Actions

Work Header

(Tujuh) Hari Bersamamu

Summary:

Cuplikan hari-hari Jihoon dan Soonyoung sebelum mereka resmi bersatu.

Notes:

Ini merupakan karya fiksi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata. Hasil buat ulang dari cerita saya berjudul 'Seventh Day' dengan pasangan berbeda yang diunggah pada situs berbeda pula. Kala itu hasil tulisan saya masih mentah, masih banyak plot hole, masih kekanakan pokoknya. Saya kangen SoonHoon, namun karya lain masih proses pembuatan jadi inilah yang bisa diselesaikan duluan.

Seperti biasa, kisah ini hanyalah fiksi belaka. Apabila ada kesamaan pada cerita lain atau kejadian di dunia nyata, harap diingat bahwa itu hanyalah kebetulan. Selamat membaca!

Chapter 1: Hari Pertama

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Tiga. Itulah jumlah total pertemuan Jihoon dengan calon suaminya.

Pertama, saat Jihoon tidak sengaja menabrak sang calon pasangan ketika terburu-buru menuju tempat pertemuan mereka. Mereka dikenalkan oleh bibi jauh Jihoon, omong-omong.

Kedua, saat pertemuan mereka satu jam kemudian. Jihoon yang memang buta arah harus mengelilingi komplek pertokoan yang sama sebanyak dua kali sebelum akhirnya sadar bahwa tempatnya menabrak orang tadi adalah lokasi yang ia tuju. Bukan salah Jihoon kafe tujuannya berada di lantai dua dan sama sekali tidak menonjol. Serius, bukan salahnya. (Padahal papan reklame kafe tersebut cukup mencolok).

Ketiga, saat Jihoon melepas kepergian calon pasangan ke Jepang. Si calon harus menghadiri acara wisuda pascasarjananya. Jihoon diundang sih, tapi dirinya sendiri tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Cutinya tidak disetujui. Nasib pekerja.

Sekarang, setelah hampir tiga pekan tidak berjumpa, sang calon akhirnya pulang ke Korea. Jihoon tidak bisa menggambarkan betapa senangnya kembali bertemu dengan calon suami. Perjumpaan mereka singkat, namun Jihoon sudah yakin mau menghabiskan sisa hidupnya bersama sang calon. Selain penampilannya yang sedap dipandang dan kepribadian yang ceria, Jihoon terlanjur nyaman dengan sikap-sikap kecilnya pada pertemuan mereka. Terlalu dangkal memang, padahal mereka belum sungguh saling kenal. Bisa saja calon pasangannya itu punya karakter tersembunyi yang berbahaya atau semacamnya, tapi gimana. Jihoon terlanjur suka.

Oleh karena itu, meskipun ia tidak benar-benar bisa membantu karena tidak bisa mengendarai mobil (Jihoon tidak pernah buat SIM hingga selesai) secara legal, Jihoon tetap datang ke bandara. Menjemput pujaan hati walau nanti mereka bakal pesan taksi atau malah naik bis. Setidaknya Jihoon bisa bantu angkat barang-barang. Calonnya itu tidak memaksa, ia bahkan menyarankan untuk bertemu Jihoon nanti saja. Akan tetapi Jihoon yang sudah kepalang rindu bersikeras untuk menjemput. Hitung-hitung ganti rugi karena tidak bisa menghadiri wisuda, alasannya. (Padahal Jihoon saja yang memang tidak tahan lagi ingin bertemu).

Sambil menyembunyikan senyum lebar di wajah (Jihoon tidak mau disangka orang gila), pria berkulit putih itu memasuki bandara dengan langkah ringan. Jihoon sudah simulasi kemarin (melalui Naver, tentunya) agar tidak nyasar dan dapat menyambut kedatangan calonnya tepat waktu. Namun setelah hampir empat puluh lima menit berlalu, calon Jihoon masih saja belum keluar dari terminal kedatangan. Jihoon sudah yakin ia berada di lokasi yang tepat. Pesawat yang ditumpangi calonnya juga telah mendarat dengan selamat tanpa delay. Malah sekarang penerbangan dari wilayah lain yang berada di papan petunjuk.

‘Dia ke mana, sih? Apa gak jadi naik penerbangan yang ini?’ batin Jihoon sambil menjulurkan kepala, berusaha melihat lebih jelas orang-orang yang berada di terminal kedatangan seperti dirinya. Nihil, Jihoon tidak bisa melihat apapun selain orang-orang yang keluar membawa koper kecil. Harusnya penerbangan internasional lebih sibuk ‘kan ya? Walau sekarang bukan masa liburan...

Hm, tunggu sebentar.

Jihoon perhatikan lagi orang-orang yang keluar dari gerbang kedatangan. Merasa ada yang aneh, Jihoon mundur teratur, memperhatikan papan petunjuk penerbangan di atas kepalanya. Benar kok, pesawat dari Jepang telah mendarat hampir 50 menit yang lalu. Tulisan ‘Terminal Kedatangan’ yang besar dan cerah juga tercantum jelas. Jihoon harusnya tidak salah tempat. Tapi kenapa orang-orang yang sejak tadi keluar pintu hanya orang Korea?

Berbekal keberanian yang tak seberapa, Jihoon menghampiri petugas bandara yang berdiri tidak jauh darinya.

“Permisi, Pak. Pesawat dari Jepang harusnya sudah mendarat ‘kan ya? Tapi kok...”

Kalimat Jihoon terpotong ketika melihat raut wajah petugas yang berubah. Sedikit iba, meskipun senyumnya masih lebar.

“Adik menunggu kedatangan penerbangan internasional, ya? Itu di gerbang B, Dik. Kalau di sini khusus kedatangan domestik,” ucapnya ramah sambil menunjuk sesuatu di belakang Jihoon.

Jihoon tidak yakin haruskah ia merasa malu karena tidak membaca “Gerbang A: Kedatangan Domestik” pada tiang besar di dekat lokasi berdirinya sejak tadi ataukah harus kesal karena diperlakukan seperti anak hilang. Padahal petugas itu tampaknya belum terlalu tua, sekitar akhir empat puluhan.

“Oh...” bisik Jihoon. Rasanya leher Jihoon sudah hangat oleh malu. “Kalau gerbang B ada di mana, Pak?”

Kepalang malu, tanya saja sekalian.

“Dari sini adik lurus saja. Nanti bakal kelihatan kok petunjuknya. Tidak jauh.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Jihoon cepat-cepat berjalan meninggalkan petugas. Tudung jaketnya yang tadi tidak dipakai Jihoon naikkan, berharap wajahnya yang merah tidak terlihat. Beruntung petugas itu tidak banyak tanya, sehingga Jihoon tidak perlu mempermalukan diri lebih jauh dengan berkata bahwa dia pria tiga puluh dua tahun yang buta arah, jangan dipanggil adik seakan dia masih sekolah.

Begitu tiba di gerbang kedatangan internasional, harapan Jihoon untuk langsung bertemu calon suami buyar. Tidak banyak orang di sana. Meskipun Jihoon berjinjit atau menyapukan pandangan ke mana-mana, sosok calon suaminya itu masih tidak bisa Jihoon temukan. Sekarang Jihoon benar-benar gelisah.

Tidak mau menyiakan waktu lagi, Jihoon mengeluarkan ponsel dan membuka ruang obrolan dengan calonnya itu. Jihoon meringis ketika beberapa pesan tidak terbaca muncul.

- Jihoon, aku udah sampai. Antri sebentar ya, ambil koper. 1.25.

- Jihoon masih di jalan, kah? 1.35.

- Jihoon tidak nyasar, ‘kan? 2.00.

Jihoon rasanya tambah malu. Padahal kemarin dia yang bersikeras untuk datang menjemput calonnya itu. Jihoon bahkan menjanjikan makan enak setelah mereka keluar dari bandara. Sekarang calonnya itu mungkin pergi duluan karena lelah menunggu Jihoon yang ngaret hampir satu jam.

Jihoon berjalan menuju kursi yang tersedia, mendudukkan diri tidak jauh dari seseorang yang sepertinya tertidur. Sambil melirik sekeliling gelisah, ia menggigit bibir, harap-harap cemas agar sambungan teleponnya berhenti memberi bunyi ‘tuut’.

Tuut... tuut... tuut...

Tidak tersambung.

Jihoon rasanya mau menangis saja, lah. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Calon suami tidak mengangkat teleponnya, Jihoon juga tidak tahu ia harus mencari ke mana. Jika pria itu telah pergi meninggalkan Jihoon di bandara, dirinya harus apa?

Klang!

Jihoon meringis ketika ponselnya meluncur dari pegangan dan jatuh berdebam di kursi besi. Hebat, sekarang ia bukan hanya ditinggalkan oleh calon suami, namun juga oleh ponsel yang tiba-tiba mati. Sial.

Akibat ulah Jihoon, beberapa orang menatap padanya, termasuk orang yang duduk tidak jauh darinya. Tubuhnya tersentak dari tidur. Merasa bersalah, Jihoon membungkuk sambil mengucapkan maaf, tangan sibuk berusaha mengecek keadaan ponsel.

“Hei,”

Jihoon terperanjat ketika seseorang menyentuh lututnya. Ketika mendongak, ia mendapati pria yang terbangun gara-gara tadi sedang tersenyum. Rambutnya yang hitam legam di tata sembarangan, memberi kesan acak-acakan. Kedua daun telinganya dihiasi anting perak dengan detail simpel nan elegan. Matanya sipit namun memberikan sorot tajam. Bibirnya merah merona, entah karena produk kecantikan atau aslinya demikian. Lehernya jenjang, baju kaos putih berlapis jaket kulit yang dia gunakan berhasil membingkai tubuhnya dengan baik. Meskipun hanya duduk, Jihoon bisa melihat dengan jelas kalau tubuhnya bidang dan berotot.

Tampan memang, tapi pikiran Jihoon sekarang lebih fokus pada calon suaminya yang entah di mana dan ponsel yang mati. Huh, lagipula calon suami Jihoon jauh lebih mempesona.

Jihoon sekali lagi membungkuk, menggumamkan maaf kemudian sedikit menggeser duduk. Ponselnya sudah kembali menyala walau sekarang hanya setengah layarnya saja yang bercahaya. Jihoon sibuk merutuk dalam hati, sepenuhnya mengabaikan lingkungan.

“Hei,”

Pria tadi memanggil Jihoon lagi, kali ini dengan memegang bahu Jihoon lembut. Merasa risih, Jihoon menyentak tangan itu.

“Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu tidur Anda, tapi bisakah untuk tidak menyentuh saya sembarangan? Saya tidak nyaman.”

Tanpa menunggu reaksi pria tersebut, Jihoon berdiri dan menjauh. Kembali menelepon calon suaminya walau keadaan ponsel sudah minta di ganti baru.

Tuut... tuut... tuut...

“Halo,”

“Ah, Young!” seru Jihoon ketika teleponnya tersambung. Ada kelegaan tak terhitung diantarkan oleh nada suaranya yang ceria. “Maaf, aku tadi salah gerbang. Kamu sekarang di mana?”

Jihoon memilin ujung jaket, khawatir sang calon marah dan memutuskan sambungan telepon. Jihoon tidak masalah kalau dia kesal dan meninggalkan Jihoon di bandara, toh memang salahnya. Jihoon hanya tidak mau hal ini menjadi penyebab hubungan mereka yang masih sangat baru itu kandas.

“Aku di gerbang kedatangan, kok.”

Jihoon menegakkan tubuh, “Di mananya? Aku juga di gerbang kedatangan. Kamu gak ada di sini.”

“Lihat ke belakang, coba.”

