Actions

Work Header

Heartbreak Effect

Summary:

Kaiwen has a heartbreak, and Donggyu is just -erm- helping Kaiwen figure his feelings out.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Donggyu membuka pintu rumahnya perlahan, mendapati Kaiwen terlentang di sofa ruang tamunya.  Ia menghembuskan nafas panjang, menghampiri Kaiwen dan menggoyangkan badan itu.  Pemilik badannya bersikukuh untuk tidak merespon, membenamkan wajahnya makin dalam ke sofa.


”Lu nangis ya?” sahut Donggyu mendapati punggung temannya terisak dengan ritme tersendat-sendat,  yang ditanya cuma menggeleng kuat.

”Kenapa lagi sih lu,” kesal tidak ditanggapi, Donggyu membalik paksa Kaiwen, yang empunya buru buru menutupi muka sembabnya dengan kedua telapak tangannya, masih bersikeras  dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ”gapapa ih,” timpalnya dengan suara yang kentara sekali  sudah  menangis selama setengah jam lebih.

Donggyu terkekeh gemas, mengusak surai coklatnya, ”tadi ditelfon Mas Hao tau,”


Saraf-saraf di sekujur Kaiwen menegang seketika, tertangkap oleh sudut mata Donggyu yang mendapati ia merespon seperkian detik lebih lambat dari seharusnya. ”ditanyain kalau Kaiwennya kabur kesini apa engga, yaudah gue pulang deh ngecekin daripada lunya kenapa-napa”


”Mas kentara banget loh khawatirnya,”


”Berantem?”

Kaiwen tidak menjawab.


”Kalau diem bener berarti,” Donggyu menghamburkan dirinya menimpa Kaiwen, menimbulkan ronta protes dari yang tergencet. Basically, mereka ini seumuran dengan tinggi badan yang sama persis dan proposi badan yang berbeda jauh. Jadi berat Donggyu yang menimpa Kaiwen cukup untuk membuatnya menepuk kencang punggungnya. ”Berat ah, minggir coba,” rengutnya.

”Ngomong dulu,” sanggah Donggyu, terkekeh puas melihat sahabat kecilnya itu memperlihatkan muka jengah dengan mata yang masih merah.


”Yaudah berantem kaya biasa,” kilahnya.

”Boonggg,” hidung Kaiwen dicubit, ”tumbenan nangis sampai segininya,”



Kayanya Donggyu salah langkah, soalnya omongannya tadi sukses bikin Kaiwen makin mewek. Pelakunya panik, beranjak, mengambil posisi duduk dan menegapkan Kaiwen di sofa.


Menit berlalu dengan Donggyu yang salah tingkah, cuma bisa menepuk-nepuk paha Kaiwen, berharap senggukannya cepat reda. Siapa sangka hari ini bocah yang biasanya nyengir terus ini bakal nangis kejer kalau diginiin.


Nafasnya mulai teratur, bahunya naik turun lebih lambat dari sebelumnya, dan punggung tangannya mengusap air matanya cepat. ”Kayanya Koko marah deh,” sengguknya.


”Gamungkin Mas marah sama kamu ah,”

”Kemarin aku confess ke Koko...”


Donggyu terdiam.


       

Kali ini ia membatu.



“Koko kaget, terus katanya Koko lihat aku sebatas adeknya,” Kaiwen menoleh, memajukan wajahnya hingga tersisa sejengkal diantara mereka.

Dengan jarak sedekat ini, Kaiwen bisa lihat jelas bagaimana mata hitam Donggyu menatap balik matanya, pipinya yang kemerahan, hidung bangirnya, alis tebalnya, bibirnya dan bagaimana tawa gugupnya menyembulkan gigi taringnya.




All that scenery makes him wonder how it feels like biting his nose, brushing his hair, getting bitten by him, or maybe kiss him with his hand brushing his hair and makes him blushes even more. “Kalau kamu,” tangannya menggerayangi bahu lawan bicaranya, meremas kerah kemejanya.

Donggyu, what kind of eyes you'll use to look at me?



Mata mereka bersinggungan sekali lagi, ”jawab dong, tadi sok jagoan belain Koko,”



Kaiwen menyunggingkan senyumnya, mempertipis jarak hingga deru nafas mereka beradu, ”Lu juga suka Koko ya?”

”Donggyu, Donggyu bilang dong dari awal- hmpph,”


Ucapannya terhenti oleh bibir Donggyu yang menyumpalnya, menggigit bibir bawahnya agar membuka akses masuk untuk lidah mereka beradu. Kaiwen menolak, penolakannya dibalas dengan disesapnya kedua bibir atas dan bawahnya bergantian. Ciumannya terhenti, meninggalkan wajah tercengang Kaiwen dan Donggyu yang menggigit hidungnya. ”Bacot banget anak Mamah,” senyum puas terpuas terpatri di wajah Donggyu.


I always look at you like this, like you would’ve gone if I look away. Eyes full of adoration, as friends, as classmates, as neighbor, as childhood friend, as if you’re my whole world,”



"Gua suka lu, puas?”


Kaiwen menelan ludahnya, “walaupun lu ciumannya kaga jago, Koko kalah sexy sama lu deh,”




Donggyu memejamkan matanya, menciumnya sekali lagi. Kali ini Kaiwen membalas, membuka mulutnya dengan tangan yang menggapai tengkuk lawannya. Mengusak rambut hitamnya, memperdalam ciumannya hingga hidung keduanya bertabrakan. Donggyu tertawa  kecil ditengah ciumannya, memiringkan kepalanya, lidahnya mengabsen deretan giginya. Di momen itu, Kaiwen bersumpah bahwa membuka matanya sewaktu bercumbu dengan teman masa kecilnya adalah pengalaman spektakuler akan berputar di memorinya selalu.


Nafas keduanya mulai menipis, Kaiwen menjambak rambut Donggyu untuk menghentikan ciuman amatir mereka. Merangkak naik ke pangkuan yang lebih tua, tersenyum senang dan mengusap benang saliva mereka yang masih bertaut dan mengecup matanya. ”mau pangkuu,”

”Pahanya hak khusus buat pacar nih,” kekeh Donggyu, menyandarkan kepalanya ke bahu Kaiwen.

”Iya dehh, iyaa,” timpalnya seadanya, membuat nadanya terdengar jengah seakan-akan itu menutupi semburat merah yang menjalar hingga telinganya.  

”Apanya yang iya?”

”Pacarannya,” kali ini Kaiwen kecup sekilas bibirnya.




”Nanti lapor ke Mas yuk,”

”Ngawur ih, kasian dia orangnya mah kagetan,”

Notes:

Working on my first fic, for the sake of Dongwen. (pls vote Chen Kaiwen, Park Donggyu and the love of my life Zhang Jiahao)

Series this work belongs to: