Actions

Work Header

under the northern downpour

Summary:

Jatuh cinta itu tidak seindah seperti dalam imajinasi.

#Octoberabble: day 2 - never more.

Notes:

This is based on the tragedy of Qichi village in canon but I make my own version of it and I wrote this in rush because I gave up my previous wip for this prompt. I want it longer but this was supposed to be a drabble... not quite satisfied but at least I made it.

Work Text:

Matahari terbenam dan kembali tertidur untuk sementara waktu di tempat peristirahatannya; menggantikan kanvas langit biru menjadi hitam kelam, seolah menggentayangi seluruh penjuru negeri oleh kemungkinan tragedi lain yang bisa terjadi kapan saja karena ulah pihak yang memiliki ambisi untuk mempercepat kedatangan Lament berikutnya. Selama berjam-jam hujan lebat masih mengguyur Jinzhou dari berbagai sisi, air mengalir ke setiap sudut kota hingga beberapa pemilik tenan malam mengeluh karena kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengais rezeki.

Tapi tidak dengan Jiyan.

Kata 'mengeluh' seperti tidak pernah ada dalam kamus sang jenderal muda walau titik-titik air menghujam tubuhnya secara membabi buta, pria itu tak gentar dari posisi berlututnya di lantai Knell Square; kepala yang tertunduk, mata terpejam, mulut terkunci tanpa mengeluarkan satu patah kata.

 

Jiyan! Sudah banyak korban jatuh!

Mereka menyerang dari segala sisi, kita kehabisan prajurit dan tidak punya banyak waktu untuk meminta bala bantuan, cepat mundur!

Jenderal! Semua penduduk desa sudah terevakuasi!

Saat semua prajurit mundur dan warga sipil menghilang dari pandangan matanya, Jiyan kembali berlari ke dalam desa untuk mencari satu orang yang sedari tadi menghilang dan tidak bisa ia temui.

Dari balik asap abu pekat yang membubung tinggi beberapa puluh meter di hadapan Jiyan, Calcharo muncul. Kondisi tubuh dan skleranya menghitam; menjalar hingga salah satu sisi wajah dengan duri tajam mencuat dari dalam kulit, kuku berubah menjadi cakar tajam, serta tacet core di dadanya berpendar liar. Napasnya tampak tersengal dengan darah segar meluncur bebas dari kulit kepala, mengotori rambut putih panjangnya.

Overclocking.

"Calcharo!"

Jiyan berteriak dengan keras, suaranya goyah oleh ledakan emosi yang tidak terkontrol.

Tebasan tidak berhenti bentrok seiring tombak milik Jiyan berhasil menghalau serangan bertubi-tubi dari Tambourinist dan Electro Predator yang mengelilinginya namun sang jenderal tidak menyadari ada Fractsidus Cannoneer yang menargetkan meriamnya ke arah Jiyan dari atas atap, siap untuk menembak.

Mendengar namanya dipanggil, mata Calcharo tertuju penuh harapan pada Jiyan selama beberapa saat sebelum ia menyadari keberadaan bedebah Fractsidus di atas atap sebuah rumah setengah hancur. Dengan adrenalin untuk membunuh belum mereda, Calcharo berteriak menyuruh Jiyan segera bersembunyi dibalik tumpukan peti alumunium. Tepat saat tembakan mengenai peti, Calcharo segera bergerak meringkus manusia setengah monster itu dan melenyapkannya.

Setelah kembali menapak tanah, Calcharo berdiri seraya meringis kesakitan seakan kulitnya perlahan dirobek oleh kekuatan tak kasat mata. Kondisinya saat ini membuatnya kehilangan setengah kesadarannya untuk berpikir jernih. Cepat atau lambat ia akan berakhir menjadi tacet discord yang mengambil alih tubuhnya. Disaat bersamaan, Scar dalam wujud kambingnya akan segera bangkit dari serangan fatal yang sebelumnya Calcharo berikan untuk mengulur waktu.

Hanya ada satu keputusan yang harus Calcharo ambil dalam kondisi genting seperti ini.

Ketika Jiyan hendak mendekati Calcharo guna mengajak pria itu untuk keluar dari desa, sang tentara bayaran menggelengkan kepalanya.

"Pergi, Jiyan." katanya, suaranya serak. "Pergi dari sini dan selamatkan dirimu."

"Kau gila?" Jiyan memandangnya tidak percaya. "Aku bertanggung jawab dalam misi ini, tidak mungkin aku biarkan kau melawan dia sendirian!"

Calcharo mendesah, kesal dengan mode keras kepala sang jenderal.

Suara dentuman keras di tanah menyadarkan mereka bahwa di balik asap pekat itu, ada bahaya besar yang bisa mengancam Jinzhou jika mereka tidak segera bertindak.

"Pergilah!" teriak Calcharo, urat nadi tercetak di sisi wajahnya. "Orang di luar sana lebih membutuhkan dirimu dibandingkan aku. Cepat!"

"Kau akan mati dalam kondisimu saat ini tanpa ada aku di sampingmu, Calcharo!"

"Jenderal, dengan penuh hormat, pergi sekarang juga sebelum aku kehilangan kesadaran dan membunuhmu." Calcharo mengancam dengan gertakan walau muncul rasa pahit saat kalimat itu keluar dari mulutnya. "Dengan sisa kekuatanku, biarkan aku yang mengalahkan Scar sebagai tugas terakhirku memimpin Ghost Hound dibawah komandomu selaku jenderal dari Midnight Rangers."

