Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-09-06
Words:
4,368
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
23
Bookmarks:
1
Hits:
184

baby, before it's too late (what about now?)

Summary:

Sepertinya semesta memang berkonspirasi; di antara urusan penelitian yang bertele-tele dan memakan lebih banyak waktu dari targetnya, serta seekor burung karakara yang nyaris mati di pinggir jalan, Chasca berujung berkenalan dengan seorang dokter hewan di klinik yang selalu tutup di tengah-tengah kota Rio.

Di antara krisis perempat-hidup dan penelitian di hutan belantara, setidaknya ada kesempatan-kesempatan kecil yang berharga.

Notes:

genshin impact © hoyoverse.
penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.

judul diambil dari lirik lagu milik daughtry (yang juga kemudian dinyanyikan oleh westlife): what about now.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Chasca agak takut frase yang sering terdengar di orang-orang dewasa yang terjebak dalam kehidupan monoton sepertinya, hidup menyatu dengan pekerjaan, memang benar-benar sedang terjadi. Ia berdiri mematung, menghela napas, rencananya datang ke kota untuk menyegarkan kepala dan memberi jeda untuk dirinya sejenak tetap diusik; ia tetap dihampiri oleh sesuatu yang mengingatkannya lagi pada pengamatan berulang-ulang yang terkadang menjemukan di tengah belantara itu.

Tapi, mana mungkin ia membiarkan karakara malang ini terkapar di tepi jalan? Sekarat dengan satu sayap terentang kaku dan darah pada tubuhnya, jika orang lain yang menemukannya besar kemungkinan mereka hanya akan mengabaikannya begitu saja. Beauty privilege juga berlaku pada satwa: jika mereka tidak terlihat lucu, semakin kecil kemungkinan orang-orang bersedia meluangkan waktu untuk peduli pada mereka. Terlebih untuk tipikal satwa predator yang berwajah garang, mungkin orang-orang akan menganggapnya sebatas karma atau hukum alam.

Chasca pun berlutut, memeriksa karakara berjambul tersebut, memeriksa luka luar selain yang terlihat. Tampaknya burung ini menjadi korban ‘tabrak lari’, dengan sayap yang patah dan luka robek pada tubuh area dada. Ia secara spesifik bukan seorang dokter hewan, tetapi pekerjaannya tak jauh-jauh dari anatomi hewan terutama burung dan ini bukan hal asing untuknya.

Sekarang, bagaimana caranya? Ia tidak membawa peralatan kerjanya, dan juga penginapan yang ia sewa tidak mungkin mengizinkannya membawa hewan terluka. Chasca mencoba peruntungan dengan panduan dari peta daring, mencari klinik hewan terdekat, dan mengabaikan dengan pahit riwayat pencarian “kafe terdekat” yang muncul sebelum ia mengetikkan tujuannya.

Peta berkata bahwa lima ratus meter dari posisinya sekarang ada sebuah klinik milik dokter hewan dengan peringkat cukup baik (empat koma delapan), Chasca hampir saja langsung menjatuhkan pilihannya pada tempat tersebut sebelum membaca ulasan teratasnya:

“Direkomendasikan oleh temanku, tapi sayang sekali selalu tutup setiap kali aku datang. Di kali ketiga baru mereka buka, tapi hanya dilayani oleh asistennya :(“

Klinik lain, ketika Chasca mencari lebih jauh, terletak empat kilometer dari sini. Mungkin ia harus naik taksi, karena ia tidak terlalu familier dengan kota Rio meski sudah berulang kali datang ke sini (berbeda jika ia diminta untuk berkeliling trek di hutan, itu bisa dilakukannya sambil menutup mata). Namun tidak ada salahnya mencoba, selama karakara ini masih bernapas.

 


 

Dari luar, klinik itu tampaknya tidak buruk. Tirai di kaca depan kliniknya terbuka, tetapi plang keterangan bertuliskan TUTUP. Chasca menengok melalui jendela tersebut, dan melihat sekelebat bayangan di balik bilik. Ia pun nekat menekan bel, menyiapkan alasan bahwa ini adalah kejadian gawat darurat yang harus ditangani. Ia bukan orang awam, ia sudah siap untuk menjadi defensif.

Kali kelima dia menekan bel, kelebat bayangan tersebut keluar dari bilik dan mendekat ke pintu. Chasca mengecek keadaan karakara tersebut sebelum pintu terbuka hanya agar tidak mempermalukan dirinya sendiri—bagaimana kalau dia mati duluan sementara Chasca memaksa pintu ini dibukakan untuknya?

“Mohon maaf, Nona, aku—”

“Fraktur pada radius, dan ruptur di area scapula. Bisakah Anda membuka pelayanan gawat darurat?” sebutnya, sekenanya. Mungkin terdengar konyol dan ia salah membuat asumsi, ia hanya menyebutkan apa yang muncul begitu saja di kepalanya.

