Work Text:
“Ya, Fuck-gyu, batasmu cuma sampai di sini?” Suara itu diikuti oleh gelak tawa dari kelompok pemuda lainnya. Suara tawa mereka bercampur dengan lagu yang diputar di mesin karaoke. Bahkan mereka yang memegang mikrofon berkali-kali memanggil “Fuck-gyu!” sambil menyenandungkannya. Sementara ruangan karaoke itu pengap oleh aroma alkohol dan asap rokok yang tak sepantasnya ada di acara perkumpulan remaja SMA.
Kang Seongjun, pemimpin dari mereka, menunjuk kaleng bir yang belum terbuka. “Sangtae, berikan lagi padanya.”
“Siap!” Oh Sangtae, ia langsung mengambil bir itu. Bunyi plop terdengar saat ia membukanya. Ia langsung berdiri, duduk di samping “mangsa” mereka malam ini. “Fuck-gyu, habiskan satu kaleng lagi!”
Korban malam ini, atau lebih tepatnya korban sehari-hari mereka, Park Gyujin, mengangkat tangannya yang lemah untuk menolak. Ia mencoba mendorong kaleng yang disodorkan Sangtae padanya. Wajahnya sudah merah, dan ia nyaris tak bisa membuka mata. “Aku... hic... tidak sanggup lagi....”
Perkataan Gyujin langsung disambut gelak tawa oleh semua yang ada di sana. Tak ada satu pun dari mereka peduli dengan apa yang dikatakannya. Tak ada yang mau berbaik hati untuk memberinya waktu istirahat sebentar.
“Fuck-gyu, kau berani melawan?” Seongjun kembali bicara. Ia bergeser, duduk lebih dekat dengan Gyujin. Dipaksanya Gyujin menengok dengan menarik bagian belakang kepala Gyujin. Ia mendengus, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai.
“Berikan itu padaku.” Seongjun langsung mengambil alih kaleng bir yang sebelumnya dipegang oleh Sangtae. Ia meminumnya seteguk, kemudian memegangnya di depan wajah Gyujin. “Minum.” Hanya satu kata saja yang diucapkannya, kemudian langsung membawa ujung kaleng itu ke bibir Gyujin. Tak peduli jika Gyujin menolak, Seongjun tetap memaksakannya untuk menenggak habis isi kaleng. Gyujin yang tak bisa meminum semuanya dengan cepat, membuat bir itu sedikit tumpah hingga membasahi bajunya.
Seongjun mendengus, menyeringai puas setelah Gyujin menghabiskannya. Teman-teman Seongjun yang lain juga bersorak, membuat keributan yang sangat memekakkan telinga. Entah bagaimana mereka bisa tahan berada di ruangan itu begitu lama. Mereka lalu kembali memulai lagu dan bernyanyi dengan heboh.
Sang mangsa hanya dapat bernapas dengan berat. Tubuh Gyujin panas, nyaris tak bisa bergerak. Pandangannya yang kabur melirik ke sekeliling, memperhatikan kekacauan yang mengurungnya. Lagi-lagi ia terjebak, terperangkap dalam sarang ular Kang Seongjun.
Malam ini Kang Seongjun dan teman-temannya bersenang-senang di salah satu tempat karaoke. Baru beberapa minggu mereka menyandang status sebagai siswa SMA tahun ketiga, dan mereka sudah bertingkah seperti orang dewasa. Hwang Yuseok bahkan mengajak beberapa hyung yang dikenalnya untuk ikut bersenang-senang. Alasan sesungguhnya ia mengajak mereka adalah, agar bisa menikmati minuman beralkohol kuat ini. Mereka tak ingin hanya sekadar mengecap rasa pahit dari bir ringan, sehingga butuh orang dewasa untuk bisa membelinya. Meja mereka kini penuh dengan bir, soju, dan beberapa bungkus rokok. Pun, tempat karaoke yang mereka pilih cukup bebas. Banyak remaja yang masih di bawah umur dibiarkan minum-minum dan merokok.
Sayangnya, Gyujin tak bisa lepas dari kesialannya. Entah apa yang mereka inginkan darinya, Gyujin terus saja disodorkan alkohol, membuatnya langsung mabuk. Yang pastinya, mereka puas setiap kali berhasil membuat Gyujin patuh.
“Fuck-gyu! Kenapa kau berhenti minum? Ayo minum lagi!” Suara Hwang Yuseok yang begitu lantang karena mikrofon di tangannya membuat telinga Gyujin berdengung. Yuseok mengambil kaleng lainnya dan mengopernya pada Seongjun yang duduk paling dekat dengan Gyujin.
Seongjun menerimanya dengan seringai lebar di wajahnya. Ia kembali menarik belakang leher Gyujin untuk menoleh padanya. “Oi, Fuck-gyu,” panggil Seongjun sambil memaksa Gyujin yang menunduk untuk menatapnya. “Mengingat kau yang akan membayar semua ini, jadi kau juga yang akan menghabiskannya.”
Gyujin mendesis pelan, menyatakan keengganannya. Namun, jika ia memang bisa menolak, maka ia tak akan semabuk ini dari awal. Seongjun tak akan mendengarkannya, dan Seongjun tak akan berhenti hingga ia sendiri puas.
Dengan paksa, Seongjun menempelkan kaleng itu pada bibir Gyujin. Ia membuat Gyujin menghabiskannya hingga setengah. Entah sudah kaleng keberapa yang ia berikan pada Gyujin malam ini. Hampir setengah dari bir yang mereka pesan hanya diberikan pada Gyujin.
“Mhh....” Gyujin hampir merobohkan tubuhnya karena kepalanya begitu pusing. Namun, ya begitu, ia tengah mabuk dan tak bisa berpikir jernih. Gyujin tak bisa mengontrol tubuhnya sendiri dan membiarkan berat tubuhnya jatuh ke samping, yang sialnya adalah tempat di mana Seongjun duduk.
“Aish.... Fuck-gyu ssibal.” Seongjun menggeram sambil mendorong Gyujin yang nyaris bersandar di pundaknya.
Kekesalan Seongjun menciptakan tawa di antara teman-temannya. “Seongjun-ah, sepertinya Fuck-gyu ingin tidur di pahamu!” Dan mereka mulai meledek. Yuseok berpura-pura mabuk dan menyender pada Sangtae yang langsung disambut oleh Sangtae dan membuat semuanya tertawa.
Seongjun berdecak, menatap tajam ke arah Yuseok. “Sialan, berhenti tertawa.” Suara dingin Seongjun sudah cukup untuk membuat Yuseok dan Sangtae berhenti bermain-main.
Keduanya menggumamkan sesuatu seperti, “Hah.... Kau tidak asyik. Kami cuma bercanda.” Detik berikutnya, mereka langsung kembali heboh, bernyanyi sambil minum.
Seongjun, yang masih duduk di tempatnya, menyeruput kaleng bir yang tadi telah diminum setengahnya oleh Gyujin. Ia melirik sekilas pada Gyujin yang masih duduk dengan lemas di sampingnya. Seongjun bahkan tak tahu apakah Gyujin masih sadarkan diri atau tidak. Gyujin tak mengangkat kepalanya sedari tadi dan terus saja menunduk.
Seongjun memanggil salah satu temannya lagi. “Yunsu, bangunkan Fuck-gyu, dia belum boleh tidur sebelum aku mengizinkannya.”
“Oke!” Kim Yunsu tanpa basa-basi langsung mengambil kaleng bir yang baru dan membukanya. Ia menyenggol-nyenggol Gyujin yang masih menundukkan wajahnya. “Ya, ya, ya! Fuck-gyu, ayo minum lagi.” Namun, karena Gyujin masih menundukkan kepalanya, Yunsu tanpa ampun menarik rambutnya agar ia mendongak.
Wajah Gyujin yang benar-benar sudah merah akhirnya tampak lagi. Ia menggelengkan kepalanya dengan lemah. Bibirnya terbuka, mengucapkan beberapa kata yang tak bisa dimengerti. Yang jelas, ia menolak untuk minum lagi. Tubuhnya sudah panas, dan ia tak bisa memaksakan diri untuk minum terus.
Hanya saja, Gyujin tak diberikan kesempatan untuk menolak dan terpaksa meminum satu kaleng lagi. Ia benar-benar sudah berada di ambang batas. Perutnya tak bisa menerima alkohol lebih banyak, sehingga Gyujin langsung mual begitu bir itu menyentuh lidahnya.
“Hah.... Tidak... unh....” Gyujin mencoba mendorong tangan Yunsu, tetapi tenaganya sudah hilang sepenuhnya.
Seongjun yang masih duduk di sampingnya mendengus. Ia meletakkan kembali kaleng bir yang dipegangnya dan menyingkirkan tangan Yunsu yang masih menarik rambut Gyujin. Tak tahu kenapa, tetapi Seongjun tak suka melihatnya.
“Fuck-gyu, sudah kubilang kalau kau harus menghabiskannya, kan?” Seongjun menepuk-nepuk pelan pipi Gyujin. Wajahnya mendekat, menatap kedua manik gelap Gyujin yang sudah hampir menyerah untuk melek.
Gyujin memaksakan dirinya untuk bertemu pandang dengan Seongjun. Bibirnya terbuka, ingin berbicara, walaupun hanya suara lirih yang keluar. Gyujin sendiri tak mengerti kenapa ia bicara begitu, mungkin efek dari alkohol yang membuat pikirannya kabur. “Uhm? Seongjun....” Dan sungguh, bukan keinginannya untuk beringsut makin dekat ke arah Seongjun.
Hal ini tak mungkin membuat Seongjun tak terkejut. Ia lengah, tak menyangka jika Gyujin akan berada sedekat ini dengannya. Napas hangat Gyujin yang berbau alkohol menguasai indra penciumannya. Wajah yang memerah itu disempurnakan oleh bibir yang basah dan kelopak mata yang hampir tertutup. Suara merintih yang memohon itu malah terdengar seperti desahan nakal di telinganya.
Seongjun menggeleng cepat, membuang pikiran konyol barusan. “Ya, Fuck-gyu! Berani-beraninya kau menyentuhku!” Seongjun mendorong Gyujin dengan keras hingga punggungnya menghantam sandaran sofa. Rahang Seongjun mengeras, menahan panas yang tiba-tiba membakar gairahnya.
“Ada apa? Kenapa?” Yuseok yang tadi heboh meloncat sambil bernyanyi langsung berbalik. Ia hanya menemukan Gyujin yang kini nyaris pingsan di samping Seongjun.
Bukannya Seongjun, malah Yunsu yang menjawab. “Fuck-gyu menggodanya, dan Seongjun hampir saja terpesona.” Yunsu tertawa, yang langsung mendapatkan umpatan dari Seongjun.
Namun, apakah Yunsu salah? Gyujin tak menggoda Seongjun, tetapi memang benar bahwa Seongjun nyaris, nyaris berpikir kalau Gyujin terlihat sangat lezat.
Meskipun Seongjun memasang tatapan membunuhnya dan terus mengutuk mereka, teman-temannya tetap saja tertawa dan kembali heboh bernyanyi. Seongjun mendecih kesal, kemudian kembali menyambar kaleng bir dan menghabiskannya. Sialnya, Seongjun tak bisa menahan diri dan melirik ke sampingnya, tempat di mana Gyujin masih bersandar dengan lesu.
Wajah Gyujin masih memerah, bahkan menjadi semakin merah. Keringat mengucur di dahinya, membuat rambutnya basah. Bibirnya masih terbuka, menggumamkan omong kosong yang tak bisa dimengerti. Yang paling tidak bisa dimengerti adalah, Seongjun yang malah berpikir jika Gyujin terlihat begitu menggoda. Ia bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Gyujin yang entah masih sadarkan diri atau tidak.
“Fuck-gyu!” Suara lantang Sangtae membuat Seongjun terlonjak saking terkejutnya.
Seongjun yang sadar jika ia memperhatikan Gyujin terlalu lama buru-buru mengalihkan pandangan. Ia berdeham, meletakkan kembali kaleng birnya dan bersikap seolah tak peduli. Padahal, diam-diam, Seongjun melirik dari ekor matanya karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sangtae pada Gyujin.
Sebenarnya, tak perlu ditanyakan lagi apa yang ingin dilakukan oleh Sangtae. Tentu saja ia akan dengan senang hati memberikan Gyujin satu kaleng bir lagi. Malam ini, mereka tak akan membiarkan Gyujin pulang dalam keadaan sadar.
“Fuck-gyu, jangan tidur duluan, dong. Bersenang-senanglah!” Sangtae, yang juga sudah mabuk, merangkul Gyujin. Ia hampir membuat Gyujin ambruk, tetapi Sangtae langsung menangkap badannya.
Gyujin menggeleng, ia benar-benar sudah tak ingin lagi menerima alkohol walau hanya satu tetes. Namun, ia sudah tak tahu lagi bagaimana caranya menolak, sehingga Gyujin hanya bisa membiarkan Sangtae menyodorkan kaleng itu ke bibirnya.
Seongjun akhirnya kembali menoleh sepenuhnya ke arah Gyujin. Ia menyentuh tangan Sangtae yang masih merangkul Gyujin dan menyingkirkannya. Sungguh, Seongjun tak tahu alasan mengapa ia malah menatap tajam ke arah Sangtae. Pokonya, ia ingin sekali mematahkan tangan Sangtae yang barusan menyentuh Gyujin. Seongjun juga sejujurnya tak tahu ingin melakukan apa pada Gyujin. Namun, sebelum ia sempat berpikir, Gyujin mengejutkannya.
