Chapter Text
Hyuntak baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Semua anak-anak SD itu memberikan dia ucapan terimakasih lalu pamit meninggalkan Dojang. Beberapa anak SD laki-laki meminta tos kepada sang sabam sambil memberi tau hyuntak kalau dia sabam favoritnya. Hyuntak selalu merasa hangat dan tak berhenti tersenyum setiap melihat anak-anak ini. Bahkan beberapa orangtua juga sering memujinya dan jika mereka sedang sangat berbaik hati hyuntak kerap mendapatkan sangu seperti makanan atau minuman yang terkadang hyuntak bingung menghabiskannya.
Ketua sabam datang dari belakang dan menepuk pundaknya. Hyuntak yang sedikit terkejut dengan cepat berbalik badan.
“Jadi kamu ikut turnamen nggak?” tanya ketua sabam, atau hyuntak sering panggil dengan sabam Jang.
Berhari-hari sabam jang menunggu kepastian hyuntak terkait turnamen taekwondo itu. Hyuntak meminta waktu seminggu sejak pertama kali ditawari ikut turnamen. Sampai sekarang pun sejujurnya hyuntak belum tau harus jawab apa. Entah apa yang membuatnya ragu menjawab. Tapi akhir-akhir ini hyuntak merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Biasa, konflik batin yang tak kunjung usai memang selalu merusak mimpinya.
“Nggak tau, sabam. Sabam udah tanya anak-anak yang lain?”
“Yang saya mau itu kamu, kok. Kamu itu bisa, hyuntak. Kamu ini kenapa? Saya udah tunggu seminggu ternyata jawabannya gitu doang. Gak jelas lagi.” jawab sabam jang dengan raut wajah penuh kekecewaan bercampur penasaran.
Hyuntak, sebagai orang yang penuh pertanyaan dalam dirinya sendiri, termenung. Dia menatap kedua kakinya. “Maaf, sabam.”
“Ayo, dong, tak!” sabam jang menepuk pundaknya kedua kali dan memanggilnya dengan panggilan akrab yang Hyuntak baru dengar sekarang, “kamu secara fisik oke, skill luar biasa, pengalaman turnamen juga dari kamu SMP udah banyak. Mumpung kamu masih 25. Kamu tau kan jadi atlet itu ada umurnya? Saya cuma mau anak didik saya bersinar.”
Belum sempat hyuntak merespon sabam jang, beliau sudah berjalan menjauhinya dan masuk ke kantornya. Hyuntak setengah merasa bersalah. Karena separuhnya lagi dia merasa tidak suka dipaksa untuk melakukan sesuatu, apalagi sesuatu itu hal yang besar dan serius. Itu terlalu banyak tekanan baginya. Tak peduli kalau sabam jang adalah orang yang sudah memperlakukannya dengan baik semenjak hyuntak memutuskan kursus sampai dia sudah menjadi seorang pelatih di tempat yang sama.
Hyuntak memutuskan mampir ke mini market saat berjalan pulang. Dia mengisi perutnya yang kosong karena ternyata mengurus anak-anak SD selain membuatnya bahagia juga membuat perutnya menjadi kosong. Dia duduk di pinggir menghadap kaca, menyantap mie instan kuah pedas sambil melihat keluar. Menurutnya ini hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan saat dia stress sekaligus lapar. Semenjak dia tinggal sendiri di seoul, menemukan hal yang menyenangkan dan murah untuk diri sendiri menjadi sulit. Terkadang–di akhir bulan–dia selalu merindukan duit orangtuanya.
Dia menenggak seluruh kuah pedas itu sampai benar-benar habis dan tidak lupa dengan sekaleng minuman soda yang dibersihkan isinya sampai dia bisa meremuk kalengnya. Dia melihat pemandangan di depannya. Orang-orang berlalu-lalang, beberapa berjalan lebih cepat seperti sangat sibuk, beberapa hanya berdiri dengan ponselnya sambil menunggu. Ada juga yang berdiri tepat di depan kaca minimarket sambil merokok. Hyuntak benci rokok, itu mengingatkannya dengan seseorang. Dia juga benci karena dia sendiri bukan perokok dan dia seorang atlet sehingga dia selalu berusaha menjaga tubuhnya dengan baik.
Tanpa dia sadari dia memperhatikan perokok itu cukup lama. Seakan-akan dunia sedang ingin menertawakannya, perokok itu menengok ke belakang lalu mengalihkan pandangannya ke arahnya sehingga mereka bertukar pandang.
Hyuntak hampir terjatuh dari kursinya. Wajah itu, sesuatu yang hyuntak kira tidak akan pernah dia lihat lagi. “Geum Seongje?” begitu nama itu keluar dari mulutnya, orang yang di balik kaca langsung memalingkan wajahnya.
Itu benar-benar geum seongje. Itulah sebabnya siluet orang itu dari belakang terlihat tidak asing. Tinggi badan dan lebar bahu itu tidak berubah. Yang membuatnya tidak yakin adalah ukuran tubuh itu tiap kali dia menarik jaket hitamnya dan memperjelas lekukan tubuhnya. Dia terlihat sangat kurus, tidak seperti seongje yang dulu.
Hyuntak memutuskan untuk keluar mini market dengan sebuah kantung plastik berisi gimbab segitiga rasa tuna mayo dan sebotol air mineral. Melihat seongje masih di posisi yang sama dan kegiatan yang sama, hyuntak menghampirinya. Saat seongje merasakan kehadirannya dia dengan cepat membuang rokok itu ke bawah dan menginjaknya. Seakan-akan dia masih ingat hyuntak benci melihat seongje merokok. Melihat itu hanya membuat hyuntak sedih. Semakin sedih saat hyuntak melihat bagaimana kaosnya yang belel itu memperlihatkan kalivikulanya yang sangat menonjol.
“Ngapain lu?” tanya hyuntak, tidak ramah sama sekali.
Seongje hanya memalingkan pandangannya. Dia tampak seperti menggenggam sesuatu di balik kantong jaketnya.
“Ini. dimakan.” tidak peduli kalau seongje tidak menjawab, dia tetap menyodorkan kantong plastik itu kepada seongje. Namun seongje hanya meliriknya. “Nggak mau? Yaudah.”
Sebelum hyuntak pergi, seongje merebut kantong plastik itu dari tangan hyuntak. Seongje mengecek isinya. “Makasih.”
“Gak nyangka ketemu lu disini.”
Seongje tidak terlalu mendengar itu. Dia sibuk membuka bungkus gimbab segitiga dan melahapnya.
“Apa kabar?”
Seongje mengangkat kepalanya kepada hyuntak. Seongje tertawa. “Lu masih nanya gua apa kabar? Setelah lu beliin ini karena lu kasian kan sama gue? Jangan pura-pura bego.”
“Lu gak berubah sama sekali ya.” ujar hyuntak penuh rasa heran. “Makan, je. Jangan ngerokok terus.”
“Peduli amat.”
“Ya, mumpung gua ngeliat lu disini, kan? Dari pada gua ngeliat lu mati di pinggir jalan.”
Seongje menghabiskan kimbab itu dengan cepat. Melihat pakaian hyuntak, seongje curiga. “lu masih main taekwondo?”
“Masih. Pelatihnya sih.” hyuntak tertawa kecil mengingat seongje yang selalu menyebutnya dengan ‘bermain’ saat merujuk ke taekwondo.
“Wow.”
“Lu gemana?”
Seongje mengangkat kedua bahunya.
“Lu nganggur? Terus lu masih sama orangtua lu?”
Seongje menggelengkan kepalanya.
“Terus? Gemana lu hidup?” hyuntak benar-benar dibuat seongje heran. Di dunia seperti ini ada orang yang hidup seperti ini dan belum mati kelaparan. “Jangan bilang lu judi.”
“Diem, deh. Lu gak tau apa-apa.” seongje kali ini memutar tubuhnya agar benar-benar menghadap ke hyuntak yang alisnya sudah terangkat satu. “Lagian kalo gue judi urusan lu apa?”
Hyuntak mengaku kalah. Walaupun sebenarnya perasaannya hancur mendengar seongje mengatakan itu. Tentu saja itu menjadi urusannya. Karena di dalam hatinya, bagian kecil dari seongje tidak pernah hilang. Bagaimana pun juga dulu mereka pernah bersama dan hyuntak masih belum menemukan orang lain setelah mereka berpisah.
“Terus lu tinggal dimana?”
“Dimana kek. Yang dibolehin.”
Hati hyuntak seperti turun ke perut. Tidak mungkin hidup seongje sehancur ini. Dulu dia hidup penuh rangkulan. Orangtuanya juga tajir melintir. Apa yang terjadi dengan mereka? Hyuntak benar-benar tidak tau apa-apa semenjak mereka berpisah dan memblokir segalanya soal seongje di sosial media.
“Udah ada rencana malem ini tidur dimana?” tanya hyuntak, sedikit lebih lembut.
Seongje menggeleng.
“Kos gue model yang flat gitu, ada ruang tamunya luas. Lu bisa disitu malem ini. kalo mau.”
Seperti urusan taekwondonya tidak cukup membuatnya pusing hari ini, seongje datang dengan segudang masalah baru untuknya. Hyuntak pikir, dari pada dia meninggalkan seongje disini dan terus kepikiran soal bagaimana seongje akan tidur malam ini dia memilih untuk menawarkannya tempat tinggal sementara.
Sementara. Hyuntak yakin hanya untuk sementara saja. Malam ini saja.