Orang itu—Chasca belum bisa menebak apakah dia dokternya atau asisten yang membuat seseorang memberikan bintang dua pada klinik ini—memandang Chasca bergantian dengan karakara di tangannya. Dia kemudian mengamati Chasca lekat-lekat, seakan-akan sedang membuat penilaian, dan Chasca mengernyit, memangnya aku yang perlu diasesmen?

Pria di hadapannya kemudian mengangguk. “Silakan masuk.”

Klinik itu sederhana tetapi bersih, tidak banyak sentuhan manis atau penarik minat pelanggan, seperti yang dilakukan oleh dokter-dokter muda untuk membuat klinik mereka menjadi lebih familier dan ramah hewan (dan pemiliknya, tentu saja). Tidak ada seekor pun hewan yang sedang dirawat inap, kandang-kandang di dekat ruang pemeriksaan kosong dan bersih. Wangi seperti kayu-kayuan tercium, Chasca tidak bisa memastikan apakah aroma tersebut berasal dari ruangan atau orang di hadapannya ini sendiri.

Sambil memasang sarung tangannya, pria itu tersenyum-senyum, sebelum menyembunyikannya di balik maskernya. “Sebenarnya aku tidak bermaksud buka hari ini. Cuma mengambil barang-barangku.”

“Maaf mengganggu liburanmu,” sahut Chasca datar. “Pria malang ini butuh bantuan.”

Pria itu mengangkat alis, dan Chasca merasa bangga. Ia yakin salah satu alasan kenapa dokter ini (ia akhirnya yakin bahwa orang inilah dokternya dari caranya berbicara) mau membukakan pintu untuknya, adalah karena dia paham bahwa Chasca bukan orang awam.

“Bukan liburan,” dokter itu memeriksa sayap karakara tersebut. “Aku sudah terlalu banyak libur. Yah, hanya krisis seperempat baya yang terlambat.”

“Krisis tidak pernah datang terlambat,” seloroh Chasca. “Setelah krisis seperempat baya, akan ada krisis paruh baya lagi nanti.”

Tawa pria itu meledak di balik maskernya. “Anda bilang begitu seolah-olah Anda sudah menjalani lima kehidupan sebelumnya, Nona.”

Chasca mendengus sambil menyeringai tipis. “Hanya berdasarkan pengalaman pribadi.”

Pria itu tidak terlalu menanggapinya dengan serius. Dia memeriksa luka robek, kemudian membuat asesmen awal dan mencatat hasilnya pada selembar kertas di sudut meja. Chasca mengamati gerak-geriknya, caranya memeriksa, dan bekas luka yang besar pada lengan pria itu, sampai-sampai ia berpikir barangkali dokter ini pernah mencoba menyembuhkan beruang hingga mendapat luka dengan bekas sebesar itu.

“Apakah ada kemungkinan aku bisa membawanya untuk perjalanan jarak jauh? Aku akan merawatnya sendiri kalau kau ingin liburan.”

“Anda juga dokter?”

Chasca menggeleng. “Tapi aku memahami tentang burung.”

“Ornitolog?”

Chasca tersenyum. “Aku bisa melakukan beberapa hal jika kau memberikan instruksi khusus.”

“Aku tidak ingin mengambil risiko.” Dia menggeleng. “Perjalanannya sejauh apa?”

“Ke area sekitar perbatasan Roraima dan Amazonas.”

Si dokter mengangguk-angguk untuk alasan yang tak bisa Chasca pahami. “Sangat dekat, ya. Apa Anda harus segera kembali?”

“Tidak juga. Tergantung urusan di kampus. Hanya antisipasi, kalau kau memang akan libur dan aku harus merawatnya.”

“Ah, begitu. Saya akan berusaha sebaik mungkin, Nona. Semoga saja tidak ada masalah yang begitu besar. Untung saja Anda menemukannya.”

Chasca mengerling ke arah karakara tersebut. Matanya tertutup. Bagi orang awam yang tak terlalu peduli, mudah untuk menganggapnya sudah mati.

“Untuk identitas dan keperluan catatan rekam medis, sebaiknya kutulis siapa namanya.”

Chasca mengerjap. Nama, pikirnya. Siapa yang kepikiran? Ia membuka mulut dan mengeluarkan apa yang muncul pertama kali di kepalanya, dan si dokter juga tampaknya melakukan hal serupa,

“Bung Kara?” ucap mereka bersamaan. Kemudian, mereka sama-sama tertawa.

 


 

Chasca tidak berharap banyak. Bisa saja Bung Kara tidak selamat karena keadaannya cukup parah, dan dokter itu tak kunjung menghubunginya, meskipun ia telah meninggalkan nomor ponselnya dan jaminan bahwa seluruh tagihan untuk perawatan Bung Kara akan ia tanggung. Lagipula, perhatiannya terbagi. Urusannya di kampus tak kunjung selesai, orang yang harus ia temui langsung tak pernah berada di waktu yang sama dengan kedatangannya, sementara itu fasilitas penelitian nun jauh di sana butuh beberapa peralatan pengganti dan piranti lainnya memerlukan kalibrasi. Ia terpaksa memindahkan penginapannya ke tempat sewa bulanan yang lebih murah karena ia tidak tahu sampai kapan ia akan berada di Rio.

Sampai akhirnya di suatu pertengahan pekan, sebelum Chasca sempat berpikir bahwa dokter tersebut mengabaikan Bung Kara dan melupakan janjinya, dia mengirimi Chasca pesan:

Bung Kara sudah membaik. Sepertinya dia tidak sabar untuk terbang.

 


 

Chasca memutuskan untuk mampir ke klinik setelah membuat janji. Kebetulan, jawab si dokter, aku sedang buka hari ini. Mood pria itu tampaknya sama dengan cuaca pada peralihan musim di area tropis: tak bisa ditebak. Sepulangnya dari kampus (yang tak juga membuat urusannya beres di Rio), Chasca berjalan kaki di bawah langit yang mendung pada tengah hari itu. Total hari ini, ditambah dengan berjalan menuju tempat tersebut, empat belas ribu langkah; rekor terbarunya selama berada di Rio.

“Anda tampaknya baru berjalan jauh,” komentar dokter itu sambil memimpin langkah menuju bagian dalam, tempat kandang-kandang perawatan ditempatkan.

“Olahraga,” jawab Chasca singkat, sambil mengamati sekeliling. Tidak ada hewan lain yang sedang dirawat, ia mencoba membuat pertaruhan dengan dirinya sendiri kira-kira kapan pria ini akan menutup kliniknya secara permanen.

“Perkembangannya cukup bagus. Dia tidak sabar untuk keluar.” Ketika dia membukakan pintu kandangnya, Bung Kara mengepak-ngepakkan sayapnya yang sehat dengan bersemangat, dan melenggak-lenggokkan kepala ke arah Chasca—seolah-olah mengenali malaikat penolongnya. “Bekas jahitannya sembuh dengan cepat. Pria ini tangguh. Aku bertaruh hanya butuh waktu sebentar sampai sayapnya bisa berfungsi dengan baik.”

“Tampaknya tidak akan lama.”

“Semoga saja.” Pria itu mengangguk optimis.

“Agar kau bisa cepat-cepat meliburkan klinik lagi?”

Dia terbahak-bahak. “Kali ini, mungkin libur permanen.”

Chasca menahan tawanya menjadi dengusan yang malah terdengar sinis. “Kau mau pensiun dini?”

Sang dokter mengembalikan Bung Kara ke dalam kandang lagi. “Pensiun … mungkin tidak. Aku hanya ingin mencari bagian lain dari diriku yang belum pernah kukenali saja.” Dia mengangkat bahu, tampak bimbang. “Klinik ini akan kupinjamkan pada juniorku. Kebetulan, bangunan ini atas namaku, jadi dia bisa menyewa setengah harga, dan jika ingin tetap memakai nama klinik yang sama, kami bisa berkongsi kalau aku berubah pikiran di tengah jalan.”

“Kedengarannya seperti petualangan mencari jati diri yang baru.”

“Yah, begitulah yang terjadi kalau keinginan hati nurani berbeda dengan harapan orangtua.”

Chasca menelengkan kepala. “Oh.”

Dokter itu mendengus ringan. “Sori, malah bicara hal personal.”

“Kita semua kadang begitu.” Chasca mengamati pria itu lamat-lamat. Jasnya bersih, jelas sangat jarang dipakai. Ada sesuatu di mata pria itu yang memantik ide lain di dalam kepalanya. “Kau ingin bertualang, rupanya,” pancingnya.

“Terbaca jelas?” dia tertawa, “benar kata teman-temanku. Aku buku yang terbuka.”

“Kau bahkan membiarkan halamannya lepas dari jilidnya.”

“Hmm, Nona, sepertinya selera humor kita cocok.”

Chasca tertawa singkat. “Kau ingin sesuatu yang baru, Pak Dokter?”

“Kalau ada yang lebih menarik daripada kehidupan monoton di klinik di tengah-tengah kota, tidak masalah.”

“Kau ingin menyelam ke dalam hutan?”

Dokter itu menoleh cepat, menatap mata Chasca, tampak tak sabar. “Ada penawaran yang menarik?”

“Kami kekurangan orang. Tiga ahli dari Jepang, salah satunya dokter hewan, harus pulang karena berbagai alasan. Ada yang masa studinya sudah selesai, ada yang menikah … jadi kami butuh orang baru untuk menunjang penelitian kami. Terutama penelitianku.”

“Hutan,” dokter itu mengangguk-angguk, memperlihatkan pilihannya tanpa perlindungan apapun, “aku selalu suka berada di tengah-tengah hutan. Kehidupan kota membuatku jenuh. Terakhir kali aku menjelajah,” dia mengawang-awang, terlihat sendu dengan sedikit dibuat-buat, “adalah sebelum aku mendapatkan lisensi dokterku.”

“Kau hanya boleh keluar seminggu sekali, sayangnya.”

