Chapter Text
Bab I : The Orange Flash : Titik Awal Yang Aneh
1.1 Sang Raja dan Tarian Bayangan Orange.
Bau disinfektan bercampur sedikit aroma keringat dan klorin menusuk hidungnya. Sebuah aroma yang akrab, namun asing. Hinata Shoyo yang berusia dua puluh lima tahun, seorang atlet voli profesional yang baru saja menyelesaikan musim V.League yang gemilang, baru saja membuka pintu kamar mandi umum di arena voli. Dia akan pergi menonton pertandingan adiknya, Natsu, sebentar lagi. Cahaya neon putih yang menyilaukan dari dalam ruangan itu sejenak membuat matanya mengerjap, namun kemudian, yang dia lihat bukanlah dinding keramik atau urinoir baja.
Yang ada hanyalah silau.
Sebuah ledakan cahaya oranye terang, seperti letupan supernova yang memaksanya menutup mata, kemudian… hening. Bukan hening total, melainkan hening yang aneh, seolah suara dunia meredam sesaat sebelum kembali membombardirnya. Kali ini, bukan aroma disinfektan. Ini adalah wangi lantai gym yang dipoles, bau bola voli karet, dan… keringat yang lebih muda? Dan suara-suara. Teriakan. Suara decit sepatu.
Matanya mengerjap terbuka. Pandangannya buram sesaat, lalu fokus.
Satu detik. Itu adalah waktu yang dibutuhkan otaknya untuk memahami bahwa dia tidak lagi berdiri di ambang pintu kamar mandi. Berdiri di tengah lapangan voli. Kaki yang ia rasakan menginjak permukaan keras itu terasa… lebih pendek? Otot-ototnya yang begitu terlatih dan matang, kini terasa lebih lentur, lebih ringan, lebih kecil.
Kemudian pandangannya tertuju pada net yang menjulang di depannya, pada dua rekan tim di sampingnya Izumi dan Koji, dengan seragam hijau neon SMP Yukigaoka yang dia kenal dan di seberang net, barisan pemain SMP Kitagawa Daiichi yang menjulang tinggi, dengan aura intimidasi yang begitu kuat. Dan yang paling menyakitkan… papan skor.
KITAGAWA DAIICHI : 18
YUKIGAOKA : 5
Merda.
Shoyo, berusia dua puluh lima tahun, merasa seolah otaknya baru saja dilempar ke dalam blender. Dia mencoba mengolah informasi, namun otaknya seolah macet. Kamar mandi? Natsu? V.League? Dan sekarang… ini? Pertandingan pertama SMP-nya? Pertandingan itu… yang dia ingat, adalah sebuah mimpi buruk. Kekalahan telak. Debut yang memalukan. Dan… dia.
Pandangannya secara refleks mencari sosok jangkung berambut hitam legam yang berdiri di tengah lapangan lawan, dengan mata tajam dan ekspresi arogan yang tak lekang oleh waktu. Kageyama Tobio. Bocah jenius yang dijuluki "Raja Lapangan."
Não é possível. Isso é algum tipo de piada? (Tidak mungkin. Ini semacam lelucon?)
Suara peluit wasit yang melengking menusuk telinganya. Pertandingan berlanjut. Tubuhnya, seolah memiliki kesadaran sendiri, bergerak ke posisi penerimaan bola, meliuk-liuk ringan di antara Izumi dan Koji. Dia tahu posisi ini. Middle blocker palsu. Lebih tepatnya, decoy. Dia tidak benar-benar memblokir, hanya melompat untuk menarik perhatian.
"Shoyo! Fokus!" teriak Izumi, suaranya sedikit tegang.
Dia hanya bisa mengangguk kosong, kepalanya terasa pening. Bola di seberang net sudah bersiap untuk diservis. Pemain Kitagawa Daiichi melambungkan bola tinggi, lalu melompat dengan kekuatan penuh. Sebuah servis jump float yang kuat, berputar tak terduga.
Cepat! instingnya berteriak.
Bola itu datang ke arah Koji. Koji berusaha menerima, namun bola itu memantul liar dari lengannya, melesat ke atas, lalu jatuh di luar batas lapangan.
SKOR : 19-5
Suara gemuruh kecil dari penonton di tribun, mayoritas pendukung Kitagawa Daiichi, terdengar jelas. Dia bisa merasakan panas di pipinya, bukan karena malu seperti dulu, melainkan karena frustrasi. Frustrasi atas ketidakberdayaan timnya, dan terutama, ketidakberdayaan tubuh remajanya.
Sialan. Ini sungguh terjadi. Aku kembali. Tapi… bagaimana? Pikirannya kalut. Dia mencoba mengingat detail hari itu. Rasa sakit kekalahan. Ucapan arogan Kageyama. Dan ambisi yang membara yang justru lahir dari kekalahan ini. Jika dia ada di sini, itu artinya… dia memiliki kesempatan kedua? Untuk mengubah sesuatu? Untuk menunjukkan kepada mereka—khususnya kepada Kageyama—bahwa dia bukanlah bocah kecil yang bisa diremehkan?
