Actions

Work Header

Tolong Lihat Diriku

Summary:

Hanya kisah singkat di sela-sela pelatihan musim panas. Dia dengan sang dara.

Notes:

Haloo, ini pertama kalinya aku memposting ceritaku di platform ini. Biasanya sih di platform sebelah, cumaa aku harap kalian suka dengan ceritanya, yaa! Salam hangat dari aku.

Work Text:

 


 

Tak seperti Akaashi Keiji yang biasanya, entah apa yang merasuki raga itu, tetapi pemuda dengan surai hitam itu tak pernah melepaskan pandangannya oleh seseorang. Hal ini bermula semenjak kedatangan tim voli dari sekolah Karasuno, dari hari itu juga, Bokuto dapat merasakan ada sesuatu yang aneh dari Akaashi.

Seperti sekarang, setelah latih tanding dengan sekolah Nekoma, tiba-tiba saja pemuda itu menghilang dari pandangannya. Yah ... entah karena tak ingin direpotkan dengan Bokuto yang sering meminta dirinya untuk mengoper bola padanya. Mungkin juga karena pemuda itu membutuhkan waktu menyendiri karena sudah terlalu lelah dengan mood swing-nya Bokuto.

“Nee Kuroo, apa kamu lihat di mana Akaashi? Perasaan tadi dia ada di sini, deh ....”

Kuroo, sang empu yang dipanggil pun menoleh. Ia meletakkan kembali botol minumannya, dan menyampirkan handuknya di bahu.

“Akaashi, ya? Kukira dia bareng kamu.”

“Ya, mana aku tahu! Kalau aku tahu pun, tidak mungkin aku tanyain hal itu ke kamu sekarang ini,” seru pemuda itu.

Kuroo, lelaki itu hanya dapat menggaruk tengkuknya, bingung ingin merespons seperti apa. Ya, dia memang sering menjahili pemuda itu, hanya saja ketika ada Akaashi—penenang Bokuto-lah anggapannya. Cuma sekarang ia tak melihat keberadaan sang empu.

Memilih untuk mengangkat bahunya acuh tak acuh, lantas dengan gerakan asal-asalan dirinya menunjuk ke arah lain. Bokuto sendiri entah memang kebelet mencari adik kelasnya itu berada, pun mengikuti ke mana arah telunjuk sohibnya itu menunjuk.

Berkali-kali sang taruna itu mengedipkan matanya. Namun, yang pandangannya tangkap hanyalah sekumpulan tim Karasuno. Serius ini dia harus bertanya ke mereka?

“Dicoba saja dulu tanya ke mereka, siapa tahu salah satu di antara mereka ada yang melihat Akaashi. Daripada kau berdiri tak jelas di sini.”

Dengan ekspresi yang merenggut, ia tak banyak berkata-kata pun mendatangi mereka. Meninggalkan Kuroo yang hanya memasang cengiran di wajahnya, juga Kenma yang diam-diam memerhatikan mereka sambil memegang konsol game miliknya. Ekspresi datar tercetak di wajahnya, sedikit prihatin dengan mereka yang mungkin nanti akan menghadapi Bokuto tanpa Akaashi di sampingnya itu.

 


 

Sugawara, pria bersurai kelabu itu menoleh bertepatan dengan Bokuto yang sedang berjalan menuju ke mereka. Sempat ia terdiam sebelum akhirnya memberikan kode kepada Sawamura. Saat itu mereka baru saja selesai berlatih tanding dengan tim dari sekolah lain. Mereka sedang beristirahat sebelum menjalani hukuman bagi yang kalah.

“Hei, kalian ada yang melihat Akaashi tidak? Soalnya selesai latih tanding sama Nekoma, tiba-tiba banget dia menghilang entah ke mana.”

Pertanyaan yang mendadak dari pemuda itu, membuat mereka yang ada di sana terdiam. Sawamura sebagai kapten di timnya itu hanya menoleh ke arah anggotanya, dan beberapa di antara mereka menjawab dengan sebuah gelengan kepala. Ya, dia sendiri juga tak ada melihat setter dari tim Fukurodani, sih.

“... kalau dari kami sendiri, sebenarnya tidak ada melihat orang yang kau maksud, Bokuto-san. Soalnya kami juga fokus sama latih tanding yang kami hadapi,” jelas Sawamura.

“Kenapa Bokuto-san tidak bertanya pada Kuroo-san saja? Siapa tahu dia ada melihat Akaashi-san. Lagi pula dari kami sendiri, memang tidak ada yang melihatnya.” Lelaki dengan surai pirang itu—Tsukishima Kei—bersuara.

Sementara itu, Bokuto hanya menghela napas panjang, sembari mengacak-acak surai miliknya. “Sudah. Barusan aku tanya, dan sama seperti kalian, dia juga tak melihat Akaashi.”

Ungkapan yang diberikan, membuat mereka saling melirik. Tidak tahu ingin merespons seperti apa. Ya ... salah kata akan menyebabkan mereka menghadapi sisi Bokuto yang menyebalkan. Maksudnya dalam artian suka mengambek begitu.

 


 

Di sisi lain, di tempat yang berbeda dengan waktu yang sama, sang empu yang dicari kini sedang bersama dengan dua manajer dari Karasuno.

Awalnya pemuda itu hanya ingin berkeliling, mencari udara segar setelah latih tanding yang menguras fisik serta mentalnya, eh malah bertemu dengan dua manajer Karasuno—Yachi Hitoka dan Kim Sujin. Padahal dia ingin menjauh dari sana, tetapi ketika melihat sosok yang akhir-akhir ini memenuhi benaknya, pun tanpa pikir panjang dirinya membawa kakinya ke tempat mereka berada.

Dan kini, dirinya terjebak dengan pembicaraan dua gadis remaja. Ya, beruntungnya mereka tak ambil pusing dengan kehadirannya itu. Meski cukup aneh mengingat pemuda itu yang selalu bersama dengan Bokuto, kini sendirian dan malah terjebak bersama dengan kedua gadis tersebut.

Akaashi, pemuda itu juga sama bingungnya dengan mereka. Seperti ... bagaimana bisa dirinya justru berakhir di sini? Bersama dengan kawanan gagak—alias tim Karasuno.

Suara tawa nan halus berhasil kembali merebut atensi lelaki itu, yang sebelumnya telah berkelana di dalam pikirannya. Melirik ke samping, ia malah dibuat gagal fokus dengan manisnya tawa dari sang dara bersurai hitam tersebut.

Tunggu sebentar, manis?

Sejenak ia tertegun, sebelum akhirnya menggelengkan kepala pelan. Oke ... anggap saja tadi dirinya salah bicara di dalam benaknya.

Namun, benarkah demikian?

“Oh iya, membicarakan soal latih tanding ... kulihat tim voli dari sekolah Fukurodani kereen bangeet! Apalagi ketika Akaashi-san yang bisa bersabar menghadapi tingkah Bokuto-san ketika permainan masih berlangsung.”

Loh ... dia ....

“Aku setuju sih sama, Sujin-chan. Cuma kayaknya kamu harus mengingat kondisi sekitar deh .... Soalnya orang yang kamu bicarakan juga berada di sini loh.”

Di saat itu, kala Yachi berkata demikian, entah secara kebetulan atau tidak, kedua insan tersebut pun menoleh ke arah masing-masing. Membuat keduanya bertatapan di detik itu juga.

Akaashi dengan ekspresi kagetnya, dengan Sujin yang juga sama, meskipun kedua pipinya kini merona lantaran malu. Ia yang terlalu asyik berbincang dengan Yachi, pun melupakan bahwasanya pemuda itu masih berada di sini.

Pada waktu itu juga, seolah-olah garis takdir membentuk jalurnya sendiri, terutama kepada dua insan tersebut.

 


 

Semenjak hari itu, entah memang telah direncanakan oleh Sang Takdir, pun keduanya terus bertemu. Interaksi kecil pun tak pernah lepas menemani mereka.

Awalnya dari masing-masing tim beberapa ada yang tak menyangka, tetapi lambat laun mereka melupakan hal itu. Menganggap bahwa mungkin alasan mengapa mereka bisa berinteraksi dikarenakan pemuda itu yang sempat membantu sang dara.

Hanya saja ketika semua orang beranggapan begitu, ada dirinya yang masih teringat akan percakapan mereka beberapa hari yang lalu. Masih segar di ingatannya. Bahkan hal itu semakin mengubah sesuatu di dalam hidupnya.

Entah sejak kapan, dirinya terus mencari sosok itu di setiap kali ada kesempatan. Entah ketika tim mereka sedang melawan satu sama lain ketika latih tanding, ketika sang dara yang sedang kesusahan membawa botol minum untuk timnya, atau percakapan singkat yang mereka lakukan ketika tak sengaja bertemu.

Tidak ada yang menyadari perubahan kecil padanya. Namun, yang jelas, dirinya menikmatinya. Entahlah, terlalu sukar untuk dijelaskan.

 


 

Pada suatu malam, keduanya kembali bertemu usai hari yang melelahkan.

Tak lupa melaksanakan sesuatu yang kini menjadi rutinitas tetap ketika bertemu, keduanya pun menghabiskan waktu mereka sambil membicarakan banyak hal. Entah itu mengenai latih tanding, atau sekadar saling berbagi cerita.

Hingga tanpa sadar, keduanya malah terlalu asyik tenggelam dengan percakapan mereka berdua, seperti sekarang.

“Dulu awalnya kukira Akaashi-san tipe orangnya yang pendiam cuek-cuek begituuu. Makanya selalu segan buat ajak ngobrol. Eh taunya ngga seperti yang aku bayangkan yaa.”

Tawa kecil menguar dari mulutnya. Mendengar pernyataan dari sang dara, tentunya membuat rasa geli di hatinya. Dia? Pendiam? Sebenarnya tidak salah, hanya saja dia bukan tipe nonchalant atau emotionless seperti orang-orang kira.

Ya orang waras mana coba yang sangat niat untuk mengamati dan mencatat setiap perilaku dari kakak kelasnya? Terlebih lagi memperkirakan apa saja reaksi yang akan dikeluarkan darinya setiap kali merajuk.

Beruntungnya jikalau tak dilindungi dengan wajahnya yang terlihat seperti tipe orang nonchalant begitu, pasti akan terlihat jelas sifat aslinya yang tidak seperti bayangan dari orang-orang. Maka ketika mendengar pernyataan itu dari Sujin, tentu membuatnya tanpa sadar tertawa.

“Tidak juga kok. Cuma kadang orang-orang kan memang sering menilai dari apa yang mereka liat saja, bukan? Ya, aku tidak mempermasalahkannya. Malahan kalau aku jadi mereka, juga bakal berpikiran yang sama sih tentangku,” jelasnya sambil menatap lurus ke arah gadis itu.

Sujin yang memang akhir-akhir ini melihat sisi lain dari seorang Akaashi Keiji pun menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang dirinya katakan barusan. Siapa menyangka bahwa training camp kali ini malah membuat dirinya bisa mengenal sosok setter dari tim lain hingga bisa berbincang santai seperti ini.

Menyamankan posisi duduknya di atas rerumputan, gadis itu mengamati bagaimana ekspresi pemuda yang lebih tua setahun dari dirinya itu. Bagaimana ia bereaksi ketika mendengar cerita miliknya. Cara ia menyampaikan rasa lelahnya, entah itu ketika latih tanding atau menghadapi tingkah Bokuto yang ada saja setiap waktunya. Bagaimana lelaki itu yang dengan bebasnya menyuarakan apa yang ada di benak, serta mengekspresikan emosinya, membuat gadis itu merasa bahwa ternyata dia tidak seperti orang-orang gambarkan.

“Akaashi-san ... melihat bagaimana kamu memperlakukan Bokuto-san sebaik itu, aku yakin pasangan Akaashi-san nanti juga akan di treat sebaik itu juga ....”

Terdiam, lantas pemuda itu menggeleng pelan. Tawa yang sebelumnya mengudara, pun pudar begitu saja, seolah-olah terbawa oleh embusan angin pada malam itu.

“Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Sujin?”

“Tidak ada sih. Cuma ... kupikir keknya mereka beruntung deh, siapa pun yang menjadi pasangan Akaashi-san,” tutur perempuan itu.

Dirinya sejenak menatap langit malam yang bertaburkan permata langit, sebelum akhirnya kembali menatap dirinya. Menatap Akaashi yang sedang terpaku memandangnya.

“Akaashi-san orangnya baik, penyabar lagi. Lebih dari itu, Akaashi-san selalu care dengan anggota timnya. Bahkan selalu memerhatikan kondisi Bokuto-san. Aku yakin mereka akan sangat bersyukur memiliki Akaashi-san sebagai pasangannya.”

“Lagi pula ... perempuan mana yang tidak mau di treat seperti itu?”

Sadar dengan apa yang baru saja ia utarakan, pun dengan cepat dirinya menggelengkan kepala sembari mengibaskan tangannya. “Bukan berarti aku ada maksud tertentu. Aku hanya mengutarakan dari sudut pandangku saja kok.”

“..., em tidak apa. Aku yah paham saja apa maksudmu.”

Hening melanda di antara keduanya.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan sang dara, pun Akaashi memandang dirinya. Secara seksama ia mengamati setiap fitur di wajahnya. Hingga netranya jatuh pada dua belah pipi yang sedang memerah.

Sungguh manis sekali gadis dengan kelahiran dari negeri ginseng sana.

Malam itu, pun mereka tutup dengan sebuah keheningan. Bukan keheningan yang mencekik, tetapi keheningan yang menenangkan.

 

 

 

— the end | or maybe to be continue?