Work Text:
Ruang istirahat residen OB-GYN tahun keempat malam itu sunyi. Satu-satunya cahaya berasal dari empat lampu meja yang berjajar rapi di samping komputer. Pendingin udara berdengung pelan, mengisi hening dengan menebar sejuk seolah berusaha menyingkirkan lelah yang menggantung.
Di sudut ruangan, sofa sempit menjadi tempat Uhm Jaeil menyerah pada kantuknya. Jas putih miliknya tergantung di kursi rapat, sementara tubuhnya terkulai di sofa dengan scrub kusut—jejak perlawanan belasan jam kerja tanpa henti. Rambut ikalnya sedikit berantakan, helai-helainya yang sudah memanjang lagi jatuh menutupi dahinya. Jaeil tertidur dengan posisi bersandar pada sofa, satu lengan menutupi sebagian wajah, sementara yang lain menggantung lemah di sisi tubuh.
Pintu berderit saat Sabi membuka ruang residen pelan. Tegang di bahunya mencair ketika hawa dingin menyambut tubuhnya. Dirinya belum sempat berhenti bergerak semenjak sore hari tadi, bertemu dengan kasus cito membuatnya tidak bisa istirahat. Jadi, malam ini ia berniat mencuri waktu untuk beristirahat—mungkin sambil membaca satu atau dua artikel jurnal di komputer, mungkin juga akan ada camilan kecil yang menemani. Sabi mengangguk pada dirinya sendiri sembari menekuk lututnya ke atas, menepuknya sedikit sebagai usaha peregangan saat matanya menangkap sosok Jaeil di atas sofa.
Hening di ruangan membawa Sabi berjalan menuju Jaeil. Gadis dengan rambut bob sebahu itu meraih selimut tipis di atas sandaran sofa. Dengan gerakan hati-hati, ia merentangkannya di atas tubuh Jaeil, seakan takut mengusik apapun yang sedang Jaeil mimpikan dalam tidurnya. Selimut itu turun menutupi dada Jaeil—
“Oh, Sabi-sabi…”
—dan saat itu juga kelopak mata Jaeil bergerak. Walau pandangannya belum sepenuhnya jelas saat matanya terbuka setengah, senyuman sudah terukir di wajah tengilnya begitu ia mengenali figur wanita di hadapannya.
Sabi tersentak kecil saat suara Jaeil memasuki rongga telinganya dengan lembut. “Sorry, kebangun, ya?” ucap Sabi pelan. Ia menepuk pelan bahu Jaeil, “Tidur lagi aja, gih. Istirahat dulu. Mumpung bisa.”
Jaeil hanya menjawab dengan gumaman panjang setengah mengantuk. Ia menutup matanya lagi, mengangguk pelan seolah patuh pada kalimat Sabi. Tetapi, sebelum Sabi berhasil mundur menuju tujuan awalnya, tangan Jaeil bergerak lebih cepat untuk menggapai tangannya.
Dalam kantuk, Jaeil menggenggam tangan Sabi, menarik lembut hingga tubuh si gadis ikut terduduk di sofa sempit. Jaeil menempelkan keningnya sebentar ke pundak Sabi, dan napasnya yang semula dalam dan berat berangsur tenang seiring rasa nyaman yang ia temukan di posisi ini.
“Eh, jangan gini. Aku gak mau tidur,” protes Sabi. Tubuhnya yang lebih kecil berusaha melepaskan diri—yang mana sebenarnya dapat ia lakukan dengan mudah, tetapi Sabi tidak berusaha melawan.
Namun, yang Jaeil lakukan sebagai jawaban adalah mengangkat jari, menyentuh bibir Sabi lembut untuk membuat gestur diam. Meski lelah, pelukannya menguat, mengunci Sabi di tempat. Lalu, dengan langkah terhuyung, ia berdiri dan membawa Sabi untuk ikut berjalan menuju bunk bed di belakang. Sabi spontan merapatkan pegangan, takut ia terjatuh bersama langkah Jaeil yang goyah.
Begitu tiba, Jaeil langsung merebahkan tubuhnya di kasur bagian bawah, menarik Sabi untuk jatuh bersamanya. Sabi terkejut, refleks menunduk agar kepalanya tidak membentur ranjang atas. Napas Sabi sedikit tercekat saat menyadari betapa dekatnya jarak di antara mereka. Helaan napas milik Jaeil bahkan terasa hangat di lehernya ketika lelaki itu kembali memejamkan mata dan merapatkan tubuhnya pada Sabi.
Di antara kantuknya, Jaeil berbisik serak, “Yaa.. kamu juga harus istirahat mumpung ada waktu. Ayo tidur di sini sama aku.” Satu tarikan napas datang disertai hembusan panjang setelahnya. Ia menutup kalimat dengan lirih, “Istirahatku, ‘kan, bareng kamu…”
Sabi membeku. Matanya terbelalak menatap langit-langit bunk bed saat dengkuran halus segera menggantikan suara Jaeil. Oh, dia sudah tertidur sekarang, pikirnya. Fokusnya kembali pada tubuhnya yang masih direngkuh erat seakan tidak ingin melepas.
Sabi menghela napas pasrah. Dengungan pendingin udara dan detik jam seakan menghipnotis, membuat badannya ikut rileks. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat kecil. Ia mendekatkan badannya pada Jaeil, mencari kenyamanan yang dapat mereka bagi. Di ruang istirahat yang sunyi itu, waktu seakan berhenti sesaat. Mungkin ketenangan sebelum badai ini akan hancur saat dering telepon dan hiruk-pikuk residensi kembali merampas waktu mereka.
Tetapi, yah.. Setidaknya, malam ini tidak buruk sama sekali.
