Actions

Work Header

we kissed in the morning

Summary:

According to Tomiyasu Yu, So Geon was so adorable that he found it difficult to resist kissing the younger one. With all of Geon's mischievous antics, it seemed as if he was seeking his validation (which wasn't necessary, as Yu would have noticed him anyway). Without realizing it, Geon felt the same way about Yu.

Notes:

They're stupidly in love, but they deny it.

Work Text:

 

Kalau Yu ditanya kenapa dia selalu bangun paling pagi, jawabannya adalah karena Yu pengen jadi orang pertama yang liat wajah Geon yang tertidur di sebelahnya.

 

Sejak tinggal bareng sama member lain, Yu akui, hubungannya sama Geon akrab diluar dugaan. Padahal saat mereka masih dalam survival show, dia gak nemuin alasan signifikan untuk deket-deket ke yang lebih muda (karena sifatnya juga pemalu, sih). Tapi, setelah mereka jadi teman seperjuangan, teman debut di tim yang sama, rasanya selalu ada hal-hal baru yang Yu temuin saat dia mulai mengakrabkan diri sama pemilik nama So Geon itu.

 

Anak itu manis sekali. Lembut. Suaranya bagus. Matanya cantik. Apalagi kalau lagi senyum.

 

Bibirnya juga lucu. 

 

Belum genap setahun dia memperhatikan So Geon, dan Yu hampir gila dibuat. Dia... secara sadar pengen cium yang lebih muda.

 

Rasanya, Yu pengen cium yang lebih muda bertubi-tubi, di kening, di pipinya yang gembil, di tahi lalat yang menghiasi sudut bibirnyayang selalu Geon sebut sebagai chocochip. Dan sudah pasti, di bibirnya yang tebal dan cantik merona itu.

 

Pemilik nama lengkap Tomiyasu Yu itu sekarang sedang menatap lamat wajah Geon yang masih terlelap. Jujur, kasur yang mereka tiduri cukup sempit untuk dua laki-laki dewasa dengan tinggi menjulang seperti mereka. Tapi Yu gak pernah merasa keberatan tiap Geon langsung mengambil tempatmeringkuk di sebelahnya. Malah kadang-kadang, mereka akan tertidur sambil berpelukan semalam suntuk.

 

Kembali ke Yu yang masih menimbang-nimbang apakah dia harus mencium So Geon saat ini, karena jujur, dadanya sudah gak kuat menahan gemas. Wajah Geon terlalu manis saat sedang tidur. Dengan sedikit keberanian, Yu memajukan kepalanya sedikit demi sedikit. Matanya fokus pada bilah bibir Geon yang gak tertutup rapat. Hingga tersisa beberapa senti lagi, kepala Yu bergerak mundur. Dia merasa ini gak benar. Yu gak mau menjadi orang jahat yang mencuri ciuman saat orang itu gak sadar—which means dia gak tahu apakah Geon bersedia dicium olehnya. Kepalanya kembali terbaring di bantal, menutup sebagian wajahnya dengan lengan, berusaha menetralkan pikirannya sendiri. Namun, bisikan halus tiba-tiba menyapa rungunya.

 

"Kok gak jadi ciumnya?"

 

Yu langsung menoleh, menurunkan lengannya dan mendapati Geon yang sudah terjaga dengan senyum tipis menghiasi bibir merah muda itu. Posisi yang lebih muda malah sudah menopang badannya dengan kedua siku, mengurung setengah badan Yu yang berbaring. Rambutnya yang acak-acakan karena tergesek bantal menambah kadar menggemaskan si Virgo.

 

"Maaf, aku gak maksud—"

 

"Kalau Kakak gak mau, aku aja yang cium Kakak, boleh?"

 

Yu terkesiap. Napasnya tertahan beberapa detik mendengar kalimat itu meluncur dari mulut mungil Geon. Matanya yang sudah bulat, menjadi bulat sempurna dan jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Geon gak pernah panggil dia Kakak dalam keseharian mereka. Panggilan itu malah buat kepalanya jadi makin pusing. Pusing karena dia bingung harus jawab apa. Lebih pusing lagi, karena Geon tiba-tiba malah bergerak mendekat dan mengecup bibirnya lebih dulu.

 

Cup.

 

Yu merasakan jantungnya turun ke perut saat bibir lembut itu menyapa bibirnya. Berani sumpah, Yu bisa gila menghadapi Geon yang kini tengah tersenyum dan elus rahanya lembut dengan jari-jarinya yang halus.

 

"Geonie,"

 

Suara Yu melirih, menatap bola mata dan bibir Geon bergantian. Yang lebih muda menyahut dengan gumaman.

 

"Beneran boleh aku cium?" tanya Yu pelan. Jemarinya dia bawa menyisipkan rambut ke daun telinga yang lebih muda.

 

"Boleh.:"

 

Pagi itu, bibir Yu dan So Geon tertaut dalam ciuman pertama yang manis dan hangat memenuhi rongga dada keduanya.

Series this work belongs to: