Actions

Work Header

Conches

Summary:

Jihoon seorang medioker yang menghabiskan harinya sebagai pekerja kantoran biasa, kerja, pulang tepat waktu, repeat. Namun suatu hari, pertemuannya kembali dengan teman masa kecilnya, Kwon Soonyoung, mengubah arah hidup yang sudah ia rencanakan menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda.

Kisah ini merupakan penggalan kepingan puzzle kehidupan mereka baik di masa sekarang, masa lalu, dan masa depan.

Chapter 1: What would you do when your first love comes back?

Chapter Text

 

Dunia ini bekerja dengan cara yang aneh. Manusia dipertemukan dengan manusia lain yang jalan hidupnya kebetulan bertumbukan, berinteraksi, kemudian saling melupakan ketika pertemuan itu berakhir menyakitkan. Layaknya angin taifun yang datang di musim panas. Ia datang tiba-tiba, membuat apa yang dilewatinya berantakan, kemudian menyisakan luka. Namun, apa yang terjadi di sekitar mata badainya? Normal seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

“Kau terlambat, Jihoon.”

Jihoon menyipitkan matanya pada Wonwoo yang sekarang membalikkan kursi putar yang diduduki tepat ke arah mejanya. Jemari panjangnya ia ketukkan di sela meja yang dipenuhi tumpukan kertas dalam file folder dan PC yang masih menyala entah sejak kapan. Mungkin sang empunya kemarin sore lupa mematikan benda itu.

“Ada masalah kalau aku terlambat? Gajiku yang akan dipotong, bukannya kau.”

Wonwoo menghela nafasnya, Jihoon dalam mode seperti ini seperti kucing liar yang disentuh ekornya. Menyebalkan dan seperti siap mencakar kapan saja. Yah setidaknya ia sudah mengenal kucing liar ini lebih dari tiga puluh tahun untuk tahu tidak ada yang serius dari ucapannya yang bernada tinggi.

“Chief Kang hari ini ada pertemuan dengan kelompok pertanian jeruk, ada tamu dari luar negeri kalau-kalau kau lupa, Ji. Cepat kemasi barangmu, kita tidak punya banyak waktu lagi.”

“Aish—”

Jihoon melirikkan matanya pada sebuah sticky notes kecil yang melekat di layar PC-nya bertuliskan urgent dan waktu pertemuan tertulis dengan tinta merah di sampingnya. 10.30.  Setengah jam lagi. Bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting ini?

“Hanya kau dari tim PR yang pergi bersamaku hari ini, Won?”

Wonwoo menganggukkan kepalanya, kali ini tanpa memperhatikan lawan bicaranya sambil sibuk membersihkan lensa kamera yang ada di tangannya.

“Seokmin ke mana? Seungkwan tidak ikut pergi juga?”

“Tidak. Mereka kan ikut Yang Mulia Ratu ke Seoul hari ini.”

Jihoon mendecakkan lidahnya kesal, pekerjaannya hari ini akan terasa berat tanpa dua rekannya yang lain, terlebih anggota dewan yang akan pergi bersamanya kali ini sering sekali berselisih paham dengannya. Sesekali ia menggerutu sambil memasukkan barang-barang yang kiranya akan ia perlukan nanti ke dalam tas ransel. Suara kertas berjatuhan dari atas meja beradu dengan suara botol aluminium yang ia letakkan kasar di atas meja—tentu saja mendapatkan pandangan kesal dari wanita yang duduk di meja sebelahnya. Jujur saja, Jihoon membenci tatanan ala-ala open workspace seperti ini, ia merasa tidak memiliki privasi sama sekali.

“Jihoon-ah—Ssshhhh.”

Wanita yang duduk di bangku tepat di sampingnya menatap Jihoon tajam sambil menunjuk ke layar PC dan headphone yang terpasang di telinganya, memberi isyarat kalau yang bersangkutan sedang rapat online dalam kondisi mic yang menyala. Jihoon tersenyum kikuk sambil berkali-kali menunduk minta maaf—meletakkan beberapa batang cokelat di meja seniornya itu sebelum pergi bersama dengan Wonwoo.

“Ini apa?”

“Kunci mobilku. Kau pakai saja, aku yang akan menyetir mobilnya Chief Kang.”

“Tidak bisa ya pakai satu mobil saja? Kau tahu aku baru bisa menyetir bulan lalu. Ya Tuhan. Aku tidak akan bertanggung jawab kalau mobilmu nanti lecet atau apa.”

“Tidak masalah, jarak ke Seogwipo kan tidak sampai satu jam dari sini.”

Jihoon menyipitkan matanya tidak percaya. Mobil yang terparkir dengan nomor parkiran yang diberikan temannya itu adalah sebuah Ford bak terbuka milik restoran keluarga Jeon. Pantas saja tadi pemuda itu bilang tidak masalah jika mobilnya tergores, bahkan mobil hitam itu sudah memiliki goresan dan bekas benturan yang sudah tidak terhitung jumlahnya.

“Brengsek.”

Jeon Wonwoo hanya tertawa lepas, meletakkan sekotak jeli hangover di pangkuan Jihoon sebelum berlalu ke parkiran mobil milik anggota dewan.

Acara yang seharusnya berlangsung hingga jam makan siang berlanjut nyaris sampai pukul tiga sore. Wajah Jihoon sudah kuyu dengan senyum yang semakin lama semakin terlihat hanya formalitas saja. Kakinya terasa seperti jeli setelah pontang-panting mengerjakan hal-hal termasuk yang sebenarnya di luar job desk nya. Kotak jeruk hasil panen terakhir sudah terangkut di bak belakang mobil. Jihoon menghela nafasnya lelah, ternyata ini alasan Wonwoo memaksanya membawa mobil ini hari ini. Dasar teman tidak tahu diri.

“Terima kasih kerjasamanya.”

Jihoon membungkukkan badannya saat mobil milik Chief Kang berlalu dari hadapannya kemudian bergegas menyenderkan punggungnya yang kaku ke jok pengemudi mobil. 

“Dasar memalukan.”

Wonwoo menyandarkan kedua tangannya di samping jendela pengemudi.

“Apa? Aku setengah mati berusaha membuka mataku sepanjang hari ini, untung saja aku masih hidup sampai sekarang. Lagipula Kak Sohyun yang menawarkan terlebih dulu untuk menggantikanmu menyetir mobilnya Chief Kang. Cepat masuk, kau mau mati?”

Wonwoo menumpuk kotak styrofoam berisi kepiting segar yang diberikan nelayan sekitar di antara tumpukan kotak jeruk lalu berpindah ke samping Jihoon lagi.

“Memangnya kenapa kau mabuk sampai dini hari kemarin?”

Jihoon mengerjapkan matanya.

“Kenapa kau tahu aku mabuk sampai pagi?”

“Bibi meneleponku untuk menjemputmu. Jangan bilang kau lupa?”

“Memangnya salah kalau aku mabuk.”

“Tidak di hari kerja juga, Lee Jihoon. Dasar idiot.”

“Aku sedang tidak dalam mood berdebat denganmu.”

Wonwoo diam sebentar seakan memperhitungkan kata-katanya. Beberapa detik hening sebelum akhirnya ia menjatuhkan bom yang sedari tadi pagi berusaha ditahannya.

“Aku melihatnya kemarin saat menjemputmu di bar. Kwon Soonyoung.”

Jihoon memukulkan tangannya pada setir, membuat suara klakson mobil itu meraung-raung dan semua kepala manusia yang ada di sana menoleh.

“Sudah kubilang jangan pernah sebut namanya. Apa yang pria gila itu lakukan di sini? Dia bilang dia benci tempat ini, kenapa juga dia masih kembali.”

“Bilang saja kau masih menyukainya. Sekarang siapa yang idiot?”

“Hei, Lee Jihoon. Jawab aku.”

“Ini alasan kenapa aku sangat membencimu, Jeon Wonwoo.”

“Kau tidak membenciku.”

Jihoon menginjak gas mobil keluarga Jeon meninggalkan tempat itu, membuat Wonwoo jatuh terjerembab di atas aspal parkiran yang panas terkena terik matahari.

“Sialan.”

Jihoon mengambil handphonenya yang sedari tadi tergeletak di dashboard setelah memarkirkan mobil di depan restoran dan berpamitan pada Mama Jeon. Ia meletakkan sebentar keranjang berisi jeruk dan kepiting ke trotoar.

 

Eomma: Makan malam bersama hari ini. Tidak perlu jaga toko. Bilang ke adikmu nanti, ponselnya tidak aktif.

 

Drama apalagi ini. Lee Yuju pasti membuat masalah di sekolah atau semacamnya. Adik bungsunya itu lahir menjelang hari kelulusan Jihoon dari Sekolah Menengah Atas, membuatnya menjadi bahan olokan teman sekelasnya. Teman-temannya bilang, Yuju lebih cocok menjadi anak Jihoon daripada adik kandungnya. Sialnya lagi, karena kelahiran adiknya itu, mimpinya untuk pergi kuliah ke Seoul terpaksa harus ia simpan karena tabungan keluarganya terpakai. Tahun berikutnya, Jihoon mendapat beasiswa pemerintah di sebuah Universitas di Busan. Jurusan yang berbeda dari yang ia inginkan, tapi setidaknya ia bisa berkuliah tanpa merepotkan orangtuanya.

“Mamanya Soonyoung mengundangmu makan malam ke rumah mereka besok.”

Jihoon menghentikan sendokan kuah sup ke dalam mulutnya. Nafsu makannya mendadak hilang. Ia melirik pada gadis yang sibuk mengunyah nasi dan stewnya di sampingnya.

“Hanya aku saja? Yuju?”

“Dia besok ada kelas tambahan setelah itu mau pergi ke ruang belajar sepulang sekolah.”

Jihoon mendecakkan lidahnya kemudian melanjutkan makan malamnya yang sempat terhenti.

“Banyak alasan.”

Lee Yuju menjulurkan lidahnya, kali ini mendapat tendangan di betis kaki dari sang kakak yang membuat gadis itu meringis menahan nyeri.

“Jihoon-ah, kali ini saja. Ibu mohon.”

Kali ini sang kepala keluarga berdeham.

“Sayang, berhenti memaksa Jihoon jika dia tidak mau. Sudah bukan waktunya kau menjodoh-jodohkan mereka seperti dulu lagi. Mereka sudah dewasa, tidak perlu kita campur tangan di hubungan mereka lagi.”

“Ayah benar, aku bisa mencari jodohku sendiri kalau mau. Tidak menikah juga tidak masalah, kok. Akhir-akhir ini yang seperti itu sudah umum di kalangan anak muda.”

Sang Ibu meletakkan sumpitnya setengah dibanting, membuat tiga orang lainnya yang duduk di meja makan berjengit ngeri.

“Tidak menikah? Seperti kakakmu yang jadi gelandangan di negeri orang? Setidaknya kau punya pekerjaan yang bagus dan umurmu sudah lebih dari cukup. Yuju-yah, belajarlah dengan benar, jangan jadi seperti kedua kakakmu.”

Jihoon memutar bola matanya, buru-buru menghabiskan makan malamnya yang tersisa kemudian bergegas masuk ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Jika bukan karena permintaan mendiang neneknya, ia lebih memilih bekerja di Busan atau Jeonju daripada di kampung halamannya ini. 


“Selamat pagi, melaporkan cuaca hari ini Selasa, 12 Agustus 2025 untuk kawasan Kota Jeju dan sekitarnya. Cuaca berawan masih akan terus terjadi selama beberapa hari ke depan dengan peluang hujan kurang dari dua puluh persen. Angin berhembus dari barat daya, namun gelombang lautnya masih cukup aman untuk melakukan aktivitas di sekitar pantai. Suhu rata-rata masih berada pada rentang dua puluh empat sampai dengan tiga puluh satu derajat celcius. Kami menghimbau seluruh warga untuk selalu menggunakan pelindung atau tabir surya jika melakukan aktivitas di luar ruangan. Terima kasih.”

Jihoon menggigit rotinya sambil mengencangkan tali sepatunya. Sekarang masih pukul enam pagi, masih ada waktu untuk berlari pagi sebentar di sekitar kompleks rumahnya. Beberapa hari ke belakang ia selalu telat bangun, membuat moodnya berantakan ketika berada di kantor.

“Eomma, aku pergi dulu.”

“Tidak sarapan dulu? Sebentar lagi masakannya selesai.”

“Tidak eomma, aku sudah sarapan roti.”

Ramalan cuaca hari ini sepertinya akan sedikit meleset, matahari sudah merekah kekuningan di ufuk timur, suhu udara siang ini akan jauh lebih panas dari perkiraan. Suara debur ombak di tepi pantai berbatu karang menyatu dengan sayup-sayup suara tawa para bibi Haenyeo yang bersiap menyelam lengkap dengan perlengkapan menyelam di tangan mereka. Salah satu bibi melambaikan tangannya saat melihat Jihoon berlari melewati jalanan dekat tempat mereka beristirahat.

“Jihoon-ah. Kemarilah.”

Jihoon tersenyum dan berlari mendekat ke arah rombongan para bibi. Ia merogoh kantongnya dan memberikan sebungkus kecil permen susu pada mereka.

“Kau benar-benar cucunya Aerim, mirip sekali dengannya saat muda. Dia pasti bangga padamu. Nanti kami titipkan gurita paling besar pada Ibumu untuk makan malam hari ini, ya.”

“Tidak usah repot-repot, Bibi.”

“Sama sekali tidak merepotkan. Jihoon kami yang pintar ini butuh makanan enak saat pulang kerja nanti. Berbagilah dengan adikmu, ya.”

“Baik, Bibi. Terima kasih banyak, ya. Selamat bekerja, semoga tangkapan hari ini bagus.”


“Empat item totalnya lima belas ribu won. Terima kasih telah berbelanja, silakan datang kembali.”

Jihoon meletakkan plastik belanja berwarna putih berlogo toko milik orangtuanya kepada pelanggan yang hingga sekarang masih memandanginya. Pemuda di depannya mengeluarkan cup ramyeon dan menyodorkannya pada Jihoon sambil menunjuk alat pembuat mie instan di belakang meja kasir.

“Bisa dimasakkan sekalian?”

“Ck—Kau tidak punya kompor di rumahmu?”

“Di luar masih hujan, Jihoon-ah.”

Jihoon membulatkan matanya. Ia merebut cup ramyeon yang disodorkan dan membantu memasakkannya sambil menggerutu.

“Aishh—ramalan cuacanya selalu meleset. Entah apa yang mereka kerjakan. Apa? Kau bisa duduk di depan sana, aku akan mengantarkan ramyeonmu nanti.”

“Jihoon-ah, memangnya apa salahku sih? Sejak kemarin kau terus saja menjauh kalau kuajak bicara. Kau juga tidak datang makan malam tadi.

Jihoon menyipitkan matanya, memandang pemuda di depannya—Kwon Soonyoung, dari atas ke bawah. Ekspresi wajahnya terlihat lelah.

“Kau benar-benar keterlaluan—Habiskan ini lalu pulanglah. Satu jam lagi kami akan tutup.”

“Di LED-nya tertulis toko ini buka 24 jam.”

“Karyawan kami sedang cuti, kumohon pergilah jika kau sudah selesai.”

Soonyoung mengerjapkan matanya pelan.

“Kau berubah, Ji.”

“Setelah lima tahun, kau mengharapkanku masih sama seperti dulu? Aku juga punya kehidupan. Kumohon pergilah, selagi aku masih memintamu baik-baik.”

Suasana hening yang tidak nyaman merayap menyelimuti seisi ruangan. Suara guntur yang menyambar bersahutan diikuti klakson kendaraan bermotor yang terdengar dari kejauhan sama sekali tidak membuat suasana hati Jihoon terasa lebih baik.


Kalian tahu? Ada makanan dan minuman yang harus diperam atau difermentasi beberapa lama untuk dinikmati dengan kondisi terbaiknya. Wine misalnya, beberapa jenis bahkan membutuhkan beberapa tahun hingga siap dinikmati. Namun dengan catatan, kondisi optimalnya terpenuhi, tidak terpapar mikroba di udara terbuka. Kalau dibiarkan begitu saja, semua akan membusuk dan tak layak makan. Apa yang terjadi dengan makanan busuk? Tempat pembuangan sampah, kalaupun beruntung paling tidak ia akan bermanfaat menjadi pupuk tanaman.

“Eomma, aku langsung berangkat kerja setelah lari.”

“Lagi? Sepagi ini?”

“Ada yang harus kukerjakan. Lebih enak datang lebih awal daripada pulang terlambat. Aku pergi.”

Jihoon mengambil ransel kerja miliknya sebelum menutup pintu rumah. Ia masih bisa merasakan tatapan khawatir Ibunya bahkan setelah pintunya tertutup. Bagaimanapun juga firasat seorang Ibu pada anaknya selalu kuat. Tadi malam ia sengaja tidak datang makan malam di rumah keluarga Kwon dengan alasan mengganti jaga karyawan toko milik keluarganya yang mengambil cuti mendadak. Ia baru menginjakkan kakinya nyaris pukul dua dini hari. Tiga jam setelah Kwon Soonyoung keluar dengan membawa sebuah ramyeon baru matang yang berakhir di tempat sampah. Hujan jelas-jelas masih turun deras saat itu.

Batu-batu pemecah ombak menumpuk di sepanjang trek lari yang hampir seluruhnya berada di garis pantai kota ini. Kompleks perumahan warga sepagi ini masih sepi, keramaian mulai terdengar hanya ketika sudah mendekati area dermaga pelabuhan. Untuk ukuran sebuah ibukota provinsi, Jeju-si tidak sepadat itu. Penduduknya lebih banyak yang saling mengenal atau bagian dari sebuah klan yang sama. Terdengar bagus untuk sebuah komunitas, namun bagi Jihoon ini bukanlah hal yang bagus. Hal yang seharusnya menjadi rahasia bisa saja diketahui seisi kota kurang dari dua puluh empat jam. Dan kali ini nasib baik sepertinya tidak sedang memihak padanya.

“Beruntung sekali Kak Jihoon. Kudengar Kak Soonyoung kembali dari Seoul hanya karena ingin menikah dengannya.”

“Serius? Kwon Soonyoung yang itu? Bukannya dulu Kak Jihoon pernah ditolak ya?”

“Yang namanya perasaan manusia tentu saja bisa berubah. Apalagi sekarang Kak Jihoon sudah termasuk senior kan di antara staf ahli di kantor ini. Siapa juga yang tidak mau punya menantu sehebat itu.”

“Tapi bukannya mereka sama-sama seorang stamen?”

“Memangnya apa yang salah dengan itu? Akhir-akhir ini kan tidak semua pasangan menginginkan anak.”

Omong kosong. Jihoon berdeham sebelum memasuki pantry dan sibuk dengan mesin kopi di ujung ruangan. Obrolan tiga orang yang semula memenuhi ruangan mendadak terhenti.

“Kenapa berhenti? Lanjutkan saja, mana tahu ada sesuatu yang ingin kalian tahu langsung dari sumbernya.”

Ketiga orang itu hanya saling berpandangan sambil membungkukkan tubuhnya. Semua orang itu sudah meninggalkan pantry ketika double shot espresso yang Jihoon buat mengalir keluar dari mesin pembuat kopi. 

Memangnya memilih untuk tetap single pada umur seperti ini aneh ya? Hingga orang-orang mau repot membuat gosip tentang kehidupan percintaannya yang sebenarnya tidak ada.

Jihoon memindahkan cangkirnya ke coffee table di samping sofa kemudian merebahkan punggungnya di sandaran sofa. Lengan kemejanya yang tadinya tergulung hingga bawah siku bergeser hingga ke atas. Guratan-guratan seperti ujung ranting kayu berwarna coklat kemerahan terlihat sekilas dari sela ujung kain lengannya yang segera Jihoon turunkan sebelum ada orang yang melihat.


“Sohee kalau sudah besar ingin jadi apa?”

Jihoon berguling menggoda kucing abu-abunya yang sedari tadi tidur dengan perut menghadap ke atas di sampingnya. Gadis kecil di sebelahnya yang sedang sibuk mengelus tiga anak kucing yang sedang saling menjilati bulu mereka menghentikan gerakan tangannya untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan Jihoon.

“Putri duyung.”

Jihoon menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Putri duyung?”

Gadis kecil yang baru masuk kelas satu sekolah dasar itu mengangguk senang. Jemari kecilnya menunjuk ke kejauhan di mana para bibi dengan pakaian selam tengah berkumpul dan membakar sesuatu. Mungkin kerang, gurita, atau ketimun laut. 

“Putri duyung bisa menyelam jauh ke dasar laut bersama ikan-ikan. Aku ingin melihat terumbu karang warna-warni di bawah sana.”

“Mau belajar menyelam bersama paman?”

“Ayah tidak akan mengizinkanku.”

“Nanti kalau kau sudah lancar naik sepeda.”

“Boleh?”

“Tentu saja.”

“Tapi ayah tidak akan suka melihatku dekat-dekat laut.”

“Paman yang akan membujuknya.”

“Janji ya paman?”

Jihoon menyodorkan jari kelingkingnya yang disambut dengan gelak tawa gadis kecil itu.


Seorang wanita tua berpakaian hanbok putih dengan sebuah sapu menyambutnya ketika ia memasuki area halaman dalam kuil yang senyap. Aroma dupa yang baru dibakar memenuhi indera penciumannya.

“Jihoon, kau kemari lagi?”

“Aku membawakan haemul pajeon dan jeruk bakar favorit nenek.”

“Kau tidak harus datang ke sini tiap hari.”

“Tidak apa-apa, Bibi. Hanya ini yang bisa kulakukan untuknya.”

“Masuklah, sepertinya akan turun hujan.”

Jihoon melepaskan sepatunya dan memasuki bangunan kayu di depannya. Bangunan itu bukan kuil yang besar, hanya tempat berdoa sederhana yang berisi altar sederhana dan jajaran plakat nama orang-orang yang sudah meninggal. Dari kejauhan, seseorang yang memperhatikannya membalikkan tubuhnya menuruni tangga—urung memasuki tempat itu.