Work Text:
day 5 of suonirei week
— red threads of fate
ia tak menyangka sama sekali kalau kemampuan yang ia anggap tidak ada gunanya ini, akan berguna juga pada saat yang tepat.
suo hayato, di musim gugur kelas 1 SMA, mulai bisa melihat benang merah milik orang lain dengan jelas.
ia juga bisa melihat benang merah milknya sendiri, namun sayangnya (atau untungnya), benang merah suo tidak terhubung dengan siapapun.
oh, selain melihat benang merah milik orang lain, suo juga bisa menyentuh benang-benang merah tersebut. sesekali, jika benangnya terlalu kusut, suo secara sukarela merapikan benang yang kusut! anak yang baik, bukan?
dengan kemampuannya yang aneh-tapi-nyata ini pula, suo ingin memastikan suatu hal — mengecek orang seperti apa yang terhubung dengan benang merah orang yang ia suka!
sebagai seorang teman yang baik, ini merupakan hal yang setidaknya bisa ia lakukan untuk memastikan orang yang ia suka berakhir dengan orang yang tidak neko-neko, apalagi anaknya kurang peka kalau sudah menyangkut topik romansa, gawat kalau berakhir dengan orang yang salah, 'kan?
sore itu, tempat, waktu, dan keadaannya sangat mendukung untuk suo melakukan pengecekan benang merah.
kelas sudah kosong, yang tersisa hanya nirei yang tengah tidur lelap beralaskan kedua lengannya yang diletakkan di atas meja dengan buku catatannya dibiarkan terbuka dan tergeletak begitu saja.
tidak ada jadwal patroli hari ini dan mereka bisa pulang lebih awal, tapi murid kesayangannya itu malah memilih untuk istirahat di kelas — seberapa dalam cinta nirei untuk furin, hm?
matahari sore menyelinap dari antara gorden yang hanya ditutup setengah, menyinari nirei dengan sedikit warna oranye hangat — sangat cocok untuk nirei.
benang merah milik nirei terjuntai panjang ke lantai. benang itu tipis, terlalu tipis, bahkan suo merasa kalau tipisnya melebihi sehelai rambut pada umumnya.
sejauh yang suo lihat, benang merah yang tipis berarti masing-masing dari pemilik belum pernah bertemu, jarak terlampau jauh, atau minim interaksi. sembari memandang lekat benang merah nirei, suo masih tidak punya petunjuk mengenai alasan apa yang membuat benang merah milik nirei dengan belahan jiwanya setipis ini.
'benang punya nire-kun betul-betul tipis, kalau benang merah lain bisa kubuat rapi kembali, maka mungkin...'
digelapkan oleh rasa suka yang kepalang terlalu dalam, suo hendak melakukan apa yang selama ini sempat mampir beberapa kali dalam benaknya.
kali ini suo beranikan diri untuk menyentuh benang merah tipis tersebut, penuh hati-hati sambil menahan nafas sampai yang bisa suo dengar hanyalah dengkuran kecil milik nirei.
suo bukan orang yang sepenuhnya baik.
sedikit benang merah suo gulung ke jari telunjuknya dan demikian pula ia lakukan pada jari telunjuknya yang satu lagi. setelah dirasa benang itu sudah cukup kencang, suo pun menarik masing-masing telunjuk ke arah berlawanan.
suo memutus benang merah milik nirei tanpa tahu siapa yang memiliki takdir jadi pasangan nirei.
ia merasa itu hal yang tidak perlu, kalaupun ia tahu siapa orangnya, suo pasti akan melakukan hal ini juga.
'maaf, nire-kun.'
suo mengambil ujung dari benang merah miliknya sendiri yang belum terhubung oleh siapapun dan mengikatkannya dengan milik nirei. satu simpul tidak cukup untuk sekedar memastikan benang merah mereka sudah terhubung, maka suo berikan dua simpul untuk nirei.
'maaf aku harus serakah kalau sudah menyangkut kamu, nire-kun.'
suo mengusap pelan punggung nirei, membangunkan sang 'putri tidur' dari tidur singkatnya.
