Chapter Text
Sebagai seseorang yang memiliki trauma dengan pernikahan, Yongki selalu bersikeras mengatakan bahwa ia tak akan pernah menikahi perempuan manapun sampai dia mati.
Hubungannya dengan Socha harus berakhir begitu saja akibat keputusannya yang benar-benar tak bisa diubah itu.
"Kita putus aja kalau kamu masih maksa aku buat nikahin kamu!"
Kalimat itu terlontar di tengah dinginnya malam tanpa pertimbangan apapun. Kalimat yang cukup menggores hati Socha karena nada suara Yongki yang cukup keras hingga menimbulkan perhatian banyak orang. Lagipula ada apa sih dengan perempuan zaman sekarang? Kenapa perempuan-perempuan di sekitarnya terobsesi sekali dengan menikah? Pekan lalu Bagas curhat kalau Agni dijodohkan dengan anak kawan ayahnya. Joanna juga sepertinya memiliki hubungan baru dengan lelaki yang lebih muda, yang Yongki tak tahu siapa. Dan sekarang Socha?
Ini pertama kali dalam tiga tahun Socha mendengar bentakan dari lelaki ini. Di depan umum, di depan teman-teman Yongki yang lain. Socha merasa malu, marah, dan sakit hati. Dia merasa dirinya tak lagi dihargai dan tak lagi dibutuhkan.
"Kak Yongki?"
"Aku udah bilang dari dulu kan kalo aku gak berniat buat nikah?? Salah sendiri kamu mau pacaran sama aku!"
Socha menggigit bibir bawahnya menahan tangisan dan umpatan yang hampir ia keluarkan tapi ditahan. Dirinya akan makin malu bila harus meladeni emosi Yongki di depan umum begini. Bila Joanna tahu kalau adiknya membentak perempuan, bisa habis dia.
"Udah kita putus aja! Kamu cari aja cowok yang mau nikahin kamu!"
"Oke!"
Dan itu terakhir kali Yongki melihat wajah Socha. Gadis itu seolah menghilang, tak lagi menghubungi dirinya seperti biasa, tak lagi menelponnya dan merengek minta jalan-jalan dengan suara manja yang menggemaskan. Dan itu cukup membuat Yongki merasa tak nyaman.
Hingga akhirnya tepat siang ini Yongki akhirnya kembali melihat wajah gadis itu yang sosoknya berbalut gaun putih sederhana, hiasan kepala, sebuket bunga di tangan, dan juga dandanan yang membuat Socha puluhan kali lebih cantik dari biasanya. Yongki hanya bisa menelan ludah dan menahan nyeri di dadanya.
Hal yang benar-benar ia sesali seumur hidup adalah melepaskan gadis ini untuk dinikahi orang lain.
Hubungan mereka tidak sebentar, tiga tahun itu waktu yang cukup membuat satu sama lain saling bergantung. Selama itu pula Socha lah yang menemani dan membantu Yongki untuk menyelesaikan segala masalah yang ia hadapi. Socha sangat mengerti dirinya, tak pernah komplain mengenai keluarga Yongki yang berantakan hingga ia merasa sangat diterima dan dihargai.
Tidak pernah sekalipun Yongki membayangkan ia akan menghadiri pernikahan perempuan yang ia cintai bersama lelaki lain.
Kenapa dirinya harus membentak Socha seperti itu?
Kenapa Yongki harus melampiaskan ketakutannya pada orang yang tak terlibat dalam masalah keluarganya?
Tanpa sengaja kedua mata mereka bertatapan, dari tempat duduknya ini Yongki dapat melihat senyum kecil gadis itu yang ditujukan padanya yang makin membuat hatinya merasa teriris.
Yongki menyesal sekali. Harusnya dia yang menggenggam tangan Socha saat ini, harusnya dirinya yang membuat gadis itu tertawa, bukan lelaki lain.
Baru enam bulan mereka berpisah, kenapa bisa secepat itu Socha memutuskan menikahi lelaki lain? Bahkan Yongki saja belum bisa sepenuhnya melupakan Socha.
Tiga bulan setelah perpisahan keduanya, Yongki sempat hampir menghubungi Socha kembali untuk meminta maaf. Namun urung karena ego yang setinggi langit itu melarangnya untuk meminta gadis itu kembali. Gengsi. Yongki yang mengusir Socha dari hidupnya, tak mungkin dia meminta gadis itu untuk kembali padanya lagi. Malu.
Makan tuh gengsi.
Ya Tuhan, Yongki serasa ingin membakar tempat ini sekarang juga. Adegan kecupan bibir dari sang pengantin barusan benar-benar membuatnya marah setengah mati. Tapi dia sadar, dia tak lagi memiliki hak untuk cemburu.
Bibir itu, bibir yang biasa ia cium saat sedang lelah hanya untuk menambah energi, kali ini milik lelaki lain. Bibir yang senyum cantiknya selalu tersemat untuknya di saat ia butuh penyemangat, kini hanya ditujukan pada satu lelaki yang bukan dirinya. Ada rasa tak rela yang keluar dari dalam dadanya.
Sochanya yang cantik dan baik hati, Sochanya yang dulu bisa leluasa ia peluk sesuka hati. Kini jadi milik orang lain secara sah di mata agama dan hukum.
Cincin yang melingkar di jari manis gadis itu juga bukan lagi cincin yang pernah ia belikan bertahun-tahun yang lalu. Kenyataan lain yang semakin membuat Yongki ingin meninju wajahnya sendiri.
Tidak bisakah Yongki memutar waktu? Kalau bisa, dia tak akan mengucapkan kalimat bodoh itu. Kalau bisa diputar Yongki mungkin akan bilang, "Pelan-pelan ya, Sayang. Aku masih berusaha buat nyembuhin traumaku."
Yongki begitu paham mimpi Socha yang ingin menjadi seorang working mom dengan dua anak lucu-lucu. Yongki juga tak bisa menyalahkan gadis itu bila terus-menerus mendesak dirinya untuk segera melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius mengingat usia Yongki yang sudah teramat matang untuk membangun sebuah keluarga.
Apakah Socha sebaghagia itu hingga sejak tadi ia tertawa sambil berbisik pada suaminya? Aduh ya ampun, suami? Hahahaha Yongki tertawa miris dalam hatinya.
Suami.
Posisi yang cocok untuk Yongki. Bila ia tak bertindak bodoh.
"Selamat ya, Cha."
Yongki memberanikan diri untuk menatap wajah sang gadis saat mereka tengah bersalaman. Dilihat dari dekat begini, Socha tampak benar-benar cantik hingga membuat Yongki hampir menangis. Dan senyum gadis itu juga, entah mengapa ada sorot kesedihan di sana.
"Makasih udah dateng, Kak Yongki.."
Ya Tuhan tangan ini. Yongki menggenggam tangan mungil Socha dengan erat, untuk terakhir kalinya.
"Sama-sama. Semoga kalian langgeng, ya."
Kalimat itu terdengar penuh dengan kebohongan. Dalam lubuk hati Yongki yang paling dalam, ia berharap mereka bercerai detik itu juga. Namun senyuman Socha membuat dirinya tak tega mendoakan hal buruk begitu.
Lirikan kesal dari lelaki di samping Socha membuat Yongki lantas menarik lengannya hingga genggaman mereka terlepas. Ia melempar senyum pada lelaki itu kemudian berlalu dari hadapan kedua mempelai. Tak ada pikiran untuk menikmati hidangan yang disajikan. Yongki ingin pulang saat ini juga.
Sesampainya di mobil, dia hanya duduk sambil melamun memperhatikan lalu lalang tamu undangan. Mereka tampak ceria, beberapa dari mereka terlihat mengambil swafoto di hadapan sederet karangan bunga.
Bayangan-bayangan selama ia dan Socha berpacaran makin kuat seiring ramainya acara siang ini. Yongki merasa begitu kosong di tengah banyaknya manusia yang bergerombol jauh di depannya.
"Terus aku habis ini gimana, Cha? Aku sama siapa?"
Tanpa sadar Yongki menggumam dengan suara yang teramat lirih karena tangisnya pecah. Tangan kanannya menggenggam setir mobil begitu erat hingga jemarinya memutih. Menyesali segala hal yang terjadi selama enam bulan terakhir ini.
"Kenapa gue bego banget?"
"Kenapa ngomong gak mikir dulu???"
Ada banyak hal yang ingin Yongki ucapkan pada Socha. Termasuk permintaan maafnya yang belum terlontar hingga saat ini. Tapi saat mereka berhadapan tadi, lidah Yongki terasa kelu. Yongki ingin memeluk Socha tapi tak bisa, ia tidak segila itu untuk memeluk istri orang lain di hari pernikahan mereka.
Dan harusnya Yongki sudah harus terbiasa hidup tanpa gadis itu setelah enam bulan mereka berpisah. Kenapa baru kali ini Yongki sadar?
Mungkin ada banyak gadis cantik dan lebih baik dari Socha, tapi mungkin hanya Socha yang bisa mengerti dirinya sebaik itu. Yang memaklumi kondisi keluarganya yang jauh dari kata harmonis. Tak pernah ia mendengar Socha memaki ibunya yang gemar minggat hingga membuat ayahnya frustasi.
Yongki membekap mulutnya untuk meredam suara tangisan bodohnya itu. Sesekali ia memukul setir mobil di hadapannya untuk melampiaskan berbagai emosi yang tak bisa ia lampiaskan dengan bebas tadi.
Begini rasanya ditinggal menikah oleh orang yang ia cintai setengah mati.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, Yongki.
