Chapter Text
Sepanjang jalan Notting Hill dipenuhi oleh poster-poster promosi film baru yang sedang booming di kalangan umum. Film yang menceritakan tentang perjalanan ilmuwan pertama yang menciptakan bom nuklir yang berhasil memusnahkan hampir 90% kehidupan manusia di sebuah negara yang dipenuhi intrik dan konflik dengan dikemas dalam genre sci-fi, dimainkan oleh George W. Russell, seorang aktor yang sudah membintangi banyak film sejak usianya masih belia. As a popular guy in this country, dia selalu memakai pakaian tertutup, topi, serta kacamata hitam untuk menutupi identitasnya ke manapun ia berada, karena paparazzi selalu mengikutinya.
Di ujung jalan Notting Hill, terdapat toko buku yang lumayan sepi. Toko buku ini dimiliki oleh seorang laki-laki asal Belanda, Max Emillian Verstappen, yang baru diceraikan oleh pasangannya, karena mantan istrinya lebih memilih lelaki lain yang lebih kaya daripadanya. Percintaan miris, bisnisnya juga ikut miris. Sungguh kasihan sekali orang ini.
Toko buku yang dimiliki Max ini hanya khusus menjual buku tentang perjalanan wisata negara-negara di seluruh dunia. Ia memiliki seorang asisten yang membantunya mengoperasikan toko ini, yang juga merupakan teman baiknya semasa sekolah menengah dulu, Daniel.
Ting!
George memasuki sebuah toko dengan long coat, topi hitam, dan kacamata hitamnya.
“Selamat datang! Ada yang bisa dibantu?” Sapa Max dengan ramah.
“Oh, iya. Aku mau cari buku tentang Greece, do you have it?” Tanya George.
“Sure! You find the right place. Aku punya rekomendasi buku bagus tentang Greece.” Balas Max sembari berjalan mendekati George.
Max memilihkan buku untuk George dan menyerahkannya. “Ini bukunya bagus. Yang nulis Andrew H. Scott. Ini buku pengalaman dia selama travelling ke Yunani. Ada rekom makanan dan tempat wisata sama hotel yang cocok buat budget tertentu, jadi sangat membantu kamu nanti kalo mau pergi ke Yunani. But it’s a little bit pricey sih. Kalau mau yang murah, ada juga sih. Wait aku ambilin.”
Max mengambil sebuah buku lain dan menyerahkannya kepada George. George menerimanya dalam diam dengan mata yang mengikuti pergerakan Max.
“This one is more cheaper than earlier. But honestly, it’s not too useful karena minim informasi. Ya worth it lah karena harganya segitu. But, it’s up to you mau pilih yang mana.” Jelas Max.
George mengerjap dan tersenyum kepada Max. “Yeah, thanks. Aku mau liat dulu ya.” Jawab George.
“Sure, take your time!” Balas Max sembari kembali ke balik meja kasir.
Saat Max sedang membaca buku rincian tokonya, Daniel datang dan menyadari jika seorang George W. Russell sedang berada di toko tempatnya bekerja.
“OH MY FUCKING GOD!” Teriak Daniel lalu berlari menuju Max.
Max terperanjat dari duduknya. “DAN! Kenapa teriak sih, ada pembeli itu lho! Nanti kabur njir, dah tau ni toko sepi pembeli. Lu bukannya pinter promosi malah bikin pembeli pertama kita lari.” Omel Max.
“Max anjir, sumpah njir.” Oceh Daniel dengan tangan gemetaran.
George yang sudah selesai memilih buku lalu menuju kasir untuk membayar bukunya.
“Max minta kertas cepetan!!” Ucap Daniel tergesa-gesa kepada Max.
Max merotasikan bola matanya dan tetap mengambilkan Daniel secarik kertas.
Daniel menerima kertas itu lalu menyerahkannya kepada George dengan tangan yang masih gemetar. “I’m sorry for my behaviour, huft. I’m your big fans George! Could you please sign this paper for me?” Pinta Daniel kepada George.
“Oh oke oke, namanya siapa ya?” Tanya George.
“Danny, please.” Jawab Daniel dengan senyum lebar.
“Danny? Cih sok imut njir.” Max mengucap lirih sambil merotasikan matanya.
George menuliskan tanda tangannya di kertas itu dan mengembalikannya kepada Daniel sembari tersenyum manis. “Here you go.”
“Thanks George! Semoga lancar ya kerjanya!” Ujar Daniel lalu berlari masuk ke ruangannya dan teriak di dalam ruangannya. “WOOHOOO GUA DAPET TANDA TANGAN GEORGE ANJEEERRR! HARUS DIPAJANG DI PIGURA INI MAH!”
Max yang mendengar itu langsung bernapas panjang dan menatap tidak enak ke George. “Tolong maafin teman saya ya, dia memang agak hiperaktif gitu orangnya. Maaf bikin kamu gak nyaman.” Ucap Max.
“It’s not a big deal.” Jawab George sambil tersenyum.
“Oh ya, ini totalnya seratus lima puluh ribu, aku kasih bonus buku tentang makanan khas Yunani ya. Mungkin bisa bermanfaat juga buat kamu.” Ujar Max sembari menyerahkan bukunya kepada George.
“Oh, makasih banyak yaa. Ini uangnya.” George menyerahkan uang kepada Max.
“I’ll gotta go. And once again makasih banyak rekomendasinya ya! Semoga toko bukunya laris terus!” Pamit George kepada Max.
Max yang melihat senyum itu hanya bisa terpana hingga George pergi meninggalkan tokonya.
Tak lama setelah George pergi, Max menghampiri Daniel yang duduk termangu di ruangannya. “Gua mau beli kopi, lu mau nitip kopi gak? Biar gak gila-gila amat.” Ujar Max. Daniel masih termenung sembari melihat kertas yang berisi tanda tangan George dengan senyum yang amat lebar tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Max. Max menghembuskan napas panjang dan meninggalkan Daniel di ruangannya.
“Nitip toko deh kalo gitu, gua tinggal dulu ya.”
Setelah mendapatkan segelas kopi dari kafe langganannya, Max pun berjalan kembali ke toko. Sesampainya di tikungan, tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang. Dan sialnya, kopinya mengenai pakaian putih yang dikenakan lelaki malang tersebut.
“OH MY GOD! SORRY! Eh serius maaf maaf.” Ucap Max yang bingung sembari mencari sapu tangannya dan mencoba mengelap noda kopi di baju lelaki itu.
“Stop, stop, please. It’s- it’s fine.” Balas lelaki tersebut sambil bernapas panjang.
“Wait, kayaknya kamu yang beli buku di tokoku tadi ya? Hi, aku Max, rumahku deket sini. Beneran aku gak bohong. Kamu bisa ganti bajumu di rumahku kalau kamu mau.” Tawar Max.
“I’m Geo- George, yeah George. Tapi kamu gak bohong kan kalo rumahmu deket sini?” Tanya George tidak percaya.
“Serius, ayo sini ikut aku.” Ajak Max.
Sampailah mereka di rumah Max yang masih berada di jalan Notting Hill, berjarak beberapa meter dari tempat insiden tabrakan tadi. Rumah yang kecil tapi tinggi karena memiliki 3 lantai beserta rooftop. Mudah sebenarnya membedakan rumah Max di antara rumah tetangganya. Jika rumah tetangganya memiliki pintu berwarna nude atau cokelat kayu, pintu rumah Max lain. Karena ia memiliki warna yang sangat mencolok, yaitu kuning terang. Seterang sinar mentari di pagi itu.
Mereka berdua lalu memasuki rumah Max. Max yang menyadari betapa berantakan rumahnya, langsung dengan cepat merapikannya. Ia mengambil celana dalam roomate-nya, Lando, yang tergeletak di lantai. Ia juga langsung mengambil piring kotor dan makanan sisa di meja makan dan meletakkannya di wastafel untuk dicuci.
“Maaf, rumahku berantakan sekali. Kamu bisa naik ke lantai 2 dan kamar mandinya ada di pojok sebelah sana.” Ujar Max sembari menunjukkan letak kamar mandinya.
George yang mendengar hal itu meletakkan barang bawaannya dan pergi ke kamar mandi untuk segera berganti pakaian.
“Njir, malu-maluin banget ngajak orang ke rumah pas lagi berantakan kek kapal pecah. Lando ni emang gua tinggal kek babi, buang buang kolor di depan lagi. Pusing banget gua,” Oceh Max sembari mencuci piring kotor.
Beberapa menit kemudian, George yang telah usai mengganti pakaiannya, turun dari lantai 2 menuju Max berada. Max yang menyadari hal tersebut langsung mencuci tangannya dengan air mengalir dan mengeringkannya dengan tisu.
“Mau minum dulu? Kopi? Teh? Ada jus juga sih kalau mau,” Tawar Max kepada George. George hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia lalu mengambil barang bawaannya.
“Makasih tawarannya, tapi aku harus balik sekarang.” Balas George.
Mendengar hal tersebut, Max langsung mengantar George ke pintu depan. Max membukakan pintu untuk George.
“Max, thanks a lot untuk bantuannya hari ini ya. Dan makasih pilihan bukunya, tadi aku baca sedikit ternyata bener katamu. Info penting di buku itu banyak banget. Aku beneran sangat terbantu. So, thank you so much, Max.” Ucap George tulus.
Setelah mengucapkan itu, George tiba-tiba mencium bibir Max dan langsung pergi meninggalkan rumah Max. Max yang masih menceran keadaan berdiri kaku dan tak sadar membiarkan pintu rumahnya terbuka beberapa saat.