“Tidak masalah. Aku bisa berburu.” Dia lantas tergelak.

“Jadi, tampaknya kau setuju.”

“Tentu saja.” Dokter itu tersenyum lebar. “Aku buku yang terbuka. Aku sudah memperlihatkan jawabannya sejak tadi.”

Chasca pun mengulurkan tangan. “Aku akan merekomendasikanmu kepada atasanku dan yayasan donatur kami. Akan segera kukabari setelah ini. Yah, semoga saja saat Bung Kara sembuh, sudah ada jawabannya.”

Dokter tersebut menyambut uluran tangan Chasca. “Aku menantikannya.”

“Aku menunggu kerja sama denganmu, Dokter—”

“Ifa.” Dia mengangguk. “Panggil saja Ifa.”

Perempuan itu tersenyum. “Chasca.”

 


 

Ada banyak sekali pesan penting yang masuk secara beruntun pagi itu, saat ia masih belum mengumpulkan seluruh nyawanya setelah insomnia kambuhan (terima kasih pada tiga gelas kopi double shot dua hari yang lalu). Ia baru memutuskan untuk membuka satu per satu saat ia sudah duduk di toko roti yang menjadi lokasi kunjungan rutin hariannya, sesudah menikmati roti hangat dan susu panas agar kepalanya tidak berdenyut-denyut lagi karena pesan-pesan yang tidak terduga.

Kami akan mengirimkan tim teknisi awal bulan depan, begitu kata pihak kampus yang dicarinya selama berhari-hari. Kami akan memproses izin dan surat penugasan, begitu pesan dari pihak kampus yang lain, yang berhubungan dengan penelitiannya, kirimkan data-datanya pada yayasan sponsor untuk pendanaan dan lain-lain, begitu tambahan dari pesan tersebut, yang berjeda sekitar lima belas menit dari pesan pertama. Lalu, pesan terakhir yang akhirnya membuatnya beranjak dari tempat tersebut dan segera memulai aktivitas jalan kaki hariannya:

Sepertinya Bung Kara sudah siap terbang hari ini.

 


 

Mereka melepasliarkan Bung Kara tak jauh dari tepian kota, di antara pepohonan yang sepertinya masih bagian dari halaman belakang rumah warga yang tak dipagari. Chasca merasakan sentimen yang agak janggal ketika burung itu terbang jauh dan tak lagi kembali—seperti melepaskan sebuah cerita yang terlalu singkat, yang tak pernah selesai; seharusnya masih bisa berlanjut seandainya ia yang terlibat penuh dalam merawatnya. Di sisi lain, pria di sisinya melepaskan Bung Kara dengan kerutan pada kening seperti orang yang sedang bersedih, tetapi bibirnya tersenyum. Komplikasi emosi yang membuat Chasca mereka-reka banyak kemungkinan.

Ifa menatapnya, dan dia membalas tatapan itu dengan debar yang membuatnya mempertanyakan dirinya sendiri. Ifa mengangkat alis, membuat sebuah pertanyaan tanpa kata. Chasca pun mengangguk. “Apa kau sudah siap berangkat ke belantara?”

 


 

Surat untuk perekrutan Ifa secara resmi baru sampai ke tangan Chasca dua hari sebelum hari kepulangannya ke lokasi penelitian. Satu menit setelah ia mengirimkan foto surat itu, Ifa langsung membalasnya,

Bisa kita bertemu? :) Aku perlu beberapa petunjuk sebelum berangkat.

Chasca sudah memberi tahu gambaran besar tentang pekerjaannya dan timnya: penelitian jangka panjang di bidang ornitologi. Ia dan seorang rekan peneliti lainnya memiliki topik berbeda, tetapi area penelitian mereka sama, sehingga mereka bergabung di satu rumah pengamatan yang sama. Dua orang lokal membantu mereka di sana untuk berbagai keperluan. Seharusnya ada tiga orang lainnya, dua peneliti yang topiknya bersinggungan dengan Chasca, tetapi mereka sudah pulang ke negaranya, berikut dengan dokter hewan yang biasanya berada di sana untuk pekerjaan semacam internship, tetapi diperbolehkan jika sambil melakukan penelitian mereka sendiri.

Ifa mengirimkan lokasi yang dia inginkan seraya mengatakan, tenang saja, aku yang bayar, dan begitu Chasca mengeceknya, tempat itu adalah sebuah kafe sederhana dengan roti-roti yang enak. Begitu mudah Chasca menyerah dan melupakan draf artikel yang sedang ingin dibuatnya untuk pergi ke tempat tersebut.

Ifa sudah menunggunya di salah satu sudut, dengan sepiring croissant dan kopi karamel. Tempat duduk tersebut tepat berada di samping jendela kaca besar yang memperlihatkan halaman samping kafe yang penuh dengan pot-pot bunga, mulai dari yang ditaruh di rak, lantai, hingga yang digantung. Ifa memangku sebuah gitar, yang Chasca duga adalah bagian dari properti hiasan kafe, karena ada beberapa gitar lain di sekitar ruangan: digantung di dinding dekat kasir, dan satu lagi disandarkan di dinding yang berseberangan dengan tempat duduk Ifa.

“Bisa main gitar?” Chasca menarik kursi di hadapan Ifa.

“Aku pernah membuat band … sebelum kuliah sebagai dokter hewan.”

Chasca mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah meja. “Hidupmu menarik, karena kelihatannya ada banyak hal yang berakhir dan dimulai saat kau,” ia membuat tanda kutip imajiner di udara dengan jarinya, “jadi dokter. Seolah-olah fase itu adalah akhir sekaligus awal dari kehidupan yang baru.”

Ifa tertawa kecil, kemudian menyesap kopinya. “Karena memang begitu. Aku harus merelakan banyak hal karena permintaan orangtuaku.”

“Kita semua punya fase menjadi pemberontak. Kau tidak melakukannya?”

“Aku hanya mencoba realistis sejak usia delapan belas. Tidak terasa sudah tiga belas tahun kulakukan.” Dia tertawa renyah. “Walaupun sampai sekarang aku berpikir, ada banyak hal yang seharusnya terjadi, dan ada banyak ‘seandainya’. Tapi aku sudah berdamai dengan banyak hal.”

“Kau pergi bersamaku bukan untuk menjadi seseorang yang baru. Kau tetap menjadi dokter hewan.”

“Tapi aku mencoba sesuatu yang ingin sekali kucoba.” Sinar matanya begitu optimis, Chasca teringat pada burung-burung yang bersiap untuk terbang, merentangkan sayapnya yang agung, dan siap menjelajah tanpa kenal batasan. “Aku tidak melepaskan janji hidup-matiku pada kedua orangtuaku, tetapi aku menjadi diriku sendiri saat ini.”

Chasca menatap kopi hitamnya yang baru saja disuguhkan pelayan. Pekat, tak memperlihatkan dasarnya; seperti hidup yang tak tertebak. Usia seperti mereka bukanlah tujuan kedewasaan—ini hanyalah babak-babak yang sama seperti tahapan-tahapan sebelumnya. Penemuan diri sendiri, hal-hal baru yang tak pernah dicoba, menghidupkan kembali mimpi-mimpi yang pernah mati. “Kau punya gitar di rumah?” Chasca mengedikkan dagu ke arah gitar di pangkuan Ifa.

“Punya.”

“Bawa gitarmu. Aku butuh guru untuk mengisi waktu.”

Lalu, mereka sama-sama tertawa.

 


 

Salah satu studi yang dibaca Chasca baru-baru ini memaparkan bukti bahwa burung-burung bangkai cenderung bertingkah seperti manusia dewasa yang banyak ditemui di perkotaan: lingkaran sosial mereka mengecil. Mereka tidak begitu banyak berinteraksi seperti burung-burung yang lebih muda. Plastisitas perilaku sekarang menjadi pola yang menarik untuk diamati di kalangan para burung, menarik pula karena persamaannya dengan sikap dan perilaku manusia.

Lingkaran pertemanannya menyempit meski kolega-kolega bertambah seiring jaringan yang meluas karena pekerjaannya. Ada banyak orang yang ia kenal, tetapi yang ia akrabi semakin sedikit. Ia membagi rahasianya dengan lebih sedikit orang, tetapi membagikan ilmunya pada lebih banyak orang. Apalagi setelah satu tahun lebih menjalani kehidupan di hutan, ia mulai merasa harus memperluas jaringan koleganya ke spesies yang berbeda.

“Terakhir kali aku punya teman akrab,” Ifa memetik-metik senar gitarnya tanpa irama yang teratur. “Adalah saat aku—”

“Sebelum aku menjadi dokter hewan?” Chasca menyeruput kopi panas dengan santai, mengerling dari sudut matanya. Ifa tertawa dan ia menyeringai tipis. Sebelum pria itu sempat membuat alasan, Chasca menambahkan, “Hidupmu selalu bisa ditebak di batas-batas yang sama. Sepertinya kau memang terlahir kembali setelah fase itu.”

“Maafkan aku. Kadang-kadang hidup kita memang berubah hanya karena satu kalimat pengubah nasib.”

“Bagimu, memangnya satu kalimat saja?”

“Tidak hanya satu, sebenarnya. Tapi kesimpulannya bisa dirangkum dalam satu kalimat.”

Chasca tidak perlu menebak apa kalimatnya. Mudah untuk memahami ketika seluruh halaman yang ingin ditampilkan Ifa sudah ia baca seluruhnya. Ifa pun tampaknya tak begitu memikirkannya lagi, dia memetik gitarnya dan melanjutkan nyanyiannya. Sebuah lagu dengan bahasa spanyol yang mengingatkan Chasca pada masa-masa telenovela mendunia, dan ibunya adalah salah satu penggemarnya. Sebuah serial yang berasal dari studio milik keluarganya di Peru sempat mendunia, membuat mereka meraup keuntungan besar mendadak.

Ifa tidak sulit beradaptasi. Dia senang memasak dan bangun pagi-pagi sekali untuk mengamati burung-burung dari bagian belakang rumah penelitian. Satu kali dia pernah membuat enchilada yang rasanya tidak pernah Chasca temukan di manapun, dan Chasca pun berkelakar sebaiknya pria itu menjual enchilada keliling dengan truk saja jika proyek penelitian ini selesai.

“Sudah cukup aku membelot dengan meninggalkan klinikku, sebaiknya aku tidak perlu menambah masalah hidupku,” balas Ifa.

Suatu sore, Chasca yang baru saja bangun tidur (dua malam sebelumnya, berturut-turut, ia tidak bisa tidur, dan baru bisa terlelap tadi pagi), duduk di teras rumah yang sepi. Rekannya sedang pergi ke dalam hutan untuk pengamatan, dan dua orang lainnya ke kota untuk berbelanja. Awalnya ia mengira Ifa ikut tim pertama, tetapi ternyata pria itu muncul dari pekarangan samping saat Chasca sedang mencoba-coba gitar milik Ifa sambil duduk di atas pagar rendah teras.

“Kukira kau masuk ke hutan.”

Ifa mengipasi dirinya dengan topi. Kaos tipisnya menjadi seperti transparan karena basah. “Aku melihat kadal yang menarik masuk ke arah sana. Aku mencoba mengejarnya.”

“Kadal itu mungkin takut dokter,” gurau Chasca sambil menekan senar untuk kunci dengan kagok.

“Mungkin dia takut disuntik,” tanggap Ifa dengan nada humor yang serupa. Dia beringsut mendekat pada Chasca, kemudian mengoreksi letak jari-jarinya. “Kunci G, kan? Begini.”

Chasca membiarkan Ifa menyentuh jarinya lebih lama, mungkin pria itu beralasan bahwa dia harus membuat Chasca terbiasa sementara Chasca beralasan bahwa ia ingin tahu bagaimana rasanya lagi, setelah sekian lama ia melupakan urusan perasaan bertahun-tahun belakangan.

Chasca mencoba memetik senar. Ifa mengangguk. Chasca membuat irama yang asal-asalan, dan Ifa pun tertawa. “Apa yang ingin kau mainkan?”

“Tidak ada. Aku menikmati lagu-lagu tapi aku tidak menguasai instrumen apapun.”

Ifa memberi isyarat untuk meminta gitarnya kembali. Chasca menggeleng, dan Ifa pun tertawa. Dia mengerti, dan merapat semakin dekat pada Chasca, menempatkan jari-jari wanita itu di posisi yang tepat, dan membantu memetikkan senarnya. Chasca mengangkat alis, menebak lagu yang sedang berusaha dimainkan Ifa.

“Mmhm, ya, begitu,” Ifa mengangguk saat Chasca mengulangi apa yang diajarkannya. Selesai bagian tersebut, Ifa melanjutkannya dengan sepotong irama lanjutan lainnya. Chasca mengikutinya, meskipun harus mengulanginya beberapa kali sampai akhirnya sama persis dengan yang diajarkan Ifa.

Chasca akhirnya mengingat lagu itu, dan bisa mengulanginya lagi dari awal begitu mengingat liriknya. “If You Ever Want to Be in Love?” ia memastikan. “James Bay?”

Ifa mengiyakan dengan senyuman.

 


 

Chasca menjelaskan penelitiannya pada Ifa, satu fakta per hari. Bahwa ia dan rekannya sama-sama meneliti persebaran burung-burung yang berada di bawah klasifikasi ordo Accipitriformes, para unggas pemburu. Rekannya meneliti tentang alap-alap, sementara dirinya berfokus pada burung bangkai. Burung bangkai banyak berubah pada dekade-dekade belakangan, katanya, karena kehidupan manusia juga mengubah kehidupan burung dan cara berburu mereka. Burung bangkai sudah sering ditemui di daerah padat penduduk dan memakan hasil buangan manusia, dan penelitian mulai berfokus pada aspek antropogenik dan kehidupan burung bangkai—sementara dirinya ingin mengetahui pola perilaku, persebaran, dan hal-hal alamiah yang masih bertahan dari spesies yang tidak melakukan migrasi ke kehidupan urban.

“Kita adalah penghuni yang baru,” kutip Chasca pada suatu sore, setelah mereka menjelajah bagian pekarangan sebelah utara, dan lanjut menjelajah sampai ke hutan dan baru kembali setelah hari mulai gelap, “tapi kita mengubah bumi dengan cara yang drastis, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Bumi memang selalu berubah, bahkan dengan cara-cara yang ekstrem, tetapi tidak pernah ada spesies punya kapasitas otak seperti manusia, dan membuat berbagai perubahan besar, yang seringkali berbahaya, pada kehidupan yang bahkan sudah pernah ada sebelum kita.”

Ifa menyimaknya sambil menatap matanya, dan Chasca berharap ia tidak kehabisan kata-kata. Sebagai orang yang sering berbicara di depan umum dan membawa hal-hal baru dalam perkataannya, ia sudah terbiasa dengan tatapan ingin tahu dan “ayo katakan lagi” dari orang-orang yang ada di sekitarnya, tetapi kali ini dirinyalah yang berharap, ayo tatap aku begitu lagi.

Ifa mendahului langkah Chasca di jalan setapak, menyingkirkan ranting patah yang melintang di tengah jalur. “Aku pernah ikut perjalanan temanku ke sebuah pulau. Awalnya kami hanya berlibur, tapi aku menemukan seekor penyu yang bentuk lehernya berubah karena dia bertahun-tahun tercekik sampah plastik.”

“Dan kita berharap kaum kitalah yang akan menyelamatkan semuanya?” Chasca tertawa kecil. “Maaf, tapi aku orangnya skeptis.”

Ifa berhenti sebentar, menemukan rumput-rumput liar dengan bunga putih yang cantik di tepian jalan setapak. Dia pun memetik bunga tersebut, yang bertangkai panjang dan tipis, kemudian menggigitnya pada sudut bibirnya. “Tapi kau tetap melakukan semua ini.” Dia menunggu Chasca agar langkah mereka selaras. “Meneliti, menciptakan teori baru, merelakan waktumu untuk menyumbangkan ilmu pada kemanusiaan yang katamu tidak bisa kau harapkan.”

Chasca tersenyum ringan. “Orang-orang masa lampau, meskipun akhirnya peradabannya runtuh, meninggalkan banyak prasasti. Pada akhirnya kita tahu mengapa mereka runtuh.”

“Kau sedang membuat prasastimu sendiri.” Ifa mengangguk-angguk. “Menarik.”

“Ini hanya balok-balok kecil untuk piramida yang besar. Aku tidak yakin apa yang kulakukan bisa mendatangkan banyak perubahan—tapi setidaknya, aku tidak hanya duduk diam menyaksikan perubahan itu.”

“Pada akhirnya, semua dilakukan untuk mengisi masa dewasa kita, kan?”

Chasca mengangguk. “Karena selalu ada hal baru untuk ditemukan, meskipun kita sudah berusia tiga puluh, empat puluh, lima puluh, dan batasnya hanya kematian.”

Ifa mengerling ke arahnya. Chasca membalasnya dengan senyuman yang mencapai matanya.

 


 

Kali berikutnya mereka keluar ke kota, kali ini Brasilia, adalah untuk memenuhi undangan perjamuan para profesor dan ilmuwan bidang ornitologi se-Amerika Selatan. Sebenarnya hanya Chasca dan rekan penelitinya yang diundang (yang tidak bisa datang karena sedang menghadiri simposium di Kanada), tetapi ada satu slot untuk seorang ‘partner’.

“Kau bukan orang awam,” Chasca meyakinkannya. “Kau akan menemukan banyak hal menarik di sana.”

Perjamuan itu adalah konferensi yang dirangkap dengan acara-acara non formal seperti temu alumni, reuni, pembicaraan ringan di antara hidangan-hidangan makan malam yang disuguhkan berlapis-lapis sehingga tak ada yang menyadari bahwa malam sudah semakin tinggi, dan meski Chasca mengalami malam yang menyenangkan dengan senior-senior yang lama tidak ditemuinya, atau orang-orang baru untuk memperluas koneksi dan mendapatkan kontak-kontak yang berguna, ia tetap membutuhkan udara segar.

Ia keluar dari ballroom hotel tersebut, menuju balkon yang menghadap pekarangan samping hotel yang dihiasi oleh lampu-lampu kecil di atas pohon-pohon palem dan rumpun-rumpun peony yang baru setengah mekar. Musik klasik yang diputar dari pengeras suara terdengar hingga ke balkon, bersama dengan angin sejuk yang membuai, malah membuat Chasca mengantuk. Ifa, yang sebelumnya berada di antara para profesor yang ternyata salah satunya adalah pembimbingnya dahulu, tak lama kemudian menyusulnya.

“Kukira kau kembali ke kamarmu.”

Chasca menyentakkan kepalanya untuk meregangkan sendi lehernya. “Maunya begitu. Tapi,” ia mengedikkan dagu, “lagu ini terlalu sayang untuk dilewatkan.”

Lagu klasik itu membuat Ifa turut berdendang pelan, mengikuti irama. Chasca mengetuk-ngetukkan kakinya, maju dan mundur seperti seorang penari. Ifa mengangkat alis. “Kau bisa menari?”

“Aku pernah belajar Marinera.”

“Ah, begitu.”

“Nenekku lihai menari Huayno. Aku banyak belajar darinya.”

“Seingatku, Marinera adalah tarian berpasangan?” Ifa pun mengulurkan tangan sembari membungkukkan tubuhnya, persis seperti seorang gentleman yang paham betul sikap ala bangsawan.

Chasca tertawa. “Tidak mungkin dilakukan dengan musik seperti ini.”

“Tapi kita masih bisa melakukan yang lain.”

Chasca sekali lagi bertanya lewat tatapan, dan Ifa bergeming. Wanita itu akhirnya menyambut tangan Ifa untuk sebuah dansa tanpa nama, ringan mengikuti irama, dan Chasca berusaha keras untuk tidak menginjak sepatu Ifa yang mengkilat.

Napas Ifa terlalu dekat. Kehangatan wajahnya terlalu dekat. Kata-katanya terlalu lembut dan menghanyutkan, terlalu rapat jarak di antara mereka sehingga komentar-komentar singkat Ifa seperti soal rambut Chasca yang lembut (dia mencuri-curi sentuhan yang sulit diprediksi Chasca), atau soal parfumnya yang wangi seperti bunga yang mereka rawat di rumah pengamatan, seakan-akan langsung masuk ke benak Chasca.

Ini semua terlalu berbahaya.

Apa, sesungguhnya, batas-batas yang membuat seorang manusia menyadari bahwa inilah saatnya atau ini bukan saatnya? Chasca, di antara pengalaman-pengalaman membuat hipotesis dan menyimpulkannya, memahami bahwa tak pernah ada ya dan tidak yang benar-benar pasti dan mutlak. Semua hanya soal kapan melanjutkan, meskipun seluruh variabelnya tidak pernah pasti, atau meragukan ketika semua variabelnya terlalu meyakinkan.

“Hei,” bisik Chasca, menggenggam pundak Ifa erat-erat dalam dansa mereka. “Kapan kau tahu bahwa kau membuat keputusan yang benar dalam hidup?”

Entah hanya di pikirannya, atau memang bibir Ifa semakin dekat padanya? Tawa renyahnya begitu ringan, bagai angin lembut. “Ketika aku sudah berdamai dengan banyak hal di masa laluku.”

Lalu, semuanya terjadi begitu saja: kehangatan dan kelembutan itu diberikan padanya—bibir ke bibir, tanpa kata, tanpa penjelasan, tetapi Chasca memahami bahwa mereka tidak memerlukan semua itu. Langkah irama tarian mereka selaras, dan tak perlu ada tanda tanya.

 


 

Burung bangkai, kutip Chasca, adalah pahlawan yang tak diakui. Mereka terlihat menjijikkan, ganas, dan ditakuti sebagai sumber kuman dan penyakit karena mangsanya adalah bangkai-bangkai yang kotor. Dunia jarang berpihak pada hal-hal yang tidak indah. Kenapa, dunia selalu mengutamakan yang indah, dan jarang memberi cinta pada hal-hal yang tak menarik? Padahal, burung bangkai memangsa daging-daging yang membusuk untuk menelan serta zat-zat kimiawi perusak lapisan atmosfer pada mangsa-mangsa tersebut.

“Karena cinta yang sesungguhnya datang pada mereka yang tak hanya melihat.” Ifa menuangkan air panas dengan hati-hati ke bubuk kopi yang sudah menunggu di penyaring. “Mereka yang mendengar, mengamati, mencari tahu, membaca ….” Dia tertawa kecil. “Sulit sekali mencari seseorang yang jatuh cinta pada burung bangkai seperti kau.”

“Karena aku tahu apa yang mereka kerjakan.” Chasca mengamati tetes-tetes kopi yang perlahan mengisi dasar gelas. “Dan apa yang mereka bawa untuk dunia.”

“Hmmm.” Ifa mengangguk, mengerling mencuri pandang.

Di luar sana, mendung telah pecah menjadi hujan. Kilat menyambar di antara kanopi pepohonan, dan di kejauhan, petir sahut-menyahut. Chasca menyandarkan kepalanya pada pundak Ifa. “Mencintai memang menyenangkan kalau kita sudah tahu lebih banyak.”

“Tapi aku bukan burung bangkai, kan?”

Chasca hampir tersedak menahan tawa. “Tapi burung bangkai tidak berarti buruk buatku.” Dia hanya beranjak dari bahu Ifa ketika kopi itu disuguhkan padanya, ia menyesapnya dengan penuh perasaan. “Kau belum pernah cerita padaku bangsa aves favoritmu.”

Ifa menatap mata Chasca lekat-lekat, dan dia tersenyum, hampir memaksa wanita itu untuk mengulangi pertanyaannya lagi. Di gerakan bibirnya yang lembut dan lagi-lagi hampir memaksa Chasca untuk melakukan hal yang lain, dia menjawab, “Karakara.”

Notes:

a/n: trivia yang nggak penting-penting amat: setting cerita ini masih berada di satu universe yang sama dengan fanfic lamaku di fandom bola voli. intinya sama, tentang penelitian burung. dan tema cerita ini sangat terinspirasi oleh artikel di majalan natgeo usa edisi juli 2025 berjudul "unloved animals" (yang juga terbit di majalah natgeo indonesia pada bulan yang sama dengan judul "satwa-satwa tanpa cinta"). sila dibaca, ada kok artikel daringnya.