Actions

Work Header

pagi ini dimulai dengan dua lembar roti

Summary:

Dalam pagi seperti ini, baik Euijoo maupun Nicholas belum punya cukup tenaga untuk bertengkar meskipun tanpa dongkol di hati. Jadi Nicholas ambil dua cangkir dan dua lembar roti untuk memulai hari; Euijoo bangun dan persembahkan senyum serupa matahari.

Notes:

this was inspired by two very spesific lines: "the world begins at a kitchen table" from perhaps the world ends here by joy harjo and "dapur harus bertahan" from rahasia salinem by wisnu suryaning adji & brilliant yotenaga. i listened to sal priadi's besok kita pergi makan on loop while writing, if you need a soundtrack. enjoy <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Nicholas pernah membaca puisi yang berkata bahwa dunia dimulai dari meja makan. Apa pun yang terjadi, kita harus makan untuk hidup. Beberapa kalimat sederhana yang kemudian jadi pegangan untuk Nicholas di hari-hari berikutnya. Makanan itu fundamental—perlahan, Nicholas mengerti. Apa yang terlihat biasa saja rupanya punya kemampuan untuk jadi akar kehidupan. Di setiap halaman kehidupannya, selalu ada makanan hadir di sana. Ketika Nicholas merayakan ulang tahun untuk pertama kali dalam hidupnya; saat Nicholas pertama menginjakkan kaki di sekolah; saat Nicholas sakit dan disambut oleh semangkuk sup hangat buatan ibunya. Bahkan, sewaktu kematian datang dan mengambil seseorang yang berharga, makanan tetap ada di sana. Dia tak pernah pergi, seolah-olah kakinya dikutuk agar tak bisa ke mana-mana lagi.

Mungkin karena itu dapur pun tidak pernah mati. Di mana pun, dapur selalu hidup. Dia tak punya privilese untuk mati karena telah disumpahi jadi abadi. Pelan-pelan, dapur jadi ruang untuk Nicholas menuangkan hati. Empat telur yang dipecahkan di atas penggorengan pagi ini menimbulkan bunyi khas serupa melodi yang sudah biasa Nicholas dengarkan tiap pagi. Di sebelahnya ada dua cangkir kosong dan dua roti yang sebentar lagi akan dipanggang. Tangannya bergerak pelan ketika membalik telur—tak ingin merusak keindahan yang sudah dia ciptakan sepenuh hati. Senyum lebar terlukis di wajah Nicholas ketika telurnya terbalik sempurna. Hal-hal kecil ini kelak akan mengundang hari yang baik di depan pintu.

Sembari menunggu, Nicholas memastikan mesin kopinya sudah berjalan. Pemanggang sebentar lagi akan dinyalakan. Dia kurang suka bangun pagi, tapi rutinitas ini tanpa alasan pasti tidak pernah berat untuk dijalani. Nicholas akan bangun di jam yang sama setiap hari—tepat di jam setengah delapan pagi—lalu menyeret kakinya ke dapur.

Makanannya tak muluk-muluk yang sulit dibuat. Terkadang roti panggang dengan telur, ayam yang dimasak dalam air fryer, nasi goreng yang nasinya sudah dibiarkan di dalam kulkas selama tiga hari, atau yoghurt dengan buah-buahan yang cukup mengenyangkan. Apa pun yang bisa jadi sumber energi untuk jalani hari sampai matahari memanjat langit makin tinggi.

"Nico?"

Nicholas tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja bersuara. Seharusnya pun, Euijoo tak perlu panggil namanya karena Nicholas bisa dengar langkah Euijoo meski mirip bisikan. Dia akan kenali suara itu di mana-mana. "Mornin', Juju."

"Hai," sapa Euijoo, menyengir lebar. "Masak apa?"

"The usual," jawab Nicholas. Saat suara langkah Euijoo mendekat, baru Nicholas menolehkan kepala. "Kopi?"

"Biar aku buatin." Sebelum dia bisa berkata apa-apa, Euijoo sudah lebih dulu bergerak. Dua cangkir kosong tadi dia ambil alih. Bentuknya serupa, warnanya pun sama-sama putih, tapi ada jeruk dan stroberi di masing-masing cangkirnya. Nicholas tersenyum kecil melihat Euijoo menguap, diikuti usapan dengan telapak kanan di mata kiri. "Teh?"

"Kayak biasa."

Euijoo mengangguk. Tangannya bergerak untuk mengambil kotak teh celup yang bersembunyi di belakang botol-botol saus yang berjejer rapi. "Nanti siang mau makan apa?"

"Weekend, ya," gumam Nicholas. "Mau makan di luar?"

"Mau coba restoran baru yang kemarin?"

Nicholas terdiam, menimbang-nimbang. Jaraknya lumayan panjang, tapi dia dan Euijoo pun tak punya banyak hal yang harus dilakukan hari ini. Mereka bisa pergi sekaligus belanja untuk keperluan sisa bulan ini. "Can we get some groceries while we're at it?"

"Always," jawab Euijoo. Badannya lebih dulu sigap mengambil roti yang matang sebelum Nicholas sadar alatnya sudah selesai bekerja. "Kata Harua ada bazar thrift juga di deket sana. Nanti habis makan, ke sana, yuk?"

"Aren't you tired?" Nicholas mengernyit. "Semalem sampe rumah aja jam dua belas."

"Kan itu kerja." Euijoo meraih pipi Nicholas, mencubit lembut. "Being around you always feels like a break, anyway."

Di pagi-pagi seperti ini, Euijoo tampaknya belum sepenuhnya sadar, karena dia akan katakan hal-hal yang bisa saja terasa memalukan bila diucapkan saat hari semakin terik. Nicholas biarkan dirinya dimanjakan seperti ini. Pipinya bergesekan dengan jari-jari Euijoo yang direnggangkan hingga menangkup seluruh pipi kanannya. "Okay."

"Tapi aku mau rebahan dulu sampe agak siang."

"Kok jadi kamu yang suka tidur, sih, sekarang?" goda Nicholas. Matanya mengerjap-ngerjap ke arah Euijoo yang sedang tertawa. "You used to tease me about this."

"Aku gak alergi pagi," ucap Euijoo dengan nada jahil menyelimuti tiap kata, "gak kayak seseorang."

"Hey, I'm trying my best!"

"Bisa dimulai tidur malem yang bener dulu."

"Kebangun soalnya ada yang suka meluk-meluk kalau tidurnya nyenyak."

Euijoo meloloskan rentetan tawa yang terdengar sedikit serak. "You love my hugs."

"I'm not saying that I hate them." Nicholas mengambil satu langkah maju. Euijoo mengikuti. Jarak di antara mereka kini hanya dua jengkal dan perbedaan tinggi badan saja. "When did I ever say that?"

Tangan Euijoo yang bebas menarik pinggang Nicholas lebih dekat. "So you do love my hugs?"

"I have the right to remain silent."

"Even if I kiss you?"

"Is that a threat?" tanya Nicholas. Satu jengkal di antara mereka tak berarti apa-apa ketika ujung kakinya menyentuh ujung kaki Euijoo. "Or a promise?"

"Kamu maunya gimana?"

Tanpa aba-aba, Nicholas mengecup bibir Euijoo. Senyum muncul serupa akar yang merambat—perlahan-lahan menulari bibir Nicholas untuk turut membentuk senyum yang serupa. Keduanya diam di posisi yang sama: Nicholas sedikit berjinjit, Euijoo menunduk, tersenyum dengan jari-jari kaki yang bergesekan dan bibir yang masih enggan berpisah. Nicholas mengaitkan jemarinya dengan jemari Euijoo yang diam di pinggangnya. "This is what I want."

Seperti ini pun cukup. Bersama Euijoo, bagaimana pun cukup. Nicholas mengerti bahwa dia manusia dengan banyak ingin. Dia selayaknya manusia dengan ambisi tinggi yang akan lakukan apa saja agar inginnya terkabulkan. Ingin-ingin yang dia dambakan terus terakumulasi sampai-sampai Nicholas sering kehilangan arah pulang—tiap-tiap ujung jalan dihalangi damba tak berujung. Lalu, di tengah itu semua, di antara pohon-pohon yang tak lagi mengeluarkan oksigen dan langit tak berbintang yang ditutupi ingin tak terkira, Euijoo datang dengan cahaya. Ucap Euijoo, cahaya yang dia bawa redup. Tidak akan cukup untuk terangi segalanya. Bagi Nicholas, cahaya Euijoo terang seperti mentari dan bisa lapisi satu dunia.

Nicholas masih ambisius. Dia masih suka mencari jalan menuju akhir dari ingin, hanya saja tak lagi kehilangan arah hingga lupa apa arti dari ini semua. Saat Nicholas mulai kebingungan, akan ada Euijoo menawarkan pegangan. Saat Nicholas merasa akan hilang, ada Euijoo yang membantu cari jalan pulang.

Nicholas harap, dia pun mampu tunjukkan jalan pulang jika Euijoo kelak hilang.

"Lagi mikirin apa?"

"Kepo," ledek Nicholas. "Pengen tau aja atau pengen tau banget?"

"Ah, kebiasaan. " Euijoo berdecak. "Terus aja gitu."

Tawa kencang Nicholas keluar begitu keras sampai-sampai tubuhnya ikut terguncang. Dia bisa lihat Euijoo memaksa wajahnya untuk tetap mengerut meskipun bibirnya terus bergerak menahan senyum. Pinggang Nicholas ditepuk pelan. "Stop laughing."

"Make me," tantang Nicholas, tahu pasti ke mana hal ini akan mengarah. Wajahnya tak menjauh ketika Euijoo kembali mendekat, membiarkan hidung mereka bersentuhan. "What will you do?"

Bibir Nicholas dikecup cepat. Sekali, dua kali, tiga kali, lalu dilumat lembut oleh Euijoo yang dengan cepat melipat jarak di antara mereka berdua. Wangi parfum yang masih menempel di tubuh kekasihnya bercampur dengan aroma makanan yang Nicholas yakin sudah mendingin. Punggungnya didorong hingga menabrak meja dapur. Tangan Euijoo menahan tubuhnya sendiri—diletakkan tepat di samping tubuh Nicholas di atas meja, setengah bersandar agar jarak di antara mereka semakin tak terlihat. Nicholas mengerang pelan kala Euijoo menggigit bibir bawahnya; memaksa Nicholas untuk membuka mulut sedikit lebih lebar; memberikan Euijoo akses lebih untuk masuk. Kedua tangan Nicholas mencengkeram kaus abu-abu tanpa lengan yang Euijoo kenakan. Keduanya bertahan dalam posisi yang sama selama satu menit, sebelum Nicholas memutuskan kontak terlebih dulu, menarik oksigen sebanyak apa pun yang bisa ditampung oleh paru-parunya.

"You're crazy."

Euijoo menangkup pipi kanan Nicholas. "You asked for it."

"I didn't" —Nicholas mendorong Euijoo pelan—"ask for it."

"You looked at me with those eyes that imply you want a kiss but are too shy to ask for one."

"Oh, fuck you, Juju."

Berganti Euijoo yang tertawa sedang Nicholas bersungut-sungut. Dia mengambil roti panggang yang sudah lebih dari 10 menit terabaikan, meletakkan mereka di atas piring, lalu menambahkan telur orak-arik di atas masing-masing roti. "Let's eat."

Desah kecewa Euijoo menggelitik telinga Nicholas. Namun, pacarnya tak lakukan apa-apa selain mengikuti Nicholas dengan dua cangkir di tangannya. Nicholas menata makanan mereka di atas meja, lalu mengambil cangkir dari tangan Euijoo untuk ditaruh di dekat masing-masing piring. Euijoo mengambil tempat di sebelahnya, tidak lama kemudian menyandarkan kepala di atas kepala Nicholas. Kalau ini siang hari, mereka pasti akan duduk berseberangan. Namun, ini masih pagi, dan hal-hal yang tidak biasa sering terjadi saat matahari pun masih enggan tegak berdiri. "Ngantuk."

"Abis ini tidur lagi."

Euijoo hanya mengeluarkan suara seperti dengungan pelan sembari mengusakkan rambutnya pada rambut Nicholas. "Kayaknya aku jadi paham kenapa kamu males bangun pagi."

Sontak, Nicholas terkekeh. "Baru paham sekarang?"

"Abis pulang malem berturut-turut, baru kerasa," ujar Euijoo. Tangannya ditarik ke atas, merenggangkan tubuhnya yang Nicholas tebak terasa kaku. "Tidur dua puluh empat jam would heal me."

Nicholas menyisip sedikit tehnya yang masih hangat. Wajah Euijoo tidak terlihat karena tertutupi rambutn cokelat terangnya yang masih berantakan setelah bangun tidur, tetapi dia bisa tebak reaksi macam apa yang Euijoo punya sekarang. Nicholas menjauhkan cangkirnya dari bibir. "We don't have to go outside if you don't feel like it."

Lengan Euijoo berhenti bergerak. Nicholas tahu dia sedang meliriknya sekarang. "Tapi ada bazar thrift itu."

"Tapi kamu capek."

"I'm not too tired to go there with you."

"Juju," Nicholas mengembuskan napas pelan, "I can hear your back cracking."

"Salah tidur aja semalem," jawab Euijoo, seolah-olah Nicholas tidak tidur di sebelahnya tadi malam. Kepalanya diangkat, menghilangkan berat tambahan yang membuat Nicholas merasa sedikit kosong. Wajahnya menoleh ke arah Euijoo yang lalu berkata, "I'm fine."

"Let's just stay in today. There'll be another bazaar one day."

"Nicholas," panggil Euijoo lambat-lambat. Nama Nicholas dieja: Ni-cho-las, seumpamanya tiap suku kata mengandung makna. Nicholas kaku menatap Euijoo yang juga tengah menatap ke arahnya dengan pandangan paling lembut yang Nicholas yakini hanya disimpan untuknya. Satu-satunya bagian dari Euijoo yang Nicholas percaya—yang tiap malam Nicholas doakan—tak akan pernah dibagikan kepada orang lain. "I know you've been waiting for it," lanjut Euijoo, "Harua yang bilang."

Bila ini adalah rahasia lain, mungkin Nicholas akan tersinggung dan menyambar ponselnya dari atas nakas untuk cepat-cepat mengomeli Harua melalui telepon. Sayang—atau untungnya—, Nicholas tahu Harua punya maksud baik. Pacar adiknya itu mengerti bahwa Nicholas tak akan bilang sendiri. Harus ada perantara. "Okay, sure. But—"

"Will it make you happy?"

Nicholas mengerutkan kening. "Apanya?"

"Pergi ke bazar," ucap Euijoo. "Thrifting."

"Well, yes. But—"

Kata-katanya diputus oleh kecup kilat yang bertahan kurang dari lima detik. Euijoo berkata, "I don't see why we shouldn't go, then."

Bisa jadi Euijoo tidak punya, tetapi Nicholas punya beribu alasan yang bisa dia tumpahkan saat ini juga. Kamu capek. Kamu minggu ini pulang malam setiap hari. Kamu bilang kamu ngantuk. Kamu beium puas tidur. Kamu masih mau tidur. Beribu alasan bermain di kepalanya sembari Nicholas menonton Euijoo menggigit roti panggang dengan telur di atasnya. Saat menggoreng telur tadi, Nicholas sudah masukkan lada hitam, lada putih, dan daging kornet agar rasanya semakin lezat. Di milik Euijoo, ada daun bawang yang menambahkan cita rasa. Milik Nicholas hanya punya potongan kecil daging kornet saja. Dia kurang suka sayuran bewarna hijau. Kalau mereka makan di luar, Euijoo akan pelan-pelan sisihkan semua yang hijau dari piring Nicholas dan memindahkannya ke piringnya sendiri. Lalu Nicholas akan diberi lauk tambahan dari pesanan Euijoo kalau dikira rasanya akan pas. Nicholas tidak pernah meminta, tetapi Euijoo selalu mau melakukan.

Nicholas memang terlampau dimanja olehnya.

Di waktu lain, mungkin Nicholas akan bilang, "It's not that big of a deal," dan memaksa Euijoo untuk diam di rumah. Namun, Nicholas belum habiskan banyak waktu bersama Euijoo di pekan ini, dan ada toko yang dia incar di bazar itu. Barang-barang yang mereka jual merupakan barang lama yang Nicholas inginkan sejak lama, tapi dia harus pastikan dulu kondisinya secara langsung. Jadi, kendati menolak tawaran Euijoo, Nicholas menganggukkan kepala.

"Okay. We'll go at lunchtime." Kemudian Nicholas tambahkan, "Only if you take a nap."

Euijoo tertawa. Lagi. Tawa yang selalu membuat Nicholas tersenyum karena mata Euijoo akan tenggelam dalam senyum yang meraih pipinya. Tawa yang mendorong Nicholas ingin menjadi seorang komedian agar Euijoo akan lebih banyak tertawa. "You're treating me like a child."

Jawabannya sudah ada di ujung lidah Nicholas, tapi yang keluar malah satu kata yang membungkam Euijoo seketika: "Latihan."

"Hah?" Euijoo berkedip ratusan kali dalam lima detik. "Apa?"

"Makan dulu rotinya," titah Nicholas. Piring Euijoo didekatkan pada yang punya. "Gak enak kalo dingin."

"Wait, Nichol. What did you say?"

"Makan dulu rotinya, Jujuuu."

"Sebelum itu."

"Apa, sih." Tangannya dikibas-kibaskan di depan wajah, seakan ingin mengusir topik yang Euijoo coba untuk bahas, mengabaikan rona merah mawar yang Nicholas tahu pasti telah merambati ujung telinganya. "Makan dulu, cuci piring, terus tidur."

Biarpun bersungut-sungut—Nicholas bisa tangkap ekspresi Euijoo dari cermin kecil di seberang meja—, Euijoo tetap meraih rotinya. Ujungnya yang belum tersentuh digigit sedikit, dan rotinya dikunyah dengan wajah ditekuk. Nicholas menahan diri agar tidak terkikik dan tertangkap basah tengah memperhatikan Euijoo dari kaca yang lupa dia kembalikan ke kamar. Euijoo bergumam setelah menelan potongan roti di mulutnya, "We haven't talked about it yet."

"About what?"

"Adopting a child."

Dua kata yang Euijoo keluarkan serupa bom yang Nicholas tahu suatu saat akan meledak. Cepat-cepat dia duduk tegak, meraih cangkir teh dan meneguk setengahnya karena tak lagi ada panas yang mengusik. Sunyi menelan dua manusia yang sekarang tenggelam dalam pikiran masing-masing, diganggu hanya oleh suara-suara dari luar dan kaki Nicholas yang mengetuk-ngetuk lantai.

Topik ini belum pernah dibicarakan sebelumnya. Toh, Nicholas juga tak berpikir ini perlu dibahas sekarang. Mereka masih muda—masih 23 tahun, masih belum perlu buru-buru memasukkan hal baru ke dalam hidup yang masih karut-marut. Namun, Nicholas tahu Euijoo ingin jadi ayah. Dia mengerti itu impiannya sejak masih belia—sejak masih muda, saat cita-cita hanya satu kata asal yang meluncur begitu saja dari mulut anak kecil. Nicholas baru saja akan membuka mulut ketika Euijoo lebih dulu memecah hening.

"We don't have to talk about it now." Euijoo mengisi ruang-ruang kosong di antara jemari Nicholas dengan jari-jarinya sendiri, menarik tangannya lembut untuk mengarahkan pandangan Nicholas padanya sekalipun mata Nicholas tak pernah lepas dari Euijoo. "Or, ya, when—"

"We'll talk about it one day," sela Nicholas. "I mean, like, we're still very young. But I know how much you want it."

Euijoo mengulas bibirnya hingga membentuk senyum kecil. "Iya, tapi jangan sekarang. Kerja aja masih ngos-ngosan."

"Aku kan udah bilang," Nicholas mengembuskan napas panjang, "kalo kantor kamu, tuh, gak manusiawi. Kantor sinting."

"Ini gara-gara aku pulang malem terus?"

"Itu." Nicholas menabrak dahi Euijoo pelan dengan dahinya. "And because you've been losing sleep."

Alis Euijoo naik satu tingkat. "Bilang aja kamu kangen dikelonin."

Pipi Nicholas merah padam. "Ngaco!" sahutnya dengan nada lebih tinggi dari nada sebelumnya. "I didn't say that!"

Euijoo terbahak-bahak puas sedang Nicholas sibuk berdumel panjang mengenai malamnya yang tak berbeda walaupun Euijoo pulang lebih larut dari biasanya. Pacarnya tertawa sampai-sampai keluar tetes air mata yang membasahi pelupuknya. Nicholas tak kuasa menahan senyum yang ingin muncul kendati masih mengomel kecil dan pura-pura tersinggung. Euijoo mengecup bibir Nicholas kilat—sambarannya seperti petir yang merambat dari langit ke bumi. Nicholas mencubit pinggang Euijoo sebagai balasan, yang kembali mengundang tawa kekasihnya meskipun bibir mereka belum berpisah.

"I love you," bisik Euijoo.

"Mhm." Nicholas mengecup bibir Euijoo sekali lagi. "I love you."

Ini rutinitas biasa untuk pagi-pagi seperti ini—saat Nicholas dan Euijoo masih terlalu lembut untuk punya malu kala mengungkapkan rasa karena kantuk yang bersikeras gelantungan di bawah mata, atau memang mungkin sudah tak ada lagi perasaan malu yang tersisa karena lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuang segala sungkan perihal asmara. Bibir Euijoo disentuh Nicholas dengan jari-jarinya yang bebas. "You still need to clean up."

"Gagal, deh, distraksinya …."

"I know you well." Sebelum mendorong Euijoo menjauh, Nicholas mengecup lagi bibirnya. "Udah gak ngaruh mau diciumin sebanyak apa pun."

Euijoo menggerutu sambil mengangkat piring dan cangkir kotor di atas meja. Suaranya terdengar samar-samar saat badannya mengecil dari pandangan Nicholas. "You're going to pay for this!"

"Sure," jawab Nicholas. Sikunya naik ke atas meja, menopang dagu. Senyumnya menyembul tipis. "I can't wait."

Notes:

what triggered this was quite literally me reading my own bio, which is "the world begins at a kitchen table," and it reminded me of nico making toast for ej in the morning. i always think of food as a gentle and sweet love language, and thought hey. why not write the one ship that i know has food as their love language in a language i love most with two lines that i could write a whole essay about? also this was mostly just me writing whatever was in my head at that time because i was stressed out... so i'm sorry if it's a bit messy! i hope your mornings will mostly start gently :)x