Namun, sensasi tubuhnya yang berusia 15 tahun itu nyata. Lompatan yang belum setinggi sekarang. Daya tahan yang belum sekuat sekarang. Bahkan visinya, meskipun dia sudah melatihnya selama bertahun-tahun, kini terasa sedikit lebih lambat dalam memproses pergerakan lawan. Ini adalah tubuh remajanya yang belum terasah, belum ditempa oleh latihan keras dan pengalaman profesional.
Servis Kitagawa Daiichi selanjutnya datang. Kali ini, lebih lurus, mengarah tepat ke Izumi. Izumi berhasil menerima, bola melambung tinggi, namun sedikit terlalu jauh dari setter mereka. "Pass!" teriak setter Yukigaoka, seorang siswa kelas satu yang gugup. Dia melangkah maju, namun bola itu terlalu tinggi, sulit dijangkau.
Sial! Ini tidak akan berhasil.
Instingnya mengambil alih. Dia sudah melihat bola itu, memprediksi lintasannya bahkan sebelum Izumi menyentuhnya, tahu setter mereka tidak akan bisa mengoper bola dengan baik, tahu ini akan menjadi bola "mati."
Tunggu. Bola ini… tinggi!
Sebuah ide gila, sebuah kilatan cahaya oranye, melintas di benaknya. Ini bukan seperti yang mereka latih. Ini bukan seperti yang dia lakukan dulu. Ini adalah sesuatu yang dia pelajari kemudian. Bertahun-tahun kemudian.
Tanpa sadar, kakinya sudah berlari. Dia berlari menyusul bola yang melayang tinggi di atas kepala setter mereka. Mata Kageyama di seberang lapangan, yang selama ini hanya menunjukkan kebosanan dan sedikit cibiran, kini sedikit melebar. Dia melihat dekoi kecil itu berlari, bukan untuk memblokir, melainkan… untuk menyerang? Dari posisi yang aneh?
Shoyo melompat.
Bukan lompatan remaja biasa. Ini adalah lompatan seorang "Little Giant" yang telah menguasai seni melayang di udara. Lompatan itu terasa canggung di tubuh remajanya, namun memori ototnya, memori selama bertahun-tahun melompat dan menyerang, memaksa tubuhnya mencapai ketinggian yang belum pernah dia capai di usia 15 tahun.
Tangan kanannya mengayun. Smack!
Bola voli itu melesat. Bukan spike yang sempurna, namun memiliki kekuatan yang mengejutkan, dan yang paling penting, datang dari sudut yang tak terduga. Bola melewati blok Kitagawa Daiichi yang terlambat merespons, melesat ke sisi lapangan yang kosong.
Boom!
Bola menghantam lantai gym dengan suara keras.
Semua orang terdiam. Wasit meniup peluit, menandakan poin untuk Yukigaoka.
KITAGAWA DAIICHI : 19
YUKIGAOKA : 6
Keheningan melingkupi lapangan, kemudian pecah oleh sorakan kecil dari bangku cadangan Yukigaoka, dan tatapan tak percaya dari pemain Kitagawa Daiichi. Izumi dan Koji menatapnya dengan mata terbelalak, seolah baru saja melihat hantu.
"Sh-Shoyo… K-kau… menyerang?" tanya Izumi, suaranya tercekat.
Dia sendiri sebenarnya juga terkejut, tubuhnya bereaksi sendiri, tanpa dia pikirkan. Otot-otot remajanya terasa sedikit sakit dan kaget, namun adrenalin membanjiri dirinya.
Aku… melakukannya?
Dia melihat ke seberang net. Mata biru tajam Kageyama kini menatapnya dengan intensitas yang berbeda. Bukan lagi cibiran, melainkan semacam… analisis. Terkejut? Mungkin. Terganggu? Pasti. Sebuah senyum kecil, hampir tak terlihat, tersungging di bibir Shoyo. Bukan senyum puas, melainkan senyum kebingungan yang bercampur dengan euforia, dia menyadari sedikit tentang sesuatu, yaitu tubuhnya sendiri.
Sialan. Ini akan sangat menarik.
Dia masih tidak mengerti bagaimana bisa kembali ke masa lalu. Namun, satu hal yang dia tahu adalah bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia akan bermain. Dia akan menunjukkan kepada "Raja Lapangan" itu dan semua orang bahwa si kecil oranye ini bukanlah musuh yang bisa diremehkan.
Bermain dengan semua pengalaman yang telah dia kumpulkan selama sepuluh tahun ke depan, akan bermain dengan kegilaan yang hanya dia miliki. "Servis selanjutnya! Ayo!" teriaknya pada rekan setimnya, suaranya sedikit lebih parau dari biasanya, namun penuh semangat yang membara.
Mata Kitagawa Daiichi, terutama Kageyama, masih terpaku padanya. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa "Shoyo" yang mereka lihat sekarang bukanlah bocah SMP biasa yang mereka remehkan. Dia adalah seekor harimau yang menyamar sebagai kucing, siap menerkam dengan cakar yang tersembunyi.
Vamos lá, baby! (Ayo, sayang!) gumamnya pada dirinya sendiri. Dia bermaksud sedikit menuruti kata hatinya, sebuah penyesalan dan rasa sakit kecil yang jauh terkubur didalam jiwa, hanya untuk sedikit melegakan jiwa 15 tahunnya. Bukan untuk pengakuan tapi untuk menenangkan jiwa.
.
.
Setelah poin keenam Yukigaoka yang dicetak oleh Hinata secara tak terduga momentum Kitagawa Daiichi sejenak terhenti. Namun, keheningan itu segera pecah oleh suara peluit wasit. Servis berpindah, kembali ke tangan Kitagawa Daiichi.
Dia memanfaatkan jeda singkat ini untuk bernapas dalam-dalam, menghela napas. Paru-paru remajanya terasa sesak oleh laju lari dan lompatan tiba-tiba tadi. Jika dia yang 25 tahun, dia bisa saja melakukan spike itu sepuluh kali berturut-turut tanpa merasa terengah-engah. Kini, harus berhemat energi. Aku tidak boleh panik. Aku harus bermain dengan cerdas.
Meskipun kembali ke masa lalu adalah kejutan yang mengguncang dunia, Shoyo adalah seorang atlet profesional. Otaknya secara otomatis mengaktifkan mode analisis. Dia mulai memindai lapangan dengan mata yang tenang, mencari kelemahan lawan dan melihat posisi setter lawan, Kageyama Tobio, yang tampak sedikit lebih tegang sekarang.
Kageyama telah melihat Shoyo. Bukan Shoyo yang beberapa saat lalu seorang bocah SMP yang payah dalam menerima bola dan berlari tanpa tujuan. Kali ini, lompatan itu memiliki tinggi yang tidak seharusnya ada pada anak seusia ini. Dan lebih penting, timing larinya sangat presisi, membuat Kageyama menyeritkan dahinya.
Set berikutnya datang, dan kali ini, Kageyama pasti akan mengincar titik lemah. Servis kuat Kitagawa Daiichi berikutnya melesat, ditujukan ke corner belakang Yukigaoka. Kali ini, Koji berhasil menyentuhnya. Bola melambung dengan kecepatan yang berkurang, namun masih berada di area pertahanan mereka.
"Pass!" teriak setter Yukigaoka. Kageyama mmemerhatikan, tahu Yukigaoka akan mencoba melakukan umpan normal. Tapi mata Kageyama tertuju pada si kecil oranye itu. Shoyo, sebagai middle blocker, seharusnya berada di dekat net untuk bersiap melakukan serangan cepat atau decoy, kembali melihat bola.
Namun, dengan skor 19-6, dia yang dewasa tahu timnya tidak akan pernah bisa melakukan serangan cepat yang terorganisir. Tidak dengan setter mereka yang masih gugup. Jadi, alih-alih berlari ke depan, dia justru mundur selangkah, bersembunyi di balik Izumi. Gerakan itu sangat halus, hampir seperti bayangan. Dia meliuk, memanfaatkan fakta bahwa Kitagawa Daiichi hanya fokus pada net untuk bersiap melakukan blok.
Setter Yukigaoka mengumpan bola tinggi, sebuah set yang lambat dan tinggi, ditujukan ke spiker sayap mereka. Sebuah bola yang mudah dibaca. Pemain sayap Kitagawa Daiichi sudah melompat, siap memblokir.
Namun, di saat yang sama, Shoyo, yang seharusnya menjadi decoy di tengah, tiba-tiba berlari kencang dari belakang, menyelinap di antara celah pertahanan dan melompat. Aku harus mengubah ini menjadi Quick Attack Tipe B! Tapi dengan set yang lambat…
Dia tahu tidak bisa melakukan spike ke arah Kageyama. Kageyama akan memblokir. Jadi, memanipulasi timing lompatan dan ayunan lengannya, melompat jauh lebih awal daripada spiker sayap mereka, seolah-olah dia adalah spiker utama. Kageyama, yang sudah terprovokasi oleh serangan mendadak Shoyo sebelumnya, secara refleks melangkah mundur untuk mengantisipasi spike tengah.
Kesalahan.
Shoyo memukul bola itu dengan teknik cut shot yang rendah dan cepat, teknik yang baru dia kuasai di akhir masa SMA. Bola itu meluncur di sepanjang net, melewati pinggiran tangan blocker lawan, mendarat tepat di antara Kageyama dan libero mereka.
Boom!
Skor : 20-7
Lapangan voli Kitagawa Daiichi terdiam untuk kedua kalinya. Kageyama menoleh ke belakang, menatap bola yang mendarat itu dengan tatapan tidak percaya, yang telah diperdaya oleh decoy. Tidak, bukan decoy biasa. Itu adalah decoy yang menyerang. Si pendek itu… Memalingkan wajahnya ke arah lain, menatap tajam ke Shoyo.
Dia mendarat dengan napas terengah-engah, menoleh ke arah Kageyama dan tanpa sadar, menyeringai. Itu adalah seringai yang dia kembangkan setelah bertahun-tahun persaingan sengit yang sedikit menantang, sedikit gila, dan sangat provokatif, berhasil membuat Kageyama semakin menyeritkan dahinya, muram.
"Tadi itu… serangan dari tengah?" tanya Koji di sampingnya, matanya membelalak seperti piring. "Kau tidak pernah bisa melakukan itu, Shoyo!"
"Aku hanya… bergerak cepat" jawab Shoyo, berusaha menyembunyikan kebenaran dan lagi sebenarnyadia kesal di dalam. Caralho! (Sialan!) Tubuh ini cepat, tapi terasa seperti mobil balap yang dipasang rem tangan!
Pada poin berikutnya, giliran Kitagawa Daiichi melakukan serangan balasan. Sebuah quick attack dari tengah yang presisi dan bertenaga. Setter Yukigaoka terlalu lambat merespons. Izumi dan Kōji tidak bisa menjangkaunya.
SKOR : 21-7
Permainan kembali berjalan brutal. Dia tahu tidak bisa memenangkan set ini sendirian. Dia tidak bisa menggunakan terlalu banyak skill majunya tanpa menimbulkan kecurigaan besar. Dia harus menahan diri, membiarkan alur masa lalu nya berjalan, setidaknya sampai batas tertentu. Dia harus kalah, agar bisa bertemu Kageyama di Karasuno.
Prioritas : Kalah, tapi tinggalkan kesan mendalam.
Servis lagi. Kali ini diarahkan ke Shoyo.
Datanglah, Raja! Shoyo mengambil posisi penerimaan, mengingat semua latihan penerimaan bola yang dia lakukan di bawah pengawasan Daichi, Nishinoya, dan akhirnya di Brasil. Dia membungkuk rendah, menekuk lutut, membentuk platform penerimaan yang sempurna.
Bola itu datang cepat, kuat, dan berputar.
Plop!
Hinata menerima dengan sempurna. Bola melayang tinggi, tepat di atas kepala setter mereka.
Kali ini, giliran seluruh Kitagawa Daiichi yang terkejut. Kageyama terpaku Bocah itu seharusnya tidak bisa melakukan receive! Semua laporan kepanduan dan rumor mengatakan bahwa si kecil itu hanya punya lompatan liar. Tapi receive itu… itu adalah receive yang tenang, stabil, dan presisi.
"Bagus! Set!" teriak Shoyo, meskipun tahu set itu akan datang dengan lambat. Setter Yukigaoka, yang terkejut oleh receive sempurna Shoyo, kini memiliki kepercayaan diri sedikit, mengirimkan umpan tinggi ke Shoyo lagi, yang sekarang spiking dari sayap.
Kageyama dan middle blocker Kitagawa Daiichi melompat. Blok ganda yang sempurna. Dia melihat blok itu, tahu tidak bisa melewatinya dengan kekuatan remajanya. Jadi, melakukan apa yang dipelajari dari Bokuto : wipe.
Tangannya mengayun, sengaja mengarahkan bola ke jari-jari terluar blocker lawan, memaksa bola memantul keluar lapangan.
SKOR : 21-8
Poin demi poin, Yukigaoka berjuang. Sebagian besar poin mereka berasal dari kesalahan Kitagawa Daiichi atau manuver brilian Shoyo. Dia terus bermain sebagai bayangan oranye, tiba-tiba muncul di posisi yang tak terduga, melakukan receive yang stabil, atau spike yang pintar. Dia tidak lagi bermain decoy seperti bocah SMP. Dia bermain sebagai middle blocker yang telah beradaptasi dengan kondisi tim yang buruk.
Namun, kelas dan kekuatan Kitagawa Daiichi terlalu dominan. Kageyama, setelah kejutan awal, mulai bermain lebih serius, mengoper bola yang sangat cepat dan kuat ke spiker-nya. Mereka mencapai match point dengan cepat.
SKOR : 24-8
Servis terakhir datang. Sebuah jump serve yang mematikan, mendarat di garis pertahanan. Koji berusaha keras, namun bola melesat.
Wasit meniup peluit panjang.
SET 1: KITAGAWA DAIICHI (25) - YUKIGAOKA (8)
Para pemain bertukar tempat. Suasana di bangku cadangan Yukigaoka terasa suram, namun ada kilatan aneh di mata Izumi dan Koji ketika mereka melihat Shoyo.
"Shoyo… kau… luar biasa" bisik Izumi, masih terengah-engah.
"Aku hanya mencoba yang terbaik" jawabnya, mengambil handuk. Tatapannya tertuju pada Kageyama, yang sedang berjalan melewatinya untuk bertukar tempat. Kageyama berhenti sejenak, mata birunya mengunci mata cokelatnya.
"Kau.." ujar Kageyama, suaranya dalam dan mendominasi "Kau bukan middle blocker yang buruk. Tapi timmu payah. Dan receive-mu… dari mana kau belajar receive seperti itu?"
Hinata hanya tersenyum samar. Senyum seorang pria yang tahu masa depannya. "Aku berlatih"
"Berlatih?" Kageyama mendesis, menunjukkan kecurigaan dan rasa frustrasi. Dia benci ketidakpastian. "Gerakanmu… sangat aneh. Tapi timing-nya akurat."
Dia mengangkat alis mendengar ini, Tentu saja akurat. Aku telah berlatih bersama Setter Terbaik di Jepang dan melawan Blocker Terbaik di dunia, Raja. "Aku akan bermain lebih baik di set kedua.." balas Hinata, matanya berapi-api.
Kageyama membalas tatapan itu, namun kali ini, ada percikan di sana bukan lagi rasa jijik, melainkan rasa penasaran yang mendalam. "Jangan buang-buang waktu di lapangan" gumam Kageyama, lalu melanjutkan langkahnya.
Dia memandangi punggung sang Raja Lapangan itu, tahu telah menanam benih. Benih kekaguman, rasa penasaran, dan mungkin, sedikit rasa takut. Tugasnya belum selesai. Kekalahan itu harus terjadi, atau bahkan jika dia berusaha, tau bahwa voli tidak dimenangkan sendirian, jika tidak, apa bedanya dia dengan versi lebih mudanya padahal dia sudah dewasa, apa bedanya dengan dia dan Kageyama versi muda nya? Nah, dia menghela nafas sejenak, berfikir kritis juga bukan keahliannya. Lakukan saja ..
Masih ada satu set lagi, Raja. Dan aku akan memaksamu bekerja keras. Vou te mostrar o que é um verdadeiro ataque. (Aku akan menunjukkan padamu apa itu serangan yang sesungguhnya.) Setidaknya juga cukup untuk dirinya sendiri.
Set kedua akan segera dimulai. Hinata bersiap untuk mengaktifkan mode decoy sejati—namun, kali ini, decoy dengan kemampuan spike tersembunyi.
.
.
Jeda singkat sebelum Set Kedua memberinya waktu untuk memaksakan logika pada situasi absurd ini. Dia berada di sini. Shoyo, pemain voli profesional, kembali menjadi bocah SMP berusia 15 tahun. Tujuannya sekarang, meskipun aneh, adalah membiarkan kekalahan ini terjadi kekalahan yang akan menempatkannya, dan Kageyama, di jalur Karasuno. Tetapi aku tidak bisa kalah seperti dulu. Aku harus meninggalkan luka. Luka yang tidak akan pernah dilupakan oleh Raja Lapangan, dan sedikit balas dendam..
"Dengar, Shoyo" bisik Izumi, matanya masih memancarkan kebingungan yang bercampur hormat. "Bagaimana kalau kali ini kita coba… oper ke kau lebih sering? Kau bisa menyerang dari mana saja!"
Dia menggeleng cepat. "Tidak bisa. Mereka sudah tahu. Di Set Pertama, aku menyerang dengan kejutan. Sekarang, mereka akan mengantisipasi. Fokus pada setter utama kita. Aku akan tetap menjadi decoy di tengah."
"Tapi…"
"Percayalah padaku.. " potongnya, nadanya tegas, nada yang dia dapatkan dari bertahun-tahun memimpin tim di lapangan. "Aku akan berlari lebih keras. Aku hanya butuh kalian mengirim bola ke sisi yang benar."
Wasit meniup peluit, menandakan dimulainya Set Kedua.
Pertandingan dimulai. Yukigaoka mendapatkan servis pertama, namun dengan mudah diterima oleh libero Kitagawa Daiichi. Bola dioper tinggi, dan Kageyama mengoper bola yang sangat cepat dan presisi ke spiker sayap andalan mereka. Sebuah spike keras menembus pertahanan Yukigaoka.
SKOR : 0-1
"Cepat! Kita harus membalas!" teriak Shoyo, berlari ke posisi.
Pada serangan Yukigaoka berikutnya, dia berlari untuk menjadi decoy seperti yang dia katakan, melompat sekuat tenaga, mencapai ketinggian yang mengejutkan rekan-rekannya dan menarik perhatian middle blocker Kitagawa Daiichi. Middle blocker lawan secara refleks melompat di depan Shoyo.
Namun, setter Yukigaoka, yang telah diinstruksikan untuk tetap menjalankan alur normal, mengoper bola ke spiker sayap mereka. Spiker sayap menyerang, tetapi blok ganda dari Kitagawa Daiichi sudah menunggu. Block out. Poin untuk Kitagawa Daiichi.
SKOR : 0-2
Dia mengangguk pada dirinya sendiri. Ini adalah decoy sejati—usaha yang sia-sia, tetapi efektif dalam menarik perhatian lawan Kageyama, aku tahu kau melihatku.
Memang, Kageyama di seberang lapangan menatap Shoyo dengan kerutan di dahi. Bocah itu melompat dengan sia-sia, namun gerakan larinya sangat cepat dan timing lompatannya sempurna, bahkan jika tidak mendapatkan bola, lompatan itu hanya untuk memancing... tsk.
"Jangan buang energimu!" bentak Kageyama pada middle blocker-nya "Fokus pada spiker yang menerima bola!"
SKOR : 5-2
Kitagawa Daiichi memimpin, keunggulan mereka tak terbantahkan. Pada titik 5-2, dia memutuskan sudah waktunya untuk mengacaukan formasi mereka sekali lagi. Servis Kitagawa Daiichi selanjutnya datang ke arah Koji, yang berhasil menerima bola, meskipun agak liar. Bola melambung ke belakang, jauh dari setter.
"Aku akan ambil!" teriak Shoyo.
Tubuhnya, meskipun terasa lebih kecil, merespons perintah otaknya yang dewasa, berlari ke belakang, jauh melewati garis tiga meter, mengunci pandangannya pada bola yang melayang tak menentu.
Kageyama terpana Apa yang sedang dilakukan si pendek itu? Dia akan menyerang dari belakang net?
Dia melompat, melompat dari belakang garis serang, sebuah back attack yang dilakukan di tengah kekacauan, memanfaatkan kekuatan ledak kakinya yang belum maksimal. Ketinggiannya tidak setinggi spike depannya, tetapi timing-nya gila. Dia menyerang bola itu, tidak dengan kekuatan penuh, tetapi dengan finesse yang dipelajari dari Oikawa : mengarahkan bola ke celah sempit di antara dua blocker yang terlambat merespons ancaman tak terduga dari belakang.
Boom!
Skor : 5-3
Izumi dan Koji hampir jatuh karena terkejut.
"APA-APAAN ITU!?" teriak Koji.
"Serangan belakang! Back Attack! Hanya perlu kecepatan!" teriak Shoyo, tersenyum lebar, merasa euforia yang sama seperti saat mencetak poin pertama di Brasil setelah sekian lama berjuang. Isso é demais! (Ini terlalu keren!)
Kageyama menatap Shoyo dengan mata yang hampir seperti mata pemburu. Kekesalan murni. Tidak hanya karena poin itu dicetak, tetapi karena teknik itu dilakukan di tengah kekacauan, tanpa setter yang layak, dan oleh seseorang yang seharusnya hanyalah decoy.
"Dia… dia menggunakan kecepatan larinya untuk menyerang dari belakang!" Kageyama menggertakkan gigi. "Dengan bola sampah itu!"
Dari sini, dia mulai menerapkan strategi ganda. Setiap kali Yukigaoka mendapatkan receive yang buruk, dia akan mengambil inisiatif dan melancarkan spike tak terduga dari belakang atau dari posisi yang aneh. Setiap kali Yukigaoka mendapatkan receive yang bagus, dia akan menjadi decoy paling gila yang pernah dilihat Kageyama, berlari cepat dan melompat tinggi, memaksa blocker Kitagawa Daiichi memfokuskan pandangan mereka padanya.
SKOR : 10-5
Kitagawa Daiichi masih unggul, tetapi keunggulan mereka tidak lagi terasa dominan. Ada keraguan dalam setiap lompatan blocker mereka.
Skor : 15-7
Kageyama tidak bisa menahan diri. Servis Yukigaoka yang lemah diterima oleh Kitagawa Daiichi. Bola melambung tinggi. Kageyama berada di posisi setter. dia bisa mengoper ke mana saja. Namun, tatapannya terhenti pada Shoyo yang sedang bersiap untuk serangan tengah.
"Dia tidak akan mendapatkan bola.." gumam Kageyama. Setter jenius itu, yang sudah kesal karena terganggu oleh decoy Shoyo, memutuskan untuk melakukan serangan cepatnya yang sempurna ke middle blocker Kitagawa Daiichi. Spike yang kuat.
Namun, saat spiker lawan melompat, dia dengan visi receive yang sudah terasah sempurna, sudah bergerak. Dia tahu di mana spike itu akan mendarat dan tahu timing Kageyama. Dia menjatuhkan dirinya ke lantai gym, merentangkan tangan kanannya secepat kilat.
Don!
Bola itu menyentuh bagian belakang lengannya, memantul ke atas. Receive yang gila. Receive yang mustahil.
Lapangan meledak.
"Sh-Shoyo mengambil spike cepat itu! Sendirian!" teriak Izumi.
Kageyama membeku tidak percaya. Quick Attack yang dia kirimkan, Quick Attack yang hampir tidak bisa diambil oleh libero berpengalaman, baru saja di-receive oleh si pendek decoy ini.
Bola melambung tinggi. Dia sudah berdiri, berlari ke sisi kiri, setter Yukigaoka yang gugup mengoper bola tinggi ke Izumi. Izumi menyerang, namun bola berhasil diblok oleh middle blocker Kitagawa Daiichi.
SKOR : 16-7
Poin itu tetap milik Kitagawa Daiichi, tetapi dampaknya pada Kageyama lebih besar daripada poin yang dicetak. Dia menghampiri net, sengaja berdiri di dekat Kageyama.
"Operanmu cepat, Raja.." bisiknya, suaranya tenang "Tapi aku lebih cepat"
Wajah Kageyama memerah. Matanya terbakar amarah dan frustrasi "Kau hanya beruntung!"
"Mungkin ~" balasnya, tersenyum sinis. Senyum yang menyebalkan itu adalah senyum yang dia warisi dari Tsukishima—senyum yang penuh dengan rasa superioritas yang tersembunyi.
Dia tahu dia harus mundur, sudah meninggalkan kesan yang tak terhapuskan, sudah menunjukkan potensi gila yang akan menghantui Kageyama.
Sisa Set Kedua adalah pembantaian yang lebih teratur. Dia mulai "melonggarkan" receive-nya, membiarkan beberapa spike cepat Kageyama lolos, sengaja membuat spike-nya diblok, kembali bermain layaknya bocah SMP yang payah dalam menguasai bola, meskipun sesekali, dia meluncurkan quick attack atau back attack yang tak terduga hanya untuk menjaga agar Kageyama tetap berada dalam mode panik.
SET 2 : KITAGAWA DAIICHI (25) - YUKIGAOKA (9)
Pertandingan usai. Kekalahan telak.
Hinata Shoyo, berusia 25 tahun di dalam tubuh 15 tahun, membungkuk kepada lawan. Rasa pahit yang sama seperti dulu. Tapi kali ini, ada rencana, ketika dia mengangkat kepalanya. Kageyama Tobio menatapnya dari seberang net. Bukan lagi tatapan jijik, melainkan tatapan yang benar-benar tercampur: terkejut, marah, dan yang paling penting, tertarik.
Ketika kedua tim meninggalkan lapangan, Kageyama berjalan mendekati Hinata.
"Kau!" panggil Kageyama, suaranya rendah dan mengancam. "Bagaimana kau bisa secepat itu? Kenapa kau menyembunyikan kemampuan receive itu?"
Dia menatap mata Kageyama, matanya memancarkan ambisi seorang atlet pro "Aku akan mengalahkanmu. Aku akan menjadi ace yang berdiri paling lama di lapangan" janjinya, mengulangi sumpah lamanya, tetapi kali ini dengan keyakinan yang jauh lebih dalam.
"Terserah.." Kageyama mendengus. "Tapi jangan pernah buang-buang potensi gila itu pada tim yang payah ini. Itu memuakkan."
Kageyama pergi, tetapi dia tahu, kata-kata itu tidak lagi berisi hinaan. Itu adalah kekaguman yang terselubung. Dia berjalan keluar dari gym bersama Izumi dan Koji. Rasa lelah luar biasa membebani tubuh remajanya.
"Kau gila, Shoyo" kata Koji, tersenyum lebar "Tapi itu adalah pertandingan voli terbaik yang pernah ada."
"Hanya permulaan.." bisik nya, melihat ke arah langit sore. Tugasnya di lapangan sudah selesai.
Sekarang, bagaimana cara aku kembali ke 25 tahun? Dia menyentuh pipinya, merasakan tekstur kulitnya yang lebih muda, harus mencari tahu apa yang terjadi. Caramba. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang..
.
.
Suara gemuruh di arena voli perlahan mereda. Bau keringat, debu, dan antusiasme yang menyesakkan mulai memudar, digantikan oleh keheningan pasca-pertandingan yang dingin. Kekalahan memang terasa pahit, namun kali ini, bagi Hinata Shoyo, ada rasa lega yang aneh. Dia telah memenuhi alur takdirnya.
"Shoyo, ayo! Kita harus beres-beres dan pulang" panggil Koji, memanggul tas olahraga yang tampak kebesaran.
Izumi mengangguk, masih tampak lelah tetapi matanya bersinar. "Meskipun kita kalah telak, hari ini kau luar biasa! Aku tidak akan pernah melupakan back attack itu!"
Dia memaksakan senyum kecil, harus menolak dengan halus. "Kalian duluan saja" ujar Hinata, sambil pura-pura mengikat tali sepatunya yang longgar—sebuah gimmick yang dia gunakan untuk mencari waktu. "Aku… aku harus ke kamar mandi sebentar. Perutku mendadak sakit karena terlalu gugup tadi."
Izumi dan Koji saling pandang. Mereka tahu dia memiliki perut yang sensitif, jadi alasan itu cukup meyakinkan.
"Jangan lama-lama, Shoyo. Kalau kau sakit, kami harus mengantarmu pulang" kata Koji dengan nada khawatir.
"Siap! Aku akan menyusul cepat. Kalian kumpul saja di depan gym" janjinya.
Setelah kedua temannya beranjak, dia berdiri tegak. Semua euforia pertandingan lenyap, digantikan oleh fokus yang tajam dan sedikit kecemasan. Tujuannya jelas. Kamar mandi stadion.
Berjalan cepat menyusuri lorong beton yang sepi. Udara terasa lembap dan dingin. Langkah kakinya yang kecil dan ringan terdengar samar-samar, jauh berbeda dari derap langkah beratnya yang biasa dia dengar di usia 25 tahun. Ketika akhirnya dia menemukan pintu itu. Pintu yang sama, dengan tanda ‘Pria’ yang sedikit pudar. Di balik pintu ini, dia ingat, ada cahaya putih oranye yang menyilaukan. Itu adalah satu-satunya petunjuk.
Dia berhenti di depan pintu, menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki. Dia, seorang profesional yang tak gentar menghadapi block tiga orang, kini merasa gugup menghadapi pintu kamar mandi.
"Jika aku kembali dari sini, maka ini adalah gerbangnya.. " gumamnya, tangannya gemetar meraih gagang pintu.
Click.
Dia mendorong pintu itu.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada kilatan oranye.
