Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of School Life (drabble)
Stats:
Published:
2025-10-27
Words:
341
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
207

Capek

Summary:

Jeonghan capek banget latih tanding, ditambah Seungcheol—pacarnya itu sedang sibuk persiapan olimpiade.

Work Text:


Latih tanding basket bersama tim yang telah menjadi rival sekolahnya selama bertahun-tahun begitu menguras tenaga tim sekolah Jeonghan. Skor mereka menang tipis, teman setimnya mati-matian mengejar poin tipis hingga bunyi peluit panjang mengakhiri pertandingan yang berlangsung dalam empat quarter. Pertandingan ini bukan resmi tapi begitu menguras tenaga karena membawa nama sekolah masing-masing.

Mungkin saja, lelah Jeonghan tidak akan begitu kerasa bila ada Seungcheol di kursi penonton. Sayangnya, pacarnya itu tidak bisa hadir karena sedang persiapan olimpiade matematika dua hari lagi. Jeonghan dan timnya berjalan keluar dari GOR, sebagian teman-temannya sudah berpamitan dan berpencar pulang. Jeonghan menuju parkiran motor bersama Seokmin sambil sibuk mengurai headset kabet yang kusut.

Ah, harinya benar-benar…

“Kak, katanya nggak dijemput.” Seokmin menyenggol Jeonghan, membuatnya menoleh ke arah Seokmin. “Itu, ada bang Cheol.”

“Hah?!”

Jeonghan sontak melihat ke arah yang dituju oleh Seokmin, matanya berkilat menatap laki-laki yang sedang duduk di atas motornya sambil melambaikan tangan. Jeonghan pun sedikit berlari, melupakan kabel yang kusut tapi tidak dengan Seokmin, ia berpamitan kok walau matanya hanya tertuju pada laki-laki di sana.

“SEUNGCHEOL!”

“IYA! Jangan teriak-teriak, malu.”

“Katanya nggak bisa kesini?” tanya Jeonghan.

“Ya bukan berarti nggak bisa jemput,”

Seungcheol memakaikan helm ke kepala Jeonghan yang senyumnya tak pudar, senyum itu pun menular padanya.

“Baik banget, pacar.”

“Seneng banget, pacar.”

“Bucin-bucin.” Seokmin mendesis saat motornya melewati pasangan itu.

Yeuh, iri bilang bos!” balas Jeonghan mendengar desisan Seokmin, sedangkan Seokmin hanya menjulurkan lidahnya.

Seungcheol tertawa, “Udah ayo naik,”

“Jajan dulu ya tapi sebelum pulang,”

“Iyaa, Sayang mau jajan apa sih emang?” Jeonghan reflek mengeplak helm Seungcheol membuat laki-laki itu membulatkan matanya, “Kenapa dipukul??”

“Tolong aba-abanya yaa! Kaget sama lemes dikit dipanggil gituu.” Jeonghan memajukan bibirnya sambil mengusap helm Seungcheol yang dijadikan sasarannya salah tingkah.

“Jelek banget saltingnya lu,”

“Lu? LUU??”

Kali ini Seungcheol yang menjulurkan lidahnya meledek. “Udah naik belum?”

“Udah, ayo jalan!”

“Wah, nggak bisa digas ini,”

“Kok?”

“Panggil sayang dulu coba, pasti langsung maju ini.”

”Kamu aku pukul ya, Cheol!” decak Jeonghan namun ia berbisik dengan dagu menempel pada bahu Seungcheol, “cepat jalan, Sayang.”

“YA TUHAN JEONGHAN GEMES BANGET!”

 


 

FIN

 

Series this work belongs to: