Work Text:
“Sug, bangun, udah jam 6!”
Satoru menepuk-nepuk bahu bocah laki-laki yang masih terkubur di balik selimut tebalnya. Satu tangan Satoru ia gunakan untuk mengguncang tubuh Suguru, sedangkan tangan lain sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk.
Satoru dan Suguru tinggal bersama di asrama sekolah mereka. Ruangan itu berukuran 6×6 dan setiap kamar dihuni oleh 2 orang siswa. Mereka berbagi kamar sudah selama 2 tahun, sejak menjadi siswa baru.
Sudah hampir 2 menit Satoru mengguncang tubuh Suguru, namun tidak ada respon berarti dari teman sekamarnya itu. Satoru sudah selesai mandi dan kini giliran Suguru. Tak biasanya laki-laki bermata kelam itu sulit dibangunkan seperti saat ini.
“Ah elah, ini orang kebo banget anjir. Sug, ini terakhir kalinya gue bangunin lo, ya. Kalau nggak bangun, terus lo telat, jangan nyalahin gue!”
Upaya terakhir yang dilakukan Satoru adalah mengguncang tubuh Suguru dengan lebih kencang dari sebelumnya. Si mata kelam mengeryip, berusaha memproses apa yang sedang terjadi. Begitu matanya terbuka, yang ia temui adalah wajah Satoru yang sudah sedikit kesal serta tetesan air yang mengalir dari rambut putihnya, menandakan pemuda itu baru selesai keramas.
“Bangun, anjir! Lo semalem begadang apa gimana?”
Begitu kesadaran Suguru sudah terkumpul sepenuhnya, ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 6.15.
Sial, dia kesiangan!
“ANJIR, KOK LO NGGAK BANGUNIN GUE, SAT!”
Satoru ternganga. Tidak menyangkan ucapan yang keluar dari mulut Suguru setelah semua usaha yang ia lakukan. Maka, handuk di tangan kirinya ia gunakan untuk menyabet kepala Suguru pelan hingga ia mengaduh.
“Gue udah bangunin ya, kocak! Lo aja yang kebo.”
Tanpa merespon ucapan Satoru, Suguru buru-buru lompat dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Satoru? Jelas dia nggak habis pikir sama kelakuan temannya itu. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Satoru bersiap untuk mengenakan seragam sekolahnya.
“Sug, gue keluar bentar yak, mau ngembaliin bukunya Shoko!”
Satoru mendekatkan diri ke puntu kamar mandi, bermaksud pamit agar Suguru tidak kebingungan apabila tidak menemukannya setelah keluar dari kamar mandi.
Begitu yakin suaranya telah didengar oleh Suguru, pemuda berambut putih itu lantas keluar dari kamar asrama mereka, menggenggam buku pelajaran yang ia pinjam 3 hari lalu.
Lima menit setelah Satoru pergi, Suguru keluar dari kamar mandi. Rambut panjangnya basah. Tetesan air itu turun dan menetes membasahi lantai.Pemuda itu mengalungkan handuk di lehernya, bermaksud agar kaos yang ia kenakan tidak ikut basah. Lalu ia mencari sisir di atas nakas, menghadap cermin dan mulai menyisir rambutnya.
Suguru tidak repot-repot menunggu rambutnya kering karena ia tidak ingin terlambat datang ke sekolah. Rambut panjangnya kusut hingga sisir yang ia gunakan tersangkut. Dengan kesabaran yang setipis tisu, Suguru mulai memaksa untuk tetap menyisir, mengakibatkan beberapa helai rontok dan tersangkut di sisir. Suguru bahkan tidak peduli ketika kulit kepalanya terasa sakit karena rambut yang ia tarik secara paksa,
Di tengah usahanya itu, Suguru tidak menyadari bahwa Satoru telah kembali. Begitu mata biru pemuda itu menangkap apa yang tengah dilakukan Suguru, Satoru mendekat.
“Buset, nanti lo botak, Sug!”
“Sini, biar gue aja!”
Satoru merebut sisir yang digenggam Suguru, menyebabkan acara ‘menyisir rambut dengan paksa’ itu selesai.
“Duduk sini.”
Satoru melangkah dan duduk di atas dipan, mengisyaratkan Suguru untuk mendekat. Suguru menurut saja, ia mendudukkan diri di lantai agar Satoru lebih mudah menjamah rambutnya.
Satoru mulai menyisir rambut Suguru pelan-pelan. Dengan telaten ia uraikan helaian yang kusut. Memastikan bahwa rambut Suguru tidak rontok lebih banyak serta kulit kepalanya tidak kesakitan akibat tarikan yang terlalu kuat.
Rambut Suguru berwarna hitam dan lebat. Butuh waktu lebih lama bagi Satoru untuk menyisirnya dengan rapi. Aromanya persis seperti shampoo yang dikenakan Satoru. Tidak heran karena mereka memang berbagi peralatan mandi kecuali sikat gigi.
Satoru suka bagaimana telapak tangannya menyentuh helaian rambut Suguru. Merasakan lembut di sela-sela jarinya yang sedikit basah. Sementara Suguru hanya duduk diam dan menikmati, menunggu Satoru menyelesaikan kegiatan menyisir rambutnya.
“Udah. Nanti lo ngiketnya pas udah kering aja biar rambutnya nggak rusak.”
Suguru mengangguk ia lantas berdiri dan menatap Satoru.
“Makasih ya, Toru. Karena lo gue nggak jadi botak di usia muda.”
Suguru memberikan senyum yang kelewat manis. Bikin Satoru jadi salting. Tapi ia berusaha menyembunyikan. Ucapan Suguru memang sedikit berlebihan, tapi Satoru tetap senang mendengarnya.
“Iya, buruan pakai seragam sana, udah siang ini.”
Suguru bergegas mengenakan seragamnya. Begitu selesai ia menoleh ke arah Satoru.
“Yuk.”
Kedua laki-laki itu keluar dari kamar asrama, berjalan beriringan menuju sekolah.
“Sug.”
“Apa?”
“Nanti, besok, atau seterusnya, biar gue aja ya yang nyisirin rambut lo.”
Suguru bergeming sesaat, kemudian mengangguk sebagai jawaban, “Oke.”
Satoru senyum tipis. Demi Tuhan dia senang sekali. Satoru suka Suguru. Sangat amat suka.
Suguru nggak pernah tahu karena Satoru nggak pernah bilang.
