Work Text:
TODAY | 16.30
Kayla's Papa
Nara
Kayla's Papa
Kayla nggak ada di sekolah
Kayla's Papa
Aku tanya satpam katanya udah dijemput
TODAY | 17.00
Kayla's Papa
Nara
Kayla's Papa
Kayla belum pulang
Kayla's Papa
Aku harus hubungi polisi
Phuwin panik bukan main. Jantungnya sedari tadi tak menunjukkan ketenangan. Batinnya berkelakar, di manakah Kayla berada? Anak semata wayangnya bersama Pond menghilang di luar nalar. Dan sekarang ini, sosok ayah dari anak itu juga tak bisa dihubungi. Frustasi dibuatnya, rambut Phuwin sudah acak-acakan pula. Ditelfon tak diangkat, pesan terakhir hanya dibaca. Apakah mungkin jika Kayla memang dijemput oleh Nara? Phuwin ingin sekali percaya, tapi sebenarnya minggu ini adalah jadwalnya sendiri untuk menjemput Kayla. Sebuah peraturan dibuat agar setiap minggu Kayla bergantian diantar jemput oleh orang tuanya yang sudah berpisah rumah.
Maka dari itu, ketika Phuwin barusan menelfon Nara tapi tidak diangkat... sepertinya bukan lelaki itu yang menjemput. Tapi orang lain yang tak bertanggungjawab. Alhasil, jemari Phuwin bergerak cepat mencari nomor kontak polisi terdekat. Ragu-ragu sejenak sebelum menekan, plin-plan juga berpikir, apakah harus sejauh ini demi keselamatan anaknya? Apakah dirinya harus memastikan ke orang-orang terdekat dulu dan mencari Kayla dengan tangannya sendiri? Phuwin menggigit bibirnya, sedikit lagi sudah berdarah karena terlalu sering dilakukan. Berdecak kemudian, lantas ibu jarinya meluncur ke atas layar ponsel—
CKLEK!
Phuwin melonjak dari kursinya, sampai-sampai sedikit terdorong ke belakang. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak, sebab seseorang sudah membuka pintu apartemennya begitu saja. Semua orang tahu, apartemen hanya bisa diakses dengan orang yang memiliki kunci. Dan pintu yang terbuka tiba-tiba, mengartikan bahwa seseorang lain bisa membukanya. Sedangkan Phuwin sendiri saat ini juga tak pernah merasa memberikan kartu akses kepada orang lain. Jadi... siapakah gerangan yang dengan kurang ajarnya berhasil menerjang masuk ke dalam—
“PAPA, I'M HOME!“
Kayla datang melewati pintu masuk, tersenyum riang tanpa dosa dengan tangan kanan kiri yang penuh akan... entahlah, barang-barang belanjaan. Phuwin Tangsakyuen menghela nafas lega. Betapa nelangsanya lelaki seperti dirinya yang hampir saja menelfon polisi karena Kayla dianggap telah menghilang tanpa jejak. Phuwin merasa berdosa dan bersalah, jadi ketika Kayla menghampirinya sambil berlari kecil-kecil, langsung saja dipeluk erat yang seakan tak ingin dilepaskan. Kayla terdiam, tak mengerti kenapa papanya bertindak seperti itu. Sebab jarang sekali sang papa akan memeluk sebegini eratnya setelah pulang sekolah.
“Papa?” panggil Kayla, ingin memeluk balik tapi kedua tangannya penuh dengan barang. “Papa kenapa?”
“He's missing you, my Dear Princess.“
Kedua mata sang papa membulat, kemudian melepaskan pelukannya dengan Kayla. Sekarang, sudah jelas siapa yang berada di balik kericuhan pagi ini. Kericuhan yang sangat membuat Phuwin panik dan pening tak karuan. Semuanya berkat sosok yang berdiri di ambang pintu—awalnya tak nampak sebab rupanya ia bersembunyi di tembok sebelah ketika Kayla masuk—sambil tersenyum jahil yang lama-lama mengembang menjadi kekehan. Bahkan kedua matanya ikut mengerling, kemudian memutarbalikkan badan untuk menutup pintu sambil merapikan sepatu Kayla dan dirinya sendiri.
“Nara...”
Yang dipanggil akhirnya menoleh, dan lelaki itu nampaknya tak peduli dengan wajah gelap Phuwin yang berbicara nada rendah. Nara hanya tersenyum, kemudian melengos masuk dan meletakkan tas sekolah Kayla di atas sofa ruang tamu. Setelah itu, Nara melonggarkan dasi formalnya. Meletakkan di gantungan topi dekat pintu masuk, dan duduk lesehan di karpet selagi memanjangkan kedua kaki. Terlihat santai sekali, seperti sudah biasa mendapati tatapan menusuk dari Phuwin. Rasanya lelaki itu memang sengaja ingin menggoda sang papa dari Kayla, dan tentu usaha itu berhasil terlaksana hingga membuat Phuwin tak bisa berkata apapun.
“Papa... kangen sama aku?” tanya anak perempuan yang berjenjang di Sekolah Dasar itu. Kepalanya dimiringkan polos, dan kedua mata yang berbinar memandang ke papanya yang juga melihat balik. “Kenapa?”
Phuwin menggeleng pelan, kemudian tak lagi memasang wajah galak ketika benar-benar memandang sang anak. “Gapapa, Sayang. Sini, peluk Papa lagi.”
Tanpa banyak tanya, tentu Kayla tak menolak. Karena kedua tangan tak lagi membawa barang-barang, sudah dibantu meletakkan di atas sofa oleh Phuwin sendiri, akhirnya Kayla bisa terjun mengecilkan diri dalam dekapan sang papa yang merengkuh semakin erat. Kayla senang bukan main, bisa merasakan kehangatan yang jarang sekali dirasakannya karena kesibukan sang papa mencari uang dengan bekerja. Tetapi yang tak diketahui dari anak polos itu, adalah bagaimana di balik punggung kecilnya, sang papa kembali memandang Pond Naravit begitu tajam sambil salah satu tangannya memberi kode bahwa setelah ini kita harus berbicara empat mata.
Dan lelaki yang membuat Phuwin Tangsakyuen porak-poranda sore ini hanya bisa mengangkat kedua pundak lebarnya lantas memejamkan mata. Menikmati ketenangan yang sepertinya sebentar lagi akan sirna.
“Seharusnya aku yang jemput Kayla hari ini, Nara,” Phuwin berucap dengan volume rendah, sebab tak ingin Kayla mendengarkan dari kamarnya. Tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Daddy-nya Kayla kangen sama anaknya,” jawab Nara enteng, masih dengan posisi yang sama santainya. Tanpa melihat yang diajak bicara, lelaki itu tahu kalau percakapan ini tak akan sebentar. “Jadi... aku yang jemput dia terus kuajak jalan-jalan.”
“Dan melupakan kalau aku juga Papa-nya?”
“Oh... kamu juga pingin ikut jalan-jalan?”
“Naravit, aku kira Kayla diculik!” tukas Phuwin gemas. Lama-lama kesal dengan tindak-tanduk Nara yang menyebalkan.
“Loh, jadi kamu sudah telfon polisi?”
“Hampir,” Phuwin membalas setelah mendengus. Kedua lengan terlipat depan dada. “Sampai akhirnya kamu dateng tiba-tiba sama Kayla.”
“Syukurlah kalau nggak jadi.”
“Syukur? Syukur katamu?” Kali ini, posisi Phuwin berdiri tepat di hadapan Nara yang lesehan di atas karpet. “Astaga, Nara...”
“Sebenarnya ada apa sama kamu?” tanya Nara heran sambil mengubah posisinya menjadi duduk di atas sofa. “You don't look like yourself today.“
“Kenapa kamu nggak kasih kabar kalau kamu yang jemput Kayla?” Phuwin balik bertanya dan berusaha untuk sabar.
“Aku kira kamu pasti tau.”
“Mana bisa kayak gitu?” protes Papa Kayla sambil mengerutkan kedua alis. “Yang aku tau pastinya adalah Kayla dijemput sama aku hari ini.”
“Aku sudah bilang satpam kalau Kayla dijemput Daddy-nya.”
“Tadi aku tanya beliau nggak tau Kayla dijemput siapa. Taunya cuma fakta kalau Kayla sudah dijemput.”
“Satpam siapa yang kamu tanya? Pak Beni?”
“Mana aku tau?”
“Kamu tau setiap sore satpam sekolah Kayla selalu ganti shift?” Jeda sejenak menunggu jawaban dari Phuwin tapi akhirnya tak kunjung ada suara. Nara pun melanjutkan, “Kemungkinan besar yang kamu temui tadi Pak Hendra, jadi wajar beliau nggak tau. Kamu bertanya sama orang yang salah.”
“Tapi kamu tetep salah, Nara. Kamu nggak bilang ke aku kalau Kayla dijemput sama kamu. Aku panik setengah mati setelah tau dia nggak ada di sekolah. Aku coba tanya anak-anak di sekitar sana di mana Kayla, dan nggak ada satupun yang tau. Aku pulang sambil terus berpikir segala kemungkinan yang baik, tapi percuma karena pikiranku udah telanjur jelek. Masih untung kalau memang Kayla dijemput sama kamu, misalkan sama yang lain gimana? Kayla bisa diculik, terus hilang dan akhirnya—”
“Phuwin, Phuwin.”
Nara beranjak dari duduknya. Memegang kedua bahu Phuwin yang sebenarnya sudah bukan ranahnya. Nara tak berhak sebab lelaki di hadapannya ini bukanlah suaminya lagi. Tapi dalam kondisi seperti ini, norma-norma itu tak dibutuhkan. Dalam hati terdalam dan berdasarkan pengalaman mereka bersama selama beberapa tahun, Pond Naravit sudah kelewat hafal dengan kebiasaan Phuwin yang seperti ini. Maka dari itu, meskipun keduanya sudah berpisah, selama masih disatukan oleh seorang anak, Nara akan masih terus ada untuk Phuwin. Meskipun mantan suaminya itu sering kali mendorongnya untuk menjauh.