"...mmh?"
"nire-kun, ayo pulang, udah sore, lho."
seketika nirei segera berdiri, melihat sekeliling kelas yang sudah kosong dengan mata membelalak.
"a-astaga, aku ketiduran?? suo-san kenapa ngga bangunin aku??"
"eeh, aku aja baru balik ke kelas, terus langsung bangunin nire-kun."
"oh... makasih..."
"mau pulang bareng?"
"ah, boleh! tapi aku mau mampir beli kroket dulu, suo-san, gapapa?"
"ngga masalah~"
bermain dengan takdir tidak jadi masalah bagi suo asalkan waktu yang ia miliki bisa diulur lebih lama saat bersama nirei.
•••
ada yang aneh dengan diri nirei akhir-akhir ini.
entah dirinya yang jadi aneh, atau memang cara kerja semesta jadi aneh untuk seorang nirei.
ada rasa hangat yang ia rasakan saat bersembunyi di belakang suo sambil meremat gakurannya.
ada detak jantung yang ia rasa terlalu berisik kala jarak suo terlalu dekat dengan nirei saat mengecek ada atau tidaknya luka setelah mereka melakukan latihan bersama.
ada sedikit ruang hampa yang ia rasakan saat tidak satu kelompok patroli dengan suo — hanya untuk bertemu kembali dengan suo dan seketika ruang hampa tersebut seolah terisi penuh kembali.
tanpa sadar, nirei lebih sering membuka halaman tentang suo pada catatannya, sesekali menuliskan hal remeh temeh sampai tahu-tahu dua lembar catatan sudah penuh dengan informasi soal suo yang mungkin orang lain juga tahu.
oh, tingkat nirei berpapasan dengan suo di sekitar makochi pada akhir pekan saat mereka tidak janjian pun juga meningkat secara signifikan.
kenapa seketika suo jadi sering muncul di pikirannya?
apa nirei menyukai suo, lebih dari sekedar teman?
yah, kalau dipikir dan dilihat lagi, suo memang jauh lebih toleran dan sabar dengan nirei, sayangnya nirei baru sadar akhir-akhir ini.
'...akihiko, ngga boleh. dia temanmu, ini pasti cuma fase. suo-san 'kan memang punya kharismanya sendiri walau kamu sendiri udah tahu anehnya dia kayak gimana...'
'lagipula... semisal perasaan kami sama pun, pasti jomplang banget antara aku dan suo-san. kasihan suo-san.'
cenat-cenut terasa oleh nirei, ia paham kalau ia sedang menyiksa diri sendiri dengan memberikan kalimat yang berkebalikan dengan apa yang ingin ia percaya.
'...kalau memang takdir memungkinkan, mungkin aku bisa berharap.'
•••
"lho, suo-san?"
"oh? halo, nire-kun."
doa nirei dikabulkan lewat jalur kilat, kalau disebut kebetulan pun, ini terasa seperti kebetulan yang direncanakan.
sabtu itu, nirei ingin keluar membeli buku catatan yang baru, namun terdistraksi dan malah melipir ke kafe yang punya menu musiman baru.
"akhir-akhir ini, kita pasti selalu papasan, ya, suo-san."
"hm? 'kan kita sekelas, jadi pasti selalu ketemu."
"eh, bukann... maksudku kayak hari ini, aku cuma mau mampir buat coba menu baru di kafe ini, ternyata suo-san juga ada disini."
"hmm, bisa disebut sebagai takdir juga ngga, sih?"
nirei mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian memiringkan kepalanya sedikit, tanda tidak mengerti mengapa suo menyebut pertemuan mereka sebagai takdir (padahal ia sangat mengerti, tapi tidak mau berharap banyak!).
"yang seperti itu, harusnya suo-san omongin sama orang yang suo-san suka! kalau sama aku, kita 'kan cuma sekedar teman."
tawa kecil nirei terdengar nyaring di telinga suo. apa bentuk afeksi seorang suo kepada nirei masih kurang jelas sampai nirei masih menganggap kalau hubungan mereka berdua sekedar berhenti di tahap teman, mungkin dengan tambahan mentor dan murid saja?
cara apa lagi yang harus suo lakukan supaya nirei melihat ke arahnya?
suo ingin menghela nafas dalam-dalam, tapi tidak jadi ia lakukan saat kembali menatap nirei yang sedang asyik menulis informasi baru akan dirinya dalam catatan yang selalu nirei bawa kemana-mana itu - sepertinya menulis nama minuman yang suo pilih di kafe ini.
'asal nirei-kun senang, kurasa itu cukup buatku.'
apa benar sudah cukup?
apa benar ini yang suo inginkan?
apa tidak bisa sedikit saja ia mendapat hasil dari apa yang sudah ia lakukan, menyambungkan benang merah nirei dengan miliknya?
"nire-kun, kamu percaya soal belahan jiwa yang terhubung dengan benang merah ngga?"
yang dipanggil pun mengalihkan pandangannya dari buku catatan kesayangannya, lagi-lagi menatap suo dengan sepasang mata membulat.
"suo-san mau membual lagi, ya..."
akhir-akhir ini nirei kerap kali memberikan lirikan curiga dan tidak percaya tiap rentetan kata yang tidak masuk akal keluar dari mulut suo — suo suka melihat reaksi tersebut walau pada akhirnya tingkat kepercayaan nirei pada seorang suo jadi berkurang perlahan.
"aku sedang bicara serius, lho~"
"hmm, aku pernah dengar sih..."
nirei kini memasang wajah berpikir, kepalan tangan dipasang di bawah dagu.
"aku rasa, itu romantis."
"ah, maksudku, pelan-pelan dituntun oleh benang merah sampai bertemu orang yang kita ngga pernah sangka sebagai pasangan... seperti mimpi, bukan?"
minuman yang sempat dilupakan kini akhirnya mendapatkan perhatian nirei lagi - dengan pipi dan ujung hidung sedikit memerah, nirei meminum pesanannya sambil perlahan tatapannya bertemu dengan suo untuk sepersekian detik, namun nirei memilih mengakhiri cepat sesi tatap mata yang tidak sengaja ia lakukan – hatinya tidak bisa menatap suo lebih lama dari lima detik setelah ia tahu perasaannya sendiri!
"tapi... kalau udah ketemu dan ternyata ngga cocok... benang merahnya jadi ga punya fungsi apa-apa dong, ya? jadi kusut. kalau dipaksakan tetap jalin hubungan cuma karena tersambung benang merah, kasihan."
"yah, ada baiknya juga kita ngga bisa lihat benang merah!"
oh, andai nirei tahu apa yang suo lakukan, entah ekspresi seperti apa yang akan nirei berikan padanya.
kaget? kecewa? marah? jijik?
ada baiknya hanya suo yang tahu apa yang ia lihat dan lakukan untuk saat ini.
"mm, lebih baik begitu, ya."
sisa teh yang suo pesan seketika terasa sedikit lebih hambar setelah percakapannya tadi dengan nirei.
apakah suo menyesal sudah memutus benang merah milik nirei? sejujurnya, suo tidak menyimpan rasa sesal sedikit pun, yang ada hanya rasa bersalah yang ia coba kubur dalam-dalam.
•••
untuk patroli hari ini, seperti sebuah kebetulan lainnya, nirei dipasangkan dengan suo.
berduaan saja?
iya, hanya berdua karena salah seorang nenek penjaga toko dagashi meminta tolong suo dan nirei untuk mengecek masa kedaluarsa masing-masing kudapan, matanya sudah tidak awas katanya.
sugishita dan sakura yang sebelumnya dipasangkan dalam kelompok patroli yang sama dengan suo dan nirei pun memilih untuk bagi tugas lanjut patroli, meninggalkan suo dan nirei.
seusai membantu nenek toko dagashi, keduanya melanjutkan patroli dengan nirei yang membawa satu kantong penuh jajanan, bentuk terima kasih sudah membantu.
"anu, permisi!"
belum ada sepuluh langkah mereka meninggalkan lokasi sebelumnya, langkah suo dan nirei terhenti oleh suara seorang gadis yang terdengar dari belakang, mengejar mereka dengan sedikit berlari.
nirei kurang lebih sudah paham apa yang akan terjadi selanjutnya. suo akan jadi orang yang dicari gadis ini kemudian nirei akan menunggu di samping sambil jadi saksi mata pengakuan cinta atau pemberian surat cinta — pemandangan yang tidak asing bagi nirei — setidaknya nirei bisa menunggu sambil makan jajanan yang tadi diberikan sambil berharap suo menolak apapun yang akan gadis ini tawarkan pada mentornya.
"apa kalian ada waktu sebentar untuk ngobrol...?"
"oh, dengan suo-san, ya? silakan-"
"ah, bukan! anu... dengan nirei-san..."
"eh???"
nirei perlu beberapa detik untuk mencerna fakta kalau dirinyalah yang kini berada di posisi suo sementara suo mengerti dan segera ambil jarak dan kantong isi jajanan dari tangan nirei sembari mereka hendak tukar obrolan sejenak - bentuk formalitas.
selagi menunggu, suo melakukan observasi kecil-kecilan pada gadis yang sekarang tengah tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada nirei.
benang merah di kelingking gadis tersebut terpotong pendek menyentuh tanah, tidak tersambung pada siapapun – namun seiring jaraknya semakin dekat dengan nirei, benang merahnya semakin menebal dan mengkilat.
yang seharusnya jadi pasangan dari benang merah nirei adalah gadis ini.
bagaimana bisa mereka tetap bertemu dengan begitu hangat walau suo sudah memutus benang merah mereka berdua?
tawa canggung nirei bisa suo dengar dengan jelas walau suo merasa sudah ambil jarak yang cukup untuk tidak mendengar pembicaraan keduanya.
senyum kikuk, pipi merona, pupil mata membesar — ah, sayangnya tidak ditujukan pada suo.
memang seharusnya suo tidak bermain dengan takdir.
"nire-kun."
"ah, iya?"
"sepertinya kita harus lanjut jalan lagi, takut patrolinya jadi terlalu sore. maaf, ya"
seharusnya suo membiarkan nirei dan gadis itu tetap mengobrol, tapi tidak, entah mengapa ia tidak suka melihat apa yang ia lihat di depan matanya untuk lebih lama lagi.
suo tahu kalau ini bentuk keegoisan dirinya untuk memastikan nirei tidak lepas dari genggamannya, memastikan perhatian nirei tidak makin terpecah (sudah banyak hal yang menyita perhatian nirei, suo tidak bisa sampai kecolongan lagi!).
memasang senyum seperti biasanya, suo sekali lagi memberi isyarat pada sang gadis yang seharusnya mudah dimengerti.
"a-ah aku juga minta maaf karena mengganggu waktu patroli kalian berdua! siswa furin pasti sibuk... aku ngga tau kapan kita bakal papasan lagi, jadi, anu, ini, mohon diterima sebagai ucapan terima kasihku!"
tidak sempat dibungkus, yang diberikan kepada nirei adalah sebuah buku catatan ukuran kecil warna kuning-oranye polos yang kurang lebih muat untuk dimasukkan dalam saku gakurannya.
"eh- sungguhan? ini buatku?"
"iya, buat nirei-san. aku lihat, nirei-san selalu bawa buku catatan kecil kemana-mana, semoga berguna walau sedikit!"
"u-uwah, terima kasih banyak! akan kujaga baik-baik! pas sekali aku perlu catatan baru, lho!"
senyum lebar dengan sedikit rona merah pun kembali merekah pada wajah nirei sembari keduanya saling bungkuk dan saling berterimakasih – entah sudah berapa banyak kata 'terima kasih' yang suo dengar hari ini.
•••
"nire-kun, sekarang kamu populer, ya~"
"eh- ngga!! aku bahkan ngga nyangka dia inget aku, kukira dia mau ngomong sama suo-san buat kasih surat cinta atau semacamnya... soalnya sering, 'kan?"
"nire-kun selalu ada setiap itu terjadi, ya? nah, nire-kun sendiri gimana rasanya setelah obrolan tadi? dikasih hadiah pula~"
"ah... anu, entah, aku ngga tau apa yang kurasain..."
sembari berjalan pulang, suo tidak henti-hentinya memuji sekaligus sedikit mengusili nirei akan percakapannya dengan gadis tadi — tipikal dari seorang suo.
tapi pujian maupun bentuk keusilan suo malah membuat hati nirei tidak tenang. nirei menelan ludahnya setelah menyelesaikan kalimat yang ia tujukan pada suo, tangannya mulai gelisah dan tidak bisa diam memainkan catatan kecilnya.
di lain sisi, suo memang sengaja mengusili nirei, ia ingin lihat reaksi seperi apa yang nirei berikan — apakah seperti bunga merona yang tengah mekar atau malah layu?
suo tidak menyangka kalau bunga mimosanya akan menahan diri untuk mekar, seperti sedang menahan suatu hal untuk tidak dikatakan.
"tipe kesukaanku mungkin yang sedikit naif."
tak ada angin, tak ada hujan, suo tahu-tahu asal bicara tentang tipe orang yang kemungkinan ia sukai.
"eh- eh?? suo-san tunggu dulu, diulang coba! aduh, catatanku yang lama udah penuh lagi- oh iya!"
nirei memakan umpan yang suo berikan dengan sangat mudah, melakukan apa yang suo inginkan — membuka bungkus plastik transparan catatan yang baru nirei terima dan menuliskan informasi tentang suo di halaman pertama catatan baru tersebut.
"hehe, informasi baru suo-san~"
"oh, kamu langsung pakai buku catatan yang tadi dikasih?"
"i-iya, soalnya yang lama udah penuh sampai halaman terakhir."
suo mengangguk, kemudian menepuk-nepuk pelan punggung nirei dan berakhir dengan suo mengusap lembut rambut nirei dengan sentuhan yang penuh hati-hati, seolah jika suo mengusapnya dengan terlalu bersemangat, nirei akan lenyap.
"tulis tentangku lebih banyak lagi ya, nire-kun?"
suo memotong jarak di antara mereka, kepalanya ia rehatkan untuk sepersekian detik di atas bahu nirei sebelum lanjut jalan kembali mendahului nirei.
"i-itu tergantung dari informasi yang suo-san kasih... k-kalau infonya ngga valid, percuma juga kutulis!"
"kalau nire-kun mau pastiin info tentangku yang kamu punya itu valid atau ngga, langsung datang ke aku aja."
"uh..."
kalau ditekan terus-terusan, bisa-bisa besok nirei ambil jarak dengan suo – suo paham betul.
maka dari itu, suo menyudahi sesi isengnya hari ini.
"oh iya, jangan lupa bawa pulang jajanannya nih, nire-kun."
"suo-san ngga mau? ambil satu atau dua, gitu..."
"aku udah kenyang, kok~"
"ehh..."
"ayo sini, mana tanganmu, nire-kun?"
nirei lagi-lagi menurut walau bibirnya sedikit mengerucut karena suo lagi-lagi tidak ambil jatah jajanan.
suo ambil kesempatan dengan tangan nirei yang masih terulur untuk menautkan jari kelingkingnya dengan milik nirei.
warna merah dari benang yang menyambungkan mereka terlihat jelas, senyum yang lebih lebar dari biasanya kepalang ia tunjukkan, hal kecil seperti ini saja sudah keburu membuat suo seolah di langit ketujuh.
"makasih, suo-san— eh- kenapa nih, kenapa tiba-tiba?"
suo tidak menjawab dan tetap menautkan kelingkingnya dan nirei makin erat, lengan keduanya juga dibuat berayun pelan sembari jalan.
nirei tidak tahu alasan apa yang membuat suo bertingkah seperti ini, tapi ia biarkan saja kelakuan kekanakan yang suo tunjukkan karena jarang suo seperti ini, 'kan?
sampai kapan benang merah yang dipaksakan ini bisa bertahan?
ada baiknya tidak dipertanyakan.
