Actions

Work Header

134 Cycles to Make Khaslana Realize His Feelings

Summary:

Butuh 134 siklus bagi Khaslana untuk menyadari perasaannya.

Dan butuh 134 siklus pula bagi Khaslana untuk membunuh Anaxa untuk pertama kalinya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Kata naif mungkin menggambarkan diri seorang Khaslana.

 

Ketika Cyrene mengungkapkan ide untuk mengulang waktu, Khaslana menyetujuinya tanpa sedikitpun keraguan. Ia masih terbayang oleh tugas seorang Penyelamat, Pahlawan, Pembawa Dunia, karena begitulah orang lain menyebutnya. Sebagai harapan terakhir Amphoreus, tentu saja ia tidak ingin dunianya berakhir hanya untuk menjadi bahan bakar kebangkitan budak seorang Dewa.

 

Maka dimulailah Era Pengulangan Abadi Pertama.

 

Semua tampak baik-baik saja pada awalnya. Ia dipandang sebagai pembawa ramalan karena telah mengetahui masa depan yang samar bagi orang-orang di era ini. Ia mengungkapkan fakta-fakta terlarang tentang esensi sebenarnya dari dunia yang mereka tinggali selama ini. Tentu saja, ada yang menerima fakta itu, ada pula yang menentangnya. Tapi toh, untuk apa peduli apa pendapat orang. Karena pada akhirnya, dia sendirilah yang harus menanggung beban pilihannya sendiri.

 

Namun pada akhirnya, semua itu sia-sia.

 

Khaslana tahu bahwa dunianya hanya serangkaian kode imajiner yang dibuat oleh Sang Penonton Ilahi. Karena itulah takdir kejam yang menimpa dirinya serta rekan-rekannya tidak bisa diubah sebanyak apapun ia berusaha. Berulang kali ia mencegah kematian rekan-rekannya, hanya dihadapkan dengan fakta bahwa semuanya sia-sia. Rekan-rekannya tetap meninggal satu persatu ketika mencapai akhir Era Nova, menyisakan dirinya dan Khaslana dari era ini—Phainon, begitulah rekan-rekannya di era ini memanggilnya. Phainon dengan marah bertanya kepadanya, “Apakah ini semua perlu, apabila mereka akan tiada pada akhirnya. Apakah ini semua perlu, apabila takdir memang tidak bisa dirubah. Apakah ini semua perlu, apabila takdir dengan kejam mengambil segalanya dari kita?”

 

Dan Khaslana menjawab, tanpa keraguan. “Jika ini bukanlah akhir, maka aku akan terus melangkah maju hingga aku menyaksikan akhir dari perjalanan ini. Dan aku tidak akan pernah tunduk kepada takdir.”

 

Dan begitulah, Phainon mengangkat pedangnya pada Khaslana.

 

Suara pedang identik beradu mengisi sunyinya dunia yang hanya menyisakan mereka berdua. Khaslana dengan enggan mengangkat pedangnya melawan dirinya sendiri. Langkah-langkah yang familiar, teknik-teknik yang familiar, dan presisi yang familiar, membuat Khaslana mual dengan konsep bahwa ia harus melawan dirinya sendiri dari era ini. Tapi Khaslana tahu, bahwa perjalanan panjang ini tidak bisa dihentikan oleh keraguan sesaat. Dan begitulah, Khaslana menancapkan pedangnya di dada Phainon, membiarkan darah emas mengalir membasahi Dawnmaker.

 

Entah berapa lama Khaslana menatap mayat Phainon setelah ia membunuhnya. Ia menangis tanpa suara, mual menatap mayat dirinya sendiri dengan lubang di bagian dada. Ia ingin berteriak di dunia yang sunyi ini, mengapa takdir begitu kejam terhadapnya. Tidak hanya menyaksikan kematian rekan-rekannya sekali lagi, tetapi ia juga harus membunuh dirinya sendiri dari era ini. Namun pada akhirnya, Khaslana tidak diizinkan untuk berduka terlalu lama. Ia mengingat tujuan awalnya, pengorbanan Cyrene, serta harapan miliknya sendiri setelah semua ini selesai. Maka ia pun bersiap untuk mengulang siklus kejam ini sekali lagi.

 

Begitulah akhir dari Era Pengulangan Abadi Pertama.

 

Era Pengulangan Abadi Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima, dan seterusnya pun berakhir sama saja. Rekan-rekannya tetap meninggal satu persatu, Phainon selalu menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya di akhir era—yang akhirnya selalu dijawab Khaslana dengan jawaban yang sama, tanpa keraguan. Lalu Phainon mengangkat pedang kepadanya, dan Khaslana kembali membunuh Phainon—dengan kata lain, Khaslana membunuh dirinya sendiri berulang kali.

 

Setelah sekian banyak kematian, Khaslana mendapatkan sebuah toleransi mental yang unik, yang membuat dirinya tidak lagi menangisi kematian—atau mungkin ia tidak bisa, karena terakhir kali ia menangis, air matanya lenyap tak bersisa menjadi uap karena panas tubuhnya. Ia tidak lagi menangisi mayat rekan-rekannya, tidak lagi mual saat harus mengangkat pedangnya melawan Phainon, tidak lagi berlama-lama menatap mayat Phainon, dan dirinya semakin tidak ragu ketika harus mengulang kembali siklus kejam ini.

 

Bagai seekor nimfa yang mendorong batu dengan sia-sia, naik, jatuh, naik, jatuh, naik kembali, dan jatuh kembali… Dengan satu-satunya kebebasan yang ia punya hanyalah mengatur bagaimana ia mendorong batu itu. Terkadang lambat, terkadang cepat, terkadang pula nimfa itu beristirahat dengan menyandarkan diri di batu itu. Tetapi semua itu sia-sia, karena batu itu selalu menggelinding ke bawah kembali. Dan nimfa itu akan kembali ke titik awal dan mendorong batu itu sekali lagi.

 

Tapi kalau boleh berbicara yang sejujurnya, sesungguhnya Khaslana lelah. Setiap kali sebuah siklus berakhir gagal, Khaslana akan diam menatap langit yang hancur, diam-diam berharap akan ada Penyelamat sebenarnya yang datang dari langit, menghentikan seluruh siklus kejam ini. Khaslana selalu berharap semoga siklus selanjutnya akan menjadi siklus yang terakhir.

 

Tapi tentu saja, takdir begitu kejam terhadap Khaslana. Semua harapannya berakhir sia-sia dengan siklus yang terus berulang. Dan saat ini, terhitung sudah 134 kali dia mengulang siklus kejam ini.

 

134 siklus. 1.596 benih api.

 

Sungguh suatu keajaiban bagi Khaslana bahwa dirinya masih hidup sambil membawa 1.596 benih api. Baik manusia, demigod, maupun titan yang agung, seluruhnya akan binasa bila dipaksa membawa benih api sebanyak itu. Namun Khaslana merupakan kasus yang berbeda. Khaslana tetap hidup, dengan satu-satunya perubahan pada tubuhnya adalah fakta bahwa temperatur tubuhnya lebih tinggi dari kebanyakan orang.

 

134 siklus dengan rekan-rekan yang sama. Cerydra yang sombong, Hysilens yang bersenandung merdu, Tribbios yang kekanak-kanakan, Aglaea yang lembut, Castorice yang pemalu, Mydeimos yang berapi-api, Hyacine yang baik hati, Cipher yang licik dan penuh trik, serta Anaxagoras, Sang Cendekiawan, profesornya, yang selalu percaya kepadanya.

 

133 siklus sebelumnya, tanpa terkecuali, Khaslana selalu mendatangi Anaxagoras untuk menceritakan seluruh kebenaran tentang Amphoreus, Terkadang profesornya akan menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak, terkadang pula hanya tersenyum singkat, mengatakan bahwa teorinya benar dan ia sudah menduganya. Setidaknya, hal ini membuat Khaslana merasa aman, seolah ia tak perlu menanggung beban dunia ini seorang diri. Khaslana masih memiliki Anaxagoras, yang akan selalu percaya kepadanya dan mendukungnya tanpa ragu.

 

Dan di awal siklus ke 134, Khaslana beristirahat sejenak, berlama-lama menatap matahari yang terbenam di ufuk senja Aedes Elysiae. Warna merah dan oranye yang hangat mewarnai langit Aedes Elysiae. Ladang gandum yang khas, penuh dengan warna kuning layaknya hamparan emas. Suara lalu lalang orang desa sebagai latar belakang, membuat Khaslana membumi. Setidaknya, inilah satu-satunya kemewahan yang ia punya, dan Khaslana tidak mau menyia-nyiakannya.

