Actions

Work Header

Do You Still Like Me?

Summary:

The Greatest Estate Developer
BL FANFICTION!
Pair : Javier x Kim Suho (Lloyd)
Warning ‼️ BL! MATURE! R18+

Story setelah Javier membawa Kim Suho kembali ke Frontera. Dalam ketenangan di antara dua orang yang saling 'merindukan' satu sama lain. Keinginan untuk 'memiliki' yang selama ini dipendam kuat akhirnya muncul.

Javier, yang sudah 2 tahun mengembara demi mencari keberadaan Kim Suho dan berhasil membawanya kembali, meminta satu hal sebagai kompensasi.

"Untuk malam ini, apapun yang kulakukan, kau tak boleh menolaknya."

Chapter Text

“Tuan Muda, lihatlah kemari!”

“Tuan Muda! Kue ini sangat enak! Anda harus mencobanya!”

“Tuan muda, bagaimana kalau minum segelas lagi?”

“Tuan Muda! Ayo berdansalah bersama kami!”

“Tuan Muda!”

“Tuan Muda!”

Pria berambut hitam yang terus dikerumuni oleh orang-orang tampak tersenyum canggung. Merasa seperti menjadi artis yang tiba-tiba terjun di tengah kerumunan fans nya. Dengan mata penuh binar dan antusiasme kuat, orang-orang di sekitarnya terus bersorak dan memanggil-manggil namanya. Mulai dari yang berwujud seperti manusia, hingga yang menyerupai manusia, bahkan sebagian lainnya adalah mereka yang memiliki tanduk seperti kerbau atau tubuh berwarna hijau. Ada yang memiliki ekor seperti iblis dan bahkan yang seperti ikan. Sebagian lainnya bahkan terkesan ambigu untuk dipanggil sebagai makhluk hidup.

Meski begitu, mereka semua, tanpa memandang suku dan ras, di penuhi kegembiraan. Bercampur dengan ungkapan syukur yang begitu tulus dan menenangkan. Menyambut kembali kehadiran dari Tuan Muda Frontera yang sudah sejak lama mereka nantikan kehadirannya. Tanpa mempedulikan sosok seperti apa si Tuan Muda sekarang, mereka menyambutnya dengan penuh suka cita.

Walaupun tangannya sudah berkali-kali terangkat untuk menolak ajakan mereka, tetap saja, orang-orang ini terus menyeretnya untuk mengikuti arus dan menyemarakkan pesta. Berdansa bersama di halaman luas sembari saling merangkul dan bergandengan tangan. Tertawa dan bertepuk tangan bersama iringan musik yang melantun penuh semangat. Berputar mengitari halaman itu dan menyanyi dengan penuh canda tawa.

Ketika iringan musik utama kala itu mereda berganti dengan iringan musik biasa, menandakan bahwa tarian yang mereka lakukan telah usai. Pria berambut hitam dengan stelan kemeja putih itu, Kim Suho perlahan mundur dari gerombolan para penari dan duduk di kursi—yang entah sejak kapan sudah dipersiapkan oleh para pelayan keluarga Frontera. Sembari mengucapkan terima kasih dengan lirih dan tersenyum manis, Kim Suho menganggukkan kepala dengan gaya lembut dan sopan. Meski terkesan asing, para pelayan muda itu segera menutup mulut, menahan pekikan dan mundur perlahan dengan wajah memerah karena malu. Terhipnotis setiap kali melihat Tuan Muda Frontera dalam sosok asing itu tersenyum dengan begitu memikat . Menambah kesan tampan dan rupawan yang mampu membuat orang-orang terpana dengan penuh dilema.

Tentu saja, karena kini semua orang melihatnya dalam sosok seorang Kim Suho yang ASLI. Bukan lagi Kim Suho yang merasuk ke dalam tubuh Lloyd Frontera.

Dengan stelan kemeja putih berkerah lebar yang sedikit terbuka, memperlihatkan sedikit lekuk dari otot dada nya yang keras dan terbentuk berkat pekerjaan kasar yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Kemeja putih yang tampak ketat itu membentuk tubuh Kim Suho dengan sangat sempurna. Bahunya yang lebih lebar dan lebih berisi membuat lengan pakaian itu terlihat terlalu pendek. Celana coklat yang membentuk kakinya tampak serasi di padukan dengan sabuk berwarna serupa.

Sedangkan rambut hitamnya yang sedikit panjang di sibakkan ke satu sisi, membuat belahan miring. Posisinya mirip seperti posisi di mana poni Lloyd menjuntai. Namun dengan rambut Kim Suho yang lebih pendek, penampilannya jadi terlihat jauh lebih rapi dan stylish.

Meskipun terkesan sederhana, sosok Kim Suho yang seperti ini terlihat cukup mempesona. Apa lagi karena dia juga memiliki wajah yang tergolong tampan dan—tentu saja ekspresi yang jauh lebih normal. Hanya dengan sedikit senyuman, para wanita akan terpana selama beberapa saat. Tak ayal sosoknya selalu mendapat tatapan dan lirikan dari gadis-gadis muda yang berada di sekitarnya.

Sembari menahan rasa tak nyaman dan pengap, Kim Suho menatap ke arah langit. Mencoba mengabaikan tatapan orang-orang yang masih terus mengintainya dengan beragam keinginan. Mata coklatnya memandang gemerlap dari bintang-bintang yang berhamburan di langit yang gelap. Ada kelembutan yang tampak jelas pada sepasang iris kecoklatan yang memudar itu. Seolah mengenang kembali hari-hari mengejutkan yang dialaminya.

Lebih tepatnya, itu adalah hari itu. Hari.... Dimana seorang rekan, sekaligus orang yang paling ia rindukan tiba-tiba muncul hadapannya.

>>>>>><<<<<<

Hari itu, sekitar setengah tahun setelah Kim Suho kembali ke dunianya, ia pergi makan bersama seorang Hyung—dan satu-satunya temannya—So Gogi yang berkata akan mentraktirnya makan daging. Hanya bersama Pria itu, Kim Suho bisa menceritakan semua hal-hal luar biasa yang ia alami ketika berada di dunia lain tanpa merasa malu. Bahkan So Gogi mendengarkan cerita Kim Suho tanpa menyela ataupun menganggapnya aneh. Karena itu, Kim Suho bisa merasa nyaman bersamanya.

Setelah mereka selesai makan daging, mereka berjalan keluar mencari udara segar di sekitar N tower.

Kim Suho, yang saat itu sedikit melamun sembari membiarkan langkah kaki membawanya, menatap langit malam di mana bangunan besar N Tower menghalangi gemerlap para bintang. Mengenang saat-saat dirinya berada di dunia—disemesta yang berbeda. Dunia di dalam Novel yang ia baca sebelum terlelap .... Dan di suatu tempat yang begitu ia rindukan......

Frontera.....

Tempat yang ia bangun agar dapat hidup dengan baik dan damai bersama orang-orang yang ia sayangi. Tempatnya pulang dari setiap pekerjaan dan petualangan yang tak pernah menyurut setiap harinya. Tempat... Dimana dirinya disambut dengan penuh suka cita oleh semua orang tanpa memandang status dirinya.

Tempat dimana ia  bisa dengan puas memandangi langit berbintang yang jauh lebih indah dari langit kota Seoul bersama dengan Pria itu....

Ya. Pria itu.....

Berapa lama waktu sudah berlalu di dunia sana? Apakah sama dengan waktu yang telah berlalu di dunia ini? Seperti apa wajah pria itu sekarang? Apakah dia dapat hidup dengan baik setelah Kim Suho—sebagai Lloyd—pergi begitu saja tanpa menyelesaikan tanggung jawabnya untuk membangun ulang Tanah Frontera Tercinta mereka yang hancur karena perbuatan Raja Neraka sialan itu?

Ada sedikit kekecewaan yang tampak di mata Kim Suho saat itu. Kekecewaan atas dirinya sendiri yang tak lagi dapat kembali ke tempat yang begitu ia rindukan itu. Melihat orang-orang di tanah Frontera, Ayahnya, Ibunya, Adiknya Julian yang baru menikah.....

Dan orang.... Yang selalu ada di sisinya setiap saat....

Gyut....

Dadanya tiba-tiba terasa sesak, seolah dipenuhi oleh gelembung yang tak menyenangkan. Rasa penyesalan yang lebih besar datang, seolah mencoba mengiris hatinya.

Javier....

“.... Aku merindukanmu......”

Suaranya yang bergema di dalam kepalanya membuat langkah Kim Suho memelan. Tatapan matanya kosong, namun pikirannya dipenuhi dengan ingatan akan sosok Pria yang selalu hadir mendampinginya itu.

Kim Suho merindukan wajahnya yang tampan dan selalu terlihat rupawan. Merindukan rambut ikalnya yang selalu terasa menggelitik setiap kali tersentuh oleh tangannya. Merindukan tatapan matanya yang tajam, namun juga menenangkan di saat bersamaan. Atau merindukan suhu tubuhnya yang selalu hangat ketika mereka berdiri berdekatan selama menempuh perjalanan panjang. Kim Suho juga merindukan suaranya yang rendah, pelan, namun dipenuhi kesopanan. Merindukan suara tawa kecilnya setiap kali menertawakan kesulitan yang dihadapi olehnya, atau bahkan merindukan caciannya yang menyebalkan.

Ada saat-saat mereka akan duduk bersama, untuk membicarakan masa beberapa langkah kedepan. Membicarakan bagaimana mereka akan membuat Frontera lebih makmur. Atau membicarakan bagaimana membuat orang lain (musuh/ oposisi) semakin mundur. Javier sejak awal bukan orang yang banyak bicara. Tapi dia adalah seorang pendengar yang baik. Dia hanya akan bicara ketika dirasa perlu walaupun hanya sekedar pertanyaan garis besar rencana seperti “Lalu apa yang akan anda lakukan? “ atau semacam itu.

Namun, momen seperti itu, bagi Kim Suho menjadi momen dimana ia bisa merasa lebih tenang dan nyaman. Seolah ia bisa melepas topengnya sebagai seorang Lloyd Frontera tanpa merasa takut akan siapapun.

Karena.... Javier lah yang ada di sana.

“Tuan Muda.... “

Suara Javier, solah bergaung kembali di telinganya.

“Perintahkan saja aku sesukamu. Akan ku lakukan apapun itu untukmu.”

Bagaimana pria itu berusaha membantunya.

“Tuan Muda, aku akan selalu membantumu.”

“Tuan Muda, bisakah kau lebih mempercayaiku?”

Bagaimana pria itu memohon agar dapat meringankan masalahnya....

“Tuan Muda..... “

Dan bagaimana.... –

“.... Tuan Muda....?”

Tep—

DEG--!!

Langkah kaki Kim Suho berhenti, tepat ketika suara imaginer itu seperti keluar dari kepalanya dan bergema di tengah udara yang seketika menjadi senyap. Suara yang sangat familiar itu.... Suara itu terdengar benar-benar begitu nyata.

Ketika cahaya di mata Kim Suho kembali, sepasang   iris kecoklatan itu, yang sebelumnya memandang kosong kedepan, kini membulat ketika satu sosok tertangkap oleh penglihatannya.

Kekuatan seolah hilang dari tubuhnya saat itu juga.

Seorang pria, dalam balutan jaket kulit hitam dan celana berwarna serupa, berdiri beberapa meter di depannya dengan wajah sama terkejutnya. Bahkan jika penampilannya jauh berbeda dengan penampilan yang Kim Suho ingat selama ini, ia tak mungkin dapat melupakan tatapan itu. Rambut mint yang tergerai teracak sepunggung, coba disembunyikan oleh topi yang seolah sama sekali tak berguna untuk menyembunyikan identitasnya. Mata birunya yang selalu tampak lebih cerah dari langit biru di pagi hari itu menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Seolah tak mempercayai apa yang dilihatnya langsung di depan matanya.

Namun keterkejutan itu tak bertahan lama, ketika Kim Suho secara tak sadar membuka mulut dan mengejakan nama pria itu,

“Ja... vier.... “

Mata itu melembut. Begitu lembutnya hingga hati Kim Suho seakan mencelos dari tempatnya. Bibir Kim Suho yang terbuka, seketika bergetar. Namun berbeda dengannya, bibir pria itu justru membentuk garis senyum meneduhkan yang mampu membuat seluruh darahnya berdesir tidak karuan.

Pria itu, Javier Asrahan, berdiri di sana dengan wajah dipenuhi kelegaan luar biasa.

Topi yang dikenakan untuk menutupi kepalanya itu terjatuh ketika pria itu berlari ke arahnya. Tersapu oleh angin yang tiba-tiba berhembus cukup kencang seolah menyambut kedatangannya. Dan ketika kedua tangannya terulur tanpa ragu ke arahnya,

Grep—!

“--!!!!”

Tubuh Kim Suho tenggelam dalam pelukannya.

“........ “

“........ “

Kim Suho, seketika menjadi kaku. Matanya membelalak lebih lebar. Merasa seolah apa yang terjadi padanya hanya dalam beberapa detik ini hanyalah sebuah mimpi dan omong kosong belaka. Merasa seolah dirinya sudah menjadi begitu gila karena membayangkan adegan semacam ini berulang kali di dalam kepalanya.

Namun.... Kehangatan yang datang dan menyebar cepat ketika tubuhnya tenggelam dalam pelukan kencang ini begitu nyata adanya. Aroma mint samar yang dapat ia cium dari kulit leher yang menempel di hidungnya ini bukan hanya delusi semata. Dan tangan besar yang merengkuh pinggang dan kepala belakangnya ini adalah sebuah kebenaran.

Kebenaran... Bahwa pria bernama Javier Asrahan datang untuk mencarinya sampai ke dunia ini.

Kepalanya berputar, seolah berbagai kenangan, keinginan, dan harapan yang terus ia simpan sendirian di dalam dirinya bercampur menjadi satu. Membuatnya kehilangan kata dan hanya bisa berdiri di tempatnya seperti orang bodoh. Tenggelam dalam kehangatan dari pelukan Javier yang terasa seperti sebuah kebohongan yang begitu manis dan tak ingin ia lepaskan.

“Kim Suho..... “

Suara itu, berbisik di telinganya dengan begitu jelasnya. Mengejakan namanya dengan lirih namun syarat akan kerinduan yang dalam. Ketika rengkuhan yang ia rasakan semakin menguat, Kim Suho sadar bahwa bahunya perlahan menjadi basah,

“Akhirnya... Aku menemukanmu, Kim Suho.... “

Dan saat itulah, Kim Suho tak dapat lagi menahan air matanya. Bulir-bulir asin itu mengalir begitu deras ketika Kim Suho akhirnya terisak-isak di dada pria itu dengan memilukan. Menyembunyikan wajahnya di depan dada dari pria yang begitu ia rindukan. Balas memeluknya tak kalah kencang dan mencakar fabrik dari jaket kulit yang membalut tubuh tegap Pria Asrahan itu.

Tak ayal, adegan seperti drama roman Picisan itu menjadi sorotan orang-orang yang sedang ramai-ramainya berkumpul di sekitar N Tower. Namun, Kim Suho terlalu sibuk dengan perasaannya yang campur aduk sehingga tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Bahkan, So Gogi yang sejak awal bersama dengannya hanya melihat ke arahnya dan Javier tanpa mengucapkan sepatah apapun.

“Kim Suho.... Kim Suho..... “

Suara Javier, terdengar lebih tercekat. Seolah tenggorokannya sakit karena menahan isakan. Tangan besarnya membelai dengan lembut kepala Kim Suho. Meremasnya, seolah takut kehilangan apa yang berada dalam pelukannya. Sedangkan hidung yang terbentuk sempurna menempel pada leher, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kim Suho dan mengecap rasa manis yang datang darinya.

“Ini sungguh kau.... Ini sungguhan....“ Gumam Javier, masih tak percaya. Mengenali dengan jelas aroma dari pria di dalam dekapannya. Terus mengucapkan syukur dengan begitu lirih dan membelai kepala di dadanya dengan perasaan bercampur aduk tidak karuan. Kehangatan menjalar, membawa kebahagiaan luar biasa yang membuat Kim Suho hanya bisa mengangguk di dada bidang Javier. Meremat pakaiannya dan bernapas berat disana. Seolah tak ingin kehilangan aroma mint dan kehangatan yang datang dari pelukan ini. Rasa haru dan syukur membeludak, membuat Kim Suho kewalahan dan hanya bisa terus terisak seperti anak kecil

Ketika pelukan mereka mulai merenggang, Javier mundur setengah langkah. Tangan besarnya dengan lembut menghapus air mata yang masih mengalir dari mata Kim Suho yang sembab. Di tengah pandangannya yang mengkabur karena air mata, Wajah tampan dari pria yang begitu ia rindukan itu terpampang dengan begitu jelasnya.

Kulitnya yang putih tampak sedikit kotor, menandakan kesulitan dalam perjalanannya selama ini mencari keberadaan Kim Suho. Dan rambut berwarna mint nya tampak jauh lebih panjang dari yang Kim Suho ingat. Poni nya bahkan sampai menghalangi matanya dan tampak menusuk-nusuk ke garis pipi nya yang menjadi jauh lebih keras dan tegas di banding sebelumnya.

Bulu matanya yang panjang tampak masih sama mempesonanya, dipadukan dengan garis matanya yang tajam dan begitu sempurna. Kemudian mata itu, mata berwarna biru cerah yang sangat lembut dan hangat itu menatapnya dengan pandangan yang meneduhkan. Senyuman yang begitu manis, menghiasi wajah rupawan dari pria Asrahan itu dan membuat penampilannya menjadi jauh lebih mempesona dari yang pernah Kim Suho ingat. 

“Javier.... “ panggil Kim Suho, seolah masih tak mempercayai sosok yang berada di depannya, “Apa ini sungguh kau...?”

Javier mengelus pipi Kim Suho yang basah dan mengangguk dengan lembut,

“Ya, aku datang untuk mengawal kepulanganmu, Tuan Muda.”

Jantung Kim Suho menjadi berdebar tidak karuan. Ia begitu gugupnya hingga merasa bahwa bernapas saat ini menjadi sedikit sulit. Wajahnya yang dingin karena air mata perlahan menjadi hangat karena sentuhan telapak tangan Javier yang selalu terasa panas setiap kali menyentuh kulitnya. Tangan yang selalu terasa kasar karena terus memegang pedang ini, entah mengapa seolah telah melelehkan perasaannya.

Sedangkan di belakangnya, So Gogi terus memperhatikan bagaimana interaksi Javier dan Kim Suho yang terasa sangat asing seolah tengah melihat cuplikan suatu film yang ia nantikan.

“... Tapi, apa aku benar-benar harus kembali?”

Di tengah kebahagiaan yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata, masih ada setitik noda hitam yang mengganggu di hatinya. Tidak, itu bukan hanya setitik noda, tapi itu adalah noda yang begitu banyaknya hingga membentuk lubang besar di dalam dadanya.

Ia ragu... Kim Suho Sungguh ragu akan banyak hal. Javier bahkan sedikit terkejut ketika Kim Suho kembali bicara,

“Disinilah tempatku dilahirkan dan dibesarkan selama ini. Aku cuma kebetulan berada di dunia lain saja dan mendapat pengakuan karena kemampuan yang bahkan bukan milikku. Aku diakui karena kemampuan dari semacam sistem yang begitu Nge-cheat dan hebatnya. Tapi sekarang... “ tangan Kim Suho bergetar. Suaranya melirih dan matanya bahkan meredup.

“... Aku tak memiliki kemampuan apapun.”

Kim Suho bahkan menundukkan kepalanya, seolah tak mampu menatap pria yang berdiri si hadapannya lagi. Merasa malu atas semua yang terjadi selama ia berada di dunia lain. Merasa malu atas ketidakmampuannya yang begitu terasa saat ini. Kemampuan yang selama ini diperolehnya adalah milik dari makhluk digdaya yang telah membuat Kim Suho terjebak di tubuh Lloyd Frontera hingga bisa melakukan segala macam hal yang luar biasa. Namun, dengan sosok Kim Suho yang sekarang, apa yang bisa ia lakukan di sana?

Melihat bagaimana Kim Suho meredup dan menjadi ragu, Javier mengatupkan bibirnya. Namun, tangan yang masih berada di pipi Kim Suho itu tak berhenti. Telapak tangannya dengan perlahan menangkup wajah Kim Suho dan memaksa Kim Suho untuk menatap langsung ke arah matanya. Namun, meski wajahnya telah terangkat, Kim Suho masih menghindari tatapan Javier,

“Tuan Muda, tolong lihat aku.” Tuntut Javier. Menyentuh telinga Kim Suho yang tampak memerah, “Yang diinginkan orang-orang di Frontera bukanlah kemampuanmu, tapi dirimu sendiri.”

Ketika Javier menyingkirkan helaian poni Kim Suho yang menghalangi pandangan, mau tak mau, Kim Suho pun kembali menatapnya. Ada keyakinan yang begitu kuat terpantul pada sepasang iris Blue Sky yang menatap langsung ke matanya.

“Entah kau Tuan Muda Lloyd, ataupun Kim Suho, bagi kami, kau tetaplah orang yang kami inginkan. Kami sungguh menginginkan kepulanganmu. Tak lebih dari itu.”

Jemari Javier yang panjang bermain-main dengan rambut hitam Kim Suho yang lembut dan menyisipkannya ke belakang telinga. Warna merah yang begitu indah menghiasi daun telinga Kim Suho semakin jelas. Merasa asing dengan gestur yang ditunjukkan oleh Javier padanya,

“Tapi.... Bagaimana kalau aku tak bisa kembali menjadi Lloyd Frontera?” tanyanya lagi, masih begitu ragu. Javier menghembuskan napas keras, seolah tak mempedulikan masalah itu dan tersenyum penuh percaya diri,

“Semua orang sudah mengetahuinya, jadi kau tak perlu khawatir. Kau hanya harus kembali, memimpin kami semua seperti sebelumnya, dan tinggal disana selama sisa hidupmu.”

Ketika Javier mendekatkan wajahnya, Kim Suho melangkah mundur.

“Jika aku kembali kesana, rasanya seperti aku melarikan diri. Di dunia ini, semua orang bertahan hidup dengan keras. Jika aku pergi begitu saja, bukankah seolah aku telah mengejek—

PLAKK--!

“--?!!!”

Kim Suho terkejut. Bahkan Javier yang berada di depannya juga sama terkejutnya.  So Gogi yang sejak tadi terus memperhatikan drama di depannya ini tiba-tiba saja memukul punggung Kim Suho dengan keras.

Melihat pelaku yang sepertinya mencoba melukai Tuan Mudanya itu, mata Javier melotot. Kemarahan tampak jelas di wajahnya yang berubah menjadi begitu dingin. Dengan tangan terkepal, Javier maju selangkah seolah hendak melayangkan pukulan ke wajah So Gigi yang berdiri di belakang Kim Suho.

Menyadari bahwa akan segera terjadi pertumpahan darah, Kim Suho dengan cepat memegang tangan Javier dan berkata dengan panik,

“Javier! Javier, tenanglah! Tenang, ya? Dia adalah Hyung yang kukenal! Dia temanku!”

Javier melirik ke arah Kim Suho, seolah tak senang dengan kenyataan bahwa pria yang baru saja memukulnya adalah temannya. Namun, karena Kim Suho tampak ketakutan, Javier hanya menghela napas dengan kesal dan kembali tenang. Kim Suho tampak lega karena berhasil menenangkan pria Asrahan itu. Entah pertumpahan darah macam apa yang akan terjadi jika Javier sampai memukuli So Gogi di sini. Bahkan, walaupun Javier tak bisa menggunakan kemampuan Mana Heart nya disini, tetap saja, kemampuannya sebagai seorang Pendekar pedang tak dapat dipandang sebelah mata.

So Gogi yang hanya terus menjadi NPC diantara kedua tokoh utama itu, bosan dan akhirnya nyeletuk seenaknya,

“Sudahi saja drama pasutri semacam ini. Dia sudah menjemputmu sampai kesini lho. Apa kau sungguh tega membiarkannya kembali begitu saja, tuan putri?”

Wajah Kim Suho seketika memerah sempurna, “Ap— pasutri apa—“

“Aku ini.... Sebenarnya ingin belajar dengan giat dan menjadi rajin sepertimu. Tapi tetap saja ternyata begitu sulit. Aku sampai berpikir bahwa mungkin ini karena aku benar-benar sampah yang tak berguna atau semacamnya.” Kata So Gogi lagi.

“Karena itu aku lari begitu saja dan menyerah atas semuanya. Sampai merasa bahwa mati mungkin akan lebih baik daripada hidup seperti ini.”

Kim Suho menutup mulutnya, mendengarkan setiap kalimat So Gogi. Javier di dekatnya hanya terdiam. So Gogi, yang menatap Kim Suho tampak tersenyum dengan bangga,

“Tapi, setelah hidup sekuat tenaga dengan sungguh-sungguh sembari melakukan apapun yang kubisa, aku merasa bahwa melarikan diri itu tidak perlu. Aku mungkin hanya sedang mencari dunia, dimana aku bisa menggunakan kemampuan Nge-cheat milikku sendiri. Dunia, yang mungkin ingin kubangun dengan usahaku sendiri.”

“Jadi, “ So Gogi menunjukkan ibu jarinya dan menekannya ke dada Kim Suho,

“Pergilah, Bro. Pergilah ke dunia dimana kau diterima dan orang-orang menunggu kedatanganmu. Pergilah ke dunia yang sudah kau bangun dengan kemampuan terbaikmu itu.”

Itu, mungkin adalah kata-kata yang paling ingin Kim Suho dengar. Karena setelah mendengar apa yang dikatakan So Gogi padanya, keraguan yang semula tertanam dan mengakar di hati Kim Suho pun seketika menghilang. Matanya berkaca-kaca, begitu leganya dan bersyukur atas apa yang diucapkan oleh So Gogi padanya.

“Tuan Muda... “ lagi, Javier memanggilnya. Namun, kali ini ia yakin, takkan ada lagi penolakan atau keraguan yang datang dari sosok Kim Suho. Tangannya terulur, seolah siap menyambut tangan Kim Suho dan takkan melepaskan genggamannya.

“Ayo pulang ke rumah kita.”

“.... Rumah kita.....?”

“Ya.” kata Javier dengan senyum begitu meneduhkan, “Rumah kita di frontera.”

Ketika akhirnya kegelisahan di dalam hatinya menghilang, tanpa ragu Kim Suho meraih tangan Javier. Javier, menggenggam tangan Kim Suho begitu kuat dan menariknya ke pelukannya.

Dalam sekejap mata, di tengah keterkejutan karena pelukan kedua kalinya itu, Kim Suho melihat sekelilingnya berubah menjadi keemasan. Cahaya memenuhi bidang kandangnya, menggusur penampakan orang-orang yang melihat ke arahnya dengan wajah tercengang dan sosok So Gogi di sana, yang hanya tersenyum dengan penuh keyakinan.

Dan ketika membuka mata, entah berapa lama waktu telah berlalu, Kim Suho telah duduk di atas punggung seekor naga berwarna merah. Dan di belakang punggungnya, sosok Javier dalam balutan jubah kusam tengah menyangga tubuhnya dan merengkuh bahunya dengan erat agar tak melorot atau terjatuh.

“Javier....”

Javier menoleh, hanya untuk menyambut Kim Suho yang masih setengah mengantuk dengan senyuman lembut,

“Ya  Tuan Muda? Jangan khawatir, Anda bisa tidur lagi. Perjalanan kita masih sedikit panjang.”

“Apakah kita.... “

“Ya. Kita akan pulang kerumah.”

“..... Pulang kerumah, .... Ya.... “

Di tengah rasa kantuk karena angin malam yang meniup wajahnya, Kim Suho pun memejamkan mata dan tidur dengan lelap di bahu Javier yang mengecup dahinya dengan lembut.

“Selamat datang kembali, Kim Suho... “

>>>>><<<<

Plakk--!!

“Aduh!” Kim Suho yang baru saja menampar wajahnya sendiri seketika berjengit. Rasa nyeri datang menjalani pipi hingga ke garis rahangnya. Wajahnya terasa begitu panas dan ia merasa sangat malu ketika mengingat kembali bagaimana perjalanan mereka kembali ke Frontera sembari menaiki Si Naga, Solitas yang— katanya—diperintahkan oleh Ice Dragon, Tyranus untuk mengantar kepulangan Kim Suho dan Javier.

“..... Apakah dia benar-benar menciumku—maksudku—bahkan jika itu di dahi, itu tetap saja ciuman... “ gumam Kim Suho. Mencoba menyembunyikan rona memerah yang menjalari wajahnya. Warna yang begitu matang itu merambat hingga ke telinga dan leher belakangnya. Karena kulitnya yang terang, warna merah itu tampak begitu jelas hingga orang-orang yang melihatnya merasa heran dengan perubahan warna di wajah Tuan Muda Frontera itu.

Ciuman itu sangat lembut. Dan aroma yang datang dari tubuh Javier ketika menjadi sandaran Kim Suho selama perjalanan menaiki Solitas seolah masih menempel di kulitnya. Aroma mint segar yang bercampur dengan aroma maskulin khas pria itu benar-benar membuat Kim Suho merasa gugup dan Canggung.

“... Setelah menciumku seperti itu dan me-ninabobokkan-ku seperti anak kecil, dia pergi begitu saja entah kemana bersama Solitas. Padahal aku masih ingin bersama dengannya lebih lama. Banyak hal yang ingin ku dengar darinya.... “ gumam Kim Suho. Mengingat bagaimana perpisahan mereka setelah mereka sampai di halaman kediaman Frontera yang baru. Bahkan, setelah menurunkan Kim Suho di hadapan Ayah dan Ibunya—yang melotot karena terkejut luar biasa— tanpa turun dari tubuh si Naga Solitas, Javier pamit. Mengatakan masih memiliki urusan lain dan akan kembali secepatnya.

Namun, sekarang sudah tiga malam berlalu dan pria itu masih belum kembali ke sini.

“.... Sebenarnya kau pergi kemana....?”

“Tuan Muda, anda baik-baik saja?”

Saat itu, mungkin karena merasa bahwa Kim Suho terlihat aneh, seorang Iblis wanita bersurai perak panjang mendekati Kim Suho dan mencolek pundaknya. Kim Suho seketika berjengit karena sentuhan itu dan menoleh,

“Ah, Artanis....?”

“Ya. Tadi saya memanggil anda tapi anda hanya melamun. Apa anda merasa tidak enak badan?”

“Tidak. Tidak apa-apa. Aku baik—haha..... “ Kim Suho tertawa canggung, namun Iblis wanita di hadapannya, Artanis terus menatapnya. Tatapannya terasa sedikit aneh, kosong untuk sesaat, kemudian menjadi serius.

“........”

Sebelum tiba-tiba wajahnya memerah seluruhnya seperti kepiting rebus. Iblis wanita cantik itu pun menutup wajahnya dengan kedua tangan dan secara tiba-tiba bergumam tak jelas sendirian.

“........... Artanis?”

Sekarang anehnya justru Artanis yang terkejut dengan panggilan Kim Suho dan menatapnya dengan sangat gugup.

“..... Y-ya? Y-ya! Tuan Muda!”

Kim Suho mengerutkan dahinya. Menyadari perubahan sikap Artanis yang aneh itu dan bertanya,

“Kenapa? Apa kau meliha—“

“Ah! Anda pasti lelah karena seharian ini harus bertemu dan menemui penduduk. Bagaimana kalau Anda beristirahat saja? Saya akan mengantar anda langsung ke kamar jadi orang-orang takkan menyadari jika anda pergi.”

“.... Eh....., baiklah...?”

'Sepertinya Artanis melihat sesuatu dengan kemampuan Future sight nya.... ‘

Kim Suho sebenarnya ingin menanyakan itu, tapi melihat bagaimana Artanis dengan hati-hati menyembunyikan Kim Suho agar terhindar dari tatapan orang-orang dan terbang sembari membawanya membuat Kim Suho memilih menutup mulutnya dan mempertanyakan itu dalam diam.

>>>>>>>>>><<<<<<<

Javier Asrahan berjalan ke arah kediaman Keluarga Frontera dengan langkah tenang.

Naga api Solitas, yang sebelumnya bersamanya hanya mengantar Javier sampai ke depan gerbang masuk ke arah perumahan Frontera. Dengan wajah masam, dia pergi begitu saja tanpa menunggu Javeir mengucapkan terima kasih. Mungkin jika bukan karena Tyranus, Solitas juga takkan mau mengantarkan Javier sampai sejauh ini.

Javier tak mengeluh. Dia membiarkan Solitas pergi dengan tubuh Naganya dan menghilang di langit gelap yang bertabur dengan gemerlap bintang.

Sepatu boots  Javier terus menapaki jalan ke kediaman utama Count Frontera yang dibangun dengan penuh perhitungan dan cermat bersama para penduduk. Konsep penataannya yang teliti dari hasil kerja keras selama dua tahun itu membuat jalan menuju Kediaman Count Frontera terlihat begitu memukau. Penerangan di berikan di sepanjang sisi jalan agar para pejalan kaki dapat melihat di malam hari dan tak tersesat. Pepohonan dan bunga-bunga di tanam di samping kanan kiri jalan, tak lupa dengan sistem perairan kecil di dekatnya.

Kepala bersurai mint nya tertutup oleh tudung dari jubah gelap yang tampak kumuh. Jubah yang ia kenalan sejak meninggalkan Frontera dua tahun lalu masih melekat di tubuhnya hingga sekarang. Jubah sepanjang di bawah lutut itu berkibar setiap kali ia bergerak. Dan di balik jubah itu, sebilah pedang terselempang di dekat pinggul kirinya.

Berkat itu, penampilannya menjadi sedikit sulit dikenali. Jika tak mencermati wajahnya dengan baik, orang-orang pasti akan salah mengenali Javier sebagai seorang gelandangan.

Tapi, memangnya ada gelandangan yang memiliki paras begitu memikat dan rupawan sepertinya?

Mata berwarna sky blue yang terterhias oleh bulu mata panjangnya yang indah bergerak beredar kesana kemari. Mengamari desa yang sudah dua tahun ia tinggalkan demi mencari keberadaan pria itu. Desa yang awalnya porak poranda karena serangan dari Raja Naraka, kini telah dibangun seperti sedia kala. Meski tak sebaik ketika pria itu masih berada di sini sebelumnya, namun, dengan usaha para penduduk yang begitu solid dan kompak, desa ini dapat kembali berdiri seperti ini. Bahkan sampai sekarang, tempat ini masih terus dibangun dan akan semakin berkembang kedepannya.

Langkah kaki membawa Javier ke halaman luas milik keluarga Frontera yang begitu ramai dan bising karena diadakan pesta. Javier sudah menduga bahwa penduduk Frontera akan membuat perayaan besar seperti ini. Hanya saja ia tak menyangka bahwa tempat ini akan menjadi jauh lebih ramai dari apa yang dipikirkannya. Namun, meski berada di tengah-tengah perayaan yang meriah, Javier tampak sama sekali tak peduli. Kepalanya menoleh ke sana kemari, seolah tengah mencari penampakan satu sosok yang sejak tadi terus hadir dalam pikirannya. Namun, bahkan jika pria itu telah menyibakkan helaian poni nya yang panjang beberapa kali—yang sedikit menghalangi pandangannya—ia tetap tak dapat menemukan keberadaan dari sosok yang ia cari.

Kalaupun saat ini waktu sudah menunjuk lewat tengah malam, suasana kala itu tetap begitu meriah. Orang-orang yang terdiri dari berbagai macam suku dan ras bercampur menjadi satu. Berkumpul di tengah iringan musik penuh semangat yang dilantunkan tanpa henti oleh alat-alat musik yang bergerak sendiri karena pengaruh sihir seorang malaikat yang sedang berada dalam masa Skorsing. Sedangkan orang-orang lainnya  tengah menikmati berpesta dan bersorak sorai sembari menari-nari.

Minuman keras hadir di sana sini, diikuti oleh berbagai macam jenis buah-buahan, daging yang masih terus mengepulkan asap, hingga camilan manis dan asam. Orang-orang yang berkumpul, tak hanya sibuk menyantap makanan yang ada, namun juga mengobrol dan bersorak sorai dengan bahagia. Suara mereka yang bersatu membumbung tinggi menghiasi langit malam berbintang wilayah Frontera dengan dipenuhi nada suka cita. Sembari saling merangkul dan mengumandangkan Yel-Yel yang sejak awal menjadi landasan orang-orang dan pekerja di wilayah Frontera. Memeriahkan malam penuh kebahagiaan itu dengan gelak tawa dan rasa syukur yang tak dapat dilukiskan lewat kalimat biasa.

“Kau ingat kan bagaimana Tuan Muda mengalahkan Sang Raja Neraka?”

Kalimat yang didengarnya di tengah-tengah pesta itu membuat langkah Javier berhenti. Menoleh, Javier mendapati sosok Greg, yang setengah mabuk merangkul Kuga, Pria dari Bangsa Orc yang juga merupakan adik iparnya.

“Dengan sangat gagah dan heroik, dia menghantam wajah dari Raja Neraka hingga babak belur dan patah tulang leher! Lalu, di detik-detik terakhir ketika kekuatannya hampir habis, dia melesat memancing Raja Neraka untuk masuk ke dalam portal bersamanya! Tuan Muda mengorbankan dirinya untuk melindungi kita semua! Bukankah itu masih terasa begitu tak nyata dan sangat luar biasa?”

Javier, melewati begitu saja gerombolan pria-pria dan Orc berotot yang masih terus menceritakan tentang aksi Heroik Lloyd Frontera beberapa tahun lalu.

Tidak. Itu bukanlah aksi Lloyd Frontera, Putra tertua Count Across Frontera. Tapi itu adalah Aksi Heroik seorang Pria biasa yang berasal dari dunia lain.

Dari sebuah tempat nun Jauh disana bernama Seoul.

Itu adalah pengorbanan yang ditunjukkan oleh Kim Suho.

Karena pengorbanannya itu, Kim Suho pun terpaksa harus kembali ke tempat asalnya, Seoul. Javier mengingat dengan jelas kesedihan dan keputusasaan semua orang ketika pria itu pergi meninggalkan mereka semua setelah melimpahkan tanggung jawabnya pada Javier untuk menjaga tempat ini. Tertelan oleh lubang hitam neraka dan menghilang sepenuhnya bersama si Raja Neraka sialan itu. Membawa Javier pada sebuah perjalanan panjang hanya untuk membawa pulang kembali pria luar biasa itu.

Dan.... Perjalanan panjang itu pun akhirnya berakhir dengan kepulangan pria itu ke tanah Frontera ini.

Ada sedikit rasa menggelitik dan hadir di dadanya. Itu perasaan yang selalu ia rasakan setiap kali sosok itu hadir di dalam pikirannya. Itu bukan perasaan yang mengganggu. Walaupun sedikit menyebalkan, Javier tak membenci perasaan ini.

Dan Javier bukanlah orang bodoh yang tak mengetahui apa nama perasaan yang ia rasakan terhadap pria itu.

“..... Tapi di mana dia? Kupikir seharusnya dia terlihat mencolok disini.” Kata Javier masih mencari keberadaan dari pria yang ia pikirkan itu. Dengan sosoknya yang seperti sekarang, bukan tak mungkin dia akan terjebak di tengah-tengah kumpulan para wanita muda—

“.... Tuan Javier?”

Seseorang memanggil namanya. Ketika Javier berbalik, yang berdiri di hadapannya adalah Artanis, Iblis berparas cantik dengan kulit berwarna ungu dan rambut putih yang tergerai panjang hingga di bawah lutut.

Iblis wanita itu tampak senang melihat wajah yang berada di balik tudung jubah kotor itu, “Astaga, ternyata benar—ups!!” Artanis segera membekap mulutnya sendiri dan menarik Javier menjauhi kerumunan orang-orang yang tampaknya mendengar suara keras Artanis barusan. Seolah sedang mengamankan Javier dari mata penduduk Frontera yang masih terlena dengan perayaan besar malam ini.

“Anda seharusnya tidak disini.” Kata Artanis menyeret Javier ke arah kediaman Frontera melalui jalan samping. Javier tampak keheranan melihat tingkah Artanis—yang bahkan bersusah payah menggunakan sihir tabir pelindung untuk menutupi sosok Javier.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Javier. Artanis menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah Javier.

“Pokoknya anda istirahat saja di rumah. Lagi pula anda juga baru saja kembali dari perjalanan panjang, bukan? Tuan Muda juga sudah di dalam. Kalau tidak malam ini, besok bakal rumit karena Ratu bakal datang.”

Javier seketika menghentikan langkahnya. Artanis juga langsung berhenti. Wajahnya berubah panik seketika, seolah telah salah mengucapkan sesuatu.

“.... Apakah Ratu Alicia akan datang ke Frontera?”

“..... “

“Artanis, jawab aku.”

“Yah.... Begitulah.... Haha....”

Alis panjang Javier tertaut di tengah dahi. Sedangkan Artanis tampak melirik ragu-ragu ke arah Javier, yang perlahan menyadari sesuatu.

“Apa kau sudah melihat sesuatu?”

Artanis menjadi gugup. Keringat tampak mulai mengalir dari pelipisnya. Melihat perubahan ekspresi yang sangat tak biasa itu, beberapa gambaran tentang kejadian yang mungkin akan terjadi besok muncul di kepalanya.

Javier, Tiba-tiba mengepalkan tangannya.

“.... Padahal Ratu sudah berjanji, apa dia hanya mengucapkannya secara lisan saja.... “ gumamnya. Ada kemarahan dalam nada suaranya yang rendah dan dalam. Mata itu menatap kedepan dengan dingin, seolah ingin menguliti apapun yang ada di depannya.

Menyadari kemarahan yang datang dari Javier, Artanis segera melambaikan tangannya di depan wajah Javier,

“Tuan Javier! Tuan, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh! Pokoknya silahkan istirahat untuk hari ini! Dan—“ Artanis merogoh saku dress hitam yang dikenakan olehnya. Mengeluarkan sesuatu dari sana dan menarik tangan Javier.

“Jangan lupa gunakan ini.”

Wajah Javier berkerut penuh tanya.

“.... Apa ini?”

“Anda akan membutuhkannya. Pokoknya jangan banyak bertanya dan jangan memikirkan hal-hal berat. Untuk malam ini, silahkan beristirahat di kamar anda.”

Ada semakin banyak keterangan yang datang di wajah Javier ketika mendengar Artanis menekankan kata ‘beristirahat' dengan sedikit centil. Namun sebelum sempat menanyakan lebih lanjut, Artanis telah melesat lebih dahulu dan terbang ke arah kerumunan menggunakan sayap hitamnya yang seperti sayap kelelawar. Meninggalkan Javier sendirian dengan benda mencurigakan di tangannya.

>>>>>>>>><<<<<<<