Actions

Work Header

1510 mph

Summary:

Katanya semakin bertambah usia maka semakin akrab seseorang dengan sepi, jadi Luka memilih berdamai dengan hening yang diciptakannya sendiri. Sampai Oliver hadir jadi distraksi, meminta atensi yang ternyata tidak segan untuk Luka beri.

Notes:

I mean.... idk... i finished this in an hour. hbd heeseung.

Work Text:

Dua tahun Luka habiskan malam ulang tahunnya seorang diri, bermain Mario Kart atau menghabiskan watchlist Netflix yang terinstall di televisi apartemen miliknya di Monaco. Tidak lagi dia jajaki club ataupun bar untuk bersenang-senang, pun perayaan besar-besaran yang biasa timnya adakan perlahan tidak lagi jadi keharusan yang dia perlu datangi. He’s more than happy to let his team know he doesn't need it anymore.

 

Tentu, di antara dua puluh empat jam yang ada, Luka tidak serta merta menolak seluruh undangan temu yang teman dan kerabat dekatnya berikan. He’s just a little more picky, memilih yang sekiranya ingin ditemui dan menolak sisanya dengan alasan yang cukup masuk akal. Pun saat bertambah usia, semakin dekat dengan angka tiga puluh, everyone is busier—mostly with their partner, or family. Dua hal yang sejatinya tidak Luka miliki. 

 

Kedua orang tuanya memilih kembali ke Scotland, tempat keduanya bermigrasi saat dia lahir dulu. Sementara kakak perempuannya kini menetap di Berlin, memiliki dua orang anak laki-laki yang sudah menginjak bangku sekolah dasar, dimana artinya dia tidak lagi bisa meninggalkan Jerman seenak hati, dan Luka tidak masalah.

 

He’s content with whatever he has, he doesn’t get a birthday blue either. Sebab pada dasarnya, meski tidak lagi merayakan hari lahirnya secara besar-bersaran, he lives the life he wants—hidup yang tenang dan jauh dari sorotan publik yang menyesakkan dada. 

 

Jadi saat pukul sebelas malam di tanggal 14 Oktober bel apartemennya berbunyi, Luka dibuat bingung bukan main. He doesn’t remember having any appointment or guest, tidak juga ingat kalau manajernya akan datang. Malam ini seharusnya dihabiskan Luka seorang diri. 

 

He waited. Betul-betul sedang tidak ingin menerima siapapun di rumahnya, so he might as well berpura-pura sedang tidak ada di rumah, atau sudah tertidur. But then, not even a minute later, ponselnya menyala, menunjukkan notifikasi panggilan masuk dari lelaki yang sama sekali tidak Luka duga. 

 

Oliver is calling…

 

Dengan cepat tangannya bermain di atas layar ponsel, menerima panggilan tersebut sembari menatap pintu apartemen yang sejak tadi berada di hadapannya. Luka tidak langsung berbicara, menunggu Oliver di seberang sana memulai percakapan terlebih dahulu—a habit between the two of them—sembari menenangkan degup jantungnya yang berdetak sangat cepat.

 

Are you sleeping?” Comes the voice he hasn’t heard for two weeks—semenjak race mereka di Singapura yang berakhir dengan Jay, Oliver, dan dirinya yang berbagi podium. 

 

Luka berdeham, mengurangi kering di tenggorokannya. It’s always like this when it comes to Oliver. Luka dibuat bungkam dan mendadak payah dalam merangkai kata. “No, why?”

 

“Aku di depan apartemen kamu, I‘m bringing you a birthday cake.” Ada jeda yang kelewat hening, membuat Luka mendadak panik, sebab jawaban atas pertanyaannya beberapa sekon lalu kini terjawab. Bahwa lelaki yang berada di balik pintu apartemennya adalah Oliver. But instead of opening the door, Luka dapati dirinya membeku di tempat. 

 

Payah. Jay ledek dirinya setiap kali ketiganya habiskan waktu bersama. Somehow, his feeling are way too obvious, sampai-sampai Luka pikir tanpa diutarakan pun Oliver sudah mengetahuinya. Tentu sebagai sahabatnya semenjak mereka karting, Jay tidak setuju dengan mindsetnya itu. Bagi si lelaki, rasa yang Luka miliki harus diutarakan. Namun, beberapa kali pun Jay katakan itu, Luka tetap bersikukuh kalau it isn’t as easy as Jay make it to be.

 

Are you outside? Aku tinggalin di resepsionis aja ya—” “No!” His reply comes fast, too fast even, buat keduanya terdiam—Luka yakin ujung kedua telinganya memerah menahan malu—sebelum Oliver terkekeh.

 

No for being outside or no for the receptionist?”

 

Nada jenaka yang Oliver layangkan buat Luka menggigit bibir bawahnya, merasakan degup jantungnya yang semakin menggebu. He hates to admit that maybe, he might like Oliver more than he realised. “For both.” Pada akhirnya Luka menjawab, sembari membawa langkah kakinya mendekati pintu apartemen. 

 

He doesn’t wait for Oliver’s answer, memutar knob pintu apartemennya itu dengan cepat, and he could feel his breath hitch the moment he looked up

Di hadapannya, Oliver mengenakan crop top berwarna hitam yang membalut tubuhnya sempurna, membuat si lelaki tampak lebih ramping dengan lekuk yang terlihat lebih jelas dari biasanya. Senyum yang Oliver tunjukkan tidak kalah dari cahaya rembulan yang Luka lihat dari jendela ruang tamunya tadi, sementara rambut si lelaki lebih pendek dari yang terakhir kali Luka ingat, membuat kedua matanya yang selalu mengingatkan Luka akan rubah dipoles dengan make up sederhana yang mempertegas kedua sudutnya.

 

Oliver looks… stunning. And it took Luka his whole being not to drool like a hungry dog.

 

Hi? Earth to Luka.” Lagi-lagi Oliver yang membuka pembicaraan; menyapa dengan tangan yang kini menjulurkan bungkusan plastik berisi kue ulang tahun yang beberapa saat lalu Oliver sebut.

 

“Aku ga boleh masuk ya ini?” The guy has the audacity to smirk saat dapati wajah gelagapan yang Luka tunjukkan saat memberi jalan untuknya masuk, pun saat melihat tangannya yang gemetar saat mengambil plastik kue.

 

 

Make yourself at home…” Pada akhirnya Luka mendapatkan kemampuan berkomunikasinya kembali. 

 

 

Oliver mengangguk, namun tidak serta merta menuruti basa basi Luka. Sebab ini kali keduanya berada di kediaman si lelaki Oktober, terbiasa habiskan lebih banyak waktu di tempat Oliver yang dibagi dengan beberapa tim dan staffnya yang lain. 

 

Jadi, Oliver memilih untuk mengambil duduk di sofa ruang tamu, dengan kotak kue yang dibawanya tadi Luka letakkan di coffee table si lelaki. Sementara pemilik apartemen mengambil alat makan dan minuman untuk keduanya. “Juice, or coffee? Aku ga stock bir lagi dari awal tahun.”

 

Oliver berbalik, temui Luka yang mengintip dibalik kulkas. “Juice is fine, thank you.”

 

Setelah selesai dengan urusan di dapur, keduanya duduk bersisian di depan televisi Luka yang menunjukkan paused screen dari film Pride & Prejudice yang Oliver hafal di luar kepala, membuat yang lebih muda mengerti kalau sebelum dirinya datang, Luka tengah asik menonton. If the information makes him happier, menandakan kalau Luka tidak habiskan malam ulang tahun dengan orang lain, Oliver wont let Luka knows. 

 

“So, pride and prejudice? How’s it?” Luka yang tengah meneguk jus jeruknya hampir tersedak, tidak berpikir kalau Oliver akan membawa topik pembicaraan tersebut.

 

Diletakkannya kembali gelas kaca berisikan jus itu ke atas meja, lalu meraih kembali remote televisi yang tadi ditinggal begitu saja olehnya. “Good, I guess? Aku belum sampe setengah.”  

 

Oliver terkekeh, meraih bantal sofa dan menyandarkan tubuhnya, memperhatikan Luka dengan senyum yang betah hinggap di pipinya. He thinks tonight Luka looks even funnier than he usually is, he doesn’t know why, namun mungkin memang efek samping berduaan dengan lelaki yang sejak lama diidolakan olehnya punya kadar yang cukup unik. 

 

Wanna watch it together? Kita bisa potong kuenya nanti di jam dua belas.” Tawaran itu membuat kedua mata Oliver membulat sempurna, sebelum si lelaki mengangguk cepat.

 

“Whatever you wanna do. You’re the one we are celebrating tonight.” 

 

Luka dibuat tersenyum atas jawaban itu, pun kepercayaan dirinya bertambah saat melihat semburat merah yang menghiasi kedua pipi Oliver—menandakan kalau rasa gugupnya bukan perasaan yang dialami Luka seorang diri. “Tapi ga boleh spoiler.” Ultimatum itu buat tawa renyah Oliver mengudara.

 

Interaksi kecil tersebut membuat jarak keduanya secara alami berkurang, dengan Oliver yang menghapusnya dengan lancang, membuat kedua kaki mereka bersentuhan. But Luka doesn’t have the will to say anything about it, sebab hangat yang menjalar di tubuhnya terasa menyenangkan. “As you wish, Sir Luka.”

 

And fuck does Luka want to combust. Luka tidak pernah memikirkan title yang dianugerahkan kerajaan Inggris padanya tiga tahun silam dapat terdengar begitu merdu saat Oliver yang sebutkan. “Careful with the title, Oliver.”

 

 

Oliver tertawa, but finally settled beside Luka. By the end of the movie, Oliver tidak lagi bersandar di sofa, melainkan pada tubuh Luka yang sama sekali tidak memprotes; alih-alih, si lelaki melingkarkan tangannya di pinggang Oliver, berikan kehangatan yang menggelitik perut. Pada scene terakhir pride and prejudice, Oliver dapati Luka tengah menatapnya. 

 

Di bawah lampu sorot dari layar televisi, kontras dengan remang ruang tamu si lelaki, he could see the glint of devotion in Luka’s eyes—one thing he tried to ignored for weeks now, berpikir kalau semua hanya berada dalam khayalan dan ilusi kepalanya saja.

 

But right now, laid bare under Luka’s gaze, wrapped in the guy’s hands, Oliver tidak lagi memilih untuk bersembunyi—tidak lagi menghindar dari apa yang dirinya inginkan. Oliver biarkan Luka mengikis jarak keduanya, menyentuh bibirnya dengan milik si lelaki dengan hati-hati, dan memberi izin si lelaki menyapu ranum miliknya dengan lidah Luka.

 

It was a simple kiss. It wasn’t devouring. Namun cukup untuk menjadi jawaban atas seluruh teka-teki yang keduanya mainkan, cukup untuk buat Oliver menyadari kalau kekaguman yang selama ini dimiliki terhadap si lelaki bukan sebatas fans kepada idolanya saja, pun cukup membuat Luka menginginkan ulang tahun berikutnya dia habiskan bersama Oliver—membagi tontonannya bersama yang lebih muda sampai keduanya kehabisan waktu. 

 

Happy birthday.” Oliver ucapkan itu saat jam digital di dinding ruang tamu Luka menunjukkan pukul dua belas lebih enam belas menit, dan senyum yang Luka tunjukkan menyapu seluruh keraguan Oliver, meninggalkan hanya rasa suka cita yang meluap—the undeniable warmth that comes from the realisation of being wanted back.