Kepala Jihoon yang sejak tadi sibuk melihat kanan-kiri berhenti. Ketika membalikkan tubuh, Jihoon mengernyitkan dahinya. Dia sungguh tidak melihat siapa pun. Hanya ada dua petugas bandara, seorang perempuan yang berdiri di dekat tali pembatas sambil memainkan ponselnya bosan, dan satu keluarga kecil yang duduk di baris pertama kursi kedatangan. Tidak ada calon suaminya, kok...

Lirikan mata Jihoon berhenti pada pria yang tadi Jihoon abaikan. Ia menatap Jihoon dengan alis naik sedikit, ponselnya menempel ke telinga.

Ada yang tidak beres, ini. Perasaan Jihoon jadi tidak enak.

“Soonyoung?” panggil Jihoon pelan.

“Apa, Hoon-ah?” suara itu mengalun dari speaker ponsel Jihoon, berbarengan dengan pria itu yang masih menatapnya. Sudut bibirnya sedikit terangkat ketika menyaksikan Jihoon menatapnya, beralih pada ponsel, kembali pada dirinya, lalu ke ponsel lagi.

“Soonyoung?!” pekik Jihoon sambil menunjuk pria itu. Orang yang ditunjuk hanya terkekeh kemudian berdiri, menghampiri Jihoon setelah mematikan sambungan dan menyimpan ponsel ke saku celana.

“Kok bisa? Kamu sungguhan Soonyoung?” tanya Jihoon tidak percaya, masih pada posisinya yang memegang ponsel di telinga. Pria itu, Soonyoung, menggelengkan kepala kemudian menghela napas.

“Ya bisa. Kamu sejak tadi kupanggil, kok,” ucapnya.

Masih menyangkal, Jihoon mundur selangkah. “Tidak, tidak mungkin. Kamu bukan Soonyoung! Calon suamiku gak kayak kamu!”

Soonyoung menelengkan kepala, bingung. “Maksudnya gimana, coba?”

Jihoon menunjuk pria di depannya dengan jari yang gemetar. “Calon suamiku gak kayak kamu! Nih, liat! Rambutnya warna perak bentuk mullet! Kayak gini—“

Kalimat Jihoon tersendat di tenggorokan ketika ia membandingkan foto profil Soonyoung dari aplikasi pesan dengan pria di depannya. Di foto, Soonyoung sang calon suami berambut putih, sedikit lebih pendek dari ketika mereka bertemu dua bulan lalu, namun tetap panjang hingga menyentuh leher. Namun ketika dia membandingkan foto-Soonyoung dengan orang-Soonyoung, Jihoon bisa melihat persamaannya. Garis rahang dan bentuk wajahnya sama. Sorot mata juga serupa. Apalagi bentuk bibir Soonyoung yang khas seperti minta dicium itu. Bedanya hanya di foto rambutnya putih panjang, yang berdiri di depannya hitam pendek.

“Asjhder,” Jihoon konslet ketika menyadari bahwa ia lupa wajah calon suaminya sendiri.

Soonyoung terkekeh, menurunkan tangan Jihoon yang masih terangkat menunjuknya dan memegang ponsel. Menepuk kepala Jihoon lembut sambil menyisir anak rambutnya ke belakang telinga. Senyum masih saja terlukis di bibirnya.

“Aku udah menduga sih kalau kamu bakal nyasar, tapi gak nyangka kalau kamu sampai lupa wajahku gimana.”

Perlahan-lahan pipi Jihoon memerah. Menjalar terus ke seluruh wajah hingga telinga. Jihoon menggigit bibir, menahan diri agar air mata yang menggenang tidak luruh.

“Ya Tuhan,” rengek Jihoon sambil menutup wajah dengan tangan. Kaki lemas hingga ia berjongkok. Kalau tadi Jihoon hanya malu biasa, sekarang Jihoon benar-benar malu. Maluuuuu.

Selagi Jihoon tenggelam pada keputusasaan, Soonyoung merengkuh Jihoon dalam pelukannya. Mengusap-usap punggungnya sambil berguman ‘tidak apa-apa’ berkali-kali. Lagi pula pertemuan mereka selalu singkat dan hanya beberapa kali. Komunikasi lebih sering terjalin melalui obrolan pesan sebab kesibukan masing-masing. Tidak heran kok Jihoon belum terbiasa dengan penampilannya. Walau Soonyoung sendiri tidak merasa ia berbeda jauh ketika berambut panjang atau pendek.