Siapa yang tak akan terkejut bila Gyujin langsung merebahkan badan ke arah Seongjun setelah meneguk bir pemberian Sangtae. Refleks, Seongjun menangkap tubuh Gyujin yang kini sudah tak punya tenaga lagi untuk mengangkat kepalanya. “Ya, Fuck-gyu ssibal. Kubilang jangan menyentuhku.” Seongjun masih bisa bilang begitu bahkan ketika ialah yang menangkap tubuh Gyujin. Seongjun tak langsung mendorongnya, melainkan mengapit wajah Gyujin dengan jemarinya, memaksa untuk menatapnya.
“Nghh... hic! Tidak mau.... Seongjun....” Entah dari mana datangnya, entah apa yang dipikirkan oleh Gyujin, ia malah makin mendekatkan dirinya pada Seongjun. Bahkan kedua tangan Gyujin terangkat untuk memeluk lengan kanan Seongjun.
“Ya! Fuck-gyu menggoda Seongjun lagi! Ha ha!” Entah siapa yang memulai, mungkin Yuseok, yang kemudian membuat semua orang di sana tertawa. Satu-satunya yang tidak tertawa adalah Seongjun yang hanya terdiam, terpaku di tempatnya.
“Seongjun-ah....” Ini benar-benar pertama kalinya Seongjun mendengar Gyujin memanggil namanya seperti itu. Apalagi, dengan suara lirih yang entah kenapa terdengar sangat lacur. Yang paling memperburuknya adalah, tatapan sayu dan bibir basah Gyujin yang melengkung membentuk senyum.
Sejak kapan Park Gyujin secantik ini? Di bawah lampu neon yang sebenarnya sangat mengganggu mata itu, Gyujin malah terlihat seperti jalang paling menawan yang ingin Seongjun simpan hanya untuk dirinya sendiri. Sungguh membuat Seongjun penasaran dengan rasa dari bibir merahnya. Haruskah ia mendaratkan satu ciuman di sana? Kemudian turun ke rahangnya, lalu perpotongan leher Gyujin yang basah karena keringat. Ah... betapa menggiurkannya pemuda ini.
“Seongjun-ah! Kau benar-benar jatuh cinta padanya?” Suara nyaring Sangtae makin menggelegar karena mikrofon di tangannya.
Seongjun terlonjak kaget, kembali mendapatkan kesadarannya. Ia mendorong Gyujin menjauh sambil berdecak kesal. Seongjun kemudian melemparkan bantal sofa, tepat mengenai wajah Sangtae. Lemparan yang tepat sasaran itu membuat gelak tawa jadi beralih kepada Sangtae.
Yuseok kemudian kembali bersorak, meneguk alkohol, kemudian kembali bernyanyi karena lagu pilihannya dimulai. Perlahan, Seongjun dan Gyujin sudah tak lagi menjadi pusat perhatian. Namun, Gyujin masih menjadi objek pengamatan Seongjun untuk waktu yang lama.
Gyujin benar-benar sudah kehilangan kesadarannya. Ia tak sanggup lagi untuk membuka mata dan membiarkan tubuhnya duduk setengah berbaring. Posisi itu pastilah tidak nyaman, tetapi Gyujin benar-benar terlalu lelah untuk sekadar menggerakkan tangannya.
Sementara itu, Seongjun masih terus melirik, tidak peduli dengan teman-temannya yang bersenang-senang. Pakaian Gyujin yang sedikit basah membuat Seongjun penasaran. Tidakkah ia kedinginan? Bahkan Gyujin hanya mengenakan sehelai kaos lengan panjang. Namun, mengingat banyaknya alkohol yang diminumnya malam ini, pastilah tubuh Gyujin menjadi sangat panas. Seongjun yang masih belum mabuk pun mulai merasakan bahwa tubuhnya ikut memanas. Ya, seharusnya panas di tubuhnya ini berasal dari alkohol, dan bukan karena yang lain.
Malam semakin larut, bahkan sebenarnya telah lewat tengah malam. Para remaja yang kebelet dewasa itu akhirnya memutuskan untuk menyudahi pesta mereka. Setidaknya di sini, karena siapa tahu nanti mereka akan melanjutkan ronde kedua di tempat lain.
“Ya, Fuck-gyu, jangan lupa bayar setelah waktunya habis.” Yuseok menyolek Gyujin, membuat Gyujin yang tadi bersandar di sofa seketika rebah. Semua orang langsung tertawa.
Satu persatu, mereka akhirnya keluar. Beberapa mengambil kaleng bir dan sebotol soju yang masih tersisa, dan beberapa menepuk lengan Gyujin, mengatakan sesuatu seperti, “Bajingan terbaik malam ini adalah Fuck-gyu! Dia menghabiskan lebih dari tujuh kaleng bir sendirian! Selamat tinggal Fuck-gyu!”
Yang paling terakhir meninggalkan ruangan itu adalah Seongjun. Ia sempat melirik sekilas ke arah Gyujin yang masih terbaring di sofa. Ia mendecih kesal, kemudian menutup pintu dengan sedikit terlalu keras. Persetan, untuk apa aku peduli padanya?
Keluar dari tempat karaoke, mereka langsung berdiskusi akan pergi ke mana setelah ini. Jalanan yang begitu sepi sama sekali tidak membuat mereka berpikir untuk segera pulang. Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang khawatir jika mereka akan bertemu dengan polisi yang sedang patroli. Yang mereka pikirkan hanyalah, di mana tempat terbaik untuk makan udon sekarang.
Semua bicara tanpa henti, sahut-menyahut, tak membiarkan satu orang menyelesaikan kalimatnya. Namun, di antara mereka semua, hanya Seongjun yang terdiam sedari tadi. Rokok terselip di bibir, tangan tersembunyi di dalam saku jaket, dan jiwanya bahkan tak sedang berada di sana sekarang. Seongjun melirik sekilas ke arah teman-temannya. Menghela napas, Seongjun menjatuhkan rokoknya, menginjaknya hingga padam.
Seongjun memanggil teman-temannya, membuat mereka menghentikan langkah dan menoleh ke arah Seongjun. “Aku duluan.” Tanpa bicara apa-apa lagi, Seongjun langsung berbalik, meninggalkan teman-temannya yang lain.
“Kau mau ke mana?” teriak Sangtae yang penasaran. Ia lalu mendengus, bersiul sebelum kembali bicara. “Apa kau mau menemui perempuan? Wah, sialan, kau tidak mau mengajak kami?”
