Actions

Work Header

180 Degrees

Summary:

180 hari waktu tersisa bagi sosok bermata indah melihat dunia yang diingatnya.

Tetapi Mhok ingin Day tahu, kalau dunia mampu berubah 180 derajat, asalkan ia mau percaya jika yang terkenang dalam ingatan bisa dinikmati bersama-sama.

Work Text:



 

“Aku hanya bisa melihat dunia ketika sedang tertidur dan bermimpi.” Di tengah sunyi sebuah kamar, seorang lelaki bermata indah membisikkan fakta pada udara, yang berhembus melalui jendela terbuka, menyapa anak rambut di atas keningnya. “Dan akan tetap begitu, hingga seratus delapan puluh hari menanti di ujung kegelapan.”

Suara itu membelai telinga sosok di sebelah yang ikut merebah seraya menatapi langit-langit bersimbah debu-debu tipis. Helaan nafas dilakukan, tak peduli jika paru-parunya semakin rusak berkat kotoran selain nikotin yang dihirup setiap hari. “Bagaimana penampakan dunia dalam mimpimu?”

Sesaat, tak ada suara yang mengudara. Dikira, sosok di sebelahnya pulas kecapekan karena baru pulang mengunjungi wisata akuarium. Namun, setelah menoleh memastikan, rupanya lelaki bermata indah sedang terpejam. Seutas senyum dilukiskan oleh muka begitu rupawan. Bundaran netranya bergerak seperti membayangkan sesuatu yang bahagia.

“Aku... melihat dunia yang dulu sempat kuingat bentuknya. Semua terlihat cerah, penuh cahaya putih di mana-mana.” Suaranya semakin tipis; setipis benang laba-laba halus, tetapi penuh akan makna. “Aku rindu, Mork. Aku rindu dengan keindahan yang pernah kudapati sebelumnya.”

Kali ini, atensi yang disebut namanya teralihkan. Runtutan kata merindu dari sosok yang hanya bisa melihat 40% alam semesta membuatnya menoleh untuk sekedar memberi senyum menenangkan. Meskipun ia tahu, akan cuma terbayang samar-samar. “Dunia sudah berubah seratus delapan puluh derajat sejak terakhir kau memandangnya, Day.”

“Benarkah?”

Mork menganggukkan kepala. Tetapi sadar kemudian, kalau sosok di depannya berhalangan melihat. “Benar.”

“Tak apa.” Tanpa dikira, sebuah lengkungan sabit terpatri di wajah lelaki bermata indah. Salah satu tangannya terangkat, ditempatkan di antara tatap saling bersinggungan, menandai jarak yang ada dengan dua jarinya. “Aku sudah melihatmu mengangguk, meskipun hanya sekilas.”

Sambil membalas senyumannya, yang diajak bicara mengutarakan pertanyaan. “Kalau saat ini kondisi berubah seratus delapan puluh derajat, dan kau bisa kembali memandang dengan jelas—”

“Mork,” panggil Day, “kau tahu itu tidak mungkin.”

Seandainya.” Sang mekanik mengingatkan, namun tetap dirasa lembut. “Seandainya kau bisa.” Sejengkal tangan menggantikan milik lelaki bermata indah, tepat pada keningnya yang tertutup rambut-rambut kecil. “Tanpa perlu dibatasi jarak, hal apa yang pertama kali ingin kau lihat?”

“Wajahmu.”

“Mengapa?” bisik Mork, karena indra bicara mereka tak kurang dari sejengkal.

“Hampir semua panca indraku sudah sangat mengenalimu.” Day menghirup udara di sekitarnya. “Aromamu yang khas, selalu bercampur dengan bau asap rokok dan kendaraan.” Jemari kanan menangkup pipi kiri yang diajak bicara. “Suaramu yang biasa penuh sindiran.” Tak sengaja, belah ranum tersentuh dengan ibu jarinya. “Sedangkan ini... sering menggodaku ketika sedang makan.”

Sudut bibir Mork terangkat sedikit.

“Kalau begitu, aku akan berjanji demi seluruh kehidupanku,” jedanya namun seperti sudah mantap. Teramat jujur, tulus, serta murni di waktu bersamaan. Dipenuhi tekad yang kuat, supaya senyum Day tak pernah sirna dari raut wajahnya. “Untuk membuat keadaan seratus delapan puluh derajat menjadi kenyataan, dan terjadi pada dunia yang tersimpan dalam kenanganmu,”

“Dan kita akan menikmatinya bersama-sama. Melebihi hari di angka seratus delapan puluh. Aku berjanji.”

Sebuah kecupan sebagai tanda akhir dari percakapan mereka yang kemudian terlelap saling merengkuh. Berlindung dari dunia yang masih berkemungkinan runtuh, dan takkan kembali lagi seperti semula. Menjelma keindahan semesta.

 


 

terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh