Work Text:
“ ‘Ganteng…. sih’ ?” Alisnya terangkat dengan senyuman penuh tanda tanya.
“Ya kan emang ganteng, everyone could see that”
Lagi-lagi tanggapannya berhasil membuat AHY tertawa.
“Mas Sandi ini ada-ada saja…”
Sambil menuangkan teh di cangkir-cangkir kecil, Sandi tersenyum. Tak terpikirkan setelah sekian lama saling bertukar rindu, dibatasi oleh kesibukan dalam pemerintahan. Mereka bisa kembali, bertemu di kebun asri nan damai, kontras dengan suasana perkantoran yang ramai.
—
Hujan yang biasanya dia nikmati justru kini datang di saat yang tak dinanti.
“Woy! Cepetan!” Teriak para pengemudi. Bunyi-bunyi klakson tak kunjung berhenti, sudah lebih dari satu jam dia disini mengamati jam tangan yang terus berdetik.
“2 jam” Gumamnya.
Padahal kemarin dia sudah terlambat, haruskah sekarang terlambat lagi? Hujan… hujan… bawa saja dirimu ke tempat yang kering dan gersang. Tak usah banjiri ibu kota yang padat dan mulai usang.
‘Kring! Kring!’ teleponnya berbunyi, sebuah nama tertera di layar handphonenya. Aduh, malas sekali, dia tak ingin mengangkatnya. Tapi…
“Halo?”
“It’s raining badly over there right? Kamu gak papa? I’m worried”
Senyum di wajahnya melebar meski hati terasa gundah karena tidak bisa menepati janji.
“Gak papa, macet aja…”
“Drive safely, ya?”
“I will, gak usah cemas”
“How could I not? Kamu tahu sendiri gimana terakhir kali kita janjian”
“Iya, iya, sekarang temani aku aja” Senyumnya semakin lebar. “Aku kangen”
“Kaya gak sering ketemu aja”
Ya setidaknya dia tak merasa sendirian lagi saat di mobil, hujan pun perlahan reda, namun jalan masih dipenuhi air. Banyak yang menerjang, tapi banyak juga yang memilih untuk putar balik, menghindari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
“Mas… kangen tuh ga harus selalu karena jarang ketemu”
“Terserah kata kamu deh”
“Kamu marah?”
“Gak, kutunggu disini, kabari kalau sudah sampai”
Tiiit– panggilannya diputus.
Jalan terjal ke pegunungan jadi lebih berbahaya di saat hujan seperti ini. Baru saja kemarin ada berita tentang mobil yang tergelincir masuk ke jurang karena jalan yang licin sehabis hujan. Suara gitar dan drum terdengar dari radio mobil yang baru saja ia nyalakan.
–Bila ku tak di sini—Tetaplah kau bernyanyi–Dan bila ku t'lah pergi–
“Kenanglah yang terjadi”
Pastikan padaku bahwa kamu–
“Kan baik-baik saja~”
Dia bersenandung, menyanyi beriringan dengan lagu di radio dan melanjutkan perjalanan.
