Work Text:
“Yang itu harusnya jawabannya 6. Kepalamu itu cuma hiasan, ya?”
“Uuugh …! Jangan mengintip bukuku, oke?!”
Crocell memejamkan matanya. Tangannya menghentikan goresan pena begitu selesai menulis angka 2.
Lima belas dikali tiga puluh dua …. Lima belas kali—
“Rumusmu salah sejak awal.”
“Hah?! Masa—tunggu! Kenapa harus mengintip punyaku, sih?!”
Oh, demi dahi jenong Orias, mengapa ini selalu terjadi?
Crocell hampir saja menghela napasnya. Hampir. Manik delima pemuda berambut hijau laut itu kembali menunjukkan diri; sosok pemuda berambut pirang dan pria berambut hijau laut dengan wajah persis Crocell versi dewasa kembali memasuki pandangan. Si pirang tampak sibuk memagari buku tulis dengan lingkaran lengannya; wajahnya tampak begitu kesal. Sementara itu, kembaran Crocell versi lebih tua di dekat pemuda pirang itu hanya mengela napas sembari menunjuk ke arah buku yang disembunyikan.
“Padahal kudengar nilai fisikamu meningkat, ternyata matematikanya masih jeblok?”
“Itu bukan urusan Kak Belphegor, ‘kan?!”
Crocell bekerja keras untuk tetap memasang tampang datar.
Sungguh. Apa keributan ini tidak bisa dikurangi? Rasanya selalu seperti ini setiap si pirang itu, Val Gregory, datang mengerjakan tugas atau belajar. Selalu.
Kakak Crocell, Belphegor Acedia, adalah tipe orang apatis yang punya kebiasaan bicara tanpa disaring—ia selalu mengucapkan apa yang ingin diucapkannya. Oleh sebab itu, tak jarang orang lain kesal dengan ucapannya, terutama orang-orang emosional. Di lain sisi, Val Gregory adalah pemuda yang hidup dengan mengedepankan bersikap baik walau hatinya penuh dengan api. Ia mudah emosi, namun selalu menahan diri sampai batas tertentu, terutama di hadapan mereka yang tidak ia kenal atau harus dihormati. Menilai dari sikap Val dan Belphegor, jelas mereka bukan tipe manusia yang cocok untuk berinteraksi. Harusnya, dengan sifat Belphegor yang malas terlibat dengan orang lain, ia tidak perlu terlibat banyak dengan Val yang bahkan terpaut 5 tahun lebih muda darinya. Sayangnya, sesering itu mereka bertemu sampai Val sudah tidak menahan diri lagi untuk membentak Belphegor setiap pria itu merendahkannya.
Pertanyaannya: bagaimana bisa? Apa yang membuat mereka terus saling terlibat? Crocell sangat yakin bahwa tidak ada alasan Belphegor harus repot-repot mendatanginya setiap teman-temannya datang, dan pada faktanya, Belphegor tidak pernah menimbrung ketika Orias atau Eva yang datang ke rumah mereka. Eksistensi Val Gregory jelas adalah syarat tak tertulis yang membuat Belphegor sampai repot-repot menongkrongi kamarnya dengan beragam alasan. Hari itu, kedatangan Belphegor adalah untuk mengerjakan skripsi kelulusan dengan alasan pendingin katanya bermasalah—Crocell sangat yakin pendingin ruangan kamar Belphegor baru diservis minggu lalu.
“Paham?”
“… Ugh ….”
“Bagus.”
Crocell tersenyum tipis melihat Val menggigit bibir sembari memejan matanya erat menahan kesal tak terucap ketika Belphegor meletakkan bolpoin biru Val kembali ke tengah buku tulis pemuda itu. Senyum tipis Belphegor ketika melihat ekspresi Val pun tak luput dari observasi Crocell.
Yah, Crocell bukannya tidak bisa menduga jawaban dari keheranannya itu, sih.
“Kak, kalau Val berisik, kami belajar di ruang tamu saja.”
Seketika itu, Val memandang Crocell dengan tampang terkejut, sekaligus tidak terima.
“Kok, aku?!”
Dan, seketika itu pula, senyum Belphegor hilang. Ekspresi datar tipikal pria itu kembali, namun mata merah delimanya tampak sedikit tajam ketika menatap Crocell.
“Tidak masalah. Aku bukan orang bodoh yang gampang terdistraksi sekitar.”
Tetapi, Kakak sedang terdistraksi, tuh?
Crocell lagi-lagi tidak habis pikir. Meski demikian, ia kembali tersenyum tipis.
“Tenggat selanjutnya masih lusa, ‘kan? Kalau begitu, Kakak bisa bantu ajarkan Val? Sepertinya Val cocok dengan cara Kakak menjelaskan.”
Biasanya, kalau diminta tolong atau disuruh seperti itu, Belphegor akan mendongak pongah sembari menegaskan bahwa ia tidak punya keharusan mengajari orang bodoh, atau malah langsung memasang ekspresi jijik karena malas membayangkan dirinya melakukan hal semerepotkan berbagi pengetahuan dengan orang lain. Namun, Crocell yakin jawaban kakaknya akan berbeda kali ini.
“Yah, tidak masalah. Mengajari satu bocah bodoh tidak akan makan waktu.”
“Berhenti mengataiku bodoh …!”
Tuh, ‘kan.
Belphegor tersenyum tipis melihat Val kembali mengamuk, dan Crocell pun merasa puas dengan pemandangan itu.
Sejujurnya, Crocell tidak peduli dengan kebisingan tersebut asalkan kakaknya senang, hanya saja ….
Entah kapan Kakak bisa berhenti bermain berputar-putar begini.
Crocell mendengus pelan, kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Pertengkaran Val dan Belphegor kembali menjadi musik latar belakang yang menemani Crocell melengkapi tugas sekolahnya.
Mungkin benar kata beberapa kalangan tertentu: orang genius itu cenderung sulit dalam mengekspresikan perasaannya dengan jujur, atau malah sulit mengenali perasaannya sendiri. Yah, bukan masalah. Semua orang punya bidang yang sulit mereka kuasai, dan tidak ada ketetapan dalam jangka waktu untuk mempelajari sesuatu. Dalam kasus Belphegor, mungkin ia butuh waktu lebih untuk mengeksplorasi perasaannya karena terlalu terbiasa malas berpikir hanya demi mengeksplorasi hal-hal yang dianggapnya tidak penting—dan, perasaan seseorang bisa jadi masuk sebagai salah satunya. Jika memang demikian, dengan senang hati Crocell akan membantu kakaknya …, bahkan walau ia harus mengorbankan tali kesabaran sahabat pirangnya yang pendek itu.