Yang dia lihat hanyalah deretan urinoir baja mengkilap, wastafel keramik putih, dan lantai basah. Kamar mandi stadion yang biasa, sedikit bau, dan sunyi. Kekecewaan melanda dirinya seperti ombak dingin, tapi dia masih melangkah masuk, membiarkan pintu menutup di belakangnya dan mendekati wastafel, berdiri di depan cermin besar.
Dia menatap pantulannya.
Wajah bocah 15 tahun itu. Mata cokelat besar, rambut oranye yang liar, dan tinggi badan yang… menyedihkan. Itu adalah wajah yang dia lihat setiap hari di album foto lamanya. Namun, di balik mata itu, terdapat tatapan seorang pria dewasa, penuh pengalaman, yang kini terpenjara.
Penyangkalan dan Eksperimen (10 Menit)
Shoyo mulai bereksperimen. Dia membuka dan menutup pintu berulang kali, berharap cahaya itu muncul lagi. Nihil. Dia memejamkan mata kuat-kuat, mencoba mengingat sensasi silau, berharap dapat mereplikasi kondisi time travel itu. Tidak ada. Bahkan mencoba menyiram wajahnya dengan air dingin, berharap kejutan itu akan "membangunkannya" dari mimpi.
Air dingin memercik, tetapi dia tetap Shoyo yang berusia 15 tahun.
"Baiklah. Mungkin… aku harus menyentuh diriku sendiri?" menggerakkan jari-jarinya di depan cermin. Dia menyentuh wajah di pantulan itu, merasakan kulit remajanya, memaksakan memori ototnya untuk melompat di tempat yang sempit itu. Lompatan itu masih canggung, tetapi kekuatan ledak kakinya ada di sana.
Ini bukan mimpi. Rasa sakit di ototku nyata. Kageyama yang marah itu nyata.
Analisis dan Keputusasaan (20 Menit)
Dia bersandar ke dinding, menatap pantulan dirinya dengan keputusasaan yang tertahan, mulai menganalisis situasi layaknya memecahkan strategi voli.
Kenapa aku kembali?
- Hipotesis 1 : Aku harus memperbaiki kekalahan ini. Status : Sudah terlambat. Kekalahan sudah terjadi. Namun, dia telah mengubah kualitas kekalahan itu.
- Hipotesis 2 : Aku harus bertemu Kageyama. Status : Sudah dilakukan. Interaksi sudah terjadi.
- Hipotesis 3 : Aku perlu memenuhi takdirku, tetapi dengan pengalaman dewasa. Status : Kemungkinan besar. Ini menjelaskan mengapa dia bisa menggunakan skill profesional (?)
Bagaimana aku kembali?
- Kamar Mandi : Titik awal. Sekarang nihil.
- Intensitas Emosi : Apakah karena dia terlalu bersemangat menonton voli?
- Cahaya Oranye : Apakah itu petunjuk? Warna rambutnya? Warna jersey Karasuno?
Dia menghela napas panjang, telah membuang waktu. Tidak ada jawaban di sini. Tidak ada gerbang waktu. Dia terjebak, terjebak di tubuh yang lebih kecil, di tahun yang seharusnya menjadi tahun terpenting dalam hidupnya.
Penerimaan dan Rencana (48 Menit)
Setelah hampir satu jam menatap dirinya di cermin, sebuah ketenangan perlahan muncul. Ketenangan seorang pria yang telah mengalami segalanya.
"Oke.." bisiknya pada pantulannya. "Tidak ada pintu keluar. Aku terjebak" dia memandang pantulan dirinya. Mata yang lebih tua itu memancarkan tekad yang dingin. Jika aku terjebak di sini, maka aku harus bermain.
Ini bukan lagi tentang menjadi pemain pro di masa depan. Ini adalah tentang mengulang perjalanan. Tapi kali ini, dia akan melakukannya dengan pengetahuan.
Rencana Awal :
- Mengamankan Posisi : Pulang, bertindak normal, memastikan Koji dan Izumi tidak curiga. Apalagi Ibu dan adik kecilnya.
- Latihan Rahasia : Mulai memaksakan tubuh 15 tahun ini berlatih dengan intensitas dan metode pelatihan yang ia pelajari di usia 25 tahun (pola makan, penguatan otot inti, latihan receive gaya Nishinoya).
- Karasuno : Memastikan dia masuk Karasuno. Ini wajib.
- Masa Depan : Mempertimbangkan apakah dia harus mempertahankan alur asli masa lalu nya atau menggunakan kemampuan dewasanya untuk menjadi Ace Karasuno sejak awal.
Dia mengusap keringat dingin dari pelipisnya.
Caminhar mais! (Lanjutkan!) Aku tau aku bukan tipe berfikir! Aku sudah merubah alur pertandingan ku, dan tidak ada yang terjadi. Jadi, aku bisa tidak mengikuti masa lalu ku..
Dia keluar dari kamar mandi. Langit di luar gym telah berubah menjadi jingga gelap. Hinata Shoyo, si kecil oranye, kini berjalan sendirian menuju masa depannya, yang ironisnya, adalah masa lalunya. Dan dia akan mengubah masa lalu itu menjadi sesuatu yang jauh lebih gila.
