Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-09-06
Words:
1,153
Chapters:
1/1
Kudos:
9
Hits:
70

Perempuan yang Menari di Bawah Rembulan

Summary:

Surgaku bukanlah padang rumput dan hangat sinar matahari lagi, Sua.

Work Text:

Aku selalu membenci cermin. Bahkan bayangan di permukaan air sumur pun terasa seperti ejekan sebab setiap kali aku menatapnya, aku melihat siluet yang tidak lagi manusia. Rambut panjangku berwarna merah muda, yang dianggap desa sebagai tanda kutukan dan mata yang terlalu tajam, terlalu asing. Mereka bilang aku penyihir, pengantin iblis, pemanggil maut, wanita sundal, pemintal kegelapan. Mungkin mereka benar atau mungkin mereka hanya butuh alasan untuk menyalakan api di antara minyak yang berceceran di tanah untuk menjaga mereka supaya tetap hangat dengan harga menyakiti manusia lain.

Namun di balik semua bisikan kebencian itu, ada sepasang mata gelap yang menatapku tanpa gentar.

Sua.

Ia datang pertama kali ketika hitam mewarnai langit, rambut pendeknya basah oleh kabut hutan. Aku ingat suaranya bergetar saat menyapaku, tapi bukan karena takut. Ada sesuatu di balik nada bicaranya. Itu adalah rasa ingin tahu dan sebuah cahaya di tengah peliknya hidup.

“Apakah kau benar-benar seorang penyihir?” tanyanya malam itu.

Aku tertawa lirih, tawa yang mungkin terdengar seperti lolongan serigala. “Jika aku berkata ya, apakah kau akan lari?”

Sua hanya menatapku lama, sebelum bibirnya melengkung samar. “Tidak. Aku ingin melihatmu.”

Begitulah awal dari kematian kami.

 

✧

 

Sua sering kembali. Diam-diam, menyelinap seperti bayangan. Para gadis desa lain akan mengikat rambut mereka dengan pita putih, sementara Sua hanya membiarkan rambut hitam pendeknya berantakan diterpa angin, menari-nari dengan angin yang jadi iringan melodi.

Kami duduk di depan perapian kecil, aku menunjukkan ramuan yang bisa menyembuhkan demam, atau lilin yang bisa menyulut mimpi buruk. Tapi yang paling ia sukai bukan itu. Yang paling ia sukai adalah ketika aku membacakan mantra kuno sambil menari.

“Itu tarian roh,” kataku. “Dulu, para perempuan di tanah ini menari untuk memanggil bulan.”

Sua menatapku, matanya berkilau seperti dua kolam malam. “Ajari aku.”

Dan aku mengajarinya. Kami menari bersama, langkah kecil di lantai kayu retak, tangan kami saling berpegangan. Di luar ada bulan purnama bergantung seperti lentera abadi menerangi kami di tengah selimut malam. Untuk pertama kalinya aku tidak merasa seperti penyihir terkutuk. Aku hanya seorang perempuan yang menari dengan gadis lain, di bawah cahaya bulan yang lembut.

Dan untuk pertama kalinya pula, seseorang mencium rambut merah mudaku seakan ia adalah hal paling berharga di antara riuhnya samudra. Pipiku memerah dan Sua tertawa dengan merdu layak seorang dewi.

Aku jatuh cinta kepada perempuan yang tidak akan bisa kumiliki.

 

✧

 

Tapi kebahagiaan selalu punya umur pendek dan kemalangan adalah tanggal yang tidak pasti di antara benang takdir.

Suatu pagi, kabar menyebar bahwa ada seorang petani mati mendadak di ladang. Mayatnya pucat, bibirnya membiru, ia tampak seperti korban ilmu hitam. Lalu tanpa bukti, tanpa alasan, orang-orang berteriak satu nama, 

Mizi.

Mereka benar tentang satu hal, yaitu darah sudah ada di tanganku sejak lama. Aku pernah menghukum pria yang mencoba merobek gaunku di pasar, dan tubuhnya kemudian ditemukan kaku di tepi sungai. Itu bukan kebetulan. Aku tahu itu. Dan aku tidak menyesalinya.

Tapi kali ini berbeda. Aku tidak bersalah, tapi tidak ada yang percaya.

Sua tetap datang padaku meski semua mata mengawasinya. “Mereka tak akan berhenti,” katanya, suaranya pecah. “Mizi, kau harus pergi.”

Aku menggeleng. “Ke mana? Dunia ini bukan untuk orang sepertiku. Kecuali kau ikut denganku.”

Ucapanku adalah pengakuan paling egois dan aku berharap Sua meneriakiku bajingan sambil berkata ia tidak akan pergi meninggalkan hidup nyamannya dengan pembawa sial seperti. Alih-alih, Suaku yang cantik dan malang menggenggam tanganku erat. “Aku akan selalu di sisimu.”

Kalimat itu menusuk jantungku lebih dalam daripada belati mana pun.

 

✧

 

Mereka menangkap kami pada malam seminggu setelah kematian si petani bulan itu. Api obor menyalakan jalan, bayangan orang-orang menjelma hantu. Mereka menyeretku keluar dari gubuk, rambut merah mudaku ditarik kasar hingga kulit kepalaku perih.

Dan di sana, di antara teriakan "penyihir! pembawa maut!", aku melihat Sua. Tangannya diikat dan pipinya memar.

“Kenapa dia?” suaraku pecah, lebih tajam daripada mantera apa pun.

Pendeta menatapnya dengan jijik. “Ia muridmu. Ia penyihir juga.”

Aku ingin mengutuk mereka, memanggil badai, merobohkan langit. Tapi ketika mataku bertemu dengan mata Sua, semua sihirku runtuh. Hanya tersisa rasa sakit dan cintaku yang tidak akan membawa kami pergi ke mana-mana, terjebak di pesakitan ini.

 

✧

 

Malam terakhir kami dihabiskan dalam sel batu dingin. Rantai mengikat pergelangan tanganku, tapi tidak bisa memutus jarak antara kami. Sua duduk di sampingku dengan kepala bersandar di bahuku.

“Aku tidak takut,” bisiknya.

Aku menelan tangis. “Kau seharusnya takut. Aku menyeretmu ke neraka ini.”

Sua menggeleng pelan, rambut pendeknya menggelitik kulitku. “Aku memilih ini. Aku memilihmu.”

Sunyi bersemi kecuali detak jantung kami yang saling mengejar. Dalam kesunyian itu, aku membayangkan dunia lain. Dunia di mana kita bisa berjalan di padang rumput, bergenggaman tangan, mencumbu bibir, bukan di jalan menuju tiang eksekusi.

 

✧

 

Esoknya mereka membawa kami ke alun-alun. Tiang kayu menunggu, tali jerat siap. Orang-orang berdesakan, wajah mereka haus akan api. Sudah kubilang, kan? Apapun akan mereka lakukan demi menjaga diri dengan hangat meskipun harganya adalah menyakiti orang lain.

Aku dan Sua diikat berdampingan. Angin membawa bau kayu kering dan minyak tanah.

Sua menoleh padaku, mata gelapnya tak bergeming. “Satu tarian terakhir?”

Aku menutup mata. “Hitunglah.”

“...Satu.” Ia menggenggam tanganku.

“...Dua.” Nafasnya panas di pipiku.

“...Tiga.” Api menyala.

Dan aku bersumpah waktu berhenti.

Jeritan orang-orang lenyap. Api berubah jadi cahaya yang berputar, seperti ribuan kunang-kunang. Di atas kami, bulan turun lebih dekat, putih pucat seperti wajah perawan. Tanah pijakan kami retak dan dari celahnya bermekaran bunga anemon merah, kelopak-kelopaknya basah seperti darah segar. Mungkin ada darah kami di sana, tapi peduli setan.

Aku dan Sua tidak lagi terikat kayu. Kami berada di panggung asing, hanya kami berdua, ditelan cahaya bulan. Sua tersenyum, dan kami mulai menari.

Langkah kami ringan, bayangan kami memanjang. Api tidak membakar kami dan hanya menghangatkan. Jeritan orang-orang berubah jadi musik. Dunia mulai runtuh, tapi kami tetap menari berdua, terkekeh, menggenggam tangan satu sama lain, lalu bercumbu. Tidak ada padang rumput dan hangat cahaya matahari di sini. Tapi surgaku sudah berpindah ke bibir Sua dan mata hitamnya yang membingkai bulan purnama.

Doa terakhirku ada di tarian ini.

Aku tahu tubuh kami sudah hancur di dunia fana. Dagingku gosong, rambut merah mudahku jadi abu, kulit Sua menghitam di bawah api. Kami hanya tersisa tulang belulang. Aku tahu itu. Tapi aku juga tahu sesuatu yang lebih besar bahwa kami punya satu sama lain. Jadi biarlah tulang kami digerogoti anjing atau dikubur dalam-dalam di tanah. Aku tidak peduli. Aku sudah tidak peduli. Aku punya Sua. Suaku yang cantik dan malang sebab terjerembab takdir dengan pemintal kegelapan.

Di bawah cahaya bulan, hanya ada aku dan dia. Dua penyihir, dua perempuan, dua jiwa yang tak diampuni. Tapi cintaku yang tidak membawa kami ke mana-mana adalah pasangan cinta Sua yang akan membawa kami ke bulan.

Dan ketika api menelan kami, aku berbisik di telinganya,

“Surgaku di sini, Sua. Bersamamu.”

 

Mereka berkata Tuhan gagal menyelamatkan kami. Mungkin benar. Tapi kami menemukan surga kami sendiri, di dalam tarian terakhir kami, di bawah bulan yang abadi. Dan di tanah yang gosong ini, anemon merah terus bermekaran menemani kami. Suaku yang terkasih, di kehidupan selanjutnya aku akan menari denganmu di bawah bulan lagi.