Work Text:
Jatuh cinta.
Ibu bilang itu seperti narkoba. Sekali merasakannya tidak bisa melupakan. Setiap saat selalu merasa senang. Duniamu hanya tertuju pada suatu hal, dan kamu akan melakukan segala hal untuk menggapainya. Mungkin bisa sampai mengorbankan dirimu sendiri.
Tapi menurut kakak, cinta lebih seperti berenang di danau, tapi masih bisa merasa kehausan. Sama seperti ketika memahaminya. Selalu ada hal baru, selalu ada sesuatu untuk dipelajari. Dan itu membuatmu bahagia, karena dapat mengenalnya lebih jauh.
Sepertinya apa yang mereka katakan, semuanya benar.
Shiina Niki, adalah pelakunya.
Pertama kali aku memperhatikannya, adalah ketika seni ulang tahun sekolah. Saat masing-masing kelas bisa menampilkan apapun yang mereka inginkan. Waktu itu kelasnya memilih drama sederhana tentang kerajaan, dan dia hanya berperan menjadi pengawal pangeran. Wajahnya yang bulat, dan pipi sedikit tembam itu menarik perhatianku. Tidak cocok dengan setelan hitam-putih, khas pelayan. Terlebih dengan tatapan polos seakan tidak berpikir apapun.
Menurutku, itu lucu. Dia sangat imut.
Tahun berikutnya, aku beruntung bisa sekelas dengannya. Lebih-lebih karena duduk tepat di depannya. Walaupun tidak sering, setidaknya aku bisa mengobrol dengannya. Mengetahui apapun tentangnya.
Aneh. Jantungku selalu berisik setiap kali berbicara dengannya.
Aku gugup, tapi senang.
Apa aku sakit?
Semakin sering kami mengobrol, semakin aku sadar. Shiina sering sekali berbicara soal makanan, atau hal-hal yang berkaitan dengan makanan. Minuman, alat makan, cara mendapatkan. Sesuatu hal semacam itu. Terkadang dia bisa tiba-tiba ikut menjawab ketika seseorang membahas makanan. Selain itu, setiap istirahat selalu saja ada cemilan yang dilahap.
Karena itu beberapa teman sekelas memanggilnya Perut Karet, yang lain memanggil Lubang Hitam Berjalan. Karena dia sering sekali terlihat memakan sesuatu, dan selalu bisa menghabiskannya dengan sangat cepat. Segelintir menghinanya dengan menjuluki Tong Sampah Berjalan. Tapi Shiina tidak pernah membalas mereka. Dia hanya menatap seperti tidak paham, kemudian kembali pada kegiatannya. Atau.. hanya menjawab, "Kalau kalian punya makanan tapi tidak habis, berikan saja padaku!" dengan wajah ceria.
Dia.. sangat baik.
Kadang, aku penasaran kenapa Shiina seperti tidak bisa lepas dari makanan. Tapi aku tidak berani bertanya. Walaupun kami teman sekelas, tapi tidak sedekat itu. Aku punya temanku sendiri, begitu juga dengannya. Sampai pada suatu saat..
Aku datang terlalu pagi untuk piket, membersihkan dan menata kelas. Ruangan terasa sangat kosong dan hening, karena belum satupun teman yang sampai. Ketika aku masih menyapu ruangan, Shiina datang dan masuk. Kami hanya saling menyapa, kemudian dia duduk di bangku.
Tidak ada obrolan di antara kami.
Aku melanjutkan membersihkan lantai sampai tuntas. Sesekali aku melirik Shiina. Seperti yang sudah bisa diduga, dia selalu membawa makanan. Langkahku membawa mendekatinya. Aku bersadar pada meja disebelah bangku Shiina. Wajahku terasa hangat ketika menatapnya. Sedikit malu, tapi aku berusaha mengabaikan.
"Shiina-san, kamu belum sarapan?"
Hanya pertanyaan pembuka untuk basa basi. Aku bingung harus mengatakan apa.
Shiina menatapku. "Oh, kamu mau? Aku sudah sarapan, tapi karena aku mudah lapar jadi aku bawa banyak makanan."
Oh, dia membahasnya.
Aku menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku sudah sarapan."
Belum sempat aku bertanya lebih jauh, seseorang masuk begitu saja sambil berteriak, "Oy! Niki!!" Orang asing itu berjalan mendekat, kemudian tiba-tiba duduk di atas meja Shiina. "Kamu bawa banyak makanan. Minta dong!" Tanpa menunggu jawaban, dia mengambil begitu saja makanan milik Shiina. Mengabaikan Shiina yang menatap kesal sambil memprotesnya.
Aku sedikit terkejut, tapi memilih untuk bungkam. Abaikan sejenak orang asing yang sekarang duduk di kursiku itu. Laki-laki berambut acak-acakan dengan beberapa anting di telinganya. Kemeja yang tidak dikancing, memperlihatkan kaos oblong berwarna semerah rambutnya, Ditambah dasi yang justru dililitkan pada buku-buku jari.
Orang ini jelas orang yang suka membuat masalah.
"Kalian sepertinya dekat."
Pembicaraan antara Shiina dan orang asing itu terhenti. Perhatian mereka justru beralih padaku.
Astaga.. mulut, mulut. Licin benar dirimu.
Aku segera meminta maaf, tidak berniat untuk menyela atau hal lain. Sudut benakku berteriak menyuruhku pergi. Terutama setelah tidak sengaja saling tatapan dengan si berandalan. Sorot mata tajam orang lain membuatku semakin takut.
Tanpa diduga, orang asing itu justru mengunci pandangannya padaku. Dia bahkan menyangga kepalanya dengan tangan diatas meja. Senyumnya mengembang. Seperti puas setelah menangkap pencuri barangnya. "Aku tidak tau kamu punya teman perempuan." Masih di posisi yang sama, dia beralih pada Shiina. "Uuu~ Rinne-chuan ini cemburu lho Niki dekat dengan yang lain~"
"Rinne-senpai, dia temanku. Jangan iseng padanya."
Oh...? Aku dianggap teman?
.
Beberapa waktu berlalu.
Siang hari, ketika matahari sudah sampai atas kepala. Aku baru saja selesai mengganti baju olahraga, berniat kembali ke kelas. Langkahku melambat ketika melihat sosok yang terbaring lemas di salah satu anak tangga. Tangga besar yang memisahkan kamar mandi perempuan dan kantin sekolah.
Suasana hening tanpa adanya orang lain membuatku terus menatap sosok itu. Terlebih setelah mendengar suara lirih meminta tolong. Aku berjalan perlahan, sambil bersiaga. Berjaga-jaga seandainya rumor mistis di disini itu benar, aku akan segera berlari kencang.
Suara itu semakin lama semakin terdengar familiar. Penasaran, aku memilih mendekat. Menaiki beberapa anak tangga, setidaknya sampai bisa memastikan. -Meski sebenarnya benakku berteriak untuk segera pergi dari sini.
Laki-laki berseragam sama denganku. Rambut abu-abu diikat rendah. Wajahnya sedikit tertutup poni, tapi masih bisa terlihat. Pipi sedikit tembam, bibir mungil yang sedikit bergetar. Orang lain seperti menggumamkan sesuatu. Semacam.. meminta makanan..?
Detik selanjutnya aku baru sadar, dia adalah Shiina. Aku segera membantunya bersandar pada pegangan tangga.
"Kamu tidak apa? Mau ku antar ke UKS?"
Shiina menggeleng. "Makanan.. beri aku.. makanan.. apa saja.."
Setengah bingung dan panik, aku turun melompati beberapa anak tangga. Bergegas membeli apa saja. Sesuatu untuk dimakan. Ibu kantin yang baru saja kembali menatapku terkejut. Sementara aku menyambar bungkusan roti. Harga pas, jadi aku kembali berlari menaiki tangga. Tepat dimana Shiina mungkin tengah sekarat. Begitu berada satu anak tangga dibawahnya, aku membuka bungkus roti. Berniat memudahkannya untuk makan.
Aroma roti yang harum memancingnya. Belum sempat roti diberikan, Shiina sudah menerjangku. Hampir membuat kami tergelincir dan jatuh, seandainya aku tidak meraih pegangan anak tangga. Dia menghabiskan roti di tanganku dalam sekali hap. Wajahnya seketika menjadi cerah, kemudian berterima kasih.
Abaikan sejenak satu tanganku yang mati-matian berpegangan dan menjaga keseimbangan. Tubuh Shiina yang berada sedikit lebih tinggi menekan bahuku. Hampir membuatku seperti mendekapnya. Wajah kami berdekatan dan saling menatap. Aku bahkan bisa melihat pantulan diriku di manik biru langitnya. -Itu sedikit aneh sejujurnya.
Sampai deheman Ibu Kantin menyadarkan kami. Shiina segera meminta maaf, sambil menarik diri menjauh.
Aku mengangguk pelan, mencoba menetralkan napas. Sedikit mengabaikan tanganku yang berdenyut nyeri. "Kamu sudah lebih baik kan? Aku duluan ya." Tanpa menunggu jawaban, aku segera menuruni tangga. Berlari, pergi meninggalkannya secepat yang ku bisa.
Kali ini jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Tanganku gemetaran. Wajahku terasa hangat. Mungkin.. terlalu panas. Aku bahkan tidak bisa berhenti tersenyum. Rasanya senang sekali.
Apa-apaan itu?!!
Kami berdekatan hanya sebentar. Tapi kenapa justru itu yang terngiang-ngiang terus?!
