Work Text:
Menunggu bukanlah hal favorit Renjun, tetapi bukan berarti ia tidak menyukainya juga. Hanya saja terkadang menunggu membuatnya memikirkan banyak hal, terlalu banyak. Dari pikiran-pikiran tersebut timbul pertanyaan, pertanyaan yang tidak bisa ia temukan jawabannya, atau mungkin tidak perlu ia temukan. Namun, tetap saja semua itu datang tanpa bisa ia cegah maupun tolak. Seperti yang terjadi sekarang, Renjun sedang menunggu busnya yang tak kunjung datang. Kedatangan bus yang tidak pasti itu membuatnya frustasi. Di saat seperti ini, tentu saja pertanyaan timbul di benaknya seperti, apa keterlambatan bus ini disebabkan oleh cuaca buruk? Namun, hujan sudah mulai reda per 30 menit lalu dan sudah berhenti per sepuluh menit lalu. Dan lagi, apa bahkan bus ini akan datang? Atau malah hari ini bus tidak beroperasi tanpa Renjun tahu? Yang terakhir, apa anak laki-laki yang biasanya bersamanya sudah menaiki bus sebelumnya? Atau malah ia bahkan tidak datang sama sekali karena cuaca buruk hari ini?
Semua pertanyaan itu tidak bisa Renjun jawab. Ia menghela napas.
Ah iya, anak laki-laki itu, dia bukan siapa-siapa. Renjun hanya sering melihatnya menaiki bus yang sama dengannya. Sepertinya mereka satu lingkungan sekolah, tetapi Renjun tidak benar-benar tahu di mana sekolah pemuda itu. Yang ia tahu, mereka satu lingkungan sekolah dan rumah. Awalnya Renjun tidak terlalu menghiraukan presensi pemuda itu, tetapi mau tidak mau ia menyadari keberadaannya. Kendati seringnya mereka bertemu, Renjun tetap tidak tahu nama pemuda itu. Juga pemuda itu, pasti tidak tahu nama Renjun. Renjun bahkan skeptis jika pemuda itu menyadari keberadaannya. Renjun memutuskan untuk tidak terlalu peduli.
“Halo.”
Sapaan itu membuatnya sedikit terperanjat, sapaan dari pemuda yang baru saja lewat di benaknya selagi menunggu di halte ini, “Halo,” balasnya.
“Busnya belum sampai juga, ya?”
Membuat sebuah percakapan dengan pemuda yang tidak ia ketahui namanya ini bukanlah merupakan sesuatu yang Renjun duga akan terjadi, terlebih pemuda ini yang menginisiasinya. Selama satu semester mereka berpapasan, di waktu yang sama, selalu menaiki bus yang sama, tetapi berakhir mengabaikan satu sama lain. Siapa yang sangka siklus itu berhenti hari ini? Bukan Renjun, tentunya.
“Iya, sudah terlambat 20 menit,” jawab Renjun.
Percakapan itu berhenti dengan datarnya, keheningan menyelimuti mereka dan Renjun tidak tahan dengan keheningan tersebut. Ada sesuatu yang mengganjal selama keheningan itu berlangsung. Renjun menghadapi konflik batin ketika ia memiliki dua pilihan, yang satu untuk terus diam, yang lainnya untuk berkenalan dengan pemuda itu. Berkenalan, gumam Renjun. Sekarang merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk berkenalan dengannya. Renjun juga berpikir bahwa itu bukan pilihan yang buruk. Selama satu semester mereka bertemu, saling menyadari presensi satu sama lain tetapi menolak untuk bertegur sapa karena mereka tidak memiliki alasan untuk melakukan itu. Sekarang Renjun bisa mengubah itu dan memutuskan untuk membuat mereka memiliki alasan untuk bertegur sapa.
Renjun memaki dalam hati, berkenalan bukanlah suatu perkara yang seserius itu dan dia merasa tidak perlu memikirkannya sedalam ini, maka dari itu Renjun memutuskan untuk mengambil kesempatan ini dan bicara.
“Aku Renjun.”
Renjun meringis mendengar apa yang baru saja ia ucapkan, tidak buruk tetapi harusnya bisa lebih baik. Pemuda itu terkekeh, membuatnya mengeluarkan senyuman yang menurut Renjun amat manis, “Aku tahu.”
Mendengar jawaban itu, Renjun mengernyitkan keningnya, “Kamu tahu?”
Lagi-lagi pemuda itu mengeluarkan tawanya, dan Renjun tidak bisa bohong untuk bilang ia tidak terpesona dengan senyum itu, tanpa sadar Renjun menahan napas.
“Aku Jaemin,” katanya sambil menjabat tangan Renjun yang tadinya masih menggantung di udara.
“Aku juga tahu kita satu lingkungan,” ucapnya lagi. “Kamu pasti nggak sadar,” tambahnya.
Salah. Hanya itu yang ada di batin Renjun, lalu Ia pun membantah, “Nggak.”
“Aku sadar, kok,” sambungnya sambil menatap ke depan.
Pemuda yang bernama Jaemin itu, mengerutkan keningnya dan kepalanya mengadah ke atas seolah berpikir, “Kita saling kenal tapi kenapa nggak pernah bertegur sapa, ya?” tanyanya.
Tanpa berpikir pun Renjun bisa langsung menjawab, “Kita nggak saling kenal, dan aku cuma sadar sama keberadaanmu.”
Sebelum Jaemin bisa menjawab, bus yang ditunggu-tunggu sedari tadi akhirnya tiba. Renjun tidak menunggu lama untuk lekas berdiri dan menaiki bus itu, mencari tempat untuk duduk dan melamun, rencananya. Yang tidak Ia duga setelahnya adalah Jaemin yang ikut duduk di sampingnya. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Biasanya, Jaemin akan mengambil tempat di kursi paling depan lalu menyandarkan kepalanya ke jendela, sesekali ia mendengarkan lagu dari gawai yang dimilikinya.
Alih-alih seperti biasanya, hari ini Jaemin memilih untuk duduk di sebelahnya. Alih-alih diam, Jaemin memilih untuk berbicara, “Kalau begitu, berarti hanya aku yang mengenalmu, ya?” katanya sambil menyentuh dagu sambil mengernyit, “Sedih banget,” lanjutnya lagi dengan nada main-main.
Renjun tidak tahu dengan apa ia harus merespons kalimat itu, ia hanya bisa menimpalinya dengan pertanyaan lain, “Memangnya bagaimana bisa kita saling kenal? Aku tidak ingat kita pernah berkenalan sebelumnya.”
“Ouch,” kata Jaemin. “Jadi hanya aku yang mengingatnya, ya?” Lanjutnya.
Sejujurnya Renjun terkejut dengan fakta yang tiba-tiba saja ia dapatkan. Jaemin mengenalnya Pemuda yang bahkan tidak sampai sepuluh menit lalu yang baru ia ketahui namanya mengenalnya. Sungguh bukan sesuatu kebenaran yang Renjun duga akan terungkap. Belum selesai dengan fakta yang satu itu, ada satu fakta lain menyusul seiring Jaemin berucap, “Kita sudah pernah, loh, berkenalan sekali.”
“Kamu mengarang ya?”
“Bener, loh. Coba ingat-ingat.”
Renjun ikut menerawang ke belakang seiring Jaemin menceritakan kejadian saat itu. Saat itu, saat matahari sedang bersinar dengan sangat terik, berbalik sekali dengan hari ini. Saat itu Renjun terlambat, alarmnya tidak berbunyi, ibunya juga tidak membangunkannya. Karena itu, di cuaca yang sedang terik-teriknya, ia tidak sempat mandi karena sudah terlambat dan masalahnya, ia tidak boleh terlambat, tidak untuk hari ini. Pikirannya jadi kacau.
Waktu itu Renjun benar-benar tidak mengharapkan ada orang dari belakang tempat duduknya, untuk menepuk bahunya dan menanyakan sesuatu yang ia anggap sangat tidak penting, “Menurutmu duluan ayam atau telur?”
Renjun tidak perlu pertanyaan receh seperti itu di saat seperti ini, maka ia menjawab tanpa pertimbangan, “Telur dulu.”
“Kalau menurutku sih, lebih dulu pintu gerbang sekolah ditutup sebelum kamu sampai,” balas orang di belakangnya itu.
Renjun tertegun, “Nggak lucu.”
Setelahnya Ia mendengar suara dari belakangnya, sebuah tawa, “Kamu tahu cara membuat suatu tragedi menjadi komedi?”
“Nggak dan nggak berniat untuk tahu juga, jadi tolong enyahlah.”
“Salah,” balasnya. “Kamu perlu, dan sekarang sedang kuberusaha beri tahu,” ia menimpalinya lagi.
Renjun memutar bola matanya, lalu menjawab, “Terserah aku akan berlari tepat bus ini sampai dan membuka pintu.”
“Terserah saja, tapi kamu harus tahu. Kamu bisa merubah realitas tidak menyenangkan sekarang menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan.”
“Daripada cemberut dan memikirkan skenario-skenario buruk yang kedepannya bisa saja tidak terjadi, kamu bisa melihat keluar jendela dan sedikit menikmati apa yang terjadi di luar jendela,” lanjutnya.
Renjun mendengus, tidak membalas perkataan Jaemin. Namun, ia menerima saran itu, melihat keluar jendela, menikmati apa yang terjadi. Es krim yang meleleh di tangan anak kecil, ban yang meledak karena cuaca terlalu panas, dan kincir angin buatan yang berputar di sepanjang jalan.
Renjun mengapresiasi saran Jaemin walaupun agak enggan untuk mengakuinya, tetapi pada akhirnya Renjun lebih memilih untuk lebih rileks dan menghargai Jaemin.
“Terima kasih, ya,” ucap Renjun. “Omong-omong, aku Renjun,” lanjutnya.
Bus berhenti dan pintu pun dibuka, dengan itu, tanpa menunggu jawaban, seperti rencana awal yang Renjun miliki, ia berdiri dan berlari tanpa menengok kebelakang.
Hal itu mengakhiri ingatan Renjun mengenai peristiwa itu, ia menggumamkan kata, “Ah,” dan menatap Jaemin dengan sedikit tidak percaya.
Persis terulang lagi, bus mereka pun sampai di halte yang mereka tuju, bunyi bannya yang berdecit terdengar lalu hilang tidak lama setelah bus sudah benar-benar berhenti dan membuka pintunya. Bedanya, sekarang, Renjun tidak lagi berlari.
“Sekarang sudah ingat?”
“Sudah,” balasnya. “Maaf ya, karena sudah lupa … dan tidak sopan,” lanjutnya lagi.
Jaemin menampilkan senyumnya lagi, kemudian menjawab, “Tidak masalah.” Lalu menambahkan, “Jangan lupa lagi ya.”
Tidak akan.
Renjun mengangguk, lalu mereka pun berpisah di halte bus ini. Belum jauh ia melangkah, ada suara lagi yang memanggilnya, “Renjun besok di sini lagi seperti biasa kan?” Renjun berteriak membalas, “Iya.”
Ia pun lagi-lagi bisa melihat senyum Jaemin, yang selanjutnya hilang karena yang punya berbalik dan melanjutkan langkah.
Di perjalanannya menuju rumah, ia jadi banyak tersenyum. Menunggu tidak sepenuhnya buruk, pikirnya. Atau setidaknya, sekarang ia tidak perlu menunggu sendirian lagi.
