Chapter Text
There’s nothing I could lose right now.
If I’m with you, I can go anywhere.
🍵 📒
Tanpa terasa sudah dua tahun berlalu sejak lelaki dengan penutup mata di mata sebelah kanannya itu mengenyam pendidikan di Afterlife Academy. Hal ini juga menandakan bila dia sudah hampir dua tahun menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi dengan seseorang dari dunia yang berbeda dengannya, yaitu Nirei.
Sosok yang menyandang status sebagai kekasihnya itu berasal dari Maison du Kamonohashi dan merupakan keturunan angel (malaikat), sementara dirinya berasal dari Paradise Manor Ghost City dan merupakan keturunan demon (iblis).
Sungguh kombinasi yang unik dan sangat jarang terjadi dalam sejarah pendidikan di Afterlife Academy.
Pelaku yang menginisiasi hubungan tersembunyi ini tidak lain dan tidak bukan adalah Suō. Dialah sang demon yang bukan sembarangan demon, melainkan keturunan langsung dari King Demon (Raja Iblis) yang dikenal juga sebagai Hua Chengzhǔ oleh rakyat Ghost City.
Selain mewarisi ketampanan dari sang ayah, Suō juga mewarisi kemampuan memikat sosok yang sudah membuatnya jatuh hati sejak pertemuan pertama mereka di depan perpustakaan. Benar-benar iblis yang berbahaya sekali.
Ayahnya bahkan mampu membuat sang papa, Xie Lian, diusir dari surga dan berkelana seorang diri di dunia fana hingga ratusan tahun lamanya sampai keduanya dipertemukan kembali dan terlahirlah Suō sebagai pelengkap kehidupan rumah tangga mereka.
Terkadang Suō ingin mentertawakan kisah cinta dari orang tuanya yang cukup dramatis dan menggelikan menurutnya. Namun, melihat dirinya sendiri yang jatuh cinta setengah mati serta rela melakukan apa saja demi sosok mungil dalam dekapannya saat ini, membuatnya ingin menampar dirinya yang begitu sombong di masa lalu.
Tenang saja. Jika aku jatuh cinta dengan seseorang, pasti aku tidak akan bersikap menggelikan seperti kalian!
Ternyata, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
“Memalukan!” gumamnya tanpa sadar.
“Hmm? Ada apa Suō-san? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?” tanya Nirei yang bersusah payah ingin menatap langsung wajah kekasihnya karena kini dia sedang dipeluk erat oleh Suō di belakang gedung perpustakaan.
“Eh? Kenapa Nirei-kun?”
“Suō-san aneh! Tadi tiba-tiba bilang “Memalukan!”, begitu.”
“Oh! Maaf, Nirei-kun. Aku sedikit melamun tadi karena teringat dengan kelakuanku di masa lalu. Aku tidak sadar jika isi hatiku terucap langsung, hehe.”
“Memangnya kenapa?”
“Kita pindah tempat dulu, ya. Nanti aku ceritakan. Kalau ingat!”
“Eh?!”
Lantas dalam sekejap saja keduanya telah berpindah ke ruang kamar Suō di Paradise Manor Ghost City dengan kemampuan teleportasi yang dimiliki sang iblis. Kamar tersebut didominasi oleh warna merah dan kuning emas. Tak lupa segala ornamen khas negeri tirai bambu dan juga naga. Entah mengapa Suō begitu menyukai makhluk legenda yang satu itu sedari kecil dan kedua orang tuanya pun selalu menuruti saja segala keinginannya. Mungkin karena dia adalah anak satu-satunya.
Kemudian Suō yang sebelum berteleportasi sempat menggendong Nirei secara bridal style, kini memosisikannya untuk duduk di tepi ranjang.
“Tunggu sebentar, ya. Aku ambil teh dan camilan dulu.”
Seakan tak diberi kesempatan untuk merespons, si Iblis Tampan itu sudah menghilang kembali dengan teleportasi.
“Ih, selalu saja terburu-buru begitu!” Nirei sedikit kesal seraya memandang ke seluruh penjuru ruangan. “Tapi, aku selalu suka berada di sini karena aroma Suō-san begitu dominan dan menenangkan. Eh … Eh? Kamu mikir apa, sih, Nirei?” ujarnya panik disertai pipi yang mulai terasa panas.
Nirei malu sekali hingga dia mendudukkan diri di lantai dan menenggelamkan wajahnya pada bagian selimut yang menjuntai di samping ranjang.
Tak berselang lama, Suō kembali ke kamarnya sambil membawa nampan berisi teko teh, dua buah cangkir, dua buah garpu kecil, sepiring kecil Chui Kao So, sepiring kecil Cheesecake, sepiring kecil Muffin cokelat, dan sepiring kecil Gummy Bear.
Alis Suō terangkat sebelah karena heran melihat Nirei bertingkah demikian. Alih-alih memanggil nama sang pujaan, Suō secara perlahan meletakkan barang bawaannya di atas meja tanpa mengeluarkan suara dan selanjutnya berbisik di telinga Nirei, “Sayang, sedang apa?”
“Hiyaah!” Nirei terkejut lantaran tak menyadari keberadaan Suō sama sekali.
Kenapa raut wajahnya jadi semakin lucu?
Suō tidak kuat menahan diri untuk tidak membawa lelaki mungil itu masuk kembali ke dalam dekapannya. Tak lupa dia membubuhi banyak kecupan di dahi dan pucuk kepalanya.
“Maaf, ya. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut.”
Nirei menepuk pundak Suō berkali-kali demi melampiaskan rasa kesalnya. Tetapi, Suō hanya tersenyum dan mengelus lembut kepala pacar kesayangannya itu.
“Kamu jangan pulang, ya. Tidur di sini saja malam ini.”
“Nanti orang tuaku marah kalau aku bermalam di luar secara tiba-tiba. Suō-san mau tanggung jawab?”
“Mau. Tanggung jawab sehidup semati saat ini juga pun aku mau!”
“Ih, ngawur banget!” respons Nirei dengan pipi yang bersemu.
“Suatu saat nanti bakal jadi kenyataan, kok, Sayang. Kita akan terus bersama, selamanya!”
“Amin …. Aku juga inginnya begitu,” jawab Nirei dengan volume suara yang semakin mengecil sebab menenggelamkan kepalanya di ceruk Suō.
“Apa sebaiknya kita akhiri saja hubungan sembunyi-sembunyi ini? Karena sejujurnya aku merasa orang tuaku sudah mengetahui tentang kita. Tapi, mereka tidak memberi komentar sama sekali. Mungkinkah mereka menungguku untuk menyampaikan secara langsung?”
Nirei menangkup pipi Suō. “Sebetulnya aku tidak masalah jika Suō-san ingin berterus terang dengan semua orang. Justru selama ini Suō-san terlalu banyak berpikir dan berusaha keras menjagaku. Karena Suō-san takut aku dijauhi oleh para angel yang lain seandainya mereka mengetahui hubungan kita, kan?”
“Oh …!” Suō nyaris gagal fokus untuk menjawab ucapan Nirei karena tanpa sengaja pandangannya teralihkan pada bibir yang kini mengerucut lucu. Alhasil, Suō berdeham sambil memejamkan mata kirinya sebentar guna mengembalikan fokusnya lagi. “Sayang, jujur … siapa yang tidak akan merasa khawatir saat mengetahui orang yang dicintai akan dijauhi oleh keluarga atau kaumnya sendiri jika keputusan hidup yang diambil olehnya tidaklah umum di pandangan mereka?”
“Padahal Suō-san belum pernah bertemu langsung dengan orang tuaku.”
“Tapi, tadi kamu bilang mereka akan marah kalau kamu bermalam di luar secara tiba-tiba? Pasti mereka juga akan marah dengan hubungan kita, kan?” Suō bingung.
“Itu dua hal yang berbeda, Suō-san!” respons Nirei seraya mengecup halus bibir Suō dan berlari ke arah meja tempat si Iblis Tampan meletakkan camilan.
Sosok yang memperoleh kecupan terpaku di tempatnya. Dia bingung mencerna situasi yang sedang terjadi saat ini dan mulai mengacak rambutnya frustrasi.
Aku tidak butuh apa pun di alam semesta ini selain dirimu, Nirei-kun.
Ke mana pun kau ingin pergi, aku pasti aku akan selalu berada di sisimu.
Bersambung
