, Sena berputar keluar dari ruang OSIS. Mau gimanapun, Sena sebetulnya masih terlahap malu. Untung Kak Hez baik.

Di luar, Saka agak kebingungan melihat tangan Sena yang membawa arloji. "Sena nyuri ya?" tukasnya, tersenyum menyebalkan, mengambil arloji dari tangan Sena tanpa ijin atau sungkan seolah sudah hal lumrah di antara keduanya. Sena memanyunkan bibir dan memukul lengan Saka mendengarnya, "Dikasih Kak Hez, ruang OSIS ga punya jam dinding." Saka menoleh cepat, melempar tatapan yang sulit didefinisikan oleh Sena "Hah? Kak Hez?" ditimpali dengan anggukan Sena. Sepanjang jalan, arloji itu disimpan Saka di saku celanya. Barulah ia kembalikan ketika Sena dan Juno harus kembali mengikuti sesi MPLS dengan trio kelas 11 mengekor mengantar mereka.

Interaksi penuh perhatian dari ketiga kakak kelas itu tak luput dari perhatian siswa kelas 10 yang masih merasa asing di sekolah baru mereka. Desisan demi desisan dan lirikan yang berkutat pada 'tampannya kakak kelas itu' berterbangan di koridor depan auditorium.

Saka menarik tangan Sena, meletakkan arloji Kak Hez di telapaknya, "Nih, jangan lupa dikembaliin," kemudian tangannya beranjak, mengusak puncak kepala Sena hingga si empu memasang wajah syok sebal tak terkira. Sembari mengundang gelak tawa, tanpa peringatan, Jovan, Janar, bahkan Juno justru ikut-ikutan merusak tatanan rapi rambut hitam malamnya.

Mengantarnya bersungut-sungut masuk ke auditorium.