Work Text:
Whitlow House tidak pernah sunyi. Bukan karena tawa yang mengisi ruang, melainkan suara lantang Nyonya Whitlow yang hampir selalu terdengar, dari sedang menawar harga kain dengan pedagang keliling sampai menegur pelayan yang dianggapnya lalai. Dinding-dinding rumah saudagar itu seolah menyerap ambisi pemiliknya, memantulkannya kembali pada siapa pun yang tinggal di dalamnya.
Elias tumbuh di bawah bayangan tersebut.
Duduk di kursi dekat jendela sore itu, seorang pemuda dengan rambut coklat mengikal dengan pipi bertabur konstelasi bintik, berpura-pura menekuni buku lawas yang sudah dibacanya berkali-kali. Lebih mudah bersembunyi di balik halaman usang daripada menatap langsung ibunya, Margery Whitlow, yang sibuk membicarakan “peluang” baru dengan ayahnya yang kemungkinan bisa mereka temukan di pesta kota malam ini.
Pesta kota biasanya hanya diadakan satu tahun sekali. “Semua kalangan diundang untuk merayakan”, titah Ratu Charlotte yang memimpin. Selain ditujukan agar minim diskriminasi, pesta tersebut juga agar para pemuda pemudi yang siap membuka lembar baru, bisa menemukan jodohnya.
Tuan Silas Whitlow, dengan wajah yang senantiasa tampak terlampau puas, hanya mengangguk-angguk. Ambisi pria itu jarang diimbangi nalar. Ia mudah tergoda janji manis, terlebih bila menyangkut jalan pintas menuju kekayaan.
“Clara, ambilkan pita-pita itu—jangan sampai benangnya kusut, kita harus tampak pantas saat pesta kota nanti,” ujar Nyonya Whitlow, suaranya tajam meski bibirnya tersenyum.
Clara Whitlow—satu-satunya adik perempuan Elias—berlari kecil, gaunnya sedikit terangkat, rambut cokelat panjangnya yang tergerai abai meloncat mengikuti pergerakannya, matanya sempat mencari Elias. Ada kekaguman yang tersirat pada Elias yang tidak mau mendengarkan arah, meski gadis itu tak cukup berani melawati arus ibunya. Elias hanya mengangguk tipis, mengembalikan perhatiannya pada halaman yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Malam itu, pesta kota Highbury bersinar dengan lampu gas yang meremang, irama orkestra mengalun lembut di antara bisik-bisik para pendatang, sementara aroma parfum dan lilin bercampur, menciptakan atmosfer yang berdenyut.
Di sinilah titik balik yang diam-diam mengubah arah hidup Elias.
Nyonya Whitlow—yang selalu peka pada desas-desus—menyimak dengan penuh selera percakapan seorang bangsawan, Lady Cavendish. Wanita itu tampak resah, suaranya sedikit menurun saat menyebut putra sulungnya yang masih di medan perang.
“Belum menikah, padahal sudah dewasa… Tuhan melarang bila ajal menjemput sebelum ia berpasangan. Keluarga kami percaya itu mendatangkan keburukan,” ucapnya lirih.
Margery Whitlow menajamkan telinga. Kata keburukan bagi wanita itu tak lebih dari sebuah peluang emas. Sambil mengipas pelan, ia mendekat dengan keramahan yang dibuat-buat.
“Ah, Nyonya Cavendish, sungguh beban yang berat. Bila berkenan, mungkin ada jalan keluar. Putra saya, Elias, masih belum terikat… pintar, sehat, dan, tentu saja, penuh kepatuhan pada keluarga yang lebih terhormat darinya. Satu hal dan lainnya, pasti dia bisa menguntungkan anda.”
Nyonya Cavendish menoleh, matanya menimbang. Ia tahu Elias Whitlow. Pemuda itu piawai dalam berinteraksi, dan cekatan membuat pilihan serta komentar cerdas saat mereka berpapasan di toko buku kecil beberapa bulan lalu. Ada sesuatu dalam sikap Elias yang membuatnya menaruh simpati.
“Menarik,” gumamnya, suaranya setengah untuk dirinya sendiri. “Mungkin… ya, mungkin itu bisa dipertimbangkan.”
Margery Whitlow tersenyum puas, menutup kipas dengan bunyi tajam. “Kami tak menuntut harta berlebih, cukup sebuah estate yang layak agar anak saya dapat menjalani hidup dengan tenang. Dan tentu, maaf jika lancang, apabila—” ia menurunkan suara—“sesuatu terjadi pada putra Anda, pernikahan itu setidaknya sudah sah, dan kesialan tidak akan menimpa keluarga Cavendish.”
Percakapan itu berlangsung singkat, tapi cukup untuk menjerat.
Ketika rencana tersebut sampai pada Elias, ia hanya menatap ibunya lama, lalu tertawa pendek tanpa humor. “Menikah demi menghindari keburukan sebelum mati? Betapa konyolnya.”
Margery menepuk tangannya, seolah membujuk. “Konyol atau tidak, itu jalan yang terhormat. Dan, Elias, apa pilihanmu selain tinggal di rumah ini selamanya?”
Kata-kata itu menampar lebih keras dari teriakan mana pun. Elias tahu benar di rumah ini, ia tidak akan pernah bebas. Ibunya akan selalu menemukan cara untuk menundukkan.
Malam itu, di kamarnya yang sempit, Elias menatap bayangan dirinya di kaca yang sudah retak. Ia mengingat Clara—satu-satunya alasan hatinya masih bertahan di rumah ini. Gadis itu harus punya harapan, meski kecil.
“Kalau kebebasan harus dibeli dengan pernikahan kertas,” bisiknya pada bayangan sendiri, “maka biarlah begitu.”
Hari itu, awan kelabu menggantung di atas Southerham Abbey, seolah menyadari bahwa sebuah keputusan besar akan diukir dalam buku register tua yang disimpan di dalamnya.
Elias berdiri tegak, meski hatinya gentar. Udara di aula batu itu sejuk, dindingnya berbalut ivy yang mengintip dari jendela kaca patri. Seorang pastor membacakan kalimat formal yang panjang dan kaku, sementara pena tua menunggu di atas lembar perjanjian.
Nama Nathaniel Cavendish tertera jelas, dengan tinta lebih hitam dan tebal daripada yang lain—sebuah nama yang baginya masih asing, meski bergema dengan bobot keluarga bangsawan.
Elias menatap sejenak pena bulu yang disodorkan kepadanya. Seakan dengan sekali gores, hidupnya akan diganti dengan milik orang lain. Tangannya bergerak, kaku, namun pada akhirnya tetap menuliskan,
Elias Whitlow.
Dengan itu, pernikahan resmi terjadi—tanpa pasangan pengantin, tanpa cincin, hanya tinta di atas kertas dan saksi yang asing.
Usai upacara singkat itu, seorang pelayan Cavendish menyerahkan padanya sebuah map berisi data diri sang suami. Elias membuka lembaran itu dengan enggan.
Daftar umur, latar keluarga, riwayat militer.
Namun yang paling mencuri perhatiannya adalah lukisan potret Nathaniel Cavendish.
Seorang pria muda dengan rahang tegas, rambut hitam pekat, sorot mata mantap, dan postur yang dilukis dengan kesempurnaan seorang pewaris bangsawan. Elias menahan senyum pahit. Lukisan selalu terlalu baik hati, pikirnya. Tak ada noda, tak ada dosa, dan tak ada celah.
Dalam hati, Elias mulai menyusun “strategi kabur.” Ia tahu dirinya kini akan dikirim ke rumah Cavendish—Wintermere Hall. Nama itu saja sudah membuatnya merasa beku. Dari Whitlow House yang lembap, menuju Wintermere Hall yang dingin.
Apakah aku hanya berpindah dari satu kurungan ke kurungan lain?
Namun, Wintermere Hall berarti pintu keluar dari ibu yang selalu menekan. Dan itu, meski bersuhu rendah, tetap terasa seperti napas pertama setelah lama tertahan.
Sore itu, saat kereta kuda keluarga Cavendish sudah menunggu, Elias berpamitan pada adiknya. Clara berdiri di depan rumah, wajahnya muram, tangannya memeluk sulaman kecil yang belum selesai.
“Kau benar-benar akan pergi…” bisiknya, matanya berair.
Elias mengusap lembut kepala adiknya, sesuatu yang jarang ia lakukan di depan orang lain. “Aku harus pergi, Clara. Tapi dengarkan ini, jika aku berhasil kabur dari suami baruku, aku akan kembali. Aku akan membawamu keluar dari rumah ini. Kita akan hidup dengan cara kita sendiri.”
Clara menggeleng pelan. “Aku tidak ingin kau hanya kabur, Elias. Aku ingin kau bahagia. Semoga keluarga barumu… berbeda dengan kita.”
Elias tercekat. Kata benar-benar bahagia terdengar asing bila diucapkan dalam keluarga Whitlow.
Clara lalu merogoh saku kecilnya, menyerahkan sebuah buku catatan berwarna abu-abu. Pada sampulnya terlukis burung dara yang tampak sederhana namun indah. “Ini untukmu. Supaya kau bisa menulis keseharianmu, menunggu sampai Tuan Cavendish kembali. Agar waktu tak terlalu sepi.”
Elias menerima hadiah itu, senyum tipis terbentuk. “Terima kasih, Clara. Aku akan mengisinya.”
Namun saat kereta kuda bergerak meninggalkan Whitlow House, dan jalanan berdebu mulai merentang panjang, Elias membuka halaman pertama buku kecil itu. Ia tak menuliskan hari atau suasana. Ia mulai menorehkan daftar rencana. Jalur kabur, perkiraan jarak desa terdekat, cara menyelinap dari Wintermere Hall.
Buku burung dara itu, yang dimaksudkan sebagai penghiburan, berubah menjadi manual untuk melarikan diri. Karena bagi Elias, Nathaniel Cavendish bisa saja telah mati di medan perang, dan pernikahan ini tak lebih dari sekadar catatan di atas kertas.
Kereta berhenti dengan hentakan kecil di depan bangunan besar berwarna pucat keperakan. Udara dingin menusuk, seakan-akan nama Wintermere Hall memang sengaja dipilih untuk mengabadikan hawa beku di sekitarnya. Elias menelan ludah. Ia menduga, rumah sebesar ini hanya akan memantulkan kembali rasa asing dan terisolasi ke dalam dirinya.
Namun saat pintu kereta dibuka, sambutan yang menantinya ternyata sama sekali berbeda dari bayangannya.
“Selamat datang di Wintermere Hall,” suara hangat seorang wanita menyambut begitu Elias menjejakkan kaki di aula utama. Gaun biru lembut membalut tubuhnya, senyumnya ramah.
Elias hampir kehilangan kata. “S-suatu kehormatan, Lady Cavendish,” ucapnya pelan, membungkuk kaku.
“Ah, tidak perlu begitu,” jawab Lady Cavendish sambil menggandeng lengannya seolah mereka sudah akrab. “Kau pasti lelah dari perjalanan. Armier, antarkan dia ke kamarnya. Biarkan ia beristirahat.”
Tuan Armier menunduk patuh. Elias pun mengikuti langkah pelayan itu melewati lorong panjang berhias potret-potret keluarga Cavendish. Dari salah satu pintu terbuka, ia melihat sekilas seorang pria tegap dengan rahang keras sedang berdiri, tangannya disilangkan. Di sisi lain, seorang wanita tua berambut perak duduk di kursi tinggi, tongkat di sampingnya.
“Lord Cavendish, kepala keluarga. Dan itu Lady Honoria, ibunda beliau,” Ucap Tuan Armier singkat, memperkenalkan tanpa perlu menunggu sapaan. Elias buru-buru menunduk, melanjutkan langkahnya dengan jantung berdebar—hanya dari tatapan sepintas, ia sudah merasakan wibawa yang tak terbantahkan.
Baru ketika mereka mendekati tangga, keheningan dipecah oleh suara riang. Seorang pria muda dengan rambut hitam disisir terlalu rapi muncul dari balik pilar, senyum menggoda terpasang. “Ah, jadi inilah Elias. Aku Thomas Cavendish. Kau lebih rupawan dari lukisan kakakku—biasanya lukisan justru lebih dermawan.”
Elias tersipu, tak terbiasa dengan candaan gamblang. “Anda terlalu berlebihan, Tuan Cavendish.”
“Panggil saja Thomas,” sahutnya ringan. “Kakakku terlalu serius, jadi biarkan aku yang membawa sedikit cahaya di rumah ini.”
Belum sempat Elias menjawab, seorang gadis meluncur dengan langkah kecil penuh semangat. “Kau pasti Elias! Aku Charlotte—tapi semua memanggilku Lottie.” Ia langsung menggenggam tangan Elias. “Aku senang sekali punya kakak ipar! Kudengar kau juga punya adik, ya?”
Mengingat Clara, hati Elias mengencang, tapi senyum tulus Lottie menenangkannya. “Dia… mungkin akan senang mendengar aku disambut seperti ini,” jawabnya hati-hati.
Di belakang Lottie, seorang gadis lain melangkah lebih tenang. Rambut hitam lurus membingkai wajah lembut, sorot matanya penuh pengamatan. “Selamat datang, Elias,” ucapnya pelan. “Aku Amelia.”
Elias membalas dengan anggukan sopan. Gadis itu tak banyak bicara, tapi tatapannya analitik—seolah membongkar dirinya lebih dalam.
Tuan Armier akhirnya berdeham kecil, mengingatkan Elias untuk melanjutkan langkah ke kamar yang sudah disiapkan. Namun dalam benaknya, Elias masih bisa merasakan kesan pertama itu.
Keluarga besar yang sama berwibawa sekaligus riuh, menakutkan sekaligus menentramkan—dan ia kini menjadi bagian darinya.
Malam itu, setelah perjamuan sederhana dan obrolan yang lebih banyak ia dengarkan daripada ikut serta, Elias kembali ke kamarnya. Api di perapian sudah menyala, dan udara dingin yang membeku di luar seakan terhenti di ambang jendela.
Ia duduk di tepi ranjang, membuka buku catatan pemberian Clara. Tangannya sempat ingin menuliskan rencana kaburnya kembali, namun ia terdiam lama.
Suara tawa Lottie masih terngiang, begitu pula gurauan Thomas yang konyol. Lady Cavendish yang memberikan kue padanya tadi di meja makan, Amelia yang menatap penuh rasa ingin tahu, bahkan Lord Cavendish dengan sikap keras tapi tidak kejam. Dan tentu saja Lady Honoria, yang menatapnya seperti menantang sekaligus menjaga.
Semuanya berputar di kepalanya.
Elias menggigit bibir. “Mereka bukan seperti yang kubayangkan,” bisiknya pada diri sendiri.
Pada akhirnya, ia hanya menuliskan satu kalimat singkat di halaman tengah buku itu:
‘Hari pertama di Wintermere Hall. Udara dingin, tapi rumah ini hangat.’
Hari-hari pertama Elias di Wintermere Hall penuh dengan rasa canggung. Setiap kali ia duduk di meja makan panjang, perasaan seolah-olah sedang berada di ruang sidang menghantuinya. Ia terbiasa dengan tatapan penuh kritik ibunya, sehingga bahkan senyum manis Lady Cavendish pun terasa mencurigakan.
Namun, seiring waktu, Elias mulai menemukan pola.
Misalnya, Lady Honoria. Sang nenek besar dengan lidah yang setajam pisau, namun setiap kali Elias berbalas sindir, seluruh meja makan pecah oleh tawa.
“Ah, Tuan Elias, saya sungguh mengagumi keberanian Anda,” kata Lady Honoria suatu sore. “Tak banyak orang seusia Anda yang berani menantangku—bahkan menantu yang sudah tinggal dua puluh tahun di sini sekalipun memilih diam.”
Elias menyuapkan potongan daging panggangnya dengan santai. “Mungkin mereka tahu berdebat dengan Lady Honoria sama saja dengan menyerahkan diri ke medan perang, dan saya terlalu baru untuk memahami bahaya itu.”
Thomas hampir tersedak anggur mendengar jawabannya, sementara Lottie menepuk meja dengan riang. Bahkan Amelia yang pendiam menyembunyikan senyum kecil di balik serbetnya.
Selain itu, ia harus terbiasa dengan adanya pelayan pribadi. Tuan Armier, pria berwajah serius dengan cara bicara yang terlalu halus untuk telinga Elias, dijadikan sebagai pelayan yang nantinya akan ikut bersamanya ke Greendale—estate yang dikhususkan untuk Nathaniel dan pasangannya.
“Apakah Anda terbiasa dilayani seperti ini?” tanya Tuan Armier sopan, setelah membantu menata pakaian Elias.
Elias mengangkat alis. “Kalau yang Anda maksud adalah dilayani dengan cara membuat saya merasa tak berguna, maka ya—saya pernah. Oleh ibu saya sendiri.”
Jawaban itu membuat pelayan itu terdiam sejenak, lalu hanya mengangguk dengan senyum tipis yang sulit ditebak apakah menahan geli atau sekadar memahami.
Hari-hari berikutnya, Lady Cavendish mulai mengajaknya ikut dalam perjalanan singkat ke kota. Elias menemukan dirinya berjalan di pasar Highbury, dikelilingi suara pedagang, bau buah segar, dan obrolan ramai.
Di antara hiruk pikuk itu, Lady Cavendish bercerita dengan nada lembut.
“Dulu saya pun bukan siapa-siapa, Elias. Ayah saya hanya saudagar pembuat sepatu karet dengan penghasilan kecil. Dia sayang keluarga kami, dan itu cukup. Walaupun begitu, saya tidak suka dilamar, karena saya tidak suka terikat. Saya tidak bisa hanya menjadi seorang istri. ”
Elias menoleh, agak terkejut mendengar pengakuan itu. “Tapi akhirnya anda menikah dengan Lord Cavendish.”
“Ya,” jawab Lady Cavendish sambil tersenyum samar. “Hanya karena saya bertemu dengan seorang pria yang berpura-pura miskin demi bisa dekat dengan saya. Ternyata ia putra bangsawan, dan meskipun saya marah besar saat tahu, cinta sudah lebih dulu tumbuh.”
Elias terdiam. Ada ironi yang menggantung di hatinya. Elias juga tidak mendambakan pernikahan dengan alasan yang sama, tapi disinilah dia berada. Menjadi suami seseorang.
Seseorang itu Nathaniel Cavendish.
Ia tidak mengenal siapa Nathaniel Cavendish, bahkan tak tahu apakah pria itu masih hidup di garis depan. Cinta terasa terlalu jauh untuk dijangkau.
Lady Cavendish seakan bisa membaca pikirannya. Ia menepuk lembut lengan Elias. “Tidak semua pernikahan dimulai dengan cinta, Elias. Tapi banyak yang berakhir dengan cinta, jika keduanya berani membuka hati.”
Elias menahan diri untuk tidak melontarkan komentar sinis. Ia hanya menunduk, pura-pura memperhatikan kain di kios terdekat.
Dalam perjalanan pulang, mereka masih sempat bergosip ringan. Lady Cavendish menceritakan bagaimana dahulu Lady Honoria sangat galak padanya.
“Bayangkan saja,” kata Lady Cavendish dengan mata berbinar, “pada malam pertama saya makan di sini, beliau mengkritik cara saya memegang sendok. Katanya, hanya anak pasar yang makan seperti itu.”
Elias menahan tawa. “Dan sekarang beliau begitu lembut pada anda. Bagaimana caranya?”
Lady Cavendish tersenyum penuh kemenangan. “Dengan kesabaran. Dan sedikit keras kepala.”
Elias pun tertawa lepas.
Petang itu, ketika Cavendish sibuk dengan urusan masing-masing, Elias berjalan seorang diri menyusuri koridor Wintermere. Ia hampir saja melewati ruang belajar dengan pintu yang terbuka sedikit, namun suara piano membuat langkahnya berhenti.
Dari celah pintu, tampak Nona Whitmore, pengasuh keluarga, duduk tegak di kursinya. Amelia dengan khidmat memainkan etude sederhana, sementara Lottie bersungut-sungut menyalin kalimat bahasa Prancis yang diulang-ulang. Ada ketertiban yang ramah di ruangan itu. Sesuatu yang tak pernah Elias temukan di rumah Whitlow.
Ia ragu untuk masuk, tapi Amelia yang lebih peka menoleh dan sempat menangkap tatapannya. Gadis itu memberi senyum tipis, lalu kembali menunduk pada tuts piano. Elias pun melangkah perlahan, berdiri sejenak di dalam ruangan, berusaha tidak mengganggu.
Pandangan matanya kemudian jatuh pada meja kecil di sudut. Ada beberapa buku, salah satunya bersampul kulit cokelat lusuh. Rasa ingin tahu menuntunnya mendekat. Ia membuka perlahan, menemukan tanda tangan yang pernah dia lihat dikertas resmi pernikahannya bulan lalu. Milik Nathaniel Cavendish.
Isinya bukan puisi atau surat pribadi, melainkan catatan praktis. Daftar kuda yang harus diberi pakan lebih, biaya perbaikan gudang gandum di Greendale, nama-nama perwira yang belum sempat dibalas suratnya. Garis hurufnya tegas, miring sedikit, penuh perhitungan. Elias membaca dengan jantung yang berdenyut cepat—seolah ia bisa melihat Nathaniel lewat tinta yang sudah mulai pudar.
“Serius sekali,” gumamnya lirih, jemarinya menyusuri halaman itu. “Tapi… penuh perhatian.”
“Encore une fois, mademoiselle,” ucap Nona Whitmore lembut namun tegas. Lottie mendengus, menulis ulang dengan malas. Suara Nona Whitmore memaksa Elias buru-buru menutup buku tersebut. Ia meletakkannya kembali, rapi seperti semula, lalu beranjak pergi. Namun langkahnya meninggalkan ruang belajar itu dengan perasaan berbeda.
Ia mulai menyadari, untuk memahami Nathaniel, tidak selalu lewat kata-kata. Terkadang lewat jejak kecil yang tersembunyi di balik buku catatan usang.
Cahaya lilin memantul di dinding-dinding aula besar, sementara orkestra memainkan nada riang untuk menghormati pesta dansa atas pernikahan salah satu putra Ratu Charlotte. Elias berdiri di sisi ruangan, segelas anggur di tangannya, matanya lebih sibuk mengamati kilau lampu kristal daripada wajah-wajah yang berlalu-lalang.
Telinganya, mau tak mau, menangkap percakapan di sekelilingnya.
“—Waterloo katanya jadi pertarungan terakhir…”
“Banyak yang gugur. Kasian keluarga-keluarga yang masih menunggu kabar…”
“Kalau Cavendish muda itu belum kembali, bisa saja—”
Nama Cavendish membuat dada Elias berdenyut. Skenario kabur kembali terlintas dalam benaknya.
Jika Nathaniel tidak pernah kembali, tidak ada lagi yang bisa menahan dirinya. Ia bisa pergi bersama Clara suatu hari nanti. Bebas.
Namun pikirannya goyah. Wintermere Hall, dengan segala ketentramannya, sudah perlahan-lahan menjadi tempat yang terasa lebih hidup daripada rumah asalnya. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi ada bagian kecil dari dirinya yang tidak benar-benar ingin kabur.
“Kenapa melamun sendirian?” Suara ringan memotong pikirannya. Thomas Cavendish berdiri di hadapannya, wajahnya menyunggingkan senyum penuh percaya diri. “Datang ke pesta hanya untuk berdiri di sudut membuatmu terlihat seperti tokoh tragis.”
Elias menatapnya sekilas. “Mungkin diriku memang sedang cocok jadi tokoh tragis.”
Thomas tertawa, lalu mengulurkan tangan. “Mari, kalau begitu aku akan menyelamatkanmu. Menari denganku, sebelum semua orang mengira kau benar-benar janda berduka.”
Elias mendengus, tapi menerima uluran itu. Lantai dansa berputar dengan gaun-gaun sutra dan sepatu yang berderap. Thomas memimpin langkah dengan percaya diri, sementara Elias mengikuti dengan kaku namun anggun.
“Jangan khawatir,” ujar Thomas sambil mencondongkan suara agar hanya Elias yang mendengar. “Kakakku tidak akan gugur semudah itu. Nathaniel terlalu keras kepala untuk mati di tangan siapa pun.”
Elias terdiam. Cara Thomas mengatakannya tidak sekadar keyakinan kosong. Ada semacam rasa bangga, meski ia berusaha menyamarkannya dengan nada main-main. Elias menyadari bahwa meski Thomas dikenal flamboyan, di dalam dirinya tersimpan penghormatan yang tulus pada sang kakak.
Untuk alasan yang tidak ia pahami, kata-kata itu menyalakan sedikit kepercayaan dalam hati Elias.
Begitu lagu berakhir, Thomas membungkuk dengan gaya berlebihan. “Terima kasih, suami kakakku. Aku harus kembali ke ladang pertempuran—bukan Waterloo, tapi medan dansa.” Ia melangkah pergi, segera sibuk menggoda para pemuda pemudi yang datang dari Katenbury.
Elias menghela napas lega, kembali ke pinggir ruangan. Saat itulah ia mendengar denting piano. Amelia duduk tegak di depan instrumen itu, jemarinya luwes menyusuri tuts, sementara Lottie berdiri di sampingnya, bertepuk tangan dengan riang.
Elias mendekat, mendengarkan hingga nada terakhir mengalun.
“Kau bermain dengan sangat indah,” katanya dengan tulus.
Pipi Amelia bersemu. “Terima kasih, Tuan Elias. Tapi biasanya kami tidak hanya bermain piano.” Ia melirik pada Lottie.
“Oh, benar!” Lottie menyahut cepat. “Kami dulu sering bernyanyi bersama—Nathaniel memainkan biola, dan kami bernyanyi asal saja. Suaranya, astaga, buruk sekali. Tapi kami tertawa sampai sakit perut.”
Amelia tersenyum kecil, matanya berbinar penuh kenangan. “Ia selalu bisa membuat suasana rumah menjadi nyaman dengan caranya sendiri.”
Elias mendengar semua itu dengan hati yang berdetak aneh. Ia tidak pernah mengenal Nathaniel secara langsung, tapi sosok pria itu seakan hidup di setiap cerita adik-adiknya. Seorang kakak yang dicintai, yang bisa membuat rumah dipenuhi musik dan tawa.
Dan di atas kertas, Elias hanyalah suaminya.
Pikiran itu menimbulkan rasa canggung. Ia memalingkan wajah, seolah sibuk memperhatikan para penari. Namun jauh di dalam dirinya, sebuah pertanyaan mulai tumbuh.
Seperti apakah Nathaniel Cavendish sebenarnya? Apakah ia benar-benar sehangat cerita yang bergema di ruangan ini?
Musik kembali riuh, namun perhatian ruangan mendadak terpecah ketika seorang tamu baru memasuki aula. Seorang pria berseragam, wajahnya letih, sepatu botnya masih berdebu perjalanan jauh. Ia bukan bangsawan, jelas dari caranya menunduk sopan kepada para undangan, tapi sorot matanya membawa sesuatu yang lebih kuat dari perhiasan mana pun.
Kabar dari medan perang.
Bisikan cepat menyebar seperti api.
“Utusan dari Belgia…”
“Ada masalah di Waterloo…”
“Beberapa resimen dipulangkan…”
Elias menahan napas. Kata-kata itu melayang-layang, menusuk pikirannya.
Dipulangkan.
Itu bisa berarti selamat atau sebaliknya.
Lady Cavendish mencengkeram lengan Lord Cavendish, wajahnya menegang, sementara Thomas mendadak berhenti bercanda. Amelia menggenggam tangan Lottie erat-erat. Bahkan Lady Honoria, yang biasanya sinis, kini menatap serius ke arah utusan itu.
Tidak ada nama yang disebut malam itu. Tidak ada kepastian siapa yang kembali, siapa yang masih bertahan, dan siapa yang telah gugur.
Elias berdiri kaku, merasakan jantungnya berdegup tidak beraturan. Setiap kemungkinan berputar di kepalanya. Nathaniel bisa saja sudah tiada, bisa juga sedang dalam perjalanan pulang. Ia menatap keluarganya—keluarga barunya—dan menyadari bahwa mereka semua, tanpa terkecuali, menunggu jawaban yang sama.
Untuk pertama kalinya, Elias ikut menunggu dengan mereka.
Hari itu berjalan seperti biasa. Elias menemani Lady Cavendish berbelanja di kota, menelusuri kios-kios kain dan gerai roti dengan langkah teratur. Ia sudah mulai terbiasa dengan tatapan penuh atensi sang ibu mertua, juga sapaan orang-orang kota yang begitu ramah pada keluarga Cavendish.
Namun, saat kereta kembali melintasi jalan berbatu menuju Wintermere Hall, Elias melihat sosok berdiri tegap di depan gerbang besar itu. Seragam lusuh, bahu tegak meski tubuhnya tampak lebih kurus, dan wajah yang sebagian tertutup perban di pelipis kanan.
Lady Cavendish terdiam sejenak, lalu menjerit kecil. “Nathaniel!”
Ia turun dari kereta sebelum pintu benar-benar terbuka, berlari, dan langsung memeluk putra sulungnya. Nathaniel membalas pelukan itu, tangannya yang berotot bergetar seolah akhirnya ia boleh beristirahat.
Elias hanya berdiri di ambang kereta, jantungnya berdegup kencang.
Wajah pria itu hampir sama dengan lukisan yang ia lihat berbulan-bulan lalu. Hanya saja kini lebih nyata, lebih letih, dan jauh lebih manusiawi. Garis rahang yang dulu tampak kokoh kini memudar di balik kelelahan. Luka di pelipis kanannya membuatnya terlihat asing, menegaskan bahwa perang benar-benar telah mengubahnya.
Ketika akhirnya tatapan Nathaniel jatuh padanya, Elias merasa bulu kuduknya berdiri. Mata itu, tajam, tenang dan apatis pada sekitarnya.
Elias turun dari kereta, membungkuk sedikit. “Saya Elias..”
Nathaniel hanya menunduk singkat—pasti sudah mengetahui tentangnya dari surat yang dikirim oleh ibunya ke barak—lalu beralih kembali menatap ibunya.
Tidak ada kata, tidak ada pengakuan lebih.
Dan itu, membuat sedikit keretakan di dada Elias.
Di ruang keluarga, suasana bagaikan pesta kecil, menyambut pulangnya Nathaniel dikarenakan pertentangan di Waterloo mulai sedikit mereda dan bisa membebas tugaskan sebagiannya. Thomas berbicara tanpa henti menanyakan kisah perang dengan nada heroik, Lottie menyela dengan candaan, Amelia menatap kakaknya dengan mata berbinar, bahkan Lady Honoria melontarkan komentar pedas yang entah bagaimana bernada penuh kasih.
Nathaniel duduk di kursi empuk, membiarkan semua perhatian itu jatuh padanya. Sesekali matanya melunak, ada sinar kasih yang nyaris muncul. Namun setiap kali Elias menatapnya, cahaya itu menghilang, berganti sorot dingin yang membuat Elias menunduk.
Rasanya seperti dua wajah dalam satu tubuh.
Nathaniel sang kakak yang dirindukan keluarganya, dan Nathaniel orang asing yang menjadi suaminya di atas kertas.
Selepas makan malam, persiapan menuju Greendale dibicarakan. Nathaniel masih letih, tapi semua orang menganggap wajar bila ia dan Elias segera pindah ke rumah yang disediakan bagi mereka.
Malam itu juga, akhirnya keduanya berbicara tanpa keramaian keluarga. Di ruang tamu kecil, hanya ada nyala api perapian yang temaram.
“Jadi, Anda Elias Whitlow, pasangan saya..,” suara Nathaniel dalam, tapi formal, seolah menimbang setiap kata.
Elias menahan desah napasnya. “Ya. Dan sekarang… Elias Cavendish.”
Nathaniel tidak menanggapi candaan tipis itu. Ia hanya mengangguk lagi. “Tentu, Tuan Whitlow.”
Ada jarak jauh dalam panggilan itu. Elias tersenyum tipis, paksa, sambil menegakkan tubuhnya. “Kalau itu yang membuat Anda nyaman.”
Keheningan jatuh di antara mereka, lebih berat daripada perang yang baru ditinggalkan Nathaniel.
Elias menyadari hidup barunya di Greendale tidak akan sesederhana tentramnya Wintermere Hall.
Greendale akhirnya ditempati oleh mereka. Bukan hanya milik Nathaniel, melainkan juga Elias—setidaknya di atas kertas yang diakui oleh balai kota. Bangunan tua itu berdiri kokoh di tanah lapang, dengan taman mawar yang sudah mulai meranggas seiring pergantian musim. Kamar mereka terletak di sayap timur, tetapi berbeda ruang. Keputusan yang datang langsung dari Nathaniel.
Elias hanya menunduk waktu diberitahu, meski hatinya terasa sedikit berlubang.
Tuan Armier, yang kini ikut menetap di Greendale, seakan menjadi satu-satunya teman bicara Elias. Rutinitas mereka pun terbentuk tanpa direncanakan.
Pagi hari Nathaniel selalu berangkat berkuda, dan baru kembali menjelang senja dengan debu di sepatu serta bau kulit pelana yang melekat. Sarapan Elias hanya ditemani Armier dan sesekali bunyi jam antik di ruang makan. Jika mereka berpapasan, Nathaniel hanya mengangguk pendek dan menyapanya dengan panggilan yang sama setiap hari, “Tuan Whitlow.”
Tak ada percakapan lain. Tak ada usaha. Hanya formalitas yang terasa kaku. Elias, pada akhirnya, menyerah pada kesibukan kecilnya sendiri. Ia menulis, membaca sekadarnya, dan mengisi keheningan dengan berjalan di taman belakang. Malam hari, sebelum masuk ke kamarnya, ia sering melihat pelayan keluar dari kamar Nathaniel, membawa baskom air berwarna kemerahan. Perban di pelipis Nathaniel masih harus diganti, dan luka itu seakan menjelaskan mengapa tatapannya jarang melunak.
Akhir pekan, Elias memutuskan berkunjung ke Wintermere Hall, mencari sedikit kefamiliaran dari Lady Cavendish. Ia mendapati ibunya Nathaniel tengah menanti di ruang tamu, dengan senyum yang seolah sudah hafal kegelisahan menantunya.
“Ah, Elias. Kau tampak lebih pucat daripada terakhir kali kulihat. Greendale tidak memberimu cukup cahaya, barangkali?” Lady Cavendish menyambutnya dengan nada jenaka.
Elias menunduk sopan. “Rumah itu… terlalu besar, Madam. Dan terlalu sunyi. Bahkan denting jam terdengar seperti langkah kaki yang menghantui.”
Lady Cavendish terkekeh lembut, lalu mengaitkan lengannya pada Elias. “Kalau begitu, ikutlah menemaniku ke kebun lavender. Setidaknya bunga-bunga tidak tahu caranya membuatmu bosan.”
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, dan Elias akhirnya menghela napas panjang. “Jujur saja, Madam… aku mulai merasa hari-hariku di Greendale berjalan tanpa arah. Aku mencoba membaca, berjalan di taman, berbincang dengan Tuan Armier—tapi tetap saja, sunyinya menohok ulu hati.” Ia tersenyum hambar, mencoba menutupi nada keluhan. “Tentu saja aku tidak bermaksud mengejek anak anda, Madam.”
Lady Cavendish berhenti sejenak, menatap Elias dengan mata yang teduh. “Oh, kau terlalu berhati-hati, Nak. Kalau kau bosan, katakan saja bosan. Nathaniel memang selalu seperti itu—menutup dirinya rapat-rapat pada hal baru. Tapi jangan khawatir.” Ia menepuk bahu Elias pelan. “Ada cara untuk membuat Greendale lebih hidup. Biarkan aku yang mengaturnya.”
Tatapannya sekilas mengandung sesuatu yang tidak diucapkan, membuat Elias bertanya-tanya, meski ia tidak menekan lebih jauh.
Keesokan harinya, Greendale benar-benar lebih hidup. Thomas, Amelia, dan Lottie bertandang dengan riang.
“Elias!” seru Lottie, berlari kecil ke arahnya. “Kau tidak tahu betapa membosankannya Wintemere tanpa seseorang untuk mendengarkan ocehanku.”
Elias nyaris tersenyum. “Aku menduga kau punya banyak pendengar bahkan sebelum diriku masuk ke Wintermere”
“Tidak!” Lottie menyahut cepat. “Amelia sibuk dengan pianonya, Thomas menebar pesona dengan berkuda—dan aku? Aku terjebak dengan diriku sendiri.” Ia lalu mulai bercerita panjang lebar tentang bunga di taman, tentang nada yang Amelia mainkan kemarin, hingga tentang seekor burung yang bersarang di menara lonceng.
Amelia hanya menggeleng kecil, lalu menambahkan dengan tenang, “Jangan hiraukan, Elias. Lottie memang lahir untuk berbicara tanpa henti.”
“Dan dunia lahir untuk mendengarkannya,” sahut Elias, yang membuat Lottie tertawa puas.
Saat itulah Amelia melirik halus ke arah Thomas, seolah memberi isyarat. Thomas menangkap tanda itu tanpa kata, lalu berpura-pura menyusuri lorong rumah hingga menghilang ke arah ruang kerja Nathaniel. Elias, terlalu sibuk menanggapi celotehan Lottie, sama sekali tak menyadari pergerakan itu.
Malam tiba, dan rumah kembali sunyi. Elias baru saja hendak masuk ke kamarnya ketika pintu kamar Nathaniel terbuka. Namun ada yang berbeda, yang keluar bukan pelayan seperti biasanya, melainkan Nathaniel sendiri. Wajahnya masih seperti orang yang memegang banyak beban, tapi suaranya terdengar lebih jernih.
“Besok pagi…” Nathaniel berhenti sejenak, sorot matanya singkat bertemu dengan Elias, “…sarapanlah bersamaku.”
Kata-kata itu sederhana, namun Elias berdiri kaku di koridor, jantungnya berdegup lebih keras dari yang seharusnya. Ia hanya mampu mengangguk pelan, sementara Nathaniel sudah masuk kembali ke tempat persembunyiannya, meninggalkan Elias dalam kebingungan yang sedikit bercampur harapan.
Pagi itu meja sarapan di Greendale terasa terlalu besar bagi tiga orang. Saat memasuki ruangan Elias disambut dengan Tuan Armier yang sedang menuang teh dan menyajikan roti untuknya sedangkan Nathaniel duduk tegak, wajahnya seperti diukir dari batu.
“Selamat pagi, Tuan Whitlow,” ucap Nathaniel singkat.
Elias mengangguk dengan senyum tertekan. “Selamat pagi.”
Ia mencoba menyesuaikan diri dengan segala aturan meja makan bangsawan, tetapi jarinya salah memilih sendok untuk hidangan pertama. Baru ia hendak menunduk malu, Nathaniel dengan gerakan sederhana menggeser sendok yang benar ke arahnya, tanpa komentar, tanpa ekspresi. Tindakan kecil itu justru membuat Elias kian salah tingkah. Tangannya nyaris menjatuhkan piring.
Tuan Armier menahan batuknya, pura-pura sibuk menuang teh lagi. Elias menelan ludah, wajahnya panas.
Menjelang siang, Elias melangkah ke ruang baca, karena tidak ada kegiatan yang berarti selain itu. Pintu setengah terbuka, dan ia mendapati Nathaniel duduk di kursi kulit, dikelilingi tumpukan kertas dan buku. Pandangan mereka bertemu sejenak. Elias segera kehilangan keberanian yang semula ia kumpulkan sejak selesai sarapan bersama.
“Aku hanya… ingin mencari bacaan,” katanya, suaranya terdengar datar untuk menutupi tegang. Ia meraih satu buku tebal dari rak tanpa sempat membaca judulnya, lalu duduk di sofa seberang.
Ruangan itu hening. Hanya bunyi lembaran kertas yang dibalik, dan dentang jam antik yang terasa semakin lambat. Elias mencoba membuka buku, matanya tak membaca satu pun kata. Rasa gatal di lidahnya akhirnya menang.
“Lukisan di atas kepala Anda,” Elias menengadah ke potret tua yang kusam, “sepertinya tidak bahagia dipajang di ruangan ini. Lihat wajahnya—seperti menyesal telah digambar.”
Nathaniel berhenti membaca.
Elias membisu, takut jika Nathaniel akan mengusirnya pergi karena telah bersuara atau mengutuknya.
Namun daripada itu, bibirnya melengkung tipis. Senyum itu cepat sekali, hampir tak terlihat, tapi cukup membuat Elias mengerjapkan mata tak percaya. Dengan grogi, Elias kembali mengalihkan perhatiannya ke buku, berharap bisa menghilangkan diri diantara halaman.
Keesokan paginya, sarapan terasa sedikit berbeda. Nathaniel masih tampak formal, tetapi ucapannya meninggalkan celah kecil untuk sesuatu yang Elias tidak duga.
“Tuan Whitlow,” katanya, “tidak perlu terlalu gugup. Di sini hanya ada saya dan Armier. Kecuali kau memang ingin memecahkan semua piring dengan tingkahmu yang janggal.”
Elias mendongak dengan wajah terbakar malu, tapi tawa kecil lolos dari bibirnya. “Baiklah… aku akan berusaha menyelamatkan setidaknya satu piring.”
Nathaniel tidak menanggapi, dan akhirnya mereka meneruskan santapannya dalam sunyi. Selesai sarapan, Nathaniel segera berdiri. Elias, entah kenapa, tak ingin momen dengan Nathaniel berlalu begitu saja.
“Apakah… Anda hendak berkuda?” tanyanya cepat.
Nathaniel berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Ya.”
Elias ragu sejenak apa perlu mengucap ini untuk sekedar basa-basi, sebelum jujur, “Aku… tidak bisa berkuda.”
Tatapan Nathaniel singgah lebih lama padanya. Bukan sinis, bukan peduli, tapi seakan mempertimbangkan sesuatu. “Begitu,” katanya singkat, lalu berbalik menuju pintu.
Dan Elias pun ditinggalkan dengan percakapan yang langsung digunting mati.
Suatu hari, saat fajar masih malu untuk menampak, Elias dibangunkan oleh Tuan Armier.
“Tuan, bersiaplah. Tuan Nathaniel menunggu.”
Elias mengerjap, masih setengah sadar, tapi entah bagaimana ia menurut.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri di dekat kandang kuda, hawa dingin pagi menusuk tulang. Nathaniel sudah ada di sana, tampak tenang dalam mantel tunggangnya, satu tangan membelai surai kuda hitam mengkilat. Mirip dengan warna rambut tuannya.
Dan mirip keluarga Cavendish.
Kuda ini, adalah Cavendish.
“Kau terlambat, Tuan Whitlow,” ucapnya, tanpa senyum.
Elias mendengus pelan, rupanya dia masih belum cukup Cavendish untuk Nathaniel.
“Aku bahkan belum sempat memutuskan apakah aku ingin belajar.”
Nathaniel tak menanggapi, hanya menyerahkan kendali kuda. “Naiklah. Aku akan mengajarkanmu.”
Sambil menyiapkan pelana, Nathaniel berucap datar, seolah sekadar menyampaikan fakta, “Aku dulu lebih suka berjalan kaki daripada naik kereta. Dari Wintermere ke Rosewood Park. Ada danau di sana… tempatku melamun, menatap bayangan sendiri.”
Ia berhenti sejenak, lalu suaranya merendah. “Tapi di medan perang, aku belajar bersyukur pada kuda. Mereka bisa membawamu lari cepat… saat musuh terlalu dekat.”
Tatapannya menerawang jauh, ada sesuatu yang tertahan. Elias merasa canggung melihatnya begitu hampa. Akhirnya ia berdeham, mencoba memecah suasana. “Jadi… aku harus menaikkan kaki yang mana dulu?”
Nathaniel menoleh, sedikit terkejut seolah baru kembali dari lamunan. “Kiri.”
Percobaan pertama Elias kacau. Ia panik, setengah tergantung di pelana. “Ini binatang yang terlalu tinggi!” serunya.
“Pegang erat. Jangan panik,” kata Nathaniel, sabar tapi tegas.
Namun setelah beberapa menit tak berhasil, Nathaniel berdecak, lalu naik ke belakang Elias. Tubuhnya dekat sekali, kehangatannya yang berbeda jauh dari suhu pagi buta ini, segera menyelimuti. Elias tidak bisa berkutik banyak.
“Tarik kendali dengan mantap,” Nathaniel membisikkan instruksi, bibirnya nyaris menyentuh belakang telinga Elias.
Sayangnya, kuda itu justru bergerak seenaknya. Elias terlonjak, Nathaniel meraih kendali cepat-cepat. Mereka hampir kehilangan keseimbangan.
“Apa ini bagian dari pelajaran?” Elias mencoba menutupi kegugupannya dengan nada menyindir. “Kau jelas bukan guru yang baik.”
Nathaniel menarik napas panjang. “Atau mungkin muridnya yang sulit diatur.”
“Aku? Murid yang sulit?” Elias membalas cepat, kata-katanya meluncur sebelum ia bisa menahan diri. “Yang sulit itu adalah kau—bahkan memanggil nama depanku tidak bisa! Whitlow, Whitlow, selalu Whitlow.”
Nathaniel terdiam, kuda mulai melambat. Elias melanjutkan, suaranya meninggi meski matanya tak berani menoleh.
“Aku benci dipanggil Whitlow. Kita sudah menikah di atas kertas, entah kau suka atau tidak. Kalau kau tak mau menganggapku suami, baik. Tapi setidaknya panggil aku Elias.”
Hening panjang turun di antara mereka, menikam telinga Elias lebih daripada suara kuda di jalan berbatu. Ia sempat menoleh sedikit, menunggu jawaban, tapi yang ia dapat hanyalah wajah Nathaniel yang membisu, sorot matanya sulit diterjemahkan.
Kuda akhirnya berhenti di dekat pagar padang rumput. Nathaniel turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan agar Elias bisa ikut turun. Elias menatap tangan itu ragu, sebelum akhirnya menerima bantuan. Sentuhan itu singkat, nyaris tak terasa, tapi cukup membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari yang ia harapkan.
Begitu kakinya menjejak tanah, Nathaniel segera melepaskan diri, kembali bersikap formal seakan tadi tak terjadi apa-apa. Ia menuntun kudanya masuk kandang tanpa sepatah kata pun.
Elias berdiri terpaku, hatinya campur aduk—antara kesal, takut, dan malu.
Ia menunduk, pura-pura merapikan sarung tangannya, hanya agar Nathaniel tidak melihat kegugupannya.
“Terima kasih… atas pelajarannya,” gumam Elias akhirnya, lebih mersik dari yang ia maksudkan.
Nathaniel berhenti sebentar, bahunya sedikit menegang, lalu kembali berjalan tanpa menoleh.
Elias menarik napas dalam-dalam. Ia benci mengakuinya, tapi hening semacam itu jauh lebih mencekam dibanding bentakan ibunya dulu.
Hari ulang tahun Lottie disambut riang di halaman belakang Wintermere Hall. Alih-alih pesta dansa, gadis itu memilih perayaan sederhana.
Permainan croquet keluarga.
Thomas, dengan semangat berlebihan, sibuk membagi tim, sementara Lottie sendiri berlari kecil sambil terkikik, menertawakan semua yang belum pernah benar-benar menyentuh palu croquet sebelumnya.
Elias tampak canggung memegang palunya. Langkah kakinya kerap salah arah, dan setiap ayunan bola lebih sering melenceng daripada mengenai sasaran. Nathaniel, yang sejak tadi mengamati, akhirnya bergeser mendekat. Ia berdiri di belakang Elias, meraih tangannya dengan tenang, dan membetulkan posisi palu di genggamannya.
“Jangan terlalu tinggi. Ayunkan rendah, biarkan kayunya menyentuh tanah lebih dulu,” bisik Nathaniel, suaranya nyaris tak terdengar di telinga Elias.
Napas pemuda rambut cokelat itu tercekat. Kehangatan dari tubuh Nathaniel terasa jelas di punggungnya, membuatnya salah langkah lagi. Thomas, dari kejauhan, meledak tertawa.
“Hati-hati, Kakak Ipar! Jangan sampai kau menghancurkan rumput Nenek!” serunya.
Elias berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu kaku. Ia mengulang ayunan dengan tangan yang masih diarahkan Nathaniel. Bola akhirnya bergulir lurus, meski tidak jauh. Cukup untuk membuat Lottie bertepuk tangan senang.
Nathaniel menunduk sedikit, matanya menyapu arah bola, lalu bergumam pelan, “Masih bisa lebih bagus lagi, Elias.”
Elias terpaku. Itu pertama kalinya Nathaniel memanggil dirinya bukan dengan sebutan Tuan Whitlow, dan darahnya seakan bergejolak sampai ke wajah. Lalu dia menoleh pelan dan tak sengaja mendapati wajah Nathaniel begitu dekat. Ada jeda singkat, sebelum ia buru-buru mengalihkan pandangannya dan berdeham.
“Cuaca… panas sekali hari ini,” gumamnya pada diri sendiri, memberi alasan untuk kemerahan yang mulai merayap di pipinya.
Di meja makan siang, suasana makin riang. Lady Cavendish meminta masing-masing anak menceritakan ulang tahun idaman mereka. Lottie ingin pesta dansa di taman bunga, Amelia ingin konser piano kecil, Thomas dengan dramatis menginginkan perayaan di seluruh kota.
Saat giliran Nathaniel, ia menunduk sejenak. “Aku… tidak pernah memikirkannya,” katanya tenang. “Kemarin, aku tidak menyangka akan hidup cukup lama untuk merayakan ulang tahun berikutnya.”
Suasana seketika meredup. Lady Cavendish menyentuh tangan putra sulungnya dengan lembut, sementara semua orang terdiam. Untungnya Thomas segera menengahi dengan senyum lebarnya. “Baiklah, kalau begitu, bagaimana dengan kakak ipar kita ini? Elias?”
Semua mata tertuju padanya. Elias mengangkat alis, agak tersentak. Tapi ia menjawab dengan tenang, “Bagiku… setiap hari bisa terasa seperti ulang tahun, selama bersama orang-orang yang disayangi.”
Lottie tersenyum lebar, Amelia mengangguk kecil, sementara Nathaniel menatapnya dengan sorot mata yang tak mudah ditebak.
Karena cuaca masih cerah—terbekatilah umur Lottie—pesta berlanjut di Emartiny Park, taman perbukitan yang indah. Lottie sambil menggandeng Emilia segera berlarian dengan keranjang piknik, sementara Nona Whitmore berusaha sia-sia mengatur langkahnya. Elias, yang rasa sukanya pada kesendirian tidak sepenuhnya hilang, memilih berjalan menuju lereng yang lebih tinggi.
Ia belum jauh ketika sebuah suara akrab terdengar di belakang.
“Dan ke mana, jika boleh tahu, kau hendak melarikan diri?”
Elias menoleh. Nathaniel mendekat dengan langkah terukur, suaranya terdengar lebih santai daripada sikap tubuhnya.
“Ke puncak,” jawab Elias singkat. “Dari sana, segalanya tampak lebih jelas.”
Lalu, dengan gumaman nyaris tak terdengar, ia menambahkan, “—dan membuat semua yang lain terlihat lebih kecil daripada diriku.”
Alis Nathaniel sedikit terangkat. “Kalau begitu, aku tak sepatutnya membiarkanmu memiliki keuntungan itu seorang diri. Izinkan aku menemanimu.”
Mereka akhirnya duduk di tepi bukit, keranjang sederhana—yang tadi dibantu bawa oleh Tuan Armier, namun kini dia tidak mengikuti mereka dan memilih menunggu dibawah—dibiarkan di samping.
Hanya ada mereka berdua, angin, dan pemandangan luas Highbury dari kejauhan.
Sesaat keduanya terdiam, hingga Nathaniel, matanya terpaku pada cakrawala, berujar, “Langit begitu tenang hari ini… jauh lebih tenang daripada medan yang pernah—” Ia menghentikan kalimatnya, seolah sadar ucapannya akan membawa beban yang tak ia kehendaki.
Elias, yang tak ingin membiarkan bayangan perang menyelusup, tersenyum ringan. “Mungkin langit hanya ingin menonton keluarga kita berbuat gaduh di lapangan tadi. Percayalah, teriakan Thomas saja cukup untuk mengusir barisan tentara sekalipun.”
Nathaniel sontak tertawa—tawa yang tulus, begitu jernih hingga wajahnya seketika tampak lebih muda, lebih bebas. Elias, cukup puas pada dirinya sendiri, menaikkan alisnya dengan gaya pemenang kecil.
Saat Nathaniel menunduk membenarkan posisi topinya, mata Elias menangkap perban di pelipisnya yang mulai longgar. Tanpa berpikir panjang, ia meraih ujung perban dan memperbaikinya.
Jarak mereka terlalu dekat, Elias bisa melihat dengan jelas tahi lalat di bawah mata kanan Nathaniel. Membuatnya menawan.
“Kau masih tampan,” celetuk Elias tanpa tersaring, “meski ada perban bodoh ini.”
Nathaniel menunduk cepat, nyaris menyembunyikan ekspresinya. Elias tersadar, menutup mulutnya buru-buru seolah kata-kata itu hanyalah lelucon.
Saat itu angin yang lebih kencang berembus, membuat topi Elias hampir terlepas. Dengan berpegangan satu tangan pada tanah, tubuhnya reflek condong ke tepi jurang untuk mencegat topinya terbang. Nathaniel spontan ikut menahan tangannya.
Elias menatap tangannya yang tergenggam, lalu menoleh pada Nathaniel. Ada sesuatu dalam tatapan mata kelam itu—bukan sekadar formalitas, bukan jemawa, melainkan sesuatu yang hampir tak berani disebut.
Kepedulian.
Genggaman itu bertahan lebih lama dari seharusnya. Nathaniel tak segera melepas, Elias pun tidak menyingkir.
Angin berputar kencang, mengibaskan ujung jas dan topi Elias, sementara rerumputan di bukit melandai mengikuti arah tiupan. Di sela riuh angin, hanya detak jam di dada masing-masing yang terasa lebih jelas.
Elias menoleh sekilas, bukan pada Nathaniel, melainkan pada horizon. Senyum tipis tersungging, seperti rahasia yang hanya ia bagi pada langit luas di hadapannya. Namun tangannya tetap menggenggam erat—hangat dan nyata.
Nathaniel hanya menunduk sedikit, seakan lebih memilih diam ketimbang berkata apa pun.
Dan begitu saja, mereka duduk di tepi bukit, diam-diam membiarkan waktu lewat, dengan tangan yang masih saling bertaut.
Pernikahan keluarga Everhart—si bangsawan paling terkenal di kota—menjadi buah bibir seantero Highbury.
Balai besar itu gemerlap cahaya lilin, kilau perhiasan, dan bisik-bisik tamu yang tak pernah lelah mengulang kisah lama.
Sang putra sulung Everhart yang begitu keras hati, menolak lamaran demi lamaran, akhirnya luluh juga pada putra sulung bangsawan Ashcroft—seseorang yang selama ini dipandang terlalu pendiam, terlalu bijaksana untuk urusan duniawi, namun justru menawan dalam kesederhanaannya.
Elias menyimak gosip itu dengan perasaan berlapis. Ada sesuatu yang mengusik, karena ia pun pernah berdiri di titik serupa. Menolak, menunda, tidak yakin akan pernikahan yang nanti dijalani. Hatinya tercekat ketika menyadari pernikahannya sendiri tidak lahir dari cinta yang tulus. Seakan ada beban yang menggumpal di dadanya, membuatnya ingin menyendiri.
Namun sebelum pikirannya sempat larut lebih jauh, sebuah suara bariton pelan terdengar di dekatnya.
“Bolehkah saya?”
Nathaniel berdiri di hadapannya, tangan terulur. Elias nyaris terkejut, lebih-lebih ketika menyadari Nathaniel benar-benar mengajaknya berdansa.
Lantai dansa selalu terasa asing baginya, tapi bersama Nathaniel, langkah-langkah itu menemukan ritmenya. Sang suami bergerak dengan kepastian, meski kaku, seolah pengalaman lama yang tertutup debu. Elias bisa merasakan ketegangan pada bahu Nathaniel, hingga akhirnya pria itu bergumam rendah, hampir seperti mengeluh pada dirinya sendiri.
“Sudah lama sekali aku tidak berdansa. Engselku karatan.”
Senyum Elias merekah, menggoda, setengah berani.
“Mau aku beri pelumas?”
Nathaniel hanya menghela napas, dengusan singkat yang entah menahan tawa atau rasa jengkel. Senyum tipis muncul di wajahnya, samar tapi cukup untuk menghapus awan gelap dari benak Elias.
Mereka berdansa sampai musik mereda, lalu pulang dengan kereta keluarga. Namun Highbury menyiapkan kejutan lain. Hujan deras mengguyur halaman saat mereka melangkah keluar.
Elias, alih-alih tergesa, justru menengadah, membiarkan butiran hujan menetes di wajahnya. Tawanya pecah, jernih, seperti bocah yang menemukan permainan baru. Nathaniel di sisi lain sibuk menarik mantel, berusaha melindungi mereka dari lebatnya hujan.
“Kau selalu serius dengan kehidupan, Tuan Cavendish,” Elias berseru sambil berlari kecil menghindari genangan. “Mungkin aku perlu mengajarimu tertawa.”
Nathaniel menoleh cepat, mantel masih terbentang, suaranya dalam dan tegas.
“Tapi nantinya kau tidak akan bisa tertawa juga jika sudah sakit, Tuan Cavendish.”
Langkah Elias terhenti seketika. Ada sesuatu yang lain dalam nada itu—bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan polos. Ia baru sadar Nathaniel tadi tidak memanggilnya Elias—pun lebih baik daripada Whitlow.
Nathaniel memanggilnya dengan Cavendish.
Hujan masih turun deras. Elias berdiri terpaku, setengah tercengang, hingga Nathaniel mendorongnya lembut ke arah kereta. “Masuklah,” katanya pendek. Elias menurut, masih dengan senyum yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Di balik kaca yang basah, tawa sunyi Elias terdengar lagi, kali ini bukan karena hujan, melainkan karena sebuah nama yang akhirnya diucapkan dengan benar.
Kabar duka itu datang pada pagi yang terlalu kabur. Seorang utusan dari keluarga Darlington tiba di Wintermere dengan kabar singkat.
Kapten Henry Darlington, sahabat seperjuangan Nathaniel di Waterloo, telah gugur karena luka yang tak lagi bisa ditanggung tubuhnya.
Elias menyaksikan bagaimana wajah suaminya berubah. Tak ada air mata yang tumpah di hadapannya, hanya garis rahang yang mengeras dan sorot mata yang memerah—seolah Nathaniel menolak memberi izin bagi kelemahan sekecil apa pun untuk tampak di muka umum.
Hari itu juga, mereka berangkat ke kediaman keluarga Darlington. Rumah besar itu diselubungi kesunyian. Tirai-tirai diturunkan, dan aroma lilin berbaur dengan udara duka. Di ruang utama, peti mati berhias bunga-bunga putih terletak di bawah bayangan lampu gantung. Elias berdiri setia di sisi Nathaniel, mengamati dari dekat bagaimana kedua bahu lebar itu menanggung kesedihan tanpa suara.
Saat orang-orang mulai mengerumuni keluarga yang ditinggalkan, Nathaniel melangkah lebih dekat ke peti, menundukkan kepala dengan hening. Elias sempat melihat jemarinya mengepal, seperti menahan gemetar. Wajahnya keras, matanya merah, tapi masih tidak ada air mata.
Di perjalanan pulang dalam kereta kuda, Elias duduk dalam diam. Udaranya pengap menyesakan dada, dan bunyi roda kereta berderit di jalan berbatu hanyalah suara latar belakang yang menemani. Ia melirik ke samping. Nathaniel bersandar, mata terpejam, namun urat-urat di tangannya menegang. Elias akhirnya mengulurkan tangan, meraih jemari suaminya tanpa banyak bicara. Untuk sejenak ia takut akan ditolak, tapi genggaman itu segera dibalas—erat, nyaris terlalu kencang—seakan Nathaniel menemukan satu-satunya jangkar yang tersisa. Mereka bertahan seperti itu sampai Wintermere terlihat di kejauhan.
Begitu sampai, Nathaniel segera dipanggil ke ruang kerja Lord Cavendish. Elias, yang berjalan di belakangnya, tak sengaja mendapati pintu dibiarkan setengah terbuka. Ia bisa melihat kedua pria itu duduk berhadapan, postur mereka kaku, wajah serius. Namun tak satu pun kata yang terdengar, dan Elias tahu dirinya tidak pantas menguping lebih jauh. Maka ia berbalik, melangkah keluar menuju taman belakang untuk menunggu.
Di sana dia mendapati Lady Cavendish dan Lady Honoria duduk berhadapan di bawah naungan pohon besar, cangkir teh porselen di tangan, senyum mereka tipis tapi penuh arti. Elias nyaris hendak mendekat ketika suara Lady Honoria—jernih, berlapis ketegasan—menangkap perhatiannya.
“Seorang ibu yang bijaksana,” ujar Lady Honoria, sambil mengaduk tehnya perlahan, “tidak pernah membiarkan putranya kembali dari perang hanya untuk mendapati rumah yang kosong. Itu akan menjadi tamparan yang terlampau kejam bagi keluarga sebesar Cavendish.”
Lady Cavendish menunduk sejenak, lalu mengangguk dengan lembut. “Saya pun berpendapat demikian. Mungkin keputusan menikahkannya terlihat tergesa bagi sebagian orang, tetapi… jauh lebih baik menjamin masa depan sejak dini, daripada menyesal setelah semuanya terlambat.”
Lady Honoria menghela napas, nada suaranya setengah puas, setengah menghakimi. “Justru karena musibah tidak pernah mengetuk pintu lebih dari sekali, langkah cepat dan tegas menjadi sebuah keharusan. Dan kini lihatlah—kita tidak perlu mengkhawatirkan garis keluarga yang terputus, apa pun yang terjadi di medan perang.”
Lady Cavendish tidak menambahkan apa-apa, hanya tersenyum tipis. Namun keheningan singkat itu terasa lebih berat daripada seribu kata.
Elias berdiri terpaku. Ucapan itu tidak ditujukan padanya, tetapi menimpa dadanya dengan berat. Ia tiba-tiba merasa dirinya hanyalah bagian dari perhitungan yang jauh lebih besar—sekadar kepingan bijak dalam permainan yang sudah diatur.
Elias tahu dia bukanlah pilihan yang lahir dari kasih, melainkan sekadar langkah yang dipandang “aman” demi kelangsungan keluarga Cavendish, tapi tetap saja sesuatu tentang pembicaraan itu terasa mempatahkan hatinya. Ia menarik napas panjang, menelan rasa getir yang perlahan menyelinap, lalu memutuskan berbalik sebelum kedua wanita itu menyadari kehadirannya.
Satu hari dipertengahan tahun, Clara Whitlow tiba-tiba bertandang ke Greendale.
Elias hampir tak bisa menyembunyikan sukacitanya ketika memperkenalkan adik perempuannya kepada Nathaniel. Senyum Clara ramah, suaranya ringan, namun sorot matanya penuh selidik, seakan ia ingin memastikan kakaknya benar-benar baik-baik saja dalam rumah barunya.
Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan ke Rosewood Park. Kabut tipis masih bergelayut di atas danau, burung-burung kecil berputar di atas permukaan air, menunggu remah roti yang dilempar Elias. Sementara Elias sibuk memberi makan, Clara perlahan menyamakan langkah dengan Nathaniel.
“Boleh saya bertanya jujur, Tuan Cavendish?” Clara menoleh singkat, nada suaranya penuh kehati-hatian.
Nathaniel, kaku namun tetap sopan, mengangguk.
“Bagaimana pendapat Anda… tentang Elias?”
Ia sempat terdiam. Mata Nathaniel mengikuti gerakan Elias di tepi danau, dari cara bahunya yang condong ke depan meminta perhatiaan para burung sampai tawa kecilnya ketika ada burung yang benar-benar mendekat. Akhirnya ia menjawab, pelan namun tegas.
“Maafkan saya, Nona Whitlow… tadinya saya skeptis. Kupikir keluarga Whitlow hanya ingin—” ia ragu menyelesaikan kalimatnya, lalu menarik napas. “Harta kami. Namun saya keliru. Saya bersyukur bisa mengenalnya. Dia… lebih dari yang saya bayangkan.”
Ujung telinga Nathaniel memerah, seakan ia sendiri malu dengan kejujuran itu. Clara hanya tersenyum puas, memahami lebih daripada kata-kata yang terucap.
“Kalau begitu saya lega,” katanya pelan. “Karena yang saya harapkan hanyalah satu hal, Elias menjadi bahagia. Setelah ia keluar dari rumah Whitlow, saya hanya ingin dia menemukan tempat yang layak.”
Lalu, Clara sempat mendekat, menurunkan suaranya, seolah membisikkan sebuah rahasia.
“Kalau suatu hari anda penasaran, lihatlah buku kecil berwarna abu-abu dengan burung dara di sampulnya. Anda akan tahu bagaimana Elias menjalani hari-harinya, saat menunggumu kembali dari Waterloo.”
Nathaniel menoleh, menatap iparnya yang memberikan senyum misterius sebelum Clara berbalik memanggil Elias.
Tak lama kemudian, Elias bersikeras mengantar Clara ke Wintermere Hall untuk mempertemukan adiknya dengan keluarga Cavendish yang lain. Nathaniel beralasan ada sesuatu yang harus ia ambil dari ruang kerjanya, berjanji akan menyusul kemudian. Elias tak menaruh curiga, melambaikan tangan dari dalam kereta.
Sunyi kembali turun di Greendale.
Nathaniel berdiri lama di ruang kerjanya, tapi pikirannya tak lepas dari kalimat Clara.
Buku kecil abu-abu dengan sampul burung dara.
Tanpa sadar, ia sudah melangkah ke kamar Elias. Ruangan itu sunyi dan penuh harum samar lavender dari potpourri di meja rias. Tangannya terhenti di laci yang tertutup rapat. Ia tahu ini bukan tindakannya yang terhormat, tetapi rasa ingin tahu menekan lebih kuat.
Dan di sana, benar adanya.
Sebuah buku kecil abu-abu dengan gambar burung dara di sampulnya.
Namun bukan catatan harian penuh kerinduan yang ia temukan, melainkan rangkaian rencana kabur. Baris demi baris ditulis rapi.
Cara keluar dari rumah, waktu yang tepat saat pelayan sibuk, jalan kecil menuju perkampungan di utara.
Nathaniel membaca, kaku, jemarinya membeku di halaman. Setiap kata terasa seperti hantaman.
Jadi… dia tidak pernah ingin tinggal di sini?
Apakah semua senyumnya palsu?
Apakah ia hanya menahan diri karena kasihan melihatku, pria yang telah lemah dari medan perang?
Sesak mulai merayap di dada Nathaniel. Ia menutup buku itu dengan tangan bergetar, menunduk dalam.
Apakah aku cukup baik untuknya? Ataukah dia hanya terjebak?
Suasana kamar Elias yang semula tenang kini terasa seperti dinding-dinding yang menutup rapat, membuat Nathaniel sulit bernapas.
Kereta yang ditumpangi Elias dan Clara berhenti di halaman Wintermere Hall dengan gemerincing roda yang familiar. Namun kali ini suasana sedikit berbeda. Dari jauh tampak keluarga Cavendish kedatangan tamu, yaitu Lord dan Lady De’mingies—bangsawan Katenbury yang kaya raya, dengan perkebunan dan estate lebih luas daripada milik Cavendish. Senyum mereka berwibawa, sorot mata penuh percaya diri khas orang yang tahu nilai dirinya tinggi.
Elias berdiri agak di belakang, sekadar mengamati. Namun bisikan tiba-tiba dari Nenek Cavendish membuatnya menegang.
“Lady De’mingies sepertinya menaruh hati pada Thomas, ingin meminang untuk anaknya,” ucap sang nenek lirih, suaranya hampir seperti komentar ringan. “Jika benar, tentu keluarga akan menerima dengan senang hati. Tak perlu banyak penawaran, menjadi bagian keluarga mereka saja sudah sebuah keuntungan.”
Kata-kata itu menancap dalam kepala Elias. Seolah-olah tak ada yang lebih penting selain garis keturunan, harta, dan nama baik keluarga. Matanya beralih ke Thomas yang sedang bersenda gurau dengan salah satu putra De’mingies, wajahnya penuh keceriaan. Elias tersenyum tipis, namun dadanya terasa berat.
Kalau keluarga bisa dengan mudah menerima orang lain dengan tahta lebih tinggi… bukankah berarti aku juga mudah ditukar?
Pikiran itu berputar-putar, menyesakkan. Nathaniel sudah kembali dari perang, dengan selamat—tentu keluarga bisa saja mengatur ulang pernikahannya dengan seseorang yang lebih “layak.”
Elias mulai lebih sadar bahwa dirinya hanyalah suami darurat, sekadar tambalan agar Cavendish tidak kena sial jika ada anggota keluarga mereka mati tanpa menikah. Perut Elias terasa bergerumul, ingin mengeluarkan isinya.
Sementara itu, Clara sibuk menghadapi Lottie Cavendish yang tanpa henti berceloteh. Gadis kecil itu membicarakan segalanya mulai dari kebun mawar, kucing tetangga, hingga rumor kecil di Highbury. Clara berusaha tersenyum, tetapi jelas ia kelimpungan mengikuti alur cerita Lottie yang tak pernah berhenti.
Amelia, yang duduk tak jauh dari mereka, memperhatikan dengan iba. Tanpa banyak bicara, ia menepuk lembut lengan Clara, lalu berbisik, “Mau ikut ke taman belakang? Lebih tenang di sana.”
Clara mengangguk cepat, berterima kasih dalam hati. Diam-diam kabur dari Lottie yang masih mengingat-ingat detail berapa bulu kucing yang hinggap di bunganya minggu ini, mereka pun berjalan bersama melewati pintu kaca menuju taman. Udara sore membawa wangi bunga, dan langkah mereka lebih pelan. Amelia tampak lebih rileks di luar keramaian, dan Clara merasakan ketenangan baru yang jarang ia temukan.
Percakapan mereka sederhana—tentang musik, buku, dan kebun yang dirawat Amelia sendiri. Namun kesederhanaan itulah yang membuat Clara nyaman. Di wajah Amelia yang biasanya kaku, ada senyum tipis yang justru membuatnya semakin menawan.
Saat kereta hendak membawa Clara kembali, ia sempat menoleh pada Amelia.
“Jika waktu memperbolehkan, aku akan datang berkunjung kembali,” katanya pelan.
Amelia tersipu, matanya menunduk. Senyum itu masih menempel, kecil namun tulus.
Greendale terasa sunyi sore itu. Elias menaiki tangga sambil bertanya-tanya kenapa Nathaniel tidak ikut ke Wintermere seperti yang dijanjikan. Ia membuka pintu kamarnya, dan terhenti.
Nathaniel duduk di tepi ranjang, tegak seperti patung, namun kedua tangannya mengenggam erat sebuah buku kecil berwarna abu-abu. Elias hanya perlu sekali menatap sampulnya—lukisan burung dara di permukaan—untuk merasa darahnya surut dari wajahnya.
“Jadi,” suara Nathaniel rendah, nyaris tenang, meski ketegangan di wajahnya berbicara lain, “buku ini rupanya lebih jujur daripada segala senyummu.” Ia mengangkat benda itu seakan bukti kejahatan. “Sejak awal, kau memang menyiapkan jalan keluar. Maka segala kesopananmu padaku hanyalah kedok, bukan?”
Elias tergagap, melangkah ke depan, tangannya hampir meraih, namun Nathaniel bangkit lebih dulu.
“Jangan,” kata Nathaniel cepat, tajam.
“Tidak seperti itu,” Elias berusaha menahan getar suaranya. “Kau salah mengerti—”
“Salah mengerti?” Nathaniel menyela, nada getirnya menggema di ruangan. “Setiap baris di buku ini menyatakan sebaliknya. Kau tidak pernah berniat tinggal. Kau hanya menanti saat paling tepat untuk melarikan diri, dan sementara itu—kau menikmati nama Cavendish, rumah ini, keluargaku, semua yang bukan milikmu.”
Elias terhentak, wajahnya memucat. Namun dalam keheningan yang menyesakkan, ia mengangkat dagunya, berusaha tegar.
“Apakah itu yang kau pikirkan tentang diriku? Bahwa aku seorang pengincar harta? Aku menulis rencana itu bukan karena rakus, melainkan karena takut. Aku telah jemu dikekang keluarga sendiri, dan aku ngeri membayangkan akan dikekang lagi di bawah atap orang lain—apalagi bangsawan.” Suaranya bergetar, tapi matanya menyala dengan kejujuran yang tak bisa ia sembunyikan. “Aku menulisnya karena aku tidak tahu ke mana harus berpegang. Karena aku lelah, Nathaniel. Terlalu lelah.”
Nathaniel tidak bergerak. Namun pandangannya tetap keras, tidak percaya.
“Kalau begitu, mengapa kau masih di sini? Jalanmu sudah kau tulis. Tinggalkan saja rumah ini, Elias. Kau tak perlu menunggu lebih lama.”
Kata-kata itu menghantam Elias seperti cambuk. Ia menggenggam tangannya, menahan gejolak di dadanya.
“Karena aku telah salah. Tidak semua bangsawan angkuh. Tidak semua keluarga hanya memikirkan nama besar. Keluargamu, Cavendish—mereka memberiku rasa rumah yang tidak pernah kumiliki. Dan kau…” suaranya melembut, hampir putus asa, “…kau lebih berarti daripada yang berani kuakui.”
Ia berhenti sejenak, menatap Nathaniel penuh kesungguhan. “Dan aku… aku mulai peduli padamu.”
Nathaniel menyipitkan mata. Ada kilatan luka di dalamnya, dan juga ketidakpercayaan yang keras. Ia menggeleng pelan, suaranya parau.
“Jangan,” katanya. “Jangan berkata begitu hanya untuk menenangkan hati sendiri. Kau tidak akan pernah bisa peduli padaku. Tidak ada yang bisa.”
Elias ingin menjawab, tetapi Nathaniel sudah melangkah ke pintu, wajahnya menegang. Sesaat sebelum dia keluar, ia berhenti, menoleh sekali lagi dengan sorot mata penuh getir.
“Tidak ada yang bisa bertahan dengan orang yang membawa luka bekas perang. Kau pun tidak akan.”
Dan pintu tertutup keras, meninggalkan Elias sendirian di dalam kamar yang kini terasa lebih dingin daripada Whitlow House di musim salju.
Rosewood Park terhampar sunyi. Danau kecil di tengahnya memantulkan langit senja yang perlahan memudar. Nathaniel berdiri di tepi air, menatap bayangannya sendiri—bayangan seorang pria yang tak pernah benar-benar pulih.
Ia melihat dirinya muda di permukaan itu.
Bocah yang kehilangan mainannya karena Thomas merebut dengan seenaknya, remaja yang kecewa karena tidak bisa mengantar Lottie ke sekolah asrama wanita, pemuda yang harus berhenti mendengarkan Amelia memainkan piano karena harus dipanggil ke medan perang.
Dan kini, lelaki dewasa yang kembali pada danau ini, masih dengan rasa kecewa yang sama—entah pada siapa, entah karena apa.
Suara langkah di rerumputan memecah lamunannya. Nathaniel menoleh, dan mendapati Tuan Armier berdiri tenang, menjulang di sampingnya. Tatapannya datar, namun penuh arti.
“Kereta sudah menunggu, Lord Cavendish,” ucapnya singkat.
Nathaniel hanya menatap, tidak bergerak. Ia ingin menolak, ingin menenggelamkan diri lebih lama dalam bayangan air yang menuduhnya.
Melihat itu, Tuan Armier berkata pelan, “Tuan Elias menunggu di luar gerbang. Ia menolak masuk ke dalam sampai Anda pulang.”
Nathaniel mendengus pendek, bibirnya menegang. “Dia orang yang keras kepala.”
Tuan Armier menoleh penuh kepadanya, “Mungkin karena itu, ia cocok dengan Anda, Lord Cavendish.”
Sementara itu, di luar gerbang Greendale, Elias berdiri gelisah. Rambut cokelatnya berantakan, tangan menempel pada besi gerbang. Matanya memerah dengan kecemasan.
Ia tidak tahu harus marah pada siapa—pada Nathaniel yang selalu menjauh, atau pada dirinya sendiri yang pernah berniat pergi. Panik, bingung, dan takut bercampur menjadi satu.
Namun ketika siluet Nathaniel muncul bersama kudanya, rasa lega yang melesak ke dadanya begitu besar hingga lututnya hampir goyah.
Nathaniel turun dari kudanya, menatapnya dari balik bayangan malam. “Kau tidak pergi—”
Elias menyelanya cepat, suaranya bergetar, “Dengarlah, aku tidak akan pergi ke mana pun, Nathaniel. Engkau berkata tiada seorang pun bertahan pada orang dengan luka perang? Maka biarlah aku jadi pengecualian itu. Aku peduli, Nathaniel. Lebih dari yang dapat kujelaskan. Tidak ada rumah yang kuinginkan bila tanpamu di dalamnya. Maka aku tidak akan pergi—tidak sekarang, tidak seterusnya.”
Air mata sudah mendesak di pelupuk. Satu kedipan saja, dan semuanya akan jatuh.
Nathaniel menatapnya lama, sebelum mendekat, lalu menggenggam tangan Elias yang beku. “Maksudku,” katanya pelan, hampir seperti gumaman, “kau tidak pergi menungguku di dalam saja? Di sini terlalu kejam untuk hanya berdiri di luar.”
Sebelum Elias masih bisa menahan tangis, Nathaniel mengusap tangannya, menyalurkan kehangatan yang cukup untuk meruntuhkan semua pertahanan. Bendungan akhirnya tumpah, Elias terisak tanpa bisa ditahan.
Nathaniel menariknya ke dalam pelukan. Erat, seakan tak pernah melepaskan.
Karena setelah refleksinya di Rosewood Park tadi, Nathaniel sadar, dia juga tidak akan tinggal ditempat yang tidak ada Elias.
Malam itu, kamar Elias dipenuhi cahaya bulan yang jatuh dari jendela tinggi. Elias menggiring Nathaniel masuk, langkahnya mantap meski dadanya masih berdegup kencang. Tanpa berkata banyak, ia mengambil buku kecil berwarna abu-abu dari meja, membuka halaman yang berisi strategi kaburnya, lalu merobek lembaran itu dengan sekali gerakan—hanya meninggalkan satu lembar catatan hari pertamanya di Wintermere. Kertas itu dilemparkannya ke perapian, api menjilat cepat, melumat rencana lama yang kini tak lagi ia inginkan.
Nathaniel tertegun. Di wajahnya bercampur lega dan gentar, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang. “Elias… aku harus jujur padamu,” ucapnya, suaranya lebih serak dari biasanya. “Aku… mencintaimu. Tapi aku juga takut. Sejak perang, aku tidak pernah utuh lagi. Aku pikir, mungkin lebih baik jika kau pergi—karena aku tidak ingin kau tinggal hanya karena iba pada luka-lukaku. Luka di kepalaku, luka di batin, semuanya…” Jemarinya bergerak resah, tidak tahu harus berbuat apa dengannya.
“Aku tidak bisa menjadikanmu pembuangan bagi traumaku, hanya karena kita terikat di atas kertas.”
Elias tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah mendekat, tubuhnya menyingkirkan jarak. Perlahan tangannya menyentuh perban di kepala Nathaniel, lalu mengusapnya lembut. Dengan sabar, ia melepaskan balutan itu satu per satu, hingga luka tembakan yang mulai mengering terlihat jelas di bawah cahaya bulan. Elias menunduk, bibirnya menempel pada luka itu. Lama, penuh keteguhan.
Nathaniel merasakan sedikit perih, tapi rasa itu tenggelam oleh perasaan yang merambat melalui sentuhan Elias. Lalu ciuman itu bergeser pelan.
Ke pelupuk mata, ke pangkal hidung, ke pipinya yang tirus.
“Aku pernah bilang, bukan?” bisik Elias di atas ambang, hampir tersenyum. “Kau tetap tampan meski dengan perban bodoh itu.”
Nathaniel tidak mampu menahan dirinya lagi. Bibir mereka bertemu, singkat, lalu lepas, lalu kembali bertemu, bongkar pasang bak memecahkan teka-teki. Tak puas hanya sekali. Dari kecupan gugup, berubah menjadi pencarian yang dalam, dan entah bagaimana, tubuh mereka akhirnya terhempas di atas kasur, menindih satu sama lain.
Namun tiba-tiba ia mundur, membuat Elias mengerutkan dahi hampir merajuk, sampai Nathaniel berkata dengan suara rendah yang mengguncang,
“Aku harus memilikimu malam ini.”
Elias mengatur napas, matanya menatap lurus ke dalam Nathaniel. “Tapi aku sudah milikmu…”
“Di atas kertas,” Nathaniel menyela, suaranya hampir bergetar. “Aku mau memilikimu… di atas segalanya. Elias, aku hanya ingin dirimu. Tidak ada yang lain. Cuma engkau.”
Kata-kata itu menghantam Elias tepat di inti hatinya. Semua rasa inferior siang tadi, semua ketakutan akan digantikan, seakan terjawab. Ia memandang Nathaniel lama-lama, melihat tubuhnya yang berantakan karena gairah, wajahnya yang jujur tanpa topeng.
Akhirnya Elias mengembuskan napas, menyerah pada kebenaran yang tak bisa ia elak. Bibirnya membentuk senyum tipis. “Kalau begitu…” ia berbisik. “Panggil Tuan Armier. Siapkan… yang kita butuhkan.”
Tuan Armier yang dipanggil sempat menampakkan keterkejutan, tapi ia tidak mengucap sepatah kata pun. Hanya menunduk sopan, lalu meninggalkan benda-benda sederhana—seperti pelicin dan baskom berisi kain lap terendam air suam kuku—yang mereka perlukan di meja, sebelum menutup pintu kembali. Suara kunci beradu redam, dan sunyi menyelimuti kamar.
Nathaniel masih memandang Elias, matanya dipenuhi pengharapan. Elias melangkah lebih dekat, menyingkirkan jarak yang sempat tercipta. Jemari mereka saling bertaut, panas menyalur di antara genggaman.
Elias lebih dulu melepaskan sisa pakaian Nathaniel, gerakannya pelan seakan takut menyakiti. Tubuh di hadapannya bukan tubuh tanpa cela. Luka-luka perang bertebaran, ada yang kurang pasti, ada yang jelas. Namun Elias menyentuh setiap garis itu seolah bagian dari peta berharga yang harus ia hafalkan. Bibirnya menelusuri bekas sayatan di bahu, bekas gigitan di lengan, hingga bekas luka di pinggang.
Nathaniel menutup mata, tubuhnya bergetar. “Jangan—” bisiknya, tetapi lirih itu lebih mirip permohonan agar Elias tidak berhenti.
“Aku benci perang,” Elias berucap di antara ciumannya, “karena ia meninggalkan ini semua padamu. Tapi aku akan mencintai setiap lukanya… karena itu berarti kau bertahan hidup.”
Lenguhan Nathaniel pecah, tubuhnya melunak, menyerahkan kendali. Ia merasa dipuja, disembah—tidak sebagai bangsawan, tidak sebagai tentara, tapi sebagai dirinya sendiri.
Elias, meski tidak berpengalaman, membiarkan nalurinya bekerja—dan setiap kali ia ragu, tatapan Nathaniel memberinya jawaban. Tidak ada yang perlu disembunyikan, tidak ada yang perlu ditakuti.
Ketika akhirnya Nathaniel benar-benar memilikinya, tidak ada lagi jarak di antara mereka. Hanya napas yang berpacu, kulit yang menempel, dan hati yang seirama. Rasa sakit awal berganti kenikmatan, lalu menjadi irama baru yang membuat Elias memeluk erat bahu Nathaniel, seakan dunia bisa runtuh dan ia tetap akan bertahan jika lelaki itu ada bersamanya.
Nathaniel mendengar bisikan Elias di telinganya—terputus-putus, namun jujur. “Aku di sini… aku tidak akan pergi… kau dengar?”
Kata-kata itu menembus dalam, lebih kuat daripada janji mana pun. Nathaniel merespons dengan ciuman panjang, meleburkan syak wasangka yang selama ini membelenggu.
Hingga ketika akhirnya mereka berdua terbaring—lelah usai membersihkan mani dan keringat dengan lap yang tadi disediakan, lalu saling memeluk di bawah selimut—tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Elias menyenderkan kepalanya di dada Nathaniel sambil membentuk pola asal disekitar eskarnya, mendengarkan detak jantung yang stabil. Nathaniel menunduk, mencium rambut suaminya dengan rasa syukur.
Sebelum Elias terbang tinggi ke awan mimpi, dia menyempatkan berucap untuk membuat malam ini lengkap,
“Aku juga… mencintaimu”
Wintermere penuh kabut pagi yang cepat menguap, matahari menyibakkan sinarnya hingga aula besar berkilau indah. Semua Cavendish berkumpul—suasana riuh tawa, piring beradu, dan bisik-bisik manis yang tak henti merayap di antara mereka. Hari itu pesta kecil untuk mengikat pertunangan Thomas dengan putri bungsu keluarga De’mingies—persis seperti dugaan Lady Honoria—dan rumah sibuk dengan kegembiraan yang mudah menular.
Thomas, kali ini tampak canggung. Saeron De’mingies berdiri di sampingnya, menatap dengan senyum yang terang. Setiap kali Saeron mendekat, kuping Thomas memerah, senyum lebarnya bergetar seperti perjaka yang belum mengenal kasmaran. Elias berdiri tidak jauh dari mereka, menahan tawa melihat tingkah iparnya yang berubah beberapa derajat.
Tiba-tiba, lengan kokoh melingkari perut Elias dari belakang. Piring kecil di tangannya hampir melayang efek dari keterkejutan. Elias menoleh untuk mendapati Nathaniel berdiri di belakangnya, mata berkilau nakal, bibir mengerling seperti anak yang berhasil membohongi orang tua.
“Sangat jahil, Tuan Cavendish,” Elias mendengus, lalu dengan pura-pura marah menyuapkan sisa potongan kue kecil dengan dorongan kasar ke mulut Nathaniel, yang cuma mengunyah sambil menahan senyum puas.
Lady Honoria melintas, menatap mereka berdua dengan lidah yang tajam dan suara serak khasnya, “Kalian berdua, jangan mempermalukan rumah ini dengan kemesraan kalian yang remeh.”
Lalu, tanpa menunggu balasan serius, ia menambahkan, “Tapi tidak apa-apa. Bisa untuk pelajaran Thomas ke depannya”
Sebuah komentar yang mengundang tawa kecil.
Biasanya Elias akan menyambar balik dengan candaan pedas, namun hari ini dadanya terasa penuh—melihat keluarga Cavendish lengkap dan riang. Membuatnya tak tega untuk mengusik dengan kalimat tidak mutu.
Ketika kerumunan mulai mencair, Nathaniel merengkuh Elias agak lebih dekat, menunggu Lady Honoria menjauh. Di sela lengkingan percakapan tentang pesta dan rencana, ia menunduk, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Elias. Suaranya lembut, namun pasti.
“Apakah engkau bersedia menikah denganku?” tanyanya.
Elias mengangkat alis, setengah terkejut. “Bertanya pada siapa, Tuan?” jawabnya, nada bercampur antara penasaran dan geli.
“Pada dirimu sendiri,” balas Nathaniel, lalu dengan jinak ia menggesekan pipi Elias dengan ujung hidungnya, sebuah gerak kecil yang lebih mengusik daripada kata-kata manis.
“Kita sudah terikat, bukan?” Elias menjawab, setengah tersenyum, setengah menimbang makna di balik kata-kata itu.
“Aku maksudkan, menikah sebagaimana seharusnya,” Nathaniel berkata pelan. “Dengan segala yang melekat pada kata itu.”
Nathaniel memutar setengah badan Elias sehingga kini mereka berhadapan. Dengan penuh sopan, ia menaruh piring kecil dari tangan Elias ke meja samping, lalu mengambil kedua tangan Elias di raganya sendiri—bukan dalam cengkeraman tegas, melainkan sebagai undangan.
“Di dalam kapel,” katanya, matanya tak lepas dari wajah Elias. “Dengan seorang pendeta yang akan berkutbah, dengan saksi-saksi di samping keluarga, kau atau aku yang berjalan di pelataran, mantel yang layak dipakai, dan ucapan ikrar yang kita pilih sendiri. Bagaimana menurutmu?”
Ada keheningan manis sejenak. Di kejauhan terdengar tawa Lottie, bisik Amelia yang malu, dan bunyi gelas yang dikembalikan ke nampan. Di antara semua itu, bayangan yang dulu buram di kepala Elias berubah konkret. Bayangan dirinya berdiri di bawah cahaya lilin gereja, dia mengucap kata yang sama dengan Nathaniel, menatap satu sama lain di hadapan keluarga dan dunia—bukan sebagai pengikat hukum semata, tetapi sebagai pilihan dengan sadar.
Elias menelan ludahnya yang tersendat di kerongkongan, dadanya bergetar. Napasnya berhembus panjang, matanya berkaca,
“Menurutku… itu akan sangat indah.”
Senyum Nathaniel merekah, demikian terang sehingga bekas-bekas perang di wajahnya seolah tercecer sementara. “Jadi, apakah engkau akan menikah denganku?”
Tawa kecil, lega, dan sedikit tak percaya meletus dari Elias. “Bahkan untuk keseribu kali—ya. Aku mau.”
Nathaniel mencondongkan dahinya hingga menyentuh Elias, suaranya hampir menyatu dengan udara, “Baiklah. Kita akan melakukannya sebagaimana mestinya. Aku ingin engkau menjadi milikku—bukan hanya di atas kertas, melainkan sepenuhnya. Selamanya, jika engkau sudi.”
“Selamanya?”
“Selamanya.”
“Terdengar menakjubkan, Tuan Cavendish.” Lalu Elias mengalungkan lengannya ke leher Nathaniel untuk mendekatkan wajah mereka, bersatu dengan kecupan bibir yang manis.
Di luar, angin mengangkat pita-pita, membawa suara tawa keluarga Cavendish yang berdentang seperti musik. Di dalam, di antara piring dan sisa kue, Elias dan Nathaniel berdiri berpelukan—dua orang yang pernah patah, kini memutuskan untuk menyambung lagi, bersama.
Dalam benak mereka tahu, kini Greendale sudah terasa seperti rumah yang nyata.
Tidak akan selalu sempurna, tetapi dipenuhi pilihan yang diambil tanpa paksaan karena putus asa—dan oleh dua orang yang membuka hati satu sama lain.
