Work Text:
Menurut Taesan, Sungho itu bisa diandalkan. Bisa melakukan apa saja. Bisa menjadi orang yang dipercaya.
Intinya bagi Taesan, seorang Sungho banyak bisanya. Serba bisa.
Tapi mungkin enggak semuanya bisa Sungho kuasai. Karena dia juga manusia biasa.
Termasuk kejadian hari ini. Di mana yang harusnya Sungho sudah siap berangkat ke kampus untuk acara conference yang kebetulan dia jadi salah satu Liaison Officer di acara itu. Tapi dirinya masih berkutat dengan sehelai dasi yang belum terbentuk.
“Kamu udah selesai siap-siapnya belum?” Taesan muncul dari balik ambang pintu, kembali mengecek kondisi pacarnya . Masalahnya sudah sepuluh menit berlalu Sungho belum keluar dari kamarnya Taesan. Informasi enggak begitu penting tapi demi kelancaran acara alias agar Sungho enggak telat bangun, dia memutuskan untuk menginap di rumah kontrakan Taesan dan teman-temannya, yang jaraknya juga lebih dekat ke kampus dibanding kost Sungho.
“Belum.. Ini.. Aku enggak tau cara pakainya gimana…” Sungho menjawab tanpa melirik Taesan yang berada di ambang pintu.
“Lagi pakai apa, sih? Dasi? Kamu bisa pakainya apa lupa?” Taesan perlahan mendekat.
“Waktu itu bisa, kok… Tapi sekarang kok lupa, ya. Ini dari sini ke sini, kan? Loh kok jadi gini?” Daripada berbicara ke Taesan, Sungho lebih terdengar seperti mengomeli dirinya sendiri. Bibirnya jadi lebih manyun dari biasanya akibat mengomel dan fokus memasang dasi yang makin berantakan bentuknya itu.
Taesan cuman ketawa kecil waktu lihat itu semua. Di matanya, sekarang Sungho terlihat lebih lucu. Walau hari-hari biasa pun manusia di hadapannya ini juga sudah lucu, tapi kadang momen-momen kayak gini bikin Sungho jadi kelihatan gemas karena sisi cerobohnya.
“Aku bantuin, ya.” Kedua tangan Taesan terulur, menyingkirkan perlahan tangan Sungho yang awalnya berkutat di dasi itu.
“Kamu lihatnya ke aku aja. Enggak usah lihat ke dasinya.”
“Aku kan mau tahu caranya, San.”
Taesan cuman terkekeh gemas. Mungkin pemandangan Sungho pagi ini sudah setara gula sekilo di mata Taesan.
“Kalau masih enggak bisa, kan bisa aku pasangin.”
Sungho mengangkat kepalanya dan cuman menghembuskan nafasnya, sudah biasa dengan gombal gembel dari Taesan.
“Kenapa kamu kayaknya senang banget?” Sungho jadi sadar kalau bibir Taesan menahan senyum. Terlalu jelas apalagi dari jarak sedekat ini.
“Kenapa harus enggak senang coba?” Alih-alih menjawab, Taesan membalikkan pertanyaan Sungho. Tipikal Taesan, batin Sungho.
“Enggak gitu, kamu kayak happy banget kelihatannya? Padahal cuman aku minta tolong buat pasangin dasi gini.” Sementara pandangan Taesan masih terfokus pada dasi yang sedang dibentuknya, mata Sungho masih mengamati seluruh gerak-gerik dan paras Taesan dari posisi sekarang.
“Kalau bisa lihat kamu kayak gini setiap pagi harusnya senang enggak sih? Udah jadi, nih. Mau lihatin aku sampai jam berapa jadinya?” Taesan menaikkan satu sudut bibirnya, sebelum akhirnya menatap balik Sungho yang jadi salah tingkah.
“Aaa… Oke.. Makasih, ya.” Sebelum Sungho mundur menjauhkan dirinya dari Taesan, badan Taesan lebih dulu sigap maju mendekat. Memiringkan wajahnya sebelum mengecup sesaat bibir Sungho.
“Yang ini buat sama-samanya.”
Lalu kecupan kedua, “Ini biar kamu semangat.”
“Good luck for today, Sayang. Hope everything goes well.” Telinga Sungho sudah semerah tomat waktu kecupan ketiga itu berakhir.
Sementara Taesan sudah melangkah pergi dengan santai, meninggalkan Sungho yang membeku akibat serangan pagi ini.
“Kamu enggak mau telat, kan? Ayo buruang berangkat!” Suara lantang Taesan dari luar kamarnya membuyarkan lamunan Sungho.
Sungho masih enggak habis pikir kalau pacaran dengan teman sendiri ternyata bisa ngerasain hal-hal yang bikin dia kikuk mati kutu kayak begini. Dia pikir semuanya bakal sama aja.
Iya, soalnya itu Han Taesan, Sungho!
