Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-10-01
Updated:
2025-10-01
Words:
1,746
Chapters:
2/?
Kudos:
1
Hits:
21

Irisan Kunyit

Summary:

Cinta bersemi disaat Kunyid melihat passion Iris terhadap fotografi. Iris, murid yang relatif pemalu itu berubah 180° saat membahas tentang fotografi.
Sebaliknya Kunyid yang ceria dan heboh itu terdiam, kagum, namun terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya.

Chapter 1: First Encounter - Part 1

Chapter Text

"-Dengan ini rapat saya bubarkan, silahkan disiapkan sebaik mungkin seperti yang sudah dibahas tadi. Notulen akan dikirimkan di grup utama, mohon dibaca dan dipahami agar kalian tidak bingung di lapangan nanti, sekian terimakasih." Pip berdiri dan meninggalkan tempat duduknya, yang langsung disusul oleh anggota lainnya. "Semangat gais!! First event harus sukses!!" Kunyid menyoraki, yang dibalas dengan sorak sorakan setuju.

Trio bumbu seperti biasa pulang bersama, "mampir rumah?" Vier bertanya kepada Pip, "keknya gabisa deh, gw harus nyiapin buat event osis." Vier mengangguk setuju. "Kunyid juga jangan lupa itu grupnya per divisi dibikin kocak, ketua divisi gimana sih." Pip memicingkan mata ke arah anak tengil yang daritadi sibuk mendengarkan lagu dengan headphones. "Iya iya, gw bikin nih sekarang..." Kunyid dengan malas membuka app chatting dan membuat grup, dan tiba tiba ia ditarik oleh pangeran es. "awas mobil." Vier melepaskan tangannya dari seragam kunyid. "... ORGIL BAWA MOBIL GA LIAT LIAT KLAKSON KEK-" "salah lo juga sih, siapa suruh ga liat liat jalan." PIp melet, mengejek. "Dari sini gw beda arah, gudbai barudaks." Ia melambaikan tangan, "baibai DAON." Kunyid dan Vier ikut melambaikan tangan

---

"Vier, yang tadi, makasih." Kunyid berkata dari sofa, vier hanya mengangguk "karena lo baik banget, lo inget member divisi gw ga? keknya kurang satu hehee..." Vier yang sedang mengambil minuman menoleh, "ketua divisi ini patutnya diturunkan pangkatnya jadi member divisi saja." Ia menutup kulkas dan berjalan ke kamar. "Liat di gdocs pertama di grup utama."

Benar saja ada list anggota osis dan divisi mereka di dokumen itu. 'Oh, kurang si iris." Dengan cekatan ia menambahkan member terakhir di grup itu, lalu mengubah pfp grup dengan foto kucing depan rumah, nama grupnya adalah 'kyknya humas deh', terakhir ia mengirimkan chat welcoming di grup itu :
"hello all, kunyid here, welcome to humas osis!"
"aku udah ngesave kalian, tapi kalian bolehlah saling sv biar ga bingung nomor togel, sebut nama aja ama kelas :))"
"ini link yang penting, isinya akun sosmed kita ama drive buat ngumpulin foto. https//carrd/MedsosisSMA"
"Disini kita harus ngebikin medsos osis jadi makin keren dari taon lalu, misalnya dengan ngebikin JJ yang lagi trending biar kita bisa fyp.
https//tiktok,com/video/?92yhde2r
prakteknya besok okeh, janlup jg tugas kita buat event nanti."

Satu persatu member memperkenalkan namanya, dengan gaya mereka masing masing. grup itu menjadi ramai sebentar, lalu kembali sepi. total mereka hanya berempat, jadi wajar saja jika grupnya tidak ramai. Kunyid meninggalkan app itu dan membuka game untuk daily login, yang dimana keterusan sampai waktu makan malam.

Di meja makan hanya tersisa Chisa sendirian, memakan pudding coklat. "Mama papa mana?" Ia mengambil sepiring nasi goreng sederhana yang sudah dingin. "Kak kunyid ga dengerin ya kemaren, mereka bilang hari ini mau dinner, jadi pulangnya malem." Iya juga, ia baru ingat. "Vier?" "Tadi udah kelar makan, katanya mau belajar buat ulangan jadi makannya agak cepet." Kunyid sepertinya kurang menerima info dari sekitar, atau ia terlalu cepat melupakan informasi yang telah diberikan.

"Hari ini kak Pip ga main kesini ya." "Well, dia harus ngerjain tugas ketos, gangerti juga sih ngapain, tapi lusa ada event, jadi dia harus siapin apalah gitu." Chisa melirik Kunyid dengan penuh kritik, "kak kunyid kok gatau sih apa aja kerjaannya, kan kakak juga osis." "kan gw bukan ketos, lagian situ nanyain PIp buat apa? Demen?" Sendok pudding yang tadi ditangan Chisa melayang ke arah Kunyid, "nanyain doang juga, apasih." Chisa berseru ketus, meninggalkan kunyid yang bingung kenapa ia dilempari sendok.