Chapter Text
Sejak kecil, Jiseok selalu merasa kecil dari teman-teman sebayanya. Tak jarang, bocah bermata belo itu merasa minder jika berdekatan ataupun melihat teman yang tubuhnya jauh lebih tinggi daripada dirinya, padahal seumuran—tubuh bongsor selalu jadi impian Jiseok sejak kecil. Jiseok bahkan mencoba banyak olahraga yang kata orang, sih, bisa bikin tinggi. Ikut kakak pergi menonton pertandingan bola basket yang akhirnya membuat dirinya jatuh cinta dan mencoba untuk ikut bermain, namun tak sampai tiga bulan ia sudah mundur lantaran merasa tak kuat dengan beban fisik yang harus ia rasakan setiap kali latihan—bukan, bukannya Jiseok lemah, Jiseok hanya capek, iya, capek!
Jiseok juga belajar berenang, kali ini ia membulatkan tekatnya untuk belajar renang karena merasa amazed—lebih tepatnya iri, sedikit—ketika melihat adanya perbedaan tinggi yang ia amati pada diri Jooyeon. Seingat Jiseok, bocah kunyuk yang hobinya main games sampai laptop atau ponselnya disita mamanya itu dulu tidak setinggi itu, kenapa sekarang tingginya sudah melebihi Jiseok, ya?
“Jooyeon,” Jiseok kecil menatap Jooyeon dengan tatapan yang kalau boleh Jooyeon bilang, sih, serem tapi lucu. Serem karena dilihat terus-menerus dari kepala sampai kaki, tapi lucu karena mata belo kebesaran milik Jiseok seakan-akan berlomba untuk keluar dari wajah kecilnya. Jooyeon kadang bertanya-tanya, kok bisa, ya, mata sebesar itu bisa cukup di wajah kecil Jiseok? Jooyeon jadi penasaran.
“Apa? Aku lagi sibuk main,” Jooyeon kecil membalas sambil bermain ponselnya yang sedang menampilkan games tembak-tembakan yang Jiseok sendiri juga kurang tahu apa itu namanya, hanya saja game itu sedang populer di sekolah mereka. “Jangan bilang mama, ya!”
Jiseok mendecih, “Kamu kok jadi tinggi gini, sih? Perasaan dulu aku lebih tinggi, deh.”
Jooyeon tanpa melihat ke arah Jiseok, masih dengan tangannya yang sibuk memencet beberapa tombol di ponselnya berkata, “Itu namanya bertumbuh!”
“Kamu pikir aku enggak?!” Jiseok tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya karena ucapan kurang ajar yang Jooyeon ucapkan sedikit banyak menyentil hati kecilnya. “Seriusan, kunyuk, kamu kenapa bisa tinggi? Aku, ‘kan, juga mau jadi tinggi.” Nada suaranya memelan di akhir kalimat, ia memberikan penekanan di kata ‘tinggi’.
Kali ini giliran Jooyeon yang mendecak, ia menutup layar ponselnya lalu duduk menghadap tepat ke arah Jiseok yang kini mengerucutkan bibirnya. “Kamu, tuh, tinggi, tau!”
Baru saja Jiseok ingin terbang karena ucapan yang Jooyeon sampaikan, dirinya lagi-lagi harus kembali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak serta merta mempercayai perkataan Jooyeon yang lebih sering minta di pukul itu. Bagaimana tidak, perkataan, “Kalo diliat dari ujung sedotan, sih, kamu tinggi kok.”
Rasanya Jiseok mau lompat dari bangunan terdekat.
—
Beberapa tahun kemudian saat Jiseok sudah dewasa—dan jelas, bertumbuh tinggi—Jiseok kembali teringat akan les renang yang dulu sempat ia ikuti semasa kecil. Jiseok yang kini sudah berusia kepala dua tiba-tiba dilanda rindu akan kenangan semasa kecil yang tiba-tiba terputar begitu saja di kepalanya bagai kaset rusak. Jiseok kembali mengingat bagaimana ia dulu pulang sambil menangis dan mengadu kepada ibunya lantaran Jooyeon hampir membuatnya menyusruk di dekat pintu masuk kolam karena dua bocah ingusan itu berebut masuk dan berebut memilih tempat untuk meletakkan tas. Beruntung saat itu Jungsu—kakak lucu sekaligus teman Jiseok menolongnya dan memarahi Jooyeon di ruang ganti—menolongnya. Meskipun dahinya sempat berciuman singkat dengan lantai, namun berkat Jungsu, Jiseok tidak jadi tergeletak tak berdaya di lantai.
Ngomong-ngomong tentang Jungsu, Jiseok jadi kangen mengobrol dengan kakak lucu satu itu. Mereka bertemu pertama kali di les berenang yang Jooyeon dan Jiseok ikuti saat usia mereka sepuluh tahun dan Jungsu sebelas tahun. Ketiganya berteman dekat, bahkan Jungsu selalu menemani ataupun membantu keduanya saat sedang belajar berenang. Jiseok ingat betul bagaimana Jungsu selalu menunggu dirinya dan Jooyeon di bangku ketika belum dijemput, padahal waktu itu Jungsu ada jadwal les piano namun Jungsu malah memilih untuk menunggu dua adik-adiknya di sana.
Jiseok juga ingat bagaimana Jungsu selalu mengajari Jiseok ataupun Jooyeon tentang beberapa teknik berenang—yang lebih seringnya mereka tidak jadi belajar karena sibuk bermain air. Di ingatan Jiseok, Jungsu selalu menjadi kakak yang tidak hanya lucu tapi juga sangat amat baik bagi Jooyeon dan Jiseok.
Ngomong-ngomong tentang Jungsu, Jiseok sudah tidak lagi mendengar kabar kakak lucunya selama beberapa tahun. Kabar terakhir yang ia dengar adalah Jungsu pergi ke kota sebelah untuk bersekolah di SMA yang Jungsu mau, meninggalkan Jooyeon and Jiseok yang kala itu sempat mengambek dan akhirnya membolos sekolah untuk mengantar Jungsu.
Kini sudah hampir dari tujuh tahun sejak terakhir ia mendengar kabar Jungsu.
Jiseok, dua puluh dua tahun.
Jungsu, dua puluh tiga tahun, mungkin.
“Awas jatoh.”
Lamunannya terpecah begitu saja ketika suara yang ia kenali dengan baik menyapa indera pendengarannya. Jiseok mengalihkan pandangannya dan sepersekian detik kemudian matanya kembali membelalak ketika melihat Jungsu sedang berdiri di ambang pintu kolam renang. “Kak Jungsu?”
Jungsu berjalan mendekat, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. “Hi, Jiseok. How's life?”
Jiseok mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha menyadarkan dirinya. “Eh ini beneran?”
“Iya, lah. Jooyeon ngga kabarin kamu?” Jungsu balik bertanya.
Oh, si kunyuk itu.
“Nggak sih, dia kalo udah main games pasti lupa sekitar. Kapan datengnya, Kak?” Jiseok mengajak Jungsu duduk di kursi yang berada di luar kolam, keduanya beralih ke luar ruangan dan duduk di sana.
Jungsu tertawa kecil, senyumnya masih manis dan lucu seperti di ingatan Jiseok. Mata khas kucingnya membentuk garis khayal yang terlihat begitu cantik. Rambutnya berwarna keemasan yang dipotong pendek, namun masih menyisakan poni memanjang yang kini menusuk matanya. “Dua hari yang lalu, sih. Terus mau ke rumah kalian cuma ternyata kamu udah pindah rumah, jadi aku nanya mama dan dia kasih nomor kamu sama Jooyeon.”
“Kok ngga kabarin aku?”
Alis Jungsu terangkat sebelah, “Udah loh. Nomor kamu yang belakangnya tujuh delapan, ‘kan?” Jungsu bertanya sekaligus mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia menunjukkan kepada Jiseok nama kontak ‘Jiseok’ beserta nomor telepon yang tertera di sana. “Ini?”
“Dih, bukaaaan. Itu mah nomor lama, sekarang udah ganti.” Kali ini Jiseok yang mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sesuatu di layar ponsel dan kemudian menyodorkan ponselnya ke Jungsu. “Scan aja nih, Kak. Itu nomorku.”
Pertemuan pertama setelah tujuh tahun terpisah kala itu, menjadi titik balik kehidupan Jiseok dan Jungsu, yang tanpa mereka sendiri sadari bahwa mereka telah merakit sesuatu. Sesuatu yang membuat keduanya akan terus tarik menarik di sebuah garis khayal yang sudah semesta siapkan untuk mereka.