 

Saat matahari sudah sepenuhnya tenggelam, menggantikan langit senja dengan langit malam berbintang, Khaslana menentukan rencananya untuk siklus ini. Dalam siklus ini, Khaslana akan memberi kemewahan singkat pada Phainon—sedikit belas kasihnya untuk Phainon sebelum terbunuh oleh dirinya di akhir Era Nova—dengan membantai Bencana Hitam sebelum menyerang Aedes Elysiae. Dan dengan itu, Phainon dan Cyrene dapat tinggal sedikit lebih lama di Aedes Elysiae, menikmati masa kecil mereka yang penuh kepolosan.

 

Membantai Bencana Hitam merupakan hal mudah bagi Khaslana, dengan jentikan jari seluruh Bencana Hitam itu lenyap tak bersisa. Setelah membantai Bencana Hitam—dan sedikit mengintip Phainon dan Cyrene yang tertidur di Pelataran Persembahan—Khaslana berangkat menuju Grove, dengan harapan dapat bertemu profesornya lebih awal.

 

Malam itu juga, Khaslana telah sampai di Grove. Ia berusaha mencari profesornya di tempat-tempat biasa profesornya berada, tapi profesornya tidak terlihat dimanapun. Tentu saja, waktu sudah larut. Mungkin profesornya sedang beristirahat—meskipun sebenarnya hal itu sangat jarang terjadi. Berlama-lama Khaslana mengitari Grove, sampai ia melihat seberkas cahaya dari ruangan terpencil. Dengan hati-hati Khaslana berjalan menuju ruangan itu, berharap profesornya ada di dalam ruangan.

 

Dan benar saja, profesornya memang ada di dalam sana. Tapi betapa terkejutnya ia, profesornya sedang menggunakan alkimia yang mengorbankan mata kirinya. Tanpa berpikir lebih lanjut, Khaslana mendobrak pintu ruangan itu.

 

“PROFESOR!”

 

Anaxa menatapnya terkejut. Ia mungkin tidak menyangka bahwa eksperimen terlarangnya akan diinterupsi oleh orang yang tak dikenal. Sambil menutup mata kirinya, Anaxagoras bertanya,

 

“Siapa kamu? Dan siapa yang mengizinkanmu untuk menerobos ruangan di tengah percobaan alkimia yang sedang kulakukan? Dan siapa yang kau panggil profesor?”

 

Khaslana baru tersadar dari tindakannya yang impulsif, menyadari bahwa mungkin terlalu awal baginya untuk sampai di Grove sehingga profesornya masih berstatus sebagai mahasiswa sekarang. Khaslana secara mental mengutuk dirinya sendiri karena bertindak terlalu sembrono, memalukan dirinya sendiri di hadapan profesornya—Anaxagoras.

 

Dengan cepat, Khaslana menyiapkan sebuah kebohongan kecil untuk mencegah paradox terjadi, dan berdoa semoga profesornya percaya pada kebohongannya. Untungnya, Khaslana saat ini memakai tudung hitam, sehingga rambut dan wajahnya tidak terlihat.

 

Khaslana dengan perlahan membuka tudung hitamnya, lalu berkata, “Maaf, namaku Flame. Aku adalah salah satu pengembara yang tersesat di Grove of Epiphany. Aku melihat lampu dari ruangan ini masih menyala, sehingga aku berharap bisa menemukan seseorang yang dapat membantuku di balik ruangan ini.”

 

Anaxagoras tersenyum mengejek, jelas tidak mau terlalu percaya. “Flame huh… Nama yang aneh. Heh, sebuah kebetulan yang mengerikan untuk seorang pengembara tersesat di tempat ini, lalu secara acak menemukan ruangan dimana seseorang sedang bereksperimen, lalu mengganggu kegiatan eksperimen orang itu. Sungguh kebetulan sekali.”

 

Khaslana tercekat, merasa terpojok. Ia tak menyangka ia kembali dimarahi oleh profesornya setelah sekian lama. Meski Khaslana adalah seorang pejuang tangguh yang dapat membunuh Titan dengan mudah, di hadapan profesornya ia kembali seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.

 

“Maaf...” ucap Khaslana lirih sambil menunduk.

 

Anaxagoras tiba-tiba merasa pria di depannya berubah menjadi anak anjing yang basah kuyup karena hujan, membuatnya tidak tega untuk menghardiknya lebih lanjut. Meskipun masih sedikit kesal, akhirnya Anaxagoras mengalah.

 

“Baiklah, setidaknya penampilanmu bisa dipercaya sebagai seorang pengembara. Tudung hitam, baju kusut, rambut hitam, mata ungu, nama yang aneh. Oh ya, namaku Anaxagoras. A-Na-Xa-Go-Ras. Pastikan untuk memanggilku dengan lengkap. Dan jangan memanggilku profesor, aku masih seorang mahasiswa.”

 

Khaslana mengerjap, “Eh, maaf prof-Anaxa, kukira kau seorang profesor karena kau dikelilingi cahaya merah menyeramkan yang tak dapat kumengerti ini.” Tentu saja Khaslana berbohong, ia tahu apa yang dilakukan profesornya.

 

“A-Na-Xa-Go-Ras. Bukankah baru saja kubilang untuk memanggilku dengan nama lengkap? Dan cahaya merah ini adalah percobaan alkimia. Tidak hanya profesor saja yang mampu melakukannya, tetapi mahasiswa biasa sepertiku juga dapat melakukannya dengan mudah.”

 

Khaslana mendecak kagum, “Wah, itu keren sekali! Apakah aku juga bisa mencobanya Anaxa…goras?” Khaslana buru-buru melengkapi namanya saat tatapan tajam Anaxa seakan ingin menembus jiwanya.

 

Anaxagoras memijat pangkal hidungnya, tiba-tiba merasa lelah atas interupsi yang tidak disangka di tengah Waktu Tirai Ditutup. Mungkin rekan-rekannya benar, ia harus mengambil lebih banyak istirahat dibanding berkutat di percobaan alkimia, sehingga ia tidak tiba-tiba diinterupsi oleh anak anjing yang terlalu bersemangat ini.

 

“Ya… Tentu saja bisa. Tapi kamu harus mengerti dasar-dasarnya dulu, Flame.”

 

“Keren! Kalau begitu, aku ingin belajar bersamamu Anaxa!”

 

Dan Anaxagoras merasa nyawanya diambil 10 kali pada malam itu.

 

“A-Na-Xa-Go-Ras. Apakah kamu tidak dapat mengingat nama dengan benar? Yah terserahlah, kamu dapat belajar besok setelah mendaftarkan namamu. Ah tapi,” Anaxagoras menambahkan, “Rahasiakan percobaanku ini pada siapapun yang kau temui, Flame. Jangan sampai aku mendengar ada seorangpun yang membicarakan kejadian malam ini, atau aku akan membunuhmu dengan senjataku sendiri,” Anaxagoras sedikit memberi ancaman di akhir.

 

Khaslana terkekeh, profesornya mengancamnya untuk membunuhnya? Heh, bahkan kalau ia mau, ia dapat mematahkan profesornya menjadi dua sekarang juga. Tapi sudahlah, Khaslana terlalu bahagia untuk dapat melihat profesornya lagi—dalam hal ini, ketika profesornya masih berstatus sebagai seorang mahasiswa.

 

“Tentu saja, Anaxa! Aku berjanji untuk menutup mulutku rapat-rapat.”

 

“Itu Anaxagoras, ah sudahlah, mungkin kau memang bebal dari sananya. Sekarang pergi, atau bantu aku membereskan peralatan alkimia ini. Aku ingin beristirahat setelah kedatangan anak anjing yang terlalu bersemangat malam ini.”

 

Umm… Apakah profesornya baru saja menyebutnya anak anjing? Ini baru, dan sedikit lucu bagaimana bencana kegagalan selama 133 siklus dipanggil anak anjing. Tapi Khaslana tidak keberatan, ia bisa menjadi anak anjing yang baik untuk profesornya.

 

— — — — —

 

Keesokan paginya, seluruh manusia di Grove melihat sebuah wajah baru yang sedikit tampan, berjalan-jalan di samping mahasiswa sesat yang kini mata kirinya ditutupi oleh kain hitam. Orang baru itu mengenalkan dirinya dengan nama Flame, nama yang memang… Sedikit aneh, tapi melihat orang yang berdiri di sebelahnya, setidaknya itu masuk di akal.

 

Anaxagoras akhirnya tahu mengapa pria di sebelahnya ini dipanggil dengan nama Flame. Kemarin malam, ketika tangan mereka tidak sengaja bersentuhan kemarin malam saat membereskan percobaan alkimia, Anaxagoras terkejut karena suhu tubuh Flame sangat tinggi hingga terasa tidak wajar. Anaxagoras mengira Flame terkena demam tinggi, yang ditenangkan oleh Flame bahwa ia baik-baik saja, suhu tubuhnya ini hanyalah bawaan dari lahir. Anaxagoras menghembuskan napas lega, karena yah… Ia malas kalau harus tiba-tiba merawat orang asing yang menerobos masuk ke ruangannya.

 

Dan tentang kain hitam yang menutupi mata kirinya, Anaxagoras meminta Flame untuk sedikit merobek tudung hitam miliknya demi menutupi mata kirinya yang kini telah hilang. Anaxagoras tidaklah bodoh untuk memamerkan efek samping percobaan alkimianya yang terlarang, ia tidak ingin mati terlalu awal dengan digantung oleh warga sekitar. Tidak, Anaxagoras tidak boleh mati sebelum ia menemukan jawaban sejati dari seluruh pertanyaan tentang esensi dunia yang ia tinggali.

 

“Hei Flame, kau serius ingin belajar di kelas yang sama denganku?” Anaxagoras basa-basi bertanya.

 

“Tentu saja, apakah ada yang aneh dengan pilihanku? Yah, secara teknis mahasiswa yang kukenal di Grove hanya kau seorang, dan aku merasa akan lebih sulit untuk beradaptasi di Grove bila harus berpisah denganmu.”

 

“Yah terserahlah, asal kau jangan mengganggu apapun yang sedang kulakukan.” Anaxagoras menghela napas dan berlalu dengan cepat, yang diikuti oleh Flame dengan lari kecil.

 

Dan yang mengejutkan bagi Anaxagoras, Flame tidaklah sebodoh yang ia kira. Ide-ide yang diberikan Flame sangat menarik, nilai-nilai pada kelas yang diikuti Flame sangat memuaskan, percobaan alkimia yang dilakukan bersama Flame selalu berhasil, serta sesi debat bersama Flame akan berakhir dengan senyum yang mengembang di wajah Anaxagoras. Tetapi mungkin, itu berlaku khusus hanya untuk Anaxagoras. Tidak sekali Flame dibentak oleh profesor lain karena menyerahkan kertas kosong, atau saat Flame mengkritik dengan keras teori yang disampaikan profesor lain. Yang berakhir Anaxagoras harus menyelamatkannya, entah dengan menyeretnya keluar sebelum situasi makin tidak terkendali, atau dengan membungkam profesor lain dengan lidah tajamnya. Yang pasti, kini Anaxagoras ibarat sedang membesarkan seekor anak anjing lusuh yang terlalu bersemangat dan menarik perhatian.

 

Dan begitulah, setahun penuh di Grove berlalu begitu saja. Orang-orang akan berbisik tentang dua orang terkenal di Grove, satu berambut hijau dengan penutup mata hitam di mata kirinya, serta satu berambut hitam, bermata ungu, dan sedikit menyeramkan. Sedikit tambahan, para mahasiswa dan profesor yang tidak senang dengan kehadiran Anaxa, mundur menjauh seiring dengan tatapan tajam Flame yang diarahkan pada mereka. Makhluk di sebelah Anaxa itu sedikit protektif kepada temannya, tidak ingin kata-kata buruk tentang Anaxa keluar dari mulut mereka.

 

— — — — —

 

Saat ini merupakan masa Bulan Kebebasan, dan Grove sedang memasuki masa libur. Bukan berarti Anaxagoras bisa berleha-leha, ia harus mengawasi eksperimennya tentang tanaman raksasa. Ia berharap, tanaman hasil eksperimennya ini dapat mengatasi kekurangan makanan yang disebabkan oleh Bencana Hitam. Tetapi namanya eksperimen, tentu saja eksperimennya beberapa kali berakhir gagal, yang membuatnya sedikit frustasi. Pada eksperimen kali ini, Anaxagoras berharap ia mendapatkan hasil yang memuaskan. Anaxagoras kini berada di tengah ladang, berusaha mencatat pertumbuhan setiap tanaman percobaannya.

 

“Anaxa! Memperhatikan tanamanmu lagi?” Flame berteriak dari dahan di atas Anaxagoras, menyeringai lebar memantau apa yang sedang dikerjakan Anaxagoras.

 

“Tentu saja, percobaan ini sudah empat kali gagal kemarin. Dan tolong turun, aku tidak ingin berteriak hanya untuk mengobrol denganmu.”

 

Flame pun meloncat turun dari dahan yang dipijaknya. Anaxagoras melotot, dahan itu setidaknya berjarak enam meter dari tempatnya berdiri. Dengan jarak itu, kaki manusia seharusnya patah saat mencapai tanah, tetapi mungkin temannya ini memiliki teknik dan tubuh yang bagus, sehingga ia tampak baik-baik saja sambil menyeringai tak bersalah saat berjalan ke arahnya.

 

“Ah, sudah gagal empat kali? Berarti kali ini percobaan yang ke-5. Apa yang membuatmu gagal sebelumnya, Anaxa?” Flame ikut memperhatikan ladangnya.

 

“Entahlah, formula sebelumnya selalu meledak atau membuat tanaman layu. Padahal aku sudah mencatat setiap rumusnya, serta mengatur jumlah dan jenis ramuan dengan baik, tetapi selalu gagal. Entah percobaan ke-5 ini akan kembali gagal atau malah berhasil. Kau ada ide untuk masalah ini, Flame?”

 

“Hmm… Entahlah. Mungkin kita harus melakukan debat? Kita berdebat tentang sesuatu yang kamu sukai, sehingga mungkin saja kamu akan menemukan ide dari debat kita.”

 

“Huh, debat untuk menemukan ide, sangat menarik. Dan untuk sesuatu yang kusuka, tentu saja itu dromas. Apakah kau keberatan apabila kita berdebat tentang topik itu?”

 

“Tentu saja tidak, Anaxa. Silahkan mulai debatnya.”

 

“Baiklah. Flame, menurutmu kenapa dromas begitu besar?”

 

Khaslana tersenyum, Anaxa benar-benar membawa topik tentang dromas kesukaannya. 134 siklus, 134 kali pula obsesi Anaxa terhadap dromas tidak pernah berubah. Tapi ia tahu bahwa Anaxa kini sedang serius, sehingga ia harus menjawab dengan serius pula.

 

“Hmm, mungkin karena pencipta mereka Georios, Titan Bumi? Kalau pencipta dromas adalah Aquila, mungkin mereka bisa terbang, atau kalau pencipta mereka adalah Phaguosa, mungkin mereka akan bernyanyi dengan suara merdu layaknya seekor burung.”

 

“Karena penciptanya? Heh kau tahu aku tidak percaya dengan Titan, tapi setidaknya jawabanmu masuk di akal. Kalau setiap makhluk bergantung dengan pencipta mereka, maka tidak ada yang bisa dilakukan untuk hal itu. Tapi sayangnya, setiap makhluk memiliki kehendaknya sendiri. Mereka berevolusi, melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh pencipta mereka. Mungkin saja di masa depan, dromas ciptaan Georios akan memiliki sayap, bukan karena Aquila ikut campur, tetapi karena para dromas berevolusi untuk memakan bintang-bintang di langit.”

 

“Sanggahan yang bagus, Anaxa. Tapi sejujurnya, aku teringat tentang kisah yang pernah kubaca saat aku kecil. Kau mau mendengarnya?”

 

“Lanjutkan.”

 

“Pada zaman dahulu, dromas berukuran sama seperti makhluk biasa. Namun ia sendirian, sebatang kara. Maka ia menjelajah, mengelilingi seluruh dunia, berharap menemukan teman baru. Namun naas, setiap makhluk yang ia temui akan terserap ke dalam tubuhnya karena kemampuan khusus yang dimilikinya. Semakin jauh ia berjalan, tubuh dan jiwanya kian membesar karena menelan seluruh makhluk yang ditemuinya. Dan ketika akhirnya ia kembali ke titik awal perjalanannya, ia tetap sebatang kara. Bedanya, kali ini ia memiliki teman—seluruh makhluk yang bersemayam di dalam dirinya. Dan begitulah asal-usul mengapa dromas berukuran besar seperti sekarang.”

 

Anaxagoras terbelalak, matanya berbinar-binar seakan telah mendapat pencerahan. “AHAHAHAH, TENTU SAJA ITU JAWABANNYA. Ukuran makhluk hidup memang sulit untuk melampaui batas varietasnya, tetapi kalau kamu melakukan sedikit alkimia untuk menggabungkan beberapa jenis varietas, mungkin saja terjadi sesuatu yang mustahil. Misalnya makhluk berukuran raksasa. Itulah dia! Mengapa tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya?”

 

Anaxagoras tertawa terbahak-bahak, lalu bergegas meninggalkan ladang, kemungkinan besar menuju laboratorium untuk merevisi formula-formulanya.

 

“Ah, Anaxa!” Khaslana memanggil sebelum Anaxa menghilang dari pandangannya.

 

“Ya? Ada apa, Flame?” Anaxagoras berhenti berjalan dan menoleh menghadap Flame.

 

“Ah, kau tahu, bulan ini adalah Bulan Kebebasan, dan ini adalah saat masa libur Grove.” Ujar Khaslana canggung, sembari mengusap tengkuknya. “Dan kuperhatikan kau masih menggunakan penutup mata lamamu yang berasal dari robekan jubahku, jadi kurasa aku ingin mengajakmu untuk membeli penutup mata yang baru.” 

Anaxagoras berpikir sejenak, “Baiklah, setelah percobaanku ini berhasil, mari kita menikmati waktu libur ini.” Dengan itu Anaxagoras berbalik, berjalan hingga menghilang di balik dahan-dahan Grove.

 

Seminggu setelah percakapan di ladang itu, percobaan Anaxagoras akhirnya membuahkan hasil. Buah dan sayuran raksasa tumbuh dari dalam tanah dengan tinggi yang melebihi tubuh Flame. Anaxagoras tersenyum puas menatap ladangnya, akhirnya ia bisa beristirahat dari eksperimen yang melelahkan ini.

 

Hanya untuk ia cemberut keesokan harinya.

 

“Sekarang, mengapa kita harus pergi ke Okhema, dari segala tempat, hanya untuk membeli penutup mata baruku?” Anaxagoras mengernyitkan dahinya, kesal dengan rencana ini.

 

“Uh ya… Karena Okhema merupakan tempat yang aman untuk saat ini? Karena itulah lebih banyak pedagang yang memilih untuk menetap disana, dibanding pedagang yang memilih untuk mengembara di tengah Amphoreus. Di sana juga ada berbagai tempat wisata, sehingga kita bisa sedikit bersantai.” Flame berkilah.

 

“Sebagus apapun Okhema, aku tetap tidak mau pergi ke sana. Aku tidak mau bertemu pemimpin Keturunan Chrysos, Aglaea. Aku tidak ingin mendengarkan omong kosongnya tentang ramalan Perjalanan Mengejar Api atau semacamnya, setidaknya biarkan aku lulus dengan tenang dulu dari Grove.”

 

Khaslana tentu saja sadar akan hal itu. Dalam kasus ini, Khaslana juga tidak mau mengusik benang emas milik Aglaea, atau ia akan memicu paradox ketika Phainon era ini muncul nantinya.

 

“Tentang itu, tenang saja Anaxa. Aku punya sedikit trik khusus agar kita tidak terdeteksi oleh benang emas milik Aglaea.”

 

“Trik khusus, katamu? Heh, memangnya kau ini apa, Setengah Titan Tipu Muslihat? Kau begitu percaya diri sekali bisa menipu benang emas Aglaea. Dan tidak, aku tidak ingin mengambil risi-”

 

“Ah, dan kudengar disana ada banyak dromas berkeliaran.”

 

Anaxagoras yang awalnya ingin marah karena kata-katanya dipotong oleh rekannya, setelah mendengar penyebutan kata dromas, matanya langsung berbinar dengan kesenangan murni. Anaxagoras berdeham dan mengubah keputusannya.

 

“Baiklah, aku akan ikut ke Okhema. Tapi kita tidak akan menginap, kita akan berangkat hari ini, dan pulang hari ini pula. Dan kita akan mengunjungi para dromas saat perjalanan pulang.” Anaxagoras memutuskan secara sepihak.

 

Khaslana tersenyum, ia tahu rasa cinta Anaxa kepada dromas tidak pernah berubah. Begitu ia menyebutkan tentang dromas, Anaxa yang awalnya menolak mentah-mentah rencana menuju Okhema, langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Sebenarnya alasan dirinya ingin membawa Anaxa menuju Okhema adalah karena ia ingin membelikan Anaxa penutup mata khas yang dipakainya di siklus-siklus sebelumnya. Khaslana ingin Anaxa memakai pakaian terbaik, dengan kain kualitas terbaik, bukan sebuah kain robekan lusuh untuk menutupi mata kiri Anaxa yang sudah menghilang.

 

Dan akhirnya mereka berdua berangkat menuju Okhema.

 

— — — — —

 

Sesampainya mereka di Okhema, langit masih bersinar terang. Tentu saja berkat Dawn Device yang masih berfungsi sebagaimana mestinya. Khaslana tanpa sadar menatap lebih lama ke arah Dawn Device, sadar bahwa tujuan akhirnya adalah menghancurkan protokol akhir yang berada di dalam Dawn Device. Ia mengepalkan tangannya, diam-diam berharap bahwa kali ini, dalam siklus ini, ia akhirnya berhasil untuk menembus protokol terkutuk itu.

 

Anaxagoras yang menyadari rekannya menatap terlalu lama ke arah Dawn Device dengan tangan terkepal, memutuskan untuk menginterupsinya.

 

“Terlalu takjub dengan perangkat dewa? Hati-hati dengan matamu, aku tidak ingin satu-satunya rekanku saat ini membutakan dirinya dengan sengaja karena terlalu lama menatap ke arah Dawn Device.”

 

Khaslana akhirnya sadar dari lamunan sesaatnya, “Jadi itukah Dawn Device? Maafkan aku yang kehilangan diri sesaat, perangkat dewa terlalu menarik untuk hanya ditatap sekilas.”

 

“Terserahlah, lagipula apa menariknya dari perangkat yang menyebabkan langit selalu bersinar terang? Terlalu monoton, persis seperti pemimpin kota saat ini.”

 

Khaslana terkekeh singkat, “Baiklah Anaxa, sekarang pegang tanganku dan kita akan masuk ke kota. Pastikan jangan terlalu jauh dariku atau trikku untuk menghindari benang emas Aglaea tidak akan sampai kepadamu.”

 

Dan Anaxagoras pun bergerak mendekat ke arah Flame, sedikit terkesiap saat memegang tangan Flame yang lebih panas dibanding tubuhnya.

 

“Ah, aku tidak pernah terbiasa dengan suhu tubuhmu, Flame.” Anaxagoras mengeluh, tetapi ia tetap memegang tangan Flame dan mengaitkan jari-jarinya. Dan setelah itulah, mereka berdua akhirnya berjalan bersama menuju pasar.

 

Sesampainya mereka di pasar, Khaslana langsung mengajak Anaxa ke sudut pasar, menuju seorang pedagang yang dikenal dengan nama Theodoros. Di situlah mereka memilih penutup mata yang cocok untuk Anaxa—meskipun Khaslana sudah menargetkan satu yang selalu dipakai Anaxa di setiap era. Saat Anaxa masih mencari penutup mata yang cocok untuknya, sudut mata Khaslana menangkap keberadaan sebuah anting berwarna merah, anting yang serasi dengan mata Anaxa. Khaslana berpikir anting itu akan cocok jika dipakai oleh Anaxa, sehingga ia diam-diam membelinya bersama penutup mata pilihannya untuk diberikan kepada Anaxa. Saat Anaxa akhirnya mencoba penutup mata pilihan Khaslana, Khaslana menyadari betapa cantiknya Anaxa dengan penutup mata baru itu.

 

Penutup mata baru milik Anaxagoras sungguh cocok dengan pemiliknya. Penutup mata itu berbahan kain sutra halus berwarna hitam, dengan simbol seperti mata yang menghiasinya. Flame berkata kepadanya, bahwa hiasan berbentuk mata itu akan menjadi simbol untuk mata kiri Anaxagoras yang hilang. Hiasan itu juga berbentuk seperti empat arah mata angin, dan Flame mengartikannya sebagai penanda bahwa Anaxagoras akan selalu menjadi tujuannya apabila ia tersesat atau kehilangan arah. Penutup mata itu juga dihiasi dengan ornamen-ornamen berwarna emas, dan Flame bilang itu cocok untuknya yang bijaksana dan agung. Hah, Flame dan mulut manisnya. Bukan berarti Anaxagoras akan menolak, toh penutup mata ini merupakan hadiah dari Flame. Dan siapa pula Anaxagoras yang akan menolak hadiah dari rekannya?

 

Setelah dari pedagang tersebut, mereka mengitari pasar untuk mencari pedagang lain—sambil menghindari butik milik Aglaea. Anaxagoras membeli beberapa buku dari salah satu pedagang, Khaslana melihat-lihat barang antik, dan mereka berakhir makan siang bersama di salah satu kedai di pasar. Mereka makan dengan tenang, sebelum Khaslana melontarkan satu ide gila kepada Anaxa: Mandi di pemandian umum.

 

Anaxagoras dengan keras menolak ide tersebut. Mandi di pemandian umum berarti mereka memasuki pusat Okhema lebih jauh, yang juga berarti meningkatkan kemungkinan mereka untuk bertemu Aglaea. Belum lagi itu pemandian umum, dan Anaxagoras tidak suka mempertontonkan tubuhnya di depan khalayak ramai—apalagi dengan bekas eksperimennya di masa lalu. Namun Flame dengan mata anjing dan lidah liciknya, dengan halus memohon kepada Anaxagoras, sehingga akhirnya Anaxagoras mau tidak mau setuju. Tetapi dengan satu syarat darinya bahwa mereka tidak akan mandi di pemandian umum, tetapi di pemandian pribadi. Dan setelah persetujuan itu, Anaxagoras bersumpah ia dapat melihat ekor anak anjing imajiner yang bergoyang-goyang bahagia di belakang tubuh Flame.

 

Dan begitulah mereka berdua berakhir mandi di pemandian pribadi. Anaxagoras takjub bahwa trik apapun yang dimiliki Flame ternyata cukup aman dari deteksi benang emas Aglaea sampai saat ini. Anaxagoras berusaha rileks berendam di air panas, meredakan otot-ototnya yang kaku setelah setahun penuh sibuk berjuang sebagai mahasiswa di Grove. Dan entah karena suhu airnya yang terlalu pas atau mungkin Anaxagoras memang sedang kelelahan, Anaxagoras berakhir tertidur di tepi kolam pemandian.

 

Khaslana di sisi lain tersenyum singkat. Khaslana merasa Anaxa yang tertidur di tengah mandi sangatlah lucu. Khaslana mendekat, mengangkat tangan kanannya untuk memegang dagu Anaxa. Tanpa sadar, ia mendalami lebih dalam fitur-fitur yang ada di wajah Anaxa. Bulu matanya yang panjang dan berwarna hijau, hidungnya yang mancung, bibirnya yang kecil dan berwarna merah muda—Khaslana baru menyadari bahwa Anaxa memiliki fitur wajah yang sangat menarik. Khaslana semakin mendekat, tangan kirinya bergerak merapikan beberapa helai rambut Anaxa yang jatuh menutupi wajahnya. Khaslana tidak tahu berapa lama ia menatap, hingga tanpa sadar jantungnya—yang ia kira telah lama mati—sedikit berdenyut di bawah dadanya. Terkejut, Khaslana melepas tangannya dari dagu Anaxa dan menjauh, memeriksa jantungnya, tetapi ia tidak menemukan keanehan apapun. Khaslana pun akhirnya hanya menganggap itu hanya salah sangka karena uap air panas mengaburkan pikirannya.

 

Kali berikutnya Anaxagoras bangun, waktu sudah menunjukkan panca akhir di Waktu Perpisahan. Anaxagoras bangkit dan terkejut, tidak menyangka telah tertidur selama itu. Di sampingnya, Flame hanya menatapnya dengan senyum bodoh. Kesal, Anaxagoras pun memarahinya.

 

“Kenapa kau tidak membangunkanku? Bukankah sudah kubilang kita hanya menghabiskan sehari saja di Okhema? Saat ini sudah terlalu larut, bagaimana kita bisa pulang ke Grove?”

 

Flame masih mempertahankan senyum bodohnya. “Tenanglah Anaxa, bagaimana kalau kita menginap saja, dan kembali ke Grove besok di Waktu Pintu? Toh kau perlu lebih banyak rileks sebelum berkutat kembali dengan eksperimenmu. Buktinya, metodeku manjur karena kau langsung tertidur lima menit setelah kita masuk ke kolam pemandian ini.”

 

Anaxagoras terkejut, tidak menyangka rekannya ini sudah merencanakannya dari awal apapun keputusan sepihak darinya. Kesal, ia keluar dari kolam sambil melilitkan handuk di badannya.

 

“Terserahlah. Tapi kau yang urus sisanya. Aku tidak mau mengurus hal-hal yang ada di luar rencanaku.”

 

Flame, masih dengan senyum bodohnya, menjawab dengan riang, “Baik, Anaxa!”

 

Sesaat kemudian, Flame—entah bagaimana caranya—berhasil mendapatkan satu kamar kosong untuk mereka menginap. Anaxagoras langsung masuk ke kamar, tidak mau tahu detail apa yang dibicarakan oleh Flame dan pemilik penginapan. Ia bergegas mengganti bajunya, karena tidak nyaman untuk tidur dengan memakai pakaian sehari-hari. Untungnya, penginapan ini menyediakan baju tidur sederhana, karena ia tidak membawa apapun untuk baju ganti. Anaxagoras menghela napas, harusnya ia membawa piyama dromasnya karena itu lebih nyaman dibanding apapun yang disediakan oleh penginapan. Tapi Anaxagoras tidak memiliki ruang untuk mengeluh, jadi ia bergegas mengganti bajunya dan berbaring di tempat tidur.

 

Ketika Khaslana sudah menyelesaikan urusannya di luar, ia melihat Anaxa sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi pintu. Khaslana tersenyum, Anaxa masih merajuk akan perubahan rencana mendadak  mereka. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengambil baju ganti dan mengganti bajunya di kamar mandi dalam. Setelah itu, ia mengambil handuk dan duduk di tepi tempat tidur, mengguncang bahu Anaxa, meminta perhatiannya.

 

“Anaxa, tolong bangun terlebih dahulu. Rambutmu masih basah, dan kalau kau tertidur dengan kondisi seperti itu, mungkin kau akan sakit besok.”

 

Anaxagoras mengerjap, ia baru sadar kalau rambutnya masih basah. Dan tentu saja Flame ada benarnya, ia tidak mau jatuh sakit besok dan mengharuskannya untuk tinggal lebih lama di Okhema. Jadi dengan mendengus ia bangun dari tidurnya, lalu duduk membelakangi Flame.

 

“Anaxa, kau masih marah kepadaku?” Flame bertanya dengan lembut.

 

“Tentu saja. Aku tidak suka rencanaku yang tersusun dengan sempurna hancur berantakan begitu saja.”

 

“Tapi Anaxa, aku melakukan ini juga demi kebaikanmu.” Flame mendekat, mengusapkan handuk yang dibawanya ke rambut hijau mint Anaxa yang masih basah.

 

“Lain kali, beri tahu aku terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu secara tiba-tiba.”

 

“Tapi Anaxa, bukankah kau juga selalu memutuskan segala sesuatu sendirian?”

 

“Kau…” Anaxagoras mengernyit marah, mengangkat kepalanya menghadap Flame. Dan betapa salahnya ia, karena jarak antara wajah mereka kini terlalu dekat—hanya berkisar sekitar 1 jengkal.

 

Dari jarak sedekat ini, Anaxagoras baru memperhatikan fitur-fitur yang ada di wajah Flame. Matanya berwarna ungu seperti kedalaman abyss, hidungnya tegas, bibirnya pucat dan sedikit terbuka, dan ada beberapa bekas luka di pipinya—mungkin dari pengembaraannya sebelumnya. Anaxagoras tahu bahwa Flame itu tampan, tapi dari jarak sedekat ini, Flame rasanya berkali-kali lipat lebih menawan. Berbeda dengan dirinya yang kurus, pendek, dan buruk rupa. Fitur tubuh Flame tak bisa dibandingkan dengan tubuhnya sendiri yang telah beberapa kali berubah akibat percobaan alkimia. Setelah apa yang terasa seperti seabad, Anaxagoras menyadari ia sudah menatap terlalu lama. Anaxagoras mengalihkan pandangannya dan berdeham kecil untuk meredakan kecanggungan.

 

“Ekhem, baiklah, terserah apa katamu. Aku yang salah.”

 

“Tidak, Anaxa, aku yang salah. Maaf telah membawamu secara tiba-tiba tanpa mempertimbangkan kesetujuanmu.”

 

“Kamu…” Anaxagoras sekali lagi merasa kesal. Ia telah menurunkan egonya untuk mengakui kesalahannya, tetapi sepertinya rekannya hanya sedang menggoda. Ia membalikkan badan, hendak menghardik Flame. Tapi sekali lagi keputusannya ternyata salah, karena Flame sama sekali tidak mengancingkan baju tidurnya. Anaxagoras dapat melihat dengan jelas dadanya yang bidang, berotot, dengan sedikit bekas luka melintang. Anaxagoras mendapati pipinya terasa panas, lalu ia menutup matanya dan membentak,

 

“Apakah kau tidak punya sopan santun untuk memakai bajumu dengan benar?”

 

Khaslana sedikit kebingungan mengapa Anaxa tiba-tiba kesal lagi. Khaslana melihat ke arah tubuhnya, mencari tahu apakah ada yang salah hingga Anaxa membentaknya. Menyadari kondisinya yang secara teknis setengah telanjang membuat Anaxa malu, ia mendekat dan meminta maaf kepada Anaxa.

 

“Maaf Anaxa, tetapi baju yang disediakan hanya satu ukuran, dan ukuran ini terlalu kecil untukku sehingga aku tidak bisa mengancingkannya dengan benar.” Flame berkata sambil dengan lembut melepaskan tangan Anaxa yang masih menutupi matanya. Dan setelah itu, Flame baru menyadari wajah Anaxa benar-benar sudah semerah tomat raksasa yang dipanennya kemarin.

 

Anaxa memberontak, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Flame. Setelah berhasil terlepas, ia kembali merebahkan dirinya, berbaring dengan tubuh membelakangi Flame.

 

Khaslana terkekeh, menyadari bahwa tingkah Anaxa kali ini sangat menggemaskan. Khaslana bangkit dari tempat tidur, menggantung handuk yang dibawanya di gantungan yang disediakan, lalu mematikan lampu kamar tidur mereka. Setelah itu, ia meringsut naik ke tempat tidur, memeluk Anaxa dari belakang.

 

Anaxagoras berjengit kaget, “Apa yang kau lakukan?”

 

“Apalagi? Memelukmu, tentu saja. Kau ingat kan, trik yang kulakukan mengharuskan kita untuk berdekatan? Tentu kau tidak mau pintu kamar ini tiba-tiba didobrak oleh Aglaea ketika kita sedang tidur karena benang emasnya mendeteksi kita?”

 

“Baiklah, terserah kau saja.” Anaxagoras menyamankan dirinya di pelukan Flame, berusaha untuk tertidur dengan panas tambahan yang memeluknya dari belakang.

 

Ajaibnya, untuk pertama kalinya setelah kematian kakak perempuannya, baru kali ini Anaxagoras dapat tertidur tanpa adanya mimpi buruk yang menghantuinya.

 

— — — — —

 

Kali berikutnya Anaxagoras bangun, hal pertama yang dilihat oleh matanya adalah dada bidang yang tidak ditutupi sehelai kain pun. Kabut tidur yang masih menghantui Anaxagoras langsung menghilang seluruhnya. Ia mendorong dada di hadapannya dan mendongak untuk menatap rekannya yang sama sekali tidak memiliki sopan santun dalam berpakaian.

 

Flame, rekannya, tampak masih tertidur pulas. Siklus napasnya normal dan matanya masih tertutup rapat. Anaxagoras sekali lagi tersihir oleh ketampanan Flame. Tanpa sadar tangannya naik menyentuh bekas luka yang ada di pipi Flame. Anaxagoras tidak tahu banyak tentang masa lalu Flame sebelum pertemuan tak sengaja mereka di Grove. Namun menyentuh bekas luka itu membuat Anaxagoras sadar bahwa masa lalu Flame mungkin lebih berat dari yang ia kira.

 

“Suka dengan apa yang kau lihat, Anaxa?”

 

Anaxagoras terkejut. Flame ternyata sudah bangun dan sedang berpura-pura tidur hanya untuk menggodanya. Kali ini, Anaxagoras tidak ingin bereaksi terlalu berlebihan, sudah cukup ia digoda oleh Flame seharian kemarin.

 

“Tidak. Apakah kamu tidak mau menceritakan kepadaku bagaimana kamu mendapatkan bekas luka ini, Flame?” tanya Anaxagoras sambil mengusap bekas luka Flame dengan jarinya.

 

Khaslana tersenyum sendu, membuka matanya untuk menatap Anaxa yang menatapnya khawatir. Bekas-bekas luka yang ada di tubuhnya merupakan bekas luka dari pertempuran di masa lalu, pengingat kejam untuk dirinya tentang kegagalannya selama 134 siklus. Tapi Anaxa tidak perlu mengetahui hal ini sekarang, jadi ia menggunakan kebohongannya sekali lagi untuk menutupinya dari Anaxa.

 

“Itu tidak penting, Anaxa. Ini hanyalah bekas luka dari pertempuran masa lalu, ketika Bencana Hitam mengincar seorang pengembara lemah yang kesepian.” Khaslana membawa jari-jari Anaxa ke arah bibirnya, sedikit mencium jari-jarinya.

 

“Sakit?”

 

“Sudah tidak sakit lagi. Sentuhan jari-jarimu merupakan obat terbaik bagi bekas lukaku, Anaxa.”

 

Anaxagoras mendengus, Flame menggodanya sekali lagi. Tak tahan dengan godaan Flame yang tiada habisnya, Anaxagoras menarik jari-jarinya dan berusaha bangkit dari tempat tidur.

 

“Sudahlah. Mandi dan bersiap-siap pulang sekarang juga. Aku tidak mau menghabiskan hariku lebih lama di Okhema.” Anaxagoras turun dari tempat tidur dan bersiap mandi.

 

Khaslana, di sisi lain, masih membayangkan rasa jari-jari Anaxa yang ada di bibirnya tadi. Jari-jari Anaxa halus, berbeda dengan jari-jarinya yang kasar dan kapalan karena selalu mengangkat pedangnya. Khaslana sebenarnya tidak sepenuhnya berbohong tentang jari-jari Anaxa, karena saat Anaxa menyentuh bekas luka di pipinya tadi, pikiran Khaslana yang selama ini dihantui oleh kematian dan kegagalan dari siklus sebelumnya entah mengapa menjadi lebih tenang. Ah, mungkin bukan hanya ketika Anaxa menyentuh pipinya tadi. Setiap saat bersama Anaxa, ketika berbicara dengannya, menggenggam tangannya, menemani setiap percobaannya, atau berdebat dengannya, Khaslana merasa terfokus sepenuhnya kepada Anaxa, dan sejenak bisa melupakan beban yang ada di pundaknya.

 

“Flame, pergi mandi sekarang.” Anaxa menyerahkan handuk untuk dipakai Khaslana mandi.

 

Tak ingin kembali tenggelam dalam pikirannya, Khaslana pun mengambil handuk yang diserahkan oleh Anaxa dan langsung mandi serta bersiap-siap untuk pulang menuju Grove.

 

Tentu saja, sesuai rencana Anaxa awalnya, mereka melihat-lihat dromas dulu sebelum pulang. Khaslana tidak pernah melihat mata Anaxa berbinar-binar kecuali dalam tiga hal. Yang pertama, ketika percobaan alkimianya berhasil. Yang kedua, ketika teori Anaxa terbukti benar. Dan yang ketiga, ketika Anaxa melihat dromas. Khaslana sebenarnya tidak mengerti mengapa Anaxa begitu terobsesi pada makhluk besar berwarna ungu, bersisik, bertanduk putih, serta suka memakan tanah liat. Bahkan dalam berbagai era, ketika Anaxa mendapat julukan ‘Dromas yang Berpakaian Mewah’, Anaxa menganggap itu pujian karena ia dijuluki sebagai dromas. Bahkan di siklus pertamanya, Khaslana masih ingat Anaxa menyuruhnya menulis lampiran tentang dromas sebagai syarat kelulusan. Anaxa juga memiliki koleksi piyama dromas di lemarinya, dan yang sering dipakai oleh Anaxa adalah yang berwarna biru muda. Bahkan ketika Khaslana mengunjungi kamar Anaxa, ia melihat banyak boneka dromas yang disusun rapi di atas kasurnya. Anaxa memang sangat terobsesi dengan dromas.

 

“Flame! Mengapa kau cemberut seperti itu? Sini ikut denganku menyentuh anak cantik ini.”

 

Cemberut? Khaslana tidak ingat kapan dirinya mulai cemberut. Menetralkan ekspresinya, dia mendekat ke arah Anaxa.

 

“Kau tahu, Flame? Kita bisa tahu apa yang dirasakan oleh dromas hanya dengan melihatnya. Ketika lehernya terlalu tegak dan kaku, tandanya ia sedang marah, dan jangan pernah sekalipun untuk mengganggu dia. Ketika ekornya bergoyang dengan halus, itu tandanya ia sedang santai. Kalau ekornya bergoyang kiri-kanan dengan cepat, tidak ada kerutan halus di matanya, dan ketika kau menempelkan tanganmu ke tubuh dromas seperti ini, ia malah mendekatkan kepalanya kepadamu, tandanya ia sedang senang. Biasanya mereka senang karena telah diberi makan. Ah, omong-omong tentang pakan dromas, kemarin aku melakukan penelitian. Pakan tanah liat merah digadang-gadang memiliki khasiat menyembuhkan dromas, tapi sebenarnya itu bohong. Tanah liat merah hanya berfungsi untuk mengenyangkan dromas. Oh, selain itu, dromas juga bisa diberi makan tanah liat kuning dan tanah liat hitam, bahkan bisa memakan makanan manusia, tapi harus dalam jumlah yang banyak. Selain itu-”

 

“Anaxa.” Khaslana memotong ucapan Anaxa, memegang kedua tangan Anaxa yang sedari tadi bergerak sembari sibuk menjelaskan tentang dromas.

 

Anaxagoras terdiam, sedikit kesal karena penjelasannya tentang dromas dipotong begitu saja. Ia tidak suka ketika orang lain memotong penjelasannya, tetapi kali ini ia diam karena sepertinya Flame sedang serius.

 

“Anaxa, tolong perhatikan diriku juga.” Khaslana memohon, mendekatkan tangan Anaxa ke pipinya.

 

Anaxagoras terdiam, jantungnya berdegup kencang di dalam dadanya. Ia ingin membalas kata-kata Flame, tapi sepertinya kata-kata yang akan keluar dari bibirnya tertahan oleh lidahnya sendiri. Sungguh memalukan bagaimana mahasiswa yang dikenal dengan lidah tajam dan piawai dalam berdebat kehilangan seluruh kata ketika berhadapan dengan rekannya. Setelah apa yang rasanya seperti seabad, Anaxagoras menarik napas, mengumpulkan kata-kata yang telah hilang.

 

“Bodoh. Aku selalu memperhatikanmu, Flame.” Anaxagoras menarik tangannya dari pipi Flame.

 

“Tapi rasanya dirimu lebih memperhatikan dromas dibanding aku.”

 

“Flame. Itu dua hal yang berbeda. Kau tahu bagaimana aku memperhatikanmu dengan caraku sendiri.”

 

“Kalau begitu Anaxa, lihat aku.”

 

Anaxagoras berbalik, melihat Flame seutuhnya. Flame melangkah mendekat, lalu membungkuk untuk mengusapkan jari-jarinya di telinga kiri Anaxagoras. Anaxagoras merasakan rasa sakit singkat dari telinganya kirinya sebelum Flame mundur dan tersenyum.

 

“Cantik, warnanya serasi dengan matamu.”

 

Anaxagoras menyentuh telinganya, merasakan anting-anting yang kini terpasang di telinga kirinya. Ia bertanya dalam hati, ‘Kapan Flame membeli ini? Apakah mungkin di pedagang kemarin? Untuk apa Flame membelikan ini untuknya?’ dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan dari hati Anaxagoras. Mungkin sadar dengan diamnya Anaxagoras, atau mungkin Flame yang terlalu peka dengan hatinya, Flame di hadapannya menjawab,

 

“Aku membelikan ini untukmu kemarin, Anaxa. Aku sadar kita telah bertemu setidaknya selama setahun, tetapi aku tidak mengetahui kapan hari ulang tahunmu. Jadi, untuk satu tahun pertemuan kita, aku ingin menghadiahkan sesuatu padamu, sebagai ganti dari hadiah ulang tahun yang mungkin terlupa atau terlewat.”

 

“Itu sebenarnya tidak perlu, Flame. Aku pun sudah lupa dengan hari ulang tahunku. Tapi untuk hadiah indah yang kau beli ini, aku berterima kasih dengan tulus, Flame.” Untuk pertama kalinya setelah kematian kakaknya, Anaxagoras tersenyum dengan tulus.

 

“Sama-sama, Anaxa.” Khaslana membalas senyuman Anaxa.

 

Dan di hari itu, dengan sinar lembut dari Dawn Device dan dromas di sekeliling mereka, mungkin telah tumbuh suatu perasaan yang hanya disadari oleh diri mereka masing-masing.

 

— — — — —

 

Khaslana sungguh bodoh. 134 siklus, 134.000 tahun, 134 kali bertemu dengan Anaxa dari berbagai era, ia baru menyadari perasaannya kepada Anaxa sekarang. Jantung yang selama ini ia kira berhenti berdetak karena terbakar oleh 1.596 benih api yang harus ia tanggung, berdetak dengan kecepatan yang tidak wajar saat ia melihat senyuman tulus Anaxa.

 

Sesungguhnya rencana Khaslana saat datang ke Grove sangat sederhana. Pelajari konsep-konsep rahasia dunia yang mungkin terlewat olehnya, curi Benih Api Rasionalitas, lalu pergi dengan tenang. Ia tidak menyangka bahwa ia datang terlalu awal, sehingga ia harus bermain peran sebagai mahasiswa, dan menumbuhkan perasaan untuk Anaxanya—atau mungkin perasaan itu sudah ada sejak awal, namun ia menolak untuk mengakuinya.

 

Karena itulah, setahun kemudian, setelah Anaxa dan segala kecerdasannya membuatnya lulus lebih cepat dari seluruh mahasiswa di Grove, lalu membangun Sekolah Benih Kecerdasan dengan tangannya sendiri, serta ditetapkan sebagai satu dari Tujuh Orang Bijak, Khaslana pergi dari Grove dengan mengucapkan salam perpisahan singkat kepada Anaxa.

 

“Sampai jumpa di hari esok, Anaxa.”

 

Di malam yang tenang, Khaslana datang ke Grove, dan di malam yang tenang pula, Khaslana meninggalkan Grove.

 

Khaslana tentu saja mengetahui bahwa jatuh cinta adalah sebuah kemewahan yang tidak boleh dimilikinya. Bila ia jatuh cinta, maka ia akan ragu. Bila ia jatuh cinta, maka ia akan lemah. Bila ia jatuh cinta, maka penilaiannya akan bias dan menjadi kabur. Bila ia jatuh cinta, maka ia tidak mampu untuk mengangkat pedangnya kepada orang yang ia cintai. Siklus yang tak berujung ini seharusnya mengajarinya hal-hal tersebut.

 

Tetapi Khaslana dengan lancang memutuskan untuk tidak menghapus perasaannya. Ia diam-diam memimpikan hari-harinya bersama Anaxa, lalu menyelipkan Anaxa dalam setiap harapan yang ia punya untuk akhir dari jalan yang ia hadapi saat ini.

 

Waktu berlalu, dan Khaslana kini kembali ke Grove. Kali ini ia tidak kembali sebagai Flame, mahasiswa yang menghabiskan hari-harinya bersama Anaxa, tetapi sebagai Khaslana, algojo yang bertugas untuk mengambil benih api baik dari dada Titan maupun Demigod.

 

Khaslana melangkah menuju Takhta Pencerahan. Jalan berliku dan penuh cabang di Grove tidak menghalanginya, ia telah hafal di luar kepala berkat pengalaman dari siklus-siklus sebelumnya serta saat bermain peran sebagai mahasiswa. Sesuai dugaannya, Anaxa sudah menunggunya di sana, duduk dengan segala kemegahannya di atas Takhta Pencerahan.

 

“Jadi, kaulah yang bernama Khaslana, orang yang telah melampaui rahasia Amphoreus.” Anaxagoras menyilangkan kakinya, membuka percakapan dengan tenang.

 

“Ya, akulah yang bernama Khaslana.” Khaslana menjawab, berhenti sepuluh langkah di hadapan Anaxa.

 

“Baiklah, kau mengincar benih api ini, bukan?” Anaxagoras mengeluarkan Benih Api Rasionalitas. “Tentu kau mengerti konsep pertukaran setara. Jawab pertanyaanku dengan jujur, dan kau akan mendapatkan benih api ini. Sepakat?”

 

Khaslana mengangguk.

 

“Khaslana, apa yang menjadi dasar dari Amphoreus?” Anaxagoras melontarkan pertanyaannya.

 

“Siklus. Siklus yang tak berujung.” Khaslana menjawab pertanyaan itu dengan lugas.

 

“Huh. Omong kosong.” Anaxagoras menggelengkan kepalanya.

 

“Maaf? Kukira itu jawaban yang kau cari selama ini.”

 

“Ya, itu memang teoriku, tetapi kalau jawabannya muncul begitu saja dengan konfirmasi darimu, kini sudah tidak seru untuk ditelusuri lebih lanjut.” Anaxagoras menghela napas kecewa.

 

“Pertanyaan selanjutnya.” Anaxagoras bangkit dari Takhta Pencerahan, berjalan turun mendekati Khaslana. “Apakah kau ingat pada hari apa aku kehilangan mata kiriku, Flame?” Anaxagoras membuka penutup matanya, berhenti tepat satu langkah di hadapan Khaslana.

 

Khaslana menahan napas, terkejut. “Jadi anda sadar, Anaxa?”

 

“Tentu saja. Bukankah sudah kubilang aku selalu memperhatikanmu? Ketika kau memanggilku profesor saat pertama kali kita bertemu, ketika aku merasakan suhu tubuhmu yang terlalu panas, ketika kau menceritakan tentang kisah dromas padahal itu adalah kisahmu yang kau tutupi dengan kebohongan kecil, ketika kau melakukan trik untuk menghindari benang emas Aglaea dengan trik yang sangat mirip dengan kemampuan Titan Tipu Muslihat, ketika aku merasakan jantungmu yang tidak berdetak saat kau memelukku di Okhema, dan ketika kau menyamar dengan buruk di balik nama Flame. Sudah kubilang, aku selalu memperhatikanmu, bahkan dalam detail sekecil apapun.”

 

“Ah, aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, Anaxa.” Khaslana tersenyum penuh kekalahan.

 

“Hm, Tentu saja. Biar kutebak, aku pernah menjadi profesormu di siklus sebelumnya, bukan?”

 

“Benar. Lebih tepatnya, kau menjadi profesorku di siklus pertama. Di siklus lainnya kau menjadi profesor untuk diriku dari era ini—Phainon, kalau kau mengenal namanya.”

 

“Tunggu. Sudah berapa lama kau melangkahi siklus ini, Khaslana?”

 

“Seratus tiga puluh empat siklus. Dan seribu lima ratus sembilan puluh enam benih api yang sudah tertanam dalam diriku.” Khaslana menutup matanya, menyentuh dadanya dan merasakan benih-benih api yang tertanam di dalam tubuhnya.

 

“Kau… gila. Kau masih manusia, Khaslana! Kau akan hangus suatu hari nanti!” Anaxagoras berteriak.

 

“Tentu saja. Api dewata akan membakarku dan membutakanku nantinya. Tapi ini adalah jalan yang kupilih, demi keselamatan dunia ini.” Khaslana tersenyum sendu, menatap Anaxa langsung ke matanya.

 

“Baiklah, pertanyaan terakhir.” Anaxagoras menutup mata, menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan.

 

“Apakah kau sanggup membunuhku, Khaslana?” Anaxagoras membuka mata perlahan, menatap dengan sorot mata yang tajam.

 

Kali ini Khaslana terdiam, tidak mampu menjawab.

 

“Jawab aku, Khaslana! Kamu dapat membunuh rekan-rekanmu di siklus sebelumnya, kamu dapat membunuh setiap versi dari dirimu sendiri, bahkan kamu dapat membunuhku di siklus-siklus sebelumnya! Kenapa kamu tidak sanggup membunuhku sekarang!” Anaxagoras berteriak.

 

“Karena faktanya, AKU TIDAK PERNAH SANGGUP MEMBUNUHMU, ANAXA! Kamu selalu meninggal tanpa aku harus membunuhmu. Aku pernah frustasi mencari cara untuk menyelamatkanmu di berbagai siklus, dan berakhir gagal karena takdir sialan itu entah mengapa selalu berhasil menemukan cara untuk merebutmu dariku! Dan yang terpenting adalah fakta bahwa AKU MENCINTAIMU, ANAXA!” Khaslana, diliputi oleh rasa frustasi, membalas teriakan Anaxa dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

 

Mereka berdua terdiam. Atmosfer di sekitar mereka terasa berat dengan emosi yang tidak tersampaikan dengan benar.

 

“Kalau begitu, Khaslana.” Anaxagoras yang pertama memecah keheningan, melangkah mendekat dan menggenggam tangan kanan Khaslana. “Bunuh aku dengan Dawnmaker milikmu. Itulah cara yang kupilih untuk meludahi takdir sialan ini.” Anaxagoras memaksa Dawnmaker muncul dari tangan Khaslana, lalu mengarahkan Dawnmaker ke dadanya.

 

“Aku… tidak bisa.” Khaslana menggeleng, air mata mengalir dari matanya walau langsung menguap saat menyentuh pipinya.

 

“Kau bisa, Khaslana. Bunuh aku, ambil Benih Api Rasionalitas, dan selamatkan dunia ini.” Anaxagoras menutup matanya, menarik Dawnmaker hingga merobek jubahnya dan menggores dadanya.

 

Khaslana akhirnya menutup matanya, menusukkan Dawnmaker ke dalam dada Anaxa. Anaxa segera kehilangan darah dengan cepat, kehilangan keseimbangan. Khaslana memeluknya, merasakan darah mengalir deras dari lubang tempat ia menancapkan Dawnmaker ke dada Anaxa. Anaxagoras terbatuk, darah mengalir di bibirnya seiring ia membisikkan kata-kata terakhir ke telinga Khaslana.

 

“Khaslana, aku juga mencintaimu. Khaslana, neraka terlalu dingin. Aku disini untuk mati bersamamu.”

 

Pada akhirnya, Anaxagoras, Setengah Dewa Rasionalitas, Penghujat Keji, pendiri Sekolah Benih Kecerdasan, meninggal di tangan orang yang dicintainya.

 

Khaslana masih memeluk tubuh Anaxa yang mulai mendingin. Ia tidak sanggup melepaskannya, berharap ketika ia membuka matanya, luka Anaxa yang menganga akan sembuh seketika dengan kekuatan Setengah Dewa miliknya. Namun harapan itu sia-sia. Tidak ada tanda-tanda keajaiban yang terjadi, dan tubuh Anaxa perlahan terasa kaku di pelukannya.

 

‘Kamu membunuhnya.’

‘Kamu membunuh orang yang kamu cintai.’

‘Kamu tidak sanggup melindungi orang yang kamu cintai.’

‘Darahnya mengotori senjatamu.’

‘Darahnya mengotori tanganmu.’

‘Kamu telah gagal.’

‘Rasionalitasmu telah tiada.’

‘Cahayamu telah tiada.’

‘Kompasmu telah tiada.’

‘Profesormu telah tiada.’

‘Anaxamu telah tiada.’

 

AAAAAARRRRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!

 

Teriakan Khaslana memecah keheningan di Grove.

 

Khaslana mengangkat Dawnmaker dengan tangan kirinya dan menggendong tubuh Anaxa yang telah kaku dengan tangan kanannya.

 

Setelah itu Khaslana tidak mengingat apapun lagi.

 

Yang ia tahu, ia mendengar beberapa teriakan dan beberapa percikan darah yang menutupi matanya.

 

>>>Peringatan! Peringatan! Peringatan!

>>>Proses eksperimen abnormal: Subjek Khaslana menunjukkan anomali agresivitas yang sangat tinggi

>>>Peringatan! Peringatan! Peringatan!

>>>Subjek Khaslana melakukan pembantaian massal terhadap subjek uji coba lain. Beberapa data minor terhapus secara permanen

 

Khaslana tidak tahu sudah berapa lama waktu berjalan, hingga hanya tersisa dirinya sendiri di Amphoreus. Campuran noda darah emas dan merah meninggalkan bekas di bilah tajam Dawnmaker. Anaxa masih terbujur kaku di pelukannya.

 

Lagi.

 

Akhir siklus dimana ia sendiri lagi.

 

Akhir siklus dimana ia gagal sekali lagi.

 

Sungguh ironi. Khaslana memiliki 134 Benih Api Rasionalitas, tetapi Rasionalitasnya sendiri telah tiada.

 

Karena Rasionalitasnya dibunuh oleh tangannya sendiri.

 

>>>Pengulangan Abadi #134: Subjek Khaslana gagal menyerang Tongkat Kuasa untuk ke-103 kalinya. Risiko penyesuaian berlebihan terdeteksi

>>>Siklus hidup kedua belas Keturunan Chrysos berlangsung lebih cepat

>>>Subjek Khaslana meregresi proses kalkulasi

 

Kali berikutnya Khaslana mengulang siklus, ia merobek jantungnya dari dadanya sendiri, lalu menghancurkannya dengan kedua tangannya. Ia memastikan jantungnya tidak lagi berdetak, agar ia terbebas dari perasaan yang seharusnya tidak boleh ia rasakan.

 

Dan Khaslana bersumpah pada dirinya sendiri, dalam siklus-siklus selanjutnya, ia tidak akan pernah membunuh Anaxa dengan tangannya lagi. Dawnmaker tidak boleh lagi ternoda dengan darah Rasionalitas.

 

>>>Catatan tambahan: Fungsi kognitif subjek Khaslana terdeteksi telah mengalami kerusakan parsial, dengan risiko kerusakan permanen

>>>Telah menerima perintah Admin: Tidak lagi menyebutkan risiko kerusakan fungsi kognitif

 

— — — — —

Notes:

Author’s note:

- This fic uses a third-person omniscient narrative, but different names are used by different perspectives.
1. Anaxa’s perspective: Anaxagoras, Flame
2. Khaslana’s perspective: Anaxa, Khaslana

- Some part of this fic are real (yep it contains spoilers from 3.4), some part are just the author’s high-level delusions

- Yes there are erha reference.
1. “Shizun, please pay attention to me.”
2. “Mo Ran, hell is too cold. I’m here to die with you.”
And yes I love erha so much because it’s PEAK. Pls read erha by meatbun at least once in your life.

- This fic was written on 6th Sept, Saturday and suddenly on 7th Sept there was a change in Khaslana calling Anaxa ‘Anaxa’ instead of ‘Anaxa-sensei’. And in this fic, Khaslana also calls Anaxa ‘Anaxa’ too (I’M CRY)

- And suddenly, on 9th Sept, this art appeared on my tl: https://x.com/xiel_alet/status/1965070337516970379?t=VL34Xz0498yMcY7zadPKxw&s=19 and this is so accurate how I imagined the ending of this fic (I CRY A LOT AGAIN)

- Yep Cyrene’s drip just out AND THIS PERSON CAN’T MOVE ON FROM 3.4 (MY BABY PHAINON :(((((( )