Seongjun tak membalas, tetapi ia berbalik sekilas untuk memberikan jari tengahnya sebagai salam perpisahan. Sangtae dan yang lainnya kembali tertawa, lalu mulai berjalan kembali.
Setelah berpisah dengan teman-temannya, Seongjun masih tetap diam. Ia sendiri sebenarnya bingung sekarang. Untuk apa pula ia berbalik, kembali ke tempat karaoke sialan itu. Semua ini hanya untuk kembali bertemu dengan Park Gyujin yang entah bagaimana keadaannya sekarang.
Seongjun berdiri di depan pintu salah satu kamar yang baru beberapa saat lalu ia tinggalkan. “Sialan. Aku pasti sudah gila.” Seongjun berdecak, berpikir bahwa ini benar-benar konyol. Namun, ia sudah sampai di sini, dan apa salahnya untuk masuk kembali.
Seongjun akhirnya mendorong pintu, masuk kembali ke ruang karaoke yang masih berbau alkohol dan rokok itu.
Begitu masuk, yang dilihat oleh Seongjun adalah Gyujin yang masih berbaring di sofa. Namun, kali ini Gyujin tidak sendirian. Salah seorang staf—seorang wanita yang tampaknya berusia tiga puluhan—berdiri di dekatnya, mengguncang tubuh Gyujin, mengatakan bahwa waktunya telah habis dan Gyujin harus membayar untuk semua minuman dan camilan mereka.
Staf itu terkejut akan kedatangan Seongjun. “Apa kau temannya? Dia tidak mau bangun dari tadi.” Wajahnya menunjukkan sedikit rasa khawatir. Mungkin, ia takut terjadi sesuatu pada Gyujin yang tak kunjung bangun.
“Hm.” Seongjun hanya membalas dengan dehaman pendek. Ia ogah mengiyakan bahwa ia adalah temannya Gyujin, tetapi ia juga tak bisa menyangkal karena nanti wanita itu malah curiga padanya, berpikir kalau Seongjun datang untuk niat yang buruk.
“Aku akan mengurusnya. Tambahkan satu jam lagi.” Seongjun sedikit terkejut dengan perkataannya sendiri. Untungnya, Seongjun berhasil mempertahankan raut wajahnya agar tetap tenang.
Staf itu akhirnya pergi, meninggalkan Seongjun dan Gyujin di kamar karaoke yang sepi itu. Baru kali ini ia mendapati kamar karaoke yang dihuni tetapi hawanya malah dingin sekali.
Seongjun diam begitu lama di tempatnya, memperhatikan Gyujin yang menggeliat di atas sofa. Perlahan, Seongjun melangkah mendekati Gyujin.
“Fuck-gyu,” panggilnya sambil mendorong sedikit kasar lengan Gyujin.
“Ngh....” Bukannya bangun, Gyujin malah berpindah posisi, memunggungi Seongjun.
Hal ini membuat Seongjun mendengus kesal. Ia akhirnya ikut duduk di sofa, menyingkirkan kaki Gyujin, sehingga kini hanya setengah badan Gyujin yang berada di atas sofa. Ini sukses membuat Gyujin terbangun, walaupun ia masih belum sepenuhnya sadar dan terjebak dalam pengaruh alkohol.
“Ugh.... Siapa?” Suara serak Gyujin menggema di ruangan karaoke dengan lampu hijau yang temaram. Matanya perlahan terbuka, memperlihatkan kedua manik gelapnya.
Benar-benar sialan. Seongjun tak menyangka jika ia akan mengumpat begitu mendengar suara Gyujin yang malah membuat bagian bawahnya bergetar.
Saat keduanya bertemu pandang, Seongjun baru saja ingin bicara, sebelum Gyujin tahu-tahu sudah lebih dahulu mencuri start. Seongjun terkejut, tubuhnya langsung menegang saat Gyujin tiba-tiba berpindah posisi dan mendekatinya.
“Seongjun?” Gyujin benar-benar tidak sadar. Jika ia tahu apa yang ia lakukan sekarang, pastilah Gyujin merinding sendiri dengan kelakuannya. Ia bahkan tak akan pernah mengakui bahwa yang sekarang tidur di paha Seongjun adalah dirinya.
Ya, Gyujin merangkak untuk bisa membaringkan kepalanya di atas paha Seongjun. Bagaimana kondisi Seongjun sekarang? Ia bahkan lupa caranya bernapas!
“Ya! Menyingkir dariku!” Seongjun langsung mendorong kepala Gyujin, memaksanya untuk bangkit. Agak sulit karena tubuh Gyujin yang enggan untuk bergerak itu benar-benar berat. Seongjun bahkan tak berhasil untuk menyingkirkan Gyujin dari tubuhnya.
“Mmh.... Kenapa?” Suara Gyujin benar-benar tidak terdengar nyata. Tak pernah terbayangkan oleh Seongjun akan mendengarkan Gyujin mengambek sambil merengek manja begini.
Seongjun makin dibuat tercengang oleh Gyujin yang makin manja kepadanya. Seongjun tak bisa tenang, apalagi saat Gyujin malah memeluk lengannya dan mengistirahatkan kepalanya di pundak Seongjun.
“Seongjun... kenapa kau... hic.... Kenapa kau hangat? Uhh.... Aku kedinginan.” Park Gyujin benar-benar sudah meninggalkan tubuhnya, digantikan oleh seorang pemuda mabuk yang tak tahu malu.
Seongjun mengutuk jantungnya yang berdebar kencang sampai rasanya ingin meledak. Haruskah Seongjun tahu dengan apa yang ia rasakan sekarang? Karena jujur saja, Seongjun bahkan tak paham dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin gairahnya tiba-tiba naik hanya karena Gyujin yang terlihat sangat seksi di sampingnya sekarang?
“Park Gyujin ssibal....” Seongjun meraih rambut Gyujin yang benar-benar sudah basah karena keringat. Ia menariknya, membuat Gyujin mendongak menatapnya. Tatapan sayu Gyujin sempat membuatnya terdiam sesaat. “Kau tahu apa yang kau lakukan sekarang? Atau, kau aslinya memang selacur ini?” Ini adalah kali pertama Seongjun bertanya dengan serius pada orang yang mabuk berat.
Meskipun suara Seongjun barusan benar-benar terdengar dingin dan menghina, Gyujin tetap saja menempel padanya. Bagaimana ia bisa terintimidasi bila ia sendiri tidak dalam keadaan sadar? Bukannya menjauh, Gyujin malah makin mendekat pada Seongjun. Ia bahkan nyaris berada di atas Seongjun, meskipun itu mustahil karena Seongjun masih menjambak rambutnya.
“Nghh.... Kepalaku pusing, Seongjun-ah....” Suara serak namun manja itu kembali keluar.
Seongjun menghembuskan napas panjang. Ia tak pernah merasa sepanas ini sebelumnya. Bahkan, orang yang membuatnya terbakar sekarang ini adalah Park Gyujin. Sorot mata Seongjun yang awalnya terpaku pada tatapan sayu Gyujin langsung berpindah pada bibirnya yang terbuka.
Seongjun mendengus, dan sebuah seringai muncul di wajahnya. “Kenapa kau sering sekali memanggil namaku? Apa kau tidak takut lagi padaku?” Seongjun tak tahu alasan kenapa ia malah mendekatkan wajahnya pada Gyujin.
“Hmm? Takut?” tangan Gyujin terangkat, meraih tangan Seongjun yang masih berada di rambutnya. “Kenapa harus takut?”
Pertanyaan yang begitu berani, tetapi di telinga Seongjun malah terdengar nakal. Seongjun tak menghiraukan Gyujin yang mencoba menepis tangannya dari rambutnya. Seongjun kemudian menjawab pertanyaan Gyujin. “Karena aku menakutkan.... Aku adalah seorang bajingan.”
Kata-kata itu membuat Gyujin berhenti menyingkirkan tangan Seongjun dari kepalanya. Ia mengernyit, menatap Seongjun dengan mata yang setengah terbuka. Tiba-tiba, tanpa aba-aba terlebih dahulu, Gyujin memindahkan tangannya ke wajah Seongjun.
Terjadi tamparan lemah yang membuat Seongjun terkejut. Ia baru saja ingin mengumpat saat Gyujin tiba-tiba tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia kemudian bicara, begitu tidak disangka. “Kau bajingan tampan.”
Diam, Seongjun bahkan tak yakin jika ia mendengarnya dengan benar. Bukannya Seongjun malu karena dipuji, tetapi ia tak pernah menduga jika akan mendengar kata itu keluar dari mulut Gyujin. Oh, ini semakin menarik saja.
Seongjun melirik ke meja, tempat di mana camilan dan minuman beralkohol itu masih ada. Melepaskan pegangannya pada rambut Gyujin, Seongjun meraih satu gelas soju yang masih terisi. Sepertinya, ada yang lupa untuk menghabiskan gelas mereka sebelumnya. “Fuck-gyu,” panggilnya, sambil menatap dalam pada Gyujin.
Hal berikutnya yang Seongjun lakukan benar-benar tak akan terpikirkan bahkan oleh dirinya sendiri. Seongjun membawa gelas itu ke bibirnya, menyeruput alkohol yang terasa seperti perangsang. Ia lalu melemparkan gelas kosong itu ke sembarang arah, sementara mulutnya yang penuh berisi alkohol ia bawa ke bibir Gyujin yang menggoda.
Seongjun belum pernah melakukan ini sebelumnya. Sumpah. Untuk apa pula ia memberikan seseorang soju secara langsung dari mulut ke mulut? Apalagi dengan Park Gyujin. Sekali lagi, Park Gyujin, Fuck-gyu kesayangannya.
“Mnhh!” Gyujin sedikit memberontak, tetapi ia tak bisa menjauh karena tubuhnya memang tak sanggup untuk bergerak. Sementara Seongjun menahan belakang kepalanya, tak membiarkannya pergi.
Alkohol itu perlahan hilang, telah diminum habis oleh Gyujin, tetapi Seongjun masih belum menarik diri. Ia melanjutkan ciuman yang memabukkan itu. Benar-benar mabuk.
Setelah beberapa saat, barulah Seongjun menyudahi ciuman mereka. Apakah ia puas? Tentu saja tidak!
Bagaimana ia bisa puas saat Gyujin malah membuat wajah paling lacur yang pernah dilihatnya? Bibir Gyujin yang basah dan sedikit bengkak, mata sayunya yang menatap Seongjun seolah menantangnya, dan tubuh jalang yang masih saja enggan untuk beranjak darinya. Seongjun benar-benar gila dibuatnya.
“Seongjun... unhh.” Oh, benar-benar brengsek. Suara Gyujin membuat Seongjun semakin tak bisa menahan dirinya.
Tanpa basa-basi, Seongjun langsung mendorong Gyujin hingga ia berbaring di sofa. Seongjun berpindah, kini mengungkung Gyujin di bawahnya. Sebuah kejutan saat Gyujin mengangkat lengannya, kemudian melingkarkannya di leher Seongjun. Tindakan berani Gyujin membuat Seongjun tak bisa menahan senyum di wajahnya.
“Park Gyujin....” Suara rendah Seongjun mengalun di kamar karaoke yang sepi itu.
“Mhh.... Seongjun,” ucap Gyujin sambil terus menatap Seongjun dengan matanya yang tak fokus. Pelukannya di pundak Seongjun sedikit mengerat. “Apa... yang kau... hic... lakukan padaku?”
Seongjun benar-benar tidak mengerti. Semua yang keluar dari mulut Gyujin terdengar seperti sebuah godaan. “Aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kau lakukan padaku?” Seongjun bertanya dengan serius. Sihir apa yang digunakan oleh Gyujin sampai membuat Seongjun terangsang begini?
Jemari Seongjun menyingkirkan rambut Gyujin yang hampir menutupi matanya. Ia terdiam begitu lama, terpaku pada sepasang manik yang bahkan tak bisa melihat dengan jelas. Benar-benar bedebah cantik. Park Gyujin begitu cantik dalam keadaan mabuk di bawah lampu temaram ini. Seongjun tak gengsi lagi untuk mengakui betapa menawannya Gyujin malam ini. Lagi pula, tak akan ada yang tahu. Hanya ada mereka berdua, dan Gyujin pun dalam keadaan mabuk. Gyujin tak akan mengingat semua yang terjadi malam ini.
Ah.... Kenapa Seongjun malah merasakan adanya sedikit rasa kecewa saat membayangkan bahwa Gyujin akan melupakan kenangan mereka malam ini?
“Apa kau akan menolak jika aku menciummu lagi?” Seongjun bertanya bukan untuk meminta izin. Sekali pun Gyujin menolak, ia pada akhirnya akan tetap memaksa. Seongjun hanya ingin mendengar jawaban dari Gyujin.
Gyujin menggumamkan omong kosong sebelum menjawab. Ia berusaha membuka matanya yang hampir tertutup agar bisa bertemu pandang dengan Seongjun. “Ci~um?” Nada bicara Gyujin dipanjang-panjangkannya. Benar-benar seperti seorang jalang yang menggoda.
Sedikit meleset dari prediksi Seongjun, Gyujin tak menjawab. Sebenarnya Gyujin menjawab, tetapi bukan dengan kata-kata. Gyujin malah semakin menarik Seongjun mendekat, kemudian menyatukan bibir keduanya.
Seongjun malah dengan bodohnya terdiam, tak langsung percaya dengan apa yang terjadi. Ia buru-buru mengambil kendali. Seongjun tak mau bermain-main dengan ciuman manis ini, sehingga dengan sangat tidak sabar menggigit bibir Gyujin, menyuruhnya membuka mulut sehingga Seongjun dapat menyusupkan lidahnya.
Oh, Seongjun pikir ia saja yang gila, ternyata Gyujin sama saja gilanya. Seongjun tak bisa menahan seringainya saat merasakan jari-jari lemah Gyujin menyusuri rambutnya, kemudian menariknya pelan. Gyujin juga terus-terusan meminta Seongjun untuk semakin memperdalam ciuman panas ini.
“Nghh.... Seongjun-ah...” panggil Gyujin di sela ciuman mereka. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Namun, belum juga lima detik, Seongjun kembali menempelkan bibirnya.
Seongjun tak ingin menyia-nyiakan satu detik pun. Ia ingin mencicipi bibir yang sudah memiliki rasa yang sama dengan alkohol itu sepuasnya. Belum pernah ia mendapatkan hidangan senikmat ini sebelumnya. Ini adalah ciuman terbaik yang pernah ia rasakan di sepanjang hidupnya. Belum pernah ada perempuan yang berhasil membuatnya menjadi seganas ini saat berciuman. Seongjun bahkan tak puas hanya dengan ciuman saja.
Tangan kanan Seongjun beranjak, berpindah ke balik baju Gyujin yang basah karena keringat dan bir. Ia tak buru-buru untuk menjelajahi kulit halus Gyujin. Seongjun terlebih dahulu mengistirahatkan tangannya di atas pinggang Gyujin, menekannya sedikit untuk membuat Gyujin mengerang.
“Uhh.... Seongjun, apa... uh, yang kau....” Gyujin melepaskan sebelah tangannya dari rambut Seongjun. Ia menyentuh tangan nakal Seongjun yang kini berada di pinggangnya.
“Kau benar-benar sialan.” Seongjun mendengus, menatap Gyujin yang masih berbaring tak berdaya di bawahnya. “Kenapa kau menggoda sekali, hm? Apa kau ingin aku menghancurkanmu? Apa kau ingin membuatku menjadi seorang bajingan yang mengotori tubuh lacurmu ini?”
Gyujin menatap Seongjun dengan pandangan yang tak fokus. Ia membuat suara melenguh yang entah disengaja atau tidak, sebelum akhirnya bicara. “Mnhh.... Seongjun-ah....” Gyujin hanya memanggil nama Seongjun, tak ada yang lain. Ia hanya menambahkan sedikit sentuhan dengan kembali melingkarkan lengannya di pundak Seongjun.
Oh, ini benar-benar gila. Seongjun benar-benar dibuat gila oleh Gyujin. Bagaimana ia bisa menahan diri jika Gyujin sendiri menggodanya?
Tanpa buang-buang waktu, Seongjun kembali mempertemukan bibir mereka. Ciuman panas itu kembali lagi dengan sentuhan-sentuhan nakal dibalik kaos Gyujin. Seongjun bahkan sudah tak lagi meletakkan tangannya di pinggang Gyujin. Ia mulai menelusuri bagian samping perut Gyujin, terus mengelusnya ke atas, hingga membuat Gyujin menggeliat kegelian.
Suara sensual dari ciuman panas mereka menjadi satu-satunya kebisingan di dalam ruang karaoke itu. Sesekali, desahan yang tak dapat ditahan oleh Gyujin menggema, memanjakan telinga Seongjun yang ketagihan dengan rasa dari bibirnya.
Seongjun benar-benar merasakan bahwa tubuhnya terbakar sekarang. Tubuh Gyujin juga panas, tetapi itu karena alkohol. Sementara, Seongjun merasa panas karena sesuatu yang lain. Sesuatu itu pula yang membuat bagian bawahnya terasa sesak, seolah celananya menjadi lebih sempit. Seongjun tak menyangka, jika orang yang berhasil membuatnya sampai sebegini terangsangnya adalah Park Gyujin. Jika Seongjun menceritakan ini pada teman-temannya, pastilah ia akan langsung jadi bahan tertawaan. Bukan karena ia melakukannya dengan Gyujin, tapi karena mereka akan berpikir jika ia hanya bergurau. Ya, tak akan ada yang percaya.
“Shh.... Ah.... Gyujin-ah.” Seongjun benar-benar sudah kehilangan akalnya. Sejak kapan pula mulut bajingannya ini bisa menyebut nama Gyujin seperti itu?
Seongjun melahap bibir itu seperti orang kelaparan. Hanya bibir bengkak Gyujin yang kini dapat memuaskannya. Masalahnya, ia juga tak puas jika hanya berciuman. Tangan Seongjun yang sebelumnya bergerak liar di balik kaos Gyujin perlahan turun. Ia ingin mengotori tubuh itu lebih banyak lagi. Namun, gerakan Gyujin yang terasa semakin lemah membuat Seongjun bingung.
Gyujin tak lagi membalas ciumannya dengan agresif, tak sama seperti sebelumnya. Meskipun Gyujin masih menahan Seongjun dengan mengalungkan lengannya, tetapi pelukannya terasa longgar. Pun, Gyujin tak mencoba menyingkirkan tangan Seongjun yang mencoba menarik celananya.
“Park Gyujin?” Seongjun memanggil namanya. Ia menarik tubuhnya, menatap Gyujin yang kini menutup matanya. “Ya, Park Gyujin, kau tidur?” Nada suara Seongjun sedikit naik, mencoba membuat Gyujin mendengarnya, tetapi tetap saja Gyujin hanya diam.
Gyujin memang bersuara, tetapi itu hanyalah gumaman yang tak dapat Seongjun mengerti. Ia bahkan bernapas dengan pelan, seolah tak terganggu sama sekali. Ya, ia benar-benar tertidur di tengah proses mereka untuk bercinta.
“Tch.” Seongjun menyingkirkan lengan Gyujin yang masih melingkar di lehernya. Ia menjauh, tak lagi mengungkung Gyujin di bawahnya. Seongjun hanya bisa memasang tampang kesal, tetapi tak bisa melampiaskannya karena Gyujin benar-benar tidur dengan lelap.
Ah, tapi, kenapa pula Seongjun begitu peduli dengan Gyujin yang tertidur? Jika ia mau, ia bisa melanjutkannya, menikmati tubuh Gyujin sepuasnya. Namun, saat napas hangat Gyujin menerpa wajahnya, saat wajah itu terlihat sangat damai saat tertidur, Seongjun entah kenapa malah tak tega untuk mengganggunya.
Sejak kapan Seongjun peduli dengan orang lain? Park Gyujin benar-benar membuat Seongjun tak mengenali dirinya sendiri.
Seongjun duduk di ujung sofa. Ia menyingkirkan kaki Gyujin, membuatnya harus menekukkan sedikit lututnya. Bahkan Gyujin tak bangun setelah kakinya diangkat oleh Seongjun. Tidurnya pulas sekali.
Terdiam, Seongjun tak melepaskan pandangannya pada Gyujin yang masih tertidur. Kaosnya yang basah karena alkohol sedikit tersingkap, memperlihatkan kulitnya yang masih saja menggoda Seongjun. Tak bisa memikirkan apa yang ia lakukan, Seongjun malah membuka jaket varsity hitam-abu miliknya sendiri. Ia lalu bangkit, menyelimuti Gyujin dengan jaketnya.
Setelah kembali ke tempat duduknya, Seongjun kembali terdiam. Ia melihat jam di ponselnya, menyadari jika mereka masih punya dua puluh menit lagi hingga waktunya habis. Seongjun kemudian kembali melirik Gyujin.
Helaan napas panjang dan berat yang Seongjun keluarkan menjadi bukti betapa lelahnya ia. Bukan lelah secara fisik, tetapi mental. Seongjun tersiksa atas apa yang ia perbuat. Ia masih belum bisa percaya dengan apa yang barusan dilakukannya. Kalau saja Gyujin tak tertidur dan Seongjun tak kunjung menemukan kesadarannya, maka mereka benar-benar akan bercinta.
Berdecak pelan, Seongjun berusaha untuk tetap tenang dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Sekarang, ia akan menunggu sedikit lagi sebelum membangunkan Gyujin. Sungguh suatu keajaiban yang ganjil. Kenapa pula Seongjun enggan untuk membangunkan Gyujin dan memberikannya waktu tidur lebih lama?
Seongjun tahu alasan sebenarnya dari tindakannya. Ia hanya tak ingin mengucapkannya keras-keras.
Setelah hampir dua puluh menit, Seongjun akhirnya bangkit. Ia membangunkan Gyujin yang masih tertidur. Lihatlah betapa konyolnya ini. Seongjun bahkan tak tega untuk meninggalkan Gyujin sendirian.
Seongjun keluar dari tempat karaoke sambil memapah Gyujin yang bahkan enggan untuk mengangkat kakinya. Seongjun berkali-kali mengumpat pada Gyujin, menyuruhnya untuk berjalan lebih tegak, tetapi tetap saja ia terpaksa menyeret Gyujin hingga ke pinggir jalan.
Menengok ke kiri dan kanan, Seongjun memperhatikan jalan yang sudah sepi. Akan butuh waktu untuk mendapatkan taksi kosong.
“Park Gyujin,” panggil Seongjun. Ia menepuk-nepuk lengan Gyujin yang menggantung di lehernya. “Di mana rumahmu? Aku hanya akan mendapatkan taksi untukmu, bukan mengantarkanmu pulang.” Seongjun terus mencoba membuat Gyujin menjawab.
“Mnhh.... Seongjun.” Bukannya menjawab, Gyujin malah melakukan sesuatu yang hampir membuat jiwa Seongjun meninggalkan raganya.
Seongjun terdiam saking terkejutnya dengan Gyujin yang memutar tubuhnya ke arah Seongjun dan melingkarkan lengannya yang lain di pundaknya. Keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih yang enggan untuk berpisah di pinggir jalan. Bahkan Seongjun tanpa sadar mengencangkan pelukannya di pinggang Gyujin karena khawatir jika pemuda itu akan terjatuh.
Gyujin benar-benar berubah menjadi gila setelah mabuk. Tak hanya memeluk Seongjun, Gyujin bahkan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Seongjun. Terlalu manja.
Ini sungguh membuat Seongjun tak bisa bersikap tenang. Ia berusaha menahan gejolak yang kembali memanaskan seluruh badannya. Seongjun akui jika ia adalah seorang bajingan, tetapi menjadi seorang pria mesum di jalanan bukanlah sesuatu yang ia inginkan.
Dengan berat hati, Seongjun mendorong Gyujin untuk memberi jarak di antara mereka. Terutama pada bagian selatannya yang terus digesek oleh Gyujin. “Hah... Park Gyujin,” desah Seongjun dengan berat. “Beritahu aku alamatmu, sialan.”
“Umh?” Dengan mata yang setengah terbuka, Gyujin membalas tatapan Seongjun. Ia akhirnya mengucapkan alamatnya, tetapi kemudian kembali menjatuhkan tubuhnya pada Seongjun.
Tentu saja Seongjun langsung menyambutnya. Ia menggenggam erat lengan Gyujin saking gemasnya. Menarik napas dalam, Seongjun sekali lagi mengingatkan dirinya soal di mana mereka sekarang. Namun, satu ciuman saja tidak apa-apa, kan?
Seongjun menyentuh wajah Gyujin, menjepitnya di antara jari telunjuk dan jempolnya. Memaksa Gyujin mendongak, Seongjun lalu menundukkan kepalanya. Satu ciuman akhirnya mendarat. Bukan ciuman ganas seperti sebelumnya, tetapi juga bukan kecupan singkat yang nyaris tak terasa. Ciuman ini lebih lembut, dan Seongjun sampai merinding sendiri.
Setelah bibir mereka berpisah, Seongjun mengutuk dirinya sendiri. Kenapa pula harus ciuman penuh kasih sayang itu yang ia berikan? Sekarang mereka benar-benar seperti pasangan kekasih.
Mengenyahkan pikiran soal betapa lembut dan manisnya bibir Gyujin, Seongjun kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan yang sepi. Beruntung, satu taksi kosong datang. Seongjun langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan taksi tersebut. Tentu saja, dengan Gyujin yang masih menggantung di lehernya seperti koala.
Begitu taksi berhenti di depan mereka, Seongjun langsung membawa Gyujin untuk duduk di kursi belakang. Ia sedikit kesulitan karena Gyujin enggan untuk melepaskan pelukannya. Setelah Gyujin akhirnya duduk, bersandar di pojok, Seongjun lalu menyelimuti Gyujin dengan jaketnya. Ia terkekeh kecil saat Gyujin bergumam tak jelas sambil menyamankan dirinya di dalam balutan jaket itu.
Setelah Gyujin duduk, atau mungkin tertidur di kursi belakang, Seongjun langsung bicara pada sopir taksi tersebut. Ia menyebutkan alamat Gyujin padanya.
Seongjun baru saja akan pergi saat si sopir bertanya. “Eh? Kau akan pergi? Kau tidak mengantarkan pacarmu hingga rumahnya?”
“Hah?!” Seongjun langsung mengernyit, menatap pria itu seolah ia baru saja mengatakan lelucon paling buruk yang pernah didengarnya. “Dia bukan pacarku!” Seongjun tahu jika ia tak perlu sampai marah begini. Hanya saja, dadanya berdebar terlalu kencang sekarang.
Ingin segera pergi, Seongjun lagi-lagi ditahan oleh suara serak yang memanggilnya.
“Seongjun... di mana?” Gyujin yang tadi nyaman di kursi belakang kembali membuka matanya. Ia menoleh ke sekelilingnya, mencari keberadaan Seongjun.
Seongjun menengok, kemudian kembali membuka pintu belakang. “Aku di sini.”
Gyujin otomatis bergerak ke arah datangnya suara Seongjun. Ia merentangkan tangannya, mencoba meraih Seongjun. Namun Seongjun malah mendorongnya untuk kembali bersandar.
Seongjun tak lupa untuk memperbaiki letak jaketnya, memastikan Gyujin terbungkus dengan sempurna. Ia lalu mengucapkan selamat malam dan sampai jumpa pada Gyujin. Yang paling tidak terduga adalah tangannya yang terangkat mengelus rambut Gyujin yang basah karena keringat. Ini semua terlalu lembut untuk dilakukan oleh seorang perundung pada korbannya.
Sopir taksi yang menengok dari kaca hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia bicara pelan agar tak didengar oleh Seongjun. “Tadi bilangnya bukan pacar.”
Setelah adegan manis itu, taksi akhirnya pergi. Untuk beberapa saat, Seongjun berdiri di tempatnya, memasukkan tangannya ke saku karena dingin. Perlahan, Seongjun akhirnya melangkah pulang.
Pikirannya tiba-tiba hening. Tak ada seruan atau makian yang ia lontarkan, seolah memang tak terjadi apa-apa. Semua yang tertinggal di belakang tak menggaduhnya sama sekali. Tak ada yang perlu ia khawatirkan. Entah Gyujin akan mengingatnya atau tidak, ia tak peduli. Walaupun, ada sedikit rasa jengkel saat memikirkan bahwa Gyujin tak akan mengingatnya sama sekali.
“Ah, tunggu.” Seongjun berhenti melangkah saat baru teringat sesuatu. “Kenapa pula aku memberikan jaketku padanya?”
Pertanyaan yang konyol, sebenarnya. Karena, kenapa pula ia kembali ke tempat karaoke itu sedari awal? Ah.... Park Gyujin benar-benar luar biasa, bukan?
Seongjun mendengus. Kali ini, ia menertawakan dirinya sendiri. Kembali melangkah, Seongjun melanjutkan perjalanan pulangnya di tengah dinginnya malam.
.
.
Minggu pagi yang sedikit tidak biasa untuk Park Gyujin. Ini pertama kalinya ia bangun dengan sakit di kepalanya, hingga rasanya mau pecah. Mulutnya juga sangat kering, seolah semalam ia menelan sekarung pasir. Matanya hampir saja menyerah untuk membuka, dan ia memaksanya meskipun sangat menyilaukan. Pun, perutnya yang terasa sangat mual sampai ingin membuatnya muntah menambah siksaan di pagi hari.
Dengan erangan dan sakit yang dirasakan oleh setiap jengkal tubuhnya, Gyujin memaksakan dirinya untuk bangkit. Ia duduk dengan rambut yang sangat berantakan.
Gyujin menengok jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sepuluh pagi... menuju siang. Bayangan apa yang terjadi semalam langsung menghujani kepala Gyujin seperti peluru. Ia langsung mengutuk ke udara kosong. Tentu saja ia ingat bagaimana Seongjun dan gengnya memaksanya untuk minum hingga berkaleng-kaleng bir. Mengingatnya sekarang membuat Gyujin kembali merasakan mual di perutnya.
Gyujin tak ingat bagaimana ia bisa sampai di kamarnya dalam keadaan selamat begini, tetapi ia lega karena ibunya tak ada di rumah. Ibunya menginap di rumah salah satu kerabat mereka, dan akan pulang sore ini.
Oh, gawat. Gyujin langsung membawa bajunya ke bawah hidungnya. Aroma alkohol dan rokok yang seharusnya tak ada pada anak sekolahan melekat di tubuhnya. Gyujin tak bisa membiarkan ibunya tahu, sehingga ia harus mencuci semua bajunya sekarang.
Dengan sangat terburu-buru, Gyujin membuka kaosnya dan turun dari kasur. Ia akan langsung pergi ke kamar mandi, sebelum melihat sebuah jaket varsity yang asing di atas kasurnya. Mengernyit, Gyujin mengambil jaket tersebut.
Gyujin berkali-kali membolak-balikkan jaket tersebut, dan tetap saja asing baginya. Ia mencoba mencium jaket tersebut, dan aroma alkohol bercampur rokok juga sangat pekat.
“Oh tidak.” Wajah Gyujin memucat. Ia memandang jaket itu dengan ngeri. Sekarang ia ingat siapa yang mengenakan jaket itu semalam. “Jangan bilang kalau aku tidak sengaja membawa pulang jaket Seongjun?”
“Aaahhh!” Gyujin mengerang sambil menyembunyikan wajahnya di jaket tersebut. Ia mendesah lelah, menatap jaket itu dengan pasrah. “Semoga saja dia tidak tahu jika aku yang mengambilnya.”
Gyujin pun kembali buru-buru ke kamar mandi. Ia harus menyingkirkan semua barang bukti sebelum ibunya datang. Pun, meskipun tak punya niatan untuk menyimpan jaket Seongjun, Gyujin juga harus mencucinya. Ia tak tahu bagaimana akan mengembalikannya. Mungkin, Gyujin tak akan pernah mengembalikannya pada Seongjun.
Pagi... atau mungkin siang? Pokoknya, Gyujin benar-benar harus melawan rasa pening yang membuat kepalanya hampir pecah. Ia benar-benar tersiksa karena alkohol sialan itu. Gyujin sudah memutuskan, bahwa ia tak akan pernah menuruti perintah Seongjun dan teman-temannya kalau mereka memaksanya untuk minum lagi.
Gyujin juga enggan untuk mengingat apa saja yang terjadi pada malam itu. Ya, walaupun ada rasa penasaran dalam dirinya saat melihat bibirnya yang memiliki banyak sekali bekas luka.
Gyujin memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia menyentuh bibirnya yang penuh akan luka yang sudah kering. Ia mengernyit bingung. “Apa aku ciuman dengan kaleng bir semalam?”
Dan hari itu, di tempat lainnya, Seongjun yang sedang berbaring di kamarnya marah-marah terus tanpa alasan yang jelas.
.
.
FIN
.
.
