Actions

Work Header

dalam hanyut hangatmu

Summary:

Douman baru tahu kalau leher Suzaku sensitif.

"Jangan leherku aja," ada jeda yang entah diambil agar dramatis (karena bagaimanapun juga, ini Suzaku) atau memang dia perlu, "aku juga mau dicium Acchan, tau?"

Douman juga baru tahu ada cantik Suzaku yang seperti ini, dan bahwa yang dulunya Agung Penguasa Api bisa begitu membuatnya hanyut.

Notes:

complementary art here!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Douman tidak ingat bagaimana persisnya sampai jadi begini.

 

Yang ia tahu, di hadapannya kini ada Suzaku—atau, yah, dulunya Suzaku, karena nama itu sudah bukan lagi yang dia gunakan pada tiap temu baru—yang wajahnya memerah dan mulutnya terbuka-tutup mencari kata, meski hanya berakhir sebagai suara-suara bersilabel tunggal tanpa definisi.

 

Manis sekali.

 

Bahkan setelah diturunkan dari keagungannya sebagai dewa, Suzaku masih sangat indah, dan Douman yakin bukan hanya di matanya; karena bukan sekali-dua didapatinya berbagai kalangan (manusia, ayakashi, bahkan dewa-dewi yang kadang berpapasan dengan mereka) melabuh pandang yang tidak sekilas pada Suzaku. Dulu sekali, sempat dipikirnya kalau panjang rambut Suzaku adalah andil utama yang membuatnya terasa begitu cantik, mengingat ayunan lembut seakan menari dan ujung kemerahan yang seperti jejak nyala api di redup malam ketika dia bergerak, tapi kini ia benar-benar yakin bukan itu alasannya. 

 

Karena sekarang, bahkan dengan potong rambut yang berhenti di atas leher, Suzaku masih sama cantiknya. Malah—

 

"Hiii! Ngapain ditiup?! U-udah kan... penasarannya...?"

 

—sekarang, dengan tengkuk yang tidak lagi tertutup sehelai rambut pun kerah tinggi, Douman mendapat perspektif baru tentang cantik yang dipunyai Suzaku.

 

"Memangnya dulu lehermu sesensitif ini...?"

 

"Mana tahu! Lagian, dulu siapa juga yang—Acchan!"

 

Entah dorongan dari mana, Douman memotong jawab dari tanyanya sendiri lewat labuhan kecupan-kecupan ringan di sepanjang leher yang di masa lalu hampir selalu tertutup dari dunia luar. Jemari sebelah tangannya pelan dan hati-hati naik menggelitik tengkuk Suzaku, bermain dengan ujung-ujung rambut yang terasa halus, sementara sebelah lagi nyaman beristirahat di pinggang yang lebih kecil (omong-omong, apa Suzaku selalu sekecil ini sebelumnya?), menahannya untuk tidak kemana-mana selagi Douman membawa dirinya semakin dekat.

 

Suara-suara dari mulut Suzaku lalu membentuk suatu yang lebih konkret meski masih tetap berupa potongan-potongan silabel tunggal yang setengah ditahan, sesekali diinterupsi oleh panggilan untuknya yang hanya satu-satunya di dunia, dan Douman menemukan dirinya larut. Kecupan-kecupannya perlahan berubah lebih panjang, lebih berat, mulai diselingi hisap lemah sana-sini, dan semakin turun dari leher yang samar memerah melewati jakun. Ia sudah hampir mencapai pundak yang dengan mudahnya terekspos begitu yukata dilonggarkan kalau saja tangan Suzaku tidak menepuk pelan bahunya.

 

Tepukan itu membawanya kembali pada rasionalitas, menarik diri untuk baik-baik menemui pasang mata sewarna bara api yang jarang-jarang dilihatnya terpecah fokus. Suzaku, yang dulu sudah berkali-kali ia lihat secara langsung di depan matanya dengan piawai mengayun pedang baik dalam situasi macam latihan maupun pertarungan serius dan seringkali tetap terlihat acuh tak acuh, kini merona hingga ke telinga dan mengambil napas pendek-pendek. Karena yang dibuatnya. Douman dalam diamnya mengagumi bertanya-tanya apa pantas baginya mendapat kesempatan menyaksikan ini—dan bagaimana caranya kesempatan ini biar jadi miliknya dan miliknya saja.

 

Mengambil napas yang lebih panjang setelah mengatur diri, fokus di mata Suzaku kembali satu, dan Douman menemukan dirinya dalam pantulan itu. "... Acchan,"

 

"... Iya." Dia tidak terlihat kesal, tapi ia sudah lama belajar dari pengalaman bahwa Suzaku tidak akan serta-merta menampilkan ekspresi semacam itu padanya, maka Douman memilih diam dan bersiap untuk apapun yang akan didapatnya. Sebelah tangannya yang tadi masih menyusuri tengkuk Suzaku turun ke pinggangnya, membersamai yang sudah sejak awal di sana. Tidak menggenggam, hanya ada. Ketika detik-detik terus mengikis usahanya tampil siap tanpa terlewati apa-apa, Douman beranikan melanjut, "... Maaf, kelepasa—"

 

"Jangan leherku aja," ada jeda yang entah diambil agar dramatis (karena bagaimanapun juga, ini Suzaku) atau memang dia perlu, "aku juga mau dicium Acchan, tau?"

 

Kalimat itu diucap Suzaku pelan. Hampir seperti rengekan protes malu-malu, masih sambil menatapnya lurus-lurus.

 

Douman sepertinya korslet. Sebentar. Lima detik penuh dipakainya mencerna, tapi yang berhasil ia keluarkan sebagai balasan hanya hah? yang tanpa diberitahu pun ia yakin terdengar bodoh.

 

Namun Suzaku; yang cantik, yang indah, yang hangatnya pengingat bahwa Douman saat ini sepenuhnya hidup dan bangun dan sadar; bukannya tersenyum menertawai kebodohannya, malah menelengkan kepala dengan alis bertaut menyirat kecewa.

 

"Acchan," sepasang tangan naik melingkari lehernya, menariknya mendekat seringan mungkin, "nggak mau?"

 

Gila, ya. Mana mungkin.

 

Tanpa berkata lagi, segera diturutinya mau Suzaku. Tangan-tangan melingkar lebih rapat mengikuti bibir keduanya yang tergesa bertemu.

 

Sejauh ingatan Douman, ini bukan pertama kalinya mereka bertukar cium. Membagi energi spiritual paling cepat efeknya lewat transfer langsung, jadi ia yakin sekali bukan sekali-dua di masa yang lalu dirasakannya bibir Suzaku menyapa miliknya. Tapi kali ini, mungkin pertama kalinya, Douman benar-benar merasakannya—bukan aliran energi yang diberkati dewa atau perasaan lucu karena saat itu ia masih begitu lemah, melainkan hanya Suzaku itu sendiri, solid dalam dekapannya, berbagi tarikan dan embusan napas yang sama di sela-sela pasang bibir yang saling mencari. Hanya Suzaku, yang lebih hangat dari eksistensi hidup kebanyakan, yang saat ini bara api di matanya tertutup kelopak dengan bulu mata halus menggelitik pipi. Suzaku, yang setelah ratusan tahun pun masih sama indah dengan pertama kali Douman mengenali rupanya.

 

Ciuman yang mereka bagi kali ini disertai pagutan-pagutan lembut, sesekali gigitan kecil, lalu diakhiri sapuan lidah yang meninggalkan kilap begitu bibir berpisah. Sayang sekali ia tidak sempat berlama-lama menghanyutkan diri dalam ayunya rona manis dan sisa basah di bibir kemerahan karena dewanya cepat-cepat bersembunyi di pundak Douman dengan sepasang tangan yang melingkari lehernya makin erat.

 

Lucu. Douman menyandarkan kepalanya ke atas Suzaku, menikmati kontak dengan rambut segelap penghujung malam yang ia masih tidak tahu rahasia kehalusannya. Jemarinya membentuk pola-pola acak tanpa makna di kecil punggung Suzaku selagi menunggu siapa di antara keduanya yang akan duluan memecah sunyi nyaman ini—atau apakah akan ada pihak ketiga yang mau tidak mau mengharuskan apapun yang ada di antara Douman dan Suzaku saat ini usai. Mungkin sementara, mungkin seterusnya, mungkin sampai ia bertemu lagi dengan dorongan berani yang menyerempet egoisme.

 

Setelah entah berapa saat, suara familiar yang sedikit teredam menyapanya begitu dekat, "Acchan tadi nggak merem?"

 

Douman menggumam, pura-pura berpikir, kemudian menyerah ketika dirasanya rangkulan di lehernya jadi sedikit terlalu erat. "... Ketahuan?"

 

"Kerasa!" Suzaku mengendurkan sepasang tangannya dan menggeser kepala. Dengan nada merajuk (yang Douman tahu dibuat-buat, tapi tetap saja saat ini terdengar gemas), dia menambahkan, "Nanti-nanti Acchan juga merem aja. Gimana kalau aku bolong diliatin kayak tadi?"

 

Jadi masih ada nanti. Jadi ini bukan usai, dan ia masih boleh berada di samping Suzaku seperti Suzaku juga akan masih ada di sisinya.

 

Mengedik bahu dan mendekap Suzaku lebih rapat, membiarkan hangat yang tiada lagi dimana-mana yang lain menyusupinya, Douman berusaha agar senang dan leganya tidak begitu kentara ketika membalas, "Akan kupikirkan,"

 

"Acchaaan!”

Notes:

careful of your sugar intake!

(pspsps ayo bicara dousuza/gakutai denganku...)

Series this work belongs to: