Actions

Work Header

When The Devils Meet

Summary:

Diantara monster, youkai, ruh, hantu, dan berbagai makhluk aneh dan penuh misteri lainnya, Rui bertemu dengan Tenma Tsukasa; yang tidak kalah aneh dan misteriusnya.

Chapter 1: Oumagatoki

Summary:

Pada suatu senja di sebuah kuil yang telah berumur ratusan tahun, Rui bertemu dengan Tenma Tsukasa untuk pertama kalinya.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

逢魔時 / おうまがとき

Waktu senja di antara matahari terbenam dan langit berkunjung gelap. Bukan siang hari, tapi belum juga malam. Bayang-bayang menelan segalanya. Batas antara sekai—dunia di mana kita hidup dan berada—dan ikai, dunia yang “lain” menjadi semakin tipis. Ini adalah waktu ketika youkai, yuurei, dan hal-hal gelap lainnya menyebrang ke dunia kita. (1) 

 

***

 

Rui berjalan menyusuri jalanan yang sudah begitu lengang. Semburat kemerahan yang bercampur oranye menampakkan dirinya di ujung barat, meski waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Suara tonggeret terdengar bersahut-sahutan, diselingi dengan desau angin dan dedaunan yang saling bergesekan. Musim panas telah tiba beberapa minggu yang lalu dan matahari semakin enggan untuk tenggelam lebih cepat. Bayang-bayang Rui memanjang, menggelapkan sedikit bagian dari aspal yang ia lewatiーmenjadi seperti sebuah lingkaran yang terlalu besar untuk tubuh Rui. 

Rui bersenandung pelan. Di kota yang kecil ini, dengan hutan yang masih rimbun dan sawah terbentang luas, ia jarang berpapasan dengan orang lain di jam-jam ini. Apalagi menuju ke arah yang ia tuju sekarang. 

Tapi bukan berarti Rui tidak berpapasan dengan siapapun. Sempat beberapa kali ia melihat beberapa makhluk kecil yang mengintip dengan waspada dari balik semak-semak. Atau yang tiba-tiba bermunculan, tetapi langsung melincir pergi, kaget dan ketakutan begitu menyadari keberadaan Rui.

Teman-teman kecil yang seharusnya tidak kasat mata. Yang keberadaannya tidak diketahuiーkadang malah tidak dipercayaiーtapi Rui selalu melihat mereka tiap senja mulai turun. Ketika gelap mulai merambat, menelan segala berkas sinar matahari musim panas. Ketika sunyi mulai merayap karena manusia yang mulai bersembunyi di rumahnya masing-masing, saat itulah mereka mulai ramai bermunculan. Mereka memenuhi jalanan yang sepi dan gelap, beberapa bahkan berlalu lalang dan melayang di langit. Mereka saling bercengkerama, membuat kebisingan, dan sesekali berbuat jahil kepada manusia yang lewat di gelap malam. Mereka yang keberadaannya tidak dan tidak seharusnya terlihat oleh manusia biasa. 

Tapi Rui jauh dari kata biasa. Sedari kecil ia sudah terbiasa dipanggil sebagai anak yang aneh, ekstrentrik, dan berbeda. Kadang juga dibilang berbahaya–yang sedikit menyakitkan karena ia tidak akan pernah mau melakukan apapun yang bisa melukai orang lain.

Rui sebenarnya agak tidak mengerti dengan pandangan orang lain terhadapnya. Bagi Rui, setiap orang berbeda. Setiap orang memiliki keunikannya masing-masingーdan bisa dijadikan menjadi cerita yang sama menariknya untuk pertunjukkan teater. Tetapi sepertinya, Rui berbeda dari perbedaan itu. Agak membingungkan memang, tapi biarlah. Rui sudah tidak begitu peduli lagi.

Mungkin ia berbeda karena bisa melihat hal-hal yang seharusnya tidak bisa dilihat. Bisa berbicara dengan makhluk yang bagi banyak orang mungkin tampak mengerikan tapi terlihat unik bagi Rui. Yang mungkin akan terlihat aneh bagi orang lain karena ia jadi terlihat seolah berbicara sendiri, dengan udara kosong.

Tapi ia sebenarnya tidak berbicara sendiri. 

“Apa yang sebenarnya ingin kau cari, bocah?” 

Lihat, kan ada yang berbicara padanya.

“Hmm… tidak ada yang khusus, tapi mungkin ada yang menarik. Kudengar, kuil ini telah dibangun beratus-ratus tahun lalu dan bangunannya masih bagusーmasih sama, bahkan. Tempat yang bagus untuk berkumpul, bukan? Siapa tahu kau menemukan teman di situ, Gashadokuro.” 

Yang mengajaknya bicara hanya mendengus. Gigi-giginya yang besar dan menyeramkan itu saling bergesekkan dan menimbulkan bunyi gemeretak. “Yang butuh mencari teman itu kau, bocah. Bukan aku.” 

Rui hanya terkekeh pelan.

Gashadokuro. Atau si Tengkorak Gemeretak. Tengkorak Raksasa. Tengkorak Haus Darahーatau apapun itu lah sebutannya. Ia lahir dari jiwa-jiwa manusia yang terperangkap di dunia, yang matinya tidak diketahui dan tidak dikubur semestinya. Jiwa-jiwa yang marah dan sakit hati, berkumpul menjadi satu energi besar yang menakutkan–dan berganti memakan manusia yang lain. 

Rui tidak mengerti kenapa si Tengkorak ini terus menempel kepadanya. Mengikuti setiap langkah Rui kemanapun ia pergi. Sejauh yang ia ingat, Gashadokuro telah bersamanya sejak kecil. 

Barangkali dia bosan, karena Jepang yang modern sekarang sudah tidak ada perang lagi. Tidak lagi mau menghisap jiwa-jiwa berkelana tanpa arah. Yang mati ketika panasnya perang, lalu terlupakan begitu saja. Jiwa-jiwa yang sudah jarang ditemui sekarangーwalau bukan berarti tidak ada. 

Gashadokuro jarang menampakkan dirinya, walau boleh dibilang ia sebenarnya bersama Rui setiap saat. Ia lebih sering berada di alamnya sendiri, di dimensi berbeda yang tidak bisa Rui lihat ataupun raih. Tapi, hanya dengan satu panggilan saja, si Tengkorak ini bisa langsung muncul di dekat Rui. Melayang-layang di atasnya dan membuat bayangan besar yang menyeramkan dan mampu mengusir segala youkai lainnya yang berada di dekatnya.

Kadang-kadang juga, ia terus melayang mengikuti Rui, seperti dalam perjalanannya kali ini.

“Kurasa di sebelah sini… Ah, ini dia.” Rui berhenti. Di hadapannya, tepat di sisi kiri jalan, terhampar tangga yang berundak-undak, menanjak menuju ke dalam hutanーatau bukit, entahlah sebenarnya Rui juga tidak begitu yakin. Tangga tersebut terlihat masih bagus, hanya sedikit lumut yang terlihat di beberapa pojokannya. Samping kanan kirinya dipenuhi oleh semak-semak yang tidak terlalu tinggi. 

Rui menapakkan kakinya di anak tangga pertama lalu mulai melangkah, satu per satu. Sekitarnya begitu tenang. Tidak ada suara hewan apapun. Tidak pula kicau burung ataupun suara bising tonggeret di musim panas. Ia bahkan juga baru menyadari kalau Gashadokuro yang sedari tadi melayang di atas kepalanya kini sudah tak terlihat lagi.

Hanya terdengar suara langkah kaki Rui yang menapak di tangga dengan pasti.

Usai beberapa menit, Rui mulai melihat ujung dari anak tangga ini. Di puncaknya, ia melihat sebuah gerbang Torii kemerahan yang masih kokoh berdiri. Hanya bagian bawahnya sedikit ternoda oleh lumut dan tanaman rambat yang menjalar. 

Semakin dekat Rui dengan gerbang itu, samar-samar ia mendengar suara orang berbicara. Rui tidak begitu menangkap isi percakapannya, tapi hampir separuh kalimat dari salah satu yang berbicara dapat terdengar dengan jelas karena suaranya sangat keras.

“..sudah kubilang! Jangan … diriku lagi! Bagaimana kalau … nanti?!” 

Lalu diam sesaat, mungkin sang lawan bicara sedang menjawab.

“Haah??!” Ah, si pemilik suara keras itu berteriak. “Kan bukan .. -ku!! Kalian yang … seenaknya!!”

Rui sudah semakin dekat dengan gerbang Torii. Tinggal beberapa anak tangga lagi.

“Kalian kan--siapa di sana?!” 

Kurang tiga anak tangga dari Torii, Rui mendengar lagi suara keras itu. Kali ini, Rui yakin bahwa pertanyaan itu dilontarkan untuk dirinya, bukan siapapun yang menjadi lawan bicaranya sejak tadi. 

Pertanyaan itu diucapkan dengan keras, tetapi juga dengan begitu rendah. Dalam nada suaranya, ada sedikit kecurigaan yang bercampur dengan kehati-hatian.

Begitu Rui melewati Torii, yang pertama kali ia lihat adalah mata besar berwarna amber yang memandangnya dengan terkejut. Ia juga melihat rambut berwarna kuning cerah seperti sinar matahari siang tapi dengan gradasi oranye di bawahnya yang mirip langit senja. 

Itulah bagaimana Rui bertemu dengan Tenma Tsukasa untuk pertama kalinya.


 

 

 

 

 

 

Notes:

SKSJDHSDJH mau kusimpan sebagai draft doang tapi malah ke-post ;;
karena sebenarnya ini baru kepikiran awal dan akhirnya wkwk blm kepikiran plot tengahnya bakal begimaana :DDD jadi jangan expect cepat update ya.. mmfkan

sama masih bingung relationshipnya tapi mungkin ini akan ke arah... bromance..?
yah pokoknya begitu, masih banyak yg tida pasti di fic ini.... POKOKNYA MAAFKAN

sampai ketemu