Drrt... drrt...

Ponsel Soonyoung berbunyi, layar menampilkan kontak bertuliskan ‘Ibu Jihoon’ sedang menghubungi. Alhasil sambil merangkul Jihoon yang belum mau unjuk wajah, Soonyoung angkat panggilan itu.

“Halo, Bu.”

“Halo, Nak. Sudah bertemu dengan Jihoon? Ibu hubungi dia tidak menjawab.”

Soonyoung melirik Jihoon, ponselnya yang berkedip-kedip membuatnya paham kenapa tadi pria itu begitu ketus. “Sudah, Bu, Ini Soonyoung udah bareng Jihoon.”

“Syukurlah. Dia pasti nyasar tadi ‘kan? Itulah, Ibu suruh temani tidak mau—“

Soonyoung iya-iya saja mendengarkan celoteh Ibu Jihoon dari ponsel. Begitu panggilan ditutup, Jihoon tampak lebih tenang dan sudah bisa menatap Soonyoung, walau seluruh wajahnya masih merah merona.

Lucu.

“Ayo pulang?”

Jihoon mengangguk, mengikuti Soonyoung untuk mengambil kopernya yang sejak tadi dibiarkan saja tidak jauh dari mereka.

 

 

Extra:

“Omong-omong, kamu kok bisa lupa wajahku, Hoon-ah? Padahal gaya rambutku tidak berubah drastis, kok,” tanya Soonyoung jahil ketika mereka sudah menaiki taksi. Jihoon mencebik, ngambek karena kejadian memalukan tadi masih diungkit.

“Ya gimana, kita ketemunya saja jarang,” gerutu Jihoon.

Soonyoung memiringkan tubuh untuk menatap Jihoon. Tangan kanannya terangkat dan bersandar ke kursi, sementara dagunya di sandarkan ke lengan itu agar bisa memperhatikan Jihoon lebih leluasa.

“Meskipun wajahku ada di mana-mana?” tanya Soonyoung heran.

“Di mana-mana apanya. Kita tuh cuma ketemu tiga kali terus—“ ucapan Jihoon terpotong ketika Soonyoung mengendikkan dagunya ke atas. Mengikuti arah yang dimaksud, Jihoon bisa melihat sebuah iklan pada billboard besar di pusat kota, menampilkan produk kimchi sejuta umat yang pasti ada di seluruh toko. Kemudian seolah mengejek Jihoon, wajah Soonyoung muncul tidak lama setelahnya. Memegang kaleng kimchi sambil tersenyum cerah.

Jihoon terdiam. Bibirnya semakin maju ketika Soonyoung tertawa gemas.

“Nggak, ah. Itu pengecualian!” Jihoon membantah keras kepala. Tidak mau menyerah meskipun setelahnya bertemu iklan Soonyoung sebagai model kosmetik di halte bus.

Atau ketika melewati restoran cepat saji dan Soonyoung tersenyum sambil memegang burger.

Atau ketika sebuah bus berhenti di sebelah mereka dan ada Soonyoung yang memegang produk kecantikan di badan besinya.

Atau ketika mereka turun dari taksi dan berjalan di lobi apartemen Jihoon, wajah Soonyoung terpampang sebagai model gedung apartemen.

Atau ketika mereka akhirnya tiba di kamar Jihoon, pria yang lebih pendek membuka gorden jendela untuk membiarkan cahaya masuk, hanya untuk bersitatap dengan reklame Soonyoung yang menjadi model sepatu.

Jihoon menggeram, wajah kembali merah hingga leher.

“Gak tau, ah!” kesalnya sambil berlari ke dapur. Meninggalkan Soonyoung yang tertawa lebar di atas kasur.

**^^*Selesai*^^**

Notes:

Gak usah dipertanyakan kenapa Jihoon begitu clue less. Memang nolep aja dianya.