Actions

Work Header

Chocolate

Summary:

Jihoon is a tsundere, sadistic person, shameless liar and has a really great poker face. Nobody knows what he's thinking about, even his best friend, Seungcheol.
A story about Seventeen daily life, with some hillarious moment, some misunderstanding, the secrets that not really hidden and so many another things. Main!Jicheol, side!Jeongcheol, side!Jihan, side!Meanie, side!verkwan

Notes:

Cross-post in aff. I will publish in Bahasa here since I wrote this story in Bahasa.

Chapter Text

Para member Seventeen terlihat berkumpul di ruang latihan mereka. Kegiatan hari ini cukup menguras tenaga mereka. Setelah menghadiri fanmeeting mereka juga diharuskan untuk kembali latihan untuk mempersiapkan comeback mereka yang akan datang. Untuk melepas rasa lelah, tak jarang mereka berkumpul, entah hanya untuk sekedar berbincang bahkan bermain game jika mereka merasa bosan. Sama seperti yang mereka lakukan saat ini. Mereka tengah memainkan game eye contact, dimana dua orang akan saling bertatapan dan siapa yang mengalihkan perhatian atau mengedipkan mata mereka pertama kali akan kalah. Baru saja Seungkwan harus berhadapan dengan Jihoon dan Jihoon berhasil menang dengan mudah, sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Jihoon hyung terlalu menyeramkan, jangankan menatap matanya, mendengar suaranya saja sudah membuatku ketakutan.” Ujar Seungkwan sambil memeluk lututnya di pojok ruangan, ketakutan.
“Jangan berlebihan, memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?” sahut Jihoon sambil menatap Seungkwan bosan, sementara yang ditatap hanya bisa meringgis mendengar sahutan dari produser mereka.
“Itu karena kau senang mem-bully member lain, seperti yang sedang kau lakukan sekarang, Jihoonie.” ucap pemuda cantik, Jeonghan, sambil merangkul Seungkwan yang sedang duduk di pojok ruangan.
Jihoon yang menerima komentar tersebut menatap Jeonghan tidak terima, tatapan sang produser agaknya membuat pemuda cantik tersebut sedikit bergidik ngeri, namun ia tetap tersenyum menghadapi pemuda yang bertubuh lebih kecil darinya tersebut. Member yang lain juga tidak berani mendekati sang produser yang bertubuh mini tersebut. Harus mereka akui kalau produser sekaligus lead vocal mereka memang menakutkan, apalagi pada saat seperti ini.
“Sudahlah Jihoonie, jangan menakuti orang lain dengan tatapan seperti itu. Kalau tatapan bisa membunuh, kami semua yang ada disini sudah jadi mayat, kau tahu?” ujar sang leader sambil menenangkan sang produser mini mereka. Sementara yang ditenangkan malah mengalihkan tatapannya pada sang leader yang kini juga tengah merangkulnya.
“Itu hanya ‘seandainya’ saja kan? Buktinya kalian masih hidup sampai sekarang.” Balas Jihoon kesal.
Seungcheol memutar bola matanya malas lalu menangkup wajah Jihoon, memaksa sang lead vocal untuk menatapnya. Sepertinya ketakutan yang disebabkan oleh pemuda yang di depannya ini tidak berlaku untuknya.
“Apa kau mau kami disini semuanya menjadi mayat, hm?” Tanya Seungcheol.
“Tentu saja tidak.” Jawab Jihoon cepat.
“Kalau begitu hentikan kebiasaanmu yang menatap orang seakan-akan kau ingin membunuh mereka.”
Jihoon tidak menjawab, ia hanya menatap tajam sahabat karibnya tersebut. Sementara yang ditatap tidak memperlihatkan reaksi yang ia harapkan. Seungcheol manatapnya balik dengan tatapan yang tidak kalah tajam. Keadaan tersebut menyedot perhatian member yang lainnya. Mereka memang mengetahui kalau keduanya adalah sahabat karib dan juga merupakan member dengan masa trainee yang paling lama sebelum debut. Tak lepas dari ingatan mereka bagaimana dekatnya hubungan sang produser dengan sang leader, bahkan tak sekali dua kali mereka memperlihatkan hubungan mereka yang mungkin sudah melebihi kadar ‘hubungan sebagai sahabat karib’ saat mereka masih trainee. Hal tersebut juga sudah dilihat oleh para fans mereka karena sering kali kedekatan mereka tersebut tertangkap oleh kamera.
Seungcheol menghela nafas panjang. “Hentikan atau aku akan menciummu, Jihoonie.” Ujar Seungcheol sambil mendekatkan wajahnya, menipiskan jarak yang ada di antara mereka.
Mata Jihoon membesar mendengar ucapan sang leader, belum lagi wajah pemuda tersebut semakin dekat hingga ia mampu merasakan nafas pemuda yang merupakan sahabat karibnya tersebut.
NGEK!!
Dengan gerakan yang sangat cepat, Jihoon menginjak kaki Seungcheol dengan sekuat tenaga, membuat pemuda tersebut langsung mengambil jarak sambil memegang kakinya yang telah diinjak dengan tidak keperikakian oleh sang produser.
“YA! Lee Jihoon!!” Hardik Seungcheol
“Apa? Tidak akan kubiarkan kau melakukan hal itu.” Sahut Jihoon, bibirnya memperlihatkan sebuah seringai kemenangan.
“Itu tadi nyaris saja ya, sudah lama tidak menyaksikannya membuatku berdebar-debar.” Ujar Mingyu sambil memegang dadanya yang masih berdebar-debar dengan cepat karena hal yang baru saja terjadi.
“Kau benar hyung, jantungku juga berdebar-debar melihatnya.” Sahut sang maknae ikuti oleh anggukan beberapa member lainnya.
Jihoon yang mendengar hal tersebut menatap mereka tak percaya. ‘Berdebar-debar? Yang benar saja??’ pikirnya. Seakan-akan mereka mengharapkan ciuman itu akan terjadi, dan ia tidak akan membiarkan hal itu. Tidak. Akan. Pernah.
Sementara itu, Seungcheol hanya tersenyum canggung mendengar ucapan rekan-rekannya yang tidak biasa tersebut. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa akan mendapat reaksi seperti itu dari Jihoon maupun dari yang lainnya. Meskipun sebelumnya Jihoon selalu menolak tetapi pada akhirnya ia membiarkan dirinya dikecup oleh sang leader, apakah itu hanya kecupan di pipi atau pun mungkin di bibir. Mengingat hal tersebut tak ayal membuat pipi Seuncheol merona, dan saat ia mencoba mengingat kembali, ia nyaris selalu memilih Jihoon untuk berada di sisinya entah kenapa.
“Hyung, wajahmu merah sekali. Apa kau sakit?” Tanya Minghao yang entah sejak kapan berada di depannya. “Apakah kakimu benar-benar terasa sakit hyung? Sampai-sampai wajahmu merah begitu, seperti buah apel.” Lanjut pemuda asal china tersebut.
Seungcheol hanya menerjapkan mata beberapa kali. “Sama sekali-“
“Apakah benar-benar sakit Seungcheol-ah? Coba kulihat kakimu.” Suara Jeonghan memotong kata-katanya. Bahkan tanpa sepertujuannya, pemuda yang memiliki julukan malaikat ini sudah membuka sepatu beserta kaus kaki yang dikenakannya, memperlihatkan kakinya yang sedikit memerah karena diinjak oleh sang produser barusan.
“Kelihatannya memang sakit.” Ucap Soonyoung saat melihat kaki sang leader yang sedikit bengkak dan meninggalkan bekas berwarna merah. “Lebih baik hyung istirahat saja sambil mengompres kakimu. Dengan keadaan seperti itu, lebih baik hyung tidak ikut latihan dulu untuk beberapa saat.” Lanjutnya lagi.
Seungcheol yang memang merasakan sakit pada kakinya hanya mengangguk, ia tahu kalau pun ia memaksakan diri untuk ikut latihan, Soonyoung akan menceramahinya sepanjang waktu. Lebih baik mengikuti saran sang choreographer daripada harus diceramahi seharian. Belum lagi ia menangkap sinar kekhawatiran dari mata Jihoon, meskipun pemuda mini tersebut tidak mengatakan apa-apa. Sang produser justru memberikan komando pada member lainnya untuk memulai latihan mereka. Sepertinya ia sudah mengambil peran sang leader karena tak butuh waktu lama untuk mereka memulai latihan mereka kembali yang tadi sempat terhenti karena permainan yang agak bodoh, mungkin itulah yang dipikirkan oleh Jihoon. Sungcheol hanya tersenyum melihat tingkah laku Jihoon yang menurutnya sangat imut tersebut. Senyumnya semakin lebar saat menangkap gerakan bibir sang produser yang ditujukan padanya, tak menyadari sepasang mata menatapnya melalui cermin.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tetapi kegiatan di ruang latihan grup idol Seventeen masih belum berakhir. Seungcheol yang tadi dibebaskan dari latihan kini kembali mengikuti latihan choreography. Ia berusaha mengejar ketertinggalannya, meskipun ia melihat langsung selama tidak diperbolehkan latihan, tetap saja ia butuh waktu untuk membiasakan dirinya dengan choreography baru mereka. Dengan dibimbing langsung oleh Soonyoung sebagai choreographer mereka, serta ditemani oleh member yang lainnya Seungcheol dapat mengejar ketertinggalannya, apalagi dengan kemampuan menarinya memang tidak bisa dibilang jelek.
“Okay! Kita istirahat dulu 15 menit.” Seru Soonyoung yang kemudian diikuti oleh sorak-sorai rekan-rekannya.
Seungcheol yang masih belum puas dengan latihannya tetap terus berlatih setelah meminum air mineral yang memang selalu disediakan di ruang latihan mereka.
“Apa kakimu sudah tidak apa-apa? Benar-benar sudak tidak terasa sakit?” suara lembut menghentikan kegiatan Seungcheol. Ia menatap lawan bicaranya dengan senyum diwajahnya.
“Aku benar-benar sudah sehat, kau tenang saja Jeonghan-a” jawab Seungcheol. Ternyata suara pemilik suara tersebut ialah sang malaikat grup mereka, yang juga menjadi ‘eomma’ di grup dengan dirinya sendiri sebagai sang ayah.
Jeonghan yang mendengar hal tersebut tersenyum lega. “Syukurlah kalau begitu. Meskipun kau adalah leader tapi kalau kau jatuh sakit, aku tetap saja khawatir.” Ujarnya.
Seungcheol tertawa renyah dan kemudian merangkul Jeonghan. “Aku baik-baik saja eomma, terima kasih sudah mengkhawatirkanku.” Godanya sambil mengeratkan rangkulannya. “Kurasa aku harus mulai latihan lagi. Aku masih belum puas.” Lanjut sang leader kemudian kembali melanjutkan latihannya.
Jeonghan yang mendengar godaan yang dilayangkan oleh sang rapper hanya tertawa ringan. “Baiklah kalau begitu appa, fighting!” serunya sambil menyemangati sang leader yang membalas seruan tersebut dengan anggukan serta senyum lebar di wajahnya. Perasaan hangat menyelimuti hatinya saat mendengar Seungcheol memanggilnya ‘eomma’. Meskipun ia tahu itu hanya godaan saja tetapi ia tetap saja merasa senang, meskipun rasa malu lebih mendominasi perasaannya.
“Eomma, apa setelah ini kau dan appa akan pergi berkencan?” Tanya Hansol membuyarkan lamunan Jeonghan.
“Benarkah itu appa? Setelah latihan ini kalian akan berkencan?” Tanya Seungkwan semangat pada Seungcheol yang sedang latihan.
Seungcheol yang mendengar pertanyaan tersebut hanya tertawa geli. Ia memandang Jeonghan yang memandang Hansol bingung kemudian menarik tangan pemuda cantik tersebut untuk mendekat padanya.
“Benar sekali, setelah ini appa dan eomma akan pergi berkencan. Kalian harus menjadi anak baik selama kami pergi. Okay?” jawab Seungcheol sambil merangkul Jeonghan, memberikan kesan posesif terhadap pemuda cantik tersebut, tidak mempedulikan wajah Jeonghan yang memerah layaknya buah tomat. Sementara member yang lainnya tertawa geli mendengar jawaban dari sang leader.
“Hyung, sudahlah. Berhenti menggodanya. Lihat wajah Jeonghan hyung sudah seperti buah apel.” Ucap Minghao setelah puas tertawa oleh opera sabun antara kedua pemuda tertua tersebut.
“Eoh? Benarkah?”
Seungcheol melirik Jeonghan yang masih berada dalam rangkulannya. Ia melepaskan pemuda cantik tersebut saat menyadari wajah pemuda yang seumuran dengannya tersebut memang sudah berwarna seperti buah apel.
Sementara itu tak jauh dari kedua pemain opera sabun tersebut, Jihoon masih berusaha menghentikan tawanya. Jika ia ingat-ingat akhir-akhir ini opera sabun yang diperankan oleh kedua member tertua tersebut selalu berhasil membuatnya tertawa geli. Berbeda sekali saat Seungcheol memilih dirinya untuk melakukan hal tersebut sejak mereka masih menjalani masa trainee. Tak jarang ia ingin memukul wajah tampan pemuda tersebut. ‘Mungkin Jeonghan hyung juga ingin memukul wajahnya, makanya wajahnya jadi merah begitu.’ Pikir sang produser.
“Jihoonie, apa kau tidak cemburu kalau Seungcheol hyung lebih senang memilih Jeonghan hyung itu memainkan drama sabun seperti itu? Biasanya kan kau yang menemani Seungcheol hyung?” Tanya Wonwoo membuyarkan lamunan Jihoon.
“Cemburu? Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak punya alasan untuk cemburu. Aku justru sangat terhibur dengan opera sabun mereka.” Jawab Jihoon di sela-sela tawanya.
Wonwoo yang mendengar jawaban sang produser mengernyitkan dahi. “Benarkah?”
“Tentu saja!”
Wonwoo menghela nafas panjang. Ia tidak ingin mempercayai apa yang terucap oleh sang produser, tetapi ia tidak menemukan kebohongan di mata Jihoon. Padahal seingatnya, meskipun sering dipaksa untuk memainkan opera sabun oleh Seungcheol, pemuda yang ada di depannya ini tidak mau member lain terkena imbas permainan opera sabun Seungcheol yang kadang di luar batas.
“Aku tidak mau kalian tidak dapat tidur dengan nyenyak karena badan kalian remuk karena opera sabun miliknya, tapi bukan berarti aku akan membiarkan kalian bebas dari hukuman jika melakukan kesalahan.”
Itu lah yang dulu diucapkan oleh sang produser saat mereka menanyakan kenapa pemuda bertubuh paling kecil di grup ini selalu melayani opera sabun Seungcheol yang sering kali melewati batas normal. Dan jangan lupakan maksud Jihoon dengan hukuman. Faktanya, setelah Seungcheol, Jihoon adalah member yang tidak bisa menerima kesalahan sedikitpun. Bisa dibilang keduanya sangat perfeksionis dan keras kepada member-member lainnya dalam urusan latihan, baik latihan choreography maupun latihan vocal, dan juga dalam proses rekaman.
Lamunan Wonwoo harus berhenti saat Soonyoung memanggil mereka untuk melanjutkan latihan kembali. Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang.

***

Jeonghan sebenarnya ingin lari dari Seungcheol, kalau bukan karena Seungcheol adalah leader grup, mungkin Jeonghan sudah menjauh. Tapi, kharisma leader hiphop team ini selalu membuat Jeonghan kagum. Selama bersama Seungcheol, Jeonghan bisa memahami bagaimana sang leader mengatur waktu dan membernya.
“Hei, Hannie!”
Jeonghan menengok merasa terpanggil oleh suara khas yang ia kenal, kenal sekali.
“Jisoo, hey. Ada apa?” Jeongham tersenyum melihat sahabatnya yang berjalan ke arahnya.
Hari ini ruang latihan sepi, hanya ada vocal team yang sedang berlatih di studio. Team yang lain sedang beristirahat menunggu giliran memakai ruang latihan. Jisoo sebelumnya sedang menyesuaikan nada gitar yang akan dipakai untuk acara fanmeeting dua minggu depan. Melihat Jeonghan yang terduduk sambil berlatih rentang suaranya, Jisoo ingin mendekatinya. Sebenarnya Jisoo diajak untuk menjahili Jihoon dengan menguncinya di studio oleh Seungkwan dan Seokmin, tetapi Jisoo masih sayang dengan lehernya
“Hehe, aku sedang berpikir apakah kita akan membawakan lagu Adore U dengan aransemen baru atau dengan acapella. Menurutmu, lebih baik mana?”
Jeonghan mengernyitkan dahinya. “Jisoo-ya, sebelumnya lagu itu kan sudah di aransemen ulang oleh Jihoon untuk dibawakan menggunakan gitarmu. Menurutku, kita ikuti saja. Lagipula kemampuan bermain gitarmu patut diperlihatkan,” Jeonghan tersenyum dengan senyuman tulusnya.
Tanpa Jisoo sadari, pipinya memerah melihat senyuman yang seperti malaikat itu. Jisoo benar-benar menyukai senyuman itu. Jeonghan tidak dapat melihat rona merah di pipi sahabatnya itu, karena tiba-tiba ada suara Jihoon yang memanggil dan mengutuk teman-temannya di luar studio. Seungkwan dan Seokmin benar-benar gila, pikir Jisoo. Jihoon yang murka ini, masih dalam keadaan terkunci di studio, berteriak meminta siapapun yang berada di dekat pintu untuk membukakan pintu untuknya. Jisoo menggelengkan kepalanya, kemudian membukakan pintu studio.
“HEY! Siapa yang mengunciku di dalam?!”
Jihoon benar-benar murka.
Seketika Seungkwan dan Seokmin menghilang dari pandangan.
Mereka benar-benar gila.
“Jihoon-ah,” Jeonghan memanggil, sambil sedikit tertawa, “Kenapa bisa kau terkunci di dalam?” Jeonghan kemudian tertawa, tak sanggup menahannya lagi.
“Aku tidak tahu, Hyung! Ah, pasti ini perbuatan Seokmin dan Seungkwan, iya kan?!” Jihoon terlihat sangat murka, sampai pada saat pintu ruang latihan terbuka dan muncul Seungcheol dari balik pintu.
Jihoon, Jisoo, dan Jeonghan menengok melihat siapa yang datang.
Jeonghan rasanya ingin berlari.

***

“Jeonghan-ah..”
Dia memanggilnya, dia memanggilnya Jeonghan-ah.
Jeonghan menatap Seungcheol yang memanggilnya, dan tersenyum. “Ne, Seungcheol-ah. Ada apa?”
Jeonghan ingin sekali berlari. Karena rasanya jantungnya sudah berdegup sangat kencang seperti orang yang sedang marathon. Apa mungkin dia terkena penyakit jantung? Jeonghan ingin berlari.
“Erm..” Seungcheol memulai. Kemudian Ia mengusap tengkuknya sendiri, Seungcheol terlihat gugup. “Bisa kesini sebentar?” Seungcheol melanjutkan. Dengan raut muka malu dan gugup itu membuat Jeonghan ingin berlari. Sungguh memalukan, seperti anak sekolah menengah yang akan menyatakan cinta.
Cinta?
Seketika badan Jeonghan terasa dingin. Rasanya Jeonghan ingin berlari.
Jisoo yang melihat ketegangan di pundak Jeonghan, meletakkan tangannya di pundak Jeonghan. Seperti orang yang tersetrum, Jeonghan menengok ke sampingnya, melihat Jisoo begitu khawatir membuat Jeonghan tersadar, kembali kepada sumber suara yang memanggilnya.
“Ah, ne,” jawab Jeonghan.
Kemudian Jeonghan berjalan ke arah Seungcheol, dan Seungcheol mengajaknya duduk di pojok ruang latihan, membicarakan sesuatu yang tidak bisa Jihoon ataupun Jisoo dengar.
Jihoon yang sebelumnya murka dengan kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya, kemudian masuk kembali ke studio dalam diam. Jisoo pun kembali menyetel nada gitarnya, walaupun hatinya berdegup tidak seharmonis nada-nada gitarnya.

***

Seungcheol mengajak Jeonghan untuk duduk di lantai ruang latihan. Seungcheol masih terlihat gugup dan bingung. Jeonghan juga masih ingin berlari. Ada apa dengan Seungcheol?
“Jeonghan-ah..”
“Ne?” Jeonghan menengok kearah Seungcheol.
“Aku sedang memikirkan sesuatu,” ujar Seungcheol sambil menuduk. Jeonghan melihat sikap Seungcheol yang malu-malu ini sangat imut, kapan lagi Ia bisa melihat sang leader grup seperti ini. Biasanya hanya kepada Jihoon, Seungcheol lebih terbuka. Jeonghan terdiam, menunggu Seungcheol melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.
“Erm.. Apa.. Apa kau..”
Rona merah di pipimu itu sungguh imut, Seungcheol.
“Ya?”
Ada apa, Seungcheol?
“Apa.. Kau.. Mau..”
Dub-dub-dub.
Ah, diamlah kau jantung! Aku berusaha mendengar Seungcheol disini!
“Ya?” Jeonghan memajukan sedikit wajahnya kearah Seungcheol, karena suara Seungcheol mulai mengecil.
“Apa kau mau.. Erm.. Membawa roleplay Appa dan Eomma kita untuk fanmeeting selanjutnya?”
Eoh?
“Eoh?” Jeonghan mengangkat wajahnya dari Seungcheol, kaget adalah yang terbaca dari raut mukanya. Seungcheol yang melihat raut wajah Jeonghan yang kaget ini kemudian melanjutkan, “Ah, Euh.. Kau tahu kan banyak fans yang menyukai sedikit drama, aku berfikir untuk membuat sedikit penampilan itu. Erm.. Begitulah..”
“Oh..”
Jantung bodoh, untuk apa berdegup begitu kencang untuk hal seperti ini.
Jeonghan rasanya ingin berlari. Entah menjauh dari Seungcheol atau ke arah Seungcheol dan memukulnya dengan sekuat tenaga. Jeonghan memilih untuk tersenyum dan mengangguk, “Boleh, sesuatu yang dapat membahagiakan fans sangat menyenangkan untuk dilakukan menurutku.”
Seungcheol yang gugup berubah menjadi seungcheol yang bersemangat, “Oke, bersiaplah Jeonghan-ah!”
Jeonghan hanya tersenyum menampilkan senyuman matanya yang indah. Terdengar sesuatu yang meleleh, tapi seungcheol tidak tau bahwa hatinyalah yang meleleh melihat senyuman seperti malaikat itu. Seungcheol berdeham kemudian pamit kepada Jeonghan untuk ke studio.
Studio dimana Jihoon berada.

***

Ruangan kecil itu tertutup oleh material kedap suara. Seberapapun kencangnya kau menyalakan lagu di dalam studio tidak akan terdengar sampai keluar. Sekuat-kuatnya kau berteriak, suara teriakanmu tidak akan terdengar keluar. Sesakit-sakitnya kau menangis, tangisanmu tidak akan terdengar keluar. Mungkin bunyi hati yang retak itu juga tidak akan terdengar. Ya, karena ruangan ini kedap suara.

***

Jeonghan masih terduduk di pojok ruangan. Di sebelah kirinya adalah tembok kaca ruang latihan, dimana Jeonghan bercermin dan melatih ekspresi wajahnya untuk penampilan. Ia melihat ke seluruh ruangan, Jisoo sudah pergi, mungkin untuk mencari performance team yang kemarin memohon untuk dibantu olehnya.
Jeonghan menghela nafas, kemudian berdiri. Ia memperbaiki penampilannya dan raut wajahnya yang sulit dijelaskan itu. Sedikit perasaan senang, sedikit perasaan kecewa, sedikit kaget, dan sedikit penasaran. Benar-benar sulit dijelaskan. Apa yang Jeonghan pikirkan sekarang adalah Seungcheol. Seungcheol. Seungcheol Appa.