Work Text:
Sore itu, cahaya matahari menembus tirai tipis di kediaman pasangan Kamo-Zen’in, memantul di lantai kayu yang hangat. Noritoshi berdiri di depan kulkas, dahi berkerut, tangan menempel di pintu kulkas sembari menatap isinya dengan seksama, seolah sedang memecahkan misteri terbesar dalam hidupnya.
“Mai… sayang… saus di mana, sih?” tanyanya dengan nada campuran frustrasi dan kebingungan. Ia menunduk kemudian berdiri kembali, badannya sedikit ia condongkan untuk memastikan matanya tidak menipu dirinya sendiri.
Mai, yang baru saja keluar dari dapur dengan tangan masih lembap karena mencuci piring, menatap dari atas tangga. “Di dalam kulkas, Noritoshi! Itu saus nggak pernah pindah, aku bilang dari tadi!” Suaranya meninggi sedikit, nadanya menusuk sedikit, tapi matanya bersinar lucu—sinar khas seseorang yang sudah terbiasa dengan drama kecil ini.
Noritoshi mencondongkan kepala, memeriksa rak demi rak, matanya melompat dari botol ke botol, mengusap dagu dramatis. “Gak adaaa… habis ya? Aku buka yang baru aja, ya?” gumamnya, suaranya rendah penuh dengan kehati-hatian karena rasanya sekarang keberadaan dunianya sedang tergantung pada botol saus itu.
Langkah kaki terdengar terburu-buru. Mai masuk ke dapur dengan suara langkah yang sengaja dikeraskan. Wanita itu membuka kulkas kemudian mengeluarkan botol saus dengan satu gerakan sempurna. Ia menatap suaminya sambil mengerutkan alis.
“Ini apa, Noritoshi?” dumelnya sambil menggoyang botol di udara.
“Aku sudah cari dari tadi, gak adaaa!” jawab Noritoshi, meletakkan tangan di dada seolah dunia baru saja runtuh. “Aku cek semua rak, tapi tadi gak adaaaa!”
Mai menepuk kepala Noritoshi, setengah kesal, setengah geli. “Iya, makanya jangan merem kalau nyari barang!”
Noritoshi menatap Mai dramatis, mata membesar seolah ingin membuktikan sesuatu. “Mai! Mataku memang begini! Aku gak merem!”
Mereka meledak dalam tawa. Suara itu hangat, mengisi seluruh sudut rumah mereka. Kemudian, Noritoshi menyadari betapa kecilnya dunia ini, betapa sempurnanya dunia mereka saat berdiri di samping Mai, tertawa bersama setelah drama kecil.
Lagu favorit mereka tidak terdengar di radio. Tapi, setiap tawa dan momen konyol seperti ini adalah irama yang paling sempurna bagi mereka.
Tidak ada yang lebih manis, tidak ada yang lebih mereka perlukan.
Dan tanpa mengakuinya, mereka tahu, bahwa momen-momen kecil seperti ini… itulah lagu favorit mereka berdua.