“Lepasin aku,” ucap Phuwin, tapi kelakuannya sangatlah kontradiktif. Tubuhnya sedikit lemas, kepalanya juga ikut menunduk. Tak mau mengangkat dan menatap lelaki di hadapannya seperti tadi. “Lepasin, Nara.”
“Tentang Kayla, aku minta maaf karena nggak bilang dulu dan akhirnya kamu jadi panik,” Nara berucap setelah berusaha membuat lelaki di hadapannya terdiam di tempatnya berdiri. “Tapi tentang kamu, Phuwin, ada apa sebenarnya?”
”. . .”
“Aku kena PHK.”
Hening menyelimuti keduanya. Nara menghela nafas paham, rupanya ini yang menjadi alasan Phuwin uring-uringan sejak tadi. “Dengan alasan apa?” tanyanya pelan dan hati-hati.
“Mereka nggak bisa bayar utang pinjaman modal di bank sejak taun kemarin, dan sialnya semua karyawan baru tau tentang itu hari ini,” cerita Phuwin. “Atasanku selama ini menyembunyikan fakta itu.”
“Mustahil nggak ada yang tau sama sekali,” Nara membalas, dan sekarang tak lagi memegang kedua pundak Phuwin. “Pinjaman itu seharusnya masuk ke laporan keuangan, dan minimal akuntan yang tau adanya perubahan ganjil di sana.”
“Sebenernya...” Jeda sejenak, sebab yang sedang bercerita akhirnya duduk di atas sofa. “Aku udah feeling, tapi akhirnya nggak aku gubris.”
“Kamu pasti sudah menemukan buktinya.” Nara ikut duduk di sebelah lelaki itu, tetapi dia menjaga jarak. Tak terlalu dekat, tapi juga tak terlalu jauh. “Kenapa kamu nggak lapor?”
“Aku masih punya Kayla untuk dihidupi, Nara. Aku masih butuh pekerjaan supaya Kayla bisa terpenuhi kebutuhannya di rumah ini. Aku harus selalu punya harapan walaupun kondisinya udah nggak memungkinkan. Semua demi Kayla, Nara. Aku bener-bener nggak bisa,” lirih Phuwin. “Dan sekarang... travel agent itu bangkrut. Aku nggak punya penghasilan. Tabunganku menipis, sedangkan tenggat waktu sewa apartemen jatuh bulan depan. Aku nggak mungkin ambil uang dari tabungan pribadi Kayla. Itu tabungan untuk masa depannya—”
“Phuwin, aku juga ayahnya Kayla.” Nara memberanikan diri menggenggam tangan Phuwin yang dingin. “Aku tau, Phu. Kita sudah nggak serumah lagi kurang lebih dua taun lamanya. Tapi Kayla masih tanggung jawabku untuk dibiayai kehidupannya. Dan Kayla sayang banget sama kamu, Phu. Dia pasti nggak mau liat kamu sedih seperti ini. Jadi nggak mungkin kalau kamu bukan tanggung jawabku juga, karena kamu adalah kebahagiaan Kayla.”
“Kamu nggak perlu melakukan sampai sejauh itu, Nara. Aku masih bisa berdiri sendiri. Yang terpenting itu Kayla. Bukan aku.”
“Kita sudah sepakat waktu itu setelah persidangan, Phuwin. We will raise her together, no matter what happened,” balas Nara semakin mengeratkan kedua tangannya bersama Phuwin dan menatap lamat-lamat dengan penuh keyakinan. “Karena Kayla anak kita berdua.”
”. . .”
“Daddy? Papa?”
Suara Kayla menjadi penyebab keduanya memutus hubungan untuk saling memandang penuh artian. Mereka tersadarkan oleh keadaan dan langsung menoleh kepada sang anak yang keluar dari kamar sambil (selalu) berlari-lari kecil. Tak ada lagi Phuwin dengan tatapan sendunya yang merana. Sudah berubah kali ini menjadi tatapan penuh kehangatan untuk yang tercinta, si Kayla. Sedangkan Nara meskipun genggamannya terlepas karena Kayla meminta duduk dipangku, masih meninggalkan jejak perhatian kepada Phuwin dengan lagi-lagi kembali memandang seakan meminta reaksinya sekarang juga tentang perkataan sebelumnya.
Phuwin sempat menggeleng ringan, menolak karena takut kalau Kayla mengetahui segala yang sudah dicurahkan. Tetapi Nara masih menunggu, sambil sesekali meladeni Kayla yang sedang memamerkan gambarannya yang mendapatkan nilai A di sekolah. Jujur dalam kondisi sekarang ini, Phuwin tak tahu harus bereaksi seperti apa. Pikirannya masih mendung, dan seluruh perkataan Nara tadi seakan di ambang-ambang antara ingin diterima dengan ikhlas atau ditolak mentah-mentah menurut ego. Tapi siapa sangka kalau ternyata, Phuwin sendiri juga kaget akan reaksi yang diberikannya kemudian.
“Thank you, Nara, for becoming Kayla's happiness too. It means so much to us.“
terpintal denggan cinta oleh daeyumbruh