Tetesan air tanpa disangka mengaliri kedua pipi Jiyan, netranya memandang Calcharo dengan getir.

"Calcharo..." lirih Jiyan, dadanya terasa sesak untuk mengatur napasnya. "Aku... mencintaimu."

Kalimat itu meluncur begitu luwes, berkebalikan dengan bibir Jiyan yang bergetar.

"Aku... juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu," ucap Calcharo, rahangnya mengeras, berharap ia bisa memeluk Jiyan untuk pertama dan terakhir kali tetapi dentuman dari tanah semakin dekat dan keras, sudah tidak ada waktu yang mereka miliki di tangan mereka.

"Pergi, sekarang!"

Dengan berat hati, Jiyan berlari menjauhi desa yang sudah hancur, menjauhi Calcharo. Di tengah perjalanannya, pandangan Jiyan kabur karena hujan deras disertai air mata yang tidak ada tanda untuk berhenti menetes dari pelupuk matanya mengakibatkan sang jenderal beberapa kali terjatuh karena tersandung batu dan akar pohon yang mencuat dengan liar.

Calcharo terus bertarung dengan Scar semenjak kepergian Jiyan dari pandangannya. Saat benak Calcharo memutar memori wajah Jiyan ketika sang tentara bayaran mencuri pandang ke arah sang jenderal di beberapa momen kebersamaan mereka, Calcharo merasakan tubuhnya diangkat ke atas sebelum dilempar ke tanah dengan kuat. Calcharo mendesis lalu tertawa pada diri sendiri, darah kental mengucur dari mulut. Saat hendak bangkit, suara retakan tulang terdengar jelas di telinga. Di depan Calcharo, sosok Scar berdiri; tangannya mengayun guna melayangkan serangan mematikan yang terakhir.

"Hah," ekspresi Calcharo mencemooh. "Dasar bajingan yang merepotkan."

Dirasa sudah berlari cukup jauh dari desa Qichi, Jiyan membalikkan tubuhnya, menatap desa untuk terakhir kali dan disambut oleh ribuan kilatan petir di langit; membuat gelapnya malam berubah menjadi benderang layaknya siang hari selama beberapa saat disusul ledakan besar dan suara guntur yang memekakkan telinga. Tubuh Jiyan terlempar beberapa meter akibat gelombang kejut dari pelepasan energi yang masif, dampaknya sang jenderal tidak sadarkan diri di bawah hujan yang tak ada hentinya.

Tragedi di desa Qichi saat itu hanya memakan satu korban jiwa dengan ratusan warga sipil dan sebagian prajurit juga anggota Ghost Hound yang terluka.

Satu korban tewas.

Seseorang yang tidak pernah Jiyan kira akan mengisi hatinya.

Dalam keterdiamannya, air mata Jiyan bercampur di bawah limpahan hujan deras. Rasa bersalah, kecewa, marah, sedih menggerayangi benaknya setiap saat semenjak tragedi tersebut. Pemikiran 'seandainya' tidak pernah berhenti menghantui sebagai pengingat alam bawah sadarnya.

 

"Calcharo, apakah kau tertarik menjalani hubungan?" tanya Jiyan tiba-tiba, mereka duduk berdampingan di atas hamparan rumput hijau yang ditumbuhi berbagai macam bunga dengan Jiyan duduk bersila dan Calcharo menaruh kedua sikut di lutut sebagai tumpuan.

"Tidak."

"Cepat juga," Jiyan tersenyum kecil. "Boleh aku bertanya kenapa kau tidak tertarik?"

"Hidupku dibayangi kematian, lagipula aku tak akan bisa membuat pasanganku bahagia dengan kehidupanku seperti itu."

"Jadi begitu."

"Bagaimana denganmu?"

"Hm?"

"Apa kau tertarik?"

Jiyan terkekeh pelan. "Sayangnya orang itu sepertinya tidak tertarik jadi aku tidak tahu."

"Seorang jenderal sepertimu ternyata bisa jatuh cinta, huh."

Jiyan tersenyum sebagai balasan.

 

Mungkin Jiyan sedikit bodoh telah melabuhkan cintanya pada seorang tentara bayaran yang berani mempertaruhkan nyawanya sendiri dan menggunakan kematian seolah catur yang dimainkan di meja kehidupan. Walau begitu Calcharo mampu membuat Jiyan bahagia karena cintanya terbalas, tetapi tentu saja ada harga yang harus Jiyan bayar.

Tak pernah lagi bertemu Calcharo.

Jemari Jiyan yang berkeriput akibat air hujan mengusap kalung berbentuk kepala anjing yang ia pegang erat. Benda itu adalah pemberian dari Calcharo untuk Jiyan ketika mereka menonton bersama kembang api di Festival Mengejar Bulan dua musim panas lalu—sebagai tanda terima kasih Calcharo kepada Jiyan karena sang jenderal mengijinkan Ghost Hound untuk berdiam di Jinzhou, satu-satunya kenangan yang bisa Jiyan rasakan dengan sentuhan tangannya. Sebelum bangkit dari posisi berlutut, sang jenderal mengecup kalung dengan penuh kasih sayang, bibirnya melengkung membentuk senyuman.

Beristirahatlah dengan damai, Calcharo. Semoga Jué berbaik hati untuk kembali mempertemukan kita di dalam mimpiku.

Series this work belongs to: