Actions

Work Header

four years; yet still same

Summary:

Selama empat tahun, Takashi Mitsuya dan Ken Ryuguji berjalan berdampingan—membangun rumah, merawat mimpi, dan menjaga kehangatan sederhana keluarga kecil mereka berdua yang dilengkapi seekor kucing calico bernama Kenta.

Hidup mereka memang tidak selalu berwarna, tapi empat tahun dan bahkan seterusnya; kebersamaan itu tetap terjaga di dalam tempat yang kini mereka sebut dengan ‘rumah’.

Notes:

Tokyo Revengers © Ken Wakui
four years; yet still same by SeiYoshi

Work Text:

Dalam masa 4 tahun itu, Mitsuya bahkan sudah lupa—bahwa ada sebuah cincin pernikahan yang senantiasa melingkar di jari manis kirinya.

Kadang dia bergumam pada dirinya sendiri, menatap perhiasan tersebut sembari menghitung entah sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh. Awal babak kedekatan. Draken yang di awal sulit untuk menerima cintanya. Lalu setelah banyaknya hal yang terjadi—mereka berakhir menikah. Sesuatu yang anomali di kehidupan sosial Jepang, tetapi orang di sekitar mereka mulai menerima itu.

Sekian tahun bukanlah masa yang sebentar untuk membangun banyak hal. Namun paling tidak, Mitsuya paham bahwa usahanya tidak pernah sia-sia. Draken membalas cintanya. Mereka membangun rumah tangga—dengan seekor kucing yang menjadi pelengkap; kehidupan sederhana tanpa membuang cita-cita masa kecil.

Hari itu hujan tipis mengguyur kota begitu malam tiba. Dan dari jendela luar, Kenta; kucing calico mereka, terlihat meringkuk di sofa. Telinga seketika berdiri begitu menyadari kedatangan seseorang dari pintu depan apartemen—Draken, yang baru pulang dari bengkel, dengan jaket kulitnya  yang basah di beberapa bagian.

Dia langsung menuju dapur setelah melepaskan jaketnya, tangannya refleks menyalakan kompor. Aroma tumisan bawang putih cepat memenuhi ruangan.

“Kau belum makan, kan?” tanya Draken setengah keras sambil membuka kulkas. Suaranya yang terdengar galak itu bukan berarti dia tidak bersikap lembut, ciri yang selalu dia perlihatkan kalau sedang bicara dengan Mitsuya. Dia tahu bahwa pasangannya—bahkan ketika waktu menunjukkan pukul 10 malam, belum beranjak tidur dikarenakan pekerjaan membuatnya lembur.

Mitsuya muncul dari ruang kerja, melihat dari rambutnya agak berantakan—mudah menarik kesimpulan bahwa dia tidak memberikan jeda istirahat selama seharian. Kacamata masih bertengger di hidungnya. Ada kain perca dan pola desain yang menempel di bajunya. Dia menyambut Draken hanya dengan sebuah anggukan.

“Harusnya aku yang tanya itu. Bukannya kau baru balik kerja, Ken? Masih sempat masak? Kalau repot, kita bisa—”

Draken meliriknya sebentar, meninggalkan tumisan hanya untuk mendekat dan mengacak rambut Mitsuya. “Kau kelihatan lebih butuh makan daripada aku. Duduk saja. Aku yang bereskan ruang kerjamu nanti.”

Mitsuya ingin protes, tapi tubuhnya menurut untuk duduk di kursi dapur. Pandangannya tak lepas dari sosok Draken yang dengan cekatan menyiapkan makanan. Ada momen kecil yang membuat hatinya hangat—memahami bahwa laki-laki itu; bahkan, selalu memberikannya perhatian tanpa perlu Mitsuya memintanya.

Tattoo naga di kepala Draken terlihat kontras dengan apron polos yang dia kenakan. Laki-laki mandiri, figur dewasa yang selalu tahu cara untuk bertanggung jawab di hadapan orang-orang—banyak kisah yang terjadi, begitu panjang; sesuatu yang membuat mereka sampai di titik ini. 

Tidak bohong untuk mengatakan bahwa terkadang Mitsuya selalu berpikir bahwa cintanya pada Draken hanyalah ibarat mimpi yang tak mungkin terjadi. Dia dan Draken laki-laki, tanggung jawab besar sebagai ‘wakil’—dan meski mereka telah meninggalkan dunia itu lebih dari dua belas tahun, tidak menutupi fakta bahwa—terkadang masa lalu akan selalu menghantui.

Mitsuya beruntung. Seberuntung dia bisa memproyeksikan segala imajinasinya tentang Draken di dalam setiap visual desain pakaian yang dia buat. Bahkan hari ini pun, dia membuat mahakarya yang mengingatkannya pada Draken—Draken yang tenang, berwibawa dan dewasa—tetapi sebagai manusia yang tidak sempurna seutuhnya, Draken juga terkadang menyimpan sisi tak terduga.

Lama Mitsuya melihat Draken. Hanya untuk tenggelam di dalam pikirannya sendiri, terjebak di dalam rasa yang selama ini tidak dia ungkap. Dan oleh karenanya, Draken berhenti sebentar, lalu menoleh dengan alis terangkat. “Apa yang kau pikirkan? Melihatmu bengong begitu membuatku cemas. Apa sebaiknya langsung tidur saja?”

Mitsuya tertawa kecil, mengusap lehernya yang sedikit kaku. Dia kembali lagi menostalgia. Dan oleh sebab itu, terjebak di dalam isi memorinya sendiri terkadang membuat Mitsuya terjebak dalam stagnasi tak berdasar. Dia yakin Draken akan tertawa mendengar alasannya.

 “Kadang masih tidak percaya saja. Bocah nakal yang aku kenal dari kecil, sekarang jadi orang yang selalu menjadi tempatku pulang setiap hari.”

Tempat untuk pulang, ya. Hubungan mereka lebih dari sekadar rumah dan perlindungan satu sama lain … jadi memang untuk apa merasa segan?

Draken mendekat, menaruh wajan di atas kompor, lalu menunduk mencium kening Mitsuya. “Bodoh. Kamu tidak sadar saja ... aku jatuh lebih keras darimu.” 

Mitsuya terdiam, tarikan napas—hahh. Itu bukan seperti Draken tidak pernah menciumnya selama ini. Tapi bukan berarti Draken bisa melakukan itu setiap waktu. Terutama setelahnya dia masih sempat tersenyum sambil memperlihatkan deret gigi—dan detik itu, Kenta tiba-tiba mengeong.

Draken hanya tertawa rendah, menoleh sebentar ke arah kucing itu. “Aku bahkan hampir lupa dengan keberadaan Kenta. Maaf, ya. Aku akan siapkan makanan untuknya juga.”

“Lanjutkan saja memasaknya. Biar aku yang menyiapkan.”

 


 

Momen sederhana, peliharaan yang selalu mereka jaga—hampir tidak pernah Mitsuya merasakan kedamaian seperti ini, kecuali dia bersama dengan Draken.

Masa itu bukan sebentar. Membangun banyak hal dari awal, memulainya kembali—mempertahankan apa yang ada, menghormati batas masing-masing. Dan selama 4 tahun, meskipun masih ada banyak kekurangan—Mitsuya tahu, dia tidak akan pernah meninggalkannya.

Makan malam sederhana usai. Ada banyak hal yang mereka berdua ceritakan ketika berada di meja makan. Dari pengunjung yang hari ini datang ke bengkel, Takemichi yang mendadak punya keluhan soal motor barunya—atau soal Mitsuya yang mendapatkan panggilan dari klien baru yang ingin menggunakan jasanya setelah melihat portofolio hasil karya. Semua itu—hal-hal yang membuat mereka lembur dari pagi hingga malam, dijalani tanpa adanya keluhan. 

Dan saat selesai, Draken langsung mengumpulkan piring kotor. Mitsuya refleks berdiri untuk membantu, tapi Draken menahan pinggangnya dengan satu tangan, mendorongnya pelan kembali ke kursi. “Kamu sudah kerja keras. Sudah kubilang biarkan aku yang membereskannya. Tidur saja.”

“Ken, aku tidak—”

“Aku tahu. Tapi biarkan aku memanjakanmu sesekali, hm?” dia tahu Mitsuya merasa segan. Selama ini perannya adalah sebagai sosok yang selalu diandalkan. Ketika posisi itu terbalik, di mana Mistuya bisa bersantai—mungkin dia tidak akan mudah menerima waktu luangnya. 

Mitsuya akhirnya menyerah, bibirnya melengkung tipis. Menurut karena sesederhana dia mengerti bahwa Draken memang akan selalu membuatnya jatuh cinta lebih dalam setiap hari.

Malam itu berakhir dengan mereka bertiga—Draken, Mitsuya, dan Kenta—berkumpul di sofa. Mitsuya tertidur di bahu Draken, sementara Draken menonton TV tanpa terlalu peduli pada acaranya. Tangannya sibuk mengelus rambut Mitsuya, sesekali mengusap lembut pelipisnya,

Draken akan memindahkan tubuh itu nanti; ke atas ranjang—membiarkannya terlelap hingga esok pagi, dengan seisi ruang kerjanya yang sudah rapi. []