Actions

Work Header

Spring in New York

Summary:

Kisah tujuh mahasiswa yang tinggal bersama di sebuah apartemen dekat Columbia.

Masing-masing punya karakter unik, membuat kehidupan bersama mereka penuh keributan, canda tawa, drama, dan persahabatan yang hangat.

Kisah ini melanjutkan perjalanan George dan Max di New York setelah kejadian di Jepang saat liburan musim panas.

Notes:

Bisa baca Summer in Japan nya dulu💞

Chapter 1: spring is coming🌸

Chapter Text

Cahaya pagi musim semi menembus tirai tipis kamar apartemen itu. Sinar keemasan jatuh ke lantai kayu, memantul pelan di dinding putih yang sederhana. Dari jendela yang sedikit terbuka, udara sejuk bercampur aroma bunga dan tanah basah merayap masuk.

George mengerjapkan mata, tubuhnya masih berat di bawah selimut. Suara samar dari luar jendela terdengar jelas. Kicau burung, deru mobil yang mulai ramai di jalan, dan sesekali suara tawa orang yang melintas di trotoar. Di dapur, samar-samar terdengar denting gelas dan suara pintu kulkas dibuka, tanda seseorang di apartemen sudah lebih dulu terbangun.

Ia menghela napas, lalu duduk perlahan di tepi ranjang. Memandang sekilas ke arah Max yang masih bergelung dengan nyaman dalam selimutnya. Pagi musim semi itu sederhana, tapi terasa berbeda, begitu hangat, segar, dan penuh tanda bahwa hari baru benar-benar dimulai.

George turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar. Namun, apartemen empat kamar di lantai lima itu sudah dipenuhi keributan seolah pasar tengah dibuka.

"Siapa yang memakan croissant milikku?!" seru Charles lantang dari dapur. Nada bicaranya terdengar semakin tebal dengan aksen Prancis setiap kali ia marah.

Oscar keluar dari kamar mandi dengan rambut berantakan dan piyama bermotif bebek. "Bukankah itu roti bebas ambil? Aku kira persediaan umum," ucapnya polos.

"Umum kepala kau!" balas Charles sambil menatap tajam, piring kosong masih tergenggam di tangannya.

Oscar berlalu dihadapan Charles begitu saja. Menuju meja makan, mengambil selembar roti tawar, lalu beralih duduk ke sofa.

Carlos, yang sudah rapi dengan kemeja putih, hanya duduk tenang di meja makan dengan koran paginya, menghela napas panjang, "Sejak awal aku sudah mengingatkan, tulislah nama pada tiap makanan. Tetapi tidak seorang pun mendengarkan."

George melangkah ke dapur, berusaha mengabaikan keributan yang sejak pagi sudah menggema di ruang tengah apartemen. Dengan tenang ia menuangkan kopi ke dalam gelas, lalu menyapa Carlos singkat sebelum menyesapnya. Udara musim semi yang segar masuk dari jendela, membuat aroma kopi semakin menenangkan.

Carlos melirik sambil tersenyum. "George, hari ini kau resmi masuk kelas penuh pertama kali, ya? Semangat."

"Ya, terima kasih, Carlos." George membalas dengan senyum tipis, walau jantungnya diam-diam berdegup lebih kencang.

Sebenarnya George sudah tiba di New York sejak Januari. Namun, Max menemaninya melewati masa adaptasi dulu. Dari sekedar mengenal kota, ikut kelas akademik tambahan, sampai konseling kampus. Baru hari ini, akhir Maret, ia benar-benar memulai kelas penuh sebagai mahasiswa seni rupa.

Sebelumnya, George tinggal di apartemen Max dan Yuki yang lama. Tapi karena hampir setiap malam Lando, Oscar, Charles, dan Carlos nongkrong di sana, tempat itu jadi lebih mirip warung kopi 24 jam. Lando dengan ide-idenya yang nyeleneh, Oscar dengan candaan recehnya, Charles yang selalu punya keluhan, dan Carlos yang jadi penyeimbang, semuanya membuat ruangan terasa penuh sesak. Hingga akhirnya Max memutuskan mencari apartemen lebih besar agar mereka semua bisa tinggal bersama.

Kini, apartemen empat kamar ini menjadi rumah mereka.

Tak lama, Max keluar dari kamar sambil mengusap mata. Begitu melihat George di dapur, ia menghampiri, mengecup sekilas bibirnya, lalu ikut menuangkan kopi.

Pintu kamar lain tiba-tiba terbuka dengan keras. Lando muncul dengan pakaian rapi.

"Kenapa pagi-pagi begini sudah ribut!"

"Karena pacarmu menyantap croissant milikku!" Charles berteriak, wajahnya merah padam. Ia memegang sendok seperti senjata.

"Eh! Itu tidak punya siapa-siapa!" Oscar langsung muncul dari balik sofa dengan mulut penuh remah. "Kulkas apartemen adalah free market! Siapa cepat, dia yang dapat!"

Charles hampir melompat ke arahnya. "Dasar pencuri! Aku sudah sembunyikan croissant itu di rak paling atas!"

"Hm, pantas saja rasanya lebih enak, ternyata karena hasil curian."

"OSCAR!" Charles berteriak sambil mengacungkan sendok, seolah siap perang.

Lando langsung menahan tubuh Charles. "Charles, tenang! Jangan korbankan sendok itu untuk hal sepele."

"SEPELE KATA KAU?!" Charles mendelik. "Itu croissant impor dari Paris!"

"Paris?!" Oscar tertawa. "Rasanya lebih mirip dari minimarket pojok jalan."

Carlos di meja hanya menggeleng sambil tetap membaca koran. "Astaga, setiap hari sarapan sambil menonton drama teater."

Di pojok ruangan, Yuki duduk dengan tenang sambil menyesap teh hijau kesukaannya, "Kupikir tinggal sendiri itu sepi," ujarnya datar. "Ternyata, tinggal bersama orang-orang berpasangan membuatku lebih merindukan kesunyian."

George menahan senyum mendengar komentar itu. Diam-diam, ia menyadari bahwa ia menyukai kehidupan barunya di New York. Tidak pernah sepi, selalu riuh, penuh kekacauan kecil. Dan meskipun dirinya sudah terbiasa memilih diam dan mengamati, ia tahu satu hal. Untuk pertama kalinya, ia merasa bagian dari sebuah rumah.

 

***


Pagi itu, setelah keributan soal croissant mereda, George sudah siap berangkat. Ia mengenakan kemeja putih tipis dengan jaket denim, sederhana tapi rapi. Buku sketsa terselip di tasnya, tangan kirinya menggenggam cangkir kopi terakhir sebelum keluar.

Max sempat merapikan kerah jaketnya. "Kau pasti bisa. Ingat, ini hanya awal," katanya pelan sambil mengecup pipi George.

"Ya." George mengangguk, meski ia lumayan gugup.

Belum sempat ia melangkah ke pintu, suara Oscar menggema dari dalam kamar. "Tunggu aku, George!"

George menoleh, bingung. Oscar berlari keluar dengan kaus oblong, satu sepatu belum terikat. "Kau pikir aku akan membiarkanmu berangkat sendirian di hari pertamamu? Aku kan senpai di fakultas seni, wajib jadi pemandu wisata!"

George terkekeh kecil, "Kau bahkan belum mengikat tali sepatumu."

"Detail kecil." Oscar menepis, lalu buru-buru merapikan sepatunya di depan pintu. "Yang penting, aku tampak karismatik saat berjalan."

Charles dari meja ruang tamu mendengus. "Karismatik? Dengan rambut seperti singa yang baru bangun tidur?"

"Hey! Ini style bohemian, Charles. Kau tidak paham seni," Oscar membalas dengan gaya dramatis.

Carlos hanya melirik, tenang seperti biasa. "Kalau kalian terus berdebat, George bisa telat kelas pertamanya."

Max menepuk bahu George, menyemangati. "Jangan hiraukan mereka. Nikmati saja hari ini."

Akhirnya, George melangkah keluar apartemen bersama Oscar yang berjalan riang di sampingnya. Jalanan musim semi dipenuhi bunga sakura yang mulai gugur, trotoar ramai dengan mahasiswa lain yang juga menuju Columbia.

Oscar menepuk punggung George.

"Tenang saja. Di kelas seni, tidak ada yang perduli kalau kau gugup. Mereka lebih sibuk memikirkan kuas, cat, atau bagaimana membuat karya mereka terlihat 'penuh penderitaan'."

George tersenyum kecil. Kata-kata itu membuatnya sedikit lega.

***


Ruang kelas seni rupa terletak di lantai tiga sebuah gedung tua dengan jendela besar yang menghadap ke halaman kampus. Cahaya matahari masuk melalui kaca, jatuh di atas meja-meja kayu panjang yang dipenuhi cat, kuas, dan kertas sketsa. Bau khas cat minyak bercampur aroma kayu memenuhi ruangan, seolah menyambut setiap orang yang masuk.

George melangkah masuk. Ia memilih tempat di barisan tengah, tidak terlalu depan tapi cukup jelas untuk melihat papan tulis besar di sisi ruangan. Oscar, tentu saja, duduk di sebelahnya dengan gaya seenaknya, menyandarkan kursi, kaki dilipat di atas palang kayu, wajah penuh percaya diri.

"Tempat favoritku," bisik Oscar sambil mengetuk meja. "Dekat jendela, pencahayaannya bagus untuk sketsa terutama untuk kau. Kau bisa lihat kampus sekaligus kalau bosan dengan dosennya."

George hanya mengangguk, berusaha menenangkan diri. Tangannya mengusap sampul buku sketsa yang masih kosong di atas meja.

Beberapa menit kemudian, seorang dosen perempuan berusia sekitar empat puluhan masuk. Rambutnya digelung, kacamata melorot di hidungnya, dan tangannya penuh dengan tabung kertas. Ia meletakkannya di meja depan dengan suara berdebam, membuat seluruh ruangan hening seketika.

"Selamat datang di Foundations of Painting," ucapnya tegas. "Nama saya Profesor Whitaker. Saya tidak peduli seberapa berbakat kalian. Yang saya pedulikan adalah kerja keras, dedikasi, dan kemampuan kalian untuk menuangkan perasaan ke dalam kanvas."

Oscar melirik George dan berbisik, "Jangan khawatir. Ia terdengar galak, tapi sebenarnya baik hati. Kadang."

Profesor Whitaker menatap tajam ke arah Oscar. "Anda di pojok sana. Jika bicara lagi sebelum saya mempersilakan, Anda bisa keluar."

Oscar langsung tegak di kursinya, seolah memang sedang mengikuti kelas itu. Padahal hanya menemani George. Ia tersenyum kaku. George hampir tertawa menahan geli.

Pelajaran dimulai. Profesor meminta setiap mahasiswa membuka buku sketsa dan menggambar apa saja yang paling mewakili pikiran mereka pagi ini. "Tidak perlu indah. Tidak perlu sempurna. Saya ingin melihat apa yang ada di kepala kalian, bukan tekniknya."

George menatap kosong pada halaman putih. Tangannya sempat ragu. Tapi perlahan, ia mulai menggoreskan pensil. Garis-garis samar berubah menjadi siluet laut, matahari yang terbenam, dan seorang anak kecil berdiri sendiri di tepi tebing.

Oscar mencondongkan kepala, melirik. "Itu cukup dalam, George. Kau baru saja memamerkan jiwa penderitaanmu."

George hanya tersenyum tipis. Tapi dalam hatinya, ada rasa lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa duduk di kelas bukan sebagai seseorang yang pura-pura diam. Melainkan sebagai George William, mahasiswa seni yang siap menemukan suaranya melalui warna dan bentuk.

***


Kelas seni pertama George berakhir. Para mahasiswa bergegas merapikan buku sketsa dan peralatan. George menutup bukunya perlahan, menatap sketsa laut dan sosok kecil yang tadi ia buat. Ada rasa puas sekaligus gugup seakan ia baru membuka pintu kecil menuju dunia barunya.

"Hey, anak baru." Oscar menepuk pundaknya. "Kau tidak boleh langsung pulang setelah kelas pertama. Itu kutukan, kau tahu? Katanya bisa bikin kau jadi mahasiswa paling loner di angkatanmu."

George mengerutkan dahi. "Kutukan?"

"Ya," Oscar menjawab santai sambil meraih tasnya. "Aturan tak tertulis. Jadi, ayo. Aku akan mengenalkanmu pada beberapa orang yang penting atau setidaknya, menyenangkan."

Sebelum George sempat menolak, Oscar sudah menariknya keluar kelas. Mereka menyusuri koridor yang ramai, lalu turun ke halaman tengah kampus, di mana beberapa mahasiswa duduk santai di bawah pohon sakura yang kelopak bunganya beterbangan tertiup angin.

Di sana, seorang pria tinggi dengan rambut ikal kecokelatan melambai ke arah Oscar. Senyumnya lebar, energinya langsung terasa bahkan dari jauh.

"Oiii, Oscar! Kau akhirnya muncul!" serunya dengan logat Australia yang kental.

Oscar menoleh pada George. "Nah, ini orangnya. Daniel Ricciardo, jurusan Teater. Aktor wannabe, tapi lumayan terkenal di kalangan mahasiswa karena ekspresinya yang berlebihan."

"Berlebihan? Hei!" Daniel pura-pura tersinggung. "Aku hanya ekspresif, kawan." Ia menjabat tangan George dengan hangat. "Kau pasti George, ya? Oscar sudah pernah menyebut tentangmu. Selamat datang di Columbia!"

George sempat kikuk, tapi menjawab, "Ya, terima kasih."

Daniel menepuk bahunya, entah terlalu keras atau memang gaya bicaranya yang penuh energi. "Jangan khawatir, kawan. Dengan Oscar di sisimu, hidupmu tidak akan pernah membosankan. Percayalah, aku sudah bertahun-tahun mengalaminya."

Oscar mendengus sambil menjatuhkan diri ke rumput, "Dan kau masih bertahan, berarti kau menikmatinya."

Daniel ikut tertawa, "Mungkin aku memang masokis."

George akhirnya duduk bersama mereka. Angin musim semi berhembus lembut, kelopak bunga berjatuhan di atas buku sketsanya yang terbuka. Ia merasa aneh tapi hangat. Baru sehari, tapi lingkaran dunianya sudah mulai bertambahㅡtidak hanya Max, Yuki, dan teman-teman serumah, tapi juga orang baru seperti Daniel.

George benar-benar membayangkan dirinya bisa punya kehidupan kampus yang normal.

Baru saja George mulai merasa rileks ketika Oscar menyandarkan tubuh ke rumput, tangan di belakang kepala, santai sekali. Daniel masih berbicara dengan ekspresi penuh energi, seakan setiap kalimatnya memang panggung.

"Aku serius, George," ujar Daniel, "kalau butuh hiburan, datang saja ke gedung teater. Kadang kami latihan terbuka, gratis, dan kau bisa lihat. Kau tahu kan, mahasiswa teater itu penuh drama."

George hanya mengangguk sopan, belum terbiasa dengan tipe orang se-'hidup' ini.

Oscar menepuk bahu Daniel sambil terkekeh. "Oh, by the way, kau tahu siapa George sebenarnya?"

Daniel menoleh cepat, alisnya terangkat, "Siapa? Putra mahkota dari Inggris?"

Oscar sengaja menahan tawa, lalu berbisik dramatis, "Dia pacarnya Max Emilian."

Sekejap Daniel terdiam. Lalu senyum lebarnya kembali merekah. "Ooooh!" serunya, cukup keras sampai membuat beberapa mahasiswa lain melirik penasaran, "Jadi ini orangnya? Pacar si bintang kampus?"

George menegang sejenak. Ia sudah terbiasa mendengar orang menyebut Max begitu, tapi mendengarnya dari orang asing tetap membuat dadanya sedikit kikuk.

Daniel melanjutkan, suaranya setengah menggoda.

"Kau tahu, George? Max itu terkenal sekali. Tampan, pintar, karismatik. Hampir semua orang di Columbia tahu namanya. Jadi aku agak kaget dia ternyata sudah taken."

Oscar menyikut Daniel pelan, "Agak kaget? Kau lebih terlihat kecewa, Dan."

Daniel tertawa keras, "Ya ampun, tentu saja aku kecewa. Bagaimana tidak? Separuh kampus mungkin patah hati saat tahu Max punya pacar. Tapiㅡ" ia menunjuk George sambil tersenyum hangat, "aku bisa lihat kenapa dia memilihmu."

George menunduk, wajahnya sedikit memerah. Oscar yang duduk di sampingnya cuma terkekeh, lalu berbisik, "Tenang saja. Itu pujian tulus, George. Daniel memang suka bicara berlebihan, tapi jarang bohong."

Daniel mengangkat tangan seakan bersumpah, "Betul. Dan George, kau bakal baik-baik saja di sini. Dengan Max, dengan Oscar, dan sekarang dengan aku. Anggap saja lingkaran sosialmu sudah resmi bertambah."

George tidak bisa menahan senyum kecil. Ia benar-benar merasa diterima.

***


Malam itu apartemen akhirnya terasa lebih hening. Suara Charles dan Oscar yang biasanya bersahut-sahutan sudah mereda, Lando entah ke mana, Yuki sudah mengurung diri di kamar, tentu saja videocall dengan Pierre. George berdiri di depan jendela, menatap gemerlap lampu kota New York yang seakan tak pernah tidur.

Max keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah. Ia melihat George yang berdiri diam dengan gelas air di tangan. "Kau melamun," ujar Max sambil mendekat.

George menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. "Hari ini agak melelahkan. Tapi aku juga senang. Oscar mengenalkanku pada seorang teman."

Max ikut berdiri di sampingnya, menyandarkan bahu ke jendela, "Siapa?"

"Daniel Ricciardo."

Kedua alis Max tertaut, "Mahasiswa teater itu?"

George mengangguk.

"Astaga, Oscar langsung mengenalkanmu pada seseorang yang ekspresif seperti Daniel. Tapi tidak apa-apa. Itu bagus. Aku memang ingin kau cepat terbiasa. Kau terlalu sering hanya bergaul denganku dan anak-anak di apartemen ini. Lingkaranmu harus lebih luas, George."

George menunduk, ragu sejenak, lalu berkata pelan, "Lalu dia bilang sesuatu."

"Bilang apa?"

George menarik napas dalam, "Dia bilang aku adalah pacar 'si bintang kampus'." Ucapan itu disampaikan George dengan setengah malu.

Max terdiam sesaat sebelum akhirnya terkekeh kecil, "Bintang kampus, hm? Itu sebutan yang memalukan."

"Tidak," sahut George cepat, lalu menahan lidahnya. Ia menoleh, menatap Max dengan mata yang serius, "Aku bisa melihat kenapa mereka menyebutmu begitu. Kau memang berbeda saat berada di kampus."

Max menatap balik, senyumnya berubah lembut, "Kalau aku memang berbeda, terlebih karena kau ada di sisiku." Ia meraih gelas dari tangan George, meletakkannya di meja, lalu menarik George mendekat.

George terjebak dalam jarak yang terlalu dekat, bisa merasakan aroma segar khas baru selesai mandi dari tubuh Max, "Aku tidak terbiasa dengan perhatian orang lain," ucapnya lirih.

Max mengusap pipinya perlahan, "Kau hanya perlu terbiasa dengan satu hal, George. Bahwa aku milikmu. Dan semua orang harus tahu itu."

Kata-kata itu menyalakan rasa hangat di dada George. Ia akhirnya mengalah, menyandarkan dahinya di bahu Max.

"Aku harap mereka tidak salah sangka tentangku."

"Tidak ada yang salah sangka," jawab Max mantap, "Kalaupun iya, itu karena mereka iri. Karena aku memilihmu."

Malam itu, dalam keheningan apartemen, George membiarkan dirinya percaya pada kalimat Max.

***


Keesokan paginya, udara musim semi terasa segar. George berjalan di trotoar menuju kampus dengan buku sketsa di tangan, Max di sampingnya membawa tas laptop. Matahari menembus celah dedaunan, membuat bayangan mereka beriringan di jalan setapak.

Namun, George mulai menyadari sesuatu yang berbeda. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka berbisik-bisik, bahkan ada yang menoleh lebih lama dari biasanya.

George mengernyit.

"Apa aku salah memakai baju?" tanyanya pelan, menunduk pada kemeja biru muda dan celana denim sederhana yang ia kenakan.

Max melirik ke arahnya lalu tertawa kecil. "Bukan bajumu. Itu karena mereka sudah tahu."

"Tahu apa?" George mengangkat alis.

"Bahwa kau adalah pacar si bintang kampus." Max menyebutkan istilah itu dengan nada menggoda.

George langsung menoleh dengan wajah setengah kaget, setengah malu. "Jangan bilang Daniel benar-benarㅡ"

"ㅡiya, Daniel memang punya mulut besar," potong Max sambil terkekeh. "Dan kalau Oscar sudah cerita ke Daniel, bisa dipastikan seluruh lingkaran seni tahu sebelum matahari tenggelam."

George menutup wajah dengan tangan, berusaha menahan rasa malunya. "Aku tidak siap dengan ini."

Max menghentikan langkahnya, membuat George juga berhenti. Di tengah keramaian mahasiswa yang lalu-lalang, Max menatapnya serius.

"Dengar, George. Mereka boleh bicara apa saja. Tapi hanya aku yang tahu dirimu yang sebenarnya. Itu yang terpenting. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."

George menatapnya lama, sebelum akhirnya menghela napas.

"Aku hanya tidak siap menjadi pusat perhatian, Max."

"Tidak perlu memikirkan orang lain yang menaruh perhatian padamu, kau cukup fokus padaku. Fokus dengan kuliahmu."

Sebelum George bisa menjawab, tiba-tiba Oscar muncul dari arah lain dengan semangat berlebihan. "George! Kau sudah jadi selebriti kampus sekarang!" katanya sambil merangkul bahu George. "Kau tidak tahu betapa cepatnya gosip menyebar di Columbia."

"Terima kasih, Oscar," sahut George datar, meski wajahnya masih memerah.

Oscar malah tertawa puas. "Santai saja, sebentar lagi semua orang ingin berteman denganmu. Termasuk profesor seni yang terkenal itu, mungkin."

George mendesah, sementara Max hanya tersenyum tipis melihat interaksi mereka. Di dalam hatinya, ia tahu kehidupan baru George di kampus resmi dimulai, lengkap dengan segala perhatian dan tatapan yang datang bersamanya.

***


Malam itu apartemen terasa hidup. Lampu ruang tamu menyala hangat, aroma popcorn bercampur dengan pizza yang baru dipesan memenuhi udara. Mereka bertujuh berkumpul di sofa dan karpet, masing-masing dengan posisi santaiㅡada yang duduk menyender dengan sang pacar, ada yang rebahan dengan bantal.

Carlos membuka percakapan pertama sambil menyesap minuman soda. "Ekonomi makro benar-benar menyita waktu minggu ini. Aku dan Charles bahkan belum sempat istirahat dengan layak."

Charles langsung menimpali dengan nada kesal. "Kau enak saja bilang 'belum istirahat.' Aku yang harus menyusun analisis data berlembar-lembar. Kalau bukan karena tugas kelompok, aku pasti sudah kabur ke Swiss."

Oscar terkekeh. "Kau terlalu dramatis, Charles. Setidaknya ekonomimu punya arah. Lihat aku, sekarang kepalaku dipenuhi konsep eksperimen media baru. Dosennya bilang 'buat sesuatu yang orisinal,' seakan itu semudah membeli kopi di kafe."

"Bukankah itu memang keahlianmu, sayang?" goda Lando sambil menepuk bahu Oscar yang bersandar padanya. "Kau bahkan bisa membuat coretan di kertas tisu agar terlihat artistik."

Oscar mendengus bangga. "Itu betul juga."

Sementara itu, Yuki menutup laptopnya dan menghela napas panjang. "Aku dan Max harus mulai serius mencari tempat magang. Dosen kami bilang kalau tidak ada pengalaman profesional, tahun ketiga akan jauh lebih sulit."

Max mengangguk, matanya sedikit lelah. "Aku sudah melamar di dua perusahaan konsultan. Tapi saingannya berat sekali. Semua orang ingin masuk ke perusahaan besar."

George yang sejak tadi lebih banyak diam, menatap Max dengan cemas kecil. "Jangan terlalu memaksakan diri," katanya lembut.

Max tersenyum tipis, lalu meraih tangan George sebentar. "Aku baik-baik saja. Lagipula, aku ingin kau melihatku bisa mengimbangi dunia nyata, bukan hanya teori di kelas."

Lando tiba-tiba bersuara lantang, mencoba mengalihkan suasana. "Kalau bicara soal berat, hukum itu jelas yang paling berat. Aku harus membaca ratusan halaman kasus per minggu. Rasanya mataku mau copot."

Carlos menoleh dengan ekspresi datar. "Itu karena kau menunda membaca sampai malam terakhir, Lando."

Semua tertawa mendengar komentar Carlos, sementara Oscar berteriak, "Setuju!"

Percakapan pun terus mengalir, penuh dengan canda dan keluhan khas mahasiswa. Di tengah riuh itu, George bersandar di bahu Max, merasakan kehangatan baru dalam kehidupannya, sebuah keluarga kecil yang walau berisik, membuatnya merasa tidak lagi sendiri.

Oscar meletakkan kaleng sodanya ke meja dan menoleh ke George. "Ngomong-ngomong, George, bagaimana rasanya kelas pertamamu kemarin?"

Semua mata langsung tertuju padanya. George sempat terdiam sebentar sebelum menjawab, "Jujur menegangkan. Semua orang terlihat sudah saling mengenal, sudah punya gaya mereka sendiri. Sementara aku baru saja mulai."

"Ah, itu wajar," kata Yuki dengan nada tenang. "Awal adaptasi memang sulit. Tapi kau punya waktu. Nikmati saja prosesnya."

Charles mengangguk setuju. "Ya, tidak ada yang langsung hebat di hari pertama. Bahkan aku dulu pernah salah masuk kelas ekonomi mikro padahal yang kuambil makro. Malu sekali."

Carlos terkekeh pelan. "Itu memang kesalahan paling klasik dari Charles."

Mereka semua tertawa, membuat George sedikit lebih rileks.

"Jangan khawatir," timpal Oscar sambil menepuk bahu George. "Aku akan mengenalkanmu ke lebih banyak teman di studio seni. Kemarin saja kau sudah bertemu Daniel, bukan? Dia salah satu orang yang paling ramah di jurusan teater."

"Ya," George mengangguk kecil, lalu tersenyum. "Dia cukup hangat meski aku kaget saat dia menyebut Max 'bintang kampus'."

Ucapan itu sontak membuat apartemen riuh.

Lando langsung bersiul panjang dan menggoda Max. "Ohhh, ternyata pacarku ini selebritas kampus juga, ya?"

Max memutar bola matanya. "Jangan mulai, Lando."

"Tapi memang benar," kata Carlos dengan nada datar namun serius. "Siapa pun yang pernah ikut kuliahmu tahu kalau kau selalu dipuji dosen. Belum lagi prestasi organisasimu."

Charles menambahkan dengan senyum menggoda, "Dan jangan lupakan penampilanmu, Max. Itu jelas membuat reputasimu makin meluas."

George menunduk, sedikit salah tingkah, sementara Max mengusap tengkuknya dengan wajah tak nyaman. "Aku hanya berusaha belajar dengan baik. Itu saja."

Oscar menyikut George pelan. "Nah, kau lihat? Kau tidak usah takut. Kau bersama orang yang tahu bagaimana bertahan hidup di sini. Kau akan baik-baik saja."

George menoleh sekilas ke Max, melihat tatapan penuh keyakinan dari kekasihnya. Di tengah riuh tawa dan kelakar teman-temannya, ia merasa beban yang menekan dadanya sedikit lebih ringan.

 

 

Bersambung