Work Text:
Hujan baru saja berhenti malam itu. Sisa udara lembap merambat pelan lewat jendela ruang tamu yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah dan daun yang menetes pelan. Lampu kuning di sudut ruangan menyala lembut; hangat tapi tak terlalu terang.
Taekjoo duduk di sofa dengan buku terbuka di pangkuannya. Di ujung lain, Zhenya berbaring setengah malas, buku di tangannya terbuka pada halaman yang sama sejak sepuluh menit lalu. Hening. Hanya bunyi detak jam dan napas mereka berdua.
Keheningan itu terasa nyaman, sampai Zhenya mulai bosan. Ia melirik Taekjoo yang tenggelam dalam bacaan, dan tiba-tiba membuka suara pelan, nada rendahnya khas, tenang tapi jelas.
“Zainka.”
“Mm?” sahut Taekjoo tanpa menoleh.
“Kalau aku ingin hadiah ulang tahun yang benar-benar aku mau, apa kamu akan memberikannya padaku?”
Taekjoo menutup bukunya separuh, menatap sebentar. “Kamu? Hmm... sulit juga. Aku rasa kamu sudah punya semuanya.”
“Sudah punya semuanya?” ulang Zhenya, menatapnya dari ujung sofa. “Termasuk kamu?”
“Termasuk aku,” jawab Taekjoo datar. “Sayangnya aku tidak bisa menolak jika bosan denganmu.”
Zhenya mendengus kecil. “Lucu sekali.”
“Aku tahu.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Tapi tatapan Zhenya tak beranjak. Ia menatap lama, terlalu lama, hingga Taekjoo mulai merasa aneh dengan diamnya.
“Kalau begitu,” ujar Zhenya pelan, “bagaimana kalau aku minta sesuatu yang belum pernah kamu berikan?”
Taekjoo mengangkat alis. “Contohnya?”
“Seorang bayi.”
Udara seketika berhenti bergerak.
Taekjoo menatapnya lama, menunggu nada tawa, tapi yang ia lihat hanya keseriusan tenang itu—jenis ekspresi Zhenya yang selalu membuatnya bingung: setengah candaan, setengah tidak.
“Tolong, tidak,” katanya akhirnya.
“Kenapa tidak?” tanya Zhenya, masih dengan nada yang sama. “Itu mungkin hadiah paling berharga yang bisa kamu berikan. Setelah hatimu, tentu saja.”
Taekjoo mendesah. “Zhenya, aku bahkan tidak bisa hamil.”
Diam sejenak.
Lalu Zhenya menatapnya dengan sorot lembut yang tak biasa, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Mau coba lagi sekarang?”
“APA yang mau dicoba lagi!?” seru Taekjoo spontan, nada paniknya lebih tinggi dari yang ia maksud.
Zhenya mengangkat bahu, seolah itu hal yang sangat wajar. “Hanya ingin memastikan. Untuk penelitian pribadi.”
“Untuk— Zhenya, aku bersumpah, kamu—”
Tawa rendah keluar dari dada Zhenya, pelan, dalam, dan menyebar seperti sesuatu yang menenangkan sekaligus menjengkelkan.
“Aku hanya bercanda, Zainka sayang.” Ia menangkap bantal yang dilempar Taekjoo, lalu menatapnya lama sebelum mencium punggung tangannya sendiri dengan gaya yang terlalu dramatis.
“Selamat ulang tahun,” ujarnya.
Taekjoo hanya menggeleng, meski bibirnya ikut melunak menahan senyum. “Ya, selamat ulang tahun. Sekarang diam.”
Zhenya menuruti, tapi matanya masih menyimpan senyum kecil itu, senyum yang hanya muncul di hadapan Taekjoo.
Dan di sela keheningan yang kembali, sesuatu di dada Taekjoo terasa menegang.
Zhenya bilang itu hanya bercanda, tapi... entah kenapa, ia yakin di balik tenangnya, lelaki itu sungguh-sungguh.
Zhenya, pikirnya, kadang berbicara dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh hatinya sendiri. Dan Taekjoo sedikit takut kalau dirinya benar-benar memahami maksud di baliknya.
Ia menunduk, pura-pura kembali membaca. Tapi huruf-huruf di halaman tampak seperti semut hitam yang berjalan tanpa arah. Setiap kali ia berkedip, yang muncul di kepalanya justru suara itu lagi.
“Seorang bayi.”
Astaga.
Ia melirik diam-diam. Zhenya sudah bersandar sambil membaca bukunya kembali, mata setengah terpejam, satu tangan masih menggenggam bantal yang tadi ia lempar. Wajahnya tampak tenang sekali, seperti orang yang tidak pernah menjatuhkan kalimat paling absurd di dunia.
“Mau coba lagi sekarang?”
Taekjoo hampir memukul dirinya sendiri karena ingatannya malah memutar ulang itu.
Kenapa Zhenya bisa bicara dengan ekspresi seserius itu, padahal isinya, ya Tuhan, tidak masuk akal sama sekali? Tapi semakin ia mencoba menertawakan, semakin aneh rasanya. Ada sesuatu di balik nada datar Zhenya, sesuatu yang membuat dada Taekjoo terasa hangat dan tegang bersamaan.
Mungkin itu hanya lelucon.
Mungkin.
Tapi kalaupun bercanda, kenapa Zhenya tidak pernah bercanda tentang hal yang tidak ia pikirkan sedikit pun? Dia bukan tipe yang asal bicara.
Jadi... mungkinkah?
Taekjoo buru-buru menutup bukunya, memijit pelipis.
Tidak, ia tidak mau membayangkan apa pun.
Tapi pikirannya sudah melangkah lebih dulu.
Bayangan itu datang begitu saja. Zhenya berdiri di dapur dengan bayi kecil di pelukannya, wajahnya masih setenang biasa tapi tangannya kikuk memegang botol susu.
Atau Zhenya yang mencoba menidurkan bayi sambil mengomel pelan dalam bahasa Rusia.
Atau... dirinya sendiri yang terbangun di tengah malam hanya karena suara lembut Zhenya menyanyikan sesuatu yang tak ia pahami.
Taekjoo menatap langit-langit.
Astaga. Ini gila.
Zhenya bergerak sedikit di sofa, dan tanpa sadar, ia bergerak mendekat, merebahkan tubuh dengan kepalanya yang ia taruh ke pangkuan Taekjoo. Helaan napasnya pelan, teratur. Hangat.
Taekjoo hanya diam.
Pikirannya masih sibuk mengatur jarak antara realita dan sesuatu yang ia tidak berani sebut “keinginan.”
Zhenya tidak sungguh-sungguh, tentu saja.
Tapi, bagaimana kalau iya?
Kalau Zhenya benar-benar ingin sesuatu yang seperti itu. Kehidupan kecil, keluarga kecil, bersama dirinya. Apakah itu salah?
Ia menunduk, menatap lelaki yang kini tampak begitu damai.
Zhenya yang dingin, menyebalkan, tapi entah bagaimana, selalu tahu cara membuat segalanya terasa seperti rumah.
Taekjoo menatapnya lama.
Lalu, tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Bayi, ya,” gumamnya pelan. “Kamu ini memang gila.”
Zhenya tidak menjawab, tentu saja tidak, karena ia sudah tertidur. Tapi di sudut bibirnya, senyum tipis itu masih ada. Seolah bahkan dalam mimpi pun, ia masih sempat menggoda Taekjoo.
Dan Taekjoo hanya bisa menggeleng, tangannya terangkat untuk menyisir rambut pirang Zhenya. Lalu ia menatap keluar jendela tempat hujan mulai turun lagi, pelan-pelan.
