Work Text:
Ada agenda rutin yang selalu Haechan lakukan saat akhir pekan.
Tidur siang.
Saat akhir pekan, ia akan tidur siang sampai hari benar-benar gelap, dan tidak ada satu pun yang akan berani untuk mengganggu. Semua itu karena keluarga Haechan sangat mengerti dengan kegiatan padat yang Haechan miliki saat pekan hari.
Sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Pergi kegiatan tambahan seperti les atau pun ekstrakulikuler futsal yang sangat ia gemari. Dan kedua kegiatan itu setidaknya berakhir pukul 8, dengan waktu tempuh pulang-pergi setidaknya 1 jam. Setelah sampai rumah, jangan pikir semuanya sudah selesai. Terkadang Haechan akan langsung belajar dengan giat, atau jika sedang tidak mau belajar maka akan pergi main bersama teman-temannya, nongkrong di tempat kumpul anak muda, ya berkegiatan selayaknya kawan-kawannya yang lain.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 11 atau 12, barulah Haechan biasanya akan menyudahi belajarnya, atau akan pulang dari nongkrongnya. Setelah selesai semua, barulah Haechan akan istirahat.
Di pekan hari, waktu beristirahat Hacehan benar-benar kurang layak, maka dari itu saat akhir pekan Haechan mengupayakan untuk mengambil waktu istirahat dengan sebaik dan sebanyak mungkin. Menyebabkan ia tidak pernah keluar dari kamar sama sekali terhitung sejak siang hingga petang menyapa. Saat malam pun nyatanya Haechan tak keluar kamar, lebih memilih menghabiskan waktu dengan berbaring, bermain ponsel, atau pun menonton serial drama yang sedang ramai dibicarakan.
Namun semua kegiatan padat itu hanya ada ketika Haechan masih bersekolah. Kini ketika libur semester telah tiba, tentu saja Haechan memiliki banyak waktu luang yang tidak mengharuskannya untuk istirahat penuh di akhir pekan.
"Dek, nanti kalo mau makan malem diangetin sendiri ya. Mimi sama ayah mau pergi dulu. Kamu di rumah sama Abang aja, kalo ada apa-apa nanti bilang Abang ya."
Haechan sore itu mengantar ibunya sampai ke gerbang. Kedua orangtuanya pamit untuk pergi sebentar menjenguk kerabat yang sakit, dan baru pulang esok hari. Haechan memang jarang ditinggal oleh Miminya, apa pun yang ia butuhkan selalu disiapkan oleh Mimi. Maka dari itu sekalinya ditinggal pergi, Mimi pasti akan memberinya banyak-banyak petuah semacam ini.
"Iya, iya. Uda diulangin berapa kali coba ngomong ini terus." Ucap Haechan sambil mencium tangan ayah dan Mimi bergantian.
"Tapi sayang-"
"Mi, gak usah berlebihan deh. Perginya cuma semalem doang, besok juga pulang. Gak usah khawatir banget, seakan Mimi pulangnya bakal berhari-hari kemudian. Uda sana berangkat, gak usah khawatir soal apa pun." Haechan menuntun Mimi yang masih betah memasang wajah tidak rela harus meninggalkan Haechan selama satu malam.
"Kamu mending ikut aja, ya? Mimi gak mau banget pisah dari kamu walau cuma semalem." Mimi memasang wajah cemberut, padahal pintu mobil sudah dibuka, tapi Mimi terlihat sangat enggan untuk masuk ke dalam.
"Mi, nanti yang ada di sana itu banyak orang tuanya. Kalo bawa Haechan, kasian anaknya gak punya temen ngomong, bisa juga gak nyaman karena merasa bukan tempatnya." Tegur Ayah kepada Mimi yang berkeinginan mengajak Haechan ikut serta.
Ayah sangat mengerti perasaan Mimi yang memang begitu menyayangi Haechan, dengan kesan posesif yang berlebihan serta benar-benar tidak mau berpisah dari bungsu mereka walau sesaat. Jika mereka pergi pun, biasanya Mimi juga mendesak membawa Haechan ikut serta, dan Ayah biasanya juga akan mengizinkan saja. Namun untuk kali ini tidak, Ayah merasa kalau Haechan nanti pasti tidak akan nyaman saat sudah berada di tempat, sebab yang datang pasti hanya para orang tua saja.
"Ya udah deh, Mimi pergi ya sayang. Kamu di rumah baik-baik ya. Kalau ada apa-apa bilang Abang Je, ya?"
Haechan mengangguk.
"Iya, Mi. Uda masuk Mi, nanti telat sampek tempatnya." Haechan memersilakan Mimi agar masuk ke dalam mobil.
Namun sebelum Mimi benar-benar masuk, ia menyempatkan diri untuk memberi kecupan di wajah Haechan, berkali-kali sampai baru berhenti ketika dihentikan Ayah. Ayah menarik tubuh Mimi, dan menuntunya masuk ke mobil.
"Ayah sama Mimi pergi dulu ya. Hati-hati di rumah." Ayah mengusap puncak kepala Haechan sebelum masuk ke dalam.
"Ayah sama Mimi juga, hati-hati."
***
"Dek, uda tidur ya? Abang masuk ke dalem ya!" Je masuk ke dalam kamar Haechan sebelum Haechan sendiri memberi jawaban.
Saat Je sudah masuk, ia cukup kaget mendapati adiknya sedang tidur.
"Dek, ayo bangun. Belum makan kan, Dek? Ayo bangun!" Je berusaha membangunkan Haechan. Ia tepuk pelan bahu Haechan, lalu menggoyangkannya dengan sedikit keras agar sang adik bangun.
"Ungrh! Apa sih..." Haechan bersuara lemas, sedikit serak, sangat khas orang yang baru bangun tidur. Haechan memejamkan mata, hidungnya mencium aroma cedar yang menguar memenuhi indera penciuman, ini bukan aroma parfun Mimi. Aroma ini milik si Abang, berarti yang membangunnya adalah kakaknya. Dalam sesaat Haechan tadi lupa kalau orangtuanya malam ini tidak di rumah, dan sempat terheran dengan siapa yang sudah membangunkannya.
"Makan dulu, yok. Kalo gak makan, nanti Abang yang diomelin, Mimi. Ayo, bangun." Je mulai menepuk-nepuk bokong Haechan ketika adiknya itu terlihat memejamkan mata kembali, dan malah berniat menarik selimut.
"Dek, bangun! Ayo makan, Abang tadi beli sate makan ayo! Bareng sama temen-temen Abang juga!"
Haechan tidak terlalu menyimak apa yang kakaknya katakan, namun ia hanya menurut saja ketika tangannya ditarik kemudian badannya dituntun untuk bangun. Rasanya masih mengantuk, namun punggung sudah melayang dari kasur, dan sekarang ia telah tegak duduk di tepi ranjang.
"Ayo, keluar." Je melangkah keluar lebih dulu saat ia lihat adiknya sudah mau beranjak dari ranjang, walau jelas terlihat bocah itu melangkah dengan lesu.
Je menggeleng pelan, padahal adiknya sudah tidur dari sejak sore, bisa-bisanya sekarang masih mengantuk separah itu.
"Jalan yang bener nanti nabrak orang." Je memberi peringatan untuk adiknya yang sekarang berjalan dengan posisi kepala menunduk lesu.
Namun Je tidak mau terlalu ambil pusing. Ia biarkan saja dan memilih melangkah lebih dulu menuju ke dapur, sebab di sana teman-temannya sudah menunggu.
Haechan sudah tidak mendengar suara langkah kaki kakaknya lagi, pertanda kalau lelaki yang berada 3 tahun lebih tua di atasnya itu telah melangkah lebih jauh darinya. Bahkan besar kemungkinan sudah sampai dapur lebih dulu.
Sedangkan Haechan sendiri masih sibuk mengumpulkan kesadaran, berjalan masih sempoyongan, tidak nampak bersemangat sama sekali. Kepala tertunduk lesu, kaki ia seret, dan mata masih dalam kondisi terpejam.
Haechan benar-benar merasa sangat mengantuk.
'DUG!'
Haechan berhenti saat kepalanya menabrak sesuatu, keras namun tidak cukup keras untuk disebut dinding. Haechan mengerutkan dahi. Sepertinya dia habis menabrak seseorang, punggung atau dada? Sepertinya bagian dada. Ia mengendus, aromanya bukan cedar, sudah pasti bukan kakaknya.
Tidak tercium maskulin, sebaliknya malah tercium segar... Ini permen karet?
Haechan semakin menautkan alis dan mengerutkan dahi. Baru kali ini ia mendapati teman kakaknya beraroma ini. Biasanya jika bukab parfum beraroma maskulin yang tajam, pasti akan tercium sedikit aroma rokok yang membuatnya kurang nyaman.
"Uh?" Haechan akhirnya membuka mata, dan itulah reaksi yang ia keluarkan saat matanya saling bertemu tatap dengan pria yang berdiri beberapa langkah di depannya.
"Maaf Bang, gak sengaja." Haechan berkata maaf lebih dulu, tersenyum canggung dan mulai mengambil langkah untuk meninggalkan lelaki yang habis ia tabrak.
Wajah pria itu terasa asing, Haechan tidak merasa pernah melihatnya. Tapi sebenarnya, banyaknya teman Bang Je itu di luar prediksinya, alias terlalu banyak. Dan yang datang kemari pun silih-berganti, tidak hanya teman akrab, terkadang teman dari temannya Bang Je juga suka main ke sini. Terkadang teman baru kenal, teman baru tahu nama, teman mengerjakan tugas. Tidak menentu, dan bukan melulu orang yang sama.
Mungkin yang baru Haechan tabrak tadi adalah bagian dari teman baru, atau mungkin temannya teman. Tapi cukup mengejutkan juga karena menurut Haechan aroma pria itu benar-benar berbeda, sangat menyegarkan. Nilai tambah lagi, tidak ada aroma nikotin yang menusuk, yang ada hanya aroma manis permen karet yang sangat menyegarkan, terasa baru.
Dapat dari mana Bang Je teman sejenis ini.
"Bang, makan apa?" Haechan lupakan lelaki tadi, dan lebih memilih untuk menengok apa menu makan malam hari ini.
"Malem, adek. Baru bangun tidur ya? Ada telur gulung nih, mau gak?"
Haechan kenal lelaki yang menawarinya telur gulur ini. Dia teman kakaknya yang sudah cukup sering main ke rumah. Namanya Luky.
Haechan selalu disambut dengan cara seperti ini. Semua orang memanggil Haechan dengan Dek, Adek, Dedek, dan lain sebagainya. Hal itu mengikuti bagaimana keluarga Haechan memanggil Haechan selama ini. Haechan sendiri tidak keberatan, lagipula itu bukan hal berarti yang perlu dipermasalahkan, dan ia pun nyaman saja dengan bagaimana teman-teman kakaknya memanggil atau pun memerlakukannya.
***
Tengah malam teman-teman Bang Je masih belum pulang. Mereka berkumpul di ruang tengah. Entah bermain PS, kartu atau pun sekadar sibuk mengobrol.
Saat sedang berkumpul seperti itu, sudah jelas mereka akan menimbulkan suara ramai yang terdengar sangat gaduh.
Haechan sudah terbiasa. Biasanya mereka baru berhenti jika sudah mendekati jam 3 atau jam 4 pagi. Sebelum mendekati jam itu, jangan harap ada ketenangan, apalagi sekarang orangtua mereka tidak di rumah, besar kemgkinan kebisingan ini akan terus berlanjut sampai pagi.
Haechan keluar kamar untuk botol air minumnya yang sudah kosong. Sesampainya di dapur, ia malah berpapasan dengan teman sang kakak.
Lelaki ini lagi.
Si aroma permen karet.
Haechan hanya menyapa dengan senyuman sekilas sebelum kemudian melangkah dan berlalu darinya.
Haechan tidak pernah merasa seaneh ini. Dia bisa merasakan kalau teman kakaknya itu tengah melayangkan tatapan kepadanya. Pria itu ada di belakang, tidak jauh darinya, ia mengintip sedikit dan benar adanya kalau pria itu sedang menatap ke arahnya. Ia pun lantas memutar pandangannya kembali, berpura-pura kembali fokus dengan kegiatannya, yaitu mengisi botolnya. Namun ia tetap merasa resah dan tidak tenang, sekeras apa pun ia berusaha fokus dengan suara air mengalir yang perlahan debitnya telah memenuhi botol minum berukuran 1 liter miliknya, hal itu tidak terasa membantu sama sekali.
"Mau nyari sesuatu, Bang?" Haechan tidak tahan lagi, akhirnya setelah mengisi botol minumnya ia memutuskan untuk berbalik, kemudian langsung melayangkan pertanyaan itu kepada si lelaki yang sejak tadi terus memantaunya.
Mereka saling menatap, Haechan tidak mau gentar, tidak mau menunjukkan perasaan gusar miliknya. Ia berusaha nampak berani walai nyatanya di dalam hati ia menyimpan sedikit perasaan janggal kepada pria ini. Sangat mencurigakan. Ia khawatir pria ini memiliki niatan atau maksud jahat kepadanya.
Lagipula aneh sekali pria ini, baru terlihat main ke rumah ini untuk yang pertama kalinya, tapi sudah kurang ajar bertingkah seperti ini dengan menggunakan mata tidak sopannya itu.
Haechan reflek melangkah mundur saat pria itu melangkah maju, ke arahnya. Haechan langsung defensif, dia gugup dan cemas setengah mati. Pria ini tidak bicara apa pun dengan mulutnya, hanya berkomunikasi lewat mata, dan mendadak melangkah maju ke arahnya. Benar-benar aneh dan menakutkan!
"Mark."
Lalu mengajak berkenalan. Haechan melongo, tidak habis pikir dengan tingkah pria ini. Bersikap sangat aneh hanya untuk berkenalan.
Jujur saja Haechan tidak pernah tertarik dengan orang-orang yang dibawa oleh kakaknya ke rumah. Namun seluruh teman kakaknya tahu siapa dirinya, tahu siapa namanya, mungkin itu hasil bertanya kepada kakaknya. Namun sebaliknya, Haechan tak pernah tahu-menahu siapa saja nama teman kakaknya, kecuali jika itu sudah sangat sering main ke rumah ini, maka ia akan tahu namanya dengan sendirinya.
Ya, seperti itulah cara Haechan bisa kenal mereka, dan cara mereka bisa kenal Haechan. Tidak ada satu pun yang kenal dengannya dengan memakai agenda berkenalan secara resmi seperti ini.
"Haechan." Haechan membalas dengan ragu. Dan meski pun ia menjawab untuk bertukar nama, ia tidak tertarik sedikit pun untuk menerima jabat tangan yang diulurkan oleh pria bernama Mark ini.
Menurut Haechan itu hanya terlalu aneh, dan membuatnya tidak nyaman saja.
Dan karena Haechan tidak menerima jabat tangan itu, Mark terlihat terus menatap Haechan dengan tatapan lekat, yang nyatanya malah membuat Haechan menjadi semakin tidak nyaman.
"Udah kan Bang? Gue permisi dulu ya, mau lanjut mabar dulu!" Haechan tidak mau ambil pusing dengan tatapan lekat dari Mark. Dia memilih untuk segera bergegas pergi dari hadapan Mark, cepat sekali ia melangkahkan kaki, dan mengincar untuk menuju ke kamar.
"Aneh! Gak jelas banget sih temennya Bang Je yang itu! Dih, kalo dia gitu lagi gue aduin Mimi biar gak dibolein main lagi! Aneh!" Haechan bergidik, ia peluk dirinya sendiri rusuh saat sudah masuk ke dalam kamarnya. Tempat teraman dan ternyaman untuknya.
***
"Bang, hari ini temen-temen lo maen ke sini gak?" Siang itu Haechan bertanya dengan nada sedikit jutek kepada kakaknya.
"Uh? Tumben nanya. Kenapa?" Je malah balik bertanya.
Haechan berdecak, ia paling tidak suka bila pertanyaan ia ajukan malah dibalas dengan pertanyaan lain.
Alasan Haechan menanyakan soal ini adalah karena teman kakaknya, si Mark itu, benar-benar membuatnya merasa tidak tenang. Sejak insiden pria itu mengajaknya berkenalan, keesokan harinya atau bahkan berhari-hari kemudian, intinya sejak saat itu, ketika lelaki itu ikut main ke rumah, ia menyadari kalau lelaki itu terus memerhatikannya. Bahkan saat mereka berjarak cukup jauh, seperti ketika teman kakaknya sedang berkumpul di taman belakang, kemudian Haechan sedikit menengok dari balkon, maka Haechan pasti akan langsung mendapati pria itu sedang menatapnya, memerhatikannya.
Selain itu, jika mereka berpapasan, Mark pasti selalu berusaha untuk mengajak mengobrol atau pun berusaha untuk mendekatinya. Haechan benar-benar tak suka, dia sangat ingin menghindar dan menjauh darinya.
Maka dari itu Haechan bertanya kepada kakaknya lebih dulu apakah hari ini teman-teman kakaknya akan kumpul di sini atau tidak. Jika iya, Haechan akan memutuskan untuk terus berada di dalam kamar saja, meminimalisir segala kemungkinan bertemu dengan pria itu. Haechan akan bersembunyi darinya.
Haechan tidak mau berspekulasi apa pun terhadap tingkah pria itu, tidak juga berniat menegur, sejauh ini Haechan mengatasinya hanya dengan berusaha mengabaikan saja. Dan kali ini usaha lainnya adalah dengan menghindar.
"Kayanya gak deh. Sibuk nanti kita hari ini, pada punya jadwal sendiri jadi gak ada waktu buat maen." Jawab Je seadanya.
Haechan tersenyum lebar.
"Oke!" Menjawab dengan nada yang terlampau senang.
~~~
Haechan sudah berbahagia mendengar bahwa hari ini tidak akan ada teman kakaknya yang datang. Namun belum sampai satu jam kesenangan itu ia rasakan, ketika bahkan bayangan matahari baru bertambah sedikit, di halaman rumahnya sudah terdengar suara deru motor yang cukup ramai.
Haechan sudah curiga. Ia mengintip di balik jendela kamarnya. Dan benar saja kalau yang datang adalah teman-teman kakaknya, juga di sana ada Mark, pria yang berusaha ia hindari.
"Bang Je gimana sih, katanya gak ada yang maen! Tsk, nyebelin bangetlah anjing!" Haechan menggerutu. Mukanya nampak tidak senang.
Haechan menghela napas pelan.
"Gue tegur langsung aja apa ya?" Mulai bermonolog, berencana untuk membicarakan ini secara langsung kepada Mark. Melakukan konfrontasi, yang siapa tahu dengan itu setelahnya maka Mark akan mengubah tindakannya, dan bisa berhenti untuk terus menatapnya dengan tatapan yang membuat diri menjadi sangat tidak nyaman itu.
"Dek, keluar yuk bantuin Mimi masak buat makan malem!"
Haechan sedang sibuk berpikir dan kemudian pintu kamarnya diketuk oleh Mimi. Wanita itu mengharapkan bantuannya, jujur saja Haechan tidak pernah keberatan dengan hal ini karena lagipula dia juga suka memasak dan belajar. Namun insiden belakangan ini membuat Haechan ingin untuk sementara waktu tidak keluar kamar lebih dulu, dan hanya ingin terus sembunyi di dalam kamar ketika kawan-kawan kakaknya sedang datang untuk nongkrong di sini.
"Dek, denger Mimi gak? Adek? Ayo, keluar yuuk!" Mimi kembali berseru.
Haechan memutar bola matanya. Dia sulit untuk berkata tidak jika itu kepada ibunya.
"Iya, Mimi!" Haechan mengiyakan, dan kakinya ia paksa untuk melangkah kelua. Berat sekali seperti kakinya tengah dirantai dan dipaksa untuk menyeret bola besi di sepanjang langkah.
"Adek, hari ini Mimi mau masak kesukaan kamu! Ayam bakar!" Mimi sangat bersemangat, namun ini berbanding terbalik dengan Haechan yang memasang wajah kusut.
"Hm. Mau dibantuin apa, Mi." Tanya Haechan dengan tidak semangat. Mata sibuk melirik sisi rumah, setiap sudut ia pantau dengan tatapan tajam dan was-was miliknya.
"Eh, kamu kenapa? Kok keliatan kaya gak bersemangat?" Tanya Mimi kepada Haechan.
Haechan menoleh.
"Gak kok, gak kenapa-napa. Cuma emang bawaannya aja lagi males. Jadi ini aku harus bantu apa, Mi?"
"Kenapa bisa gitu? Adek ada masalah ya? Kalo ada masalah, sini cerita sama Mimi. Jangan dipendem sendiri ya. Atau kalau Adek emang lagi gak mood bantuin Mimi, ya udah gak papa Adek ke kamar lagi aja. Jangan dipaksain." Mimi berkata dengan nada khawatir.
Haechan sudah menduga kalau Mimi akan bereaksi seperti ini. Sejak dulu Mimi itu memang sering menaruh rasa khawatir secara berlebih terhadap Haechan. Bukan tanpa alasan, karena saat kecil Haechan pernah sakit dan berada dalam kondisi kritis, membuat semua orang khawatir luar biasa, terlebih Mimi. Dan ketika Haechan akhirnya sembuh, sejak saat itu Mimi benar-benar menaruhkan banyak rasa perhatian kepada Haechan melebihi apa pun. Mimi hanya tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada saja, selagi masih bisa bersama dan Haechan pun dalam kondisi sangat sehat, Mimi sangat ingin memanfaatkan semuanya sebaik mungkin sebelum terlambat.
"Gak Mimi. Udah ayo masak. Gak usah mikir aneh-aneh."
"Bener, ya gak ada apa-apa. Jangan disimpen sendiri, Miminya dibagi kalo emang kamu lagi kenapa-napa."
"Siap Mimi, cantik!"
Haechan membantu Mimi memasak hanya dibagian kupas-mengupas atau pun memotong sayur. Sedangkan untuk urusan di dekat kompor, itu semua Mimi yang kerjakan. Mimi melarang Haechan dekat-dekat kompor karena menurutnya itu berbahaya, sangat mengkhawatirkan melihat Haechan berada di dekat api, Mimi tidak mau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Bukan karena Haechan tidak bisa memasak atau tidak terbiasa di dapur, Haechan juga bisa memasak, dan banyak menu yang bisa ia masak. Hanya saja di sini memang Mimi yang bersikap terlalu berlebihan. Mimi sendiri yang terlalu khawatir melihat Haechan dekat-dekat api. Mimi memang terlalu memerlakukan Haechan selayaknya Haechan masih bayi.
"Dek, kayanya kemirinya abis deh. Minta tolong beliin di warung depan ya." Mimi meminta tolong kepada Haechan.
"Eh! Gak, gak! Bukan kemiri aja yang abis, bentar Mimi catet dulu ya, nanti kamu belanja ke supermarket minta temenin sama Abang." Mimi pergi mengambil buku dan pena untuk mencatat apa saja yang perlu Haechan beli ke supermarket bersama anak sulungnya nanti.
Haechan cemberut di tempat. Jika Mimi menyuruhnya berbelanja bersama Bang Je, maka nanti ia harus pergi ke halaman belakang, menemui Bang Je, dan otomatis saat itu ia akan bertemu dengan Mark yang juga ada di halaman belakang.
Malas sekali, Haechan enggan melakukannya. Ia mencoba untuk menelpon atau mengirim pesan, tapi sayang sekali tidak ada respon apa pun dari sang kakak.
"Mi, panggilin Bang Je dong. Biar aku bisa langsung tunggu di luar aja." Haechan malah menyuruh Mimi untuk memanggil sang kakak.
Mimi menggeleng pelan.
"Gak bisa Adek, ini Mimi lagi repot potong daging ini lho. Kamu panggil sendiri sana, udah buruan belanja nanti keburu malem makanannya malah belum mateng. Sana." Mimi tidak menuruti Haechan, menyuruhnya untuk melakukan hal itu sendiri.
Haechan beranjak dari tempat sambil diam-diam keluar decakan kesal.
Haechan mengintip dari balik pintu, melihat kakaknya sedang seru mengobrol dan berbincang dengan kawan-kawannya. Saat ia meliarkan tatapannya ke arah lain, mencari keberadaan pria menyebalkan yang selalu ingin ia hindari, ia langsung keluar decakan karena seperti biasa pria itu pasti sedang menatapnya.
Haechan tidak paham dengan ini, kenapa Mark terasa seperti selalu bisa menemukannya. Setiap kali ia bertemu pandang dengan pria itu, maka ia pasti akan langsung memergoki pria itu sedang menatap ke arahnya juga. Pria itu menatap dengan tatapan yang membuat Haechan sangat tidak nyaman. Terasa terlalu intens, terasa seperti berusaha memindainya dari bawah ke atas. Entah apa maksudnya, entah pria itu penasaran dengannya, atau malah ada yang aneh dengan penampilannya, ia sama sekali tidak bisa menebak sedikit pun maksud pria itu.
"Bang!" Haechan memanggil dari ambang pintu. Dan saat ia memanggil, yang menoleh tidak hanya kakaknya saja, melainkan semua orang di sana pun ikut memberi atensi kepadanya.
"Apa Dek?" Bang Je meletakkan gitar dalam pelukannya.
"Disuruh nemenin aku belanja. Aku tunggu di luar ya." Haechan tidak menunggu respon dari kakaknya. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju halaman depan, akan menunggu kakaknya di sana. Ia jelas tidak betah jika harus tetap bertahan di tempat, dan membiarkan pria bernama Mark itu semakin leluasa menatapnya dengan tatapan tidak sopannya itu.
Haechan mendengus pelan, ia tidak tahan lagi. Saat dalam perjalanan ke supermarket nanti, Haechan pastikan untuk mengadukan tingkah kurang ajar Mark itu kepada kakaknya.
Ketika Mark sedang sibuk membaca catatan kebutuhan belanja yang akan dibeli nanti, ia mendengar suara deru mobil mendekat. Ia segera mendongak, berpikir bahwa itu adalah kakaknya.
Namun bukan Mercedes kepuyaan ayah yang biasa dipakai kakaknya, yang keluar dari gerbang rumah. Melainkan malah mobil jeep tinggi-besar, yang sangat Haechan ketahui siapa pemiliknya di antara kawan-kawan kakaknya. Hanya satu orang yang memiliki, dan itu adalah Mark.
Haechan diam di tempat, memerhatikan pria itu membuka pintu, kemudian turun dari mobil dan melangkah menghampirinya. Haechan terus menjaga pikirannya, tidak mau berasumsi kalau pria inilah yang nanti akan mengantarkannya ke supermarket, bukan kakaknya. Haechan buang prasangka itu, Haechan tidak mau berpikir seperti itu karena khawatir bila itu menjadi kenyataan. Jangan sampai.
"Apa?" Haechan langsung mengeluarkan pertanyaannya ketika pria itu sudah berdiri di depannya.
Mark tersenyum.
Haechan tidak berminat untuk menggubris. Rasa tidak sukanya pada pria ini sudah terlalu besar, sehingga niatan untuk membalas senyuman yang diberikan sudah pasti langsung ia pupuskan sejak awal.
"Perginya sama gue. Abang lo gak bisa." Ucap Mark. Ia membukakan pintu untuk Haechan.
"Apa-apaan gak bisa. Gak mau, gue maunya pergi sama Abang gue! Awas!" Haechan melangkah penuh emosi untuk masuk ke dalam rumah. Tujuan Haechan tentu saja untuk memaki sang kakak yang sudah memasrahkan dirinya kepada temannya.
"Emang dia ngapain sih anjing, pake gak bisa segala!" Haechan mendumal.
Mark tidak mengikutinya, memilih bertahan di tempat dan menunggu Haechan untuk keluar karena ia sudah tahu apa pun yang akan Haechan ocehkan di dalam tidak akan mengubah apa pun. Haechan akan tetap disuruh pergi bersamanya, tidak bersama Je.
"Udah sayang, perginya sama Bang Mark dulu ya? Ini Bang Je mau Mimi suruh jemput ayah. Jalannya kan gak searah sama bandara, bisa jauh nanti Abang Je muternya. Udah sana berangkat sama Bang Mark." Mimi keluar rumah sambil mendampingi Haechan yang memasang wajah masam.
Mark memerhatikan itu. Ia tahan senyumnya, tidak mau nampak terlalu terang-terangan dalam merayakan kebahagiaannya atas kekesalan yang tengah dirasakan oleh Haechan.
"Gak ah, kalo gitu mending pergi sendiri naik motor sendiri aja! Gak mau kalo gak sama Bang Je Mi!" Haechan keras kepala, menolak untuk pergi bersama Mark.
"Heh! Gak boleh, ya! Mimi gak izinin kamu naik motor sendiri! Kenapa sih emang kalo pergi sama Bang Mark? Uda ah, jangan ngerengek kaya anak kecil, sana berangkat! Masakannya harus uda mateng sebelum Ayah pulang ini!" Mimi membalas dumalan Haechan dengan kalimat tegas serta tatapan tajam yang sulit dilawan.
"Ya udah kenapa gak Bang Mark aja yang jemput Ayah -Mimii!" Haechan memekik keras karena badannya didorong oleh Mimi agar segera melangkah, dan agar bisa cepat mendekat ke mobil milik Mark yang sudah terparkir di halaman rumah.
Wajah masam Haechan benar-benar menunjukkan betapa besar rasa kesal serta dongkol yang dipendam oleh Haechan.
"Dah, sana berangkat. Jangan sampek ada yang kelewat ya belanjanya." Mimi masuk ke dalam rumah kembali.
Kini hanya ada Haechan dan Mark yang sekali lagi sudah membukakan pintu untuk Haechan.
Reaksi dari Haechan tentu saja tatapan sinis serta tidak bersahabat. Haechan memilih untuk memperlihatkan rasa tidak sukanya kepada pria ini secara terang-terangan. Ia lakukan itu dengan harapan semoga pria ini bisa sadar diri kalau ia tidak menyukainya, kalau ia benci padanya.
"Mobil apaan sih ni! Tinggi banget pula, jelek!" Haechan sempat memaki mobil milik Mark. Mengatainya jelek, menghina tepat di depan pemiliknya langsung. Akan Haechan lakukan apa pun agar ia bisa memiliki kesan buruk di mata pria ini. Ia lebih suka pria ini menilainya demikian, karena siapa tahu dengan begitu pria ini bisa berpikir kembali jika ingin menaruh rasa tertarik padanya.
Serius, Haechan lebih suka dibenci oleh pria ini, daripada disukai olehnya kemudian setiap saat dan kesempatan selalu ditatapi dengan lancang olehnya.
***
Sejak kejadian belanja bersama malam itu, Haechan menyadari Mark malah semakin berani untuk berusaha dekat-dekat dengannya. Sangat terang-terangan. Dan Haechan tidak suka dengan itu.
"Bang." Haechan mendatangi kakaknya. Datang dengan tangan mengepal, mata menatap tajam dan bibir mengerucut. Ekspresi orang menahan kesal, menahan marah.
"Apa, Dek?" Tanya Je kepada adiknya.
"Mulai sekarang, temen Abang gak boleh maen ke rumah! Berisik! Suka ganggu! Gak suka! Gak boleh maen ke sini!" Haechan langsung mengutarakannya.
"Eh?" Je tentu saja heran. Sejak dahulu, sejak ia masih sekolah menengah, rumah ini sudah selalu menjadi tempat tongkrongan ia bersama teman-temannya. Sudah sering dia membawa teman kemari, dan dari dulu Haechan tak pernah nampak keberatan. Namun untuk sekarang, kenapa mendadak keluar protes, keluar kalimat jengkel dan marah seperti demikian.
"Kenapa lho? Padahal selama ini juga gak pernah protes begini. Kenapa deh, Dek? Ada temen Abang yang rese sama kamu? Sini deh duduk, cerita sama Abang." Je menggeser duduknya. Memersilakan adiknya agar duduk di sebelah.
Haechan membanting badannya di sebelah sang kakak, tidak langsung bercerita tapi tiba-tiba malah mendaratkan gigitan di bahu milik Je. Si pemilik bahu tentu saja kaget, ia mengerang keras dan reflek melepaskan gitar dari dekapan. Mengganggu saja, sedang asik bermain gitar malah diganggu dengan ocehan, kemudian sekarang menyusul diganggu dengan gigitan maut yang sangat menyakitkan.
Ada yang tidak beres dengan adiknya, Je geleng-geleng kepala.
"Aargh! Udah, Dek! Sakit inilho! Lepas!" Je menjauhkan kepala Haechan dari lengannya, sakit sekali serius.
"Temen lo rese! Gak boleh maen ke sini lagi, besok gerbangnya gue kunciin!" Haechan berkata dengan menggebu-gebu, sangat berniat untuk mengunci gerbang depan agar teman-teman Je tidak bisa menerobos masuk.
"Ya udah sini cerita siapa yang rese biar Abang tegur. Kamu ni ngomel terus dari tadi tapi gak buruan cerita sebenernya ada apa." Kali ini giliran Je yang mendumal.
Haechan menghela napas pelan, mengambil posisi nyaman di sebelah kakaknya dengan cara bersandar manja di lengan bekas ia gigit tadi.
"Itu siapa, si Bang Mark. Suka banget ngeliatin orang. Gak sopan tau Bang. Gak suka sama dia. Jangan bolein dia mampir ke sini lagi." Akhirnya Haechan ceritakan juga hal yang belakangan ini membuatnya dilanda perasaan tidak nyaman.
"Mark ngeliatin lo terus?" Je menoleh ke samping, melihat adiknya yang sekarang sedang mengerucutkan bibir. Itu ciri khas adiknya jika sedang kesal atau marah.
"Hm, aneh banget. Gak sopan banget dia Bang. Kemaren juga pas belanja bareng, dia juga ngeliatin aku terus Bang. Risi gak sih kalo jadi aku? Uda aku tegur, malah ngomong yang cringe, najis Bang! Jangan bolein dia maen ke sini lagi!" Haechan mengungkapkan semua yang ia alami. Apalagi saat kejadian belanja bersama kemarin. Mark benar-benar membuatnya meradang. Ingin rasanya Haechan bungkam mulut Mark dengan papikra yang tengah ia genggam saat itu.
"Emang bilang apaan dia? Pantes abis belanja ngomel terus, hahaha! Diapain aja sama dia, Dek? Naksir tu dia sama kamu, Dek. Dah pernah pacaran belum sih kamu, Dek? Kalo belum, coba dah sana pacaran sama Mark, baek dia anaknya, gak neko-neko! Tenang aja, Abang jamin bahagia kamu sama dia!" Je merespon dengan sambil menahan tawanya agar tidak keluar secara berlebihan, karena dia tahi itu akan memancing adiknya untuk kesal dan semakin marah.
"Bang, kok malah gitu sih? Akunya yang gak nyaman sama dia! Kenapa malah Abang dukung dia gituin aku? Tsk, percuma cerita sama Abang! Udahlah, kesel banget! Mulai sekarang gak boleh nongkrong di rumah! Dilarang nongkrong di rumah! Apalagi temen abang yang anjing itu! Dia dilarang keras masuk rumah ini!" Haechan bangun dari duduknya. Mengeluarkan ultimatum larangannya kepada sang kakak dengan nada tegas, bahwa dia tidak mau dibantah sama sekali, dan semua yang sudah ia katakan harus dilaksanakan.
"Mimiii, ni adeknya ngomong kasar Mi! Masak bilang anjing-anjing Miii!" Je mengabaikan ultimatum adiknya, dan malah fokus mengadukan adiknya yang habis berkata kasar kepada sang ibu.
Haechan membulatkan mata. Tentu saja dia terkejut abangnya akan mengadukan hal itu kepada Mimi. Padahal ini bukan kali pertama Haechan keluar umpatan atau kata kasar depan abang, dan biasanya itu tidak akan diadukan dan dibiarkan saja, atau malah terkadang mereka akan saling berbalas umpatan.
Tapi sekarang, menyebalkan sekali abangnya malah mengadu pada Mimi.
"Abang ih! Tukang ngadu, kaya bocah dih najis!" Haechan menyerang abangnya dengan cubitan kasar, sebuah pembalasan.
"Miiii! Adek nakal Miii!" Je malah semakin bertingkah.
"Bacot! Diem gak!" Haechan membekap mulut abangnya dengan bantal. Sangat brutal.
Mereka berdua masih bertingkah dengan rusuh, saling serang dan balas, dan baru berhenti ketika akhirnya Mimi datang untuk melerai.
***
"Naksir adek gue lo?" Je langsung melakukan konfrontasi kepada Mark ketika mereka dan kawan-kawan yang lain sedang berkumpul di club malam. Tidak seperti biasanya yang selalu menjadikan rumah Je sebagai markas, kali ini tongkrongan mereka adalah club malam.
Je berdalih agar bisa minum-minum dengan lebih bebas, karena kalau mereka kumpul di rumah, mustahil sekalu mereka bisa menenggak alkohol, jangankan setetes, membawa saja sudah diamuk oleh Mimi atau Ayah, atau malah keduanya.
Tapi jauh dari itu, alasan sebenarnya adalah karena Je ingin menuruti permintaan Haechan untuk tidak membawa teman-temannya ke rumah. Ya, meski kemarin ia seperti menggoda Haechan, namun sebenarnya ia tetap dan akan selalu menuruti apa pun permintaan Haechan.
Sebelum Mark menjawab pertanyaan Je, Mark mengambil tempat duduknya terlebih dahulu. Ia sengaja duduk tepat di depan Je, demi memersilakan Je untuk menatapnya dengan lekat dalam posisi terbaik, karena ia menyadari kalau kawannya itu mulai menunjukkan tanda-tanda menyimpan amarah terpendam di balik tatapannya.
"Kalo lo ijinin-"
"Gak." Je langsung memotong ucapan Mark dengan cepat. Matanya semakin menyorot Mark dengan tajam.
Suasana menjadi senyap, padahal di sana tidak hanya ada Mark serta Je saja. Namun seluruh kawan yang lain terlihat tidak sedikit pun berani untuk ikut bergabung keluar suara dalam situasi ini. Semua orang yang kenal Je sangat paham betapa posesif dan sayangnya Je kepada adiknya, sehingga mereka mengerti sekali kalau Je langsung menunjukkan kesan keberatan, bahkan menolak tegas saat mengetahui gerak-gerik Mark yang mulai menaruh perasaan kepada Haechan.
"Gua gak gampang nyerah sih." Balas Mark dengan enteng, seperti dia berusaha menantang ketidaksetujuan yang dipertunjukkan oleh Je kepadanya.
"Ikut gue lo." Je berkata dengan suara dingin. Ia berdiri dan meminta Mark untuk ikut dengannya. Ada obrolan serius yang Je ingin untuk mereka bicarakan secara empat mata, hanya mereka berdua saja.
"Ati-ati Mark, jangan berantem lo berdua, jangan bikin dia ngamuk juga, semoga aman ya lo." Pesan teman-teman kepada Mark.
***
Haechan pikir sudah dua minggu kawan-kawan abangnya tidak mampir nongkrong di rumah. Selama dua minggu itu, suasana rumah menjelma menjadi sepi karena memang tidak ada orang yang datang.
Haechan menikmatinya dengan senang karena memang itulah yang ia inginkan. Ia mengembangkan senyum lebar, tidak menyangka kalau abang resenya itu akan mengabulkan apa yang ia mintakan saat itu.
"Ganteng banget Bang lo, sumpah gak boong deh!" Haechan berlari ke arah abangnya, menyambarkan kecupan hangat di pipi sang abang dengan tanpa sungkan. Itu artinya dia sangat senang, dan benar-benar berterima kasih kepada kakaknya.
"Apaan la-lo, la-lo, manggil yang bener, Dek." Je menegur Haechan.
"Iya abang, kamu ganteng banget. Ganteng pol sedunia gak ada yang nandingin! Makasih uda dengerin keluh-kesahku, makasih juga uda kabulin permintaan aku!" Haechan peluk erat kakaknya.
"Tumben kalian peluk-pelukkan. Ada apa? Ayah ikutan peluk dong." Ayah datang untuk ikut bergabung dalam pelukan itu, ia mengincar tubuh kecil Haechan dan memeluknya erat-erat dari belakang, terlalu erat sampai akhirnya membuat Haechan keluar teriakan protes.
"Ayah! Heeh! Lepas gak! Ayah!" Jelas saja Haechan protes karena pelukannyan dengan si abang terlepas, dan berganti menjadi dia yang diangkat oleh sang ayah sampai kaki berhasil berhenti menapak lantai.
"Kalian kenapa peluk-pelukan? Kayanya adek juga seneng banget? Cerita dong, ayah juga pengen tau." Ayah masih mengangkat Haechan, betah sekali menggendong si bungsu kesayangan.
"Ayah, turunin! Yaaah!" Haechan protes.
"Seneng dia punya abang ganteng gini, makanya girang banget pelukin abangnya." Jawab Je dengan asal, dan niat untuk menggoda adiknya.
"Iya gitu, terserah abang aja deh! Tapi ayah, turunin ini! Ayah!" Haechan berusaha melepaskan tangan kekar milik sang ayah yang melingkar di perutnya. Dia mau turun dari gendongan, tapi ayahnya malah betah sekali mengangkat tubuhnya.
"Halah protes terus kamu ini, dulu aja pas kecil suka banget diangkat badannya, sekarang sok-sokkan gak mau." Ayah malah mengangkat Haechan lebih tinggi, membawa telapak tangannya di masing-masing sisi pinggang Haechan, mengangkatnya tinggi seakan Haechan adalah sebuah trofi kebanggaan yang harus diangkat, atau memang itu adalah benar adanya bahwa Haechan memang sebuah trofi kebanggaan keluarga..
Haechan menghela napas pelan, lelah mengeluarkan protes terus-menerus namun tidak didengar. Ia akhirnya membiarkan saja segala perilaku dan tindakan ayahnya.
***
Baru saja tadi pagi Haechan berterima kasih kepada kakaknya, baru juga ia puji kakaknya tampan, bahkan sampai menciumnya. Semuanya ia curahkan hanya untuk malam harinya ia mendapati seseorang yang sangat ia hindari berdiri di halaman gerbang sekolahnya.
Mark.
Haechan menahan geram, bagaimana bisa lelaki itu ada di sini, dan mengaku bila disuruh oleh kakaknya untuk menggantikan menjemput dirinya.
"Kalo gak percaya, telpon aja Abang lo." Ucap Mark sambil memberikan senyum, sangat percaya diri.
Haechan mengabaikan kalimat Mark. Ia tidak mau memperpanjang masalah ini. Daripada memastikan apakah benar kedatangan Mark kemari adalah karena suruhan kakaknya, Haechan lebih memilih untuk memesan ojek online untuk mengantarnya pulang. Haechan tidak mau ikut Mark, tidak mau juga mengeluarkan tenaga untuk marah-marah kepada sang kakak atas apa yang telah dilakukan. Hari ini Haechan sudah cukup lelah dengan banyaknya kegiatan di sekolah, apalagi dia sudah mulai masuk kelas 12.
"Dek, ayo pulang bareng abang-"
"Diem gak lo, cringe banget najis." Haechan melirik Mark tajam saat pria itu berusaha membujuknya untuk pulang bersama. Dan juga, cara bagaimana Mark memanggilnya itu benar-benar membuat Haechan merinding total, dia tidak suka, tidak mau mendengarnya.
"Abang lo nitipin elo ke gue, jadi gue harus mastiin juga lo baliknya sama gue. Cancel orderannya." Mark menunjuk layar ponsel Haechan menggunakan tatapan tajam miliknya.
Namun jangan kira Haechan akan peduli.
Mark tidak menyerah, ia pun menghubungi Je untuk memberi tahu Haechan bahwa dirinya tidak berbohong dengan kalimatnya.
'Dek, baliknya sama Mark dulu. Abang lagi repot ni di kampus. Tau sendiri kan Ayah sama Mimi lagi ada acara ke nikahan Kak Dina. Balik sama Mark dulu.'
Suara Je dari sambungan telepon yang Mark lakukan, dan itu ia perdengarkan langsung kepada Haechan.
Haechan keluar decakan, keluar banyak protesan juga, bahkan memaki-maki kakaknya. Karena kenapa harus Mark di antara seluruh kawan yang dimiliki oleh kakaknya yang dimintai tolong untuk menjemputnya.
"Babik lo, besok gue racun makanan lo!" Kalimat penutup dari Haechan sebelum sambungan tersebut terputus.
"Galak banget sih Dek."
"Jangan manggil gue Dek, sok akrab lo." Haechan akhirnya memilih membatalkan orderan ojek online-nya dan pasrah untuk masuk ke dalam mobil milik Mark. Mobilnya sudah ganti, tidak Rubicon tinggi-besar yang dulu pernah Haechan hina jelek. Kali ini mobilnya tidak jauh beda dengan mobil milik kakaknya. Baguslah, setidaknya dengan mobil ini Haechan tidak perlu meminta bantuan kepada Mark untuk dipegangi saat akan naik.
Selama perjalanan menuju ke rumah, Haechan memilih untuk diam saja, lebih tepatnya lagi dia memilih untuk pura-pura tidur agar tidak perlu mendengar dan menggubris segala hal yang dilakukan oleh Mark.
Tapi bahkan selama pura-pura tidur pun Haechan bisa merasakan kalau sejak tadi dirinya terus ditatap oleh Mark. Terus diperhatikan oleh Mark. Dilihat sampai tidak berkedip di setiap kesempatan yang ada, apalagi saat mereka berhenti lama karena lampu merah, Haechan bisa tahu kalau pria itu terus menoleh ke arahnya.
Haechan heran, apa tidak pegal leher pria itu dipakai untuk terus menoleh?
"Makasih." Meski pun Haechan tidak suka pria ini, dan sangat benci pria ini, namun ia tidak pernah melupakan kewajiban bilang terima kasih jika sudah ditolong.
"Sama-sama. Berani gak di rumah sendiri, apa mau gue temenin?"
"Apa sih, beranilah. Dah sana pergi lo, lain kali kalo disuruh abang gue jangan mau. Gue bisa balik sendiri." Haechan judes sekali, matanya melirik tajam lalu buru-buru berbalik untuk masuk ke dalam rumah.
Mark melipat tangan di depan dada, bersandar pada badan mobilnya lalu memasang senyum tipis untuk perilaku lucu yang dipertunjukkan Haechan.
"Lucu terus apa gak capek ya dia?" Monolog Mark sebelum memutuskan untuk pergi dari halaman rumah Haechan, setelah ia pastikan cahaya lampu di kamar Haechan telah menyala dari bayangan jendela. Pertanda kalau bocah itu sudah masuk ke dalam kamarnya.
***
"Gimana semalem?" Tanya Je kepada Mark.
"Kaya biasa, masih galak." Mark mengambil satu puntung rokok dari bungkus rokok yang ada di atas meja, entah milik siapa pun itu ia tidak peduli. Karena di sini prinsipnya, apa yang sudah ada di atas meja adalah milik bersama.
Teman-teman yang lain menoleh ke arah Je dan Mark secara bergantian.
"Loh? Berubah pikiran lo? Bukannya dulu katanya gak lo restuin dia naksir si adek? Bahkan sampek lu babak-belurin dia. Jadi kenapa mendadak berubah pikiran ni?" Tanya salah satu teman mereka dengan nada penasaran.
Je menggeleng pelan. "Aslinya emang uda gue kasi restu dia, makanya gue babak-belurin. Anggep aja peringatan awal kalo sampek dia bikin adek gue nangis. Terus kalo ke depannya dia sampek berani macem-macem sama adek gue, bakal gue kasi mampus dia." Je sebenarnya sudah lama kenal Mark, dari masih di sekolah dasar, namun memang tidak cukup sering keluar bersama karena dulu Mark memang tipe bocah pintar yang jarang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.
Lalu saat sudah SMA mereka beda sekolah, dan sempat menjadi asing untuk beberapa saat. Kemudian ketika masuk universitas, mereka masuk di fakultas yang sama. Tapi baru dekat dan saling akrab lagi belakangan ini karena memang baru saling tahu satu sama lain kalau mereka di universitas yang sama baru-baru ini.
Sejauh ini, penilaian Je terhadap Mark cukup baik. Sejak dulu Mark tak pernah neko-neko, ia melihat Mark juga bersih, tak pernah terdengar gosip atau rumor yang mengindikasikan kalau Mark itu seorang bajingan. Maka dari itu, dengan seleksi singkat itu, Je memberi izin saja kalau Mark ingin mendekati adiknya.
Tapi sudah jelas, catatan dari Je kepada Mark adalah Mark akan benar-benar habis di tangan Je kalau sampai berani menyakiti Haechan dan berakhir membuat adiknya itu menangis atau bahkan terluka. Tidak akan ada ampun dari Je kalau sampai terjadi.
"Ngeri! Jan sampek lu apa-apain itu Mark, bisa mampus lo di tangan Je!"
Mark menggeleng, ia tak pernah memiliki sedikit pun niatan buruk kepada Haechan. Ia sejak awal memang benar-benar tertarik kepada Haechan. Dahulu ia memang pernah mendengar kalau Je memiliki seorang adik. Tapi saat mereka masih berada di satu sekolah dasar dan berteman cukup dekat, Mark tak pernah sekali pun memiliki kesempatan bertemu adik Je.
Mark baru bertemu Haechan adalah saat pertama kali ia main ke rumah Je, dan itu beberapa bulan yang lalu, di momen ketika Haechan menabrak dadanya secara tidak sengaja. Itu benar-benar baru pertama kali Mark bertemu Haechan. Dan di sana Mark pun telah merasakan hatinya berdebar sedikit ribut untuk Haechan. Dari hari ke hari, semakin sering ia singgah ke rumah Je, semakin sering pula ia bertemu dengan Haechan dan memiliki kesempatan untuk sering memandangi wajah cantiknya yang menggemaskan itu.
Semakin hari semakin senang memandangnya, semakin sering Mark dibuat berdebar, dan pada akhirnya Mark menyadari bahwa ia memiliki perasaan tersendiri untuk Haechan. Walau pun Haechan galak dan sangat anti untuk ia dekati, asalkan ia sudah mendapatkan izin dari Je, ia sangat percaya diri untuk tetap berusaha mendekatinya, untuk tidak menyerah terhadapnya.
"Kalo sampek berani macem-macem, gue matiin lo." Je kembali memberikan ancamannya kepada Mark.
Mark menggeleng.
"Aman aja." Jawab Mark.
Malam itu mereka nongkrong sampai larut, mungkin mendekati subuh baru pulang. Dalam momen itu ada beberapa hal yang disampaikan oleh Je kepada Mark, mengenai hal-hal yang disukai oleh Haechan, serta hal apa saja yang bisa ia lakukan selama melakukan proses pendekatan dengan Haechan.
Belikan makanan, makanan kesukaan Haechan itu banyak. Dekati pelan-pelan dengan makanan maka besar kemungkinan Haechan akan sedikit luluh secara perlahan. Ya, hanya sedikit luluh saja.
***
Haechan baru pulang dengan dijemput Mimi. Sesampainya di rumah, ia senang melihat kalau teman-teman kakaknya tidak main ke sini. Sebenarnya, sejak permintaan Haechan saat itu, mereka memang sudah tak pernah nongkrong di sini. Sepertinya Abang resenya itu mengabulkan keinginannya yang ini, hanya yang ini saja, sementara soal aduannya mengenai Mark, hal itu tidak digubris sama sekali oleh Abangnya. Abangnya malah terkesan memberi lampu hijau kepada Mark untuk mendekatinya. Menyebalkan.
Kenapa memutuskan keputusan yang menyangkut dirinya namun tidak dibahaskan bersama dirinya terlebih dulu. Haechan sangat tidak habis pikir dengan Abang jeleknya itu. Sudah jelek, rese, sangat menyebalkan. Paket lengkap memang, semoga di masa depan tidak ada yang mau dengan abangnya itu, biar jomblo selamanya saja.
"Dek, ada martabak ketan item tu di meja."
Haechan baru selesai mandi, dan tadi berniat untuk keluar mengambil minum. Langkahnya ia hentikan, begitu pun hatinya yang sejak tadi mendumal dan mendoakan yang jelek-jelek untuk abangnya juga ia hentikan. Ia memasang senyum, sangat lebar sekali setelah mendengar makanan kesukaannya disebutkan. Haechan menoleh kepada sang abang, akan ia cabut doa jeleknya tadi, sebab malam ini abangnya sudah berbaik hati membelikan makanan kesukaannya.
"Buat aku? Ih, makasih Abaaang! Ganteng banget deh Bang, sumpaah!!! Makasih ya uda dibeliin!" Haechan berlari ke meja dapur, untuk mengambil martabak ketan hitam kesukaannya. Tumben-tumben sekali si rese itu mau repot membelikannya martabak.
"Dari Mark tu, dapet salam tadi katanya diabisin ya biar tambah manis." Ucap Je segera berlalu dari Haechan, karena dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, hal anarki yang sudah pasti akan dilakukan oleh adiknya. Sebelum menjadi sasaran adiknya, maka sudah pasti Je memilih jalan aman dengan cara kabur darinya.
"Bang Je! Jelek banget lo! Besok-besok gak usah diterima kalo dia nitip sesuatu buat gue! Dih najis! Makan aja semua ni, gak nafsu gue!" Haechan berkata dan berteriak keras, tidak sudi untuk memakan pemberian dari Mark.
Omelan itu yang mendengar tidak hanya Je saja, tapi juga Ayah dan Mimi.
"Adek, gak boleh gitu ih. Kalau ada pemberian dari orang, ya harus diterima dengan baik dong. Bukan malah ngomong kasar kaya gitu, kamu ini siapa yang ngajarin kaya gitu?" Mimi datang menemui Haechan. Ia geleng-geleng kepala saat melihat Haechan memasang wajah masam, sekaligus berniat meninggalkannya. Tidak sopan, dihampiri oleh orangtua malah berniat pergi.
"Di sini dulu, kamu mau ke mana?" Mimi menahan tangan Haechan.
"Iya Mimi, maaf uda ngomong gak baik. Tapi aku gak mau terima apalagi makan pemberian ini, buat Mimi sama Ayah aja, atau buat Bang Je." Haechan berusaha melepaskan diri dari genggaman Mimi. Tapi Mimi tidak semudah itu untuk melepaskannya.
"Sini dulu kamu ini, kenapa sih buru-buru banget? Emang kenapa ga mau? Dari temennya Abang ya? Siapa, Bang Mark?" Mimi melihat Haechan mengangguk dengan tidak bersemangat. Haechan juga memanyunkan bibir, benar-benar sangat masam sekali muka yang dipertunjukkan.
"Kenapa sih emang kalo dari Bang Mark? Kamu ada benci, gak suka sama dia? Atau gimana Adek, kenapa cemberut sepet gitu sih? Gak baik ah, senyum yang bener kamu ini, atau kalo ada masalah cerita sama Mimi." Mimi membuka kotak martabak yang ada di atas meja.
Haechan diam saja, tidak berniat menjawab dan benar-benar ingin cepat pergi ke kamar. Tapi keinginan itu sirna ketika kemudian Ayah datang, dan menuntun Haechan agar duduk. Ayah memberi tatapan tegas saat Haechan berniat melayangkan protes.
"Adek, gak boleh gitu ya. Duduk yang bener, lagi disiapin itu martabaknya sama Mimi." Ayah menegur Haechan sekali lagi.
