Actions

Work Header

一期一会 (Ichi go Ichi e)

Summary:

Nirei sangat mensyukuri setiap momen yang terjadi di dalam hidupnya, termasuk pertemuan singkatnya dengan seorang lelaki bernama Suō Hayato.


For Day 2 of #suonireiweek2025 - Terminal Illnes

Notes:

Dear #suonireiweek2025 moderators,
My apologies for the late submissions (╥ᆺ╥;).

-
Halo!
-Cerita ini FIKSI belaka, tidak berhubungan dengan kehidupan nyata.
-Karakter yang digunakan pada cerita ini merupakan milik Nii Satoru (Wind Breaker) dan Ken Wakui (Tokyo Revengers).
-Ditulis menggunakan bahasa Indonesia. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan pengetikan (typo) meskipun telah diusahakan untuk menyesuaikan dengan EYD V dan KBBI.
-Cerita ini dipublikasi secara gratis untuk mengikuti event #suonireiweek2025, penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari penulisan cerita ini.
-Cerita ini terinspirasi dari film Taiyou no Uta (Midnight Sun) dan lagu Good-Bye Day by YUI.
-Jika cerita ini dirasa tidak sesuai dengan selera pembaca setelah melihat tagsnya, mohon diabaikan saja, ya. DLDR.
Semoga terhibur, ya.
Selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Makochi, Juli 2013

Tatkala mentari mulai pergi, bulan dan bintang pun mengambil alih tugas untuk menerangi bumi. Sebagian besar manusia akan memilih mengistirahatkan diri usai melakukan berbagai aktivitas tanpa henti di pagi hingga sore hari. Namun, hal itu tidak berlaku bagi seorang remaja laki-laki. Lantaran dia memperlakukan siang bagai malam dan malam bagai siang sehingga para anggota keluarga, tetangga, dan warga di sekitar kompleks perumahan melabelinya sebagai sang pembalik waktu. 

Dia adalah Nirei Akihiko. Dia memiliki postur tubuh yang mungil dan paras yang manis sebab didukung pula oleh model rambut yang sengaja dibuat sedikit berantakan. Warna asli rambutnya adalah cokelat tua, tetapi kali ini rambutnya diwarnai dengan warna pirang. Di bulan September nanti dia akan berulang tahun yang ke-17. Sungguh itu adalah usia yang menjadi awal dirinya menginjak tangga kedewasaan. Akan tetapi, Nirei tidak ingin terlalu memusingkan ulang tahunnya. Karena masih lama dan pasti tidak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya, batinnya.

Setelah terbangun dari tidurnya, Nirei bergegas menuju ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Kemudian dia akan menuju ke ruang makan.

Begitulah rutinitas harian yang selalu Nirei lakukan.

“Halo!” sapa Nirei pada ayah dan ibunya yang sudah menunggu untuk makan bersama di ruang makan. Bisa dikatakan bahwa ini adalah sarapan bagi Nirei dan makan malam bagi kedua orang tuanya.

“Hari ini mau pergi ke mana? Ingin ayah temani?”

“Hmm … sepertinya hari ini aku tidak ingin pergi ke mana-mana, Yah,” jawabnya diiringi dengan senyuman yang manis.

“Loh, kenapa?” tanya sang ibu yang kini ikut masuk dalam konversasi.

Nirei bersedekap setelah mendudukkan diri kursi. “Mau coba laptop baru yang ayah bawa kemarin. Kardusnya masih tersegel, belum aku buka sama sekali. Dan juga, aku ingin mengerjakan latihan soal ujian di buku sudah dibelikan oleh ibu beberapa hari lalu.”

“Oh!” Sang ayah berseru. “Perlu ayah bantu tidak?”

Nirei menggelengkan kepala sebagai respons. “Aku bisa sendiri.”

“Ya, sudah. Ayo habiskan dulu makanannya! Nanti kita bicarakan lagi setelah makan, ya,” usul ibu.

Sontak Nirei membentuk gestur hormat pada ibunya dan mereka melanjutkan sesi makan bersama dengan khidmat.

Beberapa menit usai bersantap, Nirei membantu sang ibu merapikan meja makan, dan selanjutnya kembali lagi ke kamarnya untuk segera mencoba laptop pemberian sang ayah serta menyusun berbagai buku soal di atas meja belajarnya.

Selama 16 tahun hidupnya, Nirei yang memang terbiasa menyendiri ini selalu mempelajari segala hal seorang diri. Karena pada dasarnya Nirei memang genius meskipun tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal layaknya anak seusianya.

Nirei memang terlahir berbeda sehingga hal yang lumrah dilakukan oleh manusia lainnya tidak bisa dia lakukan.

Ibu Nirei yang merupakan guru matematika di sekolah menengah pertama, akhirnya terpaksa berhenti bekerja demi mengurus keperluan Nirei serta menemaninya belajar di rumah, sementara sang ayah memiliki sebuah toko komputer di Kota Makochi.

“Wah! Ini keren! Lebih keren daripada laptop yang sebelumnya! Aku jadi bisa belajar editing video lagi!”

 




Makochi, Januari 2012

Bulan Januari adalah bulan terdingin di musim dingin. Salju yang begitu lebat menutupi seluruh permukaan jalan dan bangunan. Udara dinginnya pun terasa menusuk sampai ke tulang. Biasanya tak akan ada manusia yang dengan senang hati menantang udara dingin yang bahkan bisa menyentuh -9 derajat celsius di Kota Makochi. Tetapi, pengecualian untuk sang pembalik waktu. Selama hidup di dunia, dia akhirnya lebih menyukai musim dingin dibandingkan ketiga musim lainnya. Lantaran dia bisa berjalan-jalan seorang diri mengelilingi lingkungan tempat tinggalnya, bahkan bisa pula pergi ke wilayah yang agak jauh hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya.

Kedua orang tuanya tidak pernah melarang apa pun yang ingin dia lakukan selama hal itu tidak berbahaya dan dia bisa memperhitungkan waktu untuk kembali pulang ke rumah. Orang tuanya bahkan sudah mengajukan izin kepada kantor kepolisian setempat agar anak mereka diperbolehkan berkeliaran di malam hari seorang diri. Tentu tidak mudah mendapat pengertian atau izin dari pihak di luar keluarga pada awalnya. Namun, setelah mengetahui maksud dan tujuannya, mereka membuat pengecualian hanya untuk Nirei seorang.

Malam itu, Nirei terus saja berjalan menuju tempat yang asing baginya. Tak lupa dia mencatat petunjuk di buku catatannya agar tidak tersesat. Kemudian dia menghentikan langkah kakinya di seberang sebuah bangunan yang besar dan megah. Namun, kemegahannya sedikit terganggu dengan adanya spanduk bertuliskan “Panti Asuhan akan Segera Ditutup”.

Nirei merasa miris melihatnya.

Anak-anak yang ada di sana akan pergi ke mana nantinya, ya? Sayang sekali tempat sebagus ini harus tutup.

Usai menatap bangunan panti asuhan itu cukup lama dan juga mengambil beberapa gambar dengan kamera digitalnya, Nirei berbalik badan dan memutuskan untuk kembali pulang.

Setibanya di rumah, tepat pada pukul 4 pagi, Nirei menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Nirei menceritakan penemuannya tentang panti asuhan yang akan ditutup itu.

“Sayang sekali, ya, Bu. Padahal gedungnya bagus dan terlihat mewah. Kira-kira nantinya akan dijadikan tempat apa, ya, setelah panti asuhannya resmi ditutup?”

Sang ibu mengelus kepala anak semata wayangnya. “Kabarnya pemilik panti asuhan itu sudah meninggal dunia. Seharusnya tempat itu diambil alih oleh anaknya. Tapi, tak ada seorang pun yang tahu di mana keberadaannya.”

“Sungguh? Wah … ini berita besar!”

“Iya. Baca saja beritanya di koran edisi kemarin.”

“Oke! Aku baca dulu, deh!” Nirei merespons seraya berjalan menuju rak penyimpanan koran. Lembaran demi lembaran koran Nirei baca untuk mencari informasi yang diinginkan. Ternyata benar, di sana dituliskan bahwa sang ahli waris dinyatakan menghilang dan belum ada pihak yang mau mengambil alih yayasan tersebut. Utang yang menumpuk pun menjadi alasan utama panti asuhan itu harus segera ditutup dan seluruh anak asuh sudah dipindahkan ke panti asuhan yang lain.

Wah … mengerikan. Perkara utang piutang memang mengerikan.

 

🍵 📒

 

Sekuat tenaga seorang pemuda berusaha menyalakan perapian di sebuah gudang tua. Tak ada satu pun benda yang berguna untuk menghalau dingin selain satu lapis mantel yang sempat diambil dari balik pintu kamarnya.

Alhasil, ditendangnya batu dan potongan kayu yang semula sudah disusun sedemikian rupa.

Dengan rasa frustrasi yang begitu tinggi, kini dia melangkahkan kaki ke sudut ruangan dan masih berusaha untuk mencari kehangatan. Kedua tangan yang tak dilapisi sarung tangan turut berjuang untuk masuk ke celah terdalam dari mantel yang dikenakan dan berakhir menemukan ponsel yang sudah beberapa hari ini dia matikan.

Pikirannya kacau. Dia pun sangat tahu jika sebenarnya benda lipat itu tidak akan berguna untuk kelangsungan hidupnya di malam yang dingin ini. Namun, dia tetap mencoba mengaktifkannya kembali.

Perlu menunggu agak lama untuk membuat ponselnya menyala dan mendapatkan sinyal yang sempurna karena benda itu model lama.

Lantas satu per satu pesan masuk dia terima dan kebanyakan dikirimkan oleh orang yang sama, salah satu asisten sang ayah yang ternyata sudah merencanakan pengkhianatan sejak lama.

“Suō Hayato! Mau sampai kapan kau melarikan diri? Cepat kembali! Aku sudah muak harus menanyakan di mana keberadaanmu setiap hari! Aku tahu kau membaca pesan yang kukirimkan! Cepatlah pulang! Ada hal penting yang harus kita bicarakan!”

Selain pesan berupa teks, dia juga menerima pesan suara.

“Aku beri waktu mulai sejak pesan ini kukirimkan. Jika sampai akhir bulan kau tak juga kembali, panti asuhan ini akan benar-benar ditutup dan gedungnya akan kujual. Memangnya kau rela? Setidaknya jadilah anak yang baik demi mendiang orang tuamu. Aku tahu kau terkejut dan kecewa. Tapi, bagaimanapun juga mereka tetaplah orang tuamu! Dan kau harus bertanggung jawab!”

Suō Hayato adalah sosok yang tengah menjadi perbincangan di Kota Makochi. Dialah anak dari pemilik panti asuhan yang dikabarkan menghilang entah ke mana. Sebenarnya dia tidak menghilang, hanya sekadar mengasingkan diri sebentar. Banyak hal yang harus dia pikirkan dan dia juga ingin menata hatinya kembali sejak ditinggalkan oleh sosok yang selama ini menjadi panutannya dan selalu menyayanginya, yaitu sang ayah.

Nahas baginya yang tidak mengetahui fakta apa pun tentang siapa dirinya yang sebenarnya hingga saat sang ayah mengembuskan napas terakhirnya.

Suō bingung harus bagaimana mencerna segala informasi yang ada. Terlalu banyak rahasia yang ayahnya—atau kini lebih tepatnya ayah angkatnya—simpan seorang diri setelah lebih dulu ditinggalkan oleh sang istri satu dekade lalu.

Suō adalah anak angkat. Ayah dan ibu angkatnya menemukan sosok mungil tak bernama dibalut selimut tebal tepat di depan pintu rumah di tanggal 28 Maret 1995. Entah ini hanya kebetulan semata atau memang Tuhan sudah merencanakan demikian. Tetapi, orang tua angkat Suō bersyukur sekali akan kehadiran dirinya di keluarga kecil mereka dan menganggap Suō sebagai anugerah terindah.

Ayahnya menuliskan semua pengalaman hidup yang dilalui serta segala keinginannya di dalam sebuah jurnal tebal, bahkan salah satu alasan mengapa pada akhirnya sang ayah mendirikan panti asuhan adalah karena Suō. Kedua orang tua angkatnya ingin anak-anak yang bernasib kurang beruntung bisa memiliki tempat tinggal dan pendidikan yang layak, sekaligus membantu para pasangan yang belum dikaruniai anak oleh Tuhan. Sebab mereka sendiri paham bagaimana rasa sedihnya tidak mampu mempunyai keturunan. Lantaran sang istri memiliki riwayat penyakit yang tidak memungkinkan baginya untuk mengandung.

Lantas seiring bertambahnya usia, sang ayah tak mampu lagi menahan segala penyakit yang datang mengganggu sistem imunnya. Ayahnya pun telah mengidap penyakit paru-paru sejak lama dan semakin parah kondisinya mengingat silih berganti klien atau donatur yang ditemui adalah para perokok aktif dan tak hentinya terpaksa menghirup udara yang dapat membuat napasnya sesak.

Dalam jurnal itu, ayahnya juga menuliskan sejumlah kalimat permintaan maaf serta harapannya untuk Suō agar dapat menjalani hidup yang bahagia serta bisa menjaga panti asuhan itu meskipun sang ayah telah tiada. 

Tetes demi tetes air mata mengalir ketika Suō itu membaca kalimat-kalimat tersebut, tepatnya pada halaman yang sedikit berkerut dan terdapat bekas tinta yang meluber. Mungkin itu adalah kali terakhir ayahnya mencurahkan segenap kekuatannya untuk menuliskan isi hati dan rasa sesalnya karena tak dapat menemukan orang tua kandung Suō hingga saat terakhirnya berada di dunia.

Lelaki bertubuh tinggi dan bersurai cokelat tua ini masih berpikir bagaimana mungkin sang ayah memercayakan segala hal padanya yang notabene bukanlah siapa-siapa. Suō tidak tahu apakah dia mampu mengemban amanah yang diberikan padanya. Suō tidak yakin bila mengingat terlalu banyak orang jahat yang memanfaatkan kebaikan sang ayah selama ini. Termasuk dua orang anak asuh yang sudah lama berada di panti asuhan sekaligus diangkat sebagai asisten pribadi sang ayah, yaitu Kisaki Tetta dan Endo Yamato. Merekalah dalang di balik segala utang yang dimiliki oleh yayasan.

Ayahnya terlampau memercayai mereka atau justru sebenarnya ayah sudah mengetahui perbuatan buruk mereka dan tak sanggup lagi untuk berbuat apa-apa. Suō sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran orang dewasa. Dia bahkan baru akan lulus SMA di musim semi mendatang. Alih-alih memikirkan akan melanjutkan pendidikan ke mana, justru kini dia kerepotan untuk memikirkan kelangsungan hidup banyak orang.

“Ayah … haruskah aku pulang?” ucap Suō seraya memegang erat jurnal milik ayahnya. “Bahkan rumah itu bukanlah rumahku sejak awal. Takdir hidup macam apa ini sebenarnya?” keluhnya pada keadaan.

Entahlah. Saat ini saja aku tidak tahu apakah aku bisa melewati malam yang dingin ini dengan selamat.

 


 

Makochi, Februari 2012

“Mantan Direktur Noroshi Tech, Takiishi Chika divonis 3 tahun penjara atas kasus korupsi. Dia menjadi ....”

Dari pagi hingga malam berita tentang kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan direktur perusahaan teknologi terbesar di Kota Makochi tak pernah absen menghiasi layar kaca. Baik itu berita utama, breaking news, maupun berita running text yang tiba-tiba muncul di bawah layar televisi.

“Terima kasih atas hidangannya!” ujar Nirei.

“Loh, sudah selesai?” tanya sang ayah seraya mengecilkan volume suara televisi dengan remot yang semula diletakkan di sisi kosong meja makan.

“Hmmm,” Nirei menggumam sembari meneguk air pada gelasnya.

“Memang mau pergi ke mana? Kenapa buru-buru? Mau ayah antar?”

“Tidak perlu, Yah. Aku mau ke warnet yang ada di dekat toko kita saja, kok.”

“Baiklah. Jangan lupa waktu, ya!”

“Siap, Kapten! jawab Nirei dengan gestur hormat kepada sang ayah.

Lelaki mungil itu segera menuju kamarnya untuk memakai mantel, syal, sarung tangan, kaus kaki, dan juga topi bulu tebal yang bisa menutupi telinganya sekaligus. Tak lupa, dia membawa dompet, ponsel, dan buku catatan beserta penanya.

Ketika dia menuruni anak tangga, kedua orang tuanya telah menunggu di dekat rak sepatu. Mereka selalu melakukan rutinitas semacam ini jika Nirei ingin bepergian seorang diri.

“Hati-hati ya, Nak,” ucap sang ibu.

“Jangan lupa telepon ayah kalau ada hal mendesak!” peringat ayahnya.

“Iya, iya,” jawab Nirei seraya memeluk kedua orang tuanya.

Kemudian dia melambaikan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memutar kenop pintu.

Kini Nirei sudah menginjakkan kaki di halaman depan rumah. Udara di luar ruangan masih cukup dingin meskipun salju sudah mulai mencair, bahkan jalanan di kompleks perumahan terasa sangat sepi, seakan tak ada tanda-tanda kehidupan.

Lain halnya ketika Nirei sudah memasuki kompleks pertokoan. Cahaya lampu dari beberapa toko yang memiliki jam operasional 24 jam cukup menyilaukan mata dan terasa mendominasi warna salju yang putih.

Nirei membutuhkan waktu setidaknya 15 menit dengan berjalan kaki untuk tiba di warnet dekat toko milik ayahnya. Tatkala Nirei mendorong pintu masuknya, dia sambut dengan bunyi kerincing dari lonceng yang tergantung di bagian sudut atas pintu.

Sang penjaga warnet pun langsung berdiri dan menyapanya. “Nirei-chan ...! Seperti biasa?”

“Iya, Suzuri-san!” jawab Nirei seraya melepaskan mantel, topi, dan sarung tangannya.

“Oke!” ucap Suzuri diiringi dengan senyuman. “Kamu bisa pakai loker nomor 3, ya, kalau mau simpan barang-barangmu. Jangan lupa bawa kuncinya juga.”

“Baik. Terima kasih,” respons Nirei yang juga diakhiri dengan senyum.

Usai meletakkan seluruh barang bawaannya di loker, Nirei berjalan menuju ke spot favoritnya, tepatnya di sudut terdalam warnet. 

Nirei mulai menekan tombol “ON” pada CPU dan menanti komputer tersebut untuk melakukan booting. Di saat Nirei masih menunggu komputernya untuk bisa digunakan, Suzuri menghampiri Nirei seraya membawakan dua botol air mineral dan sekotak tisu.

“Terima kasih, Suzuri-san!”

“Sama-sama. Semisal kamu butuh sesuatu, tekan tombol ini, ya. Nanti aku bakal langsung ke sini.”

“Siap!”

Suzuri mengelus puncak kepala Nirei dan bergegas pergi menuju ke mejanya semula.

Tatkala komputer telah siap untuk digunakan, Nirei mulai menjelajah menggunakan browser. Tetapi, dia langsung merasa muak melihat headline berita tentang korupsi. Lagi-lagi korupsi.

Mengapa orang-orang ini tidak pernah puas? Belum lagi mereka yang bekerja di sektor pemerintahan. Mereka semua sudah mengecewakan rakyat dan memakan uang yang bukan haknya. Lihat saja pembalasan atas apa yang sudah kalian lakukan, wahai tikus-tikus kotor! 

Nirei membatin demikian diiringi dengan seringaian pada wajahnya.

 


 

Makochi, Januari 2012

Secara ajaib Suō masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk tetap bisa menjalani kehidupan usai nyaris mati kedinginan di gudang tua. Tepat di pagi hari, dua orang petugas kebersihan daerah yang mendapatkan jadwal untuk melakukan pemeriksaan rutin pada gedung-gedung terbengkalai menemukan Suō tak sadarkan diri. Tubuhnya terlihat sangat pucat dan kulitnya sangat dingin ketika disentuh. Untungnya saja denyut nadi Suō masih terasa saat tangannya diraba. Mereka pun bergegas membawa Suō ke rumah sakit terdekat.

Suō langsung diberi penanganan ekstra oleh para tim medis. Pakaian yang semula Suō kenakan, seketika saja dilepaskan dan diganti dengan pakaian pasien rawap inap.

Perlu waktu berjam-jam untuk membuat suhu tubuh Suō kembali normal. Kedua petugas kebersihan daerah yang menemukan Suō pun secara bergantian mengatur jadwal untuk bisa menemani Suō di sana serta mencari tahu pihak keluarganya yang bisa dihubungi.

Setelah Suō benar-benar sadar, dia cukup terkejut mendapati dirinya berada di rumah sakit bersama dengan orang asing. Namun, dia tetap mengucapkan terima kasih kepada mereka.

“Kami terburu-buru membawamu ke sini. Hampir saja kami melaporkan ada penemuan jasad tak bernyawa di gudang itu. Untungnya kau masih hidup, ya, Nak.”

“Kami juga akhirnya mengetahui kalau kau adalah anak dari pemilik Panti Asuhan Makochi yang sudah lama dicari-cari.”

Suō tersenyum getir ketika mendengar kata “Panti Asuhan”. Karena Suō tahu persis apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Tidak mungkin dua sosok yang sengaja dia hindari tidak melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi setelah nyaris mati terkena hipotermia.

“Terima kasih banyak, Yuki-san, Kanji-san,” ucap Suō pada dua penyelamatnya.

“Istirahat yang cukup, ya. Jangan lupa makan juga. Kami pamit pulang dulu,” ujar Yuki. 

Suō hanya memberikan respons dengan anggukan dan juga senyuman. Dia tetap mempertahankan senyumnya sampai Yuki dan Kanji benar-benar pergi.

“Aku tahu kalian ada di depan pintu!” Suō berkata secara tiba-tiba dan senyumannya seketika sirna.

“Hahaha. Memang anak genius satu ini punya insting yang bagus!” respons Endo seraya menyembul di balik pintu. “Kisaki, ayo kita langsung ke inti saja!”

Pria yang dipanggil dengan nama Kisaki itu membenahi kacamatanya terlebih dahulu sebelum mengeluarkan amplop dari saku dalam jasnya. “Baca dan tanda tangani,” ucapnya pada Suō.

Lelaki yang lebih muda menatap nyalang. “Kalau aku tidak mau melakukannya, bagaimana?”

“Seluruh utang akan menjadi tanggung jawabmu.”

“Kurang ajar!” teriak Suō. Namun, kepalanya langsung berdenyut nyeri karena dia belum lama tersadar dari pingsan.

“Dengar, Suō. Ini adalah penawaran terbaik yang bisa kuberi untukmu. Kita jual gedung itu, lalu membagi hasil penjualannya. Aku dan Endo akan mengurus seluruh aset dan utang lainnya. Sementara kau bisa menggunakan uangnya untuk melanjutkan kuliahmu.”

“Kalau suatu saat nanti kau punya uang, kau bisa membeli gedung itu lagi, kan? Simpel, Suō!” Endo menambahkan.

“Kalian berdua keterlaluan! Kurang baik apa ayah dengan kalian?”

Kisaki tersenyum sinis. “Kau sungguh menanyakan hal itu pada kami? Bukankah seharusnya kau tahu sendiri jawabannya?”

“Apa maksudmu?”

Endo memosisikan diri untuk duduk di pinggir ranjang pesakitan. Dia menatap Suō dan berkata, “Ayah hanya mengakui kau sebagai pewarisnya! Bukan kami! Padahal segala pekerjaan yang berkaitan dengan operasional panti asuhan ada campur tangan kami!”

“Biar kuperjelas!” sambar Kisaki. “Ini semua karena ayah tidak adil, Suō. Jika memang dia sudah menentukan pewaris sejak awal, kenapa masih repot-repot memberi harapan palsu pada kami berdua? Itulah mengapa aku dan Endo melakukan hal lain di belakang ayah dan melibatkan para tua bangka yang berperan sebagai donatur panti asuhan.”

“Kalian gila! Aku bahkan tidak tahu menahu tentang warisan dan sebagainya.”

Endo semakin mendekati Suō dan yang lebih muda pun mencoba menghindar. Suō mengira jika Endo akan melukainya kembali seperti saat dia masih kecil hingga mata kanannya harus ditutup menggunakan penutup mata. Namun, ternyata pria bertato itu ingin mengambil jurnal yang ada di dekat bantal tidur Suō.

“Semuanya tertulis di sini, kan? Kami juga akhirnya membongkar seluruh brankas milik ayah, dan di semua salinan dokumen resmi hanya tertulis namamu. Lagi-lagi namamu!” Endo emosi dan melemparkan jurnal sang ayah ke lantai.

Suō langsung beranjak dari kasurnya menuju ke tempat Endo melemparkan jurnal tersebut tanpa memedulikan sakit kepala serta tangannya berdarah akibat selang infus yang tersangkut.

Lelaki bersurai cokelat itu memeluk erat jurnal sang ayah dan berteriak dengan mata kiri yang berkaca-kaca, “Pergi kalian dari sini! Pergi!”

“Baiklah, kami akan pergi sekarang. Jika kau sudah lebih tenang, aku akan datang lagi dan memastikan kau menandatangani dokumen di amplop itu,” ujar Kisaki seraya menarik Endo keluar dari sana.

“Ah, persetan dengan kalian!” teriak Suō yang akhirnya menarik tiang penyangga infus dan melemparkannya ke arah pintu.

Akibat keributan yang terjadi di ruang inap Suō, para perawat segera menghampirinya disusul oleh beberapa petugas keamanan.

 

🍵 📒

 

Lima hari setelah menjalani masa pemulihan di rumah sakit, Suō akhirnya menyambangi kantor notaris. Lantaran selumbari ada seorang notaris yang memberikan kartu nama dan memintanya untuk datang ke ke kantornya. Ada hal yang perlu dibicarakan, katanya.

“Permisi, apakah Umemiya-san ada di ruangannya?” tanya Suō pada seorang resepsionis setelah dia memasuki gedung yang menjadi tempat tujuannya.

“Umemiya-san sedang kedatangan tamu. Saya coba kontak beliau terlebih dahulu, ya. Kalau boleh tahu, nama Anda siapa?”

“Oh, maaf. Nama saya Suō Hayato. Mohon maaf sebelumnya, saya belum membuat janji temu juga.”

Sang resepsionis tersenyum memaklumi. “Baik, Suō-san. Silakan duduk terlebih dahulu di kursi yang tersedia.”

Suō mengangguk. “Terima kasih.”

Dia berjalan menuju ke kursi yang menghadap ke arah tangga. Namun, saat hendak menduduki kursi tersebut, terdengarlah suara gedebak-gedebuk dari lantai dua dan seketika Umemiya muncul di bagian tengah tangga. “Hei, Suō! Ayo langsung ke atas!” teriaknya.

Memangnya tidak ada cara yang lebih normal lagi untuk mengizinkanku masuk ke ruangannya, ya? Kenapa juga harus berlarian dan berteriak begitu?

Suō membatin demikian. Tak lupa dia tersenyum kembali pada sang resepsionis sebelum menaiki tangga menuju ke lantai dua.

“Ayo, cepat kemari!” titah Umemiya yang menunggu Suō di depan pintu ruangannya.

“Sabar, Umemiya-san!”

“Hiiragi juga sudah menunggu kedatanganmu.”

“Hii-Hiiragi-san? Bendahara yayasan?”

Umemiya mengangguk. “Kalian seperti punya ikatan batin yang kuat karena bisa datang ke kantorku di hari yang sama tanpa janjian,” ucapnya dengan nada bercanda.

“Umemiya, sudahi basa-basinya!”

“Hiiragi ~ Jangan galak begitu, ah! Suō baru keluar dari rumah sakit. Kau tahu, kan? Dia ditemukan pingsan di gudang tua beberapa hari lalu.”

“Aku tahu.”

“Dari mana Hiiragi-san mengetahui kabar ini?” tanya Suō yang kini sudah berdiri di depan pintu.

Sebelum Hiiragi menjawab, dia melihat Umemiya mendorong Suō untuk duduk di kursi yang kosong terlebih dahulu.

“Kanji-san itu kenalanku dan Umemiya. Dia menunjukkan fotomu saat sedang mencari informasi tentang keluargamu.”

“Jadi, Hiiragi-san dan Umemiya-san juga yang memberi tahu kontak Kisaki dan Endo padanya?”

Umemiya mengernyitkan keningnya. “Tidak. Aku tidak memberi tahu kontak mereka pada Kanji-san.”

“Mungkin kau tidak sadar kalau di spanduk depan pagar panti asuhan terdapat nomor ponsel Endo sebagai kontak yang bisa dihubungi jika ada yang tertarik untuk membeli gedung tersebut,” sahut Hiiragi.

“Yang benar saja?” Suō terkejut mendengar kabar ini.

“Spanduknya sudah diganti, Suō. Menjadi seperti ini,” ucap Umemiya sambil menunjukkan selembar foto. 

Pada foto tersebut, spanduknya bertuliskan “Gedung ini Dijual Tanpa Perantara” dan seperti yang Hiiragi katakan, terdapat kontak Endo juga di sana.

“Meskipun mereka nekat ingin menjual gedung itu, yang jelas penjualannya tidak akan mudah. Karena segala surat aslinya berada di tanganku. Ayahmu menitipkannya pada Hiiragi sebelum penyakitnya bertambah parah 2 tahun yang lalu,” jelas Umemiya. “Selain itu, otoritas keuangan panti asuhan sebagian masih ada pada Hiiragi.”

Suō mulai bingung mencerna situasi yang terjadi. “Ini … maksudnya bagaimana? Mendadak aku tidak paham.”

“Seperti yang kau tahu, aku adalah bendahara panti asuhan yang sebenarnya. Aku menggantikan ayahku tiga tahun yang lalu lebih tepatnya,” jawab Hiiragi. “Tapi, sejak Kisaki dan Endo yang bertemu langsung dengan para donatur, dana yang seharusnya masuk ke dalam rekening panti asuhan, tidak tahu mengalir ke mana. Untungnya saja renovasi gedung sudah selesai dilakukan sebelum hal ini terjadi.”

“Lalu perkara utang itu sebenarnya utang apa?”

“Itulah yang sedang aku selidiki,” ucap Hiiragi lagi. “Aku juga sudah menyewa pengacara untuk melindungimu, Suō.”

“Pengacaranya Kaji, kan?” tanya Umemiya.

Hiiragi mengangguk.

“Panggil saja dia kemari. Supaya obrolan ini lebih jelas dan terarah,” sarannya.

“Aku tidak yakin dia bisa dipanggil secara mendadak. Karena dia harus mendampingi saksi dari kasus korupsi Direktur Noroshi Tech.”

“Ah … berat. Berat …,” komentar Umemiya. “Itulah mengapa aku tidak mau menjadi pengacara. Meskipun banyak uangnya, tapi tanggung jawabnya lebih berat.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Kisaki memberikan amplop ini padaku saat di rumah sakit.” Suō meletakkan amplop itu di atas meja.

Sontak Umemiya mengambilnya dan membuka isinya. Hiiragi juga ingin mengetahui isi dari amplop tersebut sehingga dia mendekati sang notaris.

“Ini adalah format surat kuasa. Jika diterjemahkan secara singkat, surat kuasa ini nantinya akan berperan sebagai bukti bahwa kau sudah sepenuhnya menyerahkan kepengurusan seluruh aset termasuk utang piutang pada mereka disertai dokumen pendukungnya, dan juga proses balik nama dari aset-aset terkait jika ada. Lalu kau berisi kesediaanmu untuk menerima sejumlah uang yang telah disepakati.”

“Sudah gila, mereka!”

“Yah, sebetulnya surat kuasa ini tidak akan sepenuhnya berlaku jika kau tidak menyerahkan dokumen asli dari aset-aset tersebut kepada mereka. Lagi pula tetap membutuhkan notaris untuk mengesahkan segalanya.”

Suō terdiam sejenak dan mulai berpikir jika Kisaki dan Endo hanya sedang berusaha memperalatnya untuk mencari dokumen asli milik ayahnya. “Tadi, Umemiya-san bilang kalau segala dokumen asli milik ayah dititipkan padamu. Apa itu benar?”

Umemiya mengangguk mengiakan.

“Lalu Hiiragi-san,” kini Suō menatap ke arah Hiiragi.  “Bila kita mengetahui tentang utang-piutang yang dibuat oleh Kisaki dan Endo, kemudian kita bisa membayarnya, apakah hal itu bisa memuaskan mereka berdua?”

“Aku tidak yakin mereka akan puas hanya dengan seperti itu, Suō. Tapi, yang jelas kita memang harus mencari tahu terlebih dahulu sebenarnya mereka terjerat utang apa. Yah, meskipun aku sebenarnya curiga jika mereka terlibat dalam kasus korupsi yang baru-baru ini ramai diperbincangkan. Karena mereka sudah menjalin koneksi dengan para donatur yang mayoritas adalah petinggi di perusahaan swasta dan kantor pemerintahan.”

“Hmm. Masuk akal kalau ternyata sebenarnya mereka ingin mengembalikan uang hasil korupsi dan ingin membersihkan diri, seakan-akan mereka tidak terlibat sama sekali dengan para koruptor itu,” sambar Umemiya. “Karena siapa yang akan tahan dengan uang haram dalam jumlah besar? Pasti duitnya sudah lenyap entah ke mana, kan?”

"Atau justru mereka sebenarnya ingin melarikan diri?" Suō turut menyampaikan opininya.

“Ini semua hanyalah asumsi yang mengerikan! Tapi, ada yang perlu kusampaikan juga pada kalian …,” ucap Hiiragi menggantung dan dia memberikan isyarat kepada Umemiya untuk menutup pintu terlebih. Setelah dirasa aman, Hiiragi melanjutkan perkataannya lagi. “Sebenarnya dalam beberapa hari terakhir ini, aku selalu mendapatkan notifikasi uang masuk melalui SMS banking dari rekening yayasan dan saat aku cek ulang melalui internet banking, saldonya memang bertambah.”

“Hah?” Umemiya heran.

“Ini betulan?” tanya Suō.

“Ya. Aku juga tidak paham. Nominal yang dikirimkan pun sangat fantastis,” ujar Hiiragi. Pria itu kini membuka laman internet banking dengan laptopnya serta menunjukkannya pada Suō dan Umemiya.

“Bagaimana mungkin? Siapa pengirimnya? Kau sudah cek ke bank secara langsung?” pertanyaan beruntun dari Umemiya tidak bisa dihindari, sementara Suō masih menganga tidak percaya.

“Aku sudah mendatangi bank kemarin, dan mereka juga tidak bisa mengetahui secara pasti karena uang ini berasal dari transaksi uang digital Bofucoin. Aku yakin kalian pasti paham cara kerjanya.”

Suō mencoba untuk berpikir jernih. Mungkin saja ada seorang dermawan yang berbaik hati mendonasikan uang pada panti asuhannya yang hampir ditutup.

Dengan adanya uang ini, Suō masih bisa meneruskan peninggalan orang tua angkatnya yang berharga. Karena mmasih ada banyak orang yang bergantung pada tempat ini. Tetapi, permasalahan ini tidaklah mudah jika bersinggungan dengan hukum. Salah langkah sedikit saja Hiiragi selaku bendahara resmi panti asuhan mungkin akan tertuduh menerima dana suap, sementara penjahat yang sebenarnya yaitu Kisaki dan Endo malah berkeliaran.

“Hiiragi-san, sepertinya kita harus mencari tahu siapa donatur tanpa nama ini terlebih dahulu dan sebisa mungkin kita jangan menyentuh sepeser pun uang yang ada di rekening itu. Bila perlu menunggu sampai urusanku dengan Kisaki dan Endo selesai juga.” 

“Baiklah. Aku akan coba hubungi rekanku yang lain, yaitu Mizuki, Momose, dan Tsubakino untuk membantu kita mencari tahu tentang donatur misterius ini.”

 

Bersambung

 

 

Notes:

Sebetulnya udah nyaris gak ada harapan buat bisa selesain fanfic apa pun dalam beberapa bulan belakangan (akibat kesibukan irl). Rasanya kalau bisa mengulang tahun 2024, mungkin aku akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya :"))) Tapi, sayangnya hanya bisa berandai-andai saja.

Maaf, jadi curhat gak jelas ~
Maaf juga baru bisa berpartisipasi di suonireiweek2025 sekarang (sedih bangettt T.T)

Dan, terima kasih, ya, untuk siapa pun yang sudah meluangkan waktunya demi membaca cerita ini.
Aku akan posting kelanjutannya segera.
-Yume