Work Text:
Ponsel Padma bergetar ketika ia baru saja selesai membereskan buku-buku di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Buru-buru Padma mengambil ponselnya kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan kelas yang masih ramai.
Seperti biasa, sebagai 'Mahasiswa Tamu' ia datang paling terakhir dan pulang paling awal.
Ada nama Nina yang tertera di layar. Langsung saja Padma mengangkat panggilan tersebut.
"Halo," sapa Padma.
"Kak Padma, di mana?" Nina langsung bertanya tanpa membalas sapaan darinya.
"Baru saja keluar kelas. Ada apa?" tanya Padma balik.
"Aku dan Kak Sapti sedang menuju restoran ramen untuk makan siang. Kak Padma, ingin makan siang bersama?" ucap Nina di seberang sana.
Padma menggeleng, meski tahu Nina tidak akan melihatnya. "Tidak bisa. Aku ada janji makan siang bersama teman sekelas."
"Wow, tumben sekali. Teman yang mana, Kak? Setahuku hanya ada dua orang teman di kelas yang menarik perhatian Kak Padma sejauh ini." Suara Nina tiba-tiba terdengar antusias. Jika sudah membahas cowok, Nina memang paling bersemangat.
"Memang hanya ada dua dan aku akan makan siang bersama mereka," beritahu Padma.
"APA?" Nina sontak berteriak, membuat Padma dengan segera menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya. "Kenapa Kak Padma tidak bilang? Kalau tahu begitu aku ikut! Aku, kan, ingin bertemu mereka!" rengek Nina.
"Jangan merengek, Nina. Ini hanya makan siang." Padma memutar bola matanya. "Lagipula ini mendadak. Tidak direncanakan sebelumnya," beritahu Padma.
"Tetap saja…." Suara Nina terdengar lesu di sana.
Padma ingin membalas lagi, namun matanya tanpa sengaja menangkap dua sosok lelaki yang dikenalnya berdiri di dekat pohon besar. Dua lekaki itu turut menatapnya dan melambaikan tangan. Padma pun membalas lambaian itu.
"Sudah dulu, Nina. Kita bicara lagi nanti," ujar Padma kemudian menutup panggilan itu. Tanpa mempedulikan rengekan Nina yang terdengar setelahnya.
"Hai, Thomas, Zaman. Kalian sudah dari tadi?" tanya Padma ketika sudah berdiri di hadapan kedua lelaki itu.
"Kami tiba lima menit yang lalu." Zaman yang menjawab.
Padma hanya mengangguk.
"Baiklah, karena ini sudah jam…." Thomas bicara, menatap jam di pergelangan tangannya sejenak. "Ooh, sudah hampir jam dua. Kurasa kita harus bergegas. Ini sudah lewat jam makan siang," ujar Thomas.
Ketiganya mulai berjalan meninggalkan area kampus dan menuju tempat makan yang direkomendasikan oleh Thomas untuk makan siang mereka. Sebuah warung bakmie ayam. Thomas mengatakan bahwa ia tidak sengaja menemukan warung bakmie ayam lezat di dekat kawasan kampus. Lokasinya memang sedikit tersembunyi karena harus melewati berlika-liku gang. Tetapi, Thomas bisa menjamin bahwa bakmie itu mempunyai rating sepuluh dari sepuluh untuk kelezatan rasanya.
Atas rekomendasi lelaki itu Padma dan Zaman setuju untuk mencoba bakmie ayam tersebut. Zaman kemudian menyarankan mereka makan siang bersama saja di sana saat selesai kelas. Setelah mendapat jadwal yang cocok, yang mana mereka sama-sama ada di kampus dan memiliki waktu kosong saat jam makan siang, rencana itu pun terealisasikan.
Setelah lima belas menit berjalan kaki, mereka akhirnya tiba di warung bakmie ayam yang dimaksud oleh Thomas. Suasana warung tidak terlalu ramai, ada sekitar tiga sampai lima orang yang mengisi meja. Thomas segera menghampiri Paman Li, sang penjual bakmie ayam, dan meminta Padma beserta Zaman langsung mencari meja. Katanya biarkan ia saja yang membuat pesanan.
Lima menit kemudian Thomas datang ke meja dengan sebuah nampan berisikan tiga mangkuk bakmie ayam. Di belakangnya Paman Li mengikuti dan turut membawa nampan lain di tangannya. Bedanya pria paruh baya itu membawa masing-masing tiga porsi pangsit rebus dan es teh tawar.
Sebelum makan Thomas memperkenalkan Paman Li kepada Padma dan Zaman. Thomas terlihat begitu akrab dengan pria paruh baya itu seolah Paman Li memanglah Pamannya. Padma sempat bertanya untuk memastikan, yang tentunya dijawab oleh gelengan dan tawaan pelan oleh Thomas.
"Aku hanya seseorang yang pandai bergaul, Padma. Tapi, kurasa ada sedikit keinginan di hatiku yang berharap bahwa Paman Li betulan pamanku. Bukankah menyenangkan mempunyai Paman yang pandai memasak bakmie?" ucap Thomas yang disambut tawaan oleh Padma dan Zaman.
Mereka bertiga mulai menyantap bakmie ayam buatan Paman Li, yang ternyata sesuai kata Thomas sangatlah lezat. Tidak mengecewakan.
"Ngomong-ngomong, tadi kau ikut kelas apa, Padma?" Thomas memulai percakapan.
Padma tidak langsung menjawab, ia lebih dulu menyeruput mie yang sudah tergulung di sumpitnya. "Sastra."
"Wow, itu menarik. Aku tidak menyangka kau akan mengeksplor fakultas sampai sejauh itu. Jujur saja ekonomi dan hukum sudah cukup berat bagiku bahkan hanya untuk membayangkannya," kata Thomas kagum, tapi juga heran disaat yang bersamaan.
"Tidak seberat itu jika kau benar-benar ingin mempelajarinya, Thomas."
"Tidak, terima kasih. Mimpiku untuk saat ini hanya menjadi konsultan keuangan top dunia." Thomas menggeleng dan mengangkat satu tangannya. Ia ganti menatap Zaman. "Bagaimana KHS-mu semester terakhir kemarin, Zaman? Semuanya A?" tanya Thomas penasaran.
"Tentu saja," jawab Zaman, menyantap pangsit terakhir di mangkuk kecilnya.
"A+ semua?"
"Tidak juga. Ada dua atau tiga A saja. Kenapa?”
"Ah, itu masih bagus. Aku ada satu A-," keluh Thomas. Ia bisa melihat wajah Zaman yang menahan tawa dan itu membuatnya berdecak pelan. "Baiklah, kalau begitu aku akan mentraktir makan siang hari ini."
"Senang mendengarnya," sahut Zaman tersenyum.
Mendengar itu Padma mengerutkan keningnya. "Tunggu, kenapa begitu?"
"Aku membuat kesepakatan kecil dengan Zaman bahwa siapa pun yang ada celah kecil pada KHS-nya akan mentraktir saat sedang makan bersama. Kebetulan kita sedang makan siang bersama, jadi sekalian saja," jelas Thomas.
"Sejujurnya aku mengharapkan traktiran yang lebih mahal," cetus Zaman.
"Kurang ajar," dengus Thomas.
Padma hanya diam mendengar percakapan kedua lelaki itu. Sesuatu mulai menganggu pikirannya dan itu disadari oleh Thomas.
"Aku tidak bisa ikut kesepakatan itu," ujar Padma.
"Tidak perlu. Kau terlalu luar biasa untuk mengikuti kesempatan receh seperti ini. Siapa yang berani membuat kesepakatan dengan mahasiswa yang mengikuti belasan fakultas?" Thomas terkekeh.
Padma tersenyum kecil. Ia tahu bukan itu yang sebenarnya ingin Thomas sampaikan kepadanya. Padma selalu menebak bahwa kedua lelaki itu sebetulnya tahu apa yang ia lukukan selama di kampus. Menjadi mahasiswa tamu di dua belas fakultas.
Namun, Padma memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh. Mendengar ucapan Thomas barusan sudah cukup menandakan bahwa lelaki itu pun juga tidak ingin membahas apa yang sudah dilakukannya selama ini.
Mereka keluar dari warung bakmie ketika jam menunjukkan pukul tiga sore.
"Apa kalian masih ada kelas setelah ini?" tanya Thomas.
Padma dan Zaman kompak menggeleng.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Ke taman kota sepertinya ide bagus."
"Boleh saja."
Jalanan hari itu tampak ramai. Selain karena kemacetan yang memenuhi jalan raya, beberapa pedagang kaki lima juga mendiami trotoar. Mulai dari pedagang makanan sampai pedangang buku bekas dan perlengkapan alat tulis.
Zaman mendekati pedagang buku dan alat tulis, berkata ingin membeli notebook baru. Padma dan Thomas mengikutinya, turut melihat-lihat sembari berpikir apakah harus membeli sesuatu atau tidak.
Ada pedagang es krim di sebelah mereka yang tiba-tiba menarik perhatian Thomas. Lelaki itu menoleh ke arah Padma, "Kau ingin es krim, Padma?"
Sebelum Padma menjawab, Zaman lebih dulu menyahut. "Aku satu. Traktirannya masih berlaku, kan?"
Thomas menatapnya sinis, membuat Padma mau tidak mau tertawa. "Biar aku saja yang bayar," ujar Padma.
"Tidak perlu, Padma. Ini, kan, kesepakatanku dan Zaman," tolak Thomas cepat.
"Tidak apa-apa, Thomas. Setidaknya biarkan aku membayar untuk makanan penutup kita bertiga," kata Padma. "Tenang saja, uangku tidak akan habis."
"Justru itu, Padma. Aku tahu uangmu tidak akan habis, karena itu lebih baik kau tidak usah mentraktir kami sekarang. Akan ada waktunya kau mentraktir kami. Mungkin ketika kita sedang berada di mal, bukannya di pinggir jalan seperti ini." Thomas nyengir.
Padma tercengang, namun sesaat setelahnya ia tertawa. "Sialan kau, Thomas."
Thomas turut tertawa. "Tapi, aku serius, Padma. Biar aku saja yang bayar."
Akhirnya Padma berhenti mendebat. Mereka segera memesan tiga gelas es krim kepada si penjual. Ketika mereka sedang menunggu, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah lain. Semua orang di sepanjang jalan, termasuk Padma, Thomas, dan Zaman menoleh ke asal suara.
"JAMBRET!"
Dari kejauhan seorang wanita paruh baya terlihat mengejar dan meneriaki seorang lelaki yang berlari jauh darinya. Ada tas di tangan lelaki itu yang bisa Padma tebak adalah tas milik perempuan tersebut jika dilihat dari modelnya. Insting Padma bergerak dengan cepat. Ia berbalik sebentar, menatap bapak pedagang es krim dan merebut sekop es krim dari tangannya.
"Maaf, Pak." Setelahnya Padma kembali menatap ke jalan, mencari cepat keberadaan penjambret tadi. Ketemu. Padma segera melemparkan sekop es krim tersebut.
Suara pentungan besi terdengar, mengenai bagian belakang kepala penjambret itu. Meskipun tidak kuat, namun cukup membuat si penjambret berhenti berlari karena mengerang kesakitan.
Si penjambret menoleh, mencari tahu siapa yang telah melemparkan sekop es krim ke arahnya. Padma bisa melihat penjambret itu juga mengumpat tanpa suara.
"Berhenti, Jambret!"
Suara dari pemilik tas berhasil menyadarkan si penjambret untuk berhenti mencari tahu siapa yang melemparinya sekop es krim dan kembali berlari. Namun, sebelum penjambret itu berhasil melakukannya, Padma sudah lebih dulu kembali memulai aksinya.
Tepat di sebelah pedagang es krim, ada gerobak bakso yang mangkal. Mata Padma langsung jatuh pada centong bakso yang menganggur di atas mangkuk. "Saya pinjam sebentar, Pak."
Sama seperti tadi, centong bakso itu berhasil mengenai si penjambret. Kali ini mendarat sempurna di keningnya. Si penjambret ambruk ke tanah, mengerang kesakitan. Tangannya menyentuh keningnya dan terbelalak melihat ada darah di sana.
Padma memanfaatkan kesempatan itu untuk menghampirinya. Tangannya dengan segera merebut kembali tas milik perempuan paruh baya tadi.
Penjambret itu mencoba sekuat tenaga untuk bangkit. Tangannya menarik tali tas tersebut, namun Padma dengan sigap menahannya. Kekuatan penjambret itu tidak ada apa-apanya, sehingga Padma tidak perlu mengerahkan seluruh tenaganya.
"Kembalikan!" seru si penjambret.
Padma memasang wajah datar. "Ini bukan milikmu."
Sikap Padma membuat si penjambret murka. Lelaki itu bersiap memukul Padma, namun sekali lagi Padma dengan sigap menghindar. Bukannya penjambret itu yang melayangkan pukulan, justru Padma yang memberikan tamparan keras di wajahnya. Dua kali. Kakinya tidak tinggal diam, Padma menendang kaki si penjambret tepat di bawah lututnya.
Untuk kedua kalinya penjambret itu ambruk di tanah. Ia mengerang begitu kesakitan.
Tepat saat itu si pemilik tas akhirnya tiba di samping Padma. Dengan jarak dekat Padma bisa melihat seorang ibu-ibu yang usianya sekitar empat puluhan datang terengah-engah. Beliau diam sebentar untuk mengatur napasnya. Wajahnya berubah ngeri ketika melihat penjambret yang mencuri tasnya tergeletak lemah di tanah. Meskipun begitu kekesalan masih ketara di wajahnya.
"Penjambret sinting! Sesama rakyat jelata main maling-malingan. Mending main maling-malingan sama pejabat korup sana!" omel si ibu. Begitu selesai mengomeli si penjambret, ia ganti menatap Padma yang masih berdiri di tempatnya. "Terima kasih banyak, Neng. Syukur ada, Neng, tadi yang menolong."
"Sama-sama, Bu."
Setelah bertukar satu dua kalimat Padma kembali ke tempatnya sebelumnya. Namun, sebelum itu ia mengambil sekop es krim dan centong bakso yang di lemparnya tadi. Untuk ia kembalikan kepada pemiliknya.
Ketika sibuk melangkah dengan santai, sepasang mata Padma menangkap Thomas dan Zaman yang terpaku di tempatnya sembari menatap lurus ke arahnya. Melihat itu Padma seketika sadar bahwa sejak tadi ada dua teman yang bersama dengannya.
Padma meringis pelan mengingat aksinya tadi yang pasti sudah disaksikan kedua lelaki itu.
Dengan canggung Padma menghampiri dua teman kampusnya itu. Mereka menatap Padma dalam diam. Tapi, Padma tahu ada banyak pertanyaan yang siap mereka lemparkan kepadanya
"Dicuci dulu, Pak." Padma menyerahkan masing-masing sekop es krim dan centongan bakso kepada pemiliknya. Sama seperti Thomas dan Zaman, kedua pedagang itu juga melongo menatapnya.
Padma semakin merasa canggung di tempatnya.
"Ap-apa itu tadi, Padma?" Zaman lebih dulu bicara. Niatnya membeli notebook sudah terlupakan akibat kejadian tadi.
Tidak ada jawaban dari Padma.
"Bagaimana kau melakukannya, Padma?" Thomas tidak segan untuk ikut bertanya. "Lemparan itu…. Tarikkan tali tas itu…. Bahkan pukulan itu…. Apa kau baru saja syuting adegan untuk sebuah film aksi?" sambungnya.
Padma akhirnya menatap ke arah kedua lelaki itu. Senyuman yang dipaksakan menghiasi wajah cantiknya. "Bisakah kalian melupakan kejadian tadi? Anggap saja kalian tidak pernah melihatnya."
"TIDAK MUNGKIN." Thomas dan Zaman menyahut berbarengan.
