Actions

Work Header

tak bisa hatiku menafikan cinta

Summary:

Yuuji tahu, rasa pedas sambal bukanlah satu-satunya yang membuat dadanya terbakar siang itu.

#Octoberabble: Day 3: Common Sense

Notes:

Sahabat Jadi Cinta by Zigaz.

Work Text:

Kantin kampus siang itu penuh sesak dengan barisan mahasiswa kelaparan. Suara piring dan sendok yang beradu, gesekan bangku yang diseret, dan gosip terbaru tiap jurusan saling bertumpuk menjadi satu riuh, mengisi udara panas yang kian menekan. Di sudut kantin, speaker tua tak melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi pada padatnya suara, memutar lagu-lagu band Indonesia tanpa henti dengan harapan setiap iramanya dapat berkontribusi untuk menahan rasa kantuk yang mengintai setelah makan siang.

Di meja nomor enam, Nobara duduk di seberang Yuuji. Rambut sebahunya bergoyang lembut saat ia sibuk mencampur suwiran ayam dengan nasi bakar. Saat dirasa pas, ia meniupnya pelan lalu memakan satu suapan besar sebelum menyeruput es teh manis dengan tergesa.

“Pedes banget, gila,” gerutuan Nobara tidak sebanding dengan wajahnya yang berseri meskipun matanya sedikit berair. “Tapi enak! Enak banget! Udah gue bilang nasi bakar di kantin ini, tuh, yang terenak sedunia!”

Yuuji terkekeh sambil menyendok makanannya. Tidak seperti Nobara, ia memiliki toleransi pedas yang lebih tinggi. “Harusnya gak lo campur semuanya tadi, biar sambalnya bisa dipisahin dikit kalau kepedesan.”

“Gak, gak!” Nobara menggeleng cepat. Ia menorehkan senyum puas saat berhasil menelan satu suapan lain. “Kalau gak pedas, gak nagih. Tenang aja, gue kuat!”

Yuuji hanya menggeleng kecil, tawa ringan lolos dari bibirnya. Tetapi, saat ia berniat untuk membalas santai dengan maksud mengejek, pandangannya tanpa sengaja berhenti pada wajah Nobara. Bukan pandangan singkat biasa. Pandangan ini lebih lama dari seharusnya. Lebih dalam, lebih intens dari yang ia harapkan. 

Sudah bertahun-tahun mereka berteman, dan Yuuji sudah tahu Nobara itu adalah gadis yang cantik. Ia selalu melihatnya begitu, pun si gadis tidak pernah lupa untuk mengingatkan dunia betapa menawan dirinya. Nobara selalu cantik dengan banyak cara; cantik dengan keras kepala dan tajam, tapi juga penuh dengan cahaya. Kecantikannya berani, tangguh, dan percaya diri, meski Yuuji tahu kapan air mata bisa lolos dari mata ambernya.

Namun, entah kenapa di siang terik ini, di tengah-tengah keramaian kantin yang sesak, di meja kayu yang beberapa spot catnya sudah mulai memudar, bahkan dengan ekspresi menahan pedas yang sangat kentara, Yuuji melihat Nobara dengan cantik yang berbeda. Cantik yang lebih dekat dan lebih hidup bersamaan dengan degupan jantungnya yang kian cepat.

Dan tepat saat itu, suara lagu yang diputar oleh speaker di sudut mengiris kebisingan kantin.

“Tuhan, tolong aku, jelaskanlah, perasaanku berubah jadi cinta…”

Seluruh keramaian kantin mengecil menjadi latar samar saat bait lagu Sahabat Jadi Cinta milik Zigaz jatuh tepat ke telinga Yuuji, menamparnya tepat di wajah, dan jatuh telak ke dadanya.

Sesak. Panas.

Yuuji buru-buru mengalihkan pandangan saat atensi Nobara kembali padanya. Ia berdeham kencang, menatap apa saja selain wajah di depannya, lalu buru-buru memakan suapan baru. Nasi bakar yang gurih seketika menjadi hambar di mulut. Ia terdesak, menelan suapannya dengan gegabah, seakan dengan itu semua pikiran yang tiba-tiba menyeruak dapat ikut tertelan. Pikiran tentang bagaimana Nobara yang terlalu indah untuk sekadar disebut teman.

Sialnya, ia malah tersedak. 

Ia memukul dadanya sendiri, suara batuknya mengundang gerakan refleks Nobara untuk berdiri dan menyodorkan gelas es teh manis. Nobara menepuk punggung lelaki itu perlahan saat lelaki itu meneguk minumannya. Wajah Yuuji memerah, bukan hanya karena tersedak, tetapi juga karena malu. 

“Pelan-pelan makannya, Ji! Laper banget, ya, lo?” tegur Nobara sebelum duduk kembali.

Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya mengibaskan tangannya sambil tersenyum kaku. Air mata kecil muncul di sudut matanya akibat batuk. Nobara menatapnya curiga, tapi akhirnya mengedikkan bahu dan kembali pada nasi bakar miliknya.

Yuuji juga kembali melanjutkan makannya. Lirik lagu tadi masih terngiang di kepalanya meski sekarang lagu sudah berganti. Ia menunduk, menatap piring dengan nanar, menyalahkan segalanya pada nasi bakar cumi tidak bersalah yang ia makan siang ini. Padahal ia tahu, rasa pedas sambal bukanlah satu-satunya yang membuat dadanya terbakar siang itu.

Yuuji menyuap suapan terakhirnya, berharap rasa kenyang dapat membawa akal sehatnya kembali dan menenggelamkan perasaan yang bertumbuh.