Actions

Work Header

You Said You Change? Prove it.

Summary:

Mau bagaimana pun Sion tetep mencintainya walaupun harus mendengar omong kosongnya yang bilang dia dari masa depan.

Notes:

Prompt:

Dia datang dari masa depan, bukan untuk menyelamatkan dunia—tapi untuk memastikan aku jatuh cinta padanya. Waktu kedatangannya aneh—tengah malam, saat aku hampir menandatangani surat cerai. Dia mengaku datang dari seratus tahun ke depan, membawa daftar alasan kenapa aku harus mencintainya… lagi. (sedikit terinspirasi dari "sore" tapi bukan "sore" yang datang berulang kali)

 

Notes from prompter

 

bebas pilih pairing mana aja dari 4 ini
- yutsyon (syon dom)
- jaeri (daeng dom)
- daengsyon (daeng dom)
- daengyut (daeng dom)

sisanya aku serahin ke author yaa

Work Text:

Banyak orang bilang kisah Daeyoung dan Sion seperti cerita cinta yang diimpikan banyak remaja, tipikal romance klasik tapi terasa tak berakhir. Mereka sering dijuluki high school sweethearts karena pertama kali bertemu saat duduk di kelas 10. Teman-teman sekelas mereka sering menjodohkan keduanya karena dianggap cocok dan benar saja, dari pertemanan itu terjadinya chemistry antara keduanya, hingga mereka menikah. Indah, bukan? Setidaknya, itulah yang dirasakan Sion di awal pernikahan mereka.
Tetapi perlahan, Daeyoung berubah. Ia sering pulang larut tanpa alasan, mulai mabuk-mabukan dengan alasan “diajak teman kerja”, dan merokok.
Awalnya, Sion berusaha maklum. Ia berpikir mungkin Daeyoung sedang stres dengan pekerjaannya dan butuh pelampiasan. Tapi jauh di dalam hati, ia ingin Daeyoung tahu ia selalu siap menjadi tempat curhat, bukan sekadar pasangan yang menunggu di rumah. Bukankah pernikahan berarti berbagi beban dan cerita, sambil menenangkan satu sama lain?

“Daeng, kamu harus berhenti, ya… kebiasaan jelek kayak gini.”
Sion membantu membersihkan wajah karena Daeyoung terlalu pusing untuk melakukannya sendiri, “Kalau kamu ada masalah, cerita aja ke aku. Aku mau dengerin, sungguh.”

“Kamu nggak perlu mikirin apa-apa, Sion. Duduk manis aja di rumah, ya? Aku bisa ngurus masalahku sendiri.”
Ia mengelus pipi Sion dengan lembut, tapi kalimat itu menusuk lebih dalam daripada sentuhannya.

“Tolong, Daeyoung. Jangan ngomong seperti itu. Aku di sebelah kamu bukan buat diem aja. Aku mau bantu semampuku. Jangan lihat aku kayak orang lemah, apalagi kamu… suamiku sendiri.”
Daeyoung terdiam. Nada suara Sion tegas tapi matanya bergetar menahan kecewa.

“Sion, aku nggak maksud—” Sion sudah berbalik sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Pintu kamar dikunci rapat. Tak ada suara, hanya dentingan kecil dari gagang pintu yang gagal dibuka. Daeyoung berdiri lama di depan pintu. Rasa bersalah menyesakkan dadanya. Ia tahu, seharusnya ia berpikir dulu sebelum bicara.
Seminggu sudah berlalu.
Daeyoung belum juga pulang sejak malam itu.

Sion duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu yang tak kunjung terbuka, apakah ia salah marah waktu itu? Tidak, kan? Ia hanya… kecewa. Ia punya hak untuk meluapkan amarahnya pada suaminya sendiri.

Tapi kini, di keheningan malam yang lain, muncul keraguan yang sama, Kalau Daeyoung bisa bersikap seperti itu, apa ia harus melakukan sesuatu agar Daeyoung sadar? Kapok, mungkin? apa? Ia benar-benar tak tahu.
Beberapa hari kemudian, di sebuah kafe kecil yang biasa mereka datangi, Sion akhirnya menceritakan semuanya pada sahabatnya, Wonbin.

“Kalau gitu, pura-pura aja kasih dia surat cerai, Sion. Siapa tau dia panik terus nyadar.”
“Surat cerai? Aku pura-pura?” Ia menatap Wonbin, sedikit tidak percaya.

“Iya. Banyak yang ngelakuin, dan berhasil kok. Kadang orang baru sadar berharganya sesuatu pas udah di ambang kehilangan.”

“Kamu sendiri pernah ngelakuin itu ke Mas Eunseok?”

“Nggak, sih. Tapi tetap aja… worth to try, kan?” Sion mengeluarkan nafas secara terpaksa, antara jengkel dan ingin tertawa. Ia menatap sahabatnya tajam.

“Kadang aku bingung, kamu ini bantu atau beneran ingin aku cerai.”

“Ya kan kamu jago akting, makanya cocok.”

Wonbin tersenyum nakal. Sion hanya bisa memutar bola mata tapi dalam hatinya, ia mulai mempertimbangkan ide itu.
Malamnya, ia menyiapkan semuanya.
Di meja makan, tertata rapi beberapa dokumen palsu dan selembar surat cerai yang sudah ia tanda tangani pura-pura, tentu saja.
“Baiklah, Daeyoung… kita lihat apakah kamu masih bisa santai setelah ini,” gumamnya pelan.

Tapi jam terus berdetak, dan Daeyoung belum juga pulang. Kepala Sion mulai berat, matanya terasa perih karena menahan kantuk.
Akhirnya, ia menyerah dan merebah di sofa ruang tamu. Kertas-kertas di meja makan masih menunggu, Suara pintu berderit memecah keheningan malam.
Sion masih setengah tertidur di sofa, selimut melorot di lantai. Saat membuka mata, bayangan seseorang berdiri di depan meja makan.
Daeyoung. Ia tidak menyangka, tapi juga tidak kaget. Sudah seminggu lelaki itu tak pulang, dan kini tiba-tiba muncul diam, menatap lembaran kertas yang tergeletak di meja. Surat cerai palsu itu. Sion memejamkan mata sejenak. Akhirnya… dia lihat juga. Namun tidak ada suara keras. Tidak ada teriakan. Hanya desahan napas panjang dari arah meja makan, lalu langkah kaki perlahan mendekat.

“Ini apa, Sion?” Sion bangun dari sofa, berusaha terdengar tenang.

“Kamu bisa baca sendiri. Aku cuma menulis apa yang seharusnya udah kamu pikirkan sejak lama. Ia menatapnya, dingin. Tapi jantungnya berdetak tak beraturan saat melihat mata Daeyoung bukan marah, melainkan ketakutan.

“Jangan lakukan ini…” Suaranya serak, hampir bergetar.

“Kenapa? Takut? Atau baru sadar kehilangan aku?” Ia tak menjawab. Hanya menatap surat itu lama-lama, sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku tahu kamu nggak akan percaya… tapi aku bukan Daeyoung yang kamu marahi minggu lalu.” Sion mengerutkan kening, separuh ingin tertawa.

“Maksud kamu apa?”

“Aku datang dari masa depan.” Hening. Kata-katanya menggantung di udara seperti asap yang tak mau hilang.
Sion terdiam sebentar, lalu mengembuskan napas panjang.

“Oke… jadi sekarang kamu mulai halu?”
“Aku serius.” Ia merogoh saku mantel, mengeluarkan secarik kertas yang sudah kusut.

“Tolong… baca ini.”

Sion mengambilnya setengah malas, tapi pandangannya perlahan berubah. Tulisannya..
“Untuk Sion, aku minta maaf.
Maaf kalau selama ini aku membuat kamu menderita, maaf kalau kamu akhir akhir ini pusing dengan tingkah aku yang mabuk mabukan terus setiap saat. Aku punya alasan biar kamu ga marah lagi sama aku, di baca ya :)
1. Aku bakal berubah (that’s a promise!)
2. I belong to you and you belong to me, i have no one else except you.”

“Aku bener-bener bingung maksud ini apa?”
“Di timeline sebelum nya lepih tepat sebelum kamu bener-bener cerai denganku, aku buat surat untuk kamu tapi tak lama aku dengar dari Wonbin bahwa kamu kecelakaan Sion. Aku gak bisa lupain tragedi itu.”
Sion menatapnya lama, mencari kebohongan di wajah itu. Tapi tak ada yang aneh, tidak ada bukti nyata. Hanya suaminya yang pulang dalam keadaan berantakan, dan kalimat yang terlalu gila untuk dipercaya.

“Kamu mabuk lagi, ya?”

“Gila aja aku bohong, aku ga mungkin bohong tentang kecelakaan kamu.”

Daeyoung menatap Sion dengan serius.
Ia mendekat, jarak mereka hanya sejengkal.

“Aku tahu di universe ini kamu masih marah. Tapi tolong… jangan tanda tangani itu. Sekali ini aja.”

Sion menelan ludah, lalu menjauh perlahan, “Kamu pikir dengan ngomong hal seaneh ini aku bakal luluh?”

“Nggak. Aku cuma mau kamu tahu… di masa depan, aku masih cinta kamu.”

Sion terdiam. Tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia berbalik, mengambil selimutnya lagi, dan berjalan menuju kamar tanpa menoleh.

“Kalau kamu bener dari masa depan, Daeyoung, semoga kamu sadar… aku bukan orang yang gampang percaya.”
Pintu kamar menutup pelan.

Di luar, Daeyoung berdiri sendirian di ruang tamu. Ia menatap surat itu di tangannya dan kertas lusuh yang sama sekali belum sempat ia serahkan seluruhnya. Masih ada puluhan alasan di sana. Tapi malam ini… ia gagal bahkan untuk menjelaskan satu pun.

Pagi telah tiba. Udara terasa lebih hangat dari biasanya, dan Daeyoung merasakan kenyamanan yang sudah lama tak ia rasakan. Ia tertidur di ruang tamu semalam, dan saat membuka mata, selimut yang menutupi tubuhnya ia tau Sion yang memberinya selimut.

“Udah bangun? ayuk makan.”

Suara itu lembut tapi tegas, membuat Daeyoung buru-buru bangkit dan duduk di meja makan. Di depannya, tersaji hidangan buatan Sion. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menyantap masakan itu. Setelah kecelakaan Sion, Daeyoung hampir tak pernah makan dengan benar. Padahal ia bisa memasak sendiri, tapi setiap kali di dapur, bayangan Sion yang tersenyum di belakangnya memperhatikannya sambil tertawa kecil selalu datang menghantui.

“Daeyoung, aku udah mikir matang tentang semuanya. Tentang yang kamu bilang kemarin… aku kaget banget, jujur aja. Susah percaya kalau kamu datang dari masa depan,” ucap Sion pelan, menatap meja seolah sedang menimbang setiap katanya. “Tapi kalau kamu sungguh-sungguh mau berubah, aku mau kita coba lagi. Janji ya, kamu nggak akan ngulangin lagi?”

Suara itu terdengar rapuh tapi tulus, Sion masih mau memberinya kesempatan. Malaikat itu benar-benar datang untuk memaafkannya, padahal dialah yang paling banyak membuat Sion terluka.

“Iya,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Aku janji. Aku nggak akan ngulangin lagi.”

Sion mengangkat pandangan, dan senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Senyum yang sederhana, tapi bagi Daeyoung terasa seperti matahari pertama setelah badai panjang. Kok bisa, senyum itu semanis ini? pikirnya, matanya mulai berair. Tanpa menunggu lagi, ia mendekat dan memeluk Sion erat-erat.
“Makasih, Sion… makasih banyak.”

Untuk sesaat dunia terasa berhenti. Hanya ada mereka berdua—dua hati yang pernah hancur, kini berusaha memperbaiki yang tersisa. Dalam diam, keduanya tahu ini bukan sekadar maaf, tapi awal baru. Sebuah pelajaran untuk selalu saling bercerita, saling mendengar, sebelum semuanya terlambat. Dan mungkin… dari luka ini, mereka akhirnya akan tumbuh lebih dekat daripada sebelumnya.