Work Text:
memiliki seorang anak laki-laki adalah keinginan mereka sejak awal membuat hubungan mereka menjadi resmi. mereka selalu membayangkan rumah tangga yang penuh cinta dan tawa dengan seorang anak laki-laki. membayangkan seorang anak laki-laki berlarian di dalam rumah sementara seongje sibuk mengejarnya dan hyuntak sibuk di dapur. lalu mereka akan duduk di satu meja makan, menghabiskan masakan hyuntak bersama, berbagi cerita, tawa, tak lupa tangis saat anak mereka tidak mau menghabiskan makanannya.
semua itu menjadi kenyataan. mereka mengadopsi satu anak laki-laki dari panti asuhan. mereka merawatnya dari usia lima tahun. dari usia lima sampai sebelas tahun mereka masih menikmati yang namanya mengurus anak sekaligus mencari nafkah. mereka pikir ini mudah asal mereka berdua bekerja sama. anak mereka juga laki-laki sehingga mereka yakin akan siap jika masa pubertas itu tiba. percayalah, masa pubertas mereka bedua lumayan keras.
sampai anak mereka berinjak dua belas tahun, disitulah mulai tampak sedikit perubahan yang seongje lebih dulu sadari saat ingin memanggilnya untuk makan malam bersama.
"mana anaknya?" tanya hyuntak sambil memindahkan telor gulung dari wajan ke atas piring di meja makan.
seongje mengangkat bahunya kemudian duduk di kursi. tangannya sudah sangat siap mencapit telor gulung di hadapannya, tapi hyuntak dengan gesit menampar tangannya.
"panggil lagi! sampe kesini! masa gak makan malem?"
"ah, biarin aja, yang. remaja."
hyuntak membanting wajan panas itu ke dalam wastafel. seongje mendengar itu sebagai kode merah dan sirine yang nyaring bunyinya, sehingga dia langsung kembali berdiri dan menuju kamar sang anak remaja.
seongje mengetuk pintunya berkali-kali seperti sebelumnya, memanggil namanya, dan mencoba menekan gagang pintu namun sepertinya dikunci dari dalam. seongje sebenarnya sudah menyerah, dia melakukan ini demi hyuntak. sehingga seongje hanya menyandarkan tubuhnya di pintu sambil berbicara pelan. ini juga satu cara untuk mengatur emosinya. semenjak punya anak, seongje belajar untuk tidak mudah marah apalagi di depan anaknya.
"papa gak tau kamu kenapa, ya. papa gak maksa kamu buat cerita. tapi, kalo kamu kaya gini kasian papi kamu udah masak susah-susah padahal baru juga pulang kerja. itu papi masak sop tahu pedes sama telor gulung, loh. kamu yakin gak mau?" seongje menghela nafas, "minyoung? denger papa gak, ya? ayo besok minggu kita ke everland kalo kamu keluar."
lalu seongje mendengar bunyi klik dari kunci pintu kamar. seongje mengambil langkah mundur, mengantisipasi anaknya yang akan muncul dari balik pintu. kata-kata everland itu memang seperti kata ajaib untuk minyoung. saat pintu itu akhirnya terbuka, terlihat minyoung yang tampak lesu masih dengan baju kotor yang dia pakai untuk sekolah.
"eh? kamu kenapa, sayang?" seongje langsung maju untuk memeluknya. dan disitulah tangisan minyoung pecah.
hyuntak yang mendengarnya dari dapur langsung berlari ke sumber suara. melihat minyoung dan seongje yang sedang berpelukan di ambang pintu kamar minyoung, hyuntak ikut memeluk minyoung. walaupun dia tidak mengerti kenapa. saat hyuntak mendongakkan kepalanya ke seongje untuk penjelasan, seongje juga menggelengkan kepalanya karena tidak tahu.
saat mereka akhirnya duduk di meja makan, dengan awal yang canggung, seongje akhirnya membujuk minyoung untuk bercerita. walaupun ceritanya masih tidak jelas, mereka berdua tetap mencoba untuk mengerti. memberikan dukungan dan menghibur minyoung dengan candaan khas bapak-bapak seongje.
itu pengalaman pertama mereka menghadapi anak laki-laki mereka yang mulai menginjak fase remaja. begitu terus sampai minyoung menginjakkan kaki di sekolah menengah pertama. minyoung mulai susah diajak main kesana-sini dan lebih suka menyendiri di kamar. Awalnya itu membuat mereka sedih, namun perlahan mereka terbiasa dengan itu. minyoung mulai punya kesukaan terhadap hal spesifik, selalu meminta uang, dan saat tidak diberikan dia akan tantrum dan diam selama seminggu. lagi-lagi mereka terbiasa. seongje dan hyuntak mencoba memasukkan minyoung ke sebuah club aktivitas di luar sekolah untuk membuatnya tetap aktif, tapi saat mendapatkan laporan dari coachnya kalau minyoung tidak pernah hadir mereka memberhentikannya. jelas mereka sangat marah karena club itu tidak murah, tapi perlahan mereka mulai memaafkannya.
kalau hyuntak bisa jujur, tiap kali itu terjadi hyuntak selalu berfikir minyoung ini seperti bukan anaknya dan ingin sekali membuat wajahnya itu babak belur. namun, seongje yang selalu siap di sampingnya akan memegang tangannya erat-erat, membuatnya mengatur nafasnya, kemudian menciumnya sampai hyuntak melupakannya. itulah yang membuat mereka tidak ingin menyerah dan ingin terus melihat minyoung tumbuh menjadi pria dewasa yang mandiri. melakukan ini dengan satu sama lain memang membuat kegiatan mengurus anak laki-laki ini menjadi lebih mudah.
mereka pikir minyoung akan berubah saat dia mengijakkan kaki di sekolah menengah atas. atau paling tidak berhenti disana, artinya tidak ada hal buruk lagi yang keluar dari diri minyoung. apalagi mereka memasukkan minyoung ke sekolah bagus. dengan segala usaha mereka mencoba memasukkan minyoung kesana agar minyoung bisa jadi lebih baik. berharap minyoung bisa bertemu teman-teman yang lebih baik dan guru-guru yang lebih meng-openi anak muridnya. walaupun awalnya mereka pesimis saat melihat rapor SMP minyoung yang buruk. berkat mendatangkan guru privat ke rumah yang mereka awasi di tiap proses belajarnya, rapornya naik dan minyoung bisa lolos ke sekolah itu.
tapi, mereka sangat keliru. sepertinya seongje dan hyuntak telah melupakan masa SMA mereka sendiri.
suatu sekolah bisa saja sangat bagus. akreditasi A dan lain sebagainya. namun, yang namanya anak nakal itu tidak lepas akan tempat. yang lebih parahnya lagi virus anak nakal itu menyebar seperti covid. mudah sekali menular hanya dengan menarik nafas dari udara yang sama. sebenarnya itu mudah sekali diselesaikan dengan berbagai macam cara. seongje dan hyuntak juga sudah menyiapkan berbagai cara jika itu terjadi. entah membawanya ke terapi, pindah sekolah walau itu akan memakan banyak waktu lagi, atau pilihan terakhir mereka adalah homeschooling.
yang menjadi masalah sekarang adalah, minyoung bukan sekedar anak nakal yang ikut-ikut temannya untuk menjadi nakal dan ditakuti teman-temannya. melainkan minyounglah cikal bakal 'virus covid' di sekolah itu.
apa yang seongje dan hyuntak pikir sudah siap untuk membawa minyoung ke tempat lebih baik, malahan ini lebih seperti membawa virus ke tempat yang suci. mereka tidak menyadari hal ini. menyadari kalau minyoung belum sepenuhnya siap untuk berubah dan dimasukkan ke sekolah bagus.
hyuntak mendapat telfon itu saat dia baru saja selesai rapat di kantornya. sementara seongje hanya mendapat kabar dari hyuntak yang langsung menelfonnya begitu selesai dengan gurunya minyoung.
"sumpah? demi apa?" seongje yang sedang sibuk menyusun draf-draf gambar teknik ke dalam map dibuat berhenti oleh hyuntak.
"aku gak tau lagi." hyuntak mengelus dahinya sendiri, mencari tempat duduk terdekat dan menyandarkan tubuhnya ke dinding, "abis ini aku masih harus ketemu klien. kayanya bakal lembur juga. kamu bisa gak urus?"
"duh, gak tau nih. tadinya mau ke site, sih. tapi aku bisa suruh anak magang aja kayaknya." seongje menghela nafas panjang, "jam berapa di suruh kesana?"
"ya, kalo bisa sekarang."
"waduh."
"kalo gak bisa gak papa. aku suruh OB aku jemput dia aja."
"terus pulang ke mana? dia kan gak pegang kunci."
"aku suruh bawa ke kantor terus aku marahin di sini."
"tak, sayang, jangan gitu. udah deh, abis ini aku ke sekolah."
"beneran? bisa?"
"anak magang selalu mau-mau aja, kok." seongje tertawa kecil.
"yaudah, makasih ya. love you, je."
"love you too."
seongje tiba di sekolah minyoung dengan ekspresi wajah yang masam. dia hanya ingin segera menyelesaikan ini dan membawa minyoung pulang karena dia bukan orangtua kaya yang kerjaannya hanya kipas-kipas saja. dia punya segudang tanggung jawab sebagai arsitek lapangan dan klien yang cerewet. seongje juga geram dengan minyoung. apa dia tidak berfikir seperti itu? apakah minyoung belum cukup dewasa untuk memiliki empati? orangtuanya ini juga bekerja untuk dia. dia pikir menghampirinya di sekolah untuk alasan konyol ini tidak akan merugikan karirnya?
begitu dia masuk ke ruang guru, dia sudah melihat minyoung yang berdiri dengan dua tangan naik ke atas. wajahnya penuh luka. saat seongje mendekatinya, minyoung kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. entah sudah berapa lama dia berdiri dengan posisi itu disana.
seongje hanya diam namun terus menatapnya. tidak merasa kasihan sama sekali, entah kenapa.
"ayahnya minyoung?"
seongje berbalik badan dan menemukan wali kelasnya yang sudah berdiri di samping meja kerjanya. wali kelas itu menyuruhnya duduk.
"saya minta maaf soal apa yang terjadi, bu."
"saya mengerti. tapi ini bukan pertama kalinya ya, pak. minyoung juga sudah sering bolos kelas dan menurut laporan temen-temennya dia sering ngajak berantem anak sekolah lain." suara wali kelas itu lembut, namun tegas dengan kata-katanya. tidak menabur gula untuk membuatnya jadi lebih manis di lidah seongje. pait. ini sungguh pait. dia tidak percaya anaknya seperti ini.
"kalau saya boleh tau, tadi dia berantem sama siapa ya bu?"
"ada nanti anaknya sama orangtuanya. cuma belum dateng."
"waduh, masih lama gak ya bu? karena saya juga lagi buru-buru."
"saya belum dapat kabar lagi. tapi yang jelas, sekarang minyoung di skors dulu dari sekolah selama seminggu ya, pak. semoga bisa dimengerti." wali kelas itu mengeluarkan selembar kertas ukuran A4, menunjukkan laporan nilai hasil ujian tengah semester minyoung, "saya juga mau ngasih tau bapak kalau minyoung hasil utsnya tidak memuaskan ya, pak. saya harap ini bisa jadi bahan renungan untuk bapak dan minyoung selama seminggu kedepan. saya berharap begitu saya ketemu lagi dengan minyoung, saya bisa melihat sedikit perubahan. karena, ini peringatan juga pak dari kepala sekolah. kalau minyoung tidak berubah dia harus di keluarkan dari sekolah ini."
seongje hanya bisa menelan ludah berkali-kali. walau wajahnya harus menjaga ekspresi tersenyum untuk menghormati wali kelasnya. melihat isi laporan nilai itu dan tidak ada satupun predikat diatas C membuatnya sedih. ini juga membuatnya ingat kalau minyoung mungkin bukan anak kandungnya, namun proses tumbuh kembangnya kini ada di tangannya. Artinya, nilai ini seperti hasil didikannya selama ini dan itu membuatnya sangat kecewa dengan dirinya sendiri sebagai orangtua. ini seperti melihat nilainya sendiri.
"baik, terimakasih, bu."
selepas itu, seongje membawa minyoung ke luar ruang guru. mereka duduk di kursi koridor. saat itu tepat jam istirahat sehingga banyak anak-anak yang mondar-mandir di koridor dengan jajanan atau sekedar ingin melihat minyoung dengan ayahnya.
"kamu terkenal ya?" tanya seongje, mencairkan suasana di antara mereka berdua.
minyoung hanya diam, menunduk sambil memainkan jari kukunya, merobek kecil-kecil kulit di sekitarnya. seongje yang menyadari itu langsung merebut tangannya dan membawanya ke genggamannya.
"maafin papa, ya."
minyoung mendongakkan kepalanya saat mendengar itu.
"maafin papi juga gak bisa dateng. dia sibuk." seongje mengelus tangan minyoung dengan ibu jarinya, "seminggu kedepan papa sama papi bakal perhatiin kamu. ya?"
mata minyoung berlinang air. kemudian pecah. air mata itu mengalir deras. dan seongje, dia hanya bisa melihat dirinya yang dulu. dirinya yang dulu sering di panggil ke ruang guru karena ketahuan merokok di sekolah dan berantem dengan anak-anak lain. dirinya yang bahkan dulu tidak dihiraukan orangtuanya walaupun mereka dipanggil untuk datang ke sekolah. dirinya yang hanya bisa menahan sakit dan pulang sendirian ke rumah yang kosong. dirinya yang saat itu hanya bergantung pada hyuntak untuk merasakan keluarga yang nyaman dan mau menerima kekurangannya.
seongje akan memastikan minyoung tidak hidup seperti itu. sehingga dia hanya bisa menenangkan minyoung. meyakinkan minyoung kalau dia punya rumah untuk pulang, untuk jujur, dan untuk belajar menjadi orang yang lebih baik.
disana, di koridor yang ramai dengan anak-anak yang kemungkinan banyak dari mereka yang kenal siapa minyoung, seongje memeluknya. Dan, di saat itu juga seongje meyakinkan minyoung kalau menjadi lemah terkadang tidak apa-apa.
malamnya, saat hyuntak pulang, dia langsung memanggil minyoung dan mencarinya ke kamarnya. seongje yang awalnya sedang santai di depan TV dengan makanan siap sajinya panik dan langsung mengejarnya ke kamar minyoung. hyuntak dengan dada yang naik-turun dan tangan dikepal menghadap minyoung yang terduduk di pinggiran kasur sambil ketakutan. seongje masih memerhatikan dari pintu kamar yang terbuka, gerak tubuhnya gelisah. minyoung melihat kearahnya seperti meminta pertolongan. namun, kalau sudah soal hyuntak seongje benar-benar sudah tidak tau harus apa karena dia juga lemah di hadapannya. maka saat tamparan itu mendarat di pipi kiri minyoung, seongje langsung berdiri di antara mereka. memisahkan hyuntak agar tidak melakukan lebih dari itu.
"udah, tak. udah."
"kamu gak tau apa hampir seharian--SEHARIAN! aku mikirin minyoung! capek tau gak!" hyuntak membentak di wajah seongje, "papi capek ya, minyoung! kamu kira selama ini usaha papi ngasih kamu yang terbaik itu buat apa?"
"tak.. udah. dia udah disuruh berdiri lama banget sama gurunya." seongje mencoba menenangkan hyuntak, mengelus dadanya sambil satu tangannya lagi masih melindungi minyoung di belakangnya.
"ya bagus! pantes dia dihukum kaya gitu! sok jagoan! papa sama papi gak pernah ngajarin kamu kayak gitu ya, minyoung!" hyuntak terus membentak, suaranya nyaring, memantul di tiap dinding rumah mereka, "kamu bikin papi ngerasa gak pantes jadi orangtua!"
hyuntak langsung keluar dari kamar minyoung dan masuk ke kamarnya dan seongje, membanting pintu saat menutupnya. kini seongje merasa seperti memiliki dua bayi yang cengeng karena minyoung menangis di belakangnya dan hyuntak kemungkinan juga. seongje langsung berbalik badan dan memeluk minyoung, mengelus punggungnya sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan.
"udah, kamu tidur aja, ya. maafin papi ya? udah tidur."
walaupun minyoung sudah tumbuh lebih tinggi, membawanya tidur seperti ini masih membuatnya merasa minyoung hanyalah anak kecilnya yang hanya minta untuk disayang dengan lembut.
setelah memastikan minyoung tertidur di kasurnya, dia pergi ke kamarnya sendiri. seongje menemukan hyuntak yang sedang menatap ke luar jendela, kedua tangan di pinggangnya. dari pantulan kaca, hyuntak seperti sedang berfikir keras. hyuntak memang selalu begitu. tapi kali ini membuat seongje takut. ditambah, saat seongje memeriksa wajahnya air mata itu sudah membanjiri pipinya. hyuntak segera menyeka air mata itu dengan kemejanya.
seongje memilih tidak menyentuh hyuntak sama sekali dan hanya berdiri di sebelahnya, kedua tangan dia kaitkan di belakangnya.
"kamu inget gak alasan kita pertama kali buat adopsi minyoung?"
"biar rumahnya rame."
"bukan. masa kamu lupa?"
"iya aku lupa." hyuntak menjawab, jutek.
seongje terkekeh, "kamu bener biar rumahnya rame. tapi ada satu lagi," seongje memberi jeda sejenak sebelum melanjuti kalimatnya, "biar hubungan kita gak gitu-gitu aja. biar kita ada usaha ngelakuin sesuatu bareng-bareng. belajar menghadapi tantangan bareng-bareng. sambil, itung-itung, ngeliat anak kandung orang tumbuh dewasa. ngerasain rasanya belajar jadi orangtua dan jadi orangtua yang lebih baik dari orangtua kita sendiri."
"kadang aku benci banget, udah bertahun-tahun, masih suka mikir minyoung bukan anak aku."
"wajar. kamu gak ngelahirin dia. gak ada satu pun gen kita yang ada di minyoung. tapi, poin kita kan disini buat terus belajar. kita lagi belajar. minyoung juga lagi belajar. kadang, aku juga mikir apa minyoung tuh masih susah ya nganggep kita orangtuanya? ditambah dia lagi puber-pubernya. jadi ya, wajar kalo salah. wajar kalo gagal. wajar kalo gak sempurna."
tangisan hyuntak yang tadinya sempat berhenti, kembali mengalir dengan deras. pandangannya mulai buram dan isakannya lebih kencang. seongje dengan inisiatifnya memeluk hyuntak. dia meletakkan dagunya diatas kepala hyuntak. tangannya mengelus punggung hyuntak.
"it's okay, sayang. kita kerjasama. kalo kamu gagal, artinya aku juga gagal. anggep ini kaya kerja kelompok. atau, penelitian? dimana hipotesa itu cuma dugaan dan gak selalu bener."
hyuntak memukul punggungnya.
"aku nyebelin ya?" seongje mendorong hyuntak menjauh darinya untuk melihat wajah lucunya tiap habis menangis.
"nggak. kamu tuh tua."
"kalo gitu kamu juga tua."
perlahan isakan tangis hyuntak mereda. seongje memang menyukai wajah hyuntak yang merah dan basah tiap habis menangis itu. namun, fakta kalau hyuntak menangis itu membuat hatinya hancur berkeping-keping dan seongje tidak suka itu.
sehingga seongje memilih menciumnya. menenangkan hati dan pikiran hyuntak.
"aku janji kedepannya aku bakal kerja lebih giat lagi, demi minyoung." kata seongje, memisahkan wajah mereka sejenak.
hyuntak yang tidak puas dengan ciuman itu menarik kembali wajah seongje dan langsung melekatkan bibirnya pada bibir seongje. meraup bibirnya dan merasakan manisnya bibir seongje yang dia rindukan itu. saat hyuntak memisahkan wajahnya dengan seongje dia berkata,
"aku juga. aku janji aku bakal jadi orangtua yang sukses didik anaknya."
