Chapter Text
Setiap langkah kaki Est seolah menari. Sol sepatunya yang berbenturan dengan kerasnya aspal menggemakan suara percikan air dari sela-sela permukaan yang tidak rata. Setiap hari begitu, gang kecil itu menjadi saksi bagaimana Est bertumbuh dan berjalan mengarungi kehidupan. Menjadi pemisah antara kesempurnaan yang harus dirinya bangun dan kehidupan melelahkan yang selalu dirinya jalani.
“Hari ini kamu gajian kan? jangan lupa uang belanja sudah habis, listrik belum di bayar, biaya sekolah adik-adikmu, dan uang ke salon untuk ibu.” Est baru saja melepas sepatunya yang basah dan bersiap menggantungkan celana bahan miliknya agar segera kering untuk dikenakannya keesokan hari saat suara keras ibunya memasuki pendengaran.
Rasanya belum cukup rasa lelah dan penat sempat Est turunkan dari pundaknya beban itu sudah bertambah. Sejujurnya tidak ada lagi yang tersisa darinya untuk diberikan kepada orang lain. Rasa warasnya telah lama berkejaran dengan waktu. Sementara melalui ekor matanya Est melihat suami baru ibunya, ayah dari adik-adik yang disebutkan oleh sang ibu justru tengah bersantai sembari menghisap sebatang rokok dari kemasan terbaru yang Est yakin baru di beli.
“Paman Su, apakah paman sudah berhasil mendapatkan pekerjaan baru?” tanpa menjawab keinginan sang ibu Est bertanya pada laki-laki paruh baya yang seharusnya dapat membantu Est menanggung beratnya kehidupan ini.
“Sudah, tapi tidak cocok untukku. Bekerja sebagai pengantar barang dan hanya dibayar sesuai jumlah barang yang aku kirim? mereka pikir siapa aku? seorang budak? jadi kutolak saja dan keluar dari ruang interview mereka”. Apa yang Est dengar ini? kenapa di zaman yang sulit mencari pekerjaan dan ekonomi yang tidak menentu ini ada kepala rumah tangga seperti ini? setidaknya jika bukan untuk diri sendiri bukankah seharusnya dia berpikir untuk menghidupi adik-adiknya?
“Jangan ganggu suami ibu, dia sudah berusaha mati-matian mencari pekerjaan yang layak. Lagi pula mau ditaruh dimana wajah ibu jika orang-orang tau kalau suamiku bekerja sebagai pengantar barang? Kamu seharusnya bisa ambil lembur, atau cari pekerjaan yang penghasilannya lebih agar kita tidak kesulitan”. Baru saja bibir Est terbuka bersiap memprotes perilaku sembrono dari ayah tirinya itu, tapi suara ibunya justru yang terlebih dahulu Est dengar. Apa itu tadi? mengambil lembur lebih dan mencari pekerjaan baru? Rasanya Est sudah diambang kewarasan dan itu masih kurang di mata ibunya?
Tidak ingin menambah rasa kecewa dalam hati, Est memilih untuk diam. Jika diteruskan rasa lelahnya akan semakin menjadi dan dia tidak tahu kapan harus berhenti. Sekali lagi Est lebih memilih menelan pil pahit kenyataan, membohongi diri sendiri bahwa hari ini sama dengan hari lainnya. Semuanya akan segera berlalu, dan Est yang meskipun tidak lagi utuh akan tetap bisa melewatinya.
Setelah menghabiskan seluruh gaji untuk keluarga dan hanya dapat menyisihkan sedikit untuk diri sendiri secara diam-diam, permainan hidup seolah tidak membiarkannya hanya untuk bernafas, karena seminggu kemudian Est mendapati dirinya telah kehilangan pekerjaan yang dia miliki. Seharusnya pikirannya kalut, tapi anehnya justru rasa lega memenuhi dada Est. Wajahnya yang biasa penuh gurat kelelahan, dan binar yang meredup kini justru tampak berseri. Bahkan saat sang ibu meneriaki kata makian dan memaksa Est untuk segera mencari pekerjaan yang baru, tidak dia hiraukan. Lebih memilih menuruti ancaman angkat kaki dan mengemasi beberapa potong pakaian yang bisa dirinya kemas. Tanpa menoleh dan menghiraukan nyeri pada punggung akibat lemparan benda tumpul dari ibunya, Est mantap melangkah pergi. Meninggalkan rumah tempatnya tumbuh, seorang ibu yang lebih mencintai suami barunya, dan kedua adik yang lebih mudah memakinya daripada ikut mendukung saat Est hampir merelakan jantungnya agar keluarga itu tetap hidup.
Tidak ada yang mengejar langkah Est. Ibunya pasti mengira ini hanyalah sebuah gertakan dan putra tidak tahu diuntungnya pasti akan kembali setelah cukup lelah dan lapar. Kedua adiknya yang entah saat ini dimana, mungkin di sekolah atau tempat lain yang Est tidak ingin tahu tidak bisa digunakan sang ibu untuk menahannya. Sebelum semua kebebasan ini kembali direnggut darinya, tanpa ragu Est segera memesan tiket bus tercepat ke ibu kota. Merelakan tabungan yang terbatas untuk digunakan.
Jantung Est berdebar kencang saat bus yang tengah ditumpanginya mulai berjalan. Namun kepala Est mulai berpikir bagaimana nasibnya nanti saat tiba di ibu kota. Cukup lama menimbang sedikit pilihan yang dimiliki, Est mengeluarkan ponsel dan menghubungi teman semasa kuliahnya dulu, Daou. Satu-satunya orang yang dikenalnya dan mengenalnya cukup baik. Pilihan yang akhirnya Est pilih untuk dimintai pertolongan menampungnya sementara waktu.
“Halo? maaf menghubungi selarut ini. Sebenarnya aku begitu malu sudah lama tidak menghubungi dan secara tiba-tiba datang untuk meminta bantuan. Saat ini aku sedang berada di dalam bus menuju ibu kota, ada masalah di tempatku yang sekarang dan tidak tahu harus melakukan apa setelah tiba. Jujur saja aku tidak tahu tabunganku akan cukup atau tidak. Maaf aku mengambil keputusan gegabah dan harus merepotkanmu. Tapi untuk kali ini aku mohon bantuanmu. Aku berjanji akan mengembalikan kebaikan yang kamu berikan jika diberi kesempatan.” Walaupun suara di dalam bus itu kemudian lebih bising dari seharusnya, Est masih menangkap percakapan kecil Daou dan seseorang lain disambungan telepon. Dari bagaimana Daou memanggilnya, pastilah dia berbicara dengan Offroad kekasih yang dipacarinya semenjak kuliah. Hanya sesekali Est bertemu pria itu, yang pertama saat dibawa Daou untuk dikenalkan padanya dan hari-hari lain saat Est memutuskan memberikan ruang untuk dirinya sendiri.
“Kamu ini berbicara apa Est? aku dan Offroad justru merasa begitu lega kamu akhirnya berani meninggalkan tempat itu. Akhirnya kamu terbebas, rasanya air mataku tidak dapat berhenti. Beritahu aku jika kamu sudah sampai, aku akan menjemputmu dan jangan berani-berani kamu tolak.” Tidak ada yang dapat Est lakukan selain bisikan terima kasih kepada Daou dan kekasihnya.
Perjalanan cukup jauh sampai Est merasa matanya begitu berat, tubuhnya akhirnya dapat beristirahat sehingga begitu membuka mata dia sudah berada di terminal ibu kota. Sudah bertahun-tahun dari terakhir kali Est menginjakkan kaki di kota ini lagi. Dahulu dia tidak cukup menikmati kota ini, tidak cukup memperhatikan sekitarnya karena harus berkejaran dengan waktu dan uang. Kini dengan berani dia mendongak, mengedarkan pandangan di segala penjuru dan melangkahkan kaki menuju pintu penjemputan. Walaupun tidak memiliki apapun lagi, namun kakinya terasa lebih ringan.
Dari kejauhan dua wajah familiar menyambutnya. Padahal Est belum memberi kabar, padahal dirinya belum berkata apa-apa kepada Daou dan Offroad. Tapi mengapa seolah mereka berdua menunggunya? mengapa mereka berdua seolah menantikan pertemuan mereka?
“Est….” Tubuh Daou menubruknya cukup keras untuk membuat Est terhuyung. Sementara Offorad dengan tenang berjalan mengikuti dari belakang.
“Kalian kenapa sudah disini? aku belum memberitahu bahwa aku sudah tiba.” Daou terus memeluknya dan tidak memberikan jawaban. Maka dengan senang hati Offroad menggantikan kekasihnya untuk menjawab pertanyaan Est.
“ Daou tidak bisa tidur. Jadi setelah kamu menelepon, kami berdua memutuskan untuk menyewa tempat menginap di sekitar sini. Daou juga berkali-kali memastikan jadwal kedatangan bus dari kotamu. Mencocokan waktu yang tepat kapan sekiranya kamu tiba. Maaf ya membuatmu kebingungungan, dan tolong jangan merasa tidak enak hati. Aku juga setuju dengan rencana ini. Rasanya hatiku juga ikut gelisah bersama dengannya.” Begitu lembut Est melihat tangan Offroad menggosok punggung Daou yang masih bergetar karena tangisan. Maka yang dapat Est lakukan adalah menyunggingkan senyuman dan juga ikut menepuk lembut punggung Daou menenangkan.
“Est aku begitu bahagia kamu berani pergi dari sana. Melihat tubuhmu yang sekurus ini dan kantung matamu sudah aku duga perlakuan mereka terhadapmu masih sama seperti saat kita masih kuliah dulu. Kamu pasti juga tidak memiliki waktu untuk beristirahat seperti dulu bukan? Akhirnya sekarang kamu memilih untuk hidup. Aku dan Offie akan membantumu. Apapun bantuan yang kamu butuhkan.” Rasanya lidah Est begitu kelu untuk menjawabnya. Kebaikan apa yang Est berikan kepada kedua orang ini sehingga dia pantas menerima perlakuan sebaik ini? Dekapan hangat yang Est tidak dapatkan dari keluarganya sendiri.
“Terima kasih… maaf aku hanya membawa diriku ini.”
