Work Text:
"Kalau kita kembali ke Leonster, apa yang ingin kamu lakukan?"
Leif tak kuasa menahan senyum. Nanna duduk di dekatnya, antusias dan menggebu. Ia tidak lupa bagaimana teman masa kecilnya selalu bersikap—bersemangat, walaupun dunia di sekitar mereka lebur jadi debu. Di tengah rasa lapar, letih, dan cemas yang mengejar mereka dari waktu ke waktu, wanita berambut pirang itu tidak lekang dari keberanian dan keteguhan, membuatnya ikut merasa berani untuk menantang dunia juga.
"Apa ya..." gumam Leif. Dalam hati ia menikmati ekspresi Nanna yang gusar. Ia tahu betul, wanita itu tidak sungguh-sungguh membencinya. Sulit diakui memang, tapi Leif yakin ia tidak akan sanggup menahan raut wajahnya untuk tidak tersenyum lebih lebar, lebih lembut, dan lebih sabar jika ia menatap mata Nanna lebih lama lagi. Curang sih, tapi mau bagaimana jika pujaan hatinya piawai memancing lekuk bibirnya untuk selalu tersenyum seperti ini? "Mungkin mengunjungi makam orang tuaku," jawabnya akhirnya. Sikap Nanna berubah serius juga. Leif menyesal—ia ingin selalu jadi orang yang bisa membuat pujaan hatinya itu tersenyum, bukan sebaliknya. "Mereka tewas mengenaskan di Gurun Aed, tapi bukan berarti aku tidak bisa mengunjungi batu nisan yang dibuat untuk mengenang mereka."
Nanna menghela napas. Dengan penuh rasa lega, Leif melihat gadisnya tersenyum lagi, meskipun kegembiraan di matanya sedikit sirna. "Aku akan menyertaimu," ujarnya sambil menepuk tangan Leif. Ringan saja, tapi sesuai dengan yang dibutuhkan Leif saat ini: cukup didengar saja dulu.
"Tidak usah," ucap Leif tanpa pikir panjang. Nanna terlihat terkejut oleh jawabannya, sehingga ia cepat menukas, "Bukannya aku tidak ingin kau pergi bersamaku. Hanya saja..."
"Apa, dong?" tanya Nanna penasaran. "Jangan bilang kamu ingin membuangku saja."
"Membuangmu? Memangnya kamu kucing rumahan yang dipelihara orang tidak bertanggung jawab?" Leif tertawa kecil, tapi Nanna merengut.
"Kamu bisa serius sedikit, kan?"
Leif terdiam. Nanna mendesah cemas. Meskipun gadisnya itu menanti jawaban dengan tegar, sorot matanya tidak bisa bohong—Nanna marah, dan sewajarnya jika memang begitu. "Maafkan aku," ujar Leif segera. Ia balas menggenggam tangan wanita berambut pirang itu, namun Nanna membatu, seperti menanti penjelasan lebih lanjut lagi. Leif memutuskan menarik tangannya secara perlahan.
"Jadi kenapa?" suara Nanna pun pelan.
"Rasanya hina jika tempat pertama yang kukunjungi bersamamu adalah kuburan. Bukannya aku seharusnya memberikanmu sesuatu yang lebih layak?" Leif menunduk malu. "Kau mengikutiku dengan setia kemanapun kita pergi. Bahkan ketika bahaya mengancam, kau tidak pernah meminta diperlakukan istimewa layaknya putri seorang bangsawan..."
"Kamu juga begitu," tuduh Nanna, tapi nada suaranya halus. "Kamu seorang pangeran, tapi kamu makan yang dimakan pasukanmu dan tidur di tenda sederhana seperti yang lainnya."
"Seharusnya memang begitu, kan?" balas Leif. "Apa jadinya jika aku bermegahan sendiri sedangkan orang lain bertaruh nyawa di luar sana demi diriku? Berperang di bawah panji Leonster, siap mati untuk melindungiku."
"Leif—"
"... Termasuk kamu," bisik Leif penuh sesal. "Minta maaf pun rasanya tak cukup."
"Minta maaf untuk apa? Karena aku ikut berjuang bersamamu?" tegas Nanna. "Leonster tanahku juga karena aku dibesarkan di sana. Kalau ibuku tahu, beliau pasti akan mengatakan hal yang sama."
"Memangnya ibumu akan setuju jika anak gadisnya aku ajak perang?" Leif terkekeh, tapi Nanna mendengus.
"Ibuku sudah ikut perang bahkan saat pamanku masih berupaya untuk melindunginya," ujarnya tegas. "Kecuali jika ini berarti kau meremehkanku..."
"Tidak sama sekali." Leif pun tegas. "Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan jika kamu tak berada di sampingku. Bahkan pedangmu pun telah menyelamatkanku puluhan kali."
"Mudah. Menghadapi hidup bersama-sama," Nanna tersenyum. "Aku bukan orang asing bagimu, Leif. Aku akan merasa senang jika kamu membawaku untuk melihat kuburan orang tuamu. Kamu tidak perlu melalui semua ini sendirian..."
"Darimana kamu tahu aku akan menangis sesenggukan?" Leif tertawa kecil.
"Aku kenal kau," tandas Nanna seraya menjitak kepala Leif. Gerakan tersebut lembut saja, tapi Leif dengan sukarela mengaduh untuk mencandai balik gadisnya. "Malah aneh jika kamu diam-diam saja. Menangis itu tidak hina."
"Bukan aku malu. Tapi seperti yang kukatakan, seharusnya aku memberimu sesuatu yang lebih baik, bukan kerajaan yang berantakan dan cinta seorang pangeran cengeng..." Leif ingin terus bicara, tetapi Nanna segera meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Leif untuk membungkamnya.
"Nangis bersamamu pun tak masalah, kok. Maaf ya, sudah egois." Ia menatap ke kejauhan, sebelum berpaling kembali kepada Leif. "Tidak apa-apa," ujarnya yakin. "Tidak apa-apa, Leif. Kamu selalu memikirkan orang lain... sekarang gantian. Saatnya kamu disayang juga."
Leif menghela napas. Langit di atas kepala mereka abu keperakan, penanda malam sudah larut. Bulan keemasan bersembunyi di balik awan, menerangi jalan setapak yang mereka lalui. Perlahan, Leif mengangguk. Ia tersenyum seraya menyatukan jari-jemarinya dengan Nanna. "Terima kasih," bisiknya. "Kalau kau izinkan, aku juga ingin menjagamu selamanya..." ia mencubit hidung Nanna ketika gadisnya menatapnya keheranan. "Gantian, kan, katamu?"
Nanna tertawa. Leif tersenyum, menyadari bahwa kepulangannya ke Leonster akan terasa lebih ringan dan penuh makna.
