Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-10-01
Words:
3,831
Chapters:
1/1
Kudos:
12
Bookmarks:
1
Hits:
361

結言

Notes:

Disarankan sambil dengerin Yuigon & Bokura Dake No Shudaika by Centimilimental.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

GYUVIN BANGUN! UDAH MAU JAM DELAPAN! BANGUNNNN!!"

 

Suara teriakan melengking membangunkan Gyuvin dari tidurnya. Bukannya beranjak dari kasur untuk bersiap-siap, Gyuvin malah kembali menutup matanya. Biarlah ia sedikit terlambat hari ini.

Tapi sepertinya 'alarm' yang tadi membangunkannya tidak setuju. Suara teriakan yang kembali terdengar, membuatnya kembali membuka mata. 

Kini saat ia membuka mata dirinya disambut dengan wajah familiar dihiasi ekspresi kesal yang masih terlihat sangat cantik. Itu Gunwook, kekasih yang memang selalu menjadi alarm untuknya. 

"Lima menit lagi please, aku pusing banget.." Gumam Gyuvin dengan suara parau. Tapi kekasihnya yang sadis itu malah menepuk pipinya berkali-kali. 

"Bangun! Bangun! Bangunnn!!"

"Iya, iyaa! Ini bangun ihh!"

Mau tidak mau Gyuvin bangun. Ia meringis saat kepalanya terasa sangat pusing. Entah akibat gerakan tiba-tibanya, atau memang dirinya yang kurang tidur semalam. 

"Pusing ya? Minum obat dulu gih" Ia melihat botol obat dan segelas air di nakas. Untunglah sang kekasih selalu penuh dengan persiapan, entah akan jadi apa Gyuvin yang pelupa dan ceroboh ini tanpa kekasihnya.. 

Ia mengambil botol obat tersebut, mengeluarkan tiga butir, sebelum ia telan bulat-bulat tanpa air. Kelakuannya mengundang seruan kesal dari sang kekasih. 

"Minum obat tuh pake air kenapa sih?? Apa gak pait kamu telen langsung gitu?"

"Biasa aja ah.." Itulah jawabannya, tapi ia tetap mengambil air lalu meminumnya, tidak mau membuat sang kekasih semakin kesal. 

"Aku udah minum nih, mana ciuman aku?"

"Gak mau ah, kamu pait dan blom sikat gigi! Bau!"

"Minimal puji aku.. Usap-usap kepalaku gitu.."

Sang kekasih memutar bola matanya malas, tapi ia tetap menuruti. Tangan besarnya mengusap lembut surai Gyuvin. Ekspresi kesalnya berubah. Mata cantik yang sedari tadi memicing, kini melembut. Pipinya tertarik, menampilkan lesung pipi yang semakin menambah keindahannya. 

"Good job, Gyuvin.. I'm so proud of you, always.."

Keduanya saling menatap untuk beberapa saat, sebelum alarm handphone Gyuvin memecah keheningan. Si empunya berdecak sebal. 

"Udah mesra-mesraannya ah! Sekarang kerja kerja!"

"Mau bolos aja.."

"Gak ada bolos ya, kasian Ricky sama kak Bin! Cepetan mandi terus sarapan!"

"Mandi bareng--"

"Gak ada ya!"

 

----------

 

Turun ke ruang makan, ia disuguhi sepiring sandwich dan segelas jus mangga di atas meja. Gunwook tidak terlihat dimanapun, tapi ia bisa mendengar suara bising televisi dari ruang tengah. 

"Wookie kamu gak sarapan?"

"Aku udah makan duluan!" Jawabnya tanpa mengalihkan atensi sama sekali. Gyuvin mengedikkan bahu. Ia mendudukan dirinya di kursi yang sedikit goyang. Ia melihat ke bawah. 

Ah, kaki kursinya sudah rapuh.. 

Omong-omong, mejanya juga sangat berdebu.. 

Merasa kurang nyaman, Gyuvin membawa sarapannya ke ruang tengah. Ia mendudukkan diri di sebelah Gunwook yang pandangannya sama sekali tidak terlepas dari televisi. 

"Makan lagi nih!"

"Nggak ah, kamu aja!" Ya sudah. 

Gyuvin mulai menggigit sandwichnya. Rasanya agak aneh, jujur. Ayamnya dingin, sayurannya tidak segar seperti biasanya. Apa Gunwook sekesal itu padanya? Beralih ke jus mangga, ia mengernyit merasakan asam di lidah. 

"Kaya basi jusnya deh.." Mendengar itu Gunwook menoleh panik. 

"Serius?? Astaga maaf ya aku gak tau! Kamu tau sendiri aku gak suka mangga, jadi aku gak cobain dulu.." Gunwook beranjak, dengan cepat berjalan ke dapur. 

"Ngapain?" Tanya Gyuvin saat melihat Gunwook membuka kulkas. Gunwook terlihat mengambil kotak susu. Membaca sejenak, sebelum ekspresinya menjadi lebih panik. 

"Astaga.. Ternyata susunya basi, Gyu.." 

Oh pantas saja rasanya asam.. 

"Aduh maaf banget ya aku gak liat dulu.. Udah jangan diminum lagi jusnya, kamu minum air putih aja ya! Bentar aku ambilin--"

"Iyaa sayang santai aj-- Eh? Loh? Loh, kamu kok nangis??"

Gyuvin dengan cepat menghampiri Gunwook yang wajahnya sudah dipenuhi air mata. Bibirnya bergetar, bahkan seluruh tubuhnya ikut bergetar. Apa ia pikir Gyuvin akan memarahinya?? 

Ia membawa Gunwook ke pelukannya. Tidak peduli saat merasakan basah di pundaknya. 

"Hey, kenapa nangis?"

"I-i almost p-poisoned you with.. Expired milk..."

Gyuvin tidak seharusnya tertawa saat dirinya bisa saja mati karena susu basi, tapi ia tidak bisa menahannya. Kekasihnya ini kenapa lucu sekali?? 

"Kamu kan gak sengaja.. Udah ih jangan nangis, jelek tuh mukanya" Bohong, saat menangis pun ia masih terlihat cantik, tapi tetap saja Gyuvin lebih menyukai wajah bahagianya. 

"Gyuvin maaf.. Maafin aku ya.."

"Gak papa sayang, gak papa--"

"Jangan benci aku.. Jangan benci aku kaya Ricky ya.. Aku gak mau dibenci sama kamu juga, cukup Ricky aja.."

"Sayang, kenapa ngomong gitu?" Gyuvin menangkup pipi sang kekasih yang kini terasa tirus di tangannya. Padahal dulu ia sangat chubby.. "Ricky gak benci kamu-- gak mungkin dia benci kamu, Gunwook."

"Tapi buktinya dia benci.. Dia yang bilang sendiri, Gyuvin, kamu lupa kah?"

Ia ingat, sangat ingat, bahkan sepertinya memori itu sudah tertempel pada otaknya secara permanen, seperti tato yang menghiasi pinggang Gunwook. 

Malam itu Ricky tiba-tiba berteriak di hadapan mereka. Menyerukan kata-kata tidak mengenakan tentang Gunwook, menghardiknya sambil menunjuk wajahnya.. Gyuvin hampir saja membalas, kalau saja Gunwook dan Hanbin tidak dengan cekatan menahan.

Sang kekasih masih bisa berpikir positif, berbeda dengannya. 

'Mungkin Ricky kecapean' Tidak, Ricky tidak akan semarah itu selelah apapun dia. 

'Mungkin aku ngelakuin kesalahan ke dia tapi akunya lupa' Tidak, Gunwook tidak pernah melakukan hal buruk ke Ricky, itu tidak mungkin. Lalu Ricky juga bukan tipe yang menyimpan semuanya hingga meledak. Ia adalah orang yang akan langsung menyerukan ketidak-sukaannya pada sesuatu. 

 

So why.. 

 

"Aku bakal obrolin ini sama dia ya?" Bola mata sang kekasih terlihat berbinar. Dan Gyuvin rela melakukan apa saja demi terus melihatnya. 

"You will?"

"Yep. Jadi tenang aja ya?"

"Makasih ya.. Dan maaf, aku nyusahin terus.."

"Ngomong apasih kamu tuh.. Udah ah, aku kerja dulu ya? Kamu gak papa aku tinggal sendiri kan?" Gunwook mengangguk. Gyuvin mengusak surainya terakhir kali sebelum berangkat kerja. 

Semoga Ricky ada di kantor hari ini. 

 

-----------

 

Gyuvin berhasil menemukan Ricky di ruangannya. Wajah pemuda asal Shanghai itu terlihat terkejut, tapi juga senang di saat bersamaan. 

"Gyuvin! You finally ba--" Dengan cepat Gyuvin memotong sapaannya. Ia memegang kedua pundak Ricky, matanya menatap lekat. 

"Hey, Ricky"

"Y-yeah?"

"Kenapa kamu benci Gunwook?" Tidak ada balasan untuk beberapa saat, sampai akhirnya Ricky mengernyit bingung. 

"Hah?"

"Kenapa benci Gunwook? Dia ngelakuin hal apa ke kamu sampe kamu sebenci itu ke dia?"

"I-- i don't know what you mean..? Gunwook kan--"

"Dia nangis tadi pagi. Dia bilang kamu benci sama dia, tell me that isn't true!" Gyuvin meremat pundaknya, membuat si empunya meringis sambil mencoba melepaskan. 

"K-kok bisa orang yang udah meninggal bilang gitu ke kamu?"

Gyuvin merasa waktu berhenti. Otaknya berusaha mencerna ucapan gamblang Ricky. Tidak mungkin kan? Pasti ia hanya salah bicara kan? 

"Ngomong apasih? Jangan jokes kaya gitu, gak lucu."

"I'm not joki--Akhh! Sakit Kim Gyuvin!"

"Jangan bercanda kaya gitu.. Gak lucu.. Gak lucu sama sekali, jangan--"

"Fucking--- SADAR HEY, HE'S GONE, HE'S DEAD! HE'S FUCKING DEAD! HE'S NOT WITH US ANYMORE, HE'S NOT--" 

"SHUT UP! SHUT THE FUCK UP!!" Gyuvin menghempaskan Ricky, sampai pinggangnya terantuk meja. Gyuvin memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing. Jantungnya berdetak sangat kuat, membuatnya sesak. 

Keduanya saling mengatur nafas. Hal yang seharusnya mudah, namunterasa sulit untuk Gyuvin. Ia tidak bisa bernafas dengan normal. Dadanya sakit sekali, telinganya berdengung. Pusing, mual ia sangat mual. 

"Dia gak selamat, Gyuvin.. Lukanya terlalu fatal.. Bahkan kalau dia selamat pun, umurnya gak akan panjang.."

"N-no.."

"He got shot too much.. Darahnya keluar terlalu banyak, pelurunya kena jantung dan organ lain. When the other police got there, it was far too late.."

"Di-dia ada Ricky.. Dia nyata.. Bahkan tadi pagi dia bangunin aku.. He slapped my face. Aku, aku bisa pegang dia, Ricky, he's real!"

"He's not. Those pills you took everyday caused hallucinations, you're just hallucinating, Gyuvin. Maybe you're just slapping yourself back then"

"It's just a vitamin--"

"Gyuvin please jangan kaya gini.. He, Gunwook wouldn't be happy seeing you like this.. He will hate you so so much if you keep being like this.."

"He's real.. The food.. Dia bikin sarapan buat aku.."

"That was Hanbin-hyung.. Tiap hari dia siapin makanan buat kamu. Tapi dari kemarin kamu ngurung diri, gak biarin Hanbin-hyung ngasih makanan baru.. I bet kamu makan makanan basi"

Kembali hening. Tidak ada jawaban dari Gyuvin, matanya kosong. 

"Just go home for now, Gyuvin.. I'll call someone to drive you home"

-------------

 

Gyuvin merasa hampa. 

Gunwook meninggal? Omong kosong. Saat ia membuka pintu, pasti Gunwook akan menyambutnya dengan riang, memberikannya ciuman manis, lalu menyuruhnha makan dan mandi seperti biasa. 

Tapi saat ia membuka pintu, hanya ada keheningan. Bahkan lampunya tidak menyala, padahal ia ingat tadi pagi ia tidak mematikan lampu. 

Atau memang sedari awal tidak pernah dinyalakan? 

"Gunwook?" Tidak ada jawaban. 

"Gunwookie sayang? Kamu dimana?" Masih tidak ada jawaban. 

"Gunwookie aku bawa kue coklat nih! Kalau gak muncul-muncul bakal aku abisin loh!" Hening. 

"Aku juga bawa boneka beruang yang kamu mau! Kamu mau kasih nama gak??" 

 

Ah.. 

 

"G-Gunwookie... Kamu marah sama aku ya.." Gyuvin berdiri lesu.

"Maafin aku yang suka bangun telat.. Maafin aku yang suka minta cium sebelum sikat gigi.. Maafin aku yang selalu lupa buat meriksa tanggal kadaluarsa susu.." Ia menatap boneka beruang di tangannya. Wajah boneka itu entah kenapa terlihat sedih. 

"Gunwook, aku harus apa biar kamu maafin aku? Aku harus apa biar kamu muncul? Bilang aja! Aku bakal nurutin semua kemauan kamu!" Suaranya menggema. Bahkan sudah sekeras itu ia berseru, Gunwook tak kunjung muncul. 

Air mata yang sedari tadi coba ditahan akhirnya mengalir deras membasahi pipi. Gyuvin jatuh terduduk di ruang tengah. Boneka beruang coklat, ia peluk dengan erat. "Maaf-- maafin aku..."

 

"Maafin aku yang gak bisa nerima kematian kamu..."

 

"Aku gak bisa, gak mau.. Kamu, kamu gak boleh pergi.. Harusnya bukan kamu, harusnya kamu nggak-- K-kenapa harus kamu.."

"Aku udah bilang kan, aku benci pekerjaan kamu.. A-aku udah bilang biar aku aja yang kerja, kamu gak usah.. Saving lifes my ass, you can't even save yourself, dummy.."

"Gunwook.. Apa aku harus minum pil lagi biar aku bisa liat kamu.." Gyuvin mengambil botol pil di tas kerjanya. Saat ia buka, ia hanya bisa tertawa getir. 

"Kamu sengaja buang pilnya ya, Gunwookie.."

Kosong. Obat yang padahal baru ia beli kemarin tidak ada isinya. Padahal ia ingat sekali pagi tadi masih tersisa lebih dari setengahnya. 

Gyuvin melempar botolnya asal. Ia menyandarkan diri ke sofa, tangannya mengusak kasar surainya sendiri. "Gunwookie benci aku.. Gunwookie gak mau liat aku lagi.. Gunwookie gak akan dateng lagi.."

Sesaat, Gyuvin mengedarkan pandangannya. Matanya jatuh kepada benda di atas meja. Cutter. Ia mengambilnya. Memperhatikan pisau yang baru kemarin ia ganti dengan yang baru. 

 

"With this, maybe i can meet you faster"

 

Lalu ia mulai mengiris. 

 

---------

 

Saat membuka mata, Gyuvin melihat langit biru dengan awan putih yang terlihat seperti permen kapas. Meraba-raba, ia sadar bahwa dirinya tertidur di atas rerumputan. 

Kok bisa disini.. 

Apa ini mimpi? 

"Udah bangun?" Sebuah suara membuatnya menoleh. Ia mendapati seorang pemuda bersurai merah maroon duduk di sebelahnya. Di tangannya terdapat buku tebal yang membuat Gyuvin bergidik. 

"Maaf ya ikut duduk, soalnya adem disini" Ucap pemuda itu lagi. Gyuvin hanya mengedikkan bahu acuh. Lagipula tempat ini bukan teritorinya, ia kesini karena tempat ini terlihat sejuk. 

Ia butuh tempat sejuk untuk menenangkan diri karena pertengkarannya dengan Ricky beberapa jam yang lalu. Tapi ya, karena tempat publik ia mau tidak mau harus berbagi dengan orang lain. Semoga saja pemuda ini tidak mengajaknya mengobrol--

"Awannya bagus ya? Keliatan enak gitu, kaya permen kapas" Dang. Sepertinya pemuda ini senang mengobrol. Gyuvin juga senang sih, tapi hari ini suasana hatinya sedang tidak bagus. 

"Iya" Jadilah ia hanya menjawab seadanya. Tapi pemuda itu sepertinya tidak peduli pada nada ketusnya, dan kembali fokus pada bukunya. Melihat itu, Gyuvin memilih untuk kembali tidur. 

"Akhir-akhir ini banyak isu bunuh diri ya.." Gyuvin kembali membuka matanya. Ia mengernyit bingung. Tiba-tiba sekali membicarakan hal ini, ke orang yang baru ditemui pula. 

"Entah karena hutang pinjol, karena dibully, karena udah capek aja hidup di dunia gila ini. Yang paling banyak tuh karena cinta"

"Oh ya?"

"Iya. Kaya ditinggal mati sama pacar, jadi mereka bunuh diri biar bisa ketemu pacarnya lagi. Those kind of things"

"That's dumb. Bukannya kata guru agama, orang yang bunuh diri tuh gak diterima akhirat? Boro-boro bisa ketemu dong kalo gitu?"

Pemuda itu mengedikkan bahu. "Good point, i guess." Hening sejenak. Baru saja Gyuvin memejamkan mata, pemuda itu kembali membuka mulutnya. 

"What do you think about reincarnation?" 

Gyuvin menghembuskan nafasnya kasar. Benar-benar tidak dibiarkan istirahat kah dirinya ini? 

"Didn't like to think about it that much, too complicated.. Tapi kalau emang ada, ya good for us, i guess..?"

"Kamu kalau reinkarnasi mau jadi apa?"

"Emang boleh request ya?"

"If"

"Hmm.. Mungkin jadi anjing mahal? Like, no school, no homeworks, just woof woof?"

Pemuda itu tertawa pelan dan Gyuvin merasa nafasnya tercekat. Perutnya terasa geli, apa ini efek dari dirinya yang belum makan siang?

"How about you then?"

“For me, hmm.. Honestly, being a dog doesn’t sound so bad..? Maybe a bear or cat would do too for me.. Asalkan jangan jadi burung aja sih, I’m scared of those furry with wings, especially pigeons..”

Okay, TMI King. 

"Bruh, lame.. By the way nama lu siapa deh? Gua Kim Gyuvin"

"Gunwook, Park Gunwook."

"Oke Gunwook, tolong jangan yapping lagi ya. Gua ngantuk, mau tidur"

"Iya yaudah sana tidur"

Gyuvin kembali memejamkan matanya. Samar-samar ia mendengar Gunwook bersenandung, yang entah kenapa membuatnya tenang dan semakin mengantuk. 

Lima menit kemudian, Gyuvin kembali masuk ke alam mimpi. 

 

-------------

 

Terbangun kedua kalinya, kali ini Gyuvin disambut oleh wajah khawatir kedua orang tua yang seharusnya tinggal jauh darinya sekarang. 

Apa ini juga mimpi? 

Ia mengernyit, berusaha membiasakan matanya. Saat dirasa bisa membuka mata, ia kembali melihat wajah kedua orang tuanya dan juga Hanbin. 

Bukan mimpi.. 

Saat ingin bangun, tubuhnya langsung ditahan. Ia yang tidak punya cukup tenaga untuk menahan pun, kembali berbaring. Ia coba mencoba mendengar perkataan sang ibu, tapi telinganya tidak bisa menangkap apapun karena masih berdengung. 

"---lu, ma--h lemah---"

Apa katanya? Lemah? Siapa yang lemah? Gyuvin? Kata lemah dan Gyuvin tidak bisa disatukan tahu! 

Omong-omong ia tidak melihat Gunwook dimanapun.. 

"M-ma.." Tenggorokannya terasa kering sekali. Ia ingin minum, tapi terlalu malas untuk bergerak. 

"G-Gunwookie..." Gumamnya. Seketika semua suara terhenti. Kedua orang tua yang tadinya mengobrol dengan dokter, dan Hanbin yang sedang menuangkan air, kini menatapnya. 

"Gunwookie mana... Kak Bin...?" 

Hanbin terlihat bingung. Mulutnya terbuka sejenak sebelum kembali menutup. Beralih ke orang tuanya, mereka berdua hanya menatapnya dengan pandangan menyedihkan. Bahkan sang ibu sudah menangis. 

"Gunwookie.. Mau Gunwookie.." Gyuvin mulai bergerak gelisah. Ia mencoba untuk mengangkat tangan yang terasa sangat berat, tangan satunya bahkan terasa perih. Sebenarnya apa yang terjadi? Dimana Gunwook? Ia tidak ingat apapun. 

"Gunwookie, Gunwookie mana.. Gunwookie.." 

"Gyuvin, Gyuvin tenang---"

"Gak mau.. Mana Gunwookie??"

"Hanbin, tolong tahan tangannya!"

Gyuvin merasa perih di lengan, lalu pandangannya menggelap. 

 

-------------

 

Gyuvin kembali terbangun. Kali ini bukan terbaring di ranjang rumah sakit ataupun rerumputan, melainkan di atas kasur miliknya dan Gunwook. 

Ia baru sadar bahwa kepalanya berada di atas paha Gunwook yang tengah membaca novel favoritnya. Surainya tak lagi merah, namun warna hitam. Seperti Gunwook yang sudah resmi menjadi miliknya. 

 

Ini benar Gunwooknya.. 

 

Ah, apa ini surga? Atau mimpi? Kalau ini mimpi, tolong jangan pernah bangunkan Gyuvin lagi.. Tolong biarkan Gyuvin tertidur beralaskan paha Gunwook untuk selamanya.. 

"Udah bangun?" Suaranya.. Betapa Gyuvin merindukan suaranya. Tidak, semuanya. Ia merindukan semua tentang Gunwook. 

Gyuvin meraih tangan yang sedari tadi membelai surainya, kemudian ia genggam. Hangat, suhu tubuh Gunwook yang normal. 


Nyata, semua ini nyata. 

 

Gunwooknya kembali. Ia tidak pernah meninggalkan. Semuanya hanya mimpi buruk Gyuvin. Gunwooknya masih ada, masih hidup, masih sehat. 

"Gunwookie aku mimpi buruk--"

"Gyuvin, kamu bandel banget sih? Kenapa coba nyakitin diri sendiri kaya gitu? Ngiris pergelangan pakai cutter.. Kamu mau aku marah, hah?"

Bukan mimpi.. 

"Nggak, gak mau! Aku cuma.." Gyuvin meneguk ludahnya kasar. Ia mengalihkan pandangan, tidak berani menatap mata tajam sang kekasih. "Aku cuma mau ketemu kamu.. Lebih cepet.."

"Gyuvin, aku tuh bisa nunggu tau.. Mau selama apapun, aku akan tetep sabar nungguin kamu.. Jadi kamu gak usah cepet-cepet dateng kesininya, ya?"

"..."

"Gyuvin.. Hati aku sakit banget ngeliat kamu hidup kaya gitu.. Makan dikit, tidur kurang, membusuk di kasur doang.. Kamu kaya zombie tau gak? I hate it so much Gyu.. I want to say it's killing me, but I'm already dead, so i guess i got killed twice"

Rahang Gyuvin mengeras. Ia meremat kuat tangan Gunwook. 

"Don't even joke about that thing, Gunwook."

"M-maaf.. But you got my point, kan?"

"Iya.." Mata keduanya bertemu. Ah, mata Gunwook sudah berair, sebentar lagi pasti tumpah.. 

"Iya, maaf ya.. I just.. It doesn't feel real.. One night you were in my arms. We were hugging, kissing.. And then the next day you're just, gone.. Your body no longer warm, lifeless, no longer smiling like usual.. I--" Mata Gyuvin ikut memanas. 

"I can't accept it.. Gak akan bisa, sampai kapanpun gak akan.. Aku gak cukup kuat.. Jadi, jadi jangan paksa aku buat lupa, Gunwook, aku gak mau lupain kamu.." 

"Gak ada yang nyuruh kamu buat lupa.. Aku cuma gak mau kamu mikirin hal ini terus, anggap ini sebagai bagian dari bad memories--"

"How could i?? You were my life, my world, my everything! Pas kamu mati, bagian dari aku juga mati Gunwook! How can you be so selfish saying those things--"

Seruannya dipotong dengan benda kenyal nan lembut. Bibir Gunwook yang ia rindukan. Gyuvin menarik kepala Gunwook, memperdalam ciuman mereka. Basah, lengket, terasa asin, tapi ia tidak peduli. Ia rindu, sangat rindu. 

Ia tidak ingin kembali, ia ingin tetap disini bersama Gunwook. Kissing him, hugging him, making love with him like he used to. This is his heaven, his paradise. Siapapun yang paksa Gyuvin keluar dari sini, they're a devil. 

Saat ciuman mereka terlepas, Gunwook memberikan senyum yang manis namun tidak sampai ke matanya. Gyuvin tahu betul apa yang dipikirkan oleh Gunwook, and he hates it. 

"If you love me, please let me go, Gyuvin.." 

Gunwook is the devil.. 

 

------------

 

'Hello Gyuvin, this is Ricky, your best friend (i hope i still deserve that title) 

First of all, aku mau minta maaf atas semuanya. About the hurtful words, the ignorance, the everything. I sincerely apologize from the bottom of my heart. I didn't meant to, i don't even want to do it.. But when i saw you still hurting yourself until this day, i just saw red. I should've just talk it out, but you know i was never good at words. 

You know Gyuvin, we're the same after all.. 

Back then, i thought you're taking the news better than me.. I thought you were stronger than me. 

Aku yang depresi ngurung diri. Aku yang bahkan gak bisa makan, gak bisa tidur, gak bisa ngelakuin apa-apa. I feel like a shell, only a shell with nothing inside.. Empty.. Tapi kamu, kamu masih bisa senyum, masih bisa menghadap para tamu, masih bisa ngobrol, cengkrama bareng mereka. Aku sempet pikir, apa kamu sebenarnya gak sesayang itu sama Gunwook? 

But my view changed when i saw you crying your heart out in a closed place, when no one is there to see.. You were screaming, heaving, throwing up, blaming yourself for something you didn't do.. You even hurt yourself at some point, and it pained me so much, Gyuvin. It's not like you at all, it's shouldn't be.. You shouldn't be like that.. You should be smiling, bright as the sun like usual. And yet.. 

You know Gyuvin, when i say i hate Gunwook, i didn't meant any of it at all. How could i, when he's actually my first love, just like yours. 

I just, hate that he has such a big impact on us. Dia datang ke dunia kita tanpa diundang, terus pergi gitu aja tanpa diminta. He's a bit selfish don't you think? 

If you're healed, if you're finally letting go, let's go to his resting place. Dia pasti bakal seneng banget ngeliat kamu disana, Gyuvin. And maybe, he'll finally rest in peace. 

Call me whenever you're ready, okay?'

-Ricky- 

 

-----------

 

"What a beautiful grave.."

"Cocok buat dia kan? A beautiful person deserves beautiful things"

Gyuvin mengangguk setuju. Ia menatap kuburan yang terlihat sangat mewah dan terawat. Ia sangat berterimakasih pada Ricky yang sudah membuat dan rajin merawatnya.

"Thank you for this"

"Don't mention in. I'm just pampering my  crush. Trying to get those plus points you know?" Keduanya tertawa. Beberapa bulan lalu mungkin Gyuvin akan memukul Ricky karena bergurau tentang hal seperti ini. 

"Kayaknya kalian butuh waktu berdua, so I'll wait in the car, yeah? Call me if you need anything"

"Okay, thanks again, ah no, a lot actually.. And I'm sor--"

"Shh, don't. Not in front of him. Kita omongin lagi nanti, setelah dia tenang." Setelahnya Ricky pergi, meninggalkan Gyuvin dan Gunwook. Well, his grave. 

 

It's real, huh.. 

 

Gyuvin duduk di sebelahnya. Berdehem sejenak, sebelum mulai berbicara.. 

"Gunwookie, maaf aku baru bisa dateng sekarang ya.." Ia mengusap nama Gunwook yang tertera di nisan. 

"It's been like what? A year? Half a year? Two? I don't know honestly, I've lost count or maybe I'm not counting at all, dunno.."

"Sebenernya kerasa pendek juga sih, soalnya kamu selalu dateng di mimpi aku.. And my hallucinations consist of you, jadi ya aku gak tau pasti udah berapa lama kamu ninggalin aku sebenernya.."

"Gunwookie, aku udah sehat sekarang-- kayaknya sih..? Aku udah mulai bisa makan banyak lagi, tidur aku juga mulai teratur lagi, dan aku juga mulai ngegym lagi.. Sepi sih, gak ada kamu yang nyap-nyap kaya biasa" 

"Aku masih teledor.. Sumpah aku tersiksa banget gak ada kamu tuh.. Gak ada yang bangunin, gak ada yang ngingetin buat makan atau tidur.. Pokoknya sepi banget, but I'm trying my best, so i deserve pujian, dari kamu"

"Jujur, aku mau liat kamu terakhir kali.. Sekali aja and then I'll let go for real. Ngelunjak gak sih kalau aku minta hal kaya gitu?" Suara kicauan burung seakan membalas ucapannya. Ia melihat ke atas pohon, mendapati burung merpati putih yang menatapnya lekat. Gyuvin tertawa pelan. 

"Aku jadi inget obrolan kita tentang reinkarnasi.. Ironis banget gak sih kalo kamu reinkarnasi jadi hewan yang kamu takutin?" Matanya tidak terlepas dari sang merpati. Entah kenapa merpati satu itu terlihat lebih indah dari yang lain. Apa memang itu Gunwook? 

"I do hope kamu reinkarnasi jadi manusia lagi.. But eh, maybe when i die, i will ask God to turn me into a pigeon too, so we can be a pigeon couple! What do you think?" Merpati itu berkicau keras, lucu sekali. 

"Mau jadi apapun itu.. Aku harap kita selalu bersama.. Selalu sepasang, gak pernah kepisah.." 

Gyuvin bercerita banyak hal pada Gunwook, sampai tidak dirasa matahari sudah mulai turun. Merpati yang tadi hinggap di pohon sudah pergi, bersama dengan merpati yang mungkin adalah pasangannya. 

"Itu dulu aja deh Wookie. Kalau aku ceritain semuanya bisa-bisa aku nginep disini" Gyuvin berdiri, ia membersihkan celananya. Sebelum pergi, ia menaruh boneka beruang, boneka anjing golden retriever, dan boneka kucing calico, juga sepiring choco pie kesukaan Gunwook. 

"Ini temen-temen kamu, sama cemilan juga. Jangan dimakan semua langsung ya! Nanti perut kamu sakit-- Eh, masih ada rasa sakit gak ya di surga? Gak tau deh, yang penting jangan serakah! Soalnya aku gak bisa tiap hari kesini buat refill!" 

Gyuvin mengusap nisan itu terakhir kali. 

 

"Dah Gunwookie, sampai ketemu lagi ya~ Jangan lupa dateng ke mimpi aku malem ini ya~" 

Saat Gyuvin berbalik dan mulai menjauh, langkahnya terhenti saat ia merasakan sensasi hangat membungkus tubuhnya. Rasanya seperti pelukan.. 

 

Pelukan Gunwook.. 

 

Angin yang berhembus pun seakan berbisik padanya. Seakan membantun menyampaikan pesan sang kekasih yang akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. 

 

'I love you, Gyuvin.. Always.. Forever..'

 

"Love you too, Gunwookie, always and forever.."

 

 

 

Notes:

Wrote this in like 5 hours i think..? Cried a lot. I hope you cry too heheh

Yapping bareng :
(☞ᐛ)☞ Twitter