Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-09-27
Words:
1,489
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
66
Bookmarks:
4
Hits:
611

Sebenarnya

Summary:

“Max, aku sudah bilang berkali-kali, pisahkan pakaian berwarna dan putih di tempat cucian kotor. Jangan digabung!”

Suara itu dulu membuatku jengah.

Sebenarnya lebih baik tanpamu. Aku bisa melakukan segalanya sendiri.

Hari-hariku tanpamu sama sekali tidaklah menyedihkan. Justru, aku lebih banyak tertawa. Rasanya lebih ringan. Aku bisa mengundang teman-temanku ke rumah tanpa perlu khawatir menghadapi ocehan panjangmu setelahnya. Tidak ada lagi wajah masam yang mengawasi jam pulangku.

Notes:

Terinspirasi dari lirik lagu:

Jung Yong Hwa - Without You (니가 없어도)

Work Text:

SPOTIFY - Without You (니가 없어도)

Baca ini bisa sambil dengarin lagunya mode repeat👆

Klik link diatas langsung terbuka ke link Spotify ya 🩵💙

Happy Reading 🍽

 


 

Hari-hariku tanpamu tidaklah begitu menyedihkan. Jauh dari kata sedih. Bahkan, terkadang terasa cukup menyenangkan. Ketika aku pulang ke rumah larut malam, tidak ada lagi yang menyambut dengan omelan. Tidak ada suara kesal yang memotong kebebasanku begitu aku membuka pintu.

Aku tidak lagi harus mendengar ocehan hanya karena handuk basah tergeletak di ranjang. Tidak ada yang sibuk mengatur apa yang harus kumakan, pakaian apa yang sebaiknya kupakai, atau bagaimana seharusnya aku menjalani hari.

“Max, aku sudah bilang berkali-kali, pisahkan pakaian berwarna dan putih di tempat cucian kotor. Jangan digabung!”

Suara itu dulu membuatku jengah.

Sebenarnya lebih baik tanpamu. Aku bisa melakukan segalanya sendiri.

Hari-hariku tanpamu sama sekali tidaklah menyedihkan. Justru, aku lebih banyak tertawa. Rasanya lebih ringan. Aku bisa mengundang teman-temanku ke rumah tanpa perlu khawatir menghadapi ocehan panjangmu setelahnya. Tidak ada lagi wajah masam yang mengawasi jam pulangku.

Aku bisa makan apa pun yang kumau. Tidak perlu menyesuaikan selera orang lain. Kau selalu ribut soal makanan. Menghitung setiap kalori, menyuruhku menahan diri, seakan-akan tubuhku adalah proyek kesehatanmu. Katamu itu demi kebaikanku. Menurutku, itu hanya menyiksa.

Oh, satu lagi. Aku bebas menggunakan dapur. Aku bisa meninggalkan piring kotor seharian penuh, bahkan seminggu, tanpa ada yang bersuara. Aku bisa memotong bawang dengan cara paling asal sekalipun. Tidak ada lagi yang berdiri di sampingku, mengawasi setiap gerakan, menegur hanya karena aku salah memegang pisau.

Max, bukan begitu cara mengupas buah yang benar. Kau bisa membuang seluruh buahnya, bukan hanya kulit.”

Kau akan berkata begitu sambil merebut pisau dari tanganku.

Sebenarnya lebih baik tanpamu. Sudah berapa kali kukatakan. Bahkan kamar mandi akan tetap kering setelah seharian tidak ada yang menggunakan. Lantainya tidak akan licin ketika aku menggunakannya sepulang kerja.

Sungguh, George.

Tak ada satu hal pun yang berubah ketika kau tak ada lagi disisiku. Hidupku jadi lebih mudah. Tidak ada yang salah dengan sendirian. Aku bisa berhemat dalam menggunakan sikat gigi, sabun, dan sampo. Karena aku sendirian.

Aku bersumpah.

Kita bahkan tak pernah benar-benar berbagi cinta dengan benar. Apakah tidur di ranjang yang sama setiap hari artinya pasangan sejati? Apakah menciummu setiap malam akan menjamin kita akan bersama selamanya?

Iya, tanpamu aku bisa melakukan segalanya. Jangan pernah berpikir tanpamu aku tidak bisa melakukan apapun. Itu kesalahan fatal dalam berpikir.

Aku bahkan tak merasa kalau kau tak ada di sini. Sebelum kau hadir dalam hidupku, aku juga sendirian. Jadi tiada beda saat kau tidak ada disini lagi.

Aku bahagia meski tanpamu. Aku bilang itu pada orang-orang yang menanyakan kabarku, pada teman yang datang untuk makan malam, bahkan pada cermin sebelum aku tidur.

Hari-hariku tanpamu, sama sekali tidaklah sulit. Di siang hari aku menata semuanya. Pekerjaan, kebugaran, rapat, email yang harus dibalas. Rutinitas berjalan mulus layaknya mesin yang terkalibrasi. Bangun, latihan, kerja, makan, tidur. Tanpa gangguan, segala sesuatu menjadi efisien. Aku membuat daftar belanja, menerima surat tagihan, dan menandai kalender, semuanya beres. Bila dilihat dari luar, hidupku tampak sangat sempurna. Rapi, teratur, dalam kendali total.

Tak perlu mengikuti rengekan atau suasana hatimu. Tidak ada lagi drama soal handuk dan pakaian kotor, tidak ada lagi perdebatan kecil di meja makan, tak ada suara mengomel yang dulu selalu mengusik pikiranku ketika aku ingin bersantai. Pada awalnya, itu terasa seperti hadiah. Kebebasan mutlak untuk melakukan apa yang kusuka tanpa perlu kompromi.

Namun seiring waktu, ketidakhadiran itu berubah bentuk. Bukan hanya hilangnya suara yang mengganggu, tapi juga hilangnya seseorang yang mati-matian ingin diperhatikan, yang cukup peduli untuk mengomel demi kebaikanku.

Aku ingat betapa kau selalu berusaha menarik perhatianku, bukan dengan drama besar, melainkan dengan gerakan sepele yang lama-kelamaan terasa tak ternilai. Kau akan mengalihkan pandangmu, membuat muka cemberut, lalu pura-pura sibuk memindahkan gelas hanya supaya aku menoleh. Kadang kau menyelinap di belakangku saat aku tenggelam dalam layar laptop, dan tangan hangatmu menepuk pundakku, sekadar tanda bahwa aku tak sendirian di sana. Dulu sangat sulit menilai, saat itu kupikir itu cuma kebiasaan anehmu. Sekarang, setiap tepukan itu terasa seperti penopang yang hilang.

Kau memintaku mengusap lembut rambutmu sampai terlelap, seperti anak kecil yang menuntut kenyamanan. Dulu aku sering mengeluh dan menganggapnya manja, atau terbawa suasana.

Sekarang aku merindukan sensasi itu, ketika tanganku menelusup di antara ikal-ikalmu, merasakan denyut napas yang menenangkan, merasakan beban hari yang luntur seketika di pundakmu. Suara kecilmu berubah menjadi napas berat yang perlahan menenangkan seluruh ruangan. Aku baru menyadari kemudian bahwa ritual kecil itu adalah caramu untuk berkata, “Aku di sini untukmu,” dan bukan sekadar tuntutan kelemahan.

Tapi, entah kenapa, kadang ingatan itu datang seperti gelombang yang datang tiba-tiba, tanpa permisi. Ketika aku sedang menyikat gigi, sedang memasak, sedang menonton sesuatu yang konyol di televisi, lalu wajahmu melintas dan sesuatu di dadaku robek. Tanpa kusadari, air mata mengalir. Kenapa harus turun? Kenapa mereka harus menempuh jalannya melewati kedua pipiku, menjejak hangat sebelum akhirnya menetes ke dagu? Rasanya memalukan sekaligus melegakan.

Sore yang kelabu tadi, aku pulang dari kerja. Pintu rumah terbuka, dan ada keheningan yang menjerat. Biasanya ada suaramu, sekadar gumam saat kau menaruh piring, atau keluhan kecil tentang air panas. Kali ini tak ada. Kesunyian itu berat, seperti selimut tebal yang menekan napasku sampai jadi pendek. Air mata datang deras, tanpa jeda, seolah semua rasa yang kutahan selama ini memutuskan meledak.

“Aku baik-baik saja,”

“Tetap bisa kutahan.”

Itu lagi mantra yang kupakai agar tidak runtuh di depan diri sendiri. Aku menepuk pipi, berdiri tegap, mencoba menata napas.

“Masih bisa kutahan,” terus kuulang lagi kalimat itu, seperti mencoba menempelkan sebuah plester pada luka yang terus membocorkan darah. Tapi plester itu tipis, ia tidak menutupi apa-apa selain rasa malu karena aku mengizinkan air mata untuk keluar.

Tanganku gemetar saat mencoba menutup wajah, seolah bisa menyembunyikan air mata yang tak seharusnya jatuh. Tapi semuanya terlalu terlambat. Segalanya pecah.

Suara tangisku menggema di ruang tamu yang hening, memantul di dinding kosong yang dulu pernah dipenuhi dengan suaramu.

Aku terisak sampai sesak, sampai napasku patah-patah.

Semua yang selama ini kutahan keluar bersamaan, amarah, rindu, penyesalan.

Aku menangis untuk semua perdebatan kecil yang tak perlu, untuk semua kalimat “aku baik-baik saja” yang dulu kuucapkan hanya agar terlihat kuat di depanmu.

Aku menangis karena akhirnya aku sadar, aku tidak pernah baik-baik saja tanpamu.

Andai kau ada di sini, hanya saja hadir dan sekadar ada, mungkin semuanya akan terasa sedikit lebih mudah. Maksudku bukan bahwa segala luka akan segera sembuh, atau bahwa semua salahku sirna begitu saja. Tapi ada sesuatu tentang kehadiranmu yang menahan angin dingin itu, cara suaramu yang mengomel soal hal-hal sepele, tatapanmu yang menandakan kau memperhatikan, bahkan saat aku mencoba berpura-pura kuat. Kehadiranmu ibarat sebuah bantalan. Tanpa itu, setiap benturan jadi lebih menyakitkan.

Aku berjanjiㅡentah pada siapa, aku sendiri tidak tahu. Mungkin pada bayangan kita yang ada di tiap sudut rumahㅡbahwa kalau kau kembali, aku akan mencoba menjadi lebih baik. Aku berjanji akan mendengarkan semua omelanmu, bahkan yang terdengar paling tidak masuk akal. Aku akan berhenti memutar mata ketika kau mengoreksi cara aku menaruh piring di rak, aku akan mengingat untuk memisahkan putih dan warna ketika mencuci baju, aku akan menahan diri untuk tidak membalas setiap komentar pedasmu. Aku berjanji akan lebih sabar, lebih mau mengalah, lebih sering menanyakan kabarmu bukan sekadar formalitas. Aku mau belajar menghargai cara kau peduli yang dulu kukira menjengkelkan dan kini kurindukan sampai perih.

Aku berharap kau ada di sini, George.

Sampai saat itu, aku akan terus bilang pada diriku sendiri bahwa aku masih bisa menahan. Tetapi semakin sering kata itu kumengucap, semakin sering pula aku menyadari kerapuhannya. Dan di malam yang dingin, ketika lampu kota redup, aku akan tetap berharap.

Andai kau ada di sini, mungkin semuanya akan sedikit lebih baik.

Namun nyatanya, kau tidak di sini. Dan setiap kali aku menatap sisi ranjang yang kosong itu, dadaku seperti ditusuk perlahan dari dalam.

Ruang ini terlalu sunyi, terlalu luas untuk satu orang. Aku mencoba menutup mata, berpura-pura bahwa kau hanya sedang di dapur, menyiapkan teh seperti biasa. Tapi tak ada aroma teh melati yang menenangkan, tak ada langkahmu yang pelan namun pasti.

Hanya ada bunyi jam dinding yang terasa semakin keras, mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan tanpa kehadiranmu.

Aku terluka, George.

Bukan karena kau pergi, tapi karena aku membiarkanmu pergi dengan begitu mudah, dengan begitu banyak kata yang tak sempat terucap.

Aku pikir aku kuat, aku pikir aku bisa menjalani hari tanpamu.

Tapi setiap sudut rumah ini seolah menertawakan keyakinanku sendiri.

Handukmu masih tergantung di kamar mandi, bantalmu masih menyimpan lekuk kepala yang tak tergantikan, dan aku masih menatap pintu setiap kali mendengar suara langkah di luar seolah menanti seseorang yang tak akan kembali.

Rasanya seperti luka yang tak berdarah. Perihnya tak terlihat, tapi terasa menusuk, mendalam, dan diam-diam membunuh dari dalam.

Aku mencoba melupakanmu dengan kesibukan, dengan tawa, dengan apapun yang bisa menutupi lubang di dada ini. Tapi setiap kali malam tiba, semuanya runtuh. Dan di antara isak yang kutahan di balik punggung tangan, aku sadar, aku masih mencintaimu dengan cara yang menyakitkan.

Aku membencimu karena meninggalkan.

Tapi aku lebih membenci diriku sendiri, karena masih berharap kau akan kembali.