"Emang siapa si Bang Mark itu? Temennya Bang Je? Naksir adek, ya?" Tanya Ayah kepada Mimi. Ia sejak tadi mendengar bagaimana kedua anaknya saling lempar kata. Dan bila tak salah dengar, sempat ada nama Mark yang disebutkan oleh anak sulungnya. Ayah prediksi, si Mark ini suka Haechan, namun dari gelagat anak bungsunya, Haechan sepertinya tidak suka dan malah cenderung benci pada si Mark.
Begitulah Ayah berusaha menarik kesimpulan.
"Tau tu deh, nyebelin semua temennya Abang. Aku gak suka, apalagi si Mark itu, nyebelin tau ayah! Suka liat-liat, lirik-lirik aku, gak sopan matanya! Mau aku hiihh! Sebel banget!"
Ayah mengangguk mendengar cerita dari hati anak bungsunya. Sepertinya rasa suka yang dipendam sangatlah besar.
Sambil Haechan bercerita kepada ayahnya, Mimi menyiapkan tiga piring kecil untuk mereka. Masing-masing ia hadapkan di depan ayah, Haechan dan dirinya sendiri. Satu potong martabak ia letakkan di atas piring tersebut satu per satu.
Haechan masih betah mengeluarkan isi hatinya, dan itu mencakup mengenai rasa kesalnya kepada Mark, rasa jengkel, benci, tidak suka, dan lain sebagainya.
Ayah dan Mimi mendengarkan dengan seksama sambil menyendok martabak itu perlan, menikmatinya dalam diam serta penuh ketenangan.
Selagi Haechan bercerita, bocah itu benar-benar tidak mau menyentuh martabak yang sudah Mimi siapkan di piringnya, sama sekali. Hal itu membuat Mimi berinisiatif untuk menyuapi anaknya secara hati-hati. Terlampau hati-hati dan akan ia pastikan sang anak tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan.
Benar saja, sejak tadi Haechan tidak sadar sama sekali kalau ia telah memakan setidaknya lima potong martabak dari hasil suapan yang sudah Mimi berikan. Itu di luar kendali dan kesadaran Haechan, ia terlalu sibuk bercerita, dan lagi ia pun terlalu suka martabak, fokusnya seperti terbagi. Antara untuk bercerita, dan untuk menikmati martabak yang enak yang disuapkan oleh Mimi untuknya, sehingga secara tak sadar itu membuat Haechan menjadi lupa kalau martabak yang tengah ia nikmati itu adalah pemberian dari Mark.
"Ya udah nanti Ayah bakal ngomong sama Abang buat bawa si Mark itu ke sini, biar Ayah omelin langsung dia." Ayah mengusap-usap puncak kepala anak bungsunya.
Haechan menejamkan mata menikmati usapan itu.
"Iya Ayah, omongin sana si Mark itu buat gak usah deketin aku lagi! Jangan kurang ajar lagi! Dan gak usah kirim-kirim makanan lagi, gak sudi mau makan aku tu!" Haechan semakin menggebu dalam meluapkan isi hati.
"Yakin banget gak sudi makan makanan pemberiannya." Mimi berkata, dengan nada menggoda.
Haechan menoleh pada Mimi setelah sejak tadi hanya fokus pada Ayah. Saat ia menoleh, Mimi sudah menyodorkan sendok yang berisikan potongan kecil martabak, karena tidak siap Haechan tanpa pikir panjang langsung membuka mulut dan menerima suapan itu.
"Mimi!" Protes Haechan dengan mulut mengunyah, terpaksa.
"Apa? Halah gak usah sok protes kamu, lihat ini setengah isinya kamu yang abisin. Tu pipi kamu belepotan cokelat." Ucap Mimi.
Haechan membulatkan mata. Baru sadar apa yang sudah terjadi. Ia perhatikan kotak martabak yang sudah hilang separuh isinya. Selain itu ia juga membersihkan mulut dengan tisu, benar adanya kalau ia makan dengan belepotan. Kemudian, perutnya pun terasa sangat kenyang. Sepertinya memang benar adanya kalau ia sudah habis berpotong-potong martabak sejak tadi. Tapi serius, Haechan tidak sadar sama sekali sudah memakan semuanya sebanyak itu.
"Ini serius aku yang abisin semuanya?" Haechan melongo.
"Iyalah, siapa lagi? Buktinya kenyangkan sekarang perutnya?" Mimi menepuk-nepuk perut Haechan pelan, perut gembil dengan banyak lemak bayi di sana.
Mimi terkekeh melihat anaknya seperti tidak percaya dengan apa yang habis dilakukan.
"Uda kenyang kan, sana ke kamar terus sikat gigi." Mimi menyuruh Haechan.
"Mi, itu beneran aku yang abisin?" Masih dipertanyakan oleh Haechan.
"Iyalah siapa lagi coba? Dengerin Mimi ya, gak baik kamu maki-maki depan makanan. Kalau dikasi ya diterima dengan baik. Kalau gak mau makan ya alesannya karena gak doyan dan kurang suka sama makanannya, bukan karena gak suka sama yang kasi. Kalau gak mau makan pun, ya udah jangan dimakan, jangan malah dimaki-maki. Sesederhana itu, sayang. Dan kalau pun kamu gak suka sama Mark, dan pengen dia berhenti kirimin makanan kaya gini, ya udah kamu bicarakan baik-baik. Jangan malah begini. Mimi gak suka." Nasihat Mimi kepada Haechan.
Haechan menunduk dalam.
"Iya Mimi, maaf uda ngomong jelek. Nanti kalo ketemu temennya Abang, aku bakal ngomong langsung." Ucap Haechan.
***
Di suatu sore, pulang sekolah seperti biasa Haechan akan ada les atau ekstrakulikuler futsal. Dan hari ini adalah jadwalnya les. Namun sore ini Haechan tidak pergi les, dia pergi membolos setelah sebelumnya sudah bekerja sama bersama temannya untuk memalsukan absennya.
Haechan melakukan itu karena ia diajak oleh teman-temannya untuk menonton festival musik. Haechan jelas berminat, dan tentu saja langsung tergiur menghadirinya setelah ia mendapatkan tawaran tiket gratis dari temannya. Apalagi nanti salah satu artis pengisi acara festival tersebut merupakan penyanyi favoritnya.
Haechan tahu menghadiri festival itu memiliki risiko yang sangat besar, terlebih dia sudah memertaruhkan untuk rela membolos les demi agar bisa pergi ke festival itu. Bolos les, tanpa izin ayah atau mimi atau pun Abang. Jika ketahuan, maka sudah dipastikan dia akan dimarahi habis-habisan.
Tapi Haechan sangat ingin menonton. Jikalau pun ia izin kepada mereka bertiga lebih dulu, Haechan ragu akan diizinkan. Dan daripada banyak berpikir, dengan kemungkinan hasil akhir yang belum tentu ia akan dapat izin, maka pada akhirnya ia putuskan saja untuk nekat pergi bersama teman-temannya secara diam-diam, tanpa bilang-bilang.
Lagipula menurut Haechan tidak ada salahnya dengan ini. Sesekali ia perlu untuk bersenang-senang, perlu menghabiskan waktu secara bebas bersama teman-temannya juga.
Ya, sekiranya itulah pemikiran sederhana yang Haechan miliki tanpa memikirkan segala risiko yang akan ia dapatkan dari tindakan sembrononya itu. Seperti semisal ia bertemu secara tidak sengaja dengan salah satu teman kakaknya di acara festival itu.
"Bukannya hari Jumat masih ada jadwal les ya, Dek?"
Pertanyaan itu diajukan. Haechan terdiam di tempat, terlihat kaku dan kesulitan untuk menjawab. Sementara Mark di depannya, nampak berseringai dan menatapnya lekat-lekat.
Teman Bang Je yang memergoki Haechan adalah Mark. Mark juga datang di festival itu, hanya datang seorang diri dan saat ia sudah memasuki kerumunan penonton, ia melihat seseorang yang terasa tidak asing. Saat ia mendekat, ternyata dugaannya benar kalau sosok itu adalah Haechan.
Mark cukup hafal jadwal kegiatan Haechan selepas jadwal standar jam pulang sekolahnya. Dan hari ini adalah hari Jumat, biasanya Haechan akan memiliki jadwal les. Mark bisa tahu tentu saja dari Je. Kawannya berbagi informasi degannya, karena dengan begitu ia bisa lebih mudah menyesuaikan jadwalnya sendiri jika ingin menjemput Haechan.
"Hari ini diliburin." Jawab Haechan dengan enteng, dengan lagak santai, berusaha menutupi kebohongan.
Haechan buang muka dari Mark. Berusaha fokus ke depan, dan mencari keberadaan teman-temannya. Saat ia menemukan mereka, Haechan berniat melangkah pergi tapi sayang sekali tangannya ditahan oleh Mark. Haechan tidak terkejut, dia pun sudah menduga kalau ini akan terjadi. Lagipula ia yakin Mark pasti sudah tahu kalau jawabannya itu sangat meragukan.
"Yakin libur? Padahal Abang lo tadi pagi nyuruh gue buat jemput lo, dan uda gue iyain." Mark berbohong. Je tidak menyuruhnya sama sekali untuk menjemput Haechan, ia berbohong hanya untuk melihat reaksi yang dikeluarkan oleh Haechan. Dan saat mata Haechan membulat, bibir bergetar resah, di sana Mark tahu kalau Haechan telah berbohong sepenuhnya.
"E-emang libur kok. Tadi uda kasi tau Bang Je. Le-lepasin gak tangan gue?" Haechan berusaha melepaskan tangannya dari Mark. Gerak-gerik yang sangat pasti dari orang yang sedang merasa terancam.
"Oke, gue tanyain sendiri dulu. Sebelum gue dapet balesan lu gak boleh pergi." Mark tetap menahan tangan Haechan.
Haechan sudah memucat di tempat. Sangat menyebalkan sekali, padahal festivalnya belum benar-benar dibuka namun ada saja yang sudah memergoki keberadaannya, lebih sial lagi orang itu adalah Mark.
Mark berniat menelpon Je, namun ponselnya sudah direbut secara kasar oleh Haechan.
"Iya, iya! Gue ngaku uda bolos! Gak usah nelpon Bang Je!" Haechan berkata dengan nada penuh emosi.
"Jangan aduin ke Abang. Gue bolos sekali ini aja kok, selebihnya gak pernah. Jadi jangan aduin ke Abang, ya?" Haechan memohon, memelas sekali.
Mark tidak akan mengadukan hal ini kepada Je. Tapi meski pun demikian, bukan berarti dia akan membiarkan semua hal ini akan berlalu dengan begitu saja, dengan terlalu mudah. Tentu saja jika ada yang bisa ia manfaatkan, maka akan ia manfaatkan dengan sebaik mungkin.
"Gak akan gue aduin kok. Tapi uda pasti ada syaratnya." Mark memberi seringai tipis. Kesempatan terbaik untuknya bisa menjadi lebih dekat dengan Haechan.
Haechan menghela napas pelan.
"Pasti bakal gini." Haechan bersuara dengan gumaman belaka. "Lepas dulu tangan gue, baru kita bahas lagi nanti." Haechan berusaha menarik tangannya, namun Mark sungguh tidak mau melepaskannya.
"Syaratnya banyak, termasuk ini." Mark menunjuk tautan tangan mereka. Mulanya Mark mencekal pergelangan tangan Haechan, kemudian ia ubah menjadi menggenggam tangan itu, saling menautkan jemari mereka menjadi satu dengan erat.
Tidak ada yang bisa Haechan lakukan selain memutar bola matanya jengah. Pasti memang akan seperti ini, Mark pasti akan memanfaatkan celah terbaik untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin demi kepentingan diri sendiri. Sangat oportunis, tidak memakai etika boro-boro memikirkan dampaknya untuk orang lain, semuanya benar-benar hanya memikirkan keuntungan diri sendiri.
"Haechan! Kita cariin malah di sini, khawatir banget lu ketinggalan sama kita terus kepisah!" Teman-teman Haechan yang datang ke festival bersama Haechan, yang sejak tadi mencari Haechan karena sudah terpisah dari mereka, datang untung menghampiri Haechan setelah akhirnya berhasil menemukan keberadaannya.
Fokus teman-teman Haechan tentu saja langsung tertuju pada tangan Haechan yang digenggam oleh lelaki yang berdiri di sebelah Haechan. Asumsi mereka singkat, mereka mengira pria ini mungkin kekasih Haechan sehingga keduanya nampak saling bergandengan seperti ini.
"Maaf ya, gue tadi emang agak bingung terus akhirnya malah kepisah-"
"Bilang dong kalau mau ketemuan sekalian sama cowok lu! Anjir lu selama ini uda punya pacar gak ngomong-ngomong, Chan!" Ucap salah satu teman Haechan dengan nada girang, seperti merayakan temannya telah memiliki kekasih setelah selama ini di sekolah Haechan terlihat selalu menolak siapa pun yang menyatakan perasaan kepadanya. Ternyata alasannya karena ini, karena Haechan sudah memiliki kekasih.
"Eehh! Gak! Gak ada kok!" Haechan mengelak dengan panik.
Mark tidak memberikan reaksi apa pun, dan itu sebenarnya hanya membuat semua menjadi nampak cukup mencurigakan. Seperti Haechan sedang berusaha menutupi yang sebenarnya dengan pembawaan panik, karena masih malu dengan hubungan yang dimiliki. Dan sementara Mark nampak santai saja, karena memang tidak perlu merasa malu-malu seperti Haechan.
"Gak perlu malu-malu gitu kali Chan, santai aja."
"Eh, tapi beneran gak! Gak ada apa-apa!" Haechan masih membantah.
"Babe,"
Panggilan Mark ini hanya memancing tatapan murka dari Haechan. Haechan marah karena ia sudah bersusah-payah mengelak mengenai jalinan hubungan di antara mereka, namun pria sinting ini dengan gampangnya malah memanggilnya, babe?
'Emang anjing ya lo!'
Haechan memaki di dalam hati.
***
Haechan terpaksa memberikan nomor ponselnya kepada Mark. Keputusan berat yang terpaksa sekali harus ia lakukan atau nanti pria itu akan mengadukan hal kemarin kepada kakaknya, dan itu akan berakhir membuat ia dimarahi habis-habisan oleh kakaknya serta kedua orangtuanya.
"Nyebelin banget sih, HIH!" Haechan kesal saat membaca isi pesan dari Mark, yang sebagian besar isinya hanyalah rayuan, gombalan receh, benar-benar khas seorang buaya.
Menggelikan.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Haechan, Mark benar-benar semakin gencar untuk mendekati Haechan apalagi dia memiliki senjata ampuh yang bisa ia pakai untuk mengendalikan Haechan.
Mark sering menawarkan menjemput Haechan, dan Haechan tidak memiliki pilihan selain menerimanya. Selain menjemput, terkadang Mark juga akan mengantarkannya berangkat sekolah, pagi-pagi sudah rajin sekali memakirkan mobil di halaman rumah Haechan.
Mark bahkan sudah akrab dengan Ayah dan Mimi. Ini adalah hal yang membuat Haechan sangat kesal dan benci. Kedua orangtuanya akrab, dekat dan bahkan terlihat suka dengan Mark. Haechan tahu dengan pasti betapa senangnya pria itu sudah berhasil mendekati kedua orangtuanya.
Sudah mendapatkan restu dari kakaknya, sekarang ada indikasi mendapatkan lampu hijau dari kedua orangtua.
Tidak ada hal yang lebih memuakkan lagi bagi Haechan selain ini.
"Buat lo." Mark menyodorkan sesuatu untuk Haechan ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Haechan tidak merasa terkejut atau pun heran. Sudah sering Mark menjemputnya saat pulang, dan sudah sering pula pria itu membawakan bingkisan makanan untuknya. Dan semua makanan itu adalah makanan kesukaannya.
Dari mana Mark tahu daftar makanan kesukaan Haechan, tentu saja dari Je. Haechan sudah tahu itu, pasti kakaknya sering berbagi banyak informasi kepada Mark mengenai dirinya.
"Makasih." Ucap Haechan dengan malas-malasan. Ia enggan berterima kasih, tapi tetap harus berterima kasih karena sesuai ajaran Mimi, jika diberi sesuatu maka tidak boleh lupa untuk berterima kasih.
Mark tersenyum, hanya sebatas mendapatkan terima masih dari Haechan saja sudah cukup untuk membuat hatinya berbunga senang. Setelah ini Mark berniat untuk mengajak Haechan mengobrol lebih jauh.
Namun baru saja Mark akan melayangkan pertanyaan dan mengajak Haechan mengobrol, ponsel Haechan malah berdering dengan cukup nyaring. Lalu setelah itu berlanjut dengan Haechan yang terus mengobrol dengan salah satu temannya melalui panggilan tersebut dengan cukup lama.
"Mampir tempat gue dulu ya, Abang lo nitip ambilin barangnya yang ketinggalan di rumah gue." Akhirnya Mark baru bisa bicara ketika Haechan sudah memutus sambungan teleponnya. Awalnya Mark sudah putus asa terlebih dahulu, berpikir jika kondisi akan terus seperti ini hingga sampai tujuan. Namun baguslah sebelum perjalanan terlalu jauh, Haechan sudah berhenti bicara dengan temannya.
Jujur saja Mark tidak terlalu senang melihat Haechan seceria itu, sebahagia itu, seriang itu saat bicara dengan temannya. Mark iri, Mark juga ingin agar Haechan bersikap seperti demikian jika itu bersamanya, bukan hanya ketika bersama para kawannya saja.
"Rewel banget, suruh ambil sendirilah." Haechan menolak. Ia tidak mau mampir ke rumah Mark. Buang-buang waktu, dan rasanya juga malas sekali harus menghabiskan waktu lebih lama dengan Mark. Haechan ingin cepat pulang, ingin cepat bebas dari pria ini.
"Tapi ya udahlah, gue juga pengen mampir kamar mandi dulu." Meski pun nampak kesal dan keberatan, namun Haechan mau karena sekarang sebenarnya sejak tadi ia sudah kerepotan menahan berkemih.
Mark jelas mengembangkan senyumnya, tentu saja ia senang Haechan mau ia ajak ke tempatnya. Oh, bukan Mark berniat memiliki pemikiran senewen atau semacamnya dengan membawa Haechan masuk ke tempat tinggalnya, tidak seperti itu. Senyuman tipis yang ia kembangkan itu berdasar atas rasa senang yang ia rasakan karena Haechan mau atau setuju dengan kalimatnya secara sukarela, atas kemauan sendiri, tanpa perlu ia beri ancaman seperti biasanya. Haechan benar-benar mau dengan sendirinya, ini adalah untuk pertama kalinya Mark mendapatkan jawaban 'iya' dari Haechan.
Mungkin bagi orang lain akan terasa sederhana, namun tidak untuk Mark. Hal ini benar-benar terasa sangat luar biasa. Dan ini membuatnya merasa begitu bahagia.
Sesampainya di apartemen yang Mark huni, ia agaknya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ibunya sudah ada di dalam, sedang sibuk memasak menyiapkan makan malam. Ini di luar dugaan Mark, ibunya bahkan tidak mengabari lebih dulu kalau malam ini akan mampir.
"Kok gak bilang aku dulu Bunda, gimana kalo akunya gak balik tadi, Bunda bakal nunggu semaleman." Mark duduk di ruang makan yang tersambung dengan dapur.
Haechan sendiri pergi ke kamar mandi menuntaskan urusannya.
"Ih, Bunda tu baru mau nelpon kamu tadi tapi kamunya uda pulang, ya bagus deh Bunda gak usah nelpon. Kamu abis ini mau langsung pergi? Jangan ih, di rumah dulu makan malem dulu sama Bunda, itu adeknya temenmu juga ajak sekalian." Ucap Bunda kepada anak tunggal kesayangan.
Mark berpikir sejenak, ia tidak keberatan dengan hal itu, tapi yang menjadi masalah untuknya adalah apakah Haechan mau untuk melakukannya?
"Eh, tapi kenapa deh kamu bisa jadi yang jemput adeknya temen kamu? Searah jadi sekalian minta tolong? Eh, tapi kalian keliatan akrab banget, jadi bingung yang temenan sama kamu itu temen kamu apa adeknya temen kamu? Ooohh... Atau jangan-jangan kamu ada naksir adeknya temen kamu terus kamu pedekate gitu ceritanya?" Pertanyaan panjang dan beruntun diutarakan oleh Bunda.
"Bun, nanya satu-satu Bun." Mark menegurnya.
"Ya udah jawab aja yang terakhir. Iya kan itu gebetan kamu ya?"
"Kenapa Bunda nyimpulinnya gitu?"
"Ya, perasaan Bunda aja. Bunda tadi liat lho pas kamu ngomong sama dia, kamu natapnya lembut banget. Gak pernah Bunda liat kamu natap orang lain selembut itu. Kamu pasti suka banget ya sama dia?"
Mark tidak berniat membantah, lagipula kesimpulan Bundanya terlalu tepat dan akurat. Ia hanya memberi anggukan tipis, kemudian memancing reaksi berupa pekikan heboh dari Bunda.
"Waaaa! Kamumah, ih! Demennya sama anak kecil!" Bunda menggoda Mark, bonus ia juga memberi kerlingan genit untuk Mark.
"Masih kelas dua belas dia, pacarannya nunggu gede lagi kali ya, minimal pas uda sama-sama anak kuliahan, gitu aja gimana Bun?" Mark meminta pendapat Bunda.
"Hah!" Bunda malah memekik, ia melongo.
Mark menautkan alis, sedikit heran dengan reaksi yang ditunjukkan oleh ibunya.
"Uda kelas dua belas! Bunda kira masih SMP lho tadi, terus niatnya kamu mau Bunda tabok karena uda deketin anak kecil!"
Di luar dugaan sekali ternyata Bunda terkejut karena sudah salah mengira usia Haechan. Tapi agak aneh sekali mengapa bisa berpikir Haechan masih SMP, terlalu berlebihan. Padahal Haechan juga tidak nampak sekecil dan seimut itu untuk disebut anak SMP. Fisik dan perawakan Haechan, sudah sangat menyesuaikan sekali untuk berada di tingkat SMA.
"Bunda lebay banget." Ucap Mark.
Bunda terkekeh, ia sudah puas untuk menggodai anaknya. Sekarang kembali lanjut memasak untuk makan malam mereka.
"Kamu cek deh itu Haechan, kok belum keluar juga ya, takut kenapa-napa."
"Hm." Mark pun menuruti perkataan Bunda, memeriksa apa yang sedang Haechan lakukan di kamar mandi mengapa bisa lama sekali belum keluar juga.
Tapi baru saja Mark akan membuka pintu kamarnya, bertepatan sekali pintu tersebut terbuka dari dalam. Haechan menampakkan diri, dan terlihat sama terkejutnya karena sudah berpapasan secara tidak terduga seperti ini.
"Lama banget, gue kira kenapa-napa tadi." Mark berkata dengan nada khawatir.
"Lo mau langsung nganter gue pulang apa masih mau di sini dulu?" Haechan tidak mau berbasa-basi, langsung melontarkan pertanyaannya. Ia menatap ke arah dapur, melihat wanita itu sibuk memasak. Jika kondisinya sudah seperti ini, sama seperti yang sering Mimi lakukan, pasti tamu yang datang akan ditahan untuk diajak makan bersama terlebih dahulu sebelum pulang.
Ya, Haechan hanya menebak saja, tapi dia yakin pasti akan seperti itu karena nyatanya seluruh ibu-ibu di mana pun seringnya memiliki pemikiran demikian.
"Diajak makan dulu sih. Tapi kalo keberatan, gue bisa anter pulang." Mark tidak akan memaksa Haechan.
Haechan melirik Mark. Tumben sekali tidak mengancamnya, agak mengherankan, tapi Haechan senang mendengarnya.
"Tumben gak ngancem."
"Oh, maunya diancem? Uda mulai seneng ya?" Mark memajukan wajah, memberi seringai kepada Haechan sambil menatap wajahnya lebih dekat.
Haechan mundur, kembali masuk ke dalam kamar Mark.
"Ya kan lo biasanya suka ngancem gue kalo gue nolak. Jadi uda pasti kedengeran aneh pas mendadak kasi opsi buat gue bisa nolak." Haechan melipat tangan sambil memalingkan wajah, menghindari Mark yang menyebalkan sekali masih menipiskam jarak wajah mereka. Terlalu dekat, Haechan tidak suka, jika ia mundur pun percuma sebab Mark pasti akan semakin maju untuk menyudutkannya.
"Ya udah makan dulu, kata Mimi gak baik kalo nolak pemberian atau jamuan dari tuan rumah. Udah sana jangan deket-deket, keluar, gue juga mau keluar!" Haechan mendorong bahu Mark, menyingkirkan pria itu dari hadapannya agar ia bisa memiliki jalannya untuk keluar.
"Halo Haechan, namanya Haechan kan ya?" Sapa Bunda ketika anaknya sudah turun keluar bersama Haechan.
"Halo, tante. Iya, saya Haechan tante." Jawab Haechan dengan sedikit canggung.
"Santai aja Haechan. Gak usah kaku gitu deh, panggil aja Bunda ya, soalnya semua temen Mark kalo manggil juga pake Bunda." Bunda menyiapkan piring untuk mereka bertiga.
Haechan mengangguk sambil memerhatikan ibu Mark. Bila ia perhatikan, wajah Mark cukup mirip ibunya. Cara ibu Mark tersenyum juga persis seperti Mark.
***
Makan malam hari itu menjadi hari terakhir Haechan dijemput oleh Mark, ya seingat Haechan adalah begitu. Keesokan harinya Mark tidak menjemput dan mengantarnya. Ada sedikit pesan yang diberikan oleh Mark, katanya sibuk dengan urusan di kampus.
Tapi meski pun sudah tidak antar-jemput lagi, setidaknya Mark masih sering menitipkan makanan kepada Je untuk diberikan kepada Haechan.
Dulu Haechan memang sering menolak makanan itu, namun sejak mendapat nasihat dari Mimi, Haechan sudah tidak bersikap demikian. Ia terima dengan baik, tanpa ada ocehan dan umpatan seperti dulu. Benar-benar ia terima walau di akhir tidak akan ia makan. Itu lebih baik jika dibandingkan dengan ia buang atau pun ia tolak, menurutnya.
Biasanya akan ia simpan dan biarkan begitu saja di lemari pendingin. Bila lewat satu hari tak tersentuh, Mimi atau pun Ayah akan meminta izin bolehkah untuk dimakan atau tidak. Atau terkadang Bang Je juga akan ikut memakannya. Ya, mereka bertiga yang makan, Haechan tak pernah sekali pun ikut makan. Hatinya masih dingin, masih tidak akan ia biarkan meluluh sedikit pun dengan usaha pendekatan dari Mark.
Tapi setelah Haechan hitung, sekarang sudah hampir satu bulan Mark tidak mengantar dan menjemput, dua pekan tidak menitipkan makanan, dan satu minggu tidak mengusiknya lewat pesan singkat yang sering dikirim. Haechan mempertanyakan, apakah pria itu mulai menyerah?
Atau bosan?
Baguslah. Jika memang demikian, Haechan tidak akan ambil pusing.
"Dek, ntar malem temen Abang mau maen nongkrong ke sini boleh gak?" Tanya Bang Je kepada adiknya yang sedang asik menonton drama.
"Nongkrong tinggal nongkrong, ngapain tanya segala. Pergi deh, jangan ganggu orang." Jawab Haechan dengan nada sedikit jutek.
"Ye, jutek banget ni anak. Ya Abang bilang dululah, kemaren yang gak suka temen Abang maen ke sini siapa? Kalo Abang asal ajak gak bilang dulu nanti ngambek, ngomel. Gimana sih ni anak." Je berkata dengan nada kesal, ia tatap adiknya dengan mata yang melotot. Belakangan ini ia menyadari kalau adiknya sangat sensitif, sangat mudah marah-marah, bahkan tanpa diganggu pun suka mengomel dan mengoceh sendiri, apalagi kalau sampai ada yang benar-benar datang untuk mengusik.
Entahlah, Je tidak merasa kedatangannya ini memiliki tujuan untuk mengusik sang adik, namun penilaiannya sudah pasti bisa berbeda dengan penilaian sang adik yang merasakannya langsung. Bisa saja sekadar ditanyai saja itu sudah cukup membuat sang adik merasa terganggu.
Je benar-benar tak tahu apa yang sudah terjadi.
Malam harinya teman-teman Je sungguh datang, bertamu dan nongkrong di rumah ini setelah libur selama beberapa bulan. Haechan berusaha keras untuk tidak peduli, tapi kakinya dengan tanpa ia minta, malah melangkah dengan sendirinya menuju balkon untuk mengintip teman-teman kakaknya yang ada di halaman belakang.
Mata Haechan menatap lekat, memindai satu per satu, dan dia bisa memastihan kalau di sana tidak ada Mark. Mark tidak ikut bergabung nongkrong, Mark tidak ada di sana.
Haechan mengerang pelan, merutuki diri sendiri kenapa ia harus peduli soal kehadiran Mark, dan kenapa pula ia harus mencari pria itu?
"Begok." Ucap Haechan kepada diri sendiri. Ia turun ke lantai bawah, untuk segera masuk ke dalam kamarnya, menjernihkan pikiran agar ia tak perlu lagi bertingkah seperti ini, agar pikirannya bisa bersih dari Mark.
Sesampainya di kamar, Haechan mengkhianati benaknya sendiri. Ia tidak menjernihkan pikiran, ia malah semakin memperkeruh pikirannya. Ia malah sibuk menengok ponsel, mempertanyakan kenapa Mark tidak mengiriminya pesan sama sekali, bahkan sudah seminggu ini. Haechan tidak tahu, Haechan tidak paham, tapi hatinya terasa tidak nyaman. Hatinya seperti... Resah?
"Dek?"
Haechan tersentak ketika pintu kamarnya diketuk, serta kakaknya memanggil dari luar. Dengan tanpa semangat, ia pun melangkah gontai untuk membukakannya.
"Apa?" Haechan berkata dengan nada yang masih sinis dan jutek seperti tadi siang.
"Ada titipan nih." Je menyodorkan bingkisan plastik kepada Haechan.
Haechan membulatkan mata. Mengantisipasi dari siapa bingkisan ini.
"Dari?"
"Mark." Jawab Bang Je singkat. Ia perhatikan raut muka Haechan, yang semula cemberut dan tidak bersemangat, sekarang mendadak berubah menjadi penuh binar, nampak senang dan penuh antusias. Je tidak salah lihat, adiknya benar-benar terlihat berbahagia.
"Dih, apaan. Girang banget lu gue liat-liat." Tegur Je kepada adiknya.
"Apa sih! Diem! Sana balik kumpul lagi sama temen lo!" Haechan menerima bingkisan tersebut gesit, dan sedangkan kakaknya sendiri ia dorong pelan agar segera menjauh dari kamarnya.
"Mark ada di belakang tu, mau ngomong gak? Kalo mau ngomong biar Abang suruh ke sini, ngobrol berdua sana. Maksudnya ngobrolnya di ruang tamu, bukan di kamar."
"Tanya dialah, dianya mau ngomong gak. Yang mendadak ngilang dia, yang gak ngabarin dia, ngapain musti aku yang ngajak ngomong?" Haechan mendengus, mendorong kakaknya menjauh dan menutup pintu kamarnya secara kasar sebelum sempat mendengar respon dari sang kakak.
"Wah... Gak beres ini anak. Kayanya kemaren uring-uringan tu karena gak dikabarin sama Mark, karena ditinggal sama Mark. Buset, uda demen ni anak sama Mark?" Je sempat bermonolog sebelum benar-benar meninggalkan kamar Haechan.
Je bergegas pergi ke halaman belakang, dan langsung menghampiri Mark yang sekarang sedang mengobrol bersama teman-teman yang lain.
"Weh, lo apain adek gue? Uda demen tu dia kayanya sama lu, abis lu apain?"
"Gimana uda lo tanyain belum, dia mau ngomong sama gue gak?" Mark balik bertanya, tidak lupa di akhir kalimat ia sematkan senyuman lebar miliknya.
"Samperin dah, kayanya kalo lo dateng dia juga gak bakal nolak. Lu kalo jadi sama adek gue, inget omongan gue ya." Kalimat Je terdengar sedikit dingin di bagian akhir.
"Aman!"
***
"Kangen gue ya?" Mark memerhatikan Haechan yang sedang memakan makanan yang ia belikan, dimsum dengan beberapa topik. Mark ingat betul ia membelikan bocah ini dalam jumlah yang cukup banyak, dan tidak yakin Haechan akan mampu menghabiskannya sendiri lalu pasti akan membagikannya kepada orangtua atau pun kepada Je.
Namun di luar dugaan, ternyata Haechan menghabiskan hampir keseluruhan kotak dimsum yang ia belikan. Hampir semuanya, 4 kotak, yang tiap kotak berisikan setidaknya 10 biji dimsum. Mark sering dengar dari Je, kalau Haechan memang doyan makan, tapi kata Je juga kalau seluruh makanan yang ia belikan untuk Haechan, semuanya nyaris tak pernah dimakan oleh Haechan walau sudah diterima, dan selalu berakhir dimakan oleh anggota keluarga yang lain.
Namun di malam ini, ia melihat sendiri Haechan menghabiskan semuanya dengan lahap. Entah karena lapar, atau pun karena doyan, atau apa pun itu alasannya, Mark merasa senang sekali karena bisa melihat Haechan menghabiskan makanan pemberiannya dengan cara selahap ini.
Benar-benar terlihat menikmati makanannya.
Mark menyodorkan segelas air untuk Haechan ketika bocah itu sudah berhasil menandaskan seluruh makanannya. Mark masih saja tersenyum, terlalu gemas melihat tingkah lucu yang Haechan perlihatkan. Pipinya yang menggembung, bibir mengerucut dengan sedikit noda saus yang menghias. Secara otomatis saja Mark mengulurkan tangan, kemudian mengusap bibir Haechan, menghapus jejak dan noda saus tersebut.
Aneh sekali ketika Haechan tidak mengelak sentuhan dari Mark, Haechan membiarkan saja dan tetap sibuk mengunyah dengan pipi kembungnya itu.
Baru setelah selesai mengunyah dan Haechan mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya dengan sebersih mungkin, Haechan kini mulai memberikan atensi kepada Mark secara penuh.
Mark menaikkan satu alisnya menunggu Haechan bicara.
Haechan lama sekali keluar suara sampai membuat Mark bertanya-tanya apakah yang hendak Haechan katakan.
"Kenapa? Kangen beneran, tapi malu buat ngaku ya?" Mark menggoda Haechan. Tapi Haechan tidak memberikan ekspresi sama sekali dengan goda yang ia layangkan itu. Membuat Mark sedikitnya merasa agak, canggung?
Haechan tidak kesal seperti biasanya, tidak juga terlihat membenarkan kalimatnya. Benar-benar aneh dan membuat Mark khawatir sendiri dengan apa yang akan Haechan katakan.
"Besok gue mau ayam geprek." Itulah yang Haechan katakan setelah sejak tadi hanya bergeming saja.
Tentu saja Mark terkejut. Dia melihat Haechan membereskan meja makan, dan ia pun bergerak membantunya.
"Kalo kaya gini, secara gak langsung lo gak ngebantah kalo sebenernya beneran kangen sama gue kan?" Mark masih mencari konfirmasi atas perasaan Haechan, berharap Haechan memang sungguh rindu kepadanya. Karena Mark pun demi Tuhan, sangat merindukan Haechan melebihi apa pun.
Tapi Mark kemarin memang harus sengaja menjauhi Haechan. Melakukannya sesuai dengan pesan dan petuah yang Je berikan kepadanya. Katanya kalau ia melakukan hal yang seperti kemarin, menghindar dan menjauhi Haechan lebih dulu, pasti hal itu akan memberikan efek tersendiri untuk Haechan.
Awalnya hal itu Mark nilai dengan skeptis, ia malah berpikir kalau ia menghindar dari Haechan maka itu hanya membuat Haechan kegirangan, senang, bahkan merayakan ketidakhadirannya itu. Mark juga khawatir Haechan akan berpikir bahwa ia sudah lelah mengejarnya. Tidak sama sekali, ia bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia adalah petarung, dan pejuang garis keras yang tidak kenal menyerah.
Dan ternyata semua kerisauan dan keraguan Mark saat itu terbayar penuh dengan sikap Haechan sekarang. Hati dingin Haechan sepertinya telah berhasil Mark luluhkan secara perlahan.
Senang. Tiada hal lain yang Mark rasakan selain senang, bahagia, bersemangat, girang, dan penuh antusias.
Mark akan mentraktir Je banyak hal karena berkat pria itu, ia benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang sangat tidak terduga seperti ini. Perubahan sikap Haechan yang perlahan telah luluh akan kehadirannya, adalah yang hal besar yang patut untuk dirayakan semeriah mungkin.
"Jam delapan." Haechan tidak menjawab pertanyaan Mark sebelumnya. Ia berdiri di depan tempat cucian piring untuk mencuci tangan.
"Ha?" Mark heran dengan maksud kalimat Haechan, dan berakhir hanya reaksi itu yang bisa ia keluarkan.
"Jam delapan, besok gue tunggu depan tempat les gue. Kalo sampek besok lo gak dateng dan gak nemenin gue makan ayam geprek, seterusnya jangan pernah temuin gue!" Haechan berkata dengan intonasi suara yang cukup tinggi, bicaranya pun cepat sekali, kemudian matanya juga menatap Mark lekat.
Namun baru sedetik Haechan selesai bicara dan kemudian Mark melangkah maju, untuk coba mendekat ke arahnya, Haechan malah memilih untuk lari terbirit, pergi meninggalkan Mark cepat-cepat menuju ke kamar.
Haechan malu, gugup untuk menghadapi Mark, untuk menghadapi pertanyaan Mark yang mungkin akan memertanyakan keseriusannya. Haechan mendadak tidak bisa berpikir, dan ia khawatir sekali akan menunjukkan kegugupannya ini dengan terlalu jelas kalau sampai masih memilih bertahan di tempat.
Jalan terbaik memanglah kabur dan melarikan diri.
***
Haechan pura-pura sibuk dengan ponselnya. Berusaha untuk bersikap dingin dan abai seperti biasanya. Namun ia menyadari kalau ia kesulitan untuk melakukan hal itu sekarang.
Haechan melirik ke sebelah, Mark ada di sebelahnya. Pria itu menepati janji untuk menjemputnya, dan akan menemaninya makan malam di tempat ayan geprek kesukaan dan sudah menjadi langganan sejak kelas 10.
Sikap resah dan gugup Haechan ini berasal dari Mark. Haechan tidak tahu kenapa dia harus merasa seperti ini, apakah karena Mark sudah tak pernah menampakkan diri di depannya selama berminggu-minggu, kemudian itu bisa membuat Mark nampak sangat berbeda saat menampakkan diri lagi?
Tidak masuk akal. Haechan mengelaknya. Mark masih terlihat sama saja di matanya. Tidak ada yang berubah sama sekali!
Tapi kenapa dia harus berdebar seperti ini saat melirik ke sebelah. Saat ia diam-diam memerhatikannya, saat ia menyadari kalau ternyata ada yang berbeda dengan gaya rambut Mark, pria itu pasti habis potong rambut baru-baru ini. Gaya rambut ini membuat Mark terlihat lebih tampan-
Haechan menghentikan semuanya di sana. Pikiran gilanya yang sudah menyebut Mark tampan. Ia berusaha berpaling, menatap ke arah jendela dengan sambil memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya pelan. Ia pusing dengan tingkahnya sendiri, dengan cara berpikirnya sendiri... Bagaimana bisa benaknya berpikir kalau Mark itu tampan, kemudian kenapa ia harus berakhir merisau, penuh kegugupan seperti ini hanya karena terbayang-bayang kebodohannya sudah membayangkan kalau Mark itu tampan.
Bodoh.
Mereka akhirnya sudah sampai di tempat makan yang Haechan inginkan. Saat mobil berhenti, buru-buru sekali Haechan segera keluar dari mobil, kemudian melangkah masuk ke warung makan tenda sederhana gaya kaki lima yang selalu menjadi andalannya dalam hal membeli ayam geprek.
"Wah, sama siapa ni? Tumben gak sama anak-anak atau sama Bang Je, Chan."
"Iya, sama temennya Bang Je ni. Gue pesen kaya biasanya ya." Haechan memesan miliknya. Kemudian ia menoleh ke samping, kepada Mark untuk menanyai apa yang ingin dipesan oleh pria itu.
"Samain aja." Mark menjawab, ia tidak berpikie panjang sama sekali. Karena menurutnya apa yang pesan pasti enak, dan tidak akan menyesal untuk dicoba.
Mark pernah makan ayam geprek, tapi buatan Bunda sendiri. Kalau makan di tempat kaki lima seperti ini, ia belum pernah mencobanya sekali saja. Tapi mendengar sendiri Haechan sering kemari, entah bersama Je atau pun kawan-kawan, serta melihat juga kondisi warung yang sangat ramai, bisa Mark simpulkan kalau makanan di sini pasti enak.
"Kenapa sih nunduk terus. Gugup ya duduk deket-deketan gini?" Mark akhirnya menjatuhkan atensi kepada Haechan.
"Dih apaan, gak ada yang begitu." Haechan berdecih, tentu saja ia mengelak.
Mark terkekeh pelan, Haechan sangat cepat sekali dalam membantah kalimatnya. Hanya semakin memperjelas kegugupan yang sejatinya tengah menyelimuti bocah itu.
"Gue boleh nanya gak?" Mark meminta izin.
Haechan menautkan alisnya, pria ini meminta izin untuk bertanya, sangat tidak seperti biasanya yang selalu asal buka mulut tanpa memedulikan wajah enggan dan tak suka yangia pasang.
"Tumben izin, kaya selama ini peduli sama pendapat gue kalo sebenernya keberatan lu buka mulut." Haechan.
"Iya, lagi belajar peduli sama pendapat dan perasaan lo soalnya gue liat lo mulai mau buat ngelirik gue. Iya kan? Jadi penting banget ini nanya pendapat lo dulu sebelum gue tanya." Mark bicara sambil menarik satu lengan Haechan agar mau menoleh padanya, tidak menyenangkan sekali jika harus bicara dengan posisi seperti ini, posisi Haechan buang muka darinya.
Haechan akhirnya menoleh ke samping, untuk memberikan matanya kepada Mark. Tapi Haechan tidak nyaman dengan itu, hatinya tidak nyaman, jantungnya juga tidak nyaman. Ia sebenarnya tahu apa penyebabnya, namun akal sehatnya tetap bebal dan berusaha untuk terus mengelak.
Haechan tidak mau mengakui kalau sebenarnya ia memang berdebar untuk saling beradu tatapan dengan Mark. Haechan merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya, dengan perasaannya.
"Kenapa baru kepikiran sekarang? Kemaren-kemaren ke mana aja, sukanya maksa, seenaknya banget. Udah ih, jangan pegang-pegang gue!" Haechan menarik tangannya yang masih dipegang oleh Mark.
Mark tidak melepaskan.
"Ngadep sinilah kalo diajak ngomong, jangan buang muka gitu." Mark benar-benar tidak suka kalau Haechan terus berpaling seperti ini, ia benar-benar lebih suka bila mereka bicara dengan saling pandang, tidak masalah sama sekali kalau bahkan Haechan memandangnya dengan tatapan sinis, asalkan mata mereka saling bertemu itu sudah membuat perasaannya terasa lebih baik.
"Ya lonya juga biasa aja kalo liatin orang, sebel banget gue kalo liat mata lo." Meski mendumal dan penuh kekesalan, namun pada akhirnya Haechan tetap menuruti Mark untuk menatapnya.
Mark mengabaikan omelan itu, menurutnya caranya menatap Haechan itu bukanlah hal yang salah. Ia menatap Haechan sewajarnya, merasa takjub kalau Haechan terlihat cantik, merasa menyimpan banyak puja saat melihat Haechan terlihat menggemaskan, dan akan merasa gemas saat melihat Haechan nampak lucu. Mark merasa itu wajar dan masih biasa saja, tapi itu memang dari sudut pandangnya. Ia tidak tahu kalau selama ini Haechan merasa begitu tidak nyaman seperti ini.
Baiklah, ke depannya akan Mark ubah caranya menatap Haechan nanti. Tapi pelan-pelan, karena jujur saja ia tidak yakin bisa berubah sepenuhnya, sebab bisa saja yang ada tingkahnya malah semakin menjadi-jadi.
"Balik lagi ke awal, kenapa baru sekarang mikirin perasaan dan pendapat lo, sedangkan yang kemaren malah suka maksa-maksa." Mark mengulurkan tangan, reflek saja untuk menata rambut Haechan yang sedikit berantakan terkena angin malam yang berhembus lembut.
Mark melakukannya dengan santai, tanpa tahu kalau Haechan di detik itu sedang sibuk menahan napas. Sentuhan Mark terasa terlalu halus, Haechan tak bisa menafikkannya kalau itu benar-benar berhasil membuat hatinya bergolak kacau.
"Emang kenapa." Haechan mengalihkan kekacauan, kerisauan hatinya dengan cara melempar pertanyaan kepada Mark. Kepalanya menunduk, semula ia ingin bertahan di posisi itu, tapi kemudian ia memberanikan diri untuk mendongak dan melayangkan mata kepada Mark.
"Kemaren emang agak maksa dan suka ngancem, ya karena lonya gak bakal mau kalau gak digituin. Maaf ya uda sering bikin lo kesel. Kalo sekarang, lonya lebih santai, lebih gampang juga diajak, jadinya gue uda gak perlu kaya kemaren dan bahkan mikir kalau mau apa-apa harus atas persetujuan, kemauan, dan keyamanan lo. Gitu sih gue mikirnya." Ucap Mark sambil melayangkan senyum untuk Haechan.
"Tapi gue penasaran deh, kenapa mendadak jadi luluh begini? Gak luluh sepenuhnya juga sih, tapi seenggaknya uda gak sejutek kemaren. Kenapa? Karena kangen ya berminggu-minggu kemaren gak ketemu gue." Mark memberi seringai, dengan niat yang sudah jelas untuk menggoda Haechan.
"Gak kangen." Jawab Haechan singkat. Kali ini mukanya tidak berpaling, tapi matanya ia bawa untuk beralih pandang dari Mark, memilih memerhatikan si penjual ayam geprek yang sekarang sedang menyiapkan pesanan.
"Lah, melengos matanya. Keliatan banget boongnya. Tapi ya udah gak papa, anggep aja gue percaya." Mark tidak akan menggoda Haechan lebih jauh. Dilihat dari gerak-gerik Haechan, Mark akan memilih untuk menyimpulkan semuanya sendiri. Sebab semuanya terlihat jelas sekali kalau Haechan sedang berusaha menutupi perasaannya sendiri dengan penuh kegugupan.
"Atau kalau gak kangen, kayanya minimal lo sadar selama gak ada gue tu rasanya hampa, kosong dan sepi." Mark terus berucap dengan kadar kepercayaan dirinya yang terlampau tinggi.
"Geprek dua, level lima, es teh tawar dua, lalapan tambah dua porsi!" Pelayan datang membawakan pesanan Haechan serta Mark.
Dan ini agaknya membuat Haechan lega, karena dengan kehadiran si pelayan maka Haechan bisa memiliki tameng untuk mengabaikan kalimat dari Mark. Ia bisa lari dari perasaan yang seolah-olah sedang disudutkan ini. Entah Mark sungguh berniat menyudutkannya atau tidak, tapi inilah yang Haechan rasakan. Ia merasa disepertiitukan oleh Mark.
"Makasih, Ta." Haechan berterima kasih kepada Hata, si pelayan yang sudah mengantarkan pesanannya.
"Gak boleh ngomong ya, waktunya makan ini." Haechan bersiap untuk makan.
Tidak seperti Haechan yang memilih makan pakai tangan secara langsung, tanpa sendok. Mark tak bisa melakukan itu, ia meminta sendok serta garpu kemudian memakan dengan memakai alat makan tersebut.
"Lo gak pernah makan di kaki lima ya?" Haechan melirik Mark yang sedang menyendok nasinya. Ia melihat Mark menyisihkan cabai secara sengaja, dan hanya memakan nasi serta sedikit bagian ayam yang sekiranya tidak terkena sambal.
Haechan geleng-geleng pelan. Tidak doyan pedas namun pria ini malah memesan dengan asal untuk disamakan dengannya.
"Pernah kok. Tapi gak sering. Eh, bukannya gak boleh ngomong ya pas makan?" Mark mengingatkan Haechan pada kalimat yang dikatakannya sendiri.
Haechan memutar bola matanya.
"Pengecualian kalo gue pengen tanya. Kalo lo, lo gak boleh tanya. Cukup jawab pertanyaan aja." Haechan agaknya bersikap dengan cukup otoriter.
Lalu mereka lanjut makan. Haechan adalah tipe orang yang makan dengan cukup lambat, dan saat Haechan melirik ke arah Mark, dia menyadari kalau Mark pun demikian. Mark makan dengan lebih lama dari dirinya karena sejak tadi sibuk sekali menyisihkan cabai.
Haechan menghela napas pelan.
"Lu tu, kalo uda tau gak doyan pedes, harusnya tadi bilang. Ni tisu, keringetan banget muka lu." Haechan menyodorkan beberapa lembar tisu untuk Mark. Ia perhatikan muka Mark merah, penuh keringat, dan bahkan hidungnya juga berair. Padahal pria itu sepertinya sudah meminimalisir cabai yang akan masuk ke dalam mulut.
Mark menerima tisu tersebut, menyeka keringatnya, kemudian saat ia melirik ke arah minumannya, sedih sekali saat melihat sudah tandas. Tapi tidak lama kemudian Haechan menyodorkan teh miliknya kepada Mark.
"Minum ni." Ucap Haechan kepada Mark.
"Ta! Hata, es susu dong!" Haechan tambah pesanan minuman yang lebih manis untuk ia herikan kepada Mark sebagai pereda pedas.
"Gue gak ngira bakal sepedes ini... Hah!" Mark memejamkan mata, ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya sendiri pelan.
Haechan menatap kasihan kepada Mark, bibir pria itu nampak lebih merah, lebih bengkak, muka masih penuh keringat dan merah, lalu dahi Mark terus berkerut dengan mata yang terpejam erat.
"Pedes banget!" Mark benar-benar terlihat sangat tersiksa.
Es susu datang, Haechan menyodorkannya kepada Mark kemudian di tangan Mark minuman tersebut langsung tandas tidak sampai 10 detik. Mark benar-benar rakus menghabiskan susu di dalam gelas itu.
"Gimana? Uda mendingan?" Tanya Haechan dengan nada khawatir.
"Harusnya kalo gak doyan pedes tadi tu ngomong, anjirlah bikin orang khawatir aja tau gak. Gimana kalo lo mendadak pingsan, kolapse, terus masuk UGD, gue yang repot anjir! Udah gak usah dimakan lagi!" Haechan mengomel, memarahi Mark kemudian menjauhkan piring Mark dari hadapan pria itu agar tidak disentuh lagi.
"Nyerah gue, gak kuat buat makan lagi...hhaahh!" Mark menjulurkan lidah, mengipasi wajahnya sendiri lalu menenggak sisa air susunya dengan rasa putus asa sebab pedasnya tidak segera hilang.
Haechan mendengus, ia memilih menyudahi acara makannya dan segera cuci tangan. Setelah membayar pun ia segera menarik tangan Mark untuk kembali ke mobil, ia merasakan Mark sedikit lunglai dalam langkahnya dan serius itu hanya membuat ia menjadi semakin khawatir.
"Gue panggil Bang Je aja deh, biar digantiin dia nyetirnya. Lemes banget, apa perlu ke rumah sakit ya? Gue panggil ambulance aja ya?" Haechan berkata dengan nada khawatir. Ia membawa Mark agar duduk di kursi belakang, begitu pun dirinya yang menemani di samping.
Mark bersandar lemas, ia masih mampu membuka mata dan kini tengah sibuk memerhatikan Haechan yang sedang berkutat dengan ponsel. Entah akan menghubungi Je atau bahkan memanggil ambulance, Mark belum bisa menyimpulkan. Akan tetapi kemudian ia ulurkan tangan dan mengambil alih ponsel tersebut.
"Gue gak papa." Ucap Mark, berusaha menenangkan Haechan.
"Gak papa gimana! Lu keliatan lemes kaya orang sekarat gini!" Haechan sedikit membentak Mark. Banyaknya ia merasa menyesal sudah membawa Mark untuk makan bersama di tempat makan seperti ini, membuat Mark ikut makan makanan pedas seperti dirinya, lalu berakhir lemas tidak berdaya seperti ini.
Serius, Haechan benar-benar menyalahkan dirinya sendiri.
"Ssssst... Udah, gak papa. Gue gak papa, gak usah panik." Mark meraih tangan Haechan, membawanya dalam genggaman dan meletakkannya di atas dada. Ia tersenyum, merasa senang karena sudah dikhawatirkan oleh Haechan.
Mark usap-usap tangan Haechan, merematnya pelan, berusaha menenangkannya.
Setelah itu Haechan sedikit mereda. Kekhawatirannya sudah tidak melonjak tinggi seperti sebelumnya. Ia sudah merasa sedikit lebih tenang, meski sebenarnya di dalam hati tetap banyak tersemat rasa khawatir, namun kepanikan yang menyertai sudah hilang.
"Setelah gue pikirin lagi, gue sadar kalo sebenernya ini juga salah gue." Haechan berkata dengan suara pelan.
Mark belum memberikan reaksi, sebab ia lihat Haechan masih ingin bicara. Ia hanya diam dan menanti saja kalimat apa yang sekiranya akan Haechan ucapkan.
"Harusnya di awal tadi gue tanya dulu lu doyan pedes apa gak. Gue juga salah di situ..." Lanjut Haechan dengan suara mencicit tapi masih dapat didengar oleh Mark.
Mark menahan senyumnya. Jujur saja ia tidak senang mendengar Haechan menyalahkan diri sendiri. Namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, jujur saja ia ingin sedikit menjahili Haechan.
"Kalo salah harus gimana?" Mark bertanya dengan masih menggenggam tangan Haechan.
"Maaf." Haechan meminta maaf.
Mark berteriak senang di dalam hati. Senangnya bisa mengendalikan Haechan.
"Peluk dulu sini baru dimaafin-" Ucapan Mark terputus sebab Haechan menarik tangan dari genggamannya dengan kasar. Mark sedih sekali, tidak rela bila tangan kecil dan halus itu harus lepas dari genggamannya.
"Tsk! Cari kesempatan aja lo! Gue liat uda gak lemes lagi, uda baikan kan lo? Ya udah, gue gak jadi manggil Bang Je, nyetir sendiri nanti lo." Haechan cemberut, bersedekap tangan tidak akan mau untuk memeluk Mark sesuai keinginan pria itu.
"Kan gue bilang gue emang gak papa. Lonya aja emang yang panik, gak papa gue sadar kok kalo lo tu emang sekhawatir itu sama gue." Mark mencubit pipi Haechan pelan, dan itu segera ditepis keras oleh Haechan dengan mudah. Rasanya sakit ditepis sekasar itu, tapi sebagai gantinya jika bisa melihat wajah menggemaskan Haechan yang sedang cemberut kesal dan marah, maka Mark tidak merasa keberatan sama sekali untuk merasa sakit.
"Gak mau peluk beneran ini?" Mark seperti menagih.
"Apa sih, uda pindah depan sana! Balik kita!"
"Gak bakal gue maafin lu kalo gak dipeluk." Mengancam.
"Bodo amat."
"Dih, merah pipinya. Salah tingkah ya? Sini peluk biar makin salah tingkah."
"Gak mau! Udah ah! Jangan nagih peluk terus, sana ke depan!"
"Cie, salah tingkah."
"Diem!"
***
Je menyadari ada yang berbeda dengan adiknya. Terlihat sangat mencurigakan. Sejak beberapa bulan terakhir ini, pulangnya selalu lebih terlambat dari biasanya. Setiap di rumah pun lebih suka memainkan ponsel sambil tersenyum-senyum sendiri, tidak jelas. Lalu setelah itu, saat akhir pekan, tidak seperti biasanya yang selalu menomorsatukan tidur siang, adiknya itu malah memilih untuk pergi.
Je curiga.
"Uda jadian ya kamu sama Mark? Mesam-mesem terus tiap liat hp, mana suka pulang kemaleman, diajak ke mana aja kamu sama Mark? Kalo Minggu juga, izin keluar terus padahal biasanya Sabtu-Minggu lebih suka molor." Je mendekati adiknya.
"Kepo. Pergi sana, jangan deket-deket gue." Usir Haechan.
Je mendengus.
"Bener, uda jadian ya kalian berdua. Sini kasi pajek jadian ke Abang, Abang uda kasi banyak kontribusi biar kalian deket." Je menodongkan tangan kepada Haechan.
Haechan memutar bola matanya jengah.
"Siapa yang pacaran. Gak ada yang pacaran, lagian kata Mimi kan gak boleh pacaran pas SMA. Aneh. Udah sana jauh-jauh, jangan gangguin gue!" Haechan mengusir kakaknya.
"Kalian berdua kalo jadian, harus kasi Abang pajek jadian. Gak mau tau. Terus juga, panggil yang sopan! Lo-gue, lo-gue terus lo! Panggil yang bener! Abang-Adek, aku-kamu!" Je sedikit marah dan kesal.
"Ya mintalah sama temen lo, jangan sama gue. Udahlah lo pergi jauh-jauh, jangan gangguuuuu ih!! Terus juga, bodo amat gue bakal terus pake gue-lo, gue-lo, biar lo muak!" Haechan masih berusaha keras mengusir kakaknya. Dia tidak suka saja bila didekati kakaknya hanya untuk membahas masalah ini. Selalu saja menuduhnya sudah berpacaran dengan Mark, padahal belum.
Meski pun sudah lebih dekat, dan Haechan pun telah merasa sangat nyaman dengan Mark. Namun saat pertama dulu Mark mengajak berpacaran, Haechan memilih untuk menolaknya. Ya, alasannya sederhana saja, karena belum dibolehkan berpacaran oleh Mimi.
Dan seandainya tidak ada larangan pacaran dari Mimi, mungkin Haechan sedikit tergoda untuk menerima Mark.
Bagaimana menjelaskannya, ini sedikit sulit. Namun Mark itu sangat baik, selalu perhatian, meski kadang suka menjahilinya dan membuat ia marah, namun pria itu juga pandai sekali membujuknya. Membuat ia luluh dalam waktu singkat.
***
"Malam ini mau makan di mana, cantik?" Sapa Mark kepada Haechan yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Ia tersenyum kepada Haechan, melihat penampilan berantakan Haechan sebagai sesuatu hal yang begitu atraktif. Rambut basah terkena sedikit air gerimir, seragam futsal yang juga basah oleh keringat dan nampak kucal.
"Ga bisa, langsung balik aja ya. Gue belum mandi, tadi kamar mandinya ngantri banget males gue. Langsung pulang, gue mau mandi di rumah. Duh, maaf ya jadi bau keringet." Haechan merasa bersalah kepada Mark.
"Gak papa, keringetnya si cantik bisa ditoleransi. Oke, kita langsung balik aja ya." Sudah bisa ditebak bagaimana Mark akan menjawab, selalu mewajarkan setiap hal yang ada di diri Haechan. Lagipula baunya tidak semenyengat itu, masih batas wajar, dan bahkan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan bagaimana menyebalkannya bau keringat yang dimiliku oleh kawan-kawannya.
"Kalo abis mandi mau keluar gak, cantik?" Mark masih berusaha mengajak Haechan keluar, karena bagaimana pun hanya di momen inilah ia bisa memiliki waktu berdua dengan Haechan. Saat menjemputnya, saat mengajak Haechan makan malam, saat mengantarnya pulang, di dalam mobil saling berbagi cerita, pulang sedikit lebih larut dari biasanya.
Hanya di kesempatan itu saja. Dan jika malam ini Mark langsung mengantar Haechan pulang, maka rasanya sangat sedih sekali harus berpisah lebih awal darinya.
"Gak bisa, tadi Mimi bilang dia uda masak, disuruh makan di rumah. Maaf ya. Gimana kalo lo ikut makan aja di rumah sekalian?" Tanya Haechan kepada Mark.
Mark berpikir sejenak, dan memutuskan untuk setuju. Menurutnya itu lebih baik jika dibandingkan tidak sama sekali. Setidaknya ia bisa makan malam bersama Haechan, bisa melihat wajah Haechan lebih lama juga, dan mungkin bonus mereka nanti bisa menghabiskan waktu di taman belakang untuk sedikit mengobrol sebelum ia pulang. Biasanya seperti ini agendanya jika ia diajak makan malam bersama di rumah Haechan.
Sesampainya di rumah, tidak Mark sangka kalau ternyata Haechan ditinggal sendiri. Ia tidak tahu di mana kedua orangtua Haechan, atau pun Je pergi. Namun saat ia dan Haechan sampai di rumah, rumah benar-benae sepi dan tidak ada orang sama sekali. Kalau Je, ia bisa menebak mungkin pria itu sedang nongkrong seperti biasa. Namun untuk kedua orangtua, entahlah Mark tidak tahu.
Saat ini mereka hanya berdua saja. Malam ini, hanya berdua saja. Di rumah ini, berdua saja.
Mark mengusak rambutnya pelan, ia sedikit gugup dan salah tingkah. Ia berusaha membuang jauh segala pikiran yang hinggap. Ia juga berusaha tetap menjaga pikirannya agar tetap waras dan bersih. Tapi rasanya sulit, membayangkan hanya berdua saja bersama Haechan malam ini, itu benar-benar membuat jantungnya berdebar sangat keras, tidak karuan.
"Tadi Mimi ternyata WA, dia bilang nyusul Ayah ke Surabaya. Jadi di rumah ditinggal sendiri deh. Makan yuk, gue laper banget, tadi kata Mimi dia masak udang sama nila bakar." Haechan sudah selesai mandi dan bersih-bersih.
"Gue pulang aja ya, gak enak kalo berdua aja gini." Mark memiliki pemikiran untuk lebih baik pulang. Menurutnya, sangat tidak baik sekali kalau ia memilih bertahan di rumah ini lebih lama.
Ini berbahaya, maksud Mark adalah dirinya sendiri yang berbahaya untuk keselamatan Haechan kalau masih memaksakan diri tetap bertahan.
"Loh, kenapa pulang? Di sini aja." Haechan menahan Mark. Ia menatap tidak mengerti pada Mark, bukankah selama ini pria itu sangatlah menginginkan untuk sering berdua saja dengannya, sering juga mencuri banyak kesempatan dalam setiap peluang agar bisa berdua saja. Dan kali ini ketika kesempatan itu ada, bahkan diberikan secara cuma-cuma, mengapa pria itu malah terkesan ingin menyia-nyiakannya.
Haechan tidak habis pikir. Ia memajukan bibirnya, menatap Mark dengan tatapan menyipit. Setelah hampir satu tahun mereka kenal, dan setelah hampir beberapa bulan belakangan ini mereka menjadi lebih dekat, rasanya sungguh aneh melihat Mark bertingkah demikian.
Haechan masih memerhatikan gelagat Mark. Ia tahu, pria itu benar-benar masih ingin pulang. Dan entah mengapa itu membuat hatinya kecewa. Jika Mark pulang, maka ia akan ditinggalkan, menjadi sendirian di rumah.
"Beneran mau pulang? Aku ditinggal sendiri dong?" Haechan bersikap seperti bukan dirinya. Haechan bahkan tidak sungkan memakai panggilan yang berbeda, dan terdengar lebih manis saat diucapkan dengan suara lembutnya.
Tentu saja reaksi dari Mark adalah terkejut.
"O-oke, kalo gitu aku tetep di sini aja. Aku temenin sampek Abang kamu pulang." Ucap Mark dengan nada kelewat gugup, kalo ini ia bahkan sampai tidak berani menatap mata Haechan yang nampak penuh binar, berkilau dan nampak sangat menawan.
"Ya udah yuk makan dulu!" Haechan menarik tangan Mark, mengajaknya untuk makan bersama. Senyumnya merekah, senang sekali bisa membuat Mark berubah pikiran hanya dalam waktu singkat.
***
"Kata Bang Je, dulu kamu itu punya mantan cantik banget. Iyakah?" Haechan bertanya dengan nada penasaran.
Mereka sudah selesai makan, kini keduanya sedang duduk di gazebo yang ada di taman belakang rumah, tempat teman-teman berkumpul jika nongkromg di rumah ini. Dan Mark serta Haechan juga sering berduaan di sini kalau Mark diajak makan bersama, atau sekadar main ke rumah, gazebo ini pasti menjadi tujuan.
Mark tidak menjawab, ia memilih berbaring di gazebo dengan bagian betis serta telapak kaki masih menapak di atas tanah. Tangan dilipat, ditaruh di bawah kepala sebagai bantal.
"Kata Je juga, katanya kamu di sekolah dari dulu selalu banyak yang naksir ya? Pernah pacaran gak? Eh, tapi gak diizinin kan ya?" Mark memasang senyum lebar, itu berarti kalau kelak Haechan menerima ajakan berpacarannya, menerima pernyataan cintanya, maka ia akan menjadi pacar pertama Haechan. Dan akan ia upayakan untuk menjadi pacar terakhir juga.
Haechan duduk bersila di sebelah Mark, dia melihat Mark memasang senyum terlampau lebar dan itu membuatnya sedikit tidak senang.
"Kok gak dijawab sih, terus kenapa juga senyum gitu? Mau ngejek orang yang gak pernah pacaran ya? Tsk, nyebelin bangetlah lo tu!" Saat Haechan sedang kesal, maka gaya bicaranya yang asli akan keluar.
Haechan cemberut. Dia sudah sering menjadi bahan ejekan teman-temannya hanya karena ia tidak pernah berpacaran sama sekali, benar-benar seorang jomblo dari lahir. Dan melihat Mark tersenyum selebar itu setelah membahas soal ia yang tidak diizinkan berpacaran oleh Mimi, itu membuat Haechan berpikir kalau Mark pasti juga berniat untuk mengejeknya selayaknya teman-temannya.
"Kok gitu lagi manggilnya? Enakan aku-kamu tau, cantik." Mark bangun dari berbaringnya. Mengubah posisi menjadi duduk bersila selayaknya Haechan. Mereka duduk bersisihan, sejajar, dengan sisi paha mereka saling menempel.
"Ya lo juga, kenapa senyum gitu? Pasti mau ngejek gue juga kaya temen-temen gue. Dih, malesin banget dengernya." Haechan lagi-lagi berkata dengan nada sinis, terdengar sekali bahwa dia kesal setengah mati dan agaknya juga muak dengan seluruh ejekan yang sudah pernah ia dapat dari teman-temannya.
"Padahal gak gitu. Padahal lagi seneng ngebayangin jadi pacar pertama dan terakhirnya si cantik ini nanti. Seneng banget ngebayanginnya." Mark mengungkapkan isi hatinya. Yang menurutnya ini bukan gombalan, karena ini memang suara hatinya, tapi ia yakin kalau Haechan pasti akan menganggap kalimatnya sebagai sebuah rayuan semata.
Haechan membulatkan mata, terkejut dengan ungkapan Mark. Pipinya memerah, perlahan mulai nampak bersemu.
"Gak usah gombal deh!" Haechan secara agresif menyenggol lengan milik Mark untuk menutupi kegugupannya.
Mark terkekeh pelan.
"Gombal apaan, orang bener kok." Jawab Mark singkat.
"Udahlah skip aja. Balik lagi ke pertanyaan dari aku tadi. Dulu mantan kamu cantik banget ya? Kalo cantik beneran, udah deh mending gak usah panggil aku cantik, aku kan bukan mantan kamu yang cantik. Panggil nama aja." Haechan memendam ini sejak beberapa hari yang lalu.
Semua bermula dari Je yang tahu kalau selama ini Mark memanggil Haechan dengan sebutan cantik. Je lantas menggoda Haechan agar jangan merasa terlalu istimewa sudah dipanggil cantik oleh Mark, itu karena dahulu Mark memiliki seorang mantan kekasih yang sangat cantik, kemudian dipanggil oleh Mark dengan cantik juga.
'Dek, kamu tu dipanggil cantik cuma biar dia bisa nostalgia sewaktu manggil mantannya. Ati-ati aja, bisa-bisa kamu cuma dijadiin replika mantan sama dia!'
Itulah yang dulu pernah dikatakan oleh Je kepada Haechan. Entah sebagai provokasi belaka, atau memang nyata, yang jelas itu cukup berhasil membuat Haechan merasa tidak tenang. Maka dari itu malam ini ketika mereka bisa bicara berdua saja, dengan situasi yang sangat mendukung, ia putuskan untuk menanyakannya secara langsung saja.
"Mantan yang mana? Mantanku ada banyak -eh, jangan pergi dulu. Jawabannya belum selesai ini!" Mark menahan tangan Haechan dengan buru-buru saat Haechan sudah nampak bergegas ingin beranjak dari tempat.
"Terus cantik semua gitu? Terus setiap mantan kamu itu, kamu panggil cantik gitu? Tks, jangan manggil-manggil cantik lagi kalo gitu, panggil nama aja." Haechan menolak dipanggil cantik. Tidak mau dibuat sama dan setara dengan seluruh mantan Mark, yang katanya sangat banyak itu.
"Aku gak tau ya, apa yang diceritain Abang kamu ke kamu. Tapi gini, cantikku. Mantanku emang banyak, mereka juga cantik-cantik, setiap orang pasti cantik dan punya sisi cantik istimewa di diri mereka masing-masing. Tapi aku gak pernah manggil mereka cantik, cuma kamu aja. Jadi kamu itu emang cantik, punya tempat istimewa di hati aku, dan cuma kamu satu-satunya di hati aku. Gak ada yang lain. Aku gak bohong." Mark menjelaskan dengan tangannya masih bertahan menggenggam Haechan.
"Udah ya, jangan cemberut, jangan ngomel terus, sini ngadep sini, mau liat wajah gemesnya." Mark cubit pipi Haechan, membawa si cantik agar menoleh ke arahnya, agar mereka saling berpandang, saling mempertemukan mata mereka.
Namun keputusan ini nyatanya sangat Mark sesali. Ia melupakan dekatnya jarak mereka, ia melupakan bagaimana kegugupan akan menguasainya jika matanya bisa bebas menikmati kecantikan Haechan dalam jarak sedekat ini, dan ia melupakan bagaimana pikirannya akan berkecamuk jika mata mereka saling bertaut.
Tatapan Haechan yang selalu memancarkan kesan naif serta keluguan yang murni. Tatapan yang belum pernah mengenal hal buruk, benar-benar tatapan khas anak kecil yang masih belum bisa mengenal luasnya dunia.
Tatapan yang selalu membuat Mark ingin senantiasa melindungi, mengawasi, dan menjaminkam rasa aman kepadanya.
Tatapan yang membuat Mark jatuh cinta.
"Udah ah! Jangan gitu!" Haechan memalingkan wajah lebih dulu. Bukan hanya Mark yang gugup, ia pun mendapatkan perasaan yang sama.
Haechan buru-buru sekali ingin beranjak pergi, dan Mark pun melepas genggamannya dari Haechan. Mark tidak akan menahan Haechan, lagipula itu tidak baik untuk kewarasaannya sendiri. Namun sebuah insiden terjadi. Saat Haechan turun dari gazebo, kakinya yang berpijak pada tanah sedikit terkilir, dan nyaris saja ia terjatuh di tanah jika Mark tidak segera menangkap pinggangnya.
Haechan memang tidak terjatuh di tanah, namun ia terjatuh di atas dekapan Mark. Mark terlalu terkejut dengan tangannya yang bisa melingkar sempurna di pinggang Haechan dengan bebas untuk yang pertama kalinya.
Haechan menyadari posisi mereka, ia duduk di atas paha Mark dengan kedua tangan Mark melingkar di pinggang. Rasa panik melanda. Rasa gugup pun menyelimuti keduanya, Haechan cukup gegabah dengan tidak berpikir panjang mencoba untuk berdiri, dan itu nahasnya malah membawa tragedi lain yang lebih mengkhawatirkan.
"Aaaarrghh!" Haechan mengerang keras saat merasakan badannya tersungkur ke depan akibat kecerobohannya sendiri. Ia terdorong ke depan, berikut juga Mark di depannya yang ikut terdorong. Mark berakhir mendarat lebih dulu di atas permukaan kayu gazebo kemudian disusul oleh Haechan sendiri yang menindih Mark.
Sebuah kejadian dramatis yang berlangsung sangat cepat, mengejutkan dan tidak terduga.
Haechan bertahan di atas tubuh Mark. Terpaku di tempat sambil memandang Mark dengan tanpa berkedip.
"Eh?" Haechan kaget ketika tiba-tiba posisi mereka berubah, tubuhnya dibalik oleh Mark sehingga kini berakhirlah ia yanh berada di bawah kungkungan pria itu.
Haechan ditindih oleh Mark, Haechan mendongak dan menatap mata Mark, seketika itu juga ia langsung merasa ciut di bawah kungkungan dominasi yang dimiliki oleh Mark. Haechan telan liurnya sulit, ia berusaha mengalihkan mata, namun kegugupan tetap saja menyelimutinya.
"Ka-kamu mau apa..." Haechan bertanya ragu. Tangannya berada di bahu Mark, berusaha menahannya dengan memberi rematan pelan. Tapi dia bisa merasakannya, kalau Mark terus berusaha untuk menunduk, dan menekannya ke bawah.
Haechan benar-benar dibuat tidak berdaya. Dibuat tidak berkutik. Berusaha mempertahankan kewarasan, namun visual tampan Mark yang berada tepat di depan muka, banyaknya membuat kewarasannya terus tergerus. Sedikit demi sedikit. Dan ia akui bahwa dirinya sendiri pun tidak cukup kuat untuk menahan goda, tidak cukup kuat mempertahankan diri.
Haechan lemah.
Apalagi jika posisinya seperti ini.
Lalu ketika Mark dengan tidak meminta izin, bergerak impulsif memiringkan wajah dan terus mendekatkannya pada Haechan, Haechan tidak sedikit pun mengelak. Sebaliknya, Haechan malah bergerak untuk memejamkan mata, untuk meremat bahu Mark semakin kuat, dan berbisik di dalam hatinya bahwa ia siap untuk segala kemungkinan apa pun yang terjadi.
Mungkinkah sebuah ciuman?
Haechan berharap. Haechan merapal di dalam hati, memang benar bahwa Mimi melarang untuk berpacaran saat masih SMA, tapi Haechan tidak pernah mendengar Mimi melarangnya berciuman saat SMA. Jadi, tidak masalah kan kalau ia mendapatkan ciuman pertamanya sekarang?
Ya, Haechan memang sangat berharap.
Apalagi jika itu dari Mark...
Sialan, membayangkannya saja Haechan sudah merasakan jantungnya siap meledak.
"Uhh..." Haechan bergidik saat merasakan tangan dingin Mark menyelinap, menyentuh tengkuk lehernya. Sentuhan tipis yang membuat seluruh bulu roma di sekujur tubuh berdiri total.
"Gak papa kan?"
Bisikan yang halus dari Mark. Seolah meminta izin ketika wajah mereka sudah begitu dekat, ketika deru napas mereka sudah saling bersentuhan, dan ketika kedua belah bibir mereka telah saling berhadapan. Sedikit lagi, hanya sekadar menunggu Haechan memberi anggukan, maka Mark akan langsung bersikap serakah mempertemukan bibir mereka.
Ketika Haechan memberi anggukan, dan ketika akhirnya Haechan melepaskan cengkeramannya pada bahu Mark untuk berganti mengalung di leher sang lelaki, di detik itu Mark benar-benar mempertemukan bibir mereka. Jantung keduanya berdegup kencang, Haechan berusaha mengantisipasi semuanya. Namun karena ini adalah pengalaman pertama, Haechan benar-benar buyar dan tidak sanggup untuk mengendalikan diri.
Haechan seperti kaku, badannya membeku di tempat. Namun belaian lembut dari Mark yang menyentuh tengkuknya, memijatnya halus, pelan-pelan mulai membawa Haechan untuk mulai lebih tenang. Lebih rileks dan terhanyut dalam setiap gerak yang dilakukan oleh Mark di atas bibirnya.
Lumatan yang penuh kehati-hatian, Haechan bisa merasakan betapa besarnya rasa kasih yang coba Mark sematkan di sana. Meski pun Haechan begitu kaku dan benar-benar lugu, tidak tahu dengan apa yang harus dilakukan, namun belajar dari bagaimana lembutnya setiap gerakan yang Mark lakukan, maka dengan kesan sedikit malu-malu dan penuh keraguan, Haechan pada akhirnya memberanikan diri untuk membalas lumatan pria itu.
"Nghh..." Haechan melakukan apa yang Mark lakukan kepadanya, seperti tidak mau hanya sekadar menerima, ia juga ingin memberi. Membalas setiap lumatan yang diberikan, walau pun masih sangat amatir namun ia sangat senang ketika Mark mau membimbingnya untuk mengikuti setiap gerakan yang dilakukan.
"Ahhh..." Haechan mendesah saat merasakan pinggangnya dibelenggu, sesekali diberi remasan halus sampai membuat ia reflek melengkungkan punggung, dan membuat ia berakhir semakin menempel pada Mark.
Haechan sangat melekat pada Mark, hal ini hanya memancing Mark untuk semakin bertindak serakah. Bibir Haechan mengenalkan Mark pada sebuah adiksi baru yang sulit ia sanggahkan. Ia memejamkan mata, mendekap tubuh kecil di bawah kungkungannya erat, kemudian bibirnya pun mulai melumat dengan lebih berani dan beringas.
Mark menjulurkan lidah, menjilati setiap inchi permukaan bibir Haechan, kemudian menyelinap dengan ahli untuk masuk ke dalam mulut Haechan. Mark kuasai mulut Haechan, menjarah setiap rasa basah dan hangat yang memenuhi mulut tersebut. Menyesapnya rakus-rakus, bertemu manis terbaik yang tak pernah ia cecap sebelumnya.
"Ouhh...." Desahan Haechan melantun. Tubuh Haechan menggeliat. Tangan mengalung erat di leher Mark, jemarinya gusar sekali untuk mengusak rambut Mark hingga berantakan. Tidak terhentikan. Haechan hanyut dalam nikmatnya berciuman bersama Mark. Pengalaman pertama yang bagi Haechan sangat terbaik, dan tidak pernah ia sesalkan untuk ia dapatkan bersama Mark.
Keduanya benar-benar hanyut dalam kenikmatan. Tangan Mark yang tadi membelenggu pinggang Haechan kini bergerak untuk menariknya, untuk membuat Haechan benar-benar menempel semakin erat kepadanya. Keserakahan merenggut sisa akal sehat yang dimiliki oleh Mark.
Mark kini juga merasakan kepalanya berdengung, terasa terlalu penuh. Mark merasa seperti banyak sekali bisikan yang mendorongnya untuk segera melakukan lebih, lebih, dan lebih. Tapi di beberapa detik yang berlalu, Mark bersama sedikit sisa kewarasannya, memilih untuk teguh bertahan, untuk tidak bertindak terlalu jauh. Cukup berciuman, tanpa tangan dan anggota tubuhnya yang lain melakukan lebih.
Mark merasakan Haechan menjambak rambutnya terlalu kasar dan erat, ia memahami bahasa tersebut, Haechan mulai kepayahan dalam menahan napasnya. Haechan mulai kehabisan oksigen di dalam rongga parunya. Dan Mark tidak akan menyiksa Haechan dengan kehendaknya yang sejatinya masih mendamba untuk menjarah setiap sisi mulut sang terkasih dengan lebih jauh.
Mark tidak setamak itu. Ia tetap memikirkan Haechan, dan sekarang telah melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan hingga menyisakan bentangan benang liur di antara belah bibir mereka.
"Unghh... Pa-panas." Haechan mengeluarkan suara dengan nada yang sedikit merengek. Mukanya nampak merah dengan deru napas yang memburu kasar, berantakan. Bibirnya yang sedikit membengkak nampak basah oleh liur, warnanya juga lebih merah menyala. Sorot mata Haechan begitu sayu, mencerminkan sisi lemah yang dimiliki setelah sebelumnya berhasil didominasi penuh oleh ciuman hebat dari Mark.
"Cantik, lemes ya?" Mark bertanya dengan cara menggoda. Hal itu mendapatkan respon dari Haechan berupa sebuah dekapan yang erat, dan kemudian Haechan juga menyembunyikan mukanya rapat-rapat di ceruk leher milik Mark.
Haechan malu.
Mark terkekeh pelan, reaksi Haechan ini terlalu imut dan lucu. Sebagai balasan, Mark memberikan banyak sekali kecupan hangat di sisi kepala Haechan.
***
Dahulu Mark selalu berpikir kalau Haechan itu sangat judes, suka menatap sinis, tidak ramah dan sangat sulit didekati. Memang nyata demikian sifat Haechan. Namun ketika ia telah mengenal Haechan dengan lebih jauh, ketika ia akhirnya bisa tahu banyak hal mengenai Haechan, ia sadar bahwa sebenarnya Haechan tidaklah benar-benar sedingin itu sifatnya.
Haechan itu manja. Suka bercanda, sangat suka bercerita banyak hal yang penting tidak penting, atau intinya hal yang bisa diceritakan pasti akan diceritakan. Dan juga sebenarnya sangat suka melakukan skinship. Sedikit-sedikit memeluknya, sedikit-sedikit memberi kecupan padanya, setiap mereka sedang jalan bersisihan selalu ingin untuk saling menggenggam, atau Haechan kadang akan memeluk lengannya.
Ya, sekiranya itulah sifat-sifat dan kebiasan-kebiasan Haechan yang Mark ketahui setelah mereka kenal cukup lama, dan dekat juga cukup lama, hingga akhirnya kini sudah menjalin kasih dengan cukup lama.
Oh, jalinan kasih mereka belum benar-benar lama. Baru 3 bulan saja. Namun mereka dekat sudah hampir 3 tahun. Mereka dekat lebih lama karena memang Haechan yang dulu awalnya belum siap untuk berpacaran. Tapi akhirnya setelah melihat keseriusan Mark, dan kesetiaan Mark yang tak pernah lelah dalam upaya pendekatannya, hal itu pada akhirnya berhasil meyakinkan Haechan untuk menerima ajakan berpacaran dari Mark.
"Kalau lagi sendiri gitu, ya akutu maunya sendiri. Tapi dia ini aneh, masak tetep maksa ngajak keluar? Aneh banget, mana kadang kalo ngajak keluar awalnya bilang bertiga aja sama Rama, eh pas uda sampek lokasi taunya temen nongkrongnya dia yang seabrek itu juga ikutan. Terus pas uda kumpul gitu sama temen tongkrongannya, aku sama Rama malah dicuekin. Gak papa kan kalo aku jauhin dia, karen dia tu lama-lama nyebelin tau gak si, Ayang. Aku sebel!" Haechan berbagi cerita kepada Mark.
Mark yang baru mandi menyusul duduk di sebelah Haechan. Ini akhir pekan, Mark tidak memiliki kegiatan apa pun sehingga ia bangun sangat siang. Dan saat ia baru bangun tadi, Haechan menghubunginya, bilang ingin datang kemari. Ia persilakan saja, juga menawarinya untuk ia jemput, namun Haechan bilang akan datang dengan diantar oleh kakaknya yang kebetulan aka pergi ke tempat yang searah dengan apartemennya.
"Ini masih temen yang kemaren?" Mark menanggapi cerita Haechan. Memerhatikan kekasihnya yang sedang sibuk membuka kotak es krim rasa cokelat kesukaannya.
"Iya, yang! Masih yang kemaren! Terus kan aku negur dia biar gak gitu lagi, ya. Eh, dianya malah ngambek, terus abis itu cerita jelek-jelekkin aku di depan temen tongkrongannya itu! Makin kesel aja tau gak sih!"
Mark tahu Haechan sedang kesal, namun ia akan tetap diam-diam memasang senyum saat mendengar cerita Haechan. Haechan selalu memakai nada ini jika sedang bercerita, menggebu, meledak-ledak, seperti penuh semangat ingin mengungkapkan isi hati. Dan itu tidak pernah tidak terlihat lucu di mata Mark.
"Terus kan aku berusaha buat gak peduli ya sama dia, eh tapi dia tu masak suka berusaha hasutin orang buat jadi gak suka sama aku? Aneh gak sih dia itu, aku kemaren tu uda kepikiran mau labrak dia, ya minimal ngomong langsung buat bahas kenapa dia begitu, tapi terus aku mikir lagi-" Haechan jeda ceritanya untuk menyendok es krim dalam ukuran besar, ia suapkan ke mulut sendiri dengan lahap.
Mark menyaksikan Haechan memejamkan mata. Kerutan di dahi hilang, bocah itu nampak menghela napas panjang sambil memasang senyum lebar. Sepertinya es krim yang meleleh di dalam mulut telah berhasil untuk menciptakan sedikit rasa damai di dalam hati bocah itu.
Selesai menyuap untuk diri sendiri, Haechan kembali menyendok es krim tersebut untuk disuapkan kepada Mark. Dan hal itu diterima oleh Mark dengan sebuah senyum tipis.
Tapi tidak lama kemudian senyuman Mark hilang. Tergantikan dengan sebuah kerutan dahi yang tajam serta tatapan mata yang memicing. Es krim meleleh memberi sentuhan tersendiri di balik tenggorokannya. Mark tidak bisa benar-benar menikmati lelehan manis itu saat ia melihat Haechan dengan sengaja mengelap sendok yang habis keluar dari mulutnya dengan tisu.
Haechan masih bercerita soal temannya yang menyebalkan, Mark masih mendengarkan namun denga mata yang tidak pernah lepas pada setiap hal yang dilakukan oleh Haechan.
Menyendok untuk diri sendiri. Menyuapi Mark sambil bercerita. Mengelap sendok bekas mulut Mark. Kembali menyuap diri sendiri. Kembali menyuapi Mark sambil bercerita. Kembali mengelap sendok itu setiap kali habis keluar dari mulut Mark.
Dan terus seperti itu, siklusnya terus berulang hingga membuat Mark tidak habis pikir. Haechan, kekasihnya yang sangat suka mencuri ciuman, sangat suka menempelinya, sangat suka bermanja dengannya, kenapa harus melakukan hal seperti itu seakan bersentuhan dengan sesuatu hal yang memiliki bekas mulutnya adalah sebuah hal yang menjijikkan?
"Aku itu ya, meski pun gak suka dia, gak pernah tu berusaha bujuk-bujuk orang, hasut-hasut orang buat jadi gak suka sama aku. Tapi dia malah gitu-"
'GRAB!'
Haechan masih lanjut bercerita, namun sayang harus terhenti saat Mark meraih tangannya untuk digenggam. Mark menatap Haechan dengan tajam namun bibirnya menyunggingkan senyuman. Mark berusaha mengambil tisu dari tangan Haechan yang sejak tadi dipakai untuk mengelap sendok bekas mulutnya.
Haechan memberi senyum kekanakan, keluar kekehan pelan sambil berusaha menarik tangannya dari Mark.
"Ihh! Lepas gak? Mau pegang kotak es krimnya inilho gak bisa, goyang terus kalo mau nyendok susaahh!" Haechan berkata dengan nada merengek, menyendok es krim di dalam kotak dengan cara seperti kesusahan karena satu tangannya digenggam oleh Mark.
Haechan memalingkan wajah dari Mark, menyimpan senyum serta tawanya di sana. Ini lucu sekali, Haechan hanya ingin mengerjai Mark saja, ingin tahu bagaimana reaksi Mark saat melihatnya melakukan ini. Dan sesuai dugaan, pria itu pasti akan berkerut heran, nampak tidak senang, dan tatapannya pun cukup tajam seperti benar-benar berusaha menghardik tindakannya.
Tapi lucunya lagi Mark tetap berusaha tersenyum meski nampak begitu tidak senang dan kesal.
Seluruh reaksi itu, benar-benar membuat Haechan ingin tertawa namun masih ia tahan, karena ia ingin tahu sejauh mana dan berakhir seperti apa sikap Mark padanya nanti.
"Uda aku pegangin kotak es krimnya tu, sekarang nyendok lagi." Mark memegang kotak es krim tersebut, menahannya agar tidak bergeser saat Haechan menyendoknya.
"Ya, tapi kenapa sih pegang tangan aku terus, yang? Lepas ih, tanganku keringetan." Haechan masih berusaha melepaskan tangannya.
Tapi Mark tidak mau. Ia menatap lekat ke arah Haechan yang kini mengarahkan sendok tersebut kepadanya, untuk menyuapinya. Ada banyak kerutan tercipta di dahi Mark, sendok itu masih bekas mulutnya dan belum berhasil dilap oleh Haechan karena sudah ia hentikan, namun lihatlah bocah itu malah kembali menyuapkan sendok itu kepadanya.
Entah trik apa yang sedang Haechan berusaha lakukan, tapi Mark benar-benar mulai kesal melihatnya. Tapi kekesalan itu tetap ia tahan, ia tutupi dengan senyum tipisnya yang tetap merekah di hadapaj Haechan.
"Aku cuma pengen genggam tangan kamu, babe. Uda sana makan es krimnya, itu giliran kamu kan." Mark mengambil sendok itu, bergerak untuk menyuapi Haechan yang langsung ditolak oleh Haechan.
"Hahaha, gak mau ah yang! Itu buat kamu aja -ayaanggg! Hahahha! Apa sih, jangan maksaaa!" Haechan meledak dalam tawanya saat Mark benar-benar memaksa untuk menyuapinya.
"Makan sendiri aja Yanggg!" Haechan menyuruh Mark untuk memakan sendiri suapan itu. Dan tidak Haechan sangka Mark akan menurut, ia pikir Mark akan tetap keras kepala memaksanya dengan cara yang benar-benar memaksa.
"Eh? Mmppphhh!!" Haechan membulatkan mata saat Mark menarik tengkuknya, mempertemukan bibir mereka, kemudian pria itu menyuapinya dengan cara dari mulut ke mulut. Haechan tahu akan seperti ini, Mark pasti akan tetap memaksa dengan bagaimana pun caranya.
Mereka berciuman cukup lama, dan sangat intens. Haechan sampai kewalahan menghadapi Mark, mulutnya dijarah dan lidahnya diajak untuk menari bersama. Haechan mendongak, memiringkan kepala mencari posisi ternyaman. Namun dagunya tetap dialiri liur yang entah milik siapa itu, hasil dari pergumulan panas lidah mereka.
"Nghh! Ay-ayaangh... Udaah!" Haechan mendorong bahu milik Mark, memintanya menyudahi ciuman panas mereka.
Dan Mark pun melepaskannya. Merelakan bibir Haechan menjauh dari jangkauannya. Tapi sebagai gantinya, Mark kembali menunduk untuk mencuri banyak kecupan di wajah menggemaskan Haechan.
Mark kecup berkali-kali sampai Haechan keluar erangan protes.
"Aarghhh! Udaah deh, Yang! Udaah!" Protes Haechan.
"Kamu kenapa sih gitu, lap-lap sendok bekas aku? Jijik kamu sama aku?" Tanya Mark kepada Haechan dengan nada sebal dan menuntut.
Haechan terkekeh melihatnya. Kalau Mark seperti ini benar-benar nampak lucu sekali, terasa seperti Mark adalah seseorang yang berusia lebih muda darinya.
"Prank, yaaang! Praank! Abis liat di tiktok rame, jadi cuma prank ya ayaaangkuu! Ehhh! Aaargh! Hahahah!" Haechan tertawa ketika badannya terhuyung ke belakang, lalu berakhirlah ia ditindih oleh Mark.
"Tega banget kamu. Gak suka prank-prank gitu, abis ini jangan dan gak ada lagi prank-prank gitu." Mark memberi peringatan kepada kekasihnya.
Haechan pura-pura memasang wajah serius, seakan ia tengah memikirkan kalimat Mark untuk ia perhitungkan.
"Ngapain sih masih dipikir?" Mark bergerak untuk menggigit bibir Haechan, gemas sekali dengan tingkah sang kekasih.
"Hahahaha! Iya-iya!